Category: Ibrah

  • Ikhtiar dan Takdir: Kebaikan Pada Level Puncaknya

    Ikhtiar dan Takdir: Kebaikan Pada Level Puncaknya

    Kita sering bertanya tentang takdir dan ikhtiar. Rasanya kejadian seorang balita berusia 5 tahun terjatuh didalam sebuah lubang sedalam 32 meter di Maroko, dan bagaimana orang-orang merespon adalah penjelasan bagaimana kita dapat memahami takdir, ikhtiar.

    Sebelumnya kita pahami dahulu bahwa agama memiliki 3 komponen, Al-Iman, Al-Ihsan, Al-Islam. Dengan memahami 3 komponen ini insyaallah lebih mudah memahami antara kenapa kita perlu ikhtiar sebagai bagian dari Ihsan (kebaikan), dan menerima takdir sebagai bagian dari Iman, dan mencari cara menyelesaikan ikhtiar dengan waktu terbatas dengan pengetahuan dan kemampuan yang kita tanpa menabrak aturan-aturan yang menjadikan kita selamat (Islam).

    Opsi umum pertama, adalah qadarullah, Allah membuat aturan ikhtiar akan mendatangkan hasil.

    Akan tetapi ada banyak kemungkinan lain, dimana ada banyak variabel-variabel hukum alam yang Allah tentukan yang kita tidak tahu, pandang sederhana tapi menentukan ataupun salah kalkulasi.

    Opsi kedua diantara banyak kemungkinan itu adalah ikhtiar tidak berjalan sesuai perkiraan, mungkin karena Allah telah merencanakan hal lain yang terbaik lainnya.

    Dalam keadaan seorang anak yang terjatuh dalam sumur 32 meter, dan proses evakuasi dimana tim reaksi cepat mencoba mengebor (mereka menyebutnya, memindahkan gunung). Ikhtiar mereka berhasil, akan tetapi anak itu meninggal sebentar setelah diselamatkan.

    Selain tim reaksi cepat, fenomena bagaimana seorang anak-anak yang juga lebih tua sedikit datang menawarkan diri untuk masuk ke dalam lubang, dan berkata, “aku sudah mendapat izin orang tuaku untuk menolong Ryan”.

    Disinilah ikhtiar dengan berbagai kemungkinan itu tetap harus diupayakan, mereka menyebutnya kemanusiaan dalam level tertingginya, walau mengetahui mereka tidak  akan mendapatkan hasil yang sesuai (humanity at its best). wallahu’alam.


    إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

    ‎Update: official Moroccan news has confirmed that little Ryan has passed on to the mercy of Allah. He gives and He takes, and our time to return has been destined. May Allah grant the family patience and comfort and make him intercession for them on the day of decision.

    Earlier:
    As Morocco moves a mountain to save a five-year-old boy who fell into a deep well, we are praying in the few seconds remaining that he will be brought out alive. This is humanity at its best – the whole world watching and praying! #SaveRayan

  • Selagi Muda (1): Kuatkan Integritas Perkaya Pengalaman

    Selagi Muda (1): Kuatkan Integritas Perkaya Pengalaman

    Diantara kelebihan dari karakter pemuda adalah idealisme, melihat sesuatu secara ideal. Namun dibalik itu juga terdapat kelemahan dari sisi kontekstual atau pengalaman, sehingga kesempatan untuk mengetes idealisme adalah pengalaman yang sangat berharga. Bertolak belakang dengan pemuda, untuk karakter yang mereka yang cukup berumur adalah pengalaman, sehingga hilangnya kesempatan untuk memiliki idealisme dalam masa muda akan terlihat bagaimana terlalu kontekstualnya di masa muda, atau dengan bahasa sederhana mengikuti kemana angin bertiup.

    Idealisme yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran harus terus diasah dan menjadi satu karakter integritas yang memang nampak dari seseorang. Nabi SAW memberikan satu nasihat yang sangat baik tentang pemuda yang berintegritas:

    يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

    Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah [HR. Ahmad].

    * shobwah adalah kecenderungan untuk berniat/berlaku buruk

    Dalam satu kondisi lain, sahabat yang pada saat itu diamanahi menjadi Khalifah, Abu Bakar RA, menilai pemuda juga dari idealisme kejujuran. Bagaimana integritas menjadi penilai tinggi setelah memiliki kemampuan yang terkualifikasi untuk urusan tertentu.

    قَالَ أَبُو بَكْرٍ –وَعِنْدَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ- لِزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ : إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لاَنَتَّهِمُكَ، وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ

    Abu Bakr RA mengatakan kepada Zaid bin Tsabit saat itu Umar bin Khatthab RAu anhu berada diantara mereka, “Sesungguhnya kamu laki-laki yang masih muda, cerdas dan kami tidak menuduhmu (berbuat dusta), kamu dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah, maka sekarang telitilah al-Qur’an itu dan kumpulkanlah ia (Al-Quran itu) [HR. Bukhari].

    Bagaimana seorang pemuda diberi amanah besar untuk mengumpulkan Al-Quran yang pada saat itu masih tercerai berai dalam catatan banyak sahabat, dalam bentuk catatan yang bervariasi. Dan ditangan Zaid bin Tsabit ini lah Al-Quran dalam bentuk mushaf terkumpul dan disahihkan oleh para sahabat.

    Pemuda juga harus mengambil peran pada saat diberikan kesempatan, karena pada saat itu karakter dan tekad dibina, dan bagaimana alasan-alasan untuk dikalahkan oleh kuatnya tekad dan tanggung jawab yang terbina. Ibnu Mas’ud bercerita bagaimana beliau bersama para sahabat-sahabat yang masih muda umurnya diajak untuk menguatkan tekad dalam jihad yang riil, berhadapan dengan kematian selagi menjaga niat lillahi taala, satu pengalaman besar yang kemudian mengantarkan para sahabat-sahabat muda ini menjadi pondasi Islam dimasa kemudian.

    عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا نَغْزُوْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَابٌ

    Dari Ibnu Mas’ud RA berkata, “Kami ikut berperang bersama Rasulullah padahal saat itu kami masih muda [HR. Ahmad]

    Dari uraian diatas dapat diambil ibrah, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita jadikan pelajaran:

    1. Idealisme adalah hal yang paling berharga dimiliki oleh pemuda,
    2. Integritas adalah satu karakter unggul yang menjadi pembeda. Integritas dapat dibina dari konsistensi terhadap idealisme yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran.
    3. Masa muda adalah masa tepat yang belajar bersama-sama berpartisipasi dalam upaya melakukan kebaikan dan kebenaran dalam kegiatan-kegiatan yang bernilai positif dan menginpirasi. Sekiranya disaat muda sudah terbina pondasi yang kuat, tentunya kita berharap dimasa yang akan datang ada lebih banyak kebaikan yang datang dan terbangun dari hal-hal tersebut, biidznillah.

    Semoga bermanfaat.

  • Muhasabah Diri (121): Ilmu Yang Menyelamatkan

    Muhasabah Diri (121): Ilmu Yang Menyelamatkan

    Perlu kita ketahui, bahwa kebaikan yang bersumber dari perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya akan mengantarkan pelakunya pada kebahagian dunia dan akhirat. Begitu juga mengikuti alur untuk apa syariat diturunkan, karena syariat itu sendiri buat kemaslahatan umat manusia. Untuk memahaminya mengilmui tentang itu adalah kuncinya. Ilmu akan mengantarkan kepada keselamatan dan kebodohan akan menggelincirkan kejalan yang salah.

    Penentangan yang dilakukan sebagian kaum Quraisy terhadap dakwah Rasullullah Saw adalah bentuk ketidaktahuan mereka. Apa yang terjadi disaat ilmu sampai ke mereka?. Disaat itulah terjadi pergulatan keyakinan di diri mereka. Sedikit demi sedikit cahaya iman mewarnai qalbu dan hidayahpun mengajak lisan mereka bersyahadat. Subhanallah, indahnya kebenaran jadi topik perbincangan masyarakat sekitar Ummul Quro. Cahaya petunjukpun menjalar dari satu pribadi ke pribadi lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya. Cahaya petunjukpun menyinari masyarakat Makkah. Begitu dahsyat…karena umat sudah jenuh dan muak dengan tradisi kebodohan. Meskipun perseteruan masih saja terjadi. Kebenaran ilmu dan kebatilan sampaikan kapanpun akan tetap bertentangan.

    Sahabat…
    Kelelahan dalam mencari ilmu yang benar akan mengantakarkan kepada kebahagiaan. Menjemputnya akan mendatangkan hidayah. Kondisi masyarakat jahiliah yang dulu mereka adalah para penentang, tapi dalam Islam berbalik arah menjadi penyeru dan pengajak kebaikan. Indah memang, jika nuansa ilmu sudah mewarnai berbagai aktivitas. Apalagi setelah hijrah ke Madinah, suasana tatanan masyarakat madanipun tercipta. Saling menghargai, menyantuni bahkan jadi sampel tasamuh yang sebenarnya pun terjadi. Bagi yang merasakan gelapnya kebodohan akan tahu bahwa ilmu itu cahaya yang akan menerangi kehidupannya.

  • Muhasabah Diri (120): Kemana Ilmu Kita Bermuara?

    Muhasabah Diri (120): Kemana Ilmu Kita Bermuara?

    Disaat pandangan kita dilayangkan, banyak terlihat bukti-bukti kekuasaan Ar-Rahman. Disaat keangkuhan hati ditundukan, amat terasa kelembutan Ar-Rahim. Manusia amatlah lemah didepan kekuasaan Al-Qadir. Tidak pantas berlagak sombong, sampai-sampai menyebut hasil karya manusia dengan ungkapan tak pantas disematkan padanya. Dulu ada fenomena Titanic yang secara bahasa berarti raksasa perkasa. Tak mampu mengahadapi keperkasaan Yang Maha Perkasa, karam dilautan lepas. Selanjutnya pesawat ulang alik NASA yang dinamai Chalenger yang berarti penantang, hancur berkeping-keping yang terjadi akhir Januari 1986. Manusia amatlah lemah dengan keterbatasan ilmu dan tidak layak disandingkan dengan ilmu-Nya Yang Maha Aliim.

    Para ulama dan ilmuwan senantiasa berikhtiar untuk memaksimalkan karya-karya mereka. Memperbaiki, momoles kekurangan konsep sebelumnya untuk tampil lebih baik. Keberhasilan mereka sudah banyak tercatat dalam lembaran-lembaran buku yang ada di berbagai perpustakaan. Berbagai rekaya keilmuan, eksperimen pengembangan teori-teori baru dilakukan agar muncul nuansa baru dan kebaruan dalam dunia ilmu pengetahuan. Hari ini kita saksikan kemajuan teknologi, yang beberapa dasawarsa yang lalu hanya berupa khayalan yang hari ini nyata bukti eksperimen ilmu manusia berkembang dan berubah. Yang perlu dipertanyakan adalah, apakah semua ini kebaikan bagi manusia? Perlu dikaji dan direnungi, ilmu apakah yang jadi pahala jariah sebagaimana disebut hadits nabi?.

    عَنْ اَبي هُـرَيْـرَةَ رَضِـَي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذاَ ماَتَ ابْنُ اٰدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَث: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَه

    Artinya: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak cucu Adam telah mati, terputuslah amalannya kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya”. (HR Muslim)

    Ilmu pengetahuan perkembangannya amatlah dahsyat, pertanda manusia memaksimalkan potensi intelektualitasnya dibidang ini. Kemajuan ilmu tetap saja ada sisi-sisi baik dan buruknya. Akan baik bila dikelola oleh pribadi-pribadi shalih dan mushlih sekalian. Umat Islam hari ini banyak yang berkecimpung diseputar keshalihan pribadi tapi minim dalam berbuat untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Akhirnya kita tertinggal dilandasan impian yang tak terwujud. Dilemanya jika kemajuan ilmu pengetahuan dipegang kendalinya oleh pribadi-pribadi yang tidak baik bisa jadi kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar.

    Sahabat…
    Semua yang kita lakukan berawal dari ilmu yang kita ketahui. Semuanya akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak. Apakah ilmu kita mengantarkan kita ke sorga-Nya?. Atau malah menjadikan kita melarat di neraka yang penuh dengan siksaan… Bermuara hanya pada dua pilihan, sorga atau neraka. Jadi kitalah yang berikhtiar untuk itu.

  • Muhasabah Diri (119): Manusia Memusuhi Apa Yang Dia Tidak Tahu

    Muhasabah Diri (119): Manusia Memusuhi Apa Yang Dia Tidak Tahu

    Proses adalah hal yang amat penting dalam pencarian ilmu. Sosok pembelajar jarang berhenti sebelum apa yang dia cari didapati. Pantang baginya berleha-leha jika belum sampai ke tujuan. Menuntut ilmu tidak kenal masa pensiun. Sepanjang hayat adalah waktu untuk mencari ilmu. Salah seorang tabiin Sa’id bin Jubair rahimahullah, berkata:

    (لاَ يَزَالُ الرُّجُلُ عَالماً مَا طَلَبَ العِلْمَ ، فَإِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ)

    Artinya: “Seseorang masih dikatakan alim selama ia menuntut ilmu, dan jika ia merasa telah berilmu maka ia adalah bodoh.” (Tadzkirat As-Sami’ wa Al-Mutakallim)

    Kesungguhan akan mendatangkan kegigihan. Kegigihan akan menghasilkan ketangguhan. Sungguh, gigih, tangguh jadi motto bagi mereka yang menghendaki kejayaan peradaban yang berbasis ilmu. Sungguh mulia para penebar ilmu. Betapa banyak yang diperbuat dengan ilmu. Tapi sebaliknya dibalik geliat ilmu ada juga yang hanya bisa menilai dengan paradigma sempit yang bersumber jangkauan ilmu yang yang terbatas. Bak katak dalam tempurung, senang menilai orang lain dengan kacamata pribadi. Sejarah mengabadikan betapa besarnya buih yang menghadang Rasulullah Saw dan para sahabat. Pertentangan, pemboikotan bahkan pembunuhan, tapi semuanya dihadapi generasi yang unik ini dengan keteguhan hati demi menebarkan kebenaran sejati. Bahkan Rasulullah Saw mendoakan mereka dengan kebaikan ilmu.

    اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون

    Artinya: “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui”. (HR. Baihaqi)

    Secara makna hadits ini benar, meskipun ada pandangan ulama hadits ini lemah, sirah Rasulullah Saw juga menggambarkan bagaimana harapan beliau kepada penentangnya agar dapat hidayah. Hidayah harus dijemput dengan ilmu, karena ketidak tahuan akan senantiasa menentang kebenaran.

    Semoga kita selalu terjaga dari sifat menentang kebenaran. Dan senantiasa Istiqomah dijalan ini…

  • Muhasabah Diri (118): Merasa Kerdil Dengan Ilmunya

    Muhasabah Diri (118): Merasa Kerdil Dengan Ilmunya

    Tidak semua yang kita inginkan berarti baik buat kita. Begitu juga sebaliknya, tidak semua yang baik kita jadikan tujuan hidup. Menuntut ilmu adalah kebaikan. Tapi tidak semua kita mencarinya. Berbagi ilmu adalah kebaikan, tapi juga tidak semua kita melakukannya. Kadang-kadang kita pelit dengan kebaikan, boros dengan keburukan. Bahkan ada yang bangga dengan maksiat yang dilakukan. Sampai-sampai ada yang pamer maksiat melalui media yang mampu dia bayar. Padahal kebanggaan seperti itu hanyalah sesaat dan diakhirat penyesalan yang didapati jika tidak bertaubat sebelum ajal datang mendekat.

    Yang berjibaku berbagi kebaikan tetap ada. Pewaris ilmunya nabi, senantiasa introspeksi diri. Berbagi ilmu bagi mereka adalah tradisi. Suatu saat kebiasaan ini terkikis sedikit demi sedikit pertanda dunia sudah diujung waktu. Ilmu eemakin dibagi, semakin terasa bahwa manusia hanyalah buih diatas samudera lepas. Bahkan tidak ada apa-apanya… Kecil, kerdil tidak patut ada secuil kebanggan dan keangkuhan dihadapan kekuasaan Yang Maha Rahman.

    Siang hari menebar kebaikan dengan menghiasi jatah usia mereka dengan berbagi aktivitas kebaikan. Malam hari diisi dengan muhasabah dan istighfar, segala sesuatunya atas kehendak Allah SWT. Selayaknya begitulah yang dilakukan para pewaris nabi. Semakin berilmu, semakin tunduk dan takut pada Allah SWT.

    إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

    Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

    Tetap produktif dalam menghiasi perjalan waktu, itulah motto para pewaris nabi. Mengaukui manusia adalah kecil didepan samudera ilmu yang luas…

  • Muhasabah Diri (118): Merasa Kerdil Dengan Ilmunya

    Muhasabah Diri (118): Merasa Kerdil Dengan Ilmunya

    Tidak semua yang kita inginkan berarti baik buat kita. Begitu juga sebaliknya, tidak semua yang baik kita jadikan tujuan hidup. Menuntut ilmu adalah kebaikan. Tapi tidak semua kita mencarinya. Berbagi ilmu adalah kebaikan, tapi juga tidak semua kita melakukannya. Kadang-kadang kita pelit dengan kebaikan, boros dengan keburukan. Bahkan ada yang bangga dengan maksiat yang dilakukan. Sampai-sampai ada yang pamer maksiat melalui media yang mampu dia bayar. Padahal kebanggaan seperti itu hanyalah sesaat dan diakhirat penyesalan yang didapati jika tidak bertaubat sebelum ajal datang mendekat.

    Yang berjibaku berbagi kebaikan tetap ada. Pewaris ilmunya nabi, senantiasa introspeksi diri. Berbagi ilmu bagi mereka adalah tradisi. Suatu saat kebiasaan ini terkikis sedikit demi sedikit pertanda dunia sudah diujung waktu. Ilmu eemakin dibagi, semakin terasa bahwa manusia hanyalah buih diatas samudera lepas. Bahkan tidak ada apa-apanya… Kecil, kerdil tidak patut ada secuil kebanggan dan keangkuhan dihadapan kekuasaan Yang Maha Rahman.

    Siang hari menebar kebaikan dengan menghiasi jatah usia mereka dengan berbagi aktivitas kebaikan. Malam hari diisi dengan muhasabah dan istighfar, segala sesuatunya atas kehendak Allah SWT. Selayaknya begitulah yang dilakukan para pewaris nabi. Semakin berilmu, semakin tunduk dan takut pada Allah SWT.

    إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

    Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

    Tetap produktif dalam menghiasi perjalan waktu, itulah motto para pewaris nabi. Mengaukui manusia adalah kecil didepan samudera ilmu yang luas…

  • Muhasabah Diri (117): Aksesori Yang Menipu

    Muhasabah Diri (117): Aksesori Yang Menipu

    Beragama menurut sebagian orang tidaklah penting, sehingga aktivitas kearah itu hampir tidak mewarnai hidupnya. Tapi ada momen-momen tertentu, agama dia cari. Saat ada kematian, saat ada musibah… Begitulah manusia, sadar disaat ada kesempitan, lupa diri disaat ada kesempatan. Menagis disaat diberi ujian, ketawa disaat mendapatkan pujian. Seseorang yang sadar akan hakikat agama, upaya mencarinya jadi agenda utama. Tapi para abdi dunia, akan selalu menghindar untuk mempelajarinya. Tipe manakah kita?. Kita sendiri yang menentukan.

    Bagi orang tua, pendidikan anak tentulah utama. Demi mengharapkan masa depan cerah, berbagai jalan ditempuh, termasuk mencari ilmu buat jaminan hidup nyaman dan sejahtera. Bahkan tidak sedikit orang tua berkerja membanting tulang buat kesuksesan buah hatinya kelak. Alangkah bangganya disaat menyaksikan keberhasilan buah hatinya dalam dunia akademis dan dunia kerja. Tamat dari sekolah dan kampus mentereng, dan bekerja di perusahaan bergengsi dengan gaji lumayan buat hidup dan segenap tuntutan kekinian. Rumah mewah dengan berbagai fasilitas menakjubkan jadi kebanggaan.

    Sahabat…
    Hidup mapan tentu banyak manfaatnya. Kekayaan tentulah banyak membantu kemudahan hidup. Tapi perlu diingat, jika hal itu didapati tanpa mengindahkan agama, suatu saat malah jadi beban berat di mahkamah Ilahi. Mengenyampingkan persoalan rohani hanya akan mempersulit diri pada waktu tidak akan bermanfaat harta maupun anak keturunan. Fatamorgana keindahan sesaat yang menipu, berakhir dengan kesengsaraan tanpa ujung.

    Bagi seorang muslim, selayaknya harta kekayaan, begitu juga anak keturunan jadi pemberat timbangan kebaikan dan investasi pahala diakhirat kelak. Sehingga kenikmatan di dunia dan akhirat sama-sama didapat.

  • Muhasabah Diri (116): Perlombaan Itu Kian Terasa Asing

    Muhasabah Diri (116): Perlombaan Itu Kian Terasa Asing

    Hidup hakikatnya adalah ladang amal, kesempatan mengumpulkan bekal untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang nanti bermuara pada kenikmatan atau kesengsaraan. Sekaranglah kesempatan untuk menentukannya. Dalam mencari bekal perjalanan, kadang-kadang dilakukan secara bersama-sama dan kadang-kadang sendiri-sendiri, meskipun demikian hasil dan pertanggungjawabannya tetap bersifat individual. Di dunia kita masih saling mengelak untuk melakukan kebaikan, tapi diakhirat adalah penyesalan.

    Tanpa ilmu bisa jadi bekal yang kita cari akan sia-sia. Bekal itu sudah diwariskan oleh Rasulullah Saw untuk umatnya. Itulah yang kita buru hari ini. Berbagai sarana kita manfaatkan untuk mengais ilmunya Rasulullah Saw melalui ulama para pewaris nabi. Dengan ilmu itulah kita menegaskan identitas diri kita sebagai muslim. Tanpa itu kehidupan kita sama dengan kebanyakan orang, sia-sia umur kita. Penyesalan yang berkepanjangan akan diperoleh diakhirat kelak.

    Keberadaan para ulama semakin hari semakin berkurang pertanda dunia sudah tua dan keberkahan ilmu semakin menipis. Fenomena kebodohan banyak dipamerkan, bahkan hari ini sudah mulai terjadi seseorang tidak kenal lagi dengan tuntutan agamanya. Agama hanya dianggap identitas diatas selembar kertas, bukan sebagai titik tolak beraktivitas. Menampilkan pribadi yang beragama hari ini dianggap aneh dan akan terasing dimata kebanyakan orang. Inilah sebuah gambaran yang pernah diungkapkan Rasulullah Saw terhadap umat terakhir ini.

    بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

    Artinya: “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim).

    Semangat perlombaan untuk kebaikan hari ini sudah mulai memudar. Kebaikan akan buram dimata para budak dunia. Buruk dan menyesakan bagi mereka yang akrab dengan maksiat.

    Sahabat…
    Istiqomah ditengah keterasingan memang berat. Tapi itulah jalan keberuntungan…
    فطوبى للغربى

  • Muhasabah Diri (115): Tantangan Ilmu, Jangan Disia-Siakan

    Muhasabah Diri (115): Tantangan Ilmu, Jangan Disia-Siakan

    Belajar adalah kebutuhan setiap orang yang menginginkan perubahan. Tapi tidak sedikit juga yang merasakan bahwa belajar adalah beban. Bagi si pembelajar, ada kepuasan sendiri disetiap melalui pase-pase pembelajaran. Juga ada yang merasa tertekan disaat menghadapinya. Ilmu amatlah luas ranahnya, tidak semua orang leluasa meraihnya. Tidak banyak orang yang mampu menguasai banyak bidang ilmu, yang banyak adalah pakar di bidang tertentu.

    Disaat ilmu sudah dapat diraih. Ada saatnya buat mengamalkannya, mengembangkannya agar terpakai untuk waktu selanjutnya. Begitulah ilmu, tidak boleh didiamkan. Sejarah memberitahu bahwa ulama terdahulu amat perhatian dengan ilmu. Disaat mereka menguasai konsep ilmu tertentu, pantang bagi mereka untuk tidak mengembangkannya. Mereka lakukan itu, karena yang namanya temuan ilmu pengetahuan berubah-ubah. Jadi jika tidak mengikuti karakter ilmu kita akan ketinggalan. Sebagai contoh perkembangan ilmu pengetahuan sangat membantu kita dalam memahami Al-Qur’an. Memahami makna ungkapan Al-Qur’an secara konvensional bukanlah solusi. Kata ذرة dalam Al-Qur’an tidak sama artinya dalam pandangan ulama.

    وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

    Artinya: Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus: 61)

    Pemahaman para ulama terhadap kata zarrah/ ذرة berkembang dan berubah-ubah, ada yang memaknai semut kecil yang kemerah-merahan, juga ada yang melihat bahwa zarrah adalah debu. Juga ada yang mengartikan biji sawi dan biji bayam. Terakhir juga ada yang memaknai atom. Ilmu menuntut kita untuk selalu mengkaji. Ayat-ayat Al-Qur’an tentu tidak akan berubah, karakter ilmulah yang senantiasa berubah-ubah. Banyak contoh-contoh lain dalam Al-Qur’an terkhusus tentang ayat-ayat yang berbicara tentang ilmu pengetahuan. Ada kata الطارق, apakah artinya bintang yang muncul di malam hari saja? Atau jenis bintang yang ada mengeluarkan bunyi? Karena kata الطارق makna asal katanya dan kata bentukan derivasinya ada kandungan unsur bunyi disitu disitu. Ibarat seorang mengetuk pintu الطارق ada unsur bunyinya. Atau مطرقة palu juga ada unsur bunyinya. الطريق jalan ada unsur bunyi pejalan kaki. Terakhir ilmuwan antariksa juga ada menemukan fenomena jenis bintang yang berbunyi yang mereka sebut bintang Pulsar.

    وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ، النَّجْمُ الثَّاقِبُ

    Artinya: 1. Demi langit dan bintang Thariq, 2. tahukah kamu apakah Thariq itu? 3. (yaitu) bintang yang cahayanya menembus.(QS. At-Thariq: 1-3)

    Sahabat…
    Menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan, tantangan buat kita bahwa sebagai bentuk amanah ilmiah tentu ikut ikuti juga perkembangannya. Disatu sisi akan ditemukan keunikan dan kemukjkzatan al-Qur’an dan tantangan buat kita bahwa ada celah buat kita menampilkan keunikan Al-Qur’an…

  • Muhasabah Diri (114): Hal-Hal Yang Mesti Diketahui

    Muhasabah Diri (114): Hal-Hal Yang Mesti Diketahui

    Pernahkan kita mempertanyakan bahwa amalan yang kita lakukan dalam keseharian ini sudah benar?. Benar tidaknya sebuah amalan tentu ada patokannya, apalagi amalan yang berhubungan dengan ibadah mahdhah yang tatacaranya diatur sedemikian rupa dalam aturan syariat. Manusia makhluk mulia yang diciptakan Allah SWT banyak menjalankan peran yang akan ditunaikan. Sebagai makhluk sosial ada tuntutan kewajiban yang harus ditunaikan dan sebagai imbalannya ada hak yang akan diperolehnya. Begitu juga sebagai pribadi muslim, ada tuntutan amalan yang harus dikerjakan sebagai konsekwensi keislaman seseorang. Ada juga tuntutan keimanan yang merupakan pembeda kualitas seseorang dihadapkan Khaliqnya.

    Ada batas-batas minimal yang seharusnya diketahui oleh seorang muslim. Menyedihkan, jika seorang muslim tidak tahu hakikat penciptaannya untuk apa?.

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

    Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (QS: Az-Zariat:56)

    Sebagai pribadi muslim, dia harus tahu, apa saja amalan yang tidak boleh ditinggalkan sebagai muslim yang beriman pada Allah SWT. Tapi kenyataannya betapa banyak diantara umat Islam tidak tahu bagaimana cara shalat, tidak tahu seluk beluk zakat. Bahkan ada yang tidak kenal bagaimana seharusnya berpuasa dibulan Ramadhan, haji dan lain sebagainya. Satu persatu, ilmu tentang bagaimana menjadi seorang muslim mulai pudar dalam kehidupan kita. Banyak yang tidak risih dengan fenomena muslim tapi tidak islami. Kadang-kadang warna pembeda muslim sebenarnya dan muslim yang hanya identitas di selembar kertas hampir tidak kelihatan lagi.

    Dengan perjalanan waktu yang dilalui, krisis identitas semakin marak terjadi dikalangan generasi muslim. Keberhasilan brain washing, cuci otak yang diarahkan kepada meraka semakin menjadi-jadi. Target awal pelaku perang identitas memang tidak langsung terang-terangan memurtadkan generasi muda muslim, tapi langkah awal bagaimana menjadikan mereka generasi yang pudar identitas keislamannya. Itu yang jadi target awal. Jika itu sudah terjadi, langkah berikutnya akan mudah mereka tempuh. Ujung-ujungnya tanpa disadari seseorang semakin tidak jelas lagi untuk apa dia hidup, apa saja yang mesti dilakukan. Hilang patokan, hilang arah dan terakhir hilang identitas. Itulah yang terjadi…

    Sahabat…
    Yang bisa menyelamatkan kita nanti diakhirat adalah kondisi keberislaman kita didunia secara benar, tidak asal-asalan, jelas tujuannya yaitu keridhaan Allah SWT.

  • Muhasabah Diri (113): Bertanyalah Kepada Ahlinya

    Muhasabah Diri (113): Bertanyalah Kepada Ahlinya

    Sukses, adalah satu kata yang banyak manusia mengidamkannya. Bahkan kata itu sering jadi patokan luasnya pertemanan. Pada masyarakat yang senang merantau, berat hati untuk balik ke kampung halaman sebelum dapat meraih kesuksesan. Rata-rata ukuran kesuksesan yang kita temui masih bernuansa duniawi. Perlu diketahui bahwa kebahagiaan yang tidak ada kesedihan setelahnya adakah kesuksesan di akhirat. Harapan itu sering terucap dalam doa-doa kita.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

    Termasuk hal yang wajar jika kita tetap berikhtiar mencari yang terbaik. Dalam Islam permasalahan tetap ada solusinya. Dermawannya orang-orang kaya, kemudahan buat kaum faqir miskin. Disaat kebuntuan terhadap permasalahan ilmu, maka para ulamalah dan ahli ilmulah yang dicari sebagai jawaban. Jika suatu ditanyakan bukan pada ahlinya bisa jadi hanya akan memperumit permasalahan.

    {وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43]

    Artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (QS. An Nahl: 43)

    Betapa banyak sudah, peristiwa terjadi gara-gara solusi yang tidak tepat. Menyerahkan sesuatu yang bukan ahlinya adalah musibah. Isyarat dalam Islam sudah jelas, tanyalah kepada ahlinya dan serahkanlah sesuatu pada pakarnya.