Muhasabah Diri (113): Bertanyalah Kepada Ahlinya

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Sukses, adalah satu kata yang banyak manusia mengidamkannya. Bahkan kata itu sering jadi patokan luasnya pertemanan. Pada masyarakat yang senang merantau, berat hati untuk balik ke kampung halaman sebelum dapat meraih kesuksesan. Rata-rata ukuran kesuksesan yang kita temui masih bernuansa duniawi. Perlu diketahui bahwa kebahagiaan yang tidak ada kesedihan setelahnya adakah kesuksesan di akhirat. Harapan itu sering terucap dalam doa-doa kita.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Termasuk hal yang wajar jika kita tetap berikhtiar mencari yang terbaik. Dalam Islam permasalahan tetap ada solusinya. Dermawannya orang-orang kaya, kemudahan buat kaum faqir miskin. Disaat kebuntuan terhadap permasalahan ilmu, maka para ulamalah dan ahli ilmulah yang dicari sebagai jawaban. Jika suatu ditanyakan bukan pada ahlinya bisa jadi hanya akan memperumit permasalahan.

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43]

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (QS. An Nahl: 43)

Betapa banyak sudah, peristiwa terjadi gara-gara solusi yang tidak tepat. Menyerahkan sesuatu yang bukan ahlinya adalah musibah. Isyarat dalam Islam sudah jelas, tanyalah kepada ahlinya dan serahkanlah sesuatu pada pakarnya.