Muhasabah Diri (118): Merasa Kerdil Dengan Ilmunya

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Tidak semua yang kita inginkan berarti baik buat kita. Begitu juga sebaliknya, tidak semua yang baik kita jadikan tujuan hidup. Menuntut ilmu adalah kebaikan. Tapi tidak semua kita mencarinya. Berbagi ilmu adalah kebaikan, tapi juga tidak semua kita melakukannya. Kadang-kadang kita pelit dengan kebaikan, boros dengan keburukan. Bahkan ada yang bangga dengan maksiat yang dilakukan. Sampai-sampai ada yang pamer maksiat melalui media yang mampu dia bayar. Padahal kebanggaan seperti itu hanyalah sesaat dan diakhirat penyesalan yang didapati jika tidak bertaubat sebelum ajal datang mendekat.

Yang berjibaku berbagi kebaikan tetap ada. Pewaris ilmunya nabi, senantiasa introspeksi diri. Berbagi ilmu bagi mereka adalah tradisi. Suatu saat kebiasaan ini terkikis sedikit demi sedikit pertanda dunia sudah diujung waktu. Ilmu eemakin dibagi, semakin terasa bahwa manusia hanyalah buih diatas samudera lepas. Bahkan tidak ada apa-apanya… Kecil, kerdil tidak patut ada secuil kebanggan dan keangkuhan dihadapan kekuasaan Yang Maha Rahman.

Siang hari menebar kebaikan dengan menghiasi jatah usia mereka dengan berbagi aktivitas kebaikan. Malam hari diisi dengan muhasabah dan istighfar, segala sesuatunya atas kehendak Allah SWT. Selayaknya begitulah yang dilakukan para pewaris nabi. Semakin berilmu, semakin tunduk dan takut pada Allah SWT.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

Tetap produktif dalam menghiasi perjalan waktu, itulah motto para pewaris nabi. Mengaukui manusia adalah kecil didepan samudera ilmu yang luas…