Muhasabah Diri (106): Dosa Kitman, Hindari

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Disaat belum mampu membahagiakan orang lain, bagaimana perasaan kita?. Sedih atau biasa-biasa saja?. Semuanya itu tergantung kita. Jika kita adalah tipe orang-orang peduli, sedih rasanya jika belum bisa berbuat apa-apa terhadap orang lain. Tapi jika kita termasuk tipe pribadi-pribadi egois, bisa jadi kita tidak mau tahu apa yang terjadi disekitar kita.

Banyak hal terjadi sekitar kita yang perlu respon cepat. Kepedulian memang dituntut karena manusia adalah makhluk sosial. Kadangkala lingkungan sekitar membutuhkan kita. Jika tidak tenaga, minimal pemikiran dari kita yang diharapkan.

Sahabat…

Berbagi kebaikan adalah tuntutan hidup kita, karena hidup tidaklah sendiri-sendiri. Berbagi ilmu juga begitu, perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Bahkan laknat Allah akan didapatkan bagi orang yang tidak mau berbagi ilmu. Rasulullah Saw dalam haditsnya bersabda:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya (tidak menjawabnya), Allah akan mengekangnya dengan kekangan api neraka pada hari kiamat nanti”. (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Ilmu yang kita dapati akan berkah, disaat kita tidak pelit untuk berbagi. Menyembunyikannya adalah bentuk kebodohan badan kebakhilan, karena ilmu akan bermanfaat dan berkembang dengan mentransfernya kepada orang lain. Ada hak-hak sosial dalam ilmu kita. Perasaan ingin tahu sendiri bukanlah cara nabi, karena beliau sudah wariskan ilmunya buat umatnya. Tentu yang dibagi adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kebaikan dan maslahat buat umat.

Selamat berbagi…