Muhasabah Diri (86): Tabzir – Israf, Masih Banyak Saudara Kita Yang Kesusahan

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin. Sebuah pepatah yang amat populer. Bahkan banyak dijadikan tulisan hiasan di dinding-dinding sekolah. Meskipun kekayaan melimpah, itu hanya titipan sesaat yang suatu saat juga akan habis. Tidak ada yang yang kekal dari harta kita, kecuali disitu ada pahala mengalir jika kita tepat menggunakannya. Keinginan ingin disanjung sebagai orang berpunya kadangkala membuat kita lupa diri dalam manajemen harta, mudah berfoya-foya, boros dalam pengeluaran, akhirnya tidak terkontrol dan berakhir dengan kesia-siaan.

Para ulama menyikapi sikap berlebih-lebihan dalam menyalurkan harta atau tidak tepat sasaran dengan beberapa istilah diantaranya tabzir dan israf. Tabzir mengeluarkan atau membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan. Adapun israf lebih bermakna berlebih-lebihan dan melewati batas dari tujuan awal. Perbuatan ini amat dihindari oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Bukan berarti kita tidak boleh mempunyai kekayaan yang banyak. Pribadi muslim dianjurkan untuk kaya karena ada beberapa perintah ibadah berkaitan erat dengan harta. Tapi yang diwanti-wanti adalah, kemana dan buat apa harta kita dikeluarkan?

Sahabat…

Setiap kekayaan yang kita dapati ada pertanggungjawabannya. Hisab terhadap harta bukti Allah SWT Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya. Tidak serampangan mengelola harta yang berdampak pada tindakan boros dan mubazir… Dan itu ciri-ciri saudaranya setan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al Isra: 27).

Semoga kita terhindar dari gelar saudaranya setan…