Category: Belajar Islam

open basic knowledge

  • Muhasabah Diri (86): Tabzir – Israf, Masih Banyak Saudara Kita Yang Kesusahan

    Muhasabah Diri (86): Tabzir – Israf, Masih Banyak Saudara Kita Yang Kesusahan

    Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin. Sebuah pepatah yang amat populer. Bahkan banyak dijadikan tulisan hiasan di dinding-dinding sekolah. Meskipun kekayaan melimpah, itu hanya titipan sesaat yang suatu saat juga akan habis. Tidak ada yang yang kekal dari harta kita, kecuali disitu ada pahala mengalir jika kita tepat menggunakannya. Keinginan ingin disanjung sebagai orang berpunya kadangkala membuat kita lupa diri dalam manajemen harta, mudah berfoya-foya, boros dalam pengeluaran, akhirnya tidak terkontrol dan berakhir dengan kesia-siaan.

    Para ulama menyikapi sikap berlebih-lebihan dalam menyalurkan harta atau tidak tepat sasaran dengan beberapa istilah diantaranya tabzir dan israf. Tabzir mengeluarkan atau membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan. Adapun israf lebih bermakna berlebih-lebihan dan melewati batas dari tujuan awal. Perbuatan ini amat dihindari oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Bukan berarti kita tidak boleh mempunyai kekayaan yang banyak. Pribadi muslim dianjurkan untuk kaya karena ada beberapa perintah ibadah berkaitan erat dengan harta. Tapi yang diwanti-wanti adalah, kemana dan buat apa harta kita dikeluarkan?

    Sahabat…

    Setiap kekayaan yang kita dapati ada pertanggungjawabannya. Hisab terhadap harta bukti Allah SWT Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya. Tidak serampangan mengelola harta yang berdampak pada tindakan boros dan mubazir… Dan itu ciri-ciri saudaranya setan.

    Allah SWT berfirman:

    إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al Isra: 27).

    Semoga kita terhindar dari gelar saudaranya setan…

  • Muhasabah Diri (85): Upah, Harapan Mereka Jangan Disia-siakan

    Muhasabah Diri (85): Upah, Harapan Mereka Jangan Disia-siakan

    Indahnya sebuah taman karena berpadunya berbagai macam unsur. Warna-warni tanaman menambah keindahan dan menyejukkan mata. Saling melengkapi, saling bersinergi meskipun dalam perbedaan.

    Inspirasi dari keserasian ciptaan Allah SWT yang perlu kita tiru. Manusia dalam keberagaman dan perbedaan seharusnya mampu untuk saling memberi manfaat, saling melengkapi, karena kita diciptakan memang tidak sama. Hidup berdampingan penuh warna-warni sudah otomatis kita butuh aturan. Coba kita lihat kebelakang bagaimana Rasulullah Saw menata umat yang berlatar macam-macam karakter, suku, bahkan keyakinan. Dengan aturan mereka mampu berjalan beriringan. Piagam Madinah jadi catatan sejarah yang sampai hari masih jadi rujukan persatuan umat.

    Kita tidak mungkin hidup dengan mengisolasi diri, bersosial adalah cara manusia. Yang punya kemampuan membantu yang lemah. Yang punya keahlian mengandalkan keahliannya untuk berinteraksi sesama. Begitulah seharusnya kita saling memberi dan menawarkan manfaat bahkan jasa. Saat itu terjadi proses muamalah sesama, jual beli bahkan tawaran jasa, karena memang ada yang tidak bisa dilakukan sendiri. Memanfaatkan jasa seorang tentu tidak semuanya secara sukarela tapi juga ada yang berbayar bahkan bisa jadi sudah jadi mata pencaharian bagi sebagian orang. Pemanfaatan jasa berhubungan erat dengan upah.

    Sahabat…

    Masalah upah, merupakan kewajiban pemakai jasa untuk menunaikannya. Kadang-kadang ada yang lalai sehingga hak orang terabaikan. Rasulullah Saw bersabda:

    أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

    Artinya: “Berikan upah pekerja sebelum kering keringatnya”. (HR. Ibnu Majah)

    Adalah hal yang wajar seseorang menawarkan jasa dengan harapan dapat upah sebagai imbalan pekerjaan yang ditawarkan. Melalaikan upah berarti menyepelekan kewajiban. Upah bagi seseorang kadang-kadang jadi tumpuan harapan bertahan hidup, maka tidaklah layak menelantarkan hak orang lain…

    Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak mengabaikan hak orang lain…

  • Muhasabah Diri (84): Risywah, Tradisi Yang Bikin Sengsara

    Muhasabah Diri (84): Risywah, Tradisi Yang Bikin Sengsara

    Berpikir merupakan aktivitas keseharian manusia normal. Proses berpikir berbeda-beda, ada pekerjaan yang butuh berpikir keras, ada yang hanya perpikir alakadarnya. Bahkan juga ada pekerjaan yang banyak mengandalkan kekuatan otak daripada otot. Begitulah level-level berpikir yang dimiliki manusia, ada berpikir seadanya alias rendah, ada cara berpikir menengah bahkan ada yang terbiasa dengan level tinggi.

    Dalam Islam berpikir tidak hanya sebagai kebutuhan intelektual yang berpusat di otak tapi lebih daripada itu. Berpikir produktif yang tidak hanya mengotak atik berbagai teori keilmuan tapi juga diiringi kecerdasan hati menuju kepada penghambaan kepada Yang Maha Tahu.

    Ada juga tipe manusia berpikir sempit, egois, kemampuan otak hanya digunakan bagaimana bisa mendatangkan materi sebanyak mungkin tanpa menghiraukan halal atau tidak. Berbagai cara digunakan untuk memuluskan keinginannya. Diantaranya adalah dengan menyuburkan tradisi risyawah, sogok menyogok, suap menyuap, atau yang sejenisnya. Hal itu hanya akan mendatangkan malapetaka dan penyakit masyarakat. Tradisi yang amat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Dampaknya akan terasa di masyarakat. Hilangnya keadilan. Hukum dapat dibeli dan cenderung memihak kepada yang bayar. Rusak memang sebuah tatanan jika penyakit ini mewabah di masyarakat.

    لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي

    Artinya: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberikan sogok dan orang yang menerima sogok” (HR Abu Dawud)

    Pola hidup seperti ini sering digunakan bangsa Yahudi untuk merusak umat lain. Licik memang, kadang-kadang yang dirusak tidak sadar dan menyadarinya.

    Sahabat…

    Jika diri tidak bersih, pikiran ternodai, hati akan rusak dan keinginan akan terpasung kepada hal-hal yang negatif. Ujung-ujungnya aktivitas yang dilakukan juga akan menebar kerusakan… Padahal usia di dunia amatlah terbatas, diakhirat sudah menunggu pertanggungjawaban.

    Semoga kita terhindar dari perilaku yang merusak…

  • Muhasabah Diri (83): Hutang, Mudah Diawal dan Berat Diakhir.

    Muhasabah Diri (83): Hutang, Mudah Diawal dan Berat Diakhir.

    Salah satu yang sering dikhawatirkan seseorang adalah ujian. Padahal ujian itu untuk mengetahui kapabilitas diri. Ada ujian yang tidak berjadwal, yaitu ujian kehidupan. Butuh persiapan diri untuk menghadapi ujian tanpa aba-aba terlebih dahulu. Bersiaplah karena nikmat tidak selamanya kekal.

    Macam-macam model ujian yang kita lalui. Ujian berupa kesusahan juga sering kita hadapi. Untuk keluar dari kesusahan dan kekurangan materi diantara jalan keluar yang ditempuh adalah dengan berutang. Mudah memang berutang tapi melunasinya banyak kendala. Ada yang senang berutang kadang-kadang tidak dilunasi. Betapa banyak hubungan pertemanan rusak gara-gara utang. Islam sudah mengatur adab-adab berutang. Bahkan ayat yang terpanjang dalam Al-Qur’an berkenaan dengan utang. Allah SWT berfirman:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْـًٔاۗ فَاِنْ كَانَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِالْعَدْلِۗ وَاسْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَالِكُمْۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّامْرَاَتٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَۤاءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰىهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰىهُمَا الْاُخْرٰىۗ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَۤاءُ اِذَا مَا دُعُوْا ۗ وَلَا تَسْـَٔمُوْٓا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰٓى اَجَلِهٖۗ ذٰلِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَاَدْنٰىٓ اَلَّا تَرْتَابُوْٓا اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَلَّا تَكْتُبُوْهَاۗ وَاَشْهِدُوْٓا اِذَا تَبَايَعْتُمْ ۖ وَلَا يُضَاۤرَّ كَاتِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ ەۗ وَاِنْ تَفْعَلُوْا فَاِنَّهٗ فُسُوْقٌۢ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah : 283)

    Hadits-hadits tentang utang juga banyak, diantaranya sabda nabi:

    أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

    “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

    Berutang memang salah satu solusi disaat terdesak, tapi tetap kita ukur kemampuan terlebih dahulu untuk melunasinya. Mengembalikan utang amatlah berat, apalagi disaat beban hidup semakin menjerat. Maka wajar saja salah satu yang berhak dibantu dengan dengan dana zakat adalah orang yang berutang/ gharimin.

    Semoga bagi kita yang berutang diberi kemudahan oleh Allah untuk melunasinya…

  • Muhasabah Diri (82): Agar Semuanya Dapat Merasakan

    Muhasabah Diri (82): Agar Semuanya Dapat Merasakan

    Keadilan adalah kata yang diimpikan oleh mereka yang dizalimi. Kata itu juga menunjukkan tingginya derajat dan mencerminkan tanggung jawab pelakunya. Bahkan salah satu karakter pemimpin yang didambakan adalah pemimpin yang adil.

    Dalam hadits Rasulullah Saw:

    عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن رسول الله عليه السلام قال: سبعةٌ يُظِلُّهم اللهُ في ظلِّه يومَ لا ظلَّ إلَّا ظلُّه: إمامٌ عادلٌ وشابٌّ نشَأ في عبادةِ اللهِ تعالى ورجلٌ ذكَر اللهَ خاليًا ففاضت عيناه ورجلٌ ـ كان ـ قلبُه معلَّقٌ في المسجدِ ورجُلانِ تحابَّا في اللهِ: اجتمَعا عليه وتفرَّقا ورجلٌ دعتْه امرأةٌ ذاتُ منصبٍ وجمالٍ إلى نفسِها فقال: إنِّي أخافُ اللهَ ورجلٌ تصدَّق بصدقةٍ فأخفاها حتَّى لا تعلَمَ شِمالُه ما تُنفِقُ يمينُه

    Abu Hurairah mengatakan Rasulullah SAW bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan Allah lindungi pada hari kiamat, di hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya. Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam peribadatan kepada Allah ‘azza wajalla, seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dalam keheningan kemudian meneteskan air mata, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang mencintai karena Allah ‘azza wajalla. Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita cantik untuk berzina lalu ia berkata sesungguhnya aku takut kepada Allah ‘azza wajalla’, dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya.” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Hibban).

    Pemimpin yang adil, disamping mengayomi rakyatnya juga memiliki ketegasan. Prinsip inilah yang menonjol pada sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq. Apa yang terjadi disaat Rasulullah Saw meninggal dunia?. Ada yang murtad dan enggan bayar zakat. Pemahaman yang salah seperti itulah yang diluruskan Abu Bakar.

    والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة

    Artinya: “Demi Allah, aku akan memerangi siapa saja yang memisahkan kewajiban shalat dan zakat…”.

    Kewajiban yang melengkapi satu sama lainnya yang terkumpul dalam rukun Islam yang lima. Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga mempunyai 8 ashnaf atau kelompok-kelompok yang dikategorikan sebagai mustahiq yang berhak menerima zakat. Nasib memang tidaklah sama, ada kaya, ada miskin. Setiap permasalahan ummat ada solusinya dalam Islam. Kekayaan yang dimiliki oleh seseorang, disitu juga ada hak orang lain. Konsep berbagi ini diatur dalam syariat. Syariat yang memanusiawikan manusia, memperdekat hubungan antar manusia agar tidak terjadi jurang pemisah antara orang-orang yang berpunya dengan yang membutuhkan. Disisi Allah hanya ketaqwaanlah yang jadi ukuran.

    Sahabat…

    Begitulah aturan syariat, agar semua dapat merasakan, dapat berbagi. Sehingga kesulitan yang dihadapi tetap ada solusinya…

    Selamat beraktifitas…

  • Muhasabah Diri (81): Riba Itu Ribet, Ngeriba Nget

    Muhasabah Diri (81): Riba Itu Ribet, Ngeriba Nget

    Menjadi baik adalah keinginan banyak orang. Banyak cara untuk menjadi baik. Memulai langkah dengan kebaikan, akan menghasilkan kebaikan berikutnya. Begitu juga sebaliknya, sebuah kejahatan akan melahirkan kejahatan berikutnya.

    Menjadi mapan juga keinginan banyak orang. Dengan kemapanan berbagai kesulitan bisa diatasi. Tapi tidak semua yang mapan bahagia dengan kondisinya, karena kebahagiaan ukurannya bukan kemapanan. Banyak cara yang ditempuh untuk memapankan hidup. Cara-cara logis ataupun yang negatif. Cara-cara yang baik tentulah kita diperintahkan itu mengamalkannya, tapi cara-cara negatif harus dihindari. Termasuk disitu berinteraksi dengan riba. Hari ini jerat-jerat riba ada dimana-mana. Jebakannyapun halus, wajar Rasulullah Saw sudah mewanti-wanti umatnya agar hati-hati dengan riba.

    Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

    “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim)

    Pernahkah kita menyaksikan orang terlilit hutang riba, jeratan rentenir?. Keleluasaan sesaat berujung kesusahan berlipat. Tidak sedikit diantara mereka menempuh jalan keputusasaan, bunuh diri.

    Pintu-pintu riba harus ditutup riba amatlah banyak. Rasulullah Saw menggambarkan tentang ini. Peringatan buat kita semua.

    الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا؛ أَيْسَرُهَا مِثلُ أَن يَنْكِحَ الرَّجُل أُمَّه، وَإنّ أَربَى الرِّبَا عِرضُ الرَّجُل الـمُسْلِم

    iba itu ada 73 pintu, yang paling ringan, seperti orang yang berzina dengan ibunya. Dan riba yang paling riba adalah kehormatan seorang muslim. (HR. Hakim)

    Tingkat yang paling rendah saja seperti itu…

    Mengerikan kan, yang paling tinggi adalah seseorang merusak kehormatan pribadi muslim… Semoga ada ikhtiar kita untuk menghindari agar tidak terjebak dalam riba…

  • Muhasabah Diri (80): Ada Yang Mesti Dirubah

    Muhasabah Diri (80): Ada Yang Mesti Dirubah

    Seorang pembelajar akan banyak menyerap ilmu dari apa yang dia amati. Guliran waktu baginya adalah pelajaran. Yang terjadi pada masa lalu amatlah berharga baginya. Dia akan menata langkahnya untuk menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Setiap kejadian ada hikmahnya. Kegagalan baginya adalah cemeti untuk berubah.

    Beda masa, beda juga kekhasannya. Sarana dan media mengalami perkembangan pesat. Tidak mengikutinya, berarti bersiaplah untuk kalah bersaing. Sekarang kita hidup diera kaget-kagetan. Banyak perubahan yang perlu disikapi. Dalam bermuamalah juga begitu, banyak hal yang berubah. Dulu jual beli dengan barteran, sekarang duitan bahkan orderan secara online. Ya…banyak perubahan. Cara manual mulai tergusur. Begitu juga produk jualan juga banyak perubahan dalam penampilan. Barang yang sama tapi dengan kemasan berbeda akan mempengaruhi minat beli konsumen. Solusinya, harus siap berubah… Kreasi baru, branding baru semangat baru di era baru yang menantang.

    Sahabat…

    Perubahan adalah sunnatullah, pasti terjadi. Perlu kegigihan untuk berubah dan melakukan perubahan. Memang sulit, apalagi yang sudah mendarah daging amatlah rumit. Tapi apakah mungkin untuk bertahan dan dipertahankan?. Orisinalitas memang penting, tapi bukan berarti ketinggalan zaman. Disitu ada ciri khas yang mesti dipertahankan. Jangan sampai rendang rasa gudeg, atau durian rasa singkong…🤔. Apa jadinya?. Artinya perubahan tanpa mengorbankan jati diri.

    Pasca hijrah Rasulullah Saw ke Madinah, beliau menyaksikan ada keanehan yang dilakukan penduduk setempat dalam perkawinan buatan untuk korma yang mereka tanam. Dengan mengibas-ngibas pohon korma. Aneh… pikir beliau, dan para sahabat pun memahami hal itu dengan makna ketidak setujuan beliau dengan cara tersebut. Akhirnya perilaku yang jadi kebiasaan tersebut mereka tinggalkan. Apa yang terjadi?. Korma berbuah tapi tidak bernas, alias lisut 🤭. Disaat mereka sampaikan hasil dari apa yang mereka dapati Rasulullah Saw menyampaikan pesan berharga.

    أنتم أعلم بأمور دنياكم

    Artinya: “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian” ( HR. Muslim )

    Memang banyak hal yang mesti berubah. Dalam perubahan didapati berbagai macam hikmah.

    Semoga kita senantiasa selalu menjadi pribadi pembelajar…

  • Ibrah Pendidikan (2): Yang Lebih Berat Dari Berperang

    Ibrah Pendidikan (2): Yang Lebih Berat Dari Berperang

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ، أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حَدَّثَتْهُ أَنَّهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ ‏ “‏ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدُّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلاَلٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ، فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ، فَسَلَّمَ عَلَىَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمِ الأَخْشَبَيْنِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ‏”‏‏.‏

    Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab berkata telah bercerita kepadaku ‘Urwah bahwa ‘Aisyah (ra), istri Nabi (saw) bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi: “Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?”. Beliau menjawab: “Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa yang paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa ‘Aqabah (Thaif), saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal agar membantuku namun dia tidak mau memenuhi keinginanku hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata; “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu”. Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata; “Wahai Muhammad”. Maka dia berkata; “apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (Sahih Al-Bukhari 3231)

    # IBRAH

    Hadits diatas mengabarkan kepada kita bahwa Rasulullah (saw) menyampaikan kepada Aisyah (ra) bahwa dakwah mengajak kepada kebenaran (ke Thaif) lebih berat dari perang (Uhud). Beliau harus menempuh jarak yang tidak dekat, kemudian setelah berjumpa ajakan beliau ditolak, Mubarakfuri menceritakan dalam sirah nabi (raheeq al-makhtoum) bagaimana beliau diusir (dikejar-kejar) juga dilempari batu, hingga beliau berlari dan baru berhenti setelah jauh dan tidak terlihat.

    Mendidik bukan sekedar menyampaikan informasi, tetapi juga lebih beratnya adalah memberitahu mana yang baik dan benar, dan juga mengajak yang dididik untuk senantiasa berbuat baik dan benar. Mendidik dengan mengajak kepada kebaikan dan kebenaran adalah inti dari dakwah, sehingga mendidik adalah bentuk dari dakwah itu sendiri. Dalam surat Al-Hajj ayat 67 Allah (swt) menyebutkan “dan serulah (mereka kepada Tuhan-Mu), sungguh engkau (Muhammad) berada di jalan yang lurus.”

    Bagaimana niat mendidik rasulullah untuk menunjukkan kebaikan dan kebenaran tidak padam, walaupun kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan yang beliau hadapi, bahkan luar biasanya beliau tetap optimis berharap kedepannya situasi akan lebih baik untuk mereka.

    Dalam hadits ini juga diinformasikan bagaimana Allah (swt) memberi pertolongan kepada orang-orang yang senantiasa berdakwah. Tantangan berat bahkan menunjukkan penganiayaan berat yang dilakukan penduduk Thaif terhadap nabi adalah sangat luar biasa, sampai-sampai malaikat Jibril marah dan meminta izin untuk memberikan hukuman. Kita tahu bagaimana dalam sejarah kaum-kaum terdahulu dijatuhkan hukuman oleh malaikat (dengan izin Allah) karena pengingkaran dan penganiayaan yang luar biasa, ya kaum terdahulu yang dijatuhkan hukuman musibah menjadi habis tidak bersisa, bahkan kita yang hidup saat ini kesulitan mencari jejak mereka.

    Hadits ini juga menggambarkan bagaimana konsistennya nabi dalam urusan dakwah, urusan yang paling berat yang menjadi amanah kepada seorang hamba. Sehingga solusi atas kesulitan-kesulitan dan juga jalan buntu yang dihadapi dalam mendidik, nabi contohkan dengan berdoa dan mengadu kepada Allah, meminta jalan keluar.

    Nabi (saw) juga mencontohkan tidak perlu ada dendam dalam berdakwah ataupun mendidik. Pendidik perlu fokus terhadap misi mendidik, bahkan dianjurkan untuk menyampaikannya dengan cara yang baik. Cara yang akan sangat berbeda dalam profesi yang lain seperti penegak hukum dan ketertiban. Baju yang berbeda, tentu akan diperlukan cara yang berbeda.

    Di penghujung kisah Thaif ini, disebutkan dalam surat Al-Ahqaf tentang adanya sekelompok jin antusias untuk mendengar dakwah nabi (saw) dan menerima Islam kemudian berdakwah kepada kaumnya.a

    Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (Al-Ahqaf 46 : 29-30)

    Ini memberikan gambaran kepada kita, dalam mendidik kebaikan dan kebenaran, seandainya ada satu kelompok yang menolak, insyaallah akan selalu ada kelompok lain yang menerimanya. Yang terpenting adalah menjaga niat dan juga fokus tujuan dakwah adalah menyampaikan kebaikan dan kebenaran, dengan niat lillahitaala.

    Referensi

    Azmi, Ahmad Sanusi. 40 Hadis Tentang Dakwah dan Tarbiah. Ulum Hadith Research Center, 2020.
    https://sunnah.com/bukhari:3231
    https://www.hadits.id/hadits/bukhari/2992

  • Muhasabah Diri (79): Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya

    Muhasabah Diri (79): Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya

    Alhamdulillah, itulah yang sering kita ucapkan disaat rezeki datang menghampiri. Rezeki yang didapati dari jerih keringat sendiri jauh lebih baik daripada menadahkan tangan minta diberi. Untuk itu karunia Allah yang bertebaran di muka bumi memang harus dicari. Untuk menjemput rezeki banyak cara yang baik untuk ditempuh. Dengan tidak menyusahkan orang lain, mempererat persaudaraan, bersilaturahim akan membuka pintu-pintu keberkahan.

    Sahabat…

    Banyak kiat untuk menyenangkan orang lain. Sudah selayaknya pertemanan diperbaiki, permusuhan dijauhi. Berbagi maslahat untuk umat, agar kehidupan bertebaran rahmat. Begitulah cara Rasulullah Saw menebarkan kebaikan di masyarakat.

    Miris memang, melihat kondisi kita dalam keseharian. Keinginan menjemput rezeki dan kiatnya kadangkala tidak sesuai. Ambisi lebih dominan daripada kesantunan. Ada yang melabrak batas kewajaran. Begitulah kita, ada yang perlu dibenahi. Lihatlah disaat ada diantara kita menjemput rezeki dengan berjualan sambil mengumpat pembeli.

    Ada yang berdagang di pinggir jalan bahkan sebagian fasilitas umum dimanfaatkan demi keinginan mendapatkan kesempatan besar, sampai-sampai sekedar untuk parkir kendaraan calon pembeli saja tidak didapati. Bisa jadi yang muncul bukanlah simpati pembeli, tapi malah alergi dan antipati. Disaat lain ada yang menjemput rezeki dengan mencari pelanggan penumpang. Angkot, ojek dan semirip seperti itu, tapi realitas yang didapati kadang-kadang parkir dan berhenti sembarangan, bahkan melanggar jatah fasilitas orang ramai…

    Ambisi pribadi mengalahkan ruang bersama. Perlu menempatkan sesuatu pada posisinya… Masih banyak contoh lainnya, silakan dikaji dan diperbaiki. Ada yang hilang dari kita yang perlu ditumbuhkan agar muncul dan membudaya nilai karakter yang baik.

    Fenomena mengharap untung dengan menghalangi orang lain hanya akan mempersempit pintu-pintu rezeki. Karena memang manusia secara fitrah menginginkan kenyamanan bukan kekacauan, ketenangan bukan keonaran.

  • Muhasabah Diri (78): Rezeki Yang Tak Terjamah

    Muhasabah Diri (78): Rezeki Yang Tak Terjamah

    Banyak hal yang perlu kita renungi. Ada ayat-ayat qauliah, yaitu Al-Qur’an Al-Karim yang mesti kita tadabburi. Ada juga ayat-ayat kauniah sebagai tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta yang mesti kita tafakuri. Dengan keduanya kita mengenal Allah SWT.

    Dia beri kita akal, dengannya kita berpikir. Dia beri kita jasad dengannya kita beraktivitas. Diperkuat kita dengan dimensi ruhani, agar kita memiliki keseimbangan dalam mengarungi ujian duniawi.

    Begitulah manusia, makhluk unik yang diistimewakan dengan petunjuk wahyu dan model sebagai petunjuk yaitu Rasulullah SAW. Itu semua merupakan bekal yang amat berharga.

    Allah SWT menyediakan buat kita bumi sebagai medan amal. Disitulah kita jalani takdir penciptaan kita sebagai manusia, dan disitu juga kita berikhtiar melaksanakan pengabdian pada Yang Maha Kuasa. Ada saatnya kita merenung, betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

    Wajar ada ungkapan dalam Al-Qur’an manusia diciptakan sebagai khalifah di permukaan bumi ini. Masih banyak nikmat Allah yang belum kita syukuri. Lihatlah disekitar kita alam terbuka lebar, betapa banyak disitu rezeki yang tersembunyi buat manusia.

    Sahabat…

    Kadangkala kita hanya banyak berkeluh kesah, padahal ada potensi yang dilebihkan Allah buat manusia, mengelola jatah rezeki manusia di alam semesta sesuai aturannya.

    Saatnya kita berbenah, potensi bumi yang melimpah, tanah yang terbentang luas yang tak terkelola. Banyak lahan yang ditinggal tak terjamah, seakan hanya lahan mubazir buat manusia. Dan banyak lagi…

    Mari kita jemput Rahmat Allah dengan mensyukuri nikmat-Nya…

  • Ibrah Pendidikan (1): Peranan Kecil Sangat Berharga

    Ibrah Pendidikan (1): Peranan Kecil Sangat Berharga

    وَحَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، وَأَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ – وَاللَّفْظُ لأَبِي كَامِلٍ – قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، – وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي، هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً، سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي ‏”‏ ‏.‏ قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ ‏”‏ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ ‏”‏ ‏.‏ فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ ‏”‏ إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ ‏”‏ ‏.‏

    Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya seorang wanita berkulit hitam (atau remaja kulit hitam) sering terlihat membersihkan masjid. Suatu hari Rasulullah SAW tidak melihat dia dan bertanya kepada orang-orang sekitar. mereka memberitahunya bahwa wanita (remaja) itu telah meninggal. Beliau berkata kenapa mereka tidak memberi tahunya, seolah-olah mereka menganggap keberadaan wanita (remaja) ini adalah hal yang sepele. Rasulullah SAW kemudian berkata: “tunjukkan aku kuburnya!”. Lalu mereka mengantarkannya dan menshalati kuburnya, kemudian berkata: “sesungguhnya kubur-kubur ini penuh kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah azza wa jalla (maha agung dan maha tinggi) menerangi kubur ini untuk penghuninya karena doaku atas mereka. (Sahih Muslim 956)

    # IBRAH

    Hadits ini adalah hadits yang sangat jelas bagaimana rasulullah tidak menyepelekan keberadaan orang dan pekerjaan kecil. Sebegitu detailnya rasulullah atas kerja, sehingga peran kecil wanita ini tidak terlewatkan, bahkan beliau mendoakannya setelah meninggal.

    Hadits ini sangat bagus untuk diambil hikmahnya bahwa seringkali dalam mendidik kita meminta anak didik kita untuk menjadi hebat terlebih mengambil kerja bagian yang hebat-hebat saja. Sehingga seringkali kerja yang kecil luput dalam pandangan bahkan menjadi tidak penting, dan bagaimana Rasulullah menilai kerja yang kecil ini juga sama bermanfaat bagi kerja baik yang lebih besar. Artinya kerja kecil juga harus terkordinasi, sehingga memberikan manfaat yang juga besar.

    Dalam hadits ini Rasulullah sangat memperhatikan siapa saja disekelilingnya yang berperan melakukan perbuatan baik dan bermanfaat. Begitu juga dalam institusi pendidikan, semua pihak patut mengambil peranan, berkordinasi dan patut dihargai atas kebaikan dan peranannya, walaupun kecil. Ini juga sebagai ibrah untuk kita bahwa dalam kerja kebaikan, peran semua anggota tim perlu diperhatikan dan dipastikan memberikan kontribusi dalam pencapaiannya. Didalam institusi pendidikan terlebih lagi, etika untuk menghargai harus disampaikan, supaya hal ini menjadi karakter yang terbentuk pada siswa dimasa belajarnya.

    Sebagian masyarakat menganggap sepele kerja-kerja kecil seperti ini. Dan Rasulullah SAW mencontohkan tidak patut kita menyepelekan orang lain karena latar belakang ekonomi ataupun penampilannya. Kontribusi nyata yang diberikan wanita ini berkesan tanpa melihat siapa dia, status, pangkat, dan juga penilaian fisik lainnya.

    Setiap pemimpin juga perlu ambil perhatian terhadap anggota-anggota timnya. Dan Rasulullah SAW mencontohkan setiap peran kecil dari pekerjaan besar perlu diperhatikan dan dihargai. Bagaimana diakhir hadits Rasulullah sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas usaha kebaikan wanita ini menjadi saksi atas peran yang dianggap kecil wanita ini yang membantu kerja baik beliau.

    Menurut al-Imam Ibn Hajar, wanita ini adalah Ummu Mihjan, atau Mihjanah, seorang wanita kulit hitam yang berkhidmat membersihkan masjid (Ibn Hajar, al-Isabah). Menurut riwayat al-Nasa’i pula, wanita ini disifatkan sebagai seorang yang miskin. a Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk bertanya kabar tentang orang lain. Bahkan menurut riwayat Al-Hakim, Rasulullah sering bertanya khabar penduduk Anshar. b

    Referensi:

    Azmi, Ahmad Sanusi. 40 Hadis Tentang Dakwah dan Tarbiah. Ulum Hadith Research Center, 2020.
    https://sunnah.com/muslim:956

  • Wajah Ego

    Wajah Ego

    Ego diartikan dalam kamus sebagai persona, bisa juga kesadaran akan diri sendiri, ada juga yang mengartikan sebagai persepsi akal pikiran terhadap siapa kita, atau lebih menarik lagi disebut adalah sebagai jembatan persepsi antara diri seseorang dengan realita dunia.

    Pada saat pandemi dan kesulitan seperti ini kita sebetulnya melihat karakter masing-masing dari kita. Kita melihat dimana ego menempatkan kita pada realita yang kita hadapi sekarang, apakah muncul empati dan rasa berkontribusi atau justru sebaliknya.

    Mana yang sibuk dengan urusan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, mana yang sibuk berpartisipasi urusan orang banyak dan mana yang sibuk dengan urusan pribadi dan ego nya.

    Lihat para politisi, disaat pandemi ada yang meminta menjadi komisaris dan pembina, bukannya meringankan urusan justru menambah ribet situasi. Lihat juga pada yang bermental lemah, ada pandemi tidak tahan ada duit mengalir, padahal sepeser pun sudah ada alokasi bantuan yang terkunci.

    Sebetulnya disini kita dapat melihat, klaim-klaim simpati diuji dengan kondisi yang amal yang riil. Hari ini menjadi saksi siapa sebetulnya kita, apakah kita termasuk orang yang melakukan perbaikan atau kita termasuk perusak yang suka berbuat onar dan fasad.

    Toh pada akhirnya kita semua juga akan mati. Semoga kita yang sehat dijaga dari marabahaya, semoga kita yang sakit diberi kesembuhan, semoga diakhir zaman usia kita ini kita diberikan akhir yang baik, husnul khatimah.