Ramadhan (14): Membangkitkan Jiwa yang Malas

Avatar photo

Abdullah A Afifi

⛊Bey Abdullah Tan Jabok Bio Aktifitas: https://arifabdullah.id | Telegram: https://t.me/beyabdullah

Bismillahirrahmanirrahim,

Selama satu bulan penuh, umat Islam menjalani puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, terkadang kita merasa malas dan kurang semangat dalam menghadapi berbagai ibadah di bulan suci ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membangkitkan jiwa yang malas agar kita dapat memanfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya. Kita tidak sedang bersaing dengan siapa-siapa, hanya diri kita yang lebih baik di masa yang akan datang.

Salah satu cara untuk membangkitkan jiwa yang malas di bulan Ramadhan adalah dengan memahami hikmah dan keutamaan puasa. Puasa tidak hanya membantu kita mendisiplinkan diri, tetapi juga menjernihkan hati dan pikiran. Semakin kita memahami tujuan dari puasa, semakin mudah bagi kita untuk mengatasi rasa malas dan menjalani ibadah dengan lebih optimal.

Tidak kalah pentingnya, menjaga kesehatan tubuh juga memiliki peran besar dalam membangkitkan jiwa yang malas. Menjaga kebugaran fisik dan pola tidur yang cukup merupakan kunci untuk menghindari kemalasan. Badan yang kurang tidur, penat akibat aktifitas yang berlebihan juga menyebabkan ketidaknyamanan dan seringnya membuat buntu fikiran. Mengonsumsi makanan yang cukup saat sahur dan berbuka puasa menjadi sangat penting, hindari makan terlalu kenyang yang menyebabkan badan harus bekerja lebih mengolah makanan dan memberikan efek mengantuk. Ketika tubuh kita sehat, jiwa pun akan lebih mudah untuk termotivasi untuk beraktifitas kreatif dan menjalani ibadah di bulan Ramadhan.

Membangun rutinitas dengan kegiatan yang positif dan berjangka waktu tertentu di bulan Ramadhan juga dapat membantu mengatasi rasa malas. Kegiatan seperti membaca Al-Qur’an, melakukan shalat tarawih, dan mengikuti pengajian dapat memberikan kita kekuatan spiritual yang akan memotivasi kita untuk lebih semangat dalam menjalani ibadah. Target bacaan, target hafalan, dan qiyamul lail dengan sesekali diselingi dengan beristirahat dan merenggangkan badan juga sangat membantu menghindari kebosanan dan aktifitas yang monoton.

Menciptakan lingkungan yang kondusif dan mendukung ibadah juga bisa membantu membangkitkan jiwa yang malas. Rancang suasana rumah atau lingkungan yang membuat kita merasa nyaman dan khusyuk dalam menjalani ibadah. Pastikan untuk menjauhkan diri dari gangguan yang bisa mengalihkan perhatian, seperti perangkat elektronik atau hiburan yang tidak mendukung.

Mendapatkan teman yang sefrekuensi atau keluarga yang juga memiliki semangat tinggi dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan dapat menjadi cara efektif untuk membangkitkan jiwa yang malas. Dengan saling mengingatkan dan mendukung satu sama lain, kita akan lebih mudah untuk menjalani ibadah dan menghadapi tantangan yang ada.

Rasa malas terkadang disebabkan oleh pikiran yang terlalu banyak memikirkan hal-hal duniawi. Oleh karena itu, cobalah untuk fokus pada amalan yang bernilai ibadah dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Membayangkan amalan dan kegiatan baik dengan ganjaran keduniaan akan sangat melelahkan, sehingga penting untuk menyandarkan amalan baik dengan niat lillahi ta’ala, supaya alam bawah sadar kita mengharapkan ganjaran pahala dari amalan tersebut. Dengan fikiran yang tidak lelah kita akan memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk menjalani ibadah di bulan Ramadhan.

Berdoa kepada Allah SWT juga merupakan cara yang ampuh untuk membangkitkan jiwa yang malas. Memohon pertolongan dan kekuatan dari-Nya agar kita bisa menjalani ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh semangat dan keikhlasan. Ingatlah bahwa Allah selalu ada untuk memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang meminta.

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas jalan-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

“Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami ragu (condong kepada kesesatan) sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran 3:8).

Memahami keterbatasan waktu dan betapa singkatnya Ramadhan, seperti yang kita sampaikan sebelumnya, dapat menjadi pendorong bagi kita untuk membangkitkan jiwa yang malas. Setiap tahun, kita hanya diberikan satu bulan penuh untuk meraih pahala yang berlipat ganda dan ampunan dari dosa-dosa kita. Oleh karena itu, menyadari tersedianya kesempatan ini dan mencoba berusaha untuk mengoptimalkan setiap momen yang ada adalah langkah bijak yang tidak akan kita sesali.

Selain itu, luangkan waktu untuk merenungi dan mengintrospeksi diri. Evaluasi keberhasilan dan kegagalan kita dalam menjalani ibadah di hari-hari sebelumnya. Dengan mengidentifikasi apa yang bisa diperbaiki, kita akan lebih mudah untuk mengatasi rasa malas dan memperbaiki diri demi meraih keutamaan di bulan Ramadhan.

Terakhir, jangan lupa untuk bersyukur atas kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Kesadaran akan nikmat ini akan membantu kita untuk lebih menghargai setiap momen yang ada dan berusaha sekuat tenaga untuk membangkitkan jiwa yang malas. Kesempatan ini mungkin tidak akan datang lagi hingga tahun depan, sehingga setiap detik yang kita lewati sangat berharga untuk meraih keberkahan di bulan suci ini.

Wallahu’alam