Muhasabah Diri (120): Kemana Ilmu Kita Bermuara?

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Disaat pandangan kita dilayangkan, banyak terlihat bukti-bukti kekuasaan Ar-Rahman. Disaat keangkuhan hati ditundukan, amat terasa kelembutan Ar-Rahim. Manusia amatlah lemah didepan kekuasaan Al-Qadir. Tidak pantas berlagak sombong, sampai-sampai menyebut hasil karya manusia dengan ungkapan tak pantas disematkan padanya. Dulu ada fenomena Titanic yang secara bahasa berarti raksasa perkasa. Tak mampu mengahadapi keperkasaan Yang Maha Perkasa, karam dilautan lepas. Selanjutnya pesawat ulang alik NASA yang dinamai Chalenger yang berarti penantang, hancur berkeping-keping yang terjadi akhir Januari 1986. Manusia amatlah lemah dengan keterbatasan ilmu dan tidak layak disandingkan dengan ilmu-Nya Yang Maha Aliim.

Para ulama dan ilmuwan senantiasa berikhtiar untuk memaksimalkan karya-karya mereka. Memperbaiki, momoles kekurangan konsep sebelumnya untuk tampil lebih baik. Keberhasilan mereka sudah banyak tercatat dalam lembaran-lembaran buku yang ada di berbagai perpustakaan. Berbagai rekaya keilmuan, eksperimen pengembangan teori-teori baru dilakukan agar muncul nuansa baru dan kebaruan dalam dunia ilmu pengetahuan. Hari ini kita saksikan kemajuan teknologi, yang beberapa dasawarsa yang lalu hanya berupa khayalan yang hari ini nyata bukti eksperimen ilmu manusia berkembang dan berubah. Yang perlu dipertanyakan adalah, apakah semua ini kebaikan bagi manusia? Perlu dikaji dan direnungi, ilmu apakah yang jadi pahala jariah sebagaimana disebut hadits nabi?.

عَنْ اَبي هُـرَيْـرَةَ رَضِـَي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذاَ ماَتَ ابْنُ اٰدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَث: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَه

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak cucu Adam telah mati, terputuslah amalannya kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya”. (HR Muslim)

Ilmu pengetahuan perkembangannya amatlah dahsyat, pertanda manusia memaksimalkan potensi intelektualitasnya dibidang ini. Kemajuan ilmu tetap saja ada sisi-sisi baik dan buruknya. Akan baik bila dikelola oleh pribadi-pribadi shalih dan mushlih sekalian. Umat Islam hari ini banyak yang berkecimpung diseputar keshalihan pribadi tapi minim dalam berbuat untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Akhirnya kita tertinggal dilandasan impian yang tak terwujud. Dilemanya jika kemajuan ilmu pengetahuan dipegang kendalinya oleh pribadi-pribadi yang tidak baik bisa jadi kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar.

Sahabat…
Semua yang kita lakukan berawal dari ilmu yang kita ketahui. Semuanya akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak. Apakah ilmu kita mengantarkan kita ke sorga-Nya?. Atau malah menjadikan kita melarat di neraka yang penuh dengan siksaan… Bermuara hanya pada dua pilihan, sorga atau neraka. Jadi kitalah yang berikhtiar untuk itu.