Muhasabah Diri (89): Minta-Minta, Fenomena Mentalitas Tangan Dibawah

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Karunia Allah SWT amatlah banyak luas membentang. Begitu juga manusia diberi berbagai potensi untuk mengolah sumber kehidupan dengan diberikan-Nya akal, pikiran dan tenaga.

Allah juga jelaskan hal itu dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Artinya: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk: 15)

Berbagai profesi digeluti umat manusia dalam perjalanan sejarah, para nabi yang diutus oleh Allah SWT adalah para pekerja. Allah jadikan sebaik-baiknya rezeki pada hasil pekerjaan tangan sendiri. Artinya tidak berpangku tangan dan hanya berharap pada orang lain. Rasulullah Saw mengajarkan umatnya mencari rezeki terbaik, beliau ajarkan para sahabat untuk berniaga. Beliau kisahkan profesi para nabi sebelum beliau diutus untuk jadi pegangan bagi umat akhir zaman ini. Bahkan beliau sampaikan dalam haditsnya meskipun hari kiamat datang dan ada kesempatan bertanamlah…

إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمُ الْقِيَامَةُ، وَفِي يَدِهِ فَسِيلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا

Artinya: “Jika hari kiamat terjadi diantara kalian dan ditangannya ada fasiilah (bibit kurma) maka tanamlah.” [HR. Ahmad)

Betapa kesempatan itu amat berharga. Dan amat merugilah seseorang jika tidak memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk berkerja. Dan mencari rezeki dengan cara minta-minta pada orang lain tidaklah dianjurkan, bahkan dianggap amalan tercela dalam Islam. Rasulullah Saw memperingati umatnya tentang ini dalam haditsnya:

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

Artinya: “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim)

Fenomena meminta-minta sering kita temui di negeri ini. Bahkan pelakunya tidak semuanya yang berkekurangan secara pisik, artinya ada kemampuan untuk berkerja. Mentalitas tangan dibawah itulah yang jadi kebiasaannya, malas memanfaatkan potensi diri yang sudah dianugerahkan Allah buat manusia. Bisa diambil kesimpulan jika sebuah negeri fenomena meminta-minta ini mewabah akan jadi penghalang masyarakatnya untuk maju…

Semoga kita terhindar dari hal yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw pada umatnya…