Blog

  • Muhasabah Diri (109): Jebakan-Jebakan Ilmu

    Muhasabah Diri (109): Jebakan-Jebakan Ilmu

    Semakin banyak yang diketahui, semakin sedikit terasa yang kita miliki. Luasnya ciptaan Allah SWT, tidak akan mampu manusia menelusurinya. Semakin dicari dan digali malah semakin terasa kerdil wujud kita dihadapan kekuasaan-Nya. Begitulah karakteristik ilmu, berkembang dan luas, apalagi ilmu yang bersentuhan dengan ayat-ayat kauniah. Dengan kemampuan nalar manusia sesuatu yang dulu belum diketahui, sekarang terbuka lebar.

    Tapi perlu diingat standar benarnya ilmu tidak bisa berseberangan dengan wahyu. Disaat muncul pertentangan, pasti ada yang salah. Makanya teori Darwinisme yang bertolak belakang dengan wahyu yaitu Al-Qur’an, akhirnya terbukti bahwa teori yang dikemukakan oleh Charles Darwin tersebut tidaklah benar dan berseberangan dengan temuan baru. Kadang-kadang masih ada saja yang kalangan ilmuwan yang terjebak, bersikukuh mempertahankannya. Teori bumi datar (Flat Earth/ FE) juga begitu, bertolak belakang dengan Al-Qur’an, maka tertolak sendiri oleh ilmu pengetahuan. Bahkan ada yang mendukung teori bumi ini berbentuk donat… Ada-ada saja cara orang cari sensasi di belantara ilmu pengetahuan.

    Allah SWT memberikan kelebihan buat manusia yaitu alat berpikir. Daya nalar manusia tetap terbatas dan butuh panduan. Panduan ini yang meluruskan cara berpikir manusia. Berbentuk apakah panduan untuk manusia tersebut?. Disinilah semakin terang bahwa panduan itu adalah wahyu. Manusia dituntut untuk mengembangkan cara berpikir mereka, tapi karena keterbatasan itu maka dipandu oleh wahyu.

  • Muhasabah Diri (108): Tantangan Referensi Umat

    Muhasabah Diri (108): Tantangan Referensi Umat

    Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal diminta khalifah Abu Ja’far Al-Manshur untuk menyeragamkan bentuk ibadah umat. Sehingga tidak ada lagi perbedaan dalam pelaksanaannya. Memang terkesan bagus dalam menyikapi kondisi umat, tapi perbedaan adalah sunnatullah. Sehingga Imam Ahmad menolak permintaan tersebut, karena tidak mungkin dilakukan. Bisa jadi akan berakibat fatal, karena dalam masalah furu’ memang sudah ada perbedaan.

    Tantangan ulama memang berat. Terpeleset sedikit saja lisannya akan berakibat fatal, karena ulama adalah referensi umat. Diantara ulama ada yang domisilinya pindah-pindah, sehingga kondisi yang mereka hadapi juga tidak sama. Sehingga fatwa mereka juga sesuai dengan kondisi umat. Bukan berarti plin-plan.

    Warisan Rasulullah Saw untuk umat adalah ilmunya. Sisi-sisi ilmu beliau juga banyak yang perlu dikaji. Tidak hanya dari sisi hukum, tapi juga pola penerapannya. Ada sisi metode penyampaian dan dakwah, semuanya tentu lebih luas lagi bisa dilihat dalam Sirah Nabawiyah secara komprehensif.

    Pendekatan tertentu yang dipakai dalam rangka menyampaikan ilmu tanpa mempertimbangkan sisi lain akan menimbulkan masalah lain pula. Apalagi banyak hal yang berkembang, butuh kebersamaan mengkajinya.

    Setiap masa ada masalahnya. Begitu setiap tempat ada ciri khasnya. Sekali lagi, duduk bersama adalah solusinya. Permasalahan-permasalahan umat tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Kerja kolektif akan meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

    Seorang mukmin akan kuat bersama saudaranya seiman. Perpecahan adalah hal yang diinginkan bagi mereka yang tidak mendambakan kedamaian…

    Semoga…

  • Muhasabah Diri (107): Tidak Semuanya Mesti Digubris

    Muhasabah Diri (107): Tidak Semuanya Mesti Digubris

    Luasnya cakupan ilmu, dan wajar tidak semuanya mampu dipahami. Ada berbagai bidang ilmu atau sain yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu. Saking detailnya jangkauan ilmu, perlu waktu dan sarana yang memadai untuk memahaminya. Bahkan ilmu selalu berkembang dan juga temuan ilmu pengetahuanpun bermunculan. Sehingga hasil pikiran para ulama dan ilmuwan banyak menghiasi lembaran-lembaran buku yang mereka tinggalkan.

    Ilmu semakin digali, semakin nampak kekuasaan Yang Maha Kuasa. Semakin dikaji semakin terbukti kekerdilan diri dihadapan luasnya ilmu Allah SWT. Mentadabburi ayat-ayat qauliah dan mentafakkuri ayat-ayat kauniah akan menambah keimanan kepada Sang Pencipta.

    Luasnya cakupan ilmu kadang-kadang menjadikan seseorang penasaran dan menimbulkan keinginan bertanya. Bahkan ada nyiyir menanyakan sesuatu yang tidak urgen. Para ulama disaat mereka dihadapkan dengan beberapa pertanyaan, tidak semuanya mesti dijawab. Perlu kearifan menyikapi tipe orang yang banyak bertanya. Kadangkala banyak bertanya berakhir dengan hal-hal yang memberatkan. Diantara yang dibenci oleh Allah SWT adalah كثرة السؤال/ nyinyir bertanya, bahkan terjebak kepada hal-hal yang tidak patut ditanyakan.

    إِنِّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثاٌ : قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ المَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membenci tiga perkara : menyebarkan desas-desus, menghambur-hamburkan harta, banyak pertanyaan yang tujuannya untuk menyelisihi jawabannya”. (HR: Bukhari Muslim)

    Begitu juga disaat kita dihadapi berbagai bentuk masalah, tidak semuanya mesti digubris. Didepan kita banyak hal yang mesti disikapi, ada yang amat penting tentu ini prioritas, ada yang urgen, bahkan ada yang kurang penting, tentunya juga ada hal-hal yang tidak penting sama sekali. Mengomentari hal-hal yang tidak penting sama sekali, hanya akan membuang energi dan waktu kita. Banyak pekerjaan yang mesti kita tuntaskan. Apalagi diera digital ini, ada-ada saja bentuk masalah yang sengaja dimunculkan. Untuk itu kita jangan terjebak berkutat disitu. Tidak menjawab pertanyaan yang tidak penting adalah penting. Karena memang kita hidup untuk itu. Contoh lain, membicarakan keghaiban yang kita tidak ada ilmu tentang itu, atau mempertanyakan zat Allah hanya akan menyita waktu dan pembahasan tidak akan selesai karena memang tidak dianjurkan untuk itu.

    Semakin berilmu, semakin muncul ketakutan pada Allah SWT, kalau terjadi sebaliknya pasti ada yang salah. Ketawadhu’an adalah ciri-ciri orang berilmu, sebaliknya kesombongan muncul dari salah iktikad dan tekad awal yang dimiliki.

    Semoga hari-hari kita penuh dengan semangat mencari ilmu yang baik dan menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat dalam hidup kita. Jangan bebani diri kita dengan sesuatu yang tidak ada manfaatnya buat kita.

  • Muhasabah Diri (106): Dosa Kitman, Hindari

    Muhasabah Diri (106): Dosa Kitman, Hindari

    Disaat belum mampu membahagiakan orang lain, bagaimana perasaan kita?. Sedih atau biasa-biasa saja?. Semuanya itu tergantung kita. Jika kita adalah tipe orang-orang peduli, sedih rasanya jika belum bisa berbuat apa-apa terhadap orang lain. Tapi jika kita termasuk tipe pribadi-pribadi egois, bisa jadi kita tidak mau tahu apa yang terjadi disekitar kita.

    Banyak hal terjadi sekitar kita yang perlu respon cepat. Kepedulian memang dituntut karena manusia adalah makhluk sosial. Kadangkala lingkungan sekitar membutuhkan kita. Jika tidak tenaga, minimal pemikiran dari kita yang diharapkan.

    Sahabat…

    Berbagi kebaikan adalah tuntutan hidup kita, karena hidup tidaklah sendiri-sendiri. Berbagi ilmu juga begitu, perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Bahkan laknat Allah akan didapatkan bagi orang yang tidak mau berbagi ilmu. Rasulullah Saw dalam haditsnya bersabda:

    مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Artinya: “Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya (tidak menjawabnya), Allah akan mengekangnya dengan kekangan api neraka pada hari kiamat nanti”. (HR. Abu Daud dan Ahmad)

    Ilmu yang kita dapati akan berkah, disaat kita tidak pelit untuk berbagi. Menyembunyikannya adalah bentuk kebodohan badan kebakhilan, karena ilmu akan bermanfaat dan berkembang dengan mentransfernya kepada orang lain. Ada hak-hak sosial dalam ilmu kita. Perasaan ingin tahu sendiri bukanlah cara nabi, karena beliau sudah wariskan ilmunya buat umatnya. Tentu yang dibagi adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kebaikan dan maslahat buat umat.

    Selamat berbagi…

  • Muhasabah Diri (105): Godaan-Godaan Para Pencari Ilmu

    Muhasabah Diri (105): Godaan-Godaan Para Pencari Ilmu

    Kesempatan adalah sesuatu yang amat berharga yang dimiliki manusia. Bila ia berlalu, mustahil untuk kembali dan tidak tergantikan. Para ulama terdahulu amat khawatir kalau ada yang terlewatkan dari perjalan waktu yang mereka lalui. Mereka bergegas secepat mungkin memanfaatkan peluang dalam rangka menghiasi diri mereka dengan ilmu. Sehingga dengan kesempatan yang pendek mereka masih saja mampu berkarya. Produk ilmu yang mereka hasilkan diwariskan dalam bentuk berjilid-jilid buku. Dari generasi ke generasi, ilmu mereka masih hidup dan dipelajari serta dimanfaatkan oleh umat setelahnya. Hari ini semangat itu mulai pudar, melemah dan berkurang, seakan-akan dimanjakan dengan berbagai bentuk-bentuk kemudahan.

    Pola hidup instan berpengaruh besar dalam mencari bekal ilmu. Fenomena mengandalkan pihak lain sering terjadi tatkala bersentuhan dengan keahlian bidang tertentu. Padahal mencarinya ada yang bersifat fardhu ain. Kewajiban individu, yang tidak bisa dialihkan ke orang lain. Ada yang tidak segan-segan mengupahkan amalan pribadi ke yang lain tanpa alasan yang masuk akal. Disaat ajal menjemput seseorang, pihak keluarga kadang-kadang kelabakan dan kebingungan apa yang mesti dilakukan. Karena tidak punya bekal untuk hal-hal yang mestinya kita bisa dan mampu melakukannya.

    Godaan dalam mencari ilmu memang besar. Ketidak siapkan menghadapi ujian meskipun ujian itu belum jelas bentuknya. Kecengengan kerap kali jadi halangan bagi seseorang untuk tidak berbuat. Padahal ilmulah yang membuat seseorang bermartabat.

    Banyak hal yang membuat kita terlena dan lengah dari kesempatan mencari ilmu. Sesulit apapun kondisi yang kita hadapi, ilmu tetap dibutuhkan. Sulit dan senang, tetap menghadapinya dengan ilmu. Sedih dan bahagia juga butuh ilmu. Apalagi dihadapan kita banyak urusan dan permasalahan besar, otomatis ilmu tantangannya. Mensiasati dunia harus dengan ilmu, apalagi menjemput dan menghadapi akhirat kita pasti dengan ilmu juga. Artinya setiap sesuatu ada ilmunya… Bak ibarat pepatah:

    فاقد الشيء لا يعطيه

    Artinya: “Yang tidak punya apa-apa tentu tidak bisa memberi”.Semoga semangat untuk mencarinya hidup kembali…

  • Muhasabah Diri (104): Cacat Orientasi

    Muhasabah Diri (104): Cacat Orientasi

    Ada kegembiraan tersendiri disaat kita meraih sesuatu yang didambakan. Bahagia disaat mampu berbagi apa yang didapatkan. Tentunya sangat senang sekali jika mampu membahagiakan saudara seiman. Banyak celah untuk berbuat kebaikan disaat ada kemauan dan kelapangan. Semua itu jika dilakukan dengan keikhlasan, akan jadi tabungan kebaikan disisi Ar-Rahman.

    Ikhlas tatkala amal dikerjakan karena Allah SWT dan sesuai yang dicontohkan Rasulullah tentunya. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk kebaikan dunia dan akhirat. Meskipun panduan sudah terang benderang, masih ada dan banyak yang terjerumus. Salah menempuh jalan, keliru terhadap hakikat penciptaan.

    Fenomena menempuh cara hidup menyimpang sudah banyak memenuhi sejarah perjalanan kehidupan manusia. Penyimpangan terjadi karena orientasi hidup yang keliru. Terpesona dengan target hidup sesaat, jangka pendek, seakan-akan hidup hanya saat ini saja, buta akan abadinya akhirat.

    Banyak fenomena musang berbulu domba dalam kehidupan manusia khususnya dalam tubuh umat Islam. Manusia-manusia penjerumus ambisius berkeyakinan bahwa setelah kematian semuanya akan berakhir, tidak ada hisab dan pertanggungjawaban. Masih ingatkah kita dengan sosok Snouck Hurgronje? Sosok yang bersungguh-sungguh mempelajari Islam tapi salah kaprah, sang orinetalis ini mati menggenaskan. Apakah tidak cukup dijadikan pelajaran buat kita hari ini?. Sehingga ada diantara umat Islam hari ini masih juga menjadi sosok pembenci pada agamanya dengan berbagai iming-iming keduniaan. Akan banyak hadir sosok New Snouck Hurgronje lainnya dalam aktivitas ke-Islaman yang diperankan oleh umat Islam sendiri. Menyedihkan…cacat orientasi.

    Ujian yang bertubi-tubi datang menimpa umat Islam, diantara hikmahnya adalah untuk membersihkan umat dari parasit perusak yang ada ditubuhnya. Mudah-mudahan itu yang kita sadari, sehingga ada keinginan untuk kembali kejalan yang sesungguhnya. Jalan keselamatan yang sudah dibentangkan oleh panutan umat lebih 14 abad yang lalu…

    Semoga kita tidak tertipu… Hidup hanya sesaat, hiduplah yang bermartabat, bukan sebagai penebar laknat ditubuh umat.

    Selamat beraktivitas…

  • Muhasabah Diri (103): Ilmu Itu Dari Siapa Saja, Adopsi Dan Adaptasikan

    Muhasabah Diri (103): Ilmu Itu Dari Siapa Saja, Adopsi Dan Adaptasikan

    Banyak pelajaran dari perjalanan hidup bisa kita petik. Perjalanan waktu juga meninggalkan hikmah-hikmah dari kejadian. Setiap hikmah memberikan ruang buat kita untuk introspeksi diri. Banyak ilmu didapati, bahkan tidak sedikit juga diperoleh dari orang lain yang tidak seiman. Jika baik dan bermanfaat boleh diambil. Karena pada hakikatnya ilmu itu barang yang hilang dari orang mukmin, dimanapun didapati dia berhak mengambilnya. Mengambilnya dengan cara yang benar tentunya. Dalam hadits juga disinggung tentang ini. Hadits ini termasuk katagori lemah tapi secara makna benar adanya. Diriwayatkan oleh Zuhair bin Harb dalam kitabnya Al-‘Ilm no.157, dan Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa 3/354; Abdullah bin Ubaid berkata:

    الْعِلْمُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، كُلَّمَا أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا حَوَاهُ وَابْتَغَى ضَالَّةً أُخْرَى

    Artinya: “Ilmu itu suatu yang hilang dari seorang mukmin, setiap kali ia mendapatkan sesuatu darinya maka ia mengambilnya, kemudian ia mencari lagi yang lainnya”

    Sejarah kenabian mengajarkan pada kita bahwa, ilmu bermula dari keimanan. Dan manusia beriman pertama kali adalah nabi Adam As. Dari situ ilmu turun temurun dan berkembang. Periode nabi dan Rasul datang silih berganti. Setiap ada penyimpangan Allah SWT mengutus nabi berikutnya. Jika penyimpangan sampai pada tingkat kerusakan akidah yang diutus oleh Allah adalah Rasul dari kalangan nabi. Penyimpangan pertama kali terjadi dalam masalah akidah dengan munculnya kesyirikan maka Allah SWT mengutus rasul yang pertama yaitu nabi Nuh As. Begitulah selanjutnya sampai rasul yang terakhir nabi Muhammad Saw. Amat banyak jumlah nabi yang diutus oleh Allah SWT dalam rangka memperbaharui iman dan ilmu. Ada 124.000 jumlah nabi, dan 315 diantara mereka adalah para rasul. Betapa banyak ilmu yang diwariskan oleh mereka. Dan mereka adalah orang-orang Islam dan beriman. Karena para nabi bersaudara dalam satu agama.

    Banyak ilmu berceceran dimana-mana. Ada yang diamalkan oleh orang lain bukan pengikut nabi. Maka ilmu tersebut adalah haknya orang-orang beriman untuk mengambilnya kembali. Diantara ilmu tersebut ada yang sudah dimodifikasi sesuai kondisi orang-orang yang mendapatkannya. Kewajiban kita adalah melakukan filterisasi ilmu tersebut apalagi ada yang bersentuhan dengan ranah keyakinan. Inilah yang dilakukan ulama dan ilmuwan muslim disaat kejayaan ilmu pengetahuan diabad pertengahan. Mengadopsi ilmu dari mana saja, dan mengadaptasikannya dengan syariat Islam. Ambil yang baik, tinggalkan yang jelek, itulah yang dilakukan para ulama. Gerakan penterjemahan ilmu pengetahuan masa itu berada pada puncak kemajuannya. Begitu terbukanya suasana keilmuan dalam Islam sehingga peradaban ilmu pengetahuan waktu itu berada ditangan kaum muslimin, tidak hanya di jazirah Arabia tapi juga merambah ke berbagai benua termasuk Eropa. Berbeda yang terjadi hari ini, ilmu dibuat gado-gado, dicampur adukan, sehingga karakteristik aslinya pudar bahkan hilang. Ada yang mengkaji Al-Qur’an dengan pisau analisis Bibel… Anehkan…

    Ayok… kembalikan kejayaan ilmu dan iman, agar selamat dunia dan akhirat…

  • Muhasabah Diri (102): Jangan Remehkan Ilmu Dan Ahlinya

    Muhasabah Diri (102): Jangan Remehkan Ilmu Dan Ahlinya

    Sok alim, sok bersih…, mungkin sering kita dengar lontaran seperti ini dalam keseharian. Disaat ada yang tidak berkenan dihati seseorang. Tidak semua orang siap menerima nasehat dan kritikan. Sikap sombonglah yang menghalangi seseorang berat menerima nasehat. Meskipun demikian, masih ada yang membutuhkan nasehat dan arahan dalam hidupnya. Bahkan dia berterimakasih kepada seseorang yang telah memberinya nasehat. Jika kebiasaan saling menasehati hilang, barangkali hal-hal negatif akan mudah mewabah. Maksiat menyebar dengan cepat. Pola hidup cuek jadi gaya keseharian.

    Dalam mencari ilmu, keikhlasan adalah modalnya. Lihat para ulama… Meskipun berbagai macam ujian dan siksaan yang dihadapi, bahkan nyawa taruhannya, mereka tetap teguh dan istiqomah. Said Ibnu Jubair, tetap saja selalu menasehati para algojonya Al- Hajjaj Ibnu At-Tsaaqafi yang menyiksa beliau, keteguhan hatinya betul-betul teruji sampai kesyahidan menjemputnya. Imam Ahmad bin Hambal, meskipun dijebloskan ke penjara, tetap konsisten dengan keyakinannya tanpa surut sedikitpun dan tetap dengan santun kata-kata nasehat selalu keluar dari lisannya. Contoh ketelandan dari para ulama amatlah banyak, tinggal kita yang harus menggali keteladanan dari mereka.

    Fenomena penyimpangan dan pengkerdilan terhadap ilmu dan ulama sudah terjadi sepanjang sejarah manusia. Diantara bentuk penyimpangan dalam mencari ilmu adalah melenceng dari niat yang mulia. Ambisi diri ingin dipuji, mengharapkan orang lain salut dan berdecak kagum padanya. Padahal itu sebuah kesalahan. Rasulullah Saw sudah mewanti-wanti umatnya dengan tipe penuntut ilmu seperti ini, hati-hati jangan sampai terjerumus dan salah tujuan.

    مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

    Artinya: “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa menyaingi para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar menarik perhatian yang lainnya, maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

    Perdebatan banyak mewarnai hari-hari kita. Persatuan dan kekompakan umat diabaikan demi menuruti ambisi pribadi. Dengan leluasa dan lantang mencaci maki para ulama, hanya bermula dari perbedaan pendapat. Risih, miris hari ini umat dipertontonkan ketidak dewasaan kita menyikapan perbedaan. Ambisi diri dan keinginan eksis dari pada penuntut ilmu cenderung menyalahkan para ulama yang lebih dahulu hadir dan sudah banyak berbuat untuk umat. Salah dan khilaf sebagai manusia hal yang biasa terjadi. Ulama juga manusia biasa, kadang-kadang salah, apalagi sumber ilmu amatlah luas, wajar terjadi perbedaan. Selagi perbedaan itu tidak pada ranah yang harus diperdebatkan, berlapang dada adalah solusinya. Menjaga lisan untuk tidak mengumpat demi persatuan umat adalah jalan cerdas yang perlu ditempuh. Menahan diri untuk tidak mencaci maki orang lain adalah sifat terpuji, apalagi yang dihujat itu adalah para ulama… Menikam dari belakang bukanlah sikap yang harus dilestarikan. Menyedihkan memang umat dipertontonkan hujat menghujat… seakan-akan panggung ilmu dan ulama isinya banyak perdebatan dan caci makian… Tidak, sekali tidak seperti itu.

    Saudara…Bukanlah sikap pewaris nabi itu santun dan lemah lembut dalam mengajak?. Sudahlah akhirilah menebar virus perpecahan. Semoga persatuan berhasil kita rengkuh sedikit demi sedikit. Percayalah seorang muslim akan kuat bersama saudaranya…

  • Muhasabah Diri (101): Tidak Semuanya Mesti Diungkapkan

    Muhasabah Diri (101): Tidak Semuanya Mesti Diungkapkan

    Era digital memberikan banyak peluang untuk mengekpresikan apa saja yang kita maui. Banyak manfaat yang didapati. Apalagi bagi yang mampu mengikuti perkembangannya, dahsyat memang. Terasa ketinggalan jika tidak mengikutinya. Diantara manfaatnya, ilmu yang terserak di berbagai sumber, bisa dengan mudah dan cepat diakses.

    Banyak sumber ilmu yang bisa kita manfaatkan. Dan juga banyak informasi yang bisa kita serap dari berbagai peristiwa. Ada yang harus disampaikan dari apa yang kita ketahui kepada orang lain dengan memilah dan memilih apa yang patut disampaikan. Rasulullah Saw mengajarkan kita bagaimana menyampaikan informasi dan ilmu sesuai kadar nalar seseorang. Ada yang harus disaring, karena tidak semua yang kita dapati semuanya benar dan layak dibagi. Apalagi di era ini, berbagai informasi berseliweran disekitar kita. Rasulullah Saw mengingatkan kita berhati-hati dalam berbagi informasi kepada orang lain.

    كَفَى بالمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

    Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap pembohong jika ia mengatakan semua yang dia dengar”. (HR. Muslim)

    Betapa banyak yang jadi korban akibat kabar yang keliru. Dan juga betapa banyak kehormatan seseorang dilanggar dengan dalih kebebasan berekspresi. Ada juga yang berbagi hal-hal yang bersifat privasi secara vulgar… Salah kaprah, kadang-kadang keluar dari koridor kepatutan. Banyak yang bangga disaat rahasia hidupnya dibagi dan diobral murahan oleh pihak lain.

    Sahabat…

    Betapa agama kita amat perhatian pada sisi-sisi akhlak. Karena itulah Rasulullah Saw diutus buat umat manusia… membenahi akhlak. Dan itu hari ini terasa aneh untuk diikuti. Padahal semuanya dalam rangka meluruskan yang bengkok, membenahi yang keliru…

  • Muhasabah Diri (100): Hilangnya Ulama, Pudarnya Ilmu

    Muhasabah Diri (100): Hilangnya Ulama, Pudarnya Ilmu

    Buku adalah sebaik-baik teman disaat kesepian, ungkapan yang hanya bisa disadari bagi yang tidak mau waktunya habis terbuang begitu saja. Bahkan ciri orang maju dan berilmu senantiasa bersamanya ada buku mendampinginya. Dengannya kemajuan bisa diraih. Dan tanpanya kebodohan akan membuih.

    Goresan ilmunya para ulama, banyak diabadikan dalam lembaran-lembaran buku. Seakan-akan tidak rela waktu mereka terbuang percuma, berbagai kesempatan yang ada dan waktu mereka penuh terisi dengan nuansa keilmuan. Mengkaji, berdiskusi, menulis bahkan mengajar itulah hari-hari mereka. Berjilid-jilid buku terlahir dari buah produktivitas mereka. Tapi hari ini, semangat itu mulai tergerus, pudar ibarat lentera kehabisan bahan bakar. Ditambah lagi satu persatu ulama kita pergi meninggalkan kita. Tanpa disangka, itulah ketentuan Yang Kuasa.

    إن ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅوﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“ (HR. Bukhari)

    Apa yang disampaikan nabi sudah terjadi. Banyak orang-orang berilmu diwafatkan Allah SWT satu persatu. Fenomena beramal tanpa ilmu dikalangan masyarakat, seakan-akan sudah ada dimana-mana. Miris, sampai-sampai orang-orang bodoh sudah mulai berani berfatwa tentang agama. Berkata dan berkomentar seenaknya saja. Fenomena aneh pertanda kita sudah berada di terminal terakhir usia dunia.

    Sahabat…

    Hidup ini amatlah singkat, bekal untuknya apakah sudah lengkap?Bertemu dengan ajal adalah sebuah kepastian, tanpa ada halangan dan alasan untuk mengelak. Semua kita sedang digiring kesana. Sudahkah kita mempersiapkan segala sesuatu?. Allah SWT sudah menitipkan ilmu untuk itu melalui ayat-ayat-Nya…

    Fa’tabiru Yaa Ulil Abshar…

  • Ketua PDM Limapuluh Kota, Dr Afifi Fauzi Abbas Tutup Usia

    Ketua PDM Limapuluh Kota, Dr Afifi Fauzi Abbas Tutup Usia

    SinergiNews  Kab. Limapuluh Kota, 30/09/2021. Innalillahi wa inna ilaihirraji’un. Kabar duka tengah menyelimuti Keluarga Besar Muhammadiyah Provinsi Sumatera Barat. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Limapuluh Kota sekaligus juga Pimpinan Yayasan Wakaf Darul Funun El-Abbasiyah, Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, M.Ag. telah tutup usia pada Kamis (30/09/2021) pukul 04:30 WIB pagi.

    Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Sumatera Barat, Dr. Sofwan Karim El-Husain mengatakan rasa kehilangan tokoh Muhammadiyah dan belasungkawa atas meninggalnya almarhum.

    “Kami atas nama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Keluarga Besar Muhammadiyah se-Sumatera Barat mengucapkan duka yang mendalam. Kami mendo’akan semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya,” kata Sofwan Karim el-Husain saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.

    Sofwan Karim mengungkapkan, Buya Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, M.Ag. yang lahir 6 September 1956 adalah seorang ahli Fiqih, Syariah, Siyasah, Perbandingan Mazhab, Ekonomi Islam, dan Ilmu Falak di Indonesia. Beliau juga adalah Pimpinan Yayasan Wakaf Darulfunun El-Abbasiyah, Ketua Senat IAIN Bukittinggi, Ketua Muhammadiyah Lima Puluh Kota.“Beliau murni tokoh Muhammadiyah dengan menelusuri latarbelakang pendidikan dan kiprah organisasi, tak diragukan lagi sepenuhnya mengabdikan hidup untuk perkembangan dan kemajuan dakwah Muhammadiyah di Sumatera Barat,” ucap Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat tersebut.

    Almarhum mengajar di IAIN Bukittinggi dan pernah mengajar selama 30 tahun di UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka (UHAMKA) Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sekolah Tinggi dan Manajemen PPM.

    REKAM JEJAK

    Semasa hidup, almarhum pernah dipercaya sebagai Ketua Jurusan Jinayah Siyasah, Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Wakil Dekan Administrasi Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Direktur Percetakan Dikdasmen Muhammadiyah.

    Selain itu, beliau juga menjabat Pimpinan Yayasan Wakaf Darulfunun, Direktur Darulfunun Institute dan pengajar Ushuluddin di kelas Surau Darulfunun dan Kuliyyatul Muallimin. Beliau akhir-akhir ini terlibat sebagai Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, anggota Majlis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah dan Ketua Senat IAIN Bukittinggi.

    Almarhum juga pernah terlibat sebagai anggota Divisi Fatwa Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, anggota Bendahara Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Direktur Penerbit dan Percetakan Dikdasmen PP Muhammadiyah, anggota MUI, anggota LPOM MUI, peserta sidang Itsbat MUI dan anggota ICMI.

    Selain organisasi dakwah, almarhum juga aktif dalam organisasi pergerakan dan sosial masyarakat, dengan menjadi Pembina Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ciputat, Tokoh Masyarakat ASA (Perantau Sumatera) di Ciputat, Tokoh Masyarakat di Desa Pisangan, Ciputat, dan Wakil Ketua Yayasan Bhakti VII Koto Talago.***

    Sumber: https://sinerginews.id/ketua-pdm-limapuluh-kota-dr-afifi-fauzi-abbas-tutup-usia/

  • Bupati Kampung Tan Malaka Usulkan Syekh Abbas Abdullah jadi Pahlawan Nasional

    Bupati Kampung Tan Malaka Usulkan Syekh Abbas Abdullah jadi Pahlawan Nasional

    Padang – Bupati Kabupaten Liko (Lima Puluh Kota) Safaruddin Dt. Bandaro Rajo mengusulkan ulama besar Minangkabau Sjech Haji Abbas Abdullah menjadi Pahlawan Nasional.

    “Sangat pantas beliau menjadi Pahlawan Nasional. Ulama besar dan tokoh yang ikut berjuang melawan Belanda,” kata Bupati Kabupaten Liko (Lima Puluh Kota) itu. Bahkan Ir Soekarno yang kemudian menjadi Presiden pertama Republik Indonesia engaja berkunjung ke Padangjopang, Guguk Liko, ” kata Bupati yang dikenal low profile dan dekat dengan kalangan masyarakat bawah ini.

    “Gelar pahlawan nasional diberikan kepada warga negara Indonesia yang telah gugur atau meninggal dunia dalam membela bangsa dan negara melawan penjajahan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, ” kata tokoh Golkar Sumbar ini.

    Safaruddin Bupati dari tanah kelahiran Pahlawan Kemerdekaan Nasional Tan Malaka merasa bangga ulama besar pejuang dan konseptor Indonesia lahir dari Kabupaten Liko.

    Catatan : gelar pahlawan ini diberikan oleh Presiden kepada seseorang yang gugur melawan penjajahan melalui Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Tim tersebut dibentuk dan ditetapkan oleh kementerian yang terkait.

    Berikut ini syarat dan prosedur pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Kriteria gelar pahlawan ditetapkan melalui UU No. 20 tahun 2009 tentang tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan Pasal 26, untuk memperoleh Gelar:

    Syarat umum mendapat gelar Pahlawan Nasional

    WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI;
    Memiliki integritas moral dan keteladanan;
    Berjasa terhadap bangsa dan Negara;
    Berkelakuan baik; Setia dan tidak menghianati bangsa dan Negara; dan
    Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun
    Syarat khusus mendapat gelar Pahlawan Nasional

    Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa;
    Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan; Melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya;
    Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara;
    Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa;
    Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau melakukan perjuangan yang menpunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
    Berikut adalah prosedur pengusulan gelar pahlawan yang dikutip melalui Indonesia.go.id:

    Masyarakat mengajukan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan kepada Bupati/Walikota setempat. Bupati/Walikota mengajukan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan kepada Gubernur, melalui instansi Sosial Provinsi setempat.
    Instansi Sosial Provinsi menyerahkan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan tersebut kepada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) untuk diadakan penelitian dan pengkajian (melalui Proses seminar, Diskusi maupun Sarasehan).
    Usulan Calon Pahlawan Nasional yang menurut pertimbangan TP2GD dinilai memenuhi kriteria, kemudian diajukan kepada Gubernur yang akan merekomendasikan kepada Menteri Sosial RI.
    Menteri Sosial RI Cq. Direktorat Jenderal Pemberdayaan sosial dan Penanggulangan Kemiskinan/Direktorat kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial mengadakan verifikasi kelengkapan administrasi.
    Usulan calon Pahlawan Nasional yang telah memenuhi persyaratan administrasi kemudian diusulkan kepada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) untuk dilakukan penelitian, pengkajian dan pembahasan.
    Usulan Calon Pahlawan Nasional yang menurut pertimbangan TP2GP dinilai memenuhi kriteria, kemudian oleh Menteri Sosial RI diajukan kepada Presiden RI melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan guna mendapatkan persetujuan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional sekaligus Tanda Kehormatan lainnya.
    Usulan Calon Pahlawan Nasional yang tidak memenuhi persyaratan dapat diusulkan kembali 1 (satu) kali dan dapat diusulkan kembali minimal 2 (dua) tahun kemudian terhitung mulai tanggal penolakan, sedangkan usulan Calon-Pahlawan Nasional yang ditunda dapat diusulkan kembali dengan melengkapi persyaratan yang diminta dan diajukan kembali kepada Menteri.
    Upacara penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional dilaksanakan oleh Presiden RI menjelang Peringatan Hari Pahlawan pada tanggal 10 November

    Dikunjungi Soekarno

    Bupati mengatakan jauh sebelum ditemui Sukarno, Syekh Abbas Abdullah dan kakaknya Syekh Mustafa sudah dikenal luas oleh masyarakat, terutama di Ranah Minang. Keduanya berasal dari Jorong Padang Japang, Nagari VII Koto Talago, Guguk, Limapuluh Kota.

    Bersama sejumlah ulama lain, dua tokoh tersebut menjadi bagian dari gerakan pembaharuan pemikiran dan pengajaran Islam di Minangkabau sejak awal abad ke-20. Keduanya juga aktif berorganisasi dan ikut dalam perjuangan kemerdekaan.

    “Syekh Abbas Abdullah dan Syekh Mustafa Abdullah adalah putra dari Syekh Abdullah, salah satu ulama besar pada masanya. Laman resmi Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah menyebutkan, Syekh Abdullah adalah anak dari Tuanku Nan Banyak Dt Perpatih Nan Sabatang. Tokoh ini adalah wakil Tuanku nan Bonjol untuk urusan pengadilan dan hakim pada masa Padri,” kata Bupati.

    Syekh Abdullah memiliki enam anak dari tiga istri. Yang tertua adalah Syekh Muhammad Shalih. Anak kedua dan ketiga adalah Mustafa dan Abbas dari Ibu bernama Seko asal Padang Japang. Tiga anak berikutnya dari isteri yang lain, yakni Syekh Muhammad Said, Sa’adah dan Sa’adud.

    Syekh Abdullah sudah membuka pengajian di Surau Gadang Padang Japang sejak 1854, setelah Perang Padri usai. Karena itu pula, anak-anaknya sudah mengikuti pendidikan agama sejak kecil, termasuk Muhammad Shalih, Mustafa dan Abbas.

    Sejumlah literatur, termasuk tulisan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam Buku “Ayahku” menyebutkan, Syekh Abbas lahir pada tahun 1883. Belum ditemukan literatur yang menulis tahun persis kelahiran kakaknya Syekh Mustafa dan kakak tertuanya Syekh Muhammad Shalih.

    Muslim Syam dalam profil Syekh Abbas di buku “Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat” (1981) menulis, Abbas muda juga pernah belajar di Surau Pandam Gadang, Suliki.

    “Salah seorang gurunya pernah mengatakan kepadanya, bahwa bila ia ingin memperoleh pendidikan yang tinggi, ia harus belajar ke luar negeri,” tulis Muslim Syam.

    Di tanah air yang sedang terjajah, hanya anak orang-orang kaya dan bangsawan yang menjadi kaki tangan kaum penjajah yang dapat menikmati pendidikan tinggi. Pesan itu sangat berkesan bagi Abbas Abdullah muda.

    Pada usia 13 tahun, ia mendengar pamannya akan berangkat naik haji ke Mekkah. Abbas kemudian meminta agar diajak ke Mekkah. Awalnya, sang paman tak mengizinkan karena beratnya perjalanan menuju tanah suci. Dari Limapuluh Kota, saat itu harus berjalan kaki ke Riau, sebelum naik kapal menuju Semenanjung Malaka dan terus ke Mekkah.

    Tekad dan keinginan Abbas muda yang kuat, membuat pamannya mengalah. Sehingga mereka akhirnya berangkat ke Mekkah dan menunaikan ibadah haji. Ibadah haji selesai, Abbas berkeras meminta izin pamannya untuk tinggal di Mekkah untuk memperdalam pelajaran agama Islam.

    Di Mekkah, ia kemudian belajar ke sejumlah ulama asal Minangkabau yang terlebih dahulu sudah belajar di Mekkah. Kitab-kitab agama ia pelajari pada Syekh Latif Syukur dan Syekh Djamil Djambek. Haji Abbas Abdullah juga belajar pada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Mazhab Syafii yang menjadi guru puluhan ulama asal kampung halamannya.

    Muslim Syam menulis, setelah belajar selama 8 tahun, tepatnya pada usia 21 tahun, Syekh Abbas Abdullah pulang ke kampung halaman. “Barang bawaannya yang terpenting ketika itu adalah sejumlah buku besar yang sulit diperoleh di tanah air.”

    Pada 1903, Syekh Abdullah wafat. Pengajaran di Surau Gadang, ia amanahkan pada anak pertama dan keduanya, Syekh Muhammad Shalih Abdullah yang dikenal dengan nama Syekh Madinah dan Syekh Mustafa Abdullah. Sebelumnya, Syekh Madinah juga sudah mengelola sebuah surau di Pariaman. Syekh Abbas membantu kedua kakaknya mengajar di surau gadang itu.

    Setelah Syekh Abbas pulang, giliran Syekh Mustafa yang berangkat naik haji. Ia juga bertemu dan belajar pada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

    Pada 1912, Syekh Muhammad Shalih meninggal dunia, sehingga tanggung jawab pengelolaan surau dipercayakan kepada Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas. Saat itulah, Syekh Abbas dan Syekh Mustafa mulai menerapkan ide pembaruan dalam sistem pengajaran di Surau Gadang.

    Ia kemudian menemui beberapa ulama murid Syekh Ahmad Khatib lainnya. Antara lain, ia menemui Syekh Abdul Karim Amrullah yang saat itu mengajar di Surau Jembatan Besi Padang Panjang, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Thaib Umar Sungayang.

    “Mereka telah mendapat kata sepakat untuk mengadakan kerja sama dalam pembaruan pengajaran agama,” tulis Muslim Syam.

    Buku “Ensiklopedi Minangkabau” (2005) yang disusun Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau menyebutkan, para ulama tersebut mengganti sistem halaqah dalam pengajaran agama di surau masing-masing dengan dengan klasikal. Semua sepakat belajar di kelas, dengan menggunakan meja, bangku dan papan tulis.

    “Pada 1918, madrasah-madrasah tersebut menyatu dan bernaung di bawah organisasi Sumatera Thawalib,” tulis buku Ensiklopedi Minangkabau.

    Perubahan ke sistem madrasah, juga disertai penyusunan kurikulum dan jadwal pelajaran. “Buku-buku yang dipakai pun mengalami perubahan. Madrasah di Padang Japang dibagi kepada dua tingkatan, yaitu tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, masing-masing untuk 4 tahun,” tulis Muslim Syam.

    Sebagian masyarakat menyambut baik perubahan itu. Hal tersebut dibuktikan dengan makin banyaknya murid yang berdatangan kepada para ulama. TV juga yang mengkritik, karena menganggap menyerupai sistem Belanda yang tak beragama Islam. Menjawab itu dan menyiarkan pembaruan, masing-masing madrasah kemudian juga menerbitkan majalah. Yaitu, Al-Imam di Padang Japang, Al-Munir di Padang Panjang, Al-Bayan di Parabek dan Al-Basyir di Sungayang.

    Seiring polemik dan perbedaan paham antara ulama, Syekh Abbas merasa perlu menambah ilmu. Ia kembali berangkat ke Mekkah pada 1921. Namun, usai menunaikan ibadah haji, ia meneruskan perjalanan ke Mesir, belajar beberapa tahun pada ulama-ulama Al-Azhar. Syekh Abbas kemudian melanjutkan perjalanan ke Palestina, Libanon dan Syria untu melihat sistem pengajaran Islam di negara-negara tersebut.SIMAK JUGA :  Viral di Medsos, Sejumlah Cewek Ancam DPR : Ingat Aku Gak ?

    Sekembali dari luar negeri, Syekh Abbas melakukan perbaikan pada kurikulum dan peralatan pengajaran di Sumatera Thawalib Padang Japang. Upaya yang dilakukan adalah menambah pelajaran umum dan keterampilan ke dalam kurikulum.

    Berkat pambaruan pendidikan yang dilakukan Syekh Abbas, Sumatera Thawalib Padang Japang makin ramai didatangi murid. Bukan saja dari Ranah Minang, tetapi juga dari berbagai daerah di Nusantara. Di antara murid-muridnya yang kemudian juga jadi ulama adalah Zainuddin Labay el-Yunusy, Zainuddin Hamidy dan Nasharuddin Thaha.

    Pada 1930, organisasi Sumatera Thawalib dilebur menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) sehingga seluruh madrasah Sumatera Thawalib berada di bawah departemen pendidikan Permi. Hal ini tak disetujui Syekh Abbas. Sehingga, Sumatera Thawalib Padang Japang berubah Darul Funun Abbasiyah.

    Maraknya madrasah di Ranah Minang pada masa itu, telah meningkatkan jumlah kaum terpelajar. Pada gilirannya, ini membuat sikap anti-pemerintah kolonial makin bersemi. Penguasa Hindia Belanda gerah dengan situasi ini. Pada 1934, mereka menggeledah sejumlah madrasah, termasuk Darul Funun. Peristiwa ini membuat Darul Funun yang terus dikelola Syekh Abbas bersama Syekh Mustafa sempat terhenti sementara.

    “Beliau dua bersaudara adalah orang-orang keras hati, berjiwa revolusioner, tidak ragu-ragu memesan dan mengajarkan kitab-kitab Abduh dan Rasyid Ridha dan kitab-kitab yang lain memberi kebebasan fikiran dari Darul Funun-nya,” tulis HAMKA.

    Di awal zaman Jepang, aktivis perjuangan kemerdekaan Ir. Sukarno datang ke Padang Japang untuk menemui kedua Syekh. Sukarno sudah ada di Padang sejak awal Maret 1942 sebelum Jepang masuk. Ia ditinggalkan Belanda begitu saja dalam perjalanan dari Bengkulu menuju Padang. Sukarno kemudian menetap selama beberapa bulan di Sumatra Barat. Selain di Padang, ia juga antara lain mengunjungi Bukittinggi dan Padang Japang, sebelum kembali ke Jakarta pada awal Juli 1942.

    Wartawan Senior Fachrul Rasyid HF dalam Buku “Refleksi Sejarah Minangkabau: dari Pagaruyung Sampai Semenanjuang” (2008) menulis, kunjungan Sukarno ke Padang Japang terjadi pada Juni 1942. Semula, menurutnya, tak ada yang tahu apa yang dibincangkan Sukarno dengan Syekh Abbas dalam pertemuan tertutup.

    “Tiga hari kemudian, Syekh Abbas mengungkapkan pertemuannya dengan Bung Karno di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid Al-Abbasyiah. Kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” tulisnya.

    Syekh Abbas, menurut Fachrul, menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan. Selain itu, ia juga mengingatkan agar Bung Karno pandai-pandai menjaga martabatnya.

    Tak lupa, pada kesempatan itu, Syekh Abbas juga menghadiahi peci yang lebih tinggi untuk Sukarno, mengganti peci lamanya yang agak pendek. “Sebelum pulang, Sukarno diapit Syekh Abbas dan Syekh Mustafa dijepret juru kamera Said Son.”

    Kelak dalam pidatonya di sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 1 Juni 1945, “Peri Ketuhanan” menjadi salah satu dari lima sila yang diusulkan Sukarno jadi dasar negara.

    Di zaman Jepang juga, Syekh Abbas bersama sejumlah ulama lintas mazhab bersama-sama bergabung dengan Majelis Islam Tinggi (MIT). Ia ikut menyarankan agar anak muda pada masa itu bergabung dengan Gyugun, agar bisa mendapat pelatihan militer yang kelak bisa digunakan untuk memerangi penjajah.

    Usai merdeka, saat masih dalam perang kemerdekaan, berbagai barisan ikut bergerilya memerangi Belanda. “Atas kesepatan para ulama, Syekh Abbas pernah diangkat menjadi ‘Imam Jihad’ untuk daerah Minangkabau,” tulis Muslim Syam.

    Dalam revolusi bersenjata 1945, menurut HAMKA, kedua beliau telah meng-gerakkan murid-muridnya supaya turut berjihad fi sabilillah. “Syekh Abbas diangkat menjadi ‘Imam Jihad’ oleh Majelis Tinggi Islam.”

    Thanthawi Mustafa, salah satu anak Syekh Mustafa gugur dalam pengepungan Belanda di Situjuah, dalam masa PDRI itu. Saat Syekh Mustafa dikabari anaknya gugur, wajahnya tak berubah. “Yang terlebih dahulu beliau tanyakan dari manakah tembusan peluru, adakah dari muka atau dari punggung? Kalau dari muka, yakinlah beliau bahwa puteranya mati syahid,” tulis HAMKA.

    Kedua ulama ini terus berperan saat agresi militer II, ketika Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) digerakkan dari Sumatra Barat. Pada Juli 1949, ketika M. Natsir dan Dr. J. Leimena diutus Bung Hatta menemui Ketua PDRI Sjafruddin Prawiranegara, salah satu pertemuan sempat digelar di salah satu ruang madrasah Darul Funun.

    “Setelah terjadi persetujuan ‘Roem-Royen’ dan terjadi penghentian tembak menembak di Sumatera, di Padang Japang, di surau beliau itulah berkumpul kembali para pemimpin PDRI,” tulis HAMKA.

    Padang Japang kemudian menjadi catatan akhir PDRI, karena setelah itu Mr. Sjafruddin Prawiranegara bertolak ke Yogyakarta, menyerahkan kembali pemerintahan kepada Sukarno dan Hatta.

    Syekh Mustafa Abdullah Padang Japang berpulang pada 1954. Disusul tiga tahun kemudian oleh Syekh Abbas Abdullah pada Senin 17 Juni 1957 di usia 74 tahun. Darul Funun yang didirikan dan diasuh sejak awal oleh kedua ulama bersaudara ini, masih berjalan hingga kini.

    HAMKA menulis, Syekh Abbas, Syeh Mustafa dan ulama-ulama sahabat ayahnya (Syekh Dr. Abdul Karim Amrullah) konsekuen pada pendirian dan tidak mengenal menyerah. “Tetapi kalau kita berjumpa mereka, kita hanya akan melihat orang-orang tua c diri seakan-akan tidak berisi apa-apa, padahal penuh dengan iman dan keteguhan hati.”

    Ketuhanan Yang Maha Esa

    Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang
    Sila ketuhanan dari Sukarno dianggap saran dari seorang ulama dari Padang Japang, Sumatra Barat.
    Oleh: Jose Hendra | 01 Jun 2016

    Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang
    Sukarno diapit pendiri Perguruan Darul Funun el Abbasiyah, dua bersaudara yakni Syekh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah.
    PIDATO Sukarno pada 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dikukuhkan jadi hari lahir Pancasila. Dia mengajukan lima prinsip sebagai dasar negara Indonesia: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan.

    Konsep Ketuhanan yang ditempatkan pada prinsip kelima oleh Bung Karno akhirnya menjadi sila pertama dengan modifikasi menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rumusan Panitia Sembilan.

    Menurut Charles Simabura, dosen ilmu tata negara Universitas Andalas, dalam sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945, semua anggota memberi usul. Hampir semua menawarkan konsep Ketuhanan. Menurutnya, konsep Ketuhanan yang diusulkan terutama dari golongan agama lebih kongkret lagi yakni Ketuhanan dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya.

    Advertising

    Advertising
    Lalu dari mana ide Ketuhanan yang ditawarkan Bung Karno?

    Konsep tersebut bulir dari buah pergaulan Bung Karno dengan para ulama. Sejak muda dia tumbuh dalam lingkungan Sarekat Islam. Saat masa-masa pembuangan, Bung Karno terus berkorespondensi dengan ulama. Misalnya, dengan pendiri Persatuan Islam (Persis) Ahmad Hassan saat dibuang ke Ende. Hingga akhirnya, pada 1942, kata Ketuhanan terpatri dalam benaknya ketika kelak Indonesia merdeka dan membentuk dasar negara adalah sebuah keharusan.

    Adalah Syekh Abbas Abdullah yang memberi wejangan kepada Bung Karno. Kala itu, Bung Karno berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syekh Abbas.

    “Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan benar-benar tercapai. Dalam hal ini Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981.

    Syekh Abbas, yang dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

    Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syekh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian. “Di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syekh Abbas mengatakan kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang dia dapat dari keluarga Syekh Abbas dan masyarakat setempat. “Persisnya, Syekh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan.”

    Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatra Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah.

    Kebesaran kedua syekh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Bukti mesranya hubungan Bung Karno dengan dua ulama tersebut berjejak dalam selembar dokumentasi foto yang diambil Said Son.

    Syekh Abbas dan Syekh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekah, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Syekh Abbas juga kawan dekat Syekh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lainnya, Syekh Abbas mendirikan nama madrasah yang sama yakni Madrasah Sumatra Thawalib.

    Tahun 1930, Syekh Abbas mengubah Sumatra Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syekh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatra Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.

    Sementara sekolah tetap menjadi basis menggapai dan mengisi kemerdekaan.

    “Wajar Sukarno menemui Syekh Abbas karena dia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatra Barat.

    Dikatakannya, perjumpaan Sukarno dengan Syekh Abbas hanya sebentar. Datang sekitar jam satu siang lalu balik sekitar sorenya. Bung Karno sendiri berada di Padang ketika era transisi dari Belanda ke Jepang. Dia berada di Sumatra Barat selama lima bulan, dari Februari 1942 hingga Juli 1942. (Ben Tanur dari berbagai sumber)

    Sumber: https://www.harianindonesia.id/berita-utama/bupati-kampung-tan-malaka-usulkan-sjech-abbas-abdullah-jadi-pahlawan-nasional.html