Author: Dr Arman Husni

  • Muhasabah Diri (110): Agar Ilmu Tidak Sia-Sia

    Muhasabah Diri (110): Agar Ilmu Tidak Sia-Sia

    Dari mulai terbit matahari, terus muncul siang yang terang benderang berlanjut ke sore dan malam yang gelap gulita. Itulah siklus pergantian siang dan malam yang dipergilirkan oleh Allah SWT untuk manusia. Ada masa buat beraktivitas disiang hari, dan rehat dimalam hari. Sehingga ada keseimbangan buat manusia. Apa yang terjadi jika senantiasa beraktivitas tanpa waktu jeda buat istirahat, sudah bisa ditebak itu tidak mungkin. Manusia ciptaan yang berbeda dengan malaikat, punya sisi rohani, fikri dan jasadi. Kesemua itu ada kebutuhannya.

    Tujuan penciptaan manusia sudah jelas dalam Al-Qur’an, untuk beribadah kepada Allah SWT. Banyak hal yang dikerjakan manusia, semuanya bisa bernilai atau sia-sia. Keikhlasan adalah kuncinya. Tapi apakah cukup dengan ikhlas saja? Ternyata ada syarat lainnya, yaitu mengikuti contoh. Tentu yang kedua ini berhubungan dengan amalan yang ada tatacaranya. Dan itu ada pada apa yang diwariskan Rasulullah Saw buat umatnya. Begitu juga dalam hal ilmu kita. Ilmu yang bermanfaatlah yang menyelamatkan kita, dan jadi pahala jariah yang tetap mengalir.

    Banyak godaan memang dalam mencari ilmu. Dalam rangka mencapai apa yang dituju, amat banyak ujian dan cobaan. Sejarah sudah memberikan hikmah buat kita, bahwa yang sudah dianggap mapan dari sisi amalan dan ilmu masih ada yang gagal dalam ujian ilmunya. Sosok Abdah bin Abdurrahman yang hafidz Al-Qur’an, dan banyak menguasai bidang ilmu, tapi tidak sanggup menghadapi godaan gadis Romawi yang beramput pirang. Ketertarikan dia pada sosok gadis Romawai, dia tinggalkan keyakinannya demi hasrat meminang wanita tersebut, akhirnya dia murtad dari Islam. Na’uzubillaah min zalik. Berbagai usaha para sahabat memberikan nasehat kepadanya dan terakhir dimintalah Abdah bin Abdurrahman ini mengingat dan membacakan kembali ayat-ayat Al-Qur’an yang dia hafal dulu. Menyedihkan semua hafalannya hilang kecuali hanya 2 ayat yang masih dia ingat. 2 ayat dalam surat Al- Hijr.

    رُّبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ كَانُوا۟ مُسْلِمِينَ (الحجر٢) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا۟ وَيَتَمَتَّعُوا۟ وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (الحجر٣)

    Artinya: “Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang Muslim. Mereka (di dunia) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. (QS Al-Hijr : 2-3)

    Semua akan sia-sia, jika tidak pada jalur yang benar. Hidup hanya sejenak, diakhirat sudah menunggu kehidupan abadi yang tidak berujung. Semoga ilmu yang kita cari, ikut menyelematkan kita dari pedihnya azab diakhirat kelak.

  • Muhasabah Diri (109): Jebakan-Jebakan Ilmu

    Muhasabah Diri (109): Jebakan-Jebakan Ilmu

    Semakin banyak yang diketahui, semakin sedikit terasa yang kita miliki. Luasnya ciptaan Allah SWT, tidak akan mampu manusia menelusurinya. Semakin dicari dan digali malah semakin terasa kerdil wujud kita dihadapan kekuasaan-Nya. Begitulah karakteristik ilmu, berkembang dan luas, apalagi ilmu yang bersentuhan dengan ayat-ayat kauniah. Dengan kemampuan nalar manusia sesuatu yang dulu belum diketahui, sekarang terbuka lebar.

    Tapi perlu diingat standar benarnya ilmu tidak bisa berseberangan dengan wahyu. Disaat muncul pertentangan, pasti ada yang salah. Makanya teori Darwinisme yang bertolak belakang dengan wahyu yaitu Al-Qur’an, akhirnya terbukti bahwa teori yang dikemukakan oleh Charles Darwin tersebut tidaklah benar dan berseberangan dengan temuan baru. Kadang-kadang masih ada saja yang kalangan ilmuwan yang terjebak, bersikukuh mempertahankannya. Teori bumi datar (Flat Earth/ FE) juga begitu, bertolak belakang dengan Al-Qur’an, maka tertolak sendiri oleh ilmu pengetahuan. Bahkan ada yang mendukung teori bumi ini berbentuk donat… Ada-ada saja cara orang cari sensasi di belantara ilmu pengetahuan.

    Allah SWT memberikan kelebihan buat manusia yaitu alat berpikir. Daya nalar manusia tetap terbatas dan butuh panduan. Panduan ini yang meluruskan cara berpikir manusia. Berbentuk apakah panduan untuk manusia tersebut?. Disinilah semakin terang bahwa panduan itu adalah wahyu. Manusia dituntut untuk mengembangkan cara berpikir mereka, tapi karena keterbatasan itu maka dipandu oleh wahyu.

  • Muhasabah Diri (108): Tantangan Referensi Umat

    Muhasabah Diri (108): Tantangan Referensi Umat

    Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal diminta khalifah Abu Ja’far Al-Manshur untuk menyeragamkan bentuk ibadah umat. Sehingga tidak ada lagi perbedaan dalam pelaksanaannya. Memang terkesan bagus dalam menyikapi kondisi umat, tapi perbedaan adalah sunnatullah. Sehingga Imam Ahmad menolak permintaan tersebut, karena tidak mungkin dilakukan. Bisa jadi akan berakibat fatal, karena dalam masalah furu’ memang sudah ada perbedaan.

    Tantangan ulama memang berat. Terpeleset sedikit saja lisannya akan berakibat fatal, karena ulama adalah referensi umat. Diantara ulama ada yang domisilinya pindah-pindah, sehingga kondisi yang mereka hadapi juga tidak sama. Sehingga fatwa mereka juga sesuai dengan kondisi umat. Bukan berarti plin-plan.

    Warisan Rasulullah Saw untuk umat adalah ilmunya. Sisi-sisi ilmu beliau juga banyak yang perlu dikaji. Tidak hanya dari sisi hukum, tapi juga pola penerapannya. Ada sisi metode penyampaian dan dakwah, semuanya tentu lebih luas lagi bisa dilihat dalam Sirah Nabawiyah secara komprehensif.

    Pendekatan tertentu yang dipakai dalam rangka menyampaikan ilmu tanpa mempertimbangkan sisi lain akan menimbulkan masalah lain pula. Apalagi banyak hal yang berkembang, butuh kebersamaan mengkajinya.

    Setiap masa ada masalahnya. Begitu setiap tempat ada ciri khasnya. Sekali lagi, duduk bersama adalah solusinya. Permasalahan-permasalahan umat tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Kerja kolektif akan meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

    Seorang mukmin akan kuat bersama saudaranya seiman. Perpecahan adalah hal yang diinginkan bagi mereka yang tidak mendambakan kedamaian…

    Semoga…

  • Muhasabah Diri (107): Tidak Semuanya Mesti Digubris

    Muhasabah Diri (107): Tidak Semuanya Mesti Digubris

    Luasnya cakupan ilmu, dan wajar tidak semuanya mampu dipahami. Ada berbagai bidang ilmu atau sain yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu. Saking detailnya jangkauan ilmu, perlu waktu dan sarana yang memadai untuk memahaminya. Bahkan ilmu selalu berkembang dan juga temuan ilmu pengetahuanpun bermunculan. Sehingga hasil pikiran para ulama dan ilmuwan banyak menghiasi lembaran-lembaran buku yang mereka tinggalkan.

    Ilmu semakin digali, semakin nampak kekuasaan Yang Maha Kuasa. Semakin dikaji semakin terbukti kekerdilan diri dihadapan luasnya ilmu Allah SWT. Mentadabburi ayat-ayat qauliah dan mentafakkuri ayat-ayat kauniah akan menambah keimanan kepada Sang Pencipta.

    Luasnya cakupan ilmu kadang-kadang menjadikan seseorang penasaran dan menimbulkan keinginan bertanya. Bahkan ada nyiyir menanyakan sesuatu yang tidak urgen. Para ulama disaat mereka dihadapkan dengan beberapa pertanyaan, tidak semuanya mesti dijawab. Perlu kearifan menyikapi tipe orang yang banyak bertanya. Kadangkala banyak bertanya berakhir dengan hal-hal yang memberatkan. Diantara yang dibenci oleh Allah SWT adalah كثرة السؤال/ nyinyir bertanya, bahkan terjebak kepada hal-hal yang tidak patut ditanyakan.

    إِنِّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثاٌ : قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ المَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membenci tiga perkara : menyebarkan desas-desus, menghambur-hamburkan harta, banyak pertanyaan yang tujuannya untuk menyelisihi jawabannya”. (HR: Bukhari Muslim)

    Begitu juga disaat kita dihadapi berbagai bentuk masalah, tidak semuanya mesti digubris. Didepan kita banyak hal yang mesti disikapi, ada yang amat penting tentu ini prioritas, ada yang urgen, bahkan ada yang kurang penting, tentunya juga ada hal-hal yang tidak penting sama sekali. Mengomentari hal-hal yang tidak penting sama sekali, hanya akan membuang energi dan waktu kita. Banyak pekerjaan yang mesti kita tuntaskan. Apalagi diera digital ini, ada-ada saja bentuk masalah yang sengaja dimunculkan. Untuk itu kita jangan terjebak berkutat disitu. Tidak menjawab pertanyaan yang tidak penting adalah penting. Karena memang kita hidup untuk itu. Contoh lain, membicarakan keghaiban yang kita tidak ada ilmu tentang itu, atau mempertanyakan zat Allah hanya akan menyita waktu dan pembahasan tidak akan selesai karena memang tidak dianjurkan untuk itu.

    Semakin berilmu, semakin muncul ketakutan pada Allah SWT, kalau terjadi sebaliknya pasti ada yang salah. Ketawadhu’an adalah ciri-ciri orang berilmu, sebaliknya kesombongan muncul dari salah iktikad dan tekad awal yang dimiliki.

    Semoga hari-hari kita penuh dengan semangat mencari ilmu yang baik dan menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat dalam hidup kita. Jangan bebani diri kita dengan sesuatu yang tidak ada manfaatnya buat kita.

  • Muhasabah Diri (106): Dosa Kitman, Hindari

    Muhasabah Diri (106): Dosa Kitman, Hindari

    Disaat belum mampu membahagiakan orang lain, bagaimana perasaan kita?. Sedih atau biasa-biasa saja?. Semuanya itu tergantung kita. Jika kita adalah tipe orang-orang peduli, sedih rasanya jika belum bisa berbuat apa-apa terhadap orang lain. Tapi jika kita termasuk tipe pribadi-pribadi egois, bisa jadi kita tidak mau tahu apa yang terjadi disekitar kita.

    Banyak hal terjadi sekitar kita yang perlu respon cepat. Kepedulian memang dituntut karena manusia adalah makhluk sosial. Kadangkala lingkungan sekitar membutuhkan kita. Jika tidak tenaga, minimal pemikiran dari kita yang diharapkan.

    Sahabat…

    Berbagi kebaikan adalah tuntutan hidup kita, karena hidup tidaklah sendiri-sendiri. Berbagi ilmu juga begitu, perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Bahkan laknat Allah akan didapatkan bagi orang yang tidak mau berbagi ilmu. Rasulullah Saw dalam haditsnya bersabda:

    مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Artinya: “Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya (tidak menjawabnya), Allah akan mengekangnya dengan kekangan api neraka pada hari kiamat nanti”. (HR. Abu Daud dan Ahmad)

    Ilmu yang kita dapati akan berkah, disaat kita tidak pelit untuk berbagi. Menyembunyikannya adalah bentuk kebodohan badan kebakhilan, karena ilmu akan bermanfaat dan berkembang dengan mentransfernya kepada orang lain. Ada hak-hak sosial dalam ilmu kita. Perasaan ingin tahu sendiri bukanlah cara nabi, karena beliau sudah wariskan ilmunya buat umatnya. Tentu yang dibagi adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kebaikan dan maslahat buat umat.

    Selamat berbagi…

  • Muhasabah Diri (105): Godaan-Godaan Para Pencari Ilmu

    Muhasabah Diri (105): Godaan-Godaan Para Pencari Ilmu

    Kesempatan adalah sesuatu yang amat berharga yang dimiliki manusia. Bila ia berlalu, mustahil untuk kembali dan tidak tergantikan. Para ulama terdahulu amat khawatir kalau ada yang terlewatkan dari perjalan waktu yang mereka lalui. Mereka bergegas secepat mungkin memanfaatkan peluang dalam rangka menghiasi diri mereka dengan ilmu. Sehingga dengan kesempatan yang pendek mereka masih saja mampu berkarya. Produk ilmu yang mereka hasilkan diwariskan dalam bentuk berjilid-jilid buku. Dari generasi ke generasi, ilmu mereka masih hidup dan dipelajari serta dimanfaatkan oleh umat setelahnya. Hari ini semangat itu mulai pudar, melemah dan berkurang, seakan-akan dimanjakan dengan berbagai bentuk-bentuk kemudahan.

    Pola hidup instan berpengaruh besar dalam mencari bekal ilmu. Fenomena mengandalkan pihak lain sering terjadi tatkala bersentuhan dengan keahlian bidang tertentu. Padahal mencarinya ada yang bersifat fardhu ain. Kewajiban individu, yang tidak bisa dialihkan ke orang lain. Ada yang tidak segan-segan mengupahkan amalan pribadi ke yang lain tanpa alasan yang masuk akal. Disaat ajal menjemput seseorang, pihak keluarga kadang-kadang kelabakan dan kebingungan apa yang mesti dilakukan. Karena tidak punya bekal untuk hal-hal yang mestinya kita bisa dan mampu melakukannya.

    Godaan dalam mencari ilmu memang besar. Ketidak siapkan menghadapi ujian meskipun ujian itu belum jelas bentuknya. Kecengengan kerap kali jadi halangan bagi seseorang untuk tidak berbuat. Padahal ilmulah yang membuat seseorang bermartabat.

    Banyak hal yang membuat kita terlena dan lengah dari kesempatan mencari ilmu. Sesulit apapun kondisi yang kita hadapi, ilmu tetap dibutuhkan. Sulit dan senang, tetap menghadapinya dengan ilmu. Sedih dan bahagia juga butuh ilmu. Apalagi dihadapan kita banyak urusan dan permasalahan besar, otomatis ilmu tantangannya. Mensiasati dunia harus dengan ilmu, apalagi menjemput dan menghadapi akhirat kita pasti dengan ilmu juga. Artinya setiap sesuatu ada ilmunya… Bak ibarat pepatah:

    فاقد الشيء لا يعطيه

    Artinya: “Yang tidak punya apa-apa tentu tidak bisa memberi”.Semoga semangat untuk mencarinya hidup kembali…

  • Muhasabah Diri (104): Cacat Orientasi

    Muhasabah Diri (104): Cacat Orientasi

    Ada kegembiraan tersendiri disaat kita meraih sesuatu yang didambakan. Bahagia disaat mampu berbagi apa yang didapatkan. Tentunya sangat senang sekali jika mampu membahagiakan saudara seiman. Banyak celah untuk berbuat kebaikan disaat ada kemauan dan kelapangan. Semua itu jika dilakukan dengan keikhlasan, akan jadi tabungan kebaikan disisi Ar-Rahman.

    Ikhlas tatkala amal dikerjakan karena Allah SWT dan sesuai yang dicontohkan Rasulullah tentunya. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk kebaikan dunia dan akhirat. Meskipun panduan sudah terang benderang, masih ada dan banyak yang terjerumus. Salah menempuh jalan, keliru terhadap hakikat penciptaan.

    Fenomena menempuh cara hidup menyimpang sudah banyak memenuhi sejarah perjalanan kehidupan manusia. Penyimpangan terjadi karena orientasi hidup yang keliru. Terpesona dengan target hidup sesaat, jangka pendek, seakan-akan hidup hanya saat ini saja, buta akan abadinya akhirat.

    Banyak fenomena musang berbulu domba dalam kehidupan manusia khususnya dalam tubuh umat Islam. Manusia-manusia penjerumus ambisius berkeyakinan bahwa setelah kematian semuanya akan berakhir, tidak ada hisab dan pertanggungjawaban. Masih ingatkah kita dengan sosok Snouck Hurgronje? Sosok yang bersungguh-sungguh mempelajari Islam tapi salah kaprah, sang orinetalis ini mati menggenaskan. Apakah tidak cukup dijadikan pelajaran buat kita hari ini?. Sehingga ada diantara umat Islam hari ini masih juga menjadi sosok pembenci pada agamanya dengan berbagai iming-iming keduniaan. Akan banyak hadir sosok New Snouck Hurgronje lainnya dalam aktivitas ke-Islaman yang diperankan oleh umat Islam sendiri. Menyedihkan…cacat orientasi.

    Ujian yang bertubi-tubi datang menimpa umat Islam, diantara hikmahnya adalah untuk membersihkan umat dari parasit perusak yang ada ditubuhnya. Mudah-mudahan itu yang kita sadari, sehingga ada keinginan untuk kembali kejalan yang sesungguhnya. Jalan keselamatan yang sudah dibentangkan oleh panutan umat lebih 14 abad yang lalu…

    Semoga kita tidak tertipu… Hidup hanya sesaat, hiduplah yang bermartabat, bukan sebagai penebar laknat ditubuh umat.

    Selamat beraktivitas…

  • Muhasabah Diri (103): Ilmu Itu Dari Siapa Saja, Adopsi Dan Adaptasikan

    Muhasabah Diri (103): Ilmu Itu Dari Siapa Saja, Adopsi Dan Adaptasikan

    Banyak pelajaran dari perjalanan hidup bisa kita petik. Perjalanan waktu juga meninggalkan hikmah-hikmah dari kejadian. Setiap hikmah memberikan ruang buat kita untuk introspeksi diri. Banyak ilmu didapati, bahkan tidak sedikit juga diperoleh dari orang lain yang tidak seiman. Jika baik dan bermanfaat boleh diambil. Karena pada hakikatnya ilmu itu barang yang hilang dari orang mukmin, dimanapun didapati dia berhak mengambilnya. Mengambilnya dengan cara yang benar tentunya. Dalam hadits juga disinggung tentang ini. Hadits ini termasuk katagori lemah tapi secara makna benar adanya. Diriwayatkan oleh Zuhair bin Harb dalam kitabnya Al-‘Ilm no.157, dan Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa 3/354; Abdullah bin Ubaid berkata:

    الْعِلْمُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، كُلَّمَا أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا حَوَاهُ وَابْتَغَى ضَالَّةً أُخْرَى

    Artinya: “Ilmu itu suatu yang hilang dari seorang mukmin, setiap kali ia mendapatkan sesuatu darinya maka ia mengambilnya, kemudian ia mencari lagi yang lainnya”

    Sejarah kenabian mengajarkan pada kita bahwa, ilmu bermula dari keimanan. Dan manusia beriman pertama kali adalah nabi Adam As. Dari situ ilmu turun temurun dan berkembang. Periode nabi dan Rasul datang silih berganti. Setiap ada penyimpangan Allah SWT mengutus nabi berikutnya. Jika penyimpangan sampai pada tingkat kerusakan akidah yang diutus oleh Allah adalah Rasul dari kalangan nabi. Penyimpangan pertama kali terjadi dalam masalah akidah dengan munculnya kesyirikan maka Allah SWT mengutus rasul yang pertama yaitu nabi Nuh As. Begitulah selanjutnya sampai rasul yang terakhir nabi Muhammad Saw. Amat banyak jumlah nabi yang diutus oleh Allah SWT dalam rangka memperbaharui iman dan ilmu. Ada 124.000 jumlah nabi, dan 315 diantara mereka adalah para rasul. Betapa banyak ilmu yang diwariskan oleh mereka. Dan mereka adalah orang-orang Islam dan beriman. Karena para nabi bersaudara dalam satu agama.

    Banyak ilmu berceceran dimana-mana. Ada yang diamalkan oleh orang lain bukan pengikut nabi. Maka ilmu tersebut adalah haknya orang-orang beriman untuk mengambilnya kembali. Diantara ilmu tersebut ada yang sudah dimodifikasi sesuai kondisi orang-orang yang mendapatkannya. Kewajiban kita adalah melakukan filterisasi ilmu tersebut apalagi ada yang bersentuhan dengan ranah keyakinan. Inilah yang dilakukan ulama dan ilmuwan muslim disaat kejayaan ilmu pengetahuan diabad pertengahan. Mengadopsi ilmu dari mana saja, dan mengadaptasikannya dengan syariat Islam. Ambil yang baik, tinggalkan yang jelek, itulah yang dilakukan para ulama. Gerakan penterjemahan ilmu pengetahuan masa itu berada pada puncak kemajuannya. Begitu terbukanya suasana keilmuan dalam Islam sehingga peradaban ilmu pengetahuan waktu itu berada ditangan kaum muslimin, tidak hanya di jazirah Arabia tapi juga merambah ke berbagai benua termasuk Eropa. Berbeda yang terjadi hari ini, ilmu dibuat gado-gado, dicampur adukan, sehingga karakteristik aslinya pudar bahkan hilang. Ada yang mengkaji Al-Qur’an dengan pisau analisis Bibel… Anehkan…

    Ayok… kembalikan kejayaan ilmu dan iman, agar selamat dunia dan akhirat…

  • Muhasabah Diri (102): Jangan Remehkan Ilmu Dan Ahlinya

    Muhasabah Diri (102): Jangan Remehkan Ilmu Dan Ahlinya

    Sok alim, sok bersih…, mungkin sering kita dengar lontaran seperti ini dalam keseharian. Disaat ada yang tidak berkenan dihati seseorang. Tidak semua orang siap menerima nasehat dan kritikan. Sikap sombonglah yang menghalangi seseorang berat menerima nasehat. Meskipun demikian, masih ada yang membutuhkan nasehat dan arahan dalam hidupnya. Bahkan dia berterimakasih kepada seseorang yang telah memberinya nasehat. Jika kebiasaan saling menasehati hilang, barangkali hal-hal negatif akan mudah mewabah. Maksiat menyebar dengan cepat. Pola hidup cuek jadi gaya keseharian.

    Dalam mencari ilmu, keikhlasan adalah modalnya. Lihat para ulama… Meskipun berbagai macam ujian dan siksaan yang dihadapi, bahkan nyawa taruhannya, mereka tetap teguh dan istiqomah. Said Ibnu Jubair, tetap saja selalu menasehati para algojonya Al- Hajjaj Ibnu At-Tsaaqafi yang menyiksa beliau, keteguhan hatinya betul-betul teruji sampai kesyahidan menjemputnya. Imam Ahmad bin Hambal, meskipun dijebloskan ke penjara, tetap konsisten dengan keyakinannya tanpa surut sedikitpun dan tetap dengan santun kata-kata nasehat selalu keluar dari lisannya. Contoh ketelandan dari para ulama amatlah banyak, tinggal kita yang harus menggali keteladanan dari mereka.

    Fenomena penyimpangan dan pengkerdilan terhadap ilmu dan ulama sudah terjadi sepanjang sejarah manusia. Diantara bentuk penyimpangan dalam mencari ilmu adalah melenceng dari niat yang mulia. Ambisi diri ingin dipuji, mengharapkan orang lain salut dan berdecak kagum padanya. Padahal itu sebuah kesalahan. Rasulullah Saw sudah mewanti-wanti umatnya dengan tipe penuntut ilmu seperti ini, hati-hati jangan sampai terjerumus dan salah tujuan.

    مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

    Artinya: “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa menyaingi para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar menarik perhatian yang lainnya, maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

    Perdebatan banyak mewarnai hari-hari kita. Persatuan dan kekompakan umat diabaikan demi menuruti ambisi pribadi. Dengan leluasa dan lantang mencaci maki para ulama, hanya bermula dari perbedaan pendapat. Risih, miris hari ini umat dipertontonkan ketidak dewasaan kita menyikapan perbedaan. Ambisi diri dan keinginan eksis dari pada penuntut ilmu cenderung menyalahkan para ulama yang lebih dahulu hadir dan sudah banyak berbuat untuk umat. Salah dan khilaf sebagai manusia hal yang biasa terjadi. Ulama juga manusia biasa, kadang-kadang salah, apalagi sumber ilmu amatlah luas, wajar terjadi perbedaan. Selagi perbedaan itu tidak pada ranah yang harus diperdebatkan, berlapang dada adalah solusinya. Menjaga lisan untuk tidak mengumpat demi persatuan umat adalah jalan cerdas yang perlu ditempuh. Menahan diri untuk tidak mencaci maki orang lain adalah sifat terpuji, apalagi yang dihujat itu adalah para ulama… Menikam dari belakang bukanlah sikap yang harus dilestarikan. Menyedihkan memang umat dipertontonkan hujat menghujat… seakan-akan panggung ilmu dan ulama isinya banyak perdebatan dan caci makian… Tidak, sekali tidak seperti itu.

    Saudara…Bukanlah sikap pewaris nabi itu santun dan lemah lembut dalam mengajak?. Sudahlah akhirilah menebar virus perpecahan. Semoga persatuan berhasil kita rengkuh sedikit demi sedikit. Percayalah seorang muslim akan kuat bersama saudaranya…

  • Muhasabah Diri (101): Tidak Semuanya Mesti Diungkapkan

    Muhasabah Diri (101): Tidak Semuanya Mesti Diungkapkan

    Era digital memberikan banyak peluang untuk mengekpresikan apa saja yang kita maui. Banyak manfaat yang didapati. Apalagi bagi yang mampu mengikuti perkembangannya, dahsyat memang. Terasa ketinggalan jika tidak mengikutinya. Diantara manfaatnya, ilmu yang terserak di berbagai sumber, bisa dengan mudah dan cepat diakses.

    Banyak sumber ilmu yang bisa kita manfaatkan. Dan juga banyak informasi yang bisa kita serap dari berbagai peristiwa. Ada yang harus disampaikan dari apa yang kita ketahui kepada orang lain dengan memilah dan memilih apa yang patut disampaikan. Rasulullah Saw mengajarkan kita bagaimana menyampaikan informasi dan ilmu sesuai kadar nalar seseorang. Ada yang harus disaring, karena tidak semua yang kita dapati semuanya benar dan layak dibagi. Apalagi di era ini, berbagai informasi berseliweran disekitar kita. Rasulullah Saw mengingatkan kita berhati-hati dalam berbagi informasi kepada orang lain.

    كَفَى بالمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

    Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap pembohong jika ia mengatakan semua yang dia dengar”. (HR. Muslim)

    Betapa banyak yang jadi korban akibat kabar yang keliru. Dan juga betapa banyak kehormatan seseorang dilanggar dengan dalih kebebasan berekspresi. Ada juga yang berbagi hal-hal yang bersifat privasi secara vulgar… Salah kaprah, kadang-kadang keluar dari koridor kepatutan. Banyak yang bangga disaat rahasia hidupnya dibagi dan diobral murahan oleh pihak lain.

    Sahabat…

    Betapa agama kita amat perhatian pada sisi-sisi akhlak. Karena itulah Rasulullah Saw diutus buat umat manusia… membenahi akhlak. Dan itu hari ini terasa aneh untuk diikuti. Padahal semuanya dalam rangka meluruskan yang bengkok, membenahi yang keliru…

  • Muhasabah Diri (100): Hilangnya Ulama, Pudarnya Ilmu

    Muhasabah Diri (100): Hilangnya Ulama, Pudarnya Ilmu

    Buku adalah sebaik-baik teman disaat kesepian, ungkapan yang hanya bisa disadari bagi yang tidak mau waktunya habis terbuang begitu saja. Bahkan ciri orang maju dan berilmu senantiasa bersamanya ada buku mendampinginya. Dengannya kemajuan bisa diraih. Dan tanpanya kebodohan akan membuih.

    Goresan ilmunya para ulama, banyak diabadikan dalam lembaran-lembaran buku. Seakan-akan tidak rela waktu mereka terbuang percuma, berbagai kesempatan yang ada dan waktu mereka penuh terisi dengan nuansa keilmuan. Mengkaji, berdiskusi, menulis bahkan mengajar itulah hari-hari mereka. Berjilid-jilid buku terlahir dari buah produktivitas mereka. Tapi hari ini, semangat itu mulai tergerus, pudar ibarat lentera kehabisan bahan bakar. Ditambah lagi satu persatu ulama kita pergi meninggalkan kita. Tanpa disangka, itulah ketentuan Yang Kuasa.

    إن ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅوﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“ (HR. Bukhari)

    Apa yang disampaikan nabi sudah terjadi. Banyak orang-orang berilmu diwafatkan Allah SWT satu persatu. Fenomena beramal tanpa ilmu dikalangan masyarakat, seakan-akan sudah ada dimana-mana. Miris, sampai-sampai orang-orang bodoh sudah mulai berani berfatwa tentang agama. Berkata dan berkomentar seenaknya saja. Fenomena aneh pertanda kita sudah berada di terminal terakhir usia dunia.

    Sahabat…

    Hidup ini amatlah singkat, bekal untuknya apakah sudah lengkap?Bertemu dengan ajal adalah sebuah kepastian, tanpa ada halangan dan alasan untuk mengelak. Semua kita sedang digiring kesana. Sudahkah kita mempersiapkan segala sesuatu?. Allah SWT sudah menitipkan ilmu untuk itu melalui ayat-ayat-Nya…

    Fa’tabiru Yaa Ulil Abshar…

  • Muhasabah Diri (99): Berubah Pandangan Mungkin Terjadi

    Muhasabah Diri (99): Berubah Pandangan Mungkin Terjadi

    Hari ini bukanlah hari kemarin. Begitu juga dengan kita, kita yang kemarin dengan kita hari ini tentu ada perubahan. Perubahan adalah sunnatullah, tidak bisa dimungkiri. Bermula dari usia anak-anak, beranjak remaja, dengan perjalanan waktu sampailah diusia dewasa…terus dan seterusnya.

    Pengalaman banyak memberikan pengayaan buat kita. Semakin jauh kita berjalan, semakin banyak yang nampak. Semakin jauh kita menjangkau, semakin banyak yang bisa kita rengkuh. Sedikit demi sedikit ada yang berubah. Terasa semakin kerdil diri kita dihadapan Allah Yang Maha Kuasa.

    Rasulullah Saw menyikapi para sahabat disaat menanyakan berbagai hal, jawaban dari beliau berbeda-beda. Meskipun pertanyaan masih dalam kategori yang sama. Tentang amalan yang paling dicintai Allah SWT, amalan yang paling baik. Jawaban dari beliau tergantung pada kondisi penanya. Ada kalanya sipenanya masih punya orang tua diusia yang amat butuh bantuan. Itulah peluang amalan terbaik. Shalat pada waktunya juga amalan terbaik. Bahkan berjihad membela agama termasuk amalan prioritas…. Dan lain sebagainya.

    Banyak amal unggulan dihadapan kita. Bagaimana jika waktu yang tersedia tidak memadai dibandingkan banyaknya tuntutan? Rasulullah Saw mengajarkan ilmunya buat kita. Mana yang diprioritaskan. Kondisi kita yang menentukan, ada yang tidak mungkin ditunda, ada amalan dengan waktu tertentu, bahkan ada yang tidak terikat waktu.

    Jadi berubah-ubah dalam prioritas amal adalah kondisional. Coba lihat sejarah para ulama, beda kondisi beda juga fatwanya… Wajar terjadi karena manusia hidup tidak pada zawan dan tempat yang sama. Banyak hikmah yang bisa kita petik dalam perjalanan hidup kita…