Ramadhan (3): Waktu Ramadhan Yang Terbatas

Avatar photo

Abdullah A Afifi

⛊Bey Abdullah Tan Jabok Bio Aktifitas: https://arifabdullah.id | Telegram: https://t.me/beyabdullah

Bismillahirrahmanirrahim,

Banyak dari kita melewati Ramadhan seperti waktu-waktu yang umum, kecuali dalam hal kesibukan persiapan berpuasa, bangun awal dan tidur mungkin lambat karena shalat tarawih. Membangunkan diri, anak-anak dan anggota keluarga lainnya diawal shubuh, tentu bukanlah hal yang mudah.

Disisi lain kita juga dapat melihat bahwa sebetulnya dalam puasa, kita telah melakukan penghematan, mengurangi anggaran dan jadwal makan dari tiga kali (3x) sehari menjadi 2x (sahur dan berbuka). Dalam Ramadhan juga kita sepatutnya telah mengurangi ekspetasi kita terhadap dunia. Tapi terkadang justru hal yang terjadi adalah sebaliknya. Kita terlena untuk memanfaatkan bulan Ramadhan, kita semakin padat beraktifitas sehingga terlupa dengan peluang-peluang yang Allah buka selama bulan Ramadhan, untuk mencebur larut dalam amal ibadah yang khusyuk.

Puasa Ramadhan seperti namanya adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Dilakukan selama satu bulan penuh dengan 29 atau 30 hari di bulan Ramadhan. Dimulai dari terbit shubuh hingga terbenamnya matahari. Tantangan yang berat ini menariknya Allah katakan sudah menjadi syariat bagi kaum-kaum sebelumnya. Sehingga jadi umat muslim bukanlah yang pertama mendapat syariat kewajiban berpuasa. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat 183 surat Al-Baqarah:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

Puasa tidak diwajibkan setahun penuh, seluruh bulan dan hari dalam sepanjang tahun. Puasa Ramadhan berada dalam waktu yang terbatas dan telah ditentukan dalam setahun hanya pada satu bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan ayat selanjutnya pada Al-Baqarah 184 yang berbunyi:

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (yang telah ditentukan, hari-hari yang dibatasi pada waktu tertentu saja)

Inilah yang perlu menjadi ibrah dalam semangat kita beribadah di bulan Ramadhan. Kebaikan-kebaikan, pahala-pahala yang kita cari di dalam puasa Ramadhan adalah waktu yang terbatas saja, yang tidak tersedia selalu, sehingga mudah disia-siakan.

Keuatamaan-keutamaan Ramadhan sepatutnya telah mampu membuat kita betul-betul mempertimbangkan ulang prioritas aktifitas kita. Sehingga sungguh sayang rasanya jika kita menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan, dalam waktu yang berpeluang datangnya rahmat dan berkah yang melimpah di dalam waktu yang tertntu yang terbatas. Sungguh sayang jika kita melewati Ramadhan ini dengan kesia-siaan, menyepelekan dan tidak mendapat faidah yang banyak dari kesadaran dari usaha yang kita lakukan. Sunggu kita betul-betul menjadi orang yang merugi. seperti yang disampaikan dalam hadits:

“Merugi orang yang mereka mendapatkan Ramadhan, dan dia keluar dari Ramadhan dalam keadaan tidak mendapatkan apapun dari ampunan Allah Subhanahu Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)

Jika momentum Ramadhan sudah terlewat, maka kita perlu menunggu Ramadhan berikutnya pada tahun yang berikutnya. pada tahun yang berbeda dan hari yang masih lagi panjang untuk ditunggu. Patutkah kita tidak menyesal? Sungguh ini dapat menjadi perhatian bagi kita semua.

Beberapa tips bisa dilakukan untuk mempersiapkan ramadhan agar tidak menjadi sia-sia:

  1. Bergembira dengan datangnya Ramadhan
    Kegembiraan akan datangnya Ramadhan adalah salah satu tanda syukur atas karunia dan rahmat Allah SWT kita masih diberikan kesempatan untuk menjumpai Ramadhan. Kegembiraan ini juga menjadi pintu atas kebaikan dan berkah yang kita harap Allah akan berikan kepada kita dalam mempersiapkan bulan Ramadhan. Jangan jadikan kita kedalam sebagian orang yang tidak senang dengan datangnya Ramadhan, apalagi jika membandingkannya dengan masalah dunia yang tidak didapatkannya selama bulan Ramadhan: baik penjualan yang lesu, pendapatan yang berkurang, atau waktu yang hilang melakukan aktifitas sehari-hari. Semoga kita diberikan Allah hati yang lunak untuk menyambut kegembiraan Ramadhan.
  2. Mempersiapkan strategi menjalani Ramadhan
    Dengan banyaknya aktifitas dan kewajiban kita, tentu perlu kita membuat strategi dalam menjalankan Ramadhan. Hal ini supaya kita dapat fokus meraih pahala dari ibadah-ibadah yang telah diutamakan untuk mengisi bulan Ramadhan, seperti: puasa, tadabbur al-quran, melengkapi yang fardhu dengan yang sunnah, qiyamul lail pada 10 hari terakhir. Jangan sampai kita menghabiskan waktu berputar-putar yang tidak mendatangkan kita kemaslahatan Ramadhan dan terlebih lagi juga merusakkan amanah kewajiban kita. Karena Ramadhan adalah peluang yang diberikan oleh Allah, tidak serta merta menghilangkan kewajiban kita terhadap urusan kita di dunia lainnya. Sehingga strategi yang baik adalah bagaimana kita mengangsur menyelesaikan urusan yang banyak sebelum datangnya bulan Ramadhan, dan juga bagaimana kita bisa menyelesaikan bulan ramadhan tanpa mengabaikan kewajiban kita yang lain.
  3. Mempersiapkan strategi ibadah dan amal
    Untuk menyelesaikan Ramadhan tentu perlu juga kita mempersiapkan bagaimana kita bersahur dan berbuka dengan sederhana dan tidak menghabiskan terlalu banyak tenaga, bagaimana kita dapat menyelesaikan bacaan al-quran kita, apakah kita dapat menyelesaikan 1 juz satu hari untuk mendapatkan 30 juz di akhir Ramadhan. Apakah kita bisa berjamaah selama bulan Ramadhan, setidaknya dengan keluarga kita. Apakah kita merencanakan untuk memberi makan dan minum unutk orang yang berbuka, ataupun bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, dan banyak lagi lainnya.
  4. Meminta pertolongan kepada Allah
    Setelah semua ikhtiar itu sudah kita lakukan, maka terakhir dan yang utama adalah meminta pertolongan Allah untuk memberkahi kita dengan Ramadhan yang berkah, yang lancar, yang membuat kita menjadi orang-orang yang tawadhu, dan menjauhi kita dari sifat hasad, dengki dan riya, yang menjadikan fokus kita terganggu.

Demikianlah uraian tentang betapa terbatasnya waktu Ramadhan yang kita miliki. Perlu rasanya kita rencanakan seperti waktu-waktu kita yang penting lainnya, supaya waktu Ramadhan yang terbast ini tidak terbuang sia-sia. Dan semoga Ramadhan menghantarkan kita menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah dan tidak menyepelekan seruan Allah. Hidup kita yang sementara, waktu kita yang terbatas, semoga tidak sia-sia dan semoga Allah memberkati kita semuanya, khususnya Ramadhan ini.

Wallahu’alam.