Ramadan (2): Memaknai Hakikat Dari Ibadah Puasa

Bismillahirrahmanirrahim,

Puasa merupakan ibadah yang sangat penting dalam agama Islam. Puasa ini merupakan bagian dari rukun Islam dan wajib bagi setiap orang yang telah mencapai usia baligh (dewasa) serta memiliki kemampuan untuk melakukannya. Namun, tidak semua orang memahami hakikat sebenarnya dari ibadah puasa. Sehingga kebanyakan puasa akhirnya dilalui hanya dengan menahan dahaga, lapar dan haus saja. Pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai hakikat dari ibadah puasa.

Hakikat sebenarnya dari ibadah puasa adalah untuk meningkatkan kualitas ketakwaan seseorang mukmin kepada Allah SWT. Allah memilah dan memilih himbauan untuk berpuasa yang diberikan kepada orang-orang yang betul-betul yakin beriman. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

Dalam ayat ini, Allah SWT menyebutkan bahwa ibadah puasa bertujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, yaitu dengan meningkatkan ketakwaan.

Tujuan dari ibadah puasa adalah untuk membersihkan hati dan jiwa seseorang dari berbagai dosa dan kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam sebuah hadits juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka” (HR. Ahmad)

Tujuan lain dari ibadah puasa adalah juga untuk melatih kekuatan fisik dan mental seseorang dalam menghadapi berbagai cobaan, tantangan dan ujian kehidupan. Latihan kesabaran dan keteguhan hati seseorang mukimin agar dapat berjiwa lapang dan kokoh dalam menjalani kehidupan. Dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6, Allah SWT berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kesulitan dan ujian yang dihadapi seseorang mukmin akan membuka jalan kemudahan di masa depan, jikanya ia mampu bersabar dan berhusnudzan terhadap kondisi yang dialaminya.

Selain seorang mukmin harus bermental kokoh, ianya juga harus mampu mengontrol inderanya dalam merespon situasi, khususnya mulut. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk ketika berpuasa, maka Allah SWT tidak membutuhkan ia untuk meninggalkan makanan dan minuman.” (HR Bukhari)

Selain itu, ibadah puasa juga bertujuan untuk melatih mukmin untuk senantiasa beramal shalih, khususnya memberi makan orang yang berpuasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda dari Zaid bin Khalid:

مَن فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِن أَجْرِ الصَّائِمِ شَيئًا

“Barangsiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sendiri.” (HR Ahmad, al-Tarmizi dan al-Baihaqi)

Sebagai kesimpulan hakikat ibadah puasa adalah bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan seluruh rangkaian dan ganjaran bahwa ibadah puasa adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang syariat-Nya sehingga kita dapat betul-betul memaknai ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Demikianlah, beberapa tujuan sebenarnya dari ibadah puasa yang dapat kita pahami dari dalil-dalil dan referensi yang ada. Semoga dengan memahami tujuan sebenarnya dari ibadah puasa, kita dapat menjalankannya dengan lebih khusyu, tawadhu dan memperoleh berbagai manfaat yang dijanjikan oleh Allah SWT. Mari kita tingkatkan kualitas ibadah kita dalam bulan Ramadan ini dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi shawab.