Muhasabah Diri (95): Berperan Untuk Saling Melengkapi

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Dalam kondisi dengan serba keterbatasan Rasulullah Saw tetap optimis dan senantiasa membenahi sisi-sisi kelemahan generasi percontohan dari kalangan sahabat. Antusiasnya para sahabat menyambut angin segar perubahan yang ditawarkan Rasulullah Saw, dan itu merupakan ruh baru bagi mereka. Satu persatu lantunan kalam Ilahi mengisi lorong-lorong sepi kawasan Mekkah. Arah perubahan amatlah jelas, menuju penghambaan yang sebenarnya hanya kepada Allah. SWT. Inilah yang ditakuti oleh para pembesar Quraisy, karena ajaran baru tersebut menggerus keyakinan pada sesembahan yang mereka buat. Bisnis jualan tuhan buatan yang mereka geluti sedikit demi sedikit tidak diminati lagi.

Kegaduhan demi kegaduhan mulai mereka ciptakan, pertanda tidak senang dengan aroma pembebasan yang muncul dari ajaran wahyu. Tindakan teror menteror mereka gencarkan demi menebarkan rasa takut bagi umat yang ingin lepas dari kungkungan kejahiliahan. Tapi yang namanya menjemput cahaya iman apapun bentuk teror itu tidak menjadikan generasi terbaik itu surut kebelakang. Mempertahankan prinsip keyakinan bagi mereka adalah amunisi perjuangan yang paling berharga.

Tantangan demi tantangan malah hanya menggugah kesadaran para sahabat untuk lebih banyak berbuat. Abu Bakar dengan segala bentuk pengorbanannya tidak sedikit beliau merdekakan para budak. Demi menyelamatkan keyakinan umat peran Abu Bakar dengan memerdekakan budak, dan menebar kepedulian dicatat rapi dalam lembaran sejarah. Beliaulah sosok yang amat penyayang dari umat nabi yang terakhir ini.

Bagaimana peran sahabat yang lain? Tentu semuanya berperan, sesuai keahlian bidang masing-masing. Disinilah kelebihan generasi percontohan, kekurangan diantara mereka ditutup oleh kelebihan yang lain.

Suatu ketika di Madinah gerombolan para penyair jahiliah mengolok-olok Rasulullah Saw dan kaum muslimin dengan syair-syair yang mereka ungkapkan. Disaat itu pula Rasulullah Saw minta kepada sahabat untuk membalasnya, tapi tidak ada yang mampu untuk itu. Sesaat setelah itu tampillah seseorang, ternyata Hassan bin Tsabit dengan beraninya beliau mengatakan kepada Rasulullah Saw, bahwa kalau bersyair beliaulah ahlinya. Hassan bin Tsabit sosok sahabat penyair, dengan untaian syair-syair yang beliau ucapkan amatlah membekas dihati para pembenci Rasulullah Saw. Beliau memang ahlinya bersyair sehingga dikenal dalam sejarah penyairnya Rasullullah Saw.

Begitulah generasi terbaik, ada yang ahli ekonomi dan marketing seperti Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan sederet sahabat lainnya. Bahkan ada yang menonjol diantara mereka sebagai penghafal ilmunya Rasulullah Saw berupa hadits-hadits yaitu sahabat Abu Hurairah. Ada sahabat Abdullah Ibnu Abbas sahabat yang paling banyak tahu tentang seluk-beluk turunnya Al-Qur’an. Unik memang, generasi terbaik…

Semoga kita tidak jauh dari cara mereka memahami Islam dengan benar…