Author: Dr Arman Husni

  • Muhasabah Diri (98): Mengejar Ketertinggalan

    Muhasabah Diri (98): Mengejar Ketertinggalan

    Berbicara masalah nasib, tidak semua orang bernasib sama. Meskipun sama-sama berusaha, sama-sama belajar, tapi skenario Allah SWT jua yang berlaku. Begitulah ujung dari ikhtiar kita. Memperbaharui semangat diri dan berbenah adalah tuntutan nabi, tidak ada istilah berhenti ditengah jalan. Apalagi mundur, no way… Kecuali untuk mengatur strategi…

    Suatu ketika Abu Thalhah salah seorang sahabat Rasulullah Saw, sedang menikmati nyamannya suasana di kebun kurma yang beliau miliki. Kebun yang dikenal dengan nama Bairuha, tenang, menyejukan dan burung-burungpun nyaman hinggap diantara dedaunan. Syukur pada yang Kuasa Abu Thalhah tidak melupakan Sang Pemberi Nikmat. Disaat beliau shalat di kebunnya, seketika seekor burung bertengger didepannya. Buyar kekhusyukannya. Ada apa gerangan dengan seekor burung?. Sesaat jadi bahan pikiran, hewan-hewan saja amat nyaman di kebunnya. Yang jadi beban bagi Abu Thalhah adalah terganggunya ibadah yang beliau tunaikan… Dalam pikiran beliau, harus berubah, sebagai bentuk muaqobah diri, beliau sedekahkan kebun satu-satunya miliknya. Berharap pada Allah SWT memberikan yang terbaik. Sedekahnya suatu saat dikelola kaum muslimin, otomatis pahala jariah tetap mengalir…

    Sahabat…

    Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Tentu petuah ini, bukan hanya diukur dengan standar kebendaan tapi disana ada visi ukhrawi yang harus tertanam. Muslim visioner tidak hanya berubah secara tampilan, tapi juga ada perubahan dari sisi ubudiyah, akhlak tentunya juga bekal ilmu dan berharap kedepan lebih baik lagi. Tentu semua tetap dalam koridor pemahaman dan ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah Saw buat umatnya.

    Tiada hari tanpa berbenah, kegagalan hari ini adalah cemeti diri buat perbaikan ke depan. Masih banyak yang perlu dikejar… Waktu yang tersedia amatlah terbatas. Dengan segala keterbatasan dan ditopang azam yang menghujam, semoga ada hasilnya…

  • Muhasabah Diri (97): Serahkan Sesuatu Pada Ahlinya

    Muhasabah Diri (97): Serahkan Sesuatu Pada Ahlinya

    Disaat kita hendak pergi jauh, tentu ada sarana kendaraan yang kita butuhkan. Sebagus apapun kendaraan yang kita pakai, jika tidak ditopang tersedianya kondisi jalan yang memadai, manfaat yang kita dapati tidaklah maksimal. Yang kita inginkan terlaksana dengan baik belum tentu tercapai dengan baik pula. Banyak hal yang berkaitan dengan kelancaran aktivitas kita sehari-hari. Hal itu tentu sulit diemban sendiri-sendiri. Kita butuh pihak lain yang mengisi berbagai posisi yang dibutuhkan. Ibarat sebuah perusahaan ada beberapa personel yang berperan dibidang masing-masing. Punya keahlian di bidangnya.

    Sahabat…

    Disaat kita butuh orang lain dalam menuntaskan berbagai agenda kegiatan, tentu ada hal yang dipertimbangkan, diantaranya adalah kemampuan melakukan apa yang kita inginkan. Mengamanahkan sesuatu kepada yang bukan ahlinya akan melahirkan kegagalan. Banyak malapetaka terjadi jika sesuatu urusan diserahkan kepada yang bukan bidang kepakarannya. Wajar Rasulullah Saw sudah mewanti-wanti umatnya agar tidak terjebak dalam hal ini.

    إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَاعَةَ، قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَاعَة

    “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kiamat (kehancuran), maka ditanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakannya?”, maka Nabi menjawab: “Jika (amanah jabatan) diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhari)

    Hal-hal kecil, bila disia-siakan akan berakibat buruk dikemudian hari, apalagi mengabaikan hal-hal besar yang menyangkut hajat orang banyak. Begitu pentingnya kualifikasi keilmuan, sehingga sering dijadikan syarat dalam menerima jobseeker, para pelamar kerja. Rasulullah Saw selalu mengajari para sahabat menekuni berbagai ilmu. Ada diantara sahabat diminta untuk mempelajari bahasa lain, agar umat Islam tidak terjebak dalam makar yang mereka lakukan. Begitu juga ada diantara sahabat yang diamanahkan berbagai pekerjaan yang mana mereka mampu melakukannya. Bahkan ada yang minta jabatan, ditolak oleh Rasulullah Saw karena dianggap lemah untuk memikulnya.

    Dalam hal agama, tidak semua orang menguasainya dengan baik. Hari ini banyak yang bicara agama, asal comot sana comot sini sudah menganggap dirinya ahli di bidang itu. Sejarah para ulama mencari ilmu butuh pengorbanan. Jarak yang ditempuh juga tidak sedikit, bermil-mil jalan ditempuh dengan bekal terbatas, bahkan banyak ujian yang datang merintanginya.

    Memang segala sesuatu diperoleh sesuai dengan kadar ikhtiar seseorang. Selagi ada kesempatan, mari kita berbenah…

  • Muhasabah Diri (96): Mendidik Untuk Menyelamatkan

    Muhasabah Diri (96): Mendidik Untuk Menyelamatkan

    Berbicara tentang kebiasaan yang dilakukan manusia amatlah beragam. Kebiasaan yang sudah mentradisi biasanya bermula dari kecenderungan melakukan sesuatu, kemudian menjadi terbiasa, akhirnya jadi kebiasaan. Kebiasaan berkembang dan dimodifikasi sedikit demi sedikit, ditambah eksperimen-eksperimen baru untuk mendapatkan hasil lebih baik dilakukan. Begitulah ilmu perkembang, dan senantiasa mengalami berbagai macam perubahan. Tradisi keilmuan seperti ini banyak berkembang dikalangan kaum muslimin diabad pertengahan, sebelum terkontaminasi virus sekulerisme barat. Kemudian barat mengadopsi kemajuan yang diperkenalkan ilmuwan muslim pada mereka, dan mereka buang ruh agamanya. Kemudian tradisi tersebut berkembang dan sampai hari ini kemajuan memberikan kontribusi positif yang tidak sedikit buat manusia. Cuma tidak semua bentuk kemajuan memberikan dampak positif bagi manusia. Ada yang hilang…

    Banyak hal yang terbengkalai didepan kita. Butuh sentuhan tangan sejuk kaum yang peduli. Banyak bidang yang tak terurus secara maksimal, otomatis dampaknya yang diberikan kepada umat juga terbatas. Dunia pendidikan, sebagai tempat penyemaian beragam ilmu harus berorientasi kepada arah kemajuan yang tidak hanya menyentuh kemajuan phisik tapi juga kemajuan spritual sebagai landasan moral dan inilah yang hilang dari sebagian lembaga pendidikan kita.

    Sekolah selayaknya tidak hanya berperan sebagai wadah transfer of knowledge saja tapi lebih daripada itu, sebagai wadah pencetak generasi yang berkarakter dan bermoral. Itulah yang diharapkan oleh orang tua pada anak-anak mereka tentunya.

    Pemisahan antara ilmu dan sumber terlahirnya akhlak tidaklah cocok buat kita. Karena permasalahan yang terjadi tidak hanya masalah penguasaan ilmu pengetahuan tapi banyak yang merambah sisi akhlak generasi. Bahkan problematika kemanusiaan juga banyak dihadirkan oleh perilaku tak bermoral.

    Harapan kita terpaut pada pembenahan pendidikan… Memang pendidikan bukanlah segala-galanya, tapi segala sesuatu berangkat dari pendidikan…

  • Muhasabah Diri (95): Berperan Untuk Saling Melengkapi

    Muhasabah Diri (95): Berperan Untuk Saling Melengkapi

    Dalam kondisi dengan serba keterbatasan Rasulullah Saw tetap optimis dan senantiasa membenahi sisi-sisi kelemahan generasi percontohan dari kalangan sahabat. Antusiasnya para sahabat menyambut angin segar perubahan yang ditawarkan Rasulullah Saw, dan itu merupakan ruh baru bagi mereka. Satu persatu lantunan kalam Ilahi mengisi lorong-lorong sepi kawasan Mekkah. Arah perubahan amatlah jelas, menuju penghambaan yang sebenarnya hanya kepada Allah. SWT. Inilah yang ditakuti oleh para pembesar Quraisy, karena ajaran baru tersebut menggerus keyakinan pada sesembahan yang mereka buat. Bisnis jualan tuhan buatan yang mereka geluti sedikit demi sedikit tidak diminati lagi.

    Kegaduhan demi kegaduhan mulai mereka ciptakan, pertanda tidak senang dengan aroma pembebasan yang muncul dari ajaran wahyu. Tindakan teror menteror mereka gencarkan demi menebarkan rasa takut bagi umat yang ingin lepas dari kungkungan kejahiliahan. Tapi yang namanya menjemput cahaya iman apapun bentuk teror itu tidak menjadikan generasi terbaik itu surut kebelakang. Mempertahankan prinsip keyakinan bagi mereka adalah amunisi perjuangan yang paling berharga.

    Tantangan demi tantangan malah hanya menggugah kesadaran para sahabat untuk lebih banyak berbuat. Abu Bakar dengan segala bentuk pengorbanannya tidak sedikit beliau merdekakan para budak. Demi menyelamatkan keyakinan umat peran Abu Bakar dengan memerdekakan budak, dan menebar kepedulian dicatat rapi dalam lembaran sejarah. Beliaulah sosok yang amat penyayang dari umat nabi yang terakhir ini.

    Bagaimana peran sahabat yang lain? Tentu semuanya berperan, sesuai keahlian bidang masing-masing. Disinilah kelebihan generasi percontohan, kekurangan diantara mereka ditutup oleh kelebihan yang lain.

    Suatu ketika di Madinah gerombolan para penyair jahiliah mengolok-olok Rasulullah Saw dan kaum muslimin dengan syair-syair yang mereka ungkapkan. Disaat itu pula Rasulullah Saw minta kepada sahabat untuk membalasnya, tapi tidak ada yang mampu untuk itu. Sesaat setelah itu tampillah seseorang, ternyata Hassan bin Tsabit dengan beraninya beliau mengatakan kepada Rasulullah Saw, bahwa kalau bersyair beliaulah ahlinya. Hassan bin Tsabit sosok sahabat penyair, dengan untaian syair-syair yang beliau ucapkan amatlah membekas dihati para pembenci Rasulullah Saw. Beliau memang ahlinya bersyair sehingga dikenal dalam sejarah penyairnya Rasullullah Saw.

    Begitulah generasi terbaik, ada yang ahli ekonomi dan marketing seperti Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan sederet sahabat lainnya. Bahkan ada yang menonjol diantara mereka sebagai penghafal ilmunya Rasulullah Saw berupa hadits-hadits yaitu sahabat Abu Hurairah. Ada sahabat Abdullah Ibnu Abbas sahabat yang paling banyak tahu tentang seluk-beluk turunnya Al-Qur’an. Unik memang, generasi terbaik…

    Semoga kita tidak jauh dari cara mereka memahami Islam dengan benar…

  • Muhasabah Diri (94): Jangan Lari Dari Ilmunya Nabi

    Muhasabah Diri (94): Jangan Lari Dari Ilmunya Nabi

    Banyak hal yang menjadi penyebab malapetaka di dunia ini. Semua penyebab itu berujung pada perilaku manusia. Manusia membutuhkan panduan dan bimbingan. Untuk itu Allah SWT mengutus setiap umat pembimbing mereka dari kalangan nabi. Bangkang terhadap mereka adalah bentuk kemaksiatan, tindak tunduk kepada mereka artinya juga tidak tunduk dan taat kepada Allah SWT. Maksiat kepada Allah memunculkan berbagai kerusakan dan mengundang berbagai musibah dan bencana.

    ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

    Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar- Rum: 41)

    Ada beberapa kejadian pasca wafatnya Rasulullah Saw, diantaranya terjadinya beberapa musibah yang mana sebelumnya belum pernah terjadi. Gempa bumi dan bencana lainnya, belum pernah terjadi dizaman semasa hidupnya beliau. Para sahabat bertanya kepada Ummul mukminin Aisyah RA, kira-kira apa penyebabnya. Beliau sampaikan bahwa yang mengundang musibah adalah manusia juga. Lari dari apa yang pernah dibiasakan Rasulullah berdampak pada lunturnya nilai ketaatan. Ilmunya nabi tidak hanya dikuasai secara teori, tapi juga harus dalam bentuk amalan. Membicarakan konsep ilmu dalam Islam tidak lengkap jika tidak berbasis amal.

    Musibah terjadi karena umat mulai meninggalkan cara nabi. Warisan ilmu dari Rasulullah sudah mulai tidak diamalkan. Maka wajar terjadi hal-hal yang dulunya belum pernah terjadi.

    Allah SWT menggambarkan azab tidak ditimpakan kepada manusia jika diantara mereka ada Rasulullah Saw, begitu juga disaat umat mengharapkan ampunan dari Allah SWT secara kolektif.

    وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

    Artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (nabi Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun”. (QS. Al- Anfal: 33)

    Marilah kita kembali kepada cara nabi dan mempelajari ilmunya… Sudah barang tentu juga dengan mengamalkannya…

  • Muhasabah Diri (93): Rihlah Mencari Ilmu

    Muhasabah Diri (93): Rihlah Mencari Ilmu

    Pada prinsipnya manusia dengan keingintahuannya punya keinginan untuk selalu bergerak. Karena ciri manusia energik, sehat dan aktif adalah dengan banyak bergerak. Diantara bentuk bergerak mencari ilmu adalah dengan melakukan perjalanan alias rihlah lithalabil al-ilmi. Semakin tinggi frekuensi perjalanan seseorang, akan semakin banyak yang akan dia lihat dan renungi. Alam takambang jadi guru. Disitulah kesempatan mencari ilmu semakin terbuka lebar.

    Rasulullah Saw banyak mengutus para sahabat ke berbagai suku yang ada untuk menyampaikan ilmu tentang Islam. Perjalanan demi perjalanan mereka lakukan, ujung-ujungnya banyak penduduk negeri terkesan dengan Islam. Dan kebiasaan tersebut diikuti oleh para ulama. Dari situlah Islam berkembang kemana-mana, berkah perjalanan menyampaikan ilmu. Bukan hanya perjalanan menebar ilmu saja yang dilakukan umat Islam sebaliknya generasi selanjutnya melakukan perjalanan mencari ilmu yang semakin berkembang.

    Dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:

    مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

    Artinya: “Barang siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Tirmizi)

    Ilmu tidak datang sendiri, tapi harus dijemput. Betapa produktifnya para ulama terdahulu dalam menjemput ilmu, berjalan dari satu negeri ke negeri lain, lintas kawasan bahkan antar benua. Tidak hanya itu mereka juga menuangkan ilmu yang ada di kepala mereka dalam bentuk berjilid-jilid buku. Bukti warisan ilmu yang mereka suguhkan buat kita jadi pahala jariah buat mereka yang sudah berpayah-payah mencari dan menjaganya. Militansi ilmiah seperti mereka dulu, untuk hari ini sudah memudar. Tidak hanya ilmu bidang syar’i yang mereka geluti tapi juga ilmu-ilmu eksakta yang mana umat Islam hari ini lemah disitu. Tradisi mencari dan bereksperimen juga mulai mengendur dewasa ini.

    Sahabat…

    Sudah saatnya kita keluar hari ini dari kerangkeng yang mengurung tradisi keilmuan yang dulu pernah dipuncak kejayaannya. Perang urang saraf yang amat gencar mencitrakan ketidak mampuan kaum muslimin untuk maju dalam dunia ilmu pengetahuan selalu dilontarkan diberbagai event. Padahal banyak ayat atau hadits mengajak umat Islam untuk mendalami ilmu pengetahuan yang bertebaran di alam semesta…

    Semoga kejayaan ilmu pengetahuan kembali lagi kepada pemiliknya…

  • Muhasabah Diri (92): Wahyu Dan Sain Akan Tetap Sejalan Beriringan

    Muhasabah Diri (92): Wahyu Dan Sain Akan Tetap Sejalan Beriringan

    Lembaran sejarah telah mengabarkan kepada kita bahwa dengan ilmu yang sulit akan terasa jadi mudah. Dengan kemajuan ilmu, yang jauh terasa dekat, yang berat akan terasa lebih ringan. Ilmu berkembang sesuai dengan intensitas manusia memanfaatkan potensi diri mereka. Dampaknya juga terlihat dari masa ke masa.

    Kemajuan ilmu pengetahuan mengalami kondisi pasang surut. Kejayaan ilmu pengetahuan memberikan dampak positif pada kondisi masyarakat setempat dan sekitarnya, apalagi kemajuan tersebut dilandasi landasan pondasi keimanan umat Islam sebagaimana yang pernah terjadi diabad pertengahan. Kejayaan peradaban Islam saat itu merupakan keberkahan bagi penduduk bumi khususnya bangsa Eropa yang perpusat di Andalusia. Itulah diantara keberkahan ilmu pengetahuan, yang mana Allah SWT meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu.

    Allah Ta’ala berfirman :

    يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

    Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadilah : 11).

    Perlu dicatat bahwa satu satunya peradaban yang pernah menguasai Eropa yang berasal dari luar Eropa hanya peradaban Islam dan Arab. Hal ini juga disinggung oleh Samuel P. Huntington seorang ilmuwan politik dari Harvard University. Fluktuasi sebuah peradaban tergantung berbagai kondisi pendukungnya. Pesona kejayaan kadangkala membuat seseorang atau umat melupakan tantangan yang ada dihadapannya. Kekuatan tergerus sedikit demi sedikit ditambah lagi peranan pihak luar melakukan psywar terhadap umat Islam.

    Perlu dicatat bahwa sumber kemajuan umat Islam bersumber pada kekuatan wahyu yang jadi rujukan. Ayat-ayat qauliah dari al-Qur’an beserta Hadits dan ayat-ayat kauniah sebagai wadah tafakur manusia sebagai sumber inspirasi manusia meraih kejayaan. Kedua tanda-tanda kebesaran Allah SWT yaitu wahyu dan ayat-ayat kauniah akan tetap sejalan dan saling menguatkan. Jika terjadi benturan pemahaman, berarti ada terjadi kesalahpahaman. Bisa jadi kesalahan bersumber pada pemahaman keliru terhadap wahyu atau sain yang dilahirkan oleh hasil kajian terhadap ayat-ayat kauniah itu tidak benar dan belum teruji.

    Jadi selamanya dan akan tetap sejalan beriringan antara wahyu Al-Qur’an dan Hadits dengan temuan sain. Dari sinilah terbuka lebar pintu hidayah bagi para ilmuwan non muslim yang sudah banyak mengkaji dan melakukan berbagai eksperimen yang ujung-ujungnya pengakuan terhadap kebenaran Al-Qur’an dan Hadits.

    Semoga kita selalu mengkaji wahyu dan tentunya tujuannya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari…

  • Muhasabah Diri (91): Solusi Yang Dilupakan

    Muhasabah Diri (91): Solusi Yang Dilupakan

    Jika kita ditanya, profesi apa yang paling disukai?. Bisa jadi muncul berbagai macam jawaban, sesuai dengan keinginan dan kesenangan seseorang. Pertanda manusia punya perbedaan pandangan dan kecenderungan. Adanya berbagai profesi, menunjukkan manusia saling melengkapi dan tidak mungkin mengisolasi diri. Meskipun banyak pekerjaan yang digeluti, yang namanya rezeki dan pendapatan beragam dan tidak sama. Profesi yang mengandalkan berbagai skill tertentu yang jarang dimiliki orang biasanya bernilai lebih dan memungkinkan mendatangkan income lebih juga. Artinya ikhtiar seseorang akan berpengaruh pada pendapatannya, dan terakhir Allah jualah yang menentukan taqdir kita.

    Dalam menjemput rezeki tidak semua orang memperhatikan sumber rezeki yang diperolehnya, apakah dari sesuatu yang halal atau haram. Bahkan tidak sedikit yang menghalalkan yang haram atau malah menutup diri terhadap pintu rezeki yang baik. Dan Rasulullah Saw sudah menggambarkan fenomena tersebut dalam haditsnya:

    لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

    Artinya: “Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram“. (HR Bukhari).

    Semua permasalahan rezeki, keuangan dan aktivitas yang berhubungan dengan ekonomi sudah ada sinyal solusinya dalam syari’ah. Perlu peningkatan keimanan dalam rangka menjemput keberkahan.

    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

    Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’rof: 96)

    Konsep Islam dalam ketekunan kerja, sudah dicontohkan Rasulullah Saw bahkan para nabi sebelumnya juga para pekerja. Kemudian para sahabat yang mulia mereka amat mencontohkan bagaimana melakukan aktivitas dengan profesional.

    Islam juga mengatur kepemilikan harta, yang mana dalam harta kita ada hak orang lain. Berbeda dengan konsep kapitalis yang memisahkan pemilik modal dan buruh. Begitu juga kepemilikan dalam konsep sosialis, yang memungkinkan seseorang tidak bisa mewariskan apa yang dimiliki keanak keturunannya.

    Dalam rangka menebar kesempatan kebaikan syariat juga sudah mengatur hal itu dalam bentuk zakat, infaq dan sedekah. Bahkan wakaf juga menawarkan solusi agar harta kita tidak berhenti memberi manfaat. Pahala jariah terbuka lebar dalam Islam.

    Jika kita kaji satu persatu, akan ditemui bahwa permasalahan ekonomi ummat sudah diatur sedemikian rupa dalam Islam. Semoga kita tidak alergi dengan solusi Islami yang banyak mendatangkan maslahat bagi manusia.

  • Muhasabah Diri (90): Penjilat, Kehinaan Yang Kadang Jadi Kebanggaan

    Muhasabah Diri (90): Penjilat, Kehinaan Yang Kadang Jadi Kebanggaan

    Kenyamanan dan suasana damai merupakan keinginan semua orang. Dan kita pun menginginkan segala urusan dalam keseharian berjalan lancar dan normal. Tidak ada kendala sehingga apa yang kita inginkan tercapai dengan baik. Tapi yang namanya kehidupan tidak semuanya mulus. Disana sini ada rintangan dan godaan yang akan menggelincirkan siapa saja yang tidak hati-hati. Begitulah warna warni kehidupan, ada kemudahan juga ada kesulitan, ada kesenangan juga ada kesedihan.

    Apalagi dalam beragam aktifitas, banyak berhubungan dengan beragam karakter. Keinginan yang terhalang kerapkali menjadikan sesorang mencari jalan lain, jalan pintas. Kadang-kadang yang ditempuh sesuatu yang tidak layak. Menghinakan diri, merendahkan martabat yang penting urusan lancar. Diantara yang ditempuh adalah menjilat dan ini merupakan fenomena yang sering terjadi dalam interaksi sesama. Biasanya terjadi antara bawahan dan atasan, antar pertemanan dalam kelompok atau organisasi, atau dalam kehidupan biasa dalam bermasyarakat. Seseorang dengan keinginan dan kepentingan yang tersembunyi menjilat untuk kelancaran urusannya. Sehingga apa yang diungkapkan beda dengan apa yang terjadi, sehingga seseorang akan bermuka dua demi ambisi terselubung. Kebiasaan seperti ini jika sudah mentradisi akan melahirkan pribadi-pribadi hipokrit, seseorang akan tampil tidak apa adanya. Sipenjilat dan yang dijilat sama-sama merendahkan derajat dirinya, karena berada dalam dunia yang tidak sebenarnya. Sama-sama menjerumuskan, Rasulullah Saw wewanti-wanti umatnya agar tidak merendahkan diri dalam kubangan kemunafikan dan kebohongan seperti ini.

    وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ مِرَارًا

    Artinya: “Celaka engkau, engkau telah memotong leher saudaramu! Celaka engkau, engkau telah memotong leher saudaramu!” Nabi mengulanginya beberapa kali. (HR Bukhari & Muslim)

    Tegasnya Rasulullah Saw menasehati ummatnya, beliau kaitkan pelaku jilat menjilat ini dengan kondisi kekosongan keyakinan dengan agama. Dalam haditsnya beliau sampaikan buat pegangan ummatnya.

    إن الرجل ليخرج من بيته ومعه دينه فيلقى الرجل وله إليه حاجة فيقول له: أنت كيت وكيت!-يثني عليه-؛ لعله أن يقضي من حاجته شيئاً فيسخط الله عليه، فيرجع وما معه من دينه شيء

    Artinya: “Sesungguhnya ada lelaki yang keluar dari rumahnya dan masih memliki agama, kemudian dia bertemu seseorang yang dia punya keperluan dengannya. Lelaki ini pun berkata, “Sesungguhnya engkau itu begini dan begitu”, lelaki ini memuji orang tersebut sambil berharap agar mau menolong keperluannya. Maka Allah pun murka kepada lelaki itu, diapun kembali ke rumahnya dalam keadaan tidak memiliki agama”. (HR. Imam Ahmad dan Hakim)

    Begitu berat ganjaran pelakunya diakhirat kelak, didunia saja dampaknya akan terasa. Hilangnya profesionalitas kerja, terjadinya kesenjangan, memunculkan cara hidup yang tidak normal, pola hidup semau gue…

    Yook kita tinggalkan perilaku jilat menjilat, tampil apa adanya jauh lebih baik dari pada perilaku bunglonisme yang menipu.

  • Muhasabah Diri (89): Minta-Minta, Fenomena Mentalitas Tangan Dibawah

    Muhasabah Diri (89): Minta-Minta, Fenomena Mentalitas Tangan Dibawah

    Karunia Allah SWT amatlah banyak luas membentang. Begitu juga manusia diberi berbagai potensi untuk mengolah sumber kehidupan dengan diberikan-Nya akal, pikiran dan tenaga.

    Allah juga jelaskan hal itu dalam firman-Nya:

    هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

    Artinya: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk: 15)

    Berbagai profesi digeluti umat manusia dalam perjalanan sejarah, para nabi yang diutus oleh Allah SWT adalah para pekerja. Allah jadikan sebaik-baiknya rezeki pada hasil pekerjaan tangan sendiri. Artinya tidak berpangku tangan dan hanya berharap pada orang lain. Rasulullah Saw mengajarkan umatnya mencari rezeki terbaik, beliau ajarkan para sahabat untuk berniaga. Beliau kisahkan profesi para nabi sebelum beliau diutus untuk jadi pegangan bagi umat akhir zaman ini. Bahkan beliau sampaikan dalam haditsnya meskipun hari kiamat datang dan ada kesempatan bertanamlah…

    إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمُ الْقِيَامَةُ، وَفِي يَدِهِ فَسِيلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا

    Artinya: “Jika hari kiamat terjadi diantara kalian dan ditangannya ada fasiilah (bibit kurma) maka tanamlah.” [HR. Ahmad)

    Betapa kesempatan itu amat berharga. Dan amat merugilah seseorang jika tidak memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk berkerja. Dan mencari rezeki dengan cara minta-minta pada orang lain tidaklah dianjurkan, bahkan dianggap amalan tercela dalam Islam. Rasulullah Saw memperingati umatnya tentang ini dalam haditsnya:

    مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

    Artinya: “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim)

    Fenomena meminta-minta sering kita temui di negeri ini. Bahkan pelakunya tidak semuanya yang berkekurangan secara pisik, artinya ada kemampuan untuk berkerja. Mentalitas tangan dibawah itulah yang jadi kebiasaannya, malas memanfaatkan potensi diri yang sudah dianugerahkan Allah buat manusia. Bisa diambil kesimpulan jika sebuah negeri fenomena meminta-minta ini mewabah akan jadi penghalang masyarakatnya untuk maju…

    Semoga kita terhindar dari hal yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw pada umatnya…

  • Muhasabah Diri (88): Mendidik Buah Hati Dengan Pendekatan Materi, Petaka Atau Anugerah?

    Muhasabah Diri (88): Mendidik Buah Hati Dengan Pendekatan Materi, Petaka Atau Anugerah?

    Orang tua terutama ibu adalah pendidik utama di rumah tangga bagi anak-anaknya. Disitulah mereka banyak mendapatkan rasa kasih sayang. Bahkan orang tua bekerja untuk tujuan bagaimana agar mampu membiayai buah hati dan keluarga. Tidak sedikit orang tua bersusah payah membanting tulang demi anak-anaknya. Tidak tega melihat mereka tidak tercukupi berbagai kebutuhannya, berbagai usaha untuk itu dilakukan.

    Materi dan kekayaan amatlah penting dalam meringankan berbagai tuntutan dalam kehidupan berkeluarga. Tidak sedikit orang tua mengeluarkan biaya yang besar buat pendidikan anak-anaknya. Tidak hanya mencukupkan kebutuhan mereka juga ada yang mengikuti apa saja yang dituntut dan diminta oleh anak-anaknya.

    Banyak cara untuk mengekspresikan bentuk kasih sayang kepada anak-anak. Apakah mengikuti semua keinginan yang dituntut oleh mereka itu baik? Apalagi dewasa ini berbagai sarana dan produk yang memanjakan seseorang bermunculan, berkat kemajuan teknologi. Itulah kreativitas manusia yang cepat berkembang dan berbagai ide bermunculan. Tapi perlu diingat yang namanya produk teknologi ibarat pisau bermata dua, ada sisi manfaat dan sisi mudharatnya. Jika tidak lihai menggunakannya, ujung-ujungnya berakibat buruk.

    Sahabat…

    Terlalu memanjakan dan mengikuti permintaan buah hati kita akan berdampak negatif bagi karakternya, bahkan jika suatu saat apa yang mereka minta pada orang tuanya tidak terpenuhi, bisa jadi akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terjadi letupan ketidak senangan. Dan jadi sebab buat mereka untuk meluapkan ketidak puasan mereka terhadap apa yang tidak mereka dapati. Fenomena anak durhaka dan bangkang pada orangtuanya, bahkan memperbudak orangtua demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Memanjakan anak berlebih-lebihan dengan materi tidaklah ideal. Pola tarbiyah nabawiyah dengan pendekatan keimanan dan ibadah tetaplah ideal sampai kapan pun. Warisan yang beliau tinggalkan buat umatnya amatlah berharga sekali. Sayang anak artinya ajari dia adab-adab dan ibadah. Jangan bunuh masa depan mereka menjadi generasi lemah yang tidak bisa apa-apa karena sewaktu kecil mereka terlalu dimanja dan tidak berkembang kecerdas spritual, sosial dan keterampilan motoriknya.

    Di negara maju penggunaan teknologi berupa gadget dibatasi bahkan tidak boleh digunakan kecuali buat mereka yang sudah mengecap pendidikan di perguruan tinggi. Di negeri kita? Perlu kebijkan menyelamatkan moral generasi secara menyeluruh… Bagaimana etika dan moral tetap jadi panglima buat pendidikan kita.

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مُـرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّـلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

    Artinya: “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).” (HR. Abu Daud)

    Meskipun usia 7 atau 10 tahun belumlah usia baligh, tapi pembiasaan diusia itu amatlah membekas pada kebiasaan masa yang akan datang. Bahkan sempat ada hasil penelitian bahwa anak-anak yang terbiasa melakukan aktivitas gerakan shalat diwaktu kecil disaat rentang usia antara 7-10 tahun banyak diantara mereka terhindar dari penyakit yang banyak dirasakan disaat usia dewasa diantaranya sakit pinggang 🤔. Tapi kita beramal karena ada dalil bukan dari hasil penelitian… Ini catatan buat kita, beramal dengan dalil berpahala tentunya.

    Generasi adalah tumpuan harapan, semoga gerakan menyelamatkan masa depan jadi pemicu buat kita, bagaimana berbuat. Kembali pada pola pendidikan ala Nabi, insya Allah kita selamat.

  • Muhasabah Diri (87): Bakhil, Empati Yang Hilang

    Muhasabah Diri (87): Bakhil, Empati Yang Hilang

    Nikmat Allah SWT amatlah banyak, tak sanggup untuk dirinci dan dihitung. Bahkan nikmat yang ada disekitar kita atau yang ada di jasad kita saja tidak mampu kita merincinya. Begitulah keagungan Allah SWT dan ketidak mampuan manusia, kerdil, kecil dan lemah. Allah SWT pandu kita lewat wahyu-Nya, dan dibekali kita dengan akal sebagai pemberian-Nya, agar kita tidak salah jalan.

    Mensyukuri nikmat adalah ciri orang yang tahu diri. Diantara bentuk syukur nikmat adalah menyalurkan kepedulian dalam bentuk kebaikan, bersedekah, berbagi untuk yang butuh dan lain sebagainya. Karakter mental tangan diatas, suka berbagi, menjadikan harta sebagai sarana untuk beribadah, semua itu merupakan ke-khas-an orang yang tidak diperbudak oleh harta. Sebaliknya sifat rakus dengan harta, tidak mau berbagi, merasa rugi untuk menyalurkannya terhadap proyek kebaikan, pelit alias bakhil atau kikir jadi karakter dirinya, semua itu ciri-ciri orang-orang kufur nikmat. Tipe orang bakhil dia akan sigap terhadap sesuatu jika ada peluang untuk dia mendapatkan sesuatu tersebut, dan menghindar jika dia diminta untuk berbagi dan saling menolong. Begitulah perbedaan antara kedua karakter.

    Rasulullah Saw bersabda:

    عن أبي هريرةَ رضي اللَّهُ عنه أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال :مَا مِنْ يوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ ملَكَانِ يَنْزلانِ ، فَيقولُ أَحدُهُما : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقاً خَلفاً ، ويَقولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً.

    Dari Abu Hurairah bahawasanya Nabi Saw bersabda yang maksudnya : “Tidaklah para hamba berada di pagi hari, melainkan pada pagi itu terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak’, sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan (harta) kepada orang yang menahan (hartanya).” (Muttafaq ‘alaih)

    Menjadi pribadi yang mensyukuri nikmat Allah SWT merupakan sifat yang menonjol di kalangan sahabat. Berpacu untuk memberi, berlompa untuk kebaikan, mewarnai aktivitas mereka dalam keseharian. Dari sisi lain mereka menghindari sifat bakhil, bahkan persaudaraan bagi mereka jauh lebih berharga dari materi. Kemulian mereka terlihat disaat mereka peduli kepada orang lain yang disebut itsar. Yang penting saudar mereka tidak kesulitan, jadi moto kehidupan mereka sehari-hari.

    Sahabat…

    Membiasakan diri saling peduli dan meyakini apa yang kita punya merupakan bentuk ujian buat kita. Bisa jadi ada diantara kita yang mampu menghadapi ujian kesulitan dan kesusahan tapi gagal dalam ujian materi. Begitu dahsyat ujian kebendaan ini, Allah beri kita pelajaran dalam Al-Qur’an kisah Qarun, sosok yang loba, rakus, bakhil, dibinasakan oleh Allah SWT agar kita berpikir…

    Minta kita selalu pada Allah SWT agar terhindar dari sikap bakhil…