landscape fashion man love

Selagi Muda (1): Kuatkan Integritas Perkaya Pengalaman

Abdullah A Afifi

Ketua Yayasan Darulfunun El Abbasiyah. Pimpinan PP Perguruan Darul Funun El Abbasiyah. Peneliti Utama IDRIS. Kordinator Relawan Aamil Penggerak.

Diantara kelebihan dari karakter pemuda adalah idealisme, melihat sesuatu secara ideal. Namun dibalik itu juga terdapat kelemahan dari sisi kontekstual atau pengalaman, sehingga kesempatan untuk mengetes idealisme adalah pengalaman yang sangat berharga. Bertolak belakang dengan pemuda, untuk karakter yang mereka yang cukup berumur adalah pengalaman, sehingga hilangnya kesempatan untuk memiliki idealisme dalam masa muda akan terlihat bagaimana terlalu kontekstualnya di masa muda, atau dengan bahasa sederhana mengikuti kemana angin bertiup.

Idealisme yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran harus terus diasah dan menjadi satu karakter integritas yang memang nampak dari seseorang. Nabi SAW memberikan satu nasihat yang sangat baik tentang pemuda yang berintegritas:

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah [HR. Ahmad].

* shobwah adalah kecenderungan untuk berniat/berlaku buruk

Dalam satu kondisi lain, sahabat yang pada saat itu diamanahi menjadi Khalifah, Abu Bakar RA, menilai pemuda juga dari idealisme kejujuran. Bagaimana integritas menjadi penilai tinggi setelah memiliki kemampuan yang terkualifikasi untuk urusan tertentu.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ –وَعِنْدَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ- لِزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ : إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لاَنَتَّهِمُكَ، وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ

Abu Bakr RA mengatakan kepada Zaid bin Tsabit saat itu Umar bin Khatthab RAu anhu berada diantara mereka, “Sesungguhnya kamu laki-laki yang masih muda, cerdas dan kami tidak menuduhmu (berbuat dusta), kamu dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah, maka sekarang telitilah al-Qur’an itu dan kumpulkanlah ia (Al-Quran itu) [HR. Bukhari].

Bagaimana seorang pemuda diberi amanah besar untuk mengumpulkan Al-Quran yang pada saat itu masih tercerai berai dalam catatan banyak sahabat, dalam bentuk catatan yang bervariasi. Dan ditangan Zaid bin Tsabit ini lah Al-Quran dalam bentuk mushaf terkumpul dan disahihkan oleh para sahabat.

Pemuda juga harus mengambil peran pada saat diberikan kesempatan, karena pada saat itu karakter dan tekad dibina, dan bagaimana alasan-alasan untuk dikalahkan oleh kuatnya tekad dan tanggung jawab yang terbina. Ibnu Mas’ud bercerita bagaimana beliau bersama para sahabat-sahabat yang masih muda umurnya diajak untuk menguatkan tekad dalam jihad yang riil, berhadapan dengan kematian selagi menjaga niat lillahi taala, satu pengalaman besar yang kemudian mengantarkan para sahabat-sahabat muda ini menjadi pondasi Islam dimasa kemudian.

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا نَغْزُوْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَابٌ

Dari Ibnu Mas’ud RA berkata, “Kami ikut berperang bersama Rasulullah padahal saat itu kami masih muda [HR. Ahmad]

Dari uraian diatas dapat diambil ibrah, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita jadikan pelajaran:

  1. Idealisme adalah hal yang paling berharga dimiliki oleh pemuda,
  2. Integritas adalah satu karakter unggul yang menjadi pembeda. Integritas dapat dibina dari konsistensi terhadap idealisme yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran.
  3. Masa muda adalah masa tepat yang belajar bersama-sama berpartisipasi dalam upaya melakukan kebaikan dan kebenaran dalam kegiatan-kegiatan yang bernilai positif dan menginpirasi. Sekiranya disaat muda sudah terbina pondasi yang kuat, tentunya kita berharap dimasa yang akan datang ada lebih banyak kebaikan yang datang dan terbangun dari hal-hal tersebut, biidznillah.

Semoga bermanfaat.