Muhasabah Diri (117): Aksesori Yang Menipu

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Beragama menurut sebagian orang tidaklah penting, sehingga aktivitas kearah itu hampir tidak mewarnai hidupnya. Tapi ada momen-momen tertentu, agama dia cari. Saat ada kematian, saat ada musibah… Begitulah manusia, sadar disaat ada kesempitan, lupa diri disaat ada kesempatan. Menagis disaat diberi ujian, ketawa disaat mendapatkan pujian. Seseorang yang sadar akan hakikat agama, upaya mencarinya jadi agenda utama. Tapi para abdi dunia, akan selalu menghindar untuk mempelajarinya. Tipe manakah kita?. Kita sendiri yang menentukan.

Bagi orang tua, pendidikan anak tentulah utama. Demi mengharapkan masa depan cerah, berbagai jalan ditempuh, termasuk mencari ilmu buat jaminan hidup nyaman dan sejahtera. Bahkan tidak sedikit orang tua berkerja membanting tulang buat kesuksesan buah hatinya kelak. Alangkah bangganya disaat menyaksikan keberhasilan buah hatinya dalam dunia akademis dan dunia kerja. Tamat dari sekolah dan kampus mentereng, dan bekerja di perusahaan bergengsi dengan gaji lumayan buat hidup dan segenap tuntutan kekinian. Rumah mewah dengan berbagai fasilitas menakjubkan jadi kebanggaan.

Sahabat…
Hidup mapan tentu banyak manfaatnya. Kekayaan tentulah banyak membantu kemudahan hidup. Tapi perlu diingat, jika hal itu didapati tanpa mengindahkan agama, suatu saat malah jadi beban berat di mahkamah Ilahi. Mengenyampingkan persoalan rohani hanya akan mempersulit diri pada waktu tidak akan bermanfaat harta maupun anak keturunan. Fatamorgana keindahan sesaat yang menipu, berakhir dengan kesengsaraan tanpa ujung.

Bagi seorang muslim, selayaknya harta kekayaan, begitu juga anak keturunan jadi pemberat timbangan kebaikan dan investasi pahala diakhirat kelak. Sehingga kenikmatan di dunia dan akhirat sama-sama didapat.