Muhasabah Diri (115): Tantangan Ilmu, Jangan Disia-Siakan

Dr Arman Husni

Assoc Prof Bahasa Arab IAIN Bukittinggi, Unsur Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, Dewan Pengawas Yayasan Darulfunun. (facebook)

Belajar adalah kebutuhan setiap orang yang menginginkan perubahan. Tapi tidak sedikit juga yang merasakan bahwa belajar adalah beban. Bagi si pembelajar, ada kepuasan sendiri disetiap melalui pase-pase pembelajaran. Juga ada yang merasa tertekan disaat menghadapinya. Ilmu amatlah luas ranahnya, tidak semua orang leluasa meraihnya. Tidak banyak orang yang mampu menguasai banyak bidang ilmu, yang banyak adalah pakar di bidang tertentu.

Disaat ilmu sudah dapat diraih. Ada saatnya buat mengamalkannya, mengembangkannya agar terpakai untuk waktu selanjutnya. Begitulah ilmu, tidak boleh didiamkan. Sejarah memberitahu bahwa ulama terdahulu amat perhatian dengan ilmu. Disaat mereka menguasai konsep ilmu tertentu, pantang bagi mereka untuk tidak mengembangkannya. Mereka lakukan itu, karena yang namanya temuan ilmu pengetahuan berubah-ubah. Jadi jika tidak mengikuti karakter ilmu kita akan ketinggalan. Sebagai contoh perkembangan ilmu pengetahuan sangat membantu kita dalam memahami Al-Qur’an. Memahami makna ungkapan Al-Qur’an secara konvensional bukanlah solusi. Kata ذرة dalam Al-Qur’an tidak sama artinya dalam pandangan ulama.

وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Artinya: Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus: 61)

Pemahaman para ulama terhadap kata zarrah/ ذرة berkembang dan berubah-ubah, ada yang memaknai semut kecil yang kemerah-merahan, juga ada yang melihat bahwa zarrah adalah debu. Juga ada yang mengartikan biji sawi dan biji bayam. Terakhir juga ada yang memaknai atom. Ilmu menuntut kita untuk selalu mengkaji. Ayat-ayat Al-Qur’an tentu tidak akan berubah, karakter ilmulah yang senantiasa berubah-ubah. Banyak contoh-contoh lain dalam Al-Qur’an terkhusus tentang ayat-ayat yang berbicara tentang ilmu pengetahuan. Ada kata الطارق, apakah artinya bintang yang muncul di malam hari saja? Atau jenis bintang yang ada mengeluarkan bunyi? Karena kata الطارق makna asal katanya dan kata bentukan derivasinya ada kandungan unsur bunyi disitu disitu. Ibarat seorang mengetuk pintu الطارق ada unsur bunyinya. Atau مطرقة palu juga ada unsur bunyinya. الطريق jalan ada unsur bunyi pejalan kaki. Terakhir ilmuwan antariksa juga ada menemukan fenomena jenis bintang yang berbunyi yang mereka sebut bintang Pulsar.

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ، النَّجْمُ الثَّاقِبُ

Artinya: 1. Demi langit dan bintang Thariq, 2. tahukah kamu apakah Thariq itu? 3. (yaitu) bintang yang cahayanya menembus.(QS. At-Thariq: 1-3)

Sahabat…
Menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan, tantangan buat kita bahwa sebagai bentuk amanah ilmiah tentu ikut ikuti juga perkembangannya. Disatu sisi akan ditemukan keunikan dan kemukjkzatan al-Qur’an dan tantangan buat kita bahwa ada celah buat kita menampilkan keunikan Al-Qur’an…