Muhasabah Diri (85): Upah, Harapan Mereka Jangan Disia-siakan

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Indahnya sebuah taman karena berpadunya berbagai macam unsur. Warna-warni tanaman menambah keindahan dan menyejukkan mata. Saling melengkapi, saling bersinergi meskipun dalam perbedaan.

Inspirasi dari keserasian ciptaan Allah SWT yang perlu kita tiru. Manusia dalam keberagaman dan perbedaan seharusnya mampu untuk saling memberi manfaat, saling melengkapi, karena kita diciptakan memang tidak sama. Hidup berdampingan penuh warna-warni sudah otomatis kita butuh aturan. Coba kita lihat kebelakang bagaimana Rasulullah Saw menata umat yang berlatar macam-macam karakter, suku, bahkan keyakinan. Dengan aturan mereka mampu berjalan beriringan. Piagam Madinah jadi catatan sejarah yang sampai hari masih jadi rujukan persatuan umat.

Kita tidak mungkin hidup dengan mengisolasi diri, bersosial adalah cara manusia. Yang punya kemampuan membantu yang lemah. Yang punya keahlian mengandalkan keahliannya untuk berinteraksi sesama. Begitulah seharusnya kita saling memberi dan menawarkan manfaat bahkan jasa. Saat itu terjadi proses muamalah sesama, jual beli bahkan tawaran jasa, karena memang ada yang tidak bisa dilakukan sendiri. Memanfaatkan jasa seorang tentu tidak semuanya secara sukarela tapi juga ada yang berbayar bahkan bisa jadi sudah jadi mata pencaharian bagi sebagian orang. Pemanfaatan jasa berhubungan erat dengan upah.

Sahabat…

Masalah upah, merupakan kewajiban pemakai jasa untuk menunaikannya. Kadang-kadang ada yang lalai sehingga hak orang terabaikan. Rasulullah Saw bersabda:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

Artinya: “Berikan upah pekerja sebelum kering keringatnya”. (HR. Ibnu Majah)

Adalah hal yang wajar seseorang menawarkan jasa dengan harapan dapat upah sebagai imbalan pekerjaan yang ditawarkan. Melalaikan upah berarti menyepelekan kewajiban. Upah bagi seseorang kadang-kadang jadi tumpuan harapan bertahan hidup, maka tidaklah layak menelantarkan hak orang lain…

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak mengabaikan hak orang lain…