Author: Abdullah A Afifi

  • Haman, Qorun dan Bangsa Yahudi di Zaman Firaun

    Haman, Qorun dan Bangsa Yahudi di Zaman Firaun

    Bismillahirrahmanirrahim.

    Dalam lembaran sejarah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, terdapat kisah-kisah yang tidak hanya mengandung unsur historis tetapi juga pelajaran moral yang mendalam. Kisah Haman, Qarun, dan Bani Israel pada zaman Firaun menawarkan wawasan yang relevan untuk kehidupan modern kita. Melalui artikel ini, kita akan menggali hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Kisah-kisah ini tidak hanya sekadar cerita masa lalu, namun merupakan bimbingan dan peringatan bagi kita semua.

    Ditengah-tengah genosida yang dilakukan oleh Israel Zionis yang mengatasnamakan Yahudi dan janji Tuhan atas tanah Palestina. Begitu juga disaat kita di Indonesia gencar moderasi, di dunia barat adalah pihak yang membiarkan genosida dan kolonialisasi di abad yang modern ini. Sikap yang akan terus dipertanyakan atas standar moral kebijakan internasionalnya.

    Kembali kepada kisah Haman, Qorun dan bangsa Yahudi. Kita memulai dengan kisah Haman, seorang tokoh yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai tangan kanan setia Firaun, sang tiran. Haman mewakili figur yang berlebihan dengan kekuasaan dan harta, terjebak dalam lingkaran kehendak kekuasaan dan menjauh dari kebenaran. Ia mengikuti perintah bahkan menghasut Firaun tanpa pertimbangan, termasuk dalam memusuhi Nabi Musa AS dan kaum Bani Israil. Isu utama adalah bukan permusuhannya, tetapi bagaimana Haman menganiaya dhuafa, melakukan rodi dan tidak memberikan hak makan, minum bahkan hidup yang sesuai. Ini lah yang membuat nabi Musa terpanggil membela para dhuafa yang mayoritas adalah bangsa Yahudi.

    Haman yang dikenal sebagai pembantu Firaun, merupakan simbol dari kepatuhan buta terhadap kekuasaan. Keterikatan Haman dengan Firaun, yang menunjukkan kesetiaannya yang tidak berprinsip, menggambarkan bagaimana nafsu akan kekuasaan dapat membutakan hati seseorang dari kebenaran. Kisah Haman mengajarkan kita tentang bahaya kehilangan arah moral ketika terlalu tenggelam dalam pengabdian kepada kekuasaan duniawi. Kekayaan dan kenikmatan yang diperoleh dengan cara yang salah dan berlebihan melalui kekuasaan adalah satu bentuk korupsi yang besar.

    Kemudian yang kedua, kita renungkan juga siapa Qarun. Seorang dari kalangan Bani Israil yang memiliki kekayaan melimpah. Namun, kekayaannya itu membuatnya sombong dan lupa diri. Qarun merasa semua yang dimilikinya adalah hasil jerih payahnya sendiri, tanpa mengakui nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah. Apakah kekayaannya itu didapatkan dengan cara yang halal ataukah haram. Kekayaan Qarun dipertanyakan ketika melihat bangsa Yahudi berada dalam keadaan hina dan dhaif. Apakah Qarun mendapatkan kekayaan dari memanfaatkan para dhuafa yang dipekerjakan oleh Haman?

    Yang ketiga adalah mengenai bangsa Yahudi yang hidup di zaman Firaun. Mereka adalah kaum yang tertindas, namun tetap kokoh dalam mempertahankan keimanan dan moralitas mereka meskipun hidup di bawah cengkeraman Firaun. Kisah mereka mengajarkan kepada kita tentang ketahanan iman di tengah tekanan dan kezaliman. Bangsa Yahudi dahulu adalah bangsa yang pengasih, memegang teguh moralitas dan ketakwaan terhadap Allah.

    Ketika membandingkan Haman, Qarun, dan Bani Israel, kita melihat kontras yang jelas antara kebaikan dan kejahatan, antara keangkuhan dan ketawakalan. Di satu sisi ada Haman yang berkuasa dan Qarun yang sukses tetapi menghalalkan segala cara, sedangkan bani Yahudi pada saat itu di sisi Allah diberikan pertolongan melalui nabi Musa karena keteguhan iman mereka dalam menghadapi cobaan sebagai golongan yang inferior ataupun yang diuji dengan kemiskinan dan ketidakberdayaan.

    Kisah Firaun, Haman, dan Qarun juga mengajarkan tentang pentingnya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Musa AS, yang berdiri teguh menghadapi tantangan besar, adalah simbol kepatuhan dan keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran. Melalui kisah ini, kita diajak untuk merenungkan posisi kita: apakah kita berpihak pada kebenaran siapa pun dia yang menjalani hidup dengan sabar dan tawakal kepada Allah, ataukah kita termasuk orang-orang yang terbuai oleh kekuasaan untuk korupsi ataupun harta yang menyombongkan seperti Haman dan Qarun yang pada akhirnya menjadi zalim.

    Di dalam Al-Qur’an surah Al-Qasas ayat 76, Allah berfirman tentang Qarun, yang tidak menggunakan kekayaannya untuk kebaikan dan berkasih sayang kepada kaumnya tetapi malah menyombongkan diri bahkan bertindak zalim. Sebagai umat yang beriman, kita harus belajar menjadi pemberi manfaat dan tidak menjerumuskan orang lain dalam keadaan yang buruk dengan kekayaan yang kita miliki.

    Kisah Firaun, Haman, dan Qarun juga menggambarkan betapa seseorang bisa menjadi buta dan tuli terhadap kebenaran ketika hati mereka dikunci oleh kesombongan dan kedurhakaan. Mereka tidak mengakui kebesaran Allah dan akhirnya Allah memberikan kepada mereka akhir yang buruk. Nabi Musa AS, yang berdiri teguh menghadapi tantangan besar, adalah simbol kepatuhan dan keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran.

    Melaui kisah kisah-kisah ini, marilah kita meminta perlindungan kepada Allah dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh ini. Sifat sombong, angkuh, lupa diri, dan tidak berterima kasih kepada Allah adalah sifat yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kehancuran.

    Kita juga diingatkan untuk selalu berpihak pada keadilan, seperti Bani Israil yang meski tertindas namun tidak meninggalkan kebenaran. Kita harus berani menentang tirani dan kezaliman, serta membela yang lemah dan tertindas.

    Kisah ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Musa AS sebagai utusan Allah kepada Firaun dan kaumnya, tetap teguh menyampaikan risalah meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kita diingatkan untuk tidak menjadi seperti Qarun yang tidak bersyukur dan tidak semena-mena. Syukur bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan hati dan perbuatan. Kita harus menggunakan nikmat Allah, termasuk kekayaan dan kekuasaan, untuk berbuat kebaikan dan membantu mereka yang membutuhkan. Bersyukur berarti mengakui bahwa segala yang kita miliki adalah dari dan milik Allah, dan kita hanya sebagai pengelola sementara.

    Akhir dari kisah Haman dan Qarun adalah peringatan bagi kita semua. Keduanya mengalami kehancuran sebagai konsekuensi dari perbuatan mereka yang jauh dari petunjuk Allah. Haman tenggelam bersama keangkuhan Firaun, dan Qarun ditelan bumi karena kesombongannya. Kisah ini adalah peringatan bahwa akhir yang buruk menanti bagi mereka yang berpaling dari kebenaran dan mengikuti hawa nafsu.

    Melalui kisah Haman, Qarun, dan Bani Israel, kita diajak untuk merefleksikan diri kita sendiri. Di mana posisi kita dalam spektrum iman ini? Apakah kita termasuk mereka yang mudah tergoda oleh kekuasaan dan kekayaan, ataukah kita berusaha tetap teguh dalam iman dan kebenaran? Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a’lam bish-shawab.

  • Urgensi Perda Perimeter Zona Bebas Rokok di Kawasan Pendidikan

    Urgensi Perda Perimeter Zona Bebas Rokok di Kawasan Pendidikan

    Belum lama ini di Sumatera Barat lebih tepatnya di Kabupaten Lima Puluh Kota viral video siswa (yang terlalu berumur untuk siswa SD) memaki dan membentak guru SD nya. Beberapa minggu setelah itu, kembali viral seorang guru di Jawa Barat dipukul dengan “ketapel” oleh orang tua siswa karena melarang anaknya merokok.

    Kasus ketimpangan dan rasa hormat kepada penggiat pendidikan semakin berkurang, terlebih menurunnya marwah karena status “umar bakri”. Mengingat fenomena ini, perlu rasanya kita bersama-sama mempertimbangkan untuk mengemas kembali ekosistem pendidikan. Di Indonesia pengelolaan pendidikan tidak sepenuhnya dilakukan pemerintah, juga melibatkan swadaya masyarakat yang berbentuk institusi formal seperti yayasan. Pengelolaan ini selain memerlukan pendampingan dan dukungan biaya, juga diperlukan kebijakan-kebijakan yang melindungi penggiat pendidikan dari tekanan-tekanan pihak lain dalam pengelolaan.

    Di sekitar penulis sendiri, walaupun tidak sampai viral, seorang guru diancam akan dilukai oleh orang tua siswa karena melarang siswa untuk pergi ke warung miliknya yang berada di sebelah dinding sekolah karena sering tertangkap siswa membeli rokok di warung tersebut. Yang lebih buruk lagi orang tua siswa pemilik warung ini menghasut anaknya untuk mengancam gurunya dengan “ladiang”. Walaupun peristiwa ini kemudian bisa dilerai, akan tetapi tindakan diluar batas etika masyarakat terhadap penggiat pendidikan harus menjadi catatan serius betapa riskannya penggiat pendidikan ketika mendidik.

    Peristiwa ini tentu menjadi tamparan keras, dimana masyarakat dalam hal ini orang tua dan pemilik warung yang kita harapkan menjadi perisai bagi pendidikan, justru menjadi beban bagi dunia pendidikan. Disaat guru dan sekolah bekerja keras mendidik siswa, di sisi lain juga terdesak untuk mendidik masyarakat secara keseluruhan, sedangkan sumberdaya dan kekuatan yang serba terbatas.

    Disaat-saat masih banyaknya perbaikan yang perlu dilakukan dalam dunia pendidikan, seperti biasa rutinitas pemilu “pesta rakyat” kembali datang dan akan sedikit banyaknya melupakan agenda yang sangat penting ini. Disaat ini lah perlu rasanya para calon-calon pemegang kebijakan untuk bertenggang rasa untuk berlomba-lomba menaikkan isu pendidikan, bukan justru memanfaatkan kredibilitas dunia pendidikan sebagai alat dalam berpolitik praktis.

    Menteri Bpk. Muhajir menguatkan apa yang penulis sampaikan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, bahwa sebetulnya permasalahan utama pendidikan di Indonesia adalah pertumbuhan populasi penduduk yang massif dan ekonomi regional yang maish jauh dibawah UMR regional. Sektor-sektor informal tidak bertransformasi menjadi formal seperti yang diharapkan. Sehingga regional tertentu khususnya di daerah, masih dominan berharap pada anggaran APBD yang terbatas.

    Jika kita bahas kedua topik ini tentunya akan sangat panjang, mari kita fokus kepada urgensi perimeter aman untuk siswa sekolah agar tidak menemukan warung yang menjual rokok ataupun produk-produk berbahaya yang mengancam perkembangan anak didik. Perimeter ini penting dikarenakan masih banyaknya warung-warung yang menjual rokok didepan sekolah. Ataupun juga perimeter ini sulit diwujudkan setidaknya, ada syarat khusus bagi warung-warung dalam perizinan yakni meletakkan informasi tidak menjaual kepada anak sekolah.

    Urgensi atas perda rokok rasanya tidak berlebihan jika melihat masih rendahnya literasi dan tingginya tingkat pengangguran di Kabupaten ini dan juga pada umumnya daerah-daerah lainnya. Secara umum di beberapa kota besar lainnya dan negara-negara maju pembatasan rokok memang sebagiannya dilakukan oleh city council atau dalam hal ini pemerintah kota kabupaten. Sehingga rasanya memang tepat jika perda ini dapat disusun sebagai upaya menjaga ekosistem pendidikan.

    Upaya perda rokok ini bukan berarti adanya pelarangan secara total, akan tetapi upaya melakukan penataan terhadap waktu merokok, tempat merokok dan sampah yang berserakan akibat aktifitas merokok. Beberapa kantor dan gedung yang telah melaukan penataan ini nampak lebih mampu menjaga estetika dan kedisiplinan kerja.

    Perimeter yang memungkinkan bagi mendukung perkembangan ekosistem pendidikan sekurang-kurangnya minimal 500 meter untuk kawasan padat dan jika memungkinkan 1 kilometer untuk kawasan tidak padat. Kawasan tidak padat pada umumnya membolehkan siswa untuk membawa kendaraan  bermotor untuk pergi kesekolah, sehingga perimeter yang lebih luas tentu juga dperlukan.

    Manfaat yang didapat dari adanya perda ini adalah guru dan siswa terlindungi dari budaya merokok yang kurang produktif dan kenakalan-kenakalan remaja yang berjangkit dari budaya merokok. Dengan adanya perlindungan terhadap dunia pendidikan, diharapkan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat tercapai. Dunia pendidikan juga tidak dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan kecil dan kedisiplinan akibat budaya ini.

    Tantangan yang akan dihadapi adalah penolakan dari pemilik warung yang mungkin akan merasa dirugikan, yang sebetulnya pendapatannya dari penjualan rokok tidak terlalu signifikan. Sehingga upaya sosialisasi menciptakan standar hidup yang sehat dan produktif harus terus digalakkan, sehingga masyarakat dapat memahami usaha yang tengah dilakukan ini.

    Jika sekolah sudah berusaha menjaga kondusifitas dunia pembelajaran di lingkungan sekolah. Setidaknya di luar sekolah mereka dilindungi dengan kebijakan-kebijakan yang mendukung tumbuh kembangnya ekosistem pendidikan. Dengan upaya dan sinergi yang sama dilakukan antara pemerintah daerah dan ekosistem pendidikan kita harapkan terjadinya akselerasi kualitas dunia pendidikan menjadi lebih baik dan memiliki daya saing dengan kawasan-kawasan yang sudah lebih dahulu maju lainnya.

  • Mengukur Ramadhan Kita

    Mengukur Ramadhan Kita

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu ini pun datang, perasaan dan hari dimana semua muslim bersiap-siap untuk menyambut hari iedul fitri, menyelesaikan ramadhan. Memang masih beberapa hari lagi, tetapi di sepertiga malam terakhir ini jalan-jalan mulai padat, dan persiapan pulang sudah dimulai. Deru-deru mesin sudah mulai berlomba-lomba, meraung mempercepat perjalanan mengungkapkan kerinduan untuk sampai di kampung halaman. Keadaan ini adalah sebuah fenomena yang umum di hari-hari akhir ramadhan.

    Menghayati pentingnya ramadhan, sebagaimana usaha-usaha diniatkan untuk membina, berkontempelasi hingga meminta ampunan kepada Allah (swt). Tidak berharap kesenangan yang terlalu awal menggoyahkan barisan-barisan yang terisi sepanjang ramadhan, ataukah meredupkan rutinitas-rutinitas yang terbangun. Perlu rasanya bagaimana sejauh mana hasil ramadhan yang dilalui ini, apakah ada perubahan dan keuntungan dalam memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan.

    “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

    (QS Al-Hadid : 20)

    Salah satu indikator yang menunjukkan pencapaian ramadhan adalah kezuhudan yang semakin tumbuh. Kezuhudan yang dihasilkan dari upaya menjalankan ibadah dengan harapan hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah (swt). Apapun bentuk ibadah dan dan berapapun amalan sunnah yang dilakukan, kezuhudan tidak berhitung dari kuantitas amalan tetapi dari kualitas niat dan upaya untuk menjauhkan hati dari gempita-gempita dunia. Untuk yang telah semakin berumur, sepatutnya urusan-urusan dunia tidak disandarkan kepada keuntungan-keuntungan picisan yang sifatnya keduniawian. Kezuhudan dapat dicapai dengan hati yang mengesampingkan kesenangan duniawi dan memfokuskannya pada hal yang lebih bermakna.

    Intensitas ibadah yang disemarakkan disaat ramadhan perlahan-lahan melatih ketawadhuan dalam beribadah. Dengan ibadah-ibadah ini pengharapan terhadap keridhaan Allah semakin terlatih. Semakin banyak harapan bersandar kepada Allah (swt) atas kesemua hal, dan semakin cahaya-cahaya ketaqwaan mulai mengisi hati yang mudah terombang-ambing.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

    (QS Al-Baqarah : 183)

    Kemajuan dalam membaca dan mentadabburi al-Qur’an juga menunjukkan sejauh mana keberhasilan dalam memanfaatkan Ramadhan. Bacaan yang terputus-putus, menjadi bertambah lancar. Pemaknaan yang kosong, apakah telah terisi. Khatam al-Qur’an dan merenungkan sebagian maknanya menunjukkan usaha pada ramadhan ini yang memberikan hasil yang positif dan pemaknaan mendalam dari ibadah selama ini.

    Empati kepedulian juga sepatutnya terlatih dari menahan lapar dan dahaga. Tidak semua hal harus dimakan dan tidak semua rencana harus diwujudkan. Rasa lapar dan terbatasnya makan menjadikan empati terlatih. Membantu bukan dengan apa yang tersisa, puasa ramadhan telah mengajarkan satu dua hari upaya menahan lapar dan membeli makanan, dapat menjadi keberkatan menyediakan makanan untuk yang dhaif. Seperti fidyah memberi makanan bagi yang dhaif dituntut bagi yang memiliki halangan dalam berpuasa.

    Zakat, dan sedekah melatih empati menyisihkan sebagian harta untuk mereka yang dhaif. Tetapi Islam bukan hanya mengajarkan untuk mencukupkan dengan zakat yang hanya 2,5% ataupun zakat fitrah. Dalam ramadhan, Islam mengajarkan untuk berusaha ikhlas, menjadi mukhlisin. Islam memberikan batasan minimal supaya manusia merasa ada kewajiban, dan terlebih lagi Islam membuka peluang sebesar-besarnya dalam beramal dan bersedekah tanpa batasan bagi para hamba-hambanya yang terpilih, para mukhlasin. Mufassirin membedakan mukhlisin dan mukhlasin. Mukhlasin adalah manusia-manusia yang sedang melatih dan berusaha setiap amal kita untuk ikhlas. Sedangkan mukhlasin adalah orang yang telah tertempa dan terbiasa sekian lama, ataupun mereka yang telah berdedikasi memilih jalan hidup idealismenya terhadap nilai-nilai etika Islam yang mengharapkan keridhaan Allah (swt) semata.

    Ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan puasa merupakan indikator dalam mengukur hasil ramadhan. Seringkali terjumpai adanya rukhsah (keringanan), dan cukup syarat untuk mengambilnya, tetapi kemudian memilih cara yang lebih berat tidak mengambil rukhsah dengan niatan supaya Allah (swt) melihat kesungguhannya. Menjalani puasa dengan kesungguhan dan penuh kesabaran menunjukkan bahwa berhasilnya menghargai keberadaan ramadhan. Adakah sombong dengan kemudahan dan ampunan yang Allah (swt) berikan pada masa ramadhan akan tersia-siakan. Adakah anggapan untuk berpuasa ini adalah satu beban bagi aktifitas sehari-hari. Nilai-nilai lebih dari keupayaan dalam kepasrahan dan tidak menyerah dengan ketidakberdayaan dan batasan-batasan yang semakin ketat selama ramadhan ini adalah satu anugrah penempaan karakter yang dilakukan oleh para anbiya, satu keberkahan yang tak ternilai dalam ukuran ramadhan.

    وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ ۚ إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا

    “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang mukhlasan dan seorang rasul dan nabi.”

    (QS Maryam : 51)

    Perubahan positif dalam karakter dan perilaku juga mencerminkan hasil tempaan ramadhan yang berat ini. Jika hawa nafsu dapat dikendalikan, maka ada banyak kemajuan yang telah diraih. Nafsu adalah yang disebut hakikat kemanusiaan, sebuah perasaan panas baran yang tidak tertahan dan kecenderungan yang intensif. Maka mengelola nafsu adalah dengan menahan doroangan intensifitasnya supaya tidak berlebihan hingga kontraproduktif. Menahan nafsu bukan berarti tidak marah, walaupun lebih baik seperti itu, tetapi menahan nafsu adalah menahan marah yang pada awalnya ditujukan untuk kebaikan berubah menjadi amarah yang intensif hingga menimbulkan keburukan. Ketika dalam mengendalikan hawa nafsu, istiqamah dalam beribadah dalam terus dipertahankan meskipun menghadapi tantangan, maka yakinlah bahwa hasil ramadhan masih sesuai dengan harapan.

    Kedamaian dan ketenangan hati yang dirasakan selama ibadah menjadi bukti hasil dari yang diupayakan selama ramadhan. Kesabaran yang meningkat dan tawakal yang tak bertepi dalam menghadapi kehidupan, itu menunjukkan bahwa ramadhan telah memberikan dampak positif. Kepedulian terhadap keluarga, saudara, dan masyarakat juga menjadi ukuran positif dalam ramadhan.

    Perayaan Idul Fitri yang pada puncaknya menjadi momen untuk mensyukuri pencapaian ramadhan ini. Hari makan-makan, yaumil iftar, adalah hari dimana perwujudan rasa syukur dari upaya ini. Menjadi cerminan sekiranya iedul fitri ini manusia saling bermaaf-maafan demikian syahdunya, apakah disaat ramadhan ada rasa syahdu yang besar untuk meminta ampunan kepada tuan dari jiwa dan raga kita, tuhan dari sekian alam.

    Mengukur pencapaian ramadhan bukanlah tentang menghitung jumlah ibadah yang telah dilakukan, melainkan tentang merenungi perubahan positif dalam internal diri manusia. Adakah ketakutan, pengharapan, dan keikhlasan telah berkembang dan menjadi tuan rumah dalam hati seorang hamba. Semoga dihujung ramadhan ini, diwaktu yang tersisa, masih ada asa dan harapan untuk menjadikan ramadhan sebagai momentum konstruktif untuk terus meningkatkan keimanan dan takwa. Ramadhan adalah bulan pembinaan, maka hasil yang diharapkan dari pembinaan ini adalah dalam keberkahan amalan setelah ramadhan. Sekiranya ini adalah ramadhan terakhir, maka semoga Allah swt berikan ketakwaan dalam melangkah kedepan. Yaa Muqallibal-quluub, thabbit qalbii `alaa diinika.

    Donasi Dukung Kita
  • Moderasi Penentuan Awal Bulan Yang Berkemajuan

    Moderasi Penentuan Awal Bulan Yang Berkemajuan

    Penulis termasuk yang beruntung besar ditengah-tengah buku-buku akademik milik orang tua yang memang akademisi. Perbincangan mengenai fikih bukan hal yang tabu, karena mungkin tidak sengaja diminta merapikan-rapikan tulisan pribadi dan naskah-naskah akademik rekan-rekannya.

    Walaupun konsentrasi penulis di sains, nampaknya memang ada sedikit juga sedikit hasil dari didikan orang tua dan guru-guru agama yang berbekas. Insyaallah menjadi jariyah untuk para masyayikh semuanya. Alhamdulillah ada dua tulisan, semoga bisa memberikan sedikit kontribusi dalam khazanah ini.

    https://osf.io/4q58m/
    Panduan Ringkas Berpuasa di dalam Islam: Fiqh Puasa dan Metode Falak (Afifi Fauzi Abbas & Abdullah A Afifi)

    http://pub.darulfunun.id/index.php/imam/article/view/12
    Moderate Way Implementing Rukyah and Hisab to Determine A New Moon in Ramadan (Abdullah A Afifi & Afifi Fauzi Abbas)

    Sejauh ini ada dua pandangan dominan tentang penentuan awal ramadhan:
    1. Wujudul Hilal (Sudut 0 derajat)
    2. Rukyatul Hilal (Maksimal sudut 2 derajat, yang terbaru negara Mabims per 2022 bersepakat menjadi 3 derajat)

    Dengan dua metode ini sebetulnya sudah terlihat hasilnya akan berbeda. Baik metode satu dan metode dua sebetulnya valid, dan memiliki pendekatan.

    Perhitungannya bagaimana? sama saja keduanya, zaman sekarang sudah banyak yang pakai aplikasi atau google. Yang berbeda adalah menyikapi hasilnya dengan menerapkan kondisi tambahan.

    Sebagai orang awam (orang yang tidak memiliki otorisasi atau birokrasi terhadap kebijakan terkait) sebetulnya ada hal yang perlu dipahami sebagai tambahan, yakni terkait:

    1. Perundangan pemerintah (syariah / hukum)
    2. Otorisasi (orang / badan / majlis yang memberikan keputusan)

    dan yang tidak kalah penting, sampai saat ini penetapan awal bulan diterapkan menggunakan konsep “wilayat al-hukm” (hukum berlaku di kawasan hukum terbatas), sebab itu diusulkan pendekatan baru yang disebut “rukyat hilal global”.

    Jika mau menangkap ide ini digulirkan bukan berarti bulan terlihat di Mekkah serta merta di Indonesia juga sudah hilal. Tapi memberikan satu pendekatan kasus dimana ada satu daerah yang memiliki “wilayat al-hukm” berbeda tapi bersebelahan tapi mengikut keputusan pemerintah yang berbeda. Seperti sebagian pulau Sumatera yang memiliki lintang yang sama dengan semenanjung di Malaysia (untuk perhitungan bulan baru).

    Solusinya rukyat hilal global arahnya akan menggunakan pembatasan “wilayat al-hukm” dan menggunakan referensi garis lintang dan bujur.

    Contoh “wilayat al-hukm” yang sedikit sulit adalah di Indonesia yang memiliki 3 wilayah jam (WIB, WITA, WIT), yang setiap wilayah ini saja sudah melintang jauh dan berada di khatulistiwa. Yang artinya perubahan lintang beberapa derajat saja akan sangat menentukan.

    Sebagai contoh waktu adzan di Kualalumpur dengan di Payakumbuh hanya terpaut beberapa menit saja, sedangkan Payakumbuh dengan Jakarta bisa terpaut hampir 30 menit. Dan yang menariknya juga, pada adzan yang bersamaan tersebut, di Kualalumpur jam 7.20 dan di Payakumbuh 6.20. Kita memiliki dua rasional yang menjadi relatif satu sama lain. Bagaimana wilayah yang waktu azannya sama memiliki penanda waktu yang berbeda, dan sebaliknya.

    Kembali bagaimana menyikapi hal ini sebagai awam, yang termudah adalah mengikuti hukum yang berlaku di daerah domisili. Jika di Malaysia yang negara Islam keputusan akan satu walaupun tanggapan yang berbeda-beda akan ada pada sidang isbath.

    Sedangkan di Indonesia yang bukan negara Islam tetapi negara Pancasila, dimana negara memfasilitasi ibadah tetapi tidak mengatur peribadatan secara mutlak, maka walaupun ada keputusan pemerintah sifatnya tidak mengikat. Baik ormas, kelompok, majlis, pondok pesantren, madrasah, bahkan individu bisa mempertimbangkan juga pandangannya sendiri jika mampu, tapi tidak dianjurkan.

    Tapi satu hal yang juga harus dipertimbangkan, jika menganut “wilayat al-hukm”, bukankah artinya titik prioritas pengamatan juga harus dipertimbangkan. Semakin ke barat artinya semakin valid karena melihat bayang-bayang yang datang terdahulu. Walaupun titik-titik pemantauan hilal berada di banyak daerah, penentuan keputusan berada di Jakarta yang jarak dengan titik terawal jatuhnya bayang-bayang bulan cukup jauh.

    Ada banyak kompleksitas dalam melihat hal ini, tentunya yang terbaik adalah keputusan yang memiliki justifikasi kuat. Wujudul hilal dengan sudut nol derajat menurut penulis sangat kuat, sehingga kita perlu carikan alasan kenapa harus memberikan toleransi dalam (peneropongan riil) dengan 2 derajat lebih perhitungan.

    Tentu menjadi pertimbangan pihak-pihak yang berkompeten. Selamat berlebaran.

  • Mengaca pada Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia: MAN Insan Cendekia Serpong Terbaik Nasional 2023

    Mengaca pada Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia: MAN Insan Cendekia Serpong Terbaik Nasional 2023

    * Tan Abdullah A Afifi ST MT, Pimpinan PPM Perguruan Darulfunun dan juga alumni MAN Insan Cendekia Serpong angkatan ke-5, berdialog langsung dengan pak Habibie tentang pengembangan SDM Indonesia bersama ILC (IAIC Learning Center). Saat ini aktif mendorong inovasi pendidikan di Sumatera Barat, khususnya Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

    Payakumbuh (16/04), MAN Insan Cendekia Serpong kembali menjadi peringkat pertama dari daftar 1000 sekolah terbaik versi LTMPT Kemdikbud berdasarkan nilai UTBK 2022.

    Banyak orang tua yang mencari-cari pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tidak jarang di sekitar tahun 1980-1990 an sebagian masyarakat bahkan tidak jarang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik di kota-kota tersebut yang tidak jarang adalah swasta kristen karena bagusnya pembelajaran di sekolah tersebut.

    Sumber: https://top-1000-sekolah.ltmpt.ac.id/

    Pada dasarnya orang tua ingin menjatuhkan pilihan SMA yang berbasis pendidikan Islam, tentunya orangtua berharap kelak anaknya selain pandai ilmu keduniawian juga pandai dalam ilmu keagamaan. Akan tetapi metode pembelajaran yang monoton dan kurangnya visi dalam pengembangan karir siswa yang riil menjadi salah satu keengganan orang tua untuk mengirimkan anak-anaknya ke sekolah tersebut.

    Kondisi tersebut menjadikan sekolah-sekolah Islam harus berbenah cepat, walaupun memakan waktu hampir 10-20 tahun, beberapa sekolah Islam mulai bermunculan. Dimulai dari pengembangan sekolah model yang dilakukan oleh UIN Syarif Hidayatullah di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah. Pengembangan model sekolah ini juga adalah laboratorium pengembangan kurikulum dan metode belajar yang dilakukan oleh Fakultas Tarbiyah dari Universitas yang sama.

    Walaupun begitu model pengembangan sekolah tingkat SMA masih belum memberikan hasil yang signifikan, hingga munculnya pengembangan sekolah model (magnet school) yang digagas oleh BPPT dan ICMI yang bernama SMU Insan Cendekia dibawah arahan langsung bapak BJ Habibie. Lokasi pengembangan sekolah ini berada di dua tempat, yang pertama adalah di Serpong dekat dengan Puspitek Serpong dan yang kedua adalah di Gorontalo, memanfaatkan hibah tanah dari keluarga BJ Habibie.

    Angkatan pertama sekolah ini hanya berjumlah 1 kelas kurang dengan siswa dari berbagai Pondok Pesantren pada tahun 1996. Kemudian pada tahun 2001 pengelolaan sekolah ini dialihkan kepada Kementerian Agama, dan kemudian menjadi MAN Insan Cendekia.

    Setidaknya menurut penulis MAN Insan Cendekia telah memberikan satu revolusi besar dari sistem pengelolaan Pendidikan Islam yang didasari kepada:

    1. Sistem good governance, manajemen yang rapi
    2. Input siswa yang terselektif, kemampuan siswa yang cocok untuk sistem pembelajaran di MANIC
    3. Orang tua yang terselektif, orang tua yang percaya dan siap dengan konsekuensi pembelajaran di MANIC, termasuk dalam hal pembiayaan.
    4. Guru-guru yang siap, fokus dan berdedikasi dengan sistem pembelajaran di MANIC.
    5. Support system yang juga siap.
    6. Birokrasi yang independen, tidak mudah di intervensi oleh birokrasi walaupun dibawah kelembagan pemerintah.
    7. Fasilitas yang memadai
    8. Partisipasi kompetisi yang terselektif dan terstandarisasi tinggi
    9. Berasrama penuh, full boarding.
    10. dan lain sebagainya

    Dengan pola pengembangan pembelajaran yang berasrama, kegiatan-kegiatan siswa dan guru lebih terfokus untuk mengejar visi dari sekolah, dan tidak mudah tersibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan dengan sekolah ataupun pembelajaran. Dan yang tidak kalah penting adalah konsistensi dengan cara metode pembelajaran dan visi dari pengembangan pembelajaran.

    Hasil dari pendekatan pengembangan pembelajaran MAN Insan Cendekia alhamdulillah sampai saat ini masih menjadi salah satu inspirasi bakal standarisasi pengembangan kurikulum Madrasah Nasional bersama sekolah-sekolah agama berprestasi lainnya. Tidak dipungkiri dalam kurun waktu 2 dekade belakangan ini, MAN Insan Cendekia telah menjadi model baru pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia.

    Kita harapkan semakin banyak institusi-institusi pendidikan yang terinspirasi dan juga tidak kalah penting yang mampu memberikan alternatif pendidikan berkualitas kepada masyarakat, sehingga masyarakat yang maju adalah masyarakat yang beradab.

    Tentunya masih banyak lagi pendekatan-pendekatan yang lebih detail yang dilakukan oleh MAN Insan Cendekia yang belum mampu penulis ulas dalam tulisan ini. Semoga dapat dilanjutkan dalam kesempatan berikutnya. Penulis juga menyampaikan takzim dengan seluruh civitas dan guru-guru di MAN Insan Cendekia yang pantang berputus asa dalam mendidik, semoga Allah beri ganjaran pahala yang berlipat ganda.

  • Berharap Hening Malam I’tikaf

    Berharap Hening Malam I’tikaf

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    I’tikaf dalam keheningan malam adalah salah satu bentuk kesyahduan upaya yang dilakukan yang bernilai Ibadah. I’tikaf yang dilakukan pada bulan Ramadan berganjar keberkahan pahala berlipat ganda. Itikaf merupakan upaya untuk berdiam diri, berkontempelasi sebagai bentuk ibadah. Memaknai rasa penghambaan kepada Allah swt dengan cara seolah-olah mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia. Keheningan yang meningkatkan keimanan, kekhusyukan, dan ketakwaan yang larut dalam dzikir dan munajat kepada Allah swt.

    Hai orang yang berselimut, (1) bangunlah (untuk shalat) di malam hari, walaupun (hanya) sedikit, (2) (boleh) setengahnya atau kurangilah dari setengahnya itu sedikit. (3) atau (jika sanggup) lebih dari setengah itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. (4) Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat (al-Quran) . (5) Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (6)

    (Al-Muzammil : 1-6)

    Menjalankan itikaf di malam hari dengan konsekuensi berkomitmen bekerja di pagi hari adalah hal yang sangat menantang. Kantuk dan penat menjadi tambahan pemutus selera dari kenikmatan dunia. Penting juga untuk merencanakan perencanaan dan jadwal yang seimbang. Merasa-rasa hal ini juga penting agar kita dapat menghayati manfaat itikaf dan upaya menjaga keseimbangan kehidupan antara ibadah dan pekerjaan. Ikhtiar dalam usaha dan menerima hasilnya ada kunci dari pembentukan kepasrahan dan ketakwaan kepada Allah swt.

    Dalam keheningan malam, seseorang bisa merasakan kedamaian dan kekuatan spiritual yang mendalam, sehingga mudah untuk merenungi kebesaran pencipta, dari hasil kontempelasi insan-insan yang dhaif ini saja, kemudian menambah tenaga, mengumpulkan ide-ide baru dan semangat yang tercerahkan, berapa ini semua begitu banyak yang akhirnya dapat kita kategorikan sebagai hidayah. Momentum ini adalah kesempatan berharga di malam-malam kita menanti lailatul qadar, baik dari sudut tempat bersujud di rumah ataupun di masjid.

    Dalam memulai itikaf, persiapan diri secara fisik dan mental. Pastikan tubuh kita cukup tenaga dan dalam kondisi yang baik untuk dibawa dalam perjuangan ini. Sediakan pula perlengkapan dan kenyamanan beribadah yang dapat mendukung kegiatan itikaf. Tidak lupa persiapkan juga sedikit makanan dan minuman seperti kurma, air putih bahkan kopi untuk menjaga kita tetap terjaga. Mengisi itikaf dapat dengan membaca al-Quran, membuat tulisan dan pembahasan yang bermanfaat, hingga belajar dalam rangka meningkatkan pemahaman dan ketakwaan kita terhadap Allah swt. Dalam melakukan itikaf tidak ada spesifik amalan yang dianjurkan secara khusus.

    Setelah melaksanakan shalat Isya dan shalat tarawih, itikaf sudah dapat dimulai. Memulai dengan memilih tempat yang nyaman dan tenang, memilih Masjid hingga mempersiapkan ruang ataupun area di rumah untuk dapat berkonsentrasi dan merenung dengan baik. Tidak lupa berdoa kepada Allah swt untuk diberi kemudahan dan mendapatkan hal yang bermanfaat dalam menjalankan itikaf.

    Dalam itikaf, gunakan waktu dengan bijak untuk melaksanakan berbagai amalan seperti membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa. Jangan lupa untuk memohon ampunan atas segala dosa serta memohon perlindungan dari godaan setan dan nafsu yang tidak terkendali. Kita juga sebaliknya perlu memohon ampunan, diridhai mendapatkan surga, diberikan hidayah, keberkahan dalam hidup, diberikan akal yang mampu menimbang baik dan buruk, diberikan hati yang senantiasa kuat dalam ketaatan. Tidak lupa juga momentum i’tikaf dapat juga dimanfaatkan sebagai momen untuk melakukan introspeksi, apa yang sudah dilakukan satu tahun belakangan ini, dan apa yang akan dilakukan satu tahun kedepan. Momen ini seolah menggariskan hidup kita antara satu Ramadan ke satu Ramadan lainnya.

    Membaca Al-Quran di malam dan pagi hari adalah cara yang paling efektif menjaga ritme i’tikaf dan juga sewaktu beraktifitas di siang hari. Tidak perlu berlebih-lebihan, lakukan istirahat disaat merasa sudah terlalu lelah, kumpulkan kembali asa yang tersisa, dan lanjutkan kembali upaya yang dilakukan. Ritme dan kebiasaan i’tikaf ini insyaallah akan mampu merubah waktu tidur dan istirahat kita, sehingga setelah Ramadan mudah bagi kita untuk terbangun di malam hari dan bermunajat kepada Allah di sepertiga malam terakhir.

    “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran…”

    (Al-Muzammil : 20)

    Dengan ketenangan dan kepasrahan diri kita diberikan kemudahan dalam berdzikir dan bermunajat di heningnya malam Ramadan. Momen ini juga mampu menjadikan diri kita berkontempelasi dan berintrospeksi betapa kecilnya kita dihadapan sang Maha Pencipta, Allah swt. Keheningan yang kita lalui adalah refleksi dari keheningan yang akan kita lalui dalam perjuangan kita dalam kehidupan dunia. Gegap gempita tidaklah lagi menarik, dibandingkan dengan tujuan yang kita hendak capai dan ganjaran yang dijanjikan bagi hamba-hamba yang bertakwa. Semoga apa yang kita lakukan ini adalah upaya kita untuk mendapat keberkahan, ampunan dan ridha dari Allah swt.

  • Berkah Malam-malam Terakhir

    Berkah Malam-malam Terakhir

     ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Adalah deret-deret malam-malam terakhir Ramadhan yang merupakan kesempatan emas yang tak ternilai harganya. Diantara sepuluh malam-malam terakhir pada bulan Ramadhan ada satu waktu dimana Allah memberikan satu malam yang bernilai seribu bulan. Di saat-saat inilah berkah dan rahmat Allah melimpah ruah, menanti untuk dihantarkan kepada hamba-hamba-Nya yang dengan tulus beribadah. Sebagai umat yang beriman pada hari akhir dan hari perhitungan dimana setiap amal akan ditimbang dan dipertanggung jawabkan, maka inilah waktu dimana kita harus memanfaatkan setiap kesempatan untuk meminta ampunan dan keridhaan Allah akan surga-Nya dengan penuh kegigihan, sehingga dapat merasakan nikmat berkah yang tak terhingga dalam sisa perjalanan kita di dunia ini.

    Mencari berkah di malam-malam terakhir Ramadhan adalah suatu keinginan yang harus muncul dari setiap kita yang rindu ampunan dan keridhaan dari Allah. Terdapat malam yang penuh keagungan, Lailatul Qadar, malam yang melebihi nilai dari seribu bulan ini, merupakan pintu menuju ampunan dosa dan ketentraman jiwa. Sebagai umat muslim, kita haruslah mencurahkan seluruh tenaga dan waktu untuk menghidupkan malam ini, bermunajat dengan ibadah yang ikhlas.

    Salah satu cara mencari berkah di malam-malam terakhir Ramadhan adalah dengan memperbanyak amalan-amalan sunnah untuk menjaga ritme dan semangat ibadah kita. Membaca al-Quran, berzikir, shalat tarawih dan bersedekah adalah amalan yang sangat dianjurkan. Memperbanyak doa dan istighfar juga menjadi sarana ampuh dalam mencari berkah di malam-malam terakhir Ramadhan. Dengan memohon ampunan dan mengharap rahmat Allah, kita akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

    Aisyah RA beliau bertanya kepada Nabi SAW: “Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam merupakan lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan di malam itu? Nabi menjawab, ucapkanlah:

      اللْهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُعَنِّي

    Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Annii…
    Ya Allah, sesungguhnya Engkau Zat Yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku”

    (HR. Ahmad 25384)

    Salah satu yang juga dapat dilakukan adalah i’tikaf. I’tikaf bukan saja mengasingkan diri sejenak di Masjid menunggu waktu sahur, atau pun mencari kekhusyu’an dengan beribadah tetapi juga dapat dengan menghidupkan malam-malam dengan ilmu dan kontempelasi diri. Dengan menghabiskan waktu di kontempelasi diri, kita akan lebih fokus dalam upaya menjalankan ibadah dan merenungkan makna kehidupan dengan berharap Allah berikan ganjarannya kelak. Kehidupan dunia yang fana akan terasa lebih jelas dan membuat kita lebih bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah.

    Kesabaran dan keikhlasan diperlukan dalam mencari berkah di malam-malam terakhir ramadhan. Jika dua pertiga ramadhan sudah kita lalui, maka ujian semangat yang nyata itu adalah pada satu pertiga malam terakhir. Dalam ujian konsistensi ramadhan ini kita harus sabar dalam menjalani hari-hari yang dihiasai dengan ibadah yang intensif. Kondisi yang mungkin berat dan melelahkan, tetapi berbuah ketidakberdayaan hingga mencapai keikhlasan dalam melaksanakannya. Hanya dengan tekad dan kuatnya mental, kita akan merasakan manfaat dan keberkahan dari usaha-usaha kita menghidupkan malam-malam Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

    Mengajak keluarga dan menyamakan persepsi tentang ramadhan dan malam-malam Ramadhan dapat mempererat hubungan dengan keluarga. Kebersamaan dalam mencari berkah dalam ibadah adalah salah satu sakinah dan mawaddah yang Allah berikan kepada keluarga yang saling mendukung dalam keimanan. Sepatutnya sesama anggota keluarga perlu menyempatkan waktu untuk bersama dalam ketaatan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan akan pentingnya menjalani ibadah dengan sebaik-baiknya. Dalam kebersamaan tersebut, kita akan semakin merasakan merasakan kelegaan, keikhlasan, dan semoga menjadi nikmat berkah yang tak ternilai harganya.

    Dengan semangat mencari berkah di malam-malam terakhir Ramadhan, semoga kita menjadi umat yang selalu mendapat petunjuk dan rahmat dari Allah. Dan selalu bersyukur dengan tantangan dan ujian yang kita hadapi sehingga akan membuat kita lebih merasakan larut dalam ibadah saling terhubung dengan aktifitas kita sehari-hari. Dalam mencari keberkahan malam yang tidak seorang pun tahu kapan waktu pastinya, hanya keikhlasan dan ketenangan jiwa satu-satunya yang dapat dipastikan oleh orang-orang yang serius dalam menjalaninya sambil meyakini bahwa janji rabbnya adalah pasti dan doa orang yang bersungguh tidak akan tersia-siakan.

    Semoga harapan dari semua yang kita usahakan pada ramadhan ini, kita memperoleh ampunan dari Allah dan mendapatkan keberkahan dalam hidup. Allah senantiasa memberi ridhanya, membuka pintu rezeki dari arah yang tak terduga, dan mempermudah urusan hambanya di dunia dan akhirat, selama hambanya berusaha dengan sungguh-sungguh dengan ketaatan (taqwa).

    Donasi Dukung Kita
  • Ramadhan (20): Insan yang Berfikir

    Ramadhan (20): Insan yang Berfikir

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Manusia merupakan makhluk individu yang memiliki akal budi juga hati nurani. Dua hal ini adalah anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT, yang membedakan mereka dari makhluk lain di alam semesta. Akal budi yang telah dikaruniakan kepada manusia menjadi sarana utama untuk memahami, merenung, dan mengevaluasi segala hal yang ada di dunia. Melalui akal ini, manusia diberi kesempatan untuk mengenal Allah, memahami hikmah di balik ciptaan-Nya, serta menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan agama Islam.

    Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berfikir dan merenung tentang penciptaan alam semesta, serta memahami hikmah dan kebijaksanaan Allah SWT di balik setiap peristiwa. Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali menyeru umat manusia untuk merenung dan menggunakan akal budi dalam memahami ayat-ayat-Nya.

    Sebagai makhluk yang dikarunia akal, manusia dituntut untuk menggunakannya secara bijaksana dan bertanggung jawab. Dalam Islam, penggunaan akal budi sangat ditekankan, sebab dengan akal, seorang muslim dapat menggali kebenaran, memahami ajaran agama, serta mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan. Oleh karena itu, seorang muslim sejati harus senantiasa berusaha untuk mengasah dan mengembangkan akal budi yang dimilikinya, agar menjadi insan yang benar-benar berfikir dan mampu menggapai ridha Allah SWT.

    Dalam proses berfikir, manusia akan menemukan berbagai kebenaran dan hikmah yang terkandung dalam setiap ciptaan Allah dan juga takdir yang dilalui yang benuh asam dan manis. Dengan berfikir, seorang muslim mampu menilai segala tindakan dan perkataannya, membedakan antara yang hak dan yang batil, serta menghindari perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Berfikir juga menjadi anjuran bagi seorang muslim sehingga dapat selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah.

    Seorang insan yang berfikir akan senantiasa mencari ilmu dan pengetahuan untuk memperdalam pemahamannya tentang kehidupan dan ajaran agama. Islam sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, sebab ilmu merupakan kunci untuk membuka pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan ilmu, manusia akan mampu menjalani hidup yang lebih baik dan bermakna.

    Seorang muslim yang bijaksana akan menggunakan kemampuan berfikirnya untuk mengambil keputusan yang tepat, baik untuk dirinya maupun orang lain. Dalam hal ini, berfikir akan membantu seorang muslim menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia dan lingkungannya, serta menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian dan kasih sayang.

    Dalam berfikir, seorang muslim harus senantiasa menjaga kebersihan hati dan jiwa. Hati yang bersih dan jiwa yang tenang akan mempengaruhi kualitas pemikiran seseorang. Seorang insan yang berfikir dengan hati yang bersih akan mampu melihat kebenaran dengan lebih jelas, dan mengambil keputusan yang bijaksana dalam mengarungi kehidupan.

    Berfikir juga berperan penting dalam menghadapi cobaan dan ujian dalam kehidupan. Dengan berfikir, kita akan mampu menghadapi berbagai ujian dengan tabah dan sabar, serta menemukan solusi terbaik dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Dengan demikian, seorang insan yang berfikir akan senantiasa merasa dekat dengan Allah SWT, berikhtiar dengan serius, menerima takdir yang ditetapkan-Nya dan senantiasa menggantungkan harapannya hanya kepada-Nya.

    Seorang muslim yang berfikir akan mampu memahami makna dan tujuan dari setiap ibadah yang dikerjakan. Seorang insan yang berfikir tidak menjadikan ibadah sekedar rutinitas yang menjadi ruang untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Dengan demikian, ibadah yang dilakukan akan menjadi lebih khusyuk dan bermakna, serta mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan bagi pelakunya. Berfikir juga membantu seorang muslim untuk selalu menjaga kualitas amal ibadahnya, sehingga ia akan terus berusaha untuk meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

    Seorang insan yang berfikir akan mampu menilai dan memahami dampak dari setiap tindakan yang diambil, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, ia akan lebih bijaksana dalam bersikap dan bertindak, serta senantiasa menjaga agar tindakannya selaras dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang diajarkan Islam.

    Dalam proses dakwah, berfikir menjadi penting untuk menjaga ajaran Islam, serta untuk menangkal segala bentuk pemikiran yang menyimpang dan menyesatkan. Insan yang berfikir mengambil tanggung jawab penuh atas tingkah lakunya, tidak membiarkan taklid dan kejumudan menjadi alasan atas langkah yang diambilnya. Sehingga insan yang berfikir memenuhi syarat kewajiban untuk menjadikan perbuatannya dinilai ibadah, yakni berakal.

    Untuk menjadi seorang muslim yang taat dan bertaqwa, seorang insan yang berfikir akan mampu menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih bermakna, serta menjadi teladan bagi umat manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa berusaha untuk menjadi insan yang berfikir, guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Wallahu’alam

  • Pelita Ilmu, Gerbang Adab Budi Pekerti

    Pelita Ilmu, Gerbang Adab Budi Pekerti

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Kita dihadapkan dengan istilah populer “adab sebelum ilmu” sehingga seolah-olah adab dan ilmu adalah hal yang terpisah yang harus diprioritaskan satu dari yang lainnya. Tentunya penjelasan ini perlu di urai secara obyektif, menarik untuk diurai dan dibahas supaya tidak terjadi pemahaman yang salah dan mematahkan semangat para pencari ilmu. Seandainya adab (budi pekerti) terpisah dari ilmu maka ilmu adalah hal kausalitas yang hanya mengandalkan hafalan dan kemampuan logis yang terukur tak bermakna. Jika dibandingkan dengan konsep pendidikan Islam yang semakin berkembang, maka adab didapatkan ketika seorang manusia telah terdidik. Karena adab adalah mengenai yang benar dan salah, sehingga hanya dengan ilmu tersebut adab seorang manusia mulai dapat berkembang dan mengenal penilaian baik dan buruk. Jika menuntut ilmu memerlukan adab, maka yang dimaksud adalah adab yang baik dalam menuntut ilmu memberikan perasaan senang kepada sang guru, hingga keberkahan untuk dicernanya ilmu. Sebab itu menuntut ilmu dimulai dari yang dasar-dasardan harus di mulai dari sejak kecil, untuk membiasakan adab-adab itu tumbuh seiring dengan ilmu yang tumbuh.

    Ilmu merupakan pelita dan kunci untuk berkembangnya adab dalam kehidupan seorang Muslim. Adab adalah hasil produk pemahaman keilmuan, kontempelasi wawasan dengan segala kompleksitasnya. Dan puncak adab adalah adabnya makhluk terhadap khalik (penciptanya), dan keilmuan (makrifat) dalam Islam adalah mengenai tujuan puncak dari semua aktifitas dan kefasihan, yakni membangun ketaqwaan kepada Allah (swt). Dalam ajaran Islam, ilmu dipandang sebagai salah satu aspek terpenting yang dapat membentuk karakter dan adab seseorang manusia. Menuntut ilmu menjadi bukan hanya sekedar menambah wawasan, namun juga menanamkan pertimbangan nilai-nilai luhur dalam akal memori manusia sehingga baik kesadarannya (conscious) ataupun alam bawah sadarnya (un-conscious) merefleksikan sikap pribadi yang baik. Dengan ilmu, seseorang dapat memahami hakikat hidup dan mencapai derajat kehormatan yang tinggi di sisi Allah (swt).

    وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

    “Barangsiapa yang menempuh jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

    (HR. Muslim)

    Menuntut ilmu adalah warisan budaya yang sangat berharga bagi umat manusia, bahkan bernilai ibadah. Sebaliknya meninggalkan ilmu adalah satu kesia-siaan. Menuntut ilmu hendaknya menjadi kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, agar mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dan bermartabat, sehingga dapat berkontribusi membentuk masyarakat dan peradaban yang beradab.

    Dalam konteks adab, ilmu memiliki peranan yang sangat vital. Adab adalah perwujudan dari etika, sopan santun, dan seringnya menjadi cerminan dari kearifan seseorang. Ilmu menjadi dasar untuk membentuk adab yang baik, karena dengan ilmu, seseorang akan memahami cara berbicara, bertindak, dan bersikap yang sesuai dengan ajaran Islam. Istilah orang beradab yang senantiasa terdengar memiliki padanan sebagai orang-orang yang terpelajar. Sehingga tidak menjadi satu ulasan bahwa ilmu dan pembelajaran adalah awal dari munculnya adab.

    Ilmu tidak hanya mencakup tentang pengetahuan agama saja. Keimanan (agama) tanpa ilmu menjadi tumpul (goyah dan lemah dalam sikap), dan ilmu (pengetahuan dunia) tanpa agama buta tak tentu arah (tidak tentu tujuan, mudah tertipu). Ilmu yang syumul artinya juga meliputi pengetahuan akan dunia, tentang alam sekitar, manusia lain dan makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan menjadi bagian penting dalam membentuk adab seseorang, karena ilmu tersebut membantu kita memahami apa yang patut, keadaan lingkungan sekitar, hubungan dengan orang lain, dan mengembangkan potensi diri menjadi pribadi pelajar yang tercerahkan, seorang ulul albab.

    Dalam menuntut ilmu, seseorang diharapkan memiliki sikap tawadhu’ atau rendah hati. Sikap ini penting karena ilmu yang didapat akan membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain jika digunakan dengan niat yang baik. Dengan tawadhu’, seseorang akan terbuka terbuka untuk mengajarkannya dan murid pun akan zuhud dalam belajar dan mengakui kekurangan diri, terhindar dari kesombongan dan merasa perlu untuk terus belajar dan belajar. Karenanya menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah seorang Muslim.

    أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

    “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”

    (QS Az-Zumar 39 : 9)

    Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, ilmu adalah kunci dari kefahaman dan adab kita terhadap kebenaran, sehingga menuntut ilmu merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah (swt), sehingga selamat dunia dan akhirat.

    Ilmu tidak hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat luas. Dengan memiliki ilmu yang baik, seseorang dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan umat Islam. Masyarakat yang berilmu dalam membentuk lingkungan masyarakat yang beradab, dan dengan masyarakat yang beradab berkembanglah peradaban yang madani. Ilmu dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, menciptakan inovasi, dan mengembangkan kehidupan yang lebih baik. Menuntut ilmu juga merupakan amanah yang harus diemban oleh setiap Muslim, agar mereka dapat menjadi tenaga penggerak yang mencerahkan, menjadi agen perubahan yang baik dan membawa manfaat bagi banyak orang.

    Ilmu memberikan landasan bagi seseorang untuk dapat menghargai orang lain secara obyektif sesuai dengan kapasitasnya. Hanya dengan ilmu manusia dapat membedakan yang baik dan buruk, orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat buruk. Dengan ilmu kita dapat mengurai konflik yang penuh dengan fitnah sehingga selamat dari apa-apa yang menjerumuskan diri sendiri dan mendzalami orang lain. Dengan ilmu, kita akan memahami bahwa setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan, serta memiliki peran yang berbeda dalam kehidupan yang telah ditetapkan oelh Allah sesuai dengan ukurannya. Oleh karena itu, ilmu akan membantu kita menyuburkan kebaikan, menghormati perbedaan dan menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama, sesuai dengan adab yang diajarkan dalam Islam.

    Salah satu aspek penting dalam menuntut ilmu adalah untuk pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim yang memiliki ilmu harus menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan mereka, baik dalam ibadah, muamalah, maupun akhlak. Bukan karena kewajiban, tetapi dengan ilmu seorang muslim paham inilah cara yang paling selamat untuk hidup di dunia dan mempersiapkan akhirat kelak. Hanya dengan mengamalkan ilmu, seseorang akan menjadi teladan yang baik bagi orang lain dengan menunjukkan adab yang luhur, keberpihakan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal buruk terjadi. Dengan keilmuan yang cukup maka sepatutnya seorang muslim dapat mencapai keselamatan seperti yang diajarkan dalam doa nabi yakni: fiidunya hasanah wa fiilakhirati hasanah...

    Selain itu, ilmu juga menjadi kunci untuk terhindari dari kesia-siaan dan fitnah yang menyesatkan. Dalam ajaran Islam, kesia-siaan dan fitnah merupakan penyebab utama kemunduran umat dan perpecahan. Dengan menuntut ilmu, seseorang akan menjadi pribadi yang cerdas dan bijaksana, sehingga mampu mengambil keputusan yang benar dan menghindari jebakan kesesatan yang dilakukan secara nyata oleh manusia yang buruk maupun bisikan hasad yang di tiupkan oleh syaitan.

    Akhir kata, ilmu adalah pelita sebuah gerbang untuk budi pekerti, kunci dari adab dalam kehidupan seorang Muslim. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, karena ilmu akan membentuk karakter, mengembangkan potensi, serta membantu kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan beradab. Dengan ilmu, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat dengan Allah (swt), serta dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan umat Islam secara keseluruhan.

    Donasi Dukung Kita
  • Al-Quran Adalah Kunci Hikmah

    Al-Quran Adalah Kunci Hikmah

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Al-Quran adalah sebuah kitab hikmah yang melintasi zaman dan ruang, berbicara kepada hati dan akal pikiran manusia. Kitab al-Quran merupakan wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad (saw) oleh Allah (swt) yang diantarkan oleh Jibril (as). Kitab ini mengandung pesan-pesan yang universal tentang nilai-nilai puncak dari etika, kebenaran, keadilan, dan kasih sayang. Kitab yang menjadi inti dari segala pengetahuan di seluruh dunia.

    Sebagai rahmat terbesar, al-Quran membawa makna yang mendalam bagi umat manusia, mengajarkan tentang kehidupan yang penuh ketaatan kepada pencipta dan harmoni dengan sesama makhluk.

    الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

    Alif laam raa. Inilah ayat-ayat (al-Quran) yang mengandung hikmah.

    (QS. Yunus 10:1)

    Mentadabburi keluasan makna dan ayat-ayat al-Quran, pembacanya akan merasakan gelombang kecintaan (mahabbah) dan kebijaksanaan (hikmah) yang mengalir dari setiap ayat. Al-Quran dengan wawasan keilmuannya secara instan mampu membuat pembacanya menjadi bijak dan tercerahkan. Proses membacanya memberikan inspirasi untuk melangkah lebih jauh dalam menjelajahi misteri kehidupan. Dalam setiap bait-bait kata yang tersusun rapi, tersembunyi rahasia yang mendidik akal logika dan menaklukkan hawa nafsu. Memaknainya membawa pada perjalanan menuju pencerahan dan mendorong untuk berperan untuk melakukan perbaikan, setidaknya kepada setiap diri pribadi.

    الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

    Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.

    (QS. Hud 11:1)

    Al-Quran adalah kitab hikmah yang tiada tandingannya, terkandung ajaran-ajaran luhur etika tentang kebaikan yang mampu mengubah dunia menjadi lebih baik. Semakin seorang insan memahami makna di balik setiap kalimatnya, semakin tersadari betapa hebatnya rahmat yang diberikan oleh-Nya. Al-Quran adalah rahasia terbesar alam semesta yang Allah bentangkan kepada hamba-hamba-Nya yang mau bertadabbur dan berfikir. Al-Quran adalah rahasia yang tidak pernah dirahasiakan, masuk dalam dunianya hanya memerlukan satu langkah untuk mulai membaca dan hanyut di dalamnya.

    Dalam kitab hikmah ini, akan banyak ditemukan petunjuk tentang bagaimana mencapai kedamaian dan ketenangan batin yang hakiki. Al-Quran menunjukkan jalan menuju kebahagiaan, melalui kesadaran akan pengakuan ketuhanan kepada Allah (swt) dan penerimaan terhadap takdir dan keputusan-Nya (qadha dan qadar). Dengan memahami setiap keteraturan dalam alam semesta, setiap insan perlu meyakini semua ciptaan ini memiliki ukuran-ukurannya masing-masing yang diciptakan oleh Allah (swt). Dengan demikian, hal ini menjadi refleksi untuk optimis dalam menghadapi tantangan hidup dengan penuh kepastian, percaya diri dan keteguhan hati untuk berprasangka baik (husnuzan) terhadap takdir-Nya. Al-Quran berfungsi sebagai peta jalan, peta pikiran dan logika bagi manusia, menuntun akal dan jiwa melalui kehidupan dengan bimbingan yang jelas dan pasti.

    ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

    Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

    (QS. Al-Baqarah 1:2)

    Seperti matahari yang menyinari bumi, al-Quran adalah pelita yang menerangi jalan, memberikan kekuatan untuk menghadapi gelapnya dunia ini dengan cahaya keimanan dan keyakinan tekad untuk berbuat baik. Kitab hikmah ini adalah sumber pengetahuan yang tak ada habisnya, mengajarkan berbagai aspek kehidupan, baik spiritual maupun keduniawian. Dari kisah-kisah para nabi hingga hukum-hukum alam semesta, al-Quran memberikan wawasan yang mendalam tentang realitas yang ada di sekitar. Mempelajari al-Quran bukanlah sekadar mengejar ilmu, melainkan juga merupakan cara untuk menghubungkan diri dengan Allah (swt), menciptakan ikatan yang abadi antara manusia sebagai makhluk dengan Allah Sang Pencipta.

    Dalam al-Quran, ada hidayah dan keberkahan yang melimpah bagi mereka yang mencari jalan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Kitab ini mengajarkan konsistensi perjuangan dalam kebenaran dan kebaikan, meskipun terkadang semua ini harus menghadapi rintangan dan kesulitan. Melalui perjuangan yang berat ini, terbuka satu tahapan untuk menjadi manusia yang lebih tangguh dan tegar dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

    Salah satu rahmat kasih sayang terbesar yang Allah (swt) berikan yang dituliskan dalam al-Quran kepada manusia adalah himbauan untuk selalu bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar. Setiap ayat dalam kitab ini mengingatkan tentang kebesaran dan kemurahan Tuhan, yang selalu memberikan pintu maaf bagi hamba-hamba yang ingin kembali kepada-Nya.

    Melalui ajaran-ajaran yang terkandung di dalam al-Quran, setiap insan diajak untuk menjalin hubungan yang harmonis dan saling menghormati dengan sesama manusia, tanpa memandang perbedaan suku, ras, atau agama. Dalam al-Quran, terdapat wawasan membentuk pondasi yang kokoh untuk membangun dunia yang damai, adil, dan makmur bagi semua umat manusia.

    Sejak zaman dahulu, peradaban manusia telah memahami kesakralan kitab suci, termasuk al-Quran. Sebagai wahyu ilahi yang membawa pesan kebenaran dan petunjuk hidup, kitab-kitab suci dianggap sebagai pengetahuan tertinggi yang diberikan oleh Tuhan kepada umat manusia, yang berfungsi sebagai pedoman bagi kehidupan yang harmonis dan bermakna. Oleh karena itu, banyak peradaban telah memperlakukan kitab suci dengan hormat dan penghormatan yang tinggi, menjadikannya sebagai landasan keyakinan dan kebijaksanaan spiritual.

    وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ 

    Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.”

    (QS. Az-Zumar 39:27)

    Dalam sejarah, mitos-mitos tentang kitab suci, termasuk al-Quran, ada banyak mitos yang telah berkembang dan menjadi bagian dari kepercayaan dan tradisi masyarakat. Beberapa mitos yang berkembang di dalam masyarakat tanpa referensi yang shahih mengarahkan pada pengkultusan, dan pensakralan al-Quran yang berlebihan. Tanpa adanya upaya untuk membaca dan mentadabburi isi dan kandungan ayat-ayat didalam al-Quran, pesan dan hikmah keberkahan al-Quran tidak menjadi konstruktif dan memberikan manfaat yang luas. Al-Quran adalah kitab hikmah yang didalamnya terdapat pembelajaran dari peradaban-peradaban manusia sepanjang zaman.

    Peradaban manusia telah lama pentingnya memahami kitab suci dan mengakui peran pentingnya dalam membentuk nilai-nilai etika, kebijaksanaan, dan kehidupan spiritual umat manusia. Al-Quran adalah kunci hikmah yang terus menginspirasi dan membimbing jutaan manusia di seluruh dunia, menunjukkan betapa tak ternilainya al-Quran sebagai rahmat yang Allah berikan ini bagi peradaban manusia. Tidak ada cara yang lebih baik dalam mengoptimalkan keberkahan Al-Quran selain dengan membaca, mentadabburi isinya dan mengamalkan pesannya. Semua yang Allah (swt) sebutkan dalam ayat-ayatnya menjadi pemahaman yang komprehensif dan kebijaksanaan bagi yang membacanya. Semoga kita termasuk yang selalu tercerahkan dengan hidayah-Nya.

  • Ramadhan (17): Ishlah sebagai Inspirasi Peradaban

    Ramadhan (17): Ishlah sebagai Inspirasi Peradaban

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Ishlah, yang bermakna upaya perbaikan, menjadi titik tolak penting dalam menggali potensi yang ada dalam masyarakat dan menciptakan perubahan yang konstruktif. Al-Ishlah memiliki dua makna. Makna pertama yang umum sering didengar adalah mendamaikan perselisihan sebagaimana dalam potongan surat Al-Hujurat ayat 9:

    وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا

    Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.

    Makna yang kedua adalah berbuat baik, melakukan perbaikan serta mengajak orang lain kepada kebaikan. Tak hanya itu, sebagai konsekuensi dalam melakukan perbaikan ia juga ikut berusaha untuk mencegah keburukan. Al-Ishlah adalah lawan dari kata Al-Fasad (korupsi ataupun kerusakan). Sehingga pelaku kebaikan dan yang menyeru kepadanya disebut Al-Muslih dan yang merusak disebut Al-Mufsid. Hal ini juga dapat kita jumpai dalam potongan surat Hud ayat 88:

    إِنْ أُرِيدُ إِلَّا ٱلْإِصْلَـٰحَ مَا ٱسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِىٓ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

    Aku (Nabi Syu’aib) hanya bertujuan (malakukan) perbaikan dengan kesanggupanku. Dan tidak ada taufik (keberhasilan) bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

    Dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, Islah telah menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk merefleksikan dan memperbaiki diri dalam berbagai aspek kehidupan.

    Sebagai individu, kita harus selalu berusaha untuk merefleksikan diri dan mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan dalam kehidupan kita. Hal ini dapat mencakup perilaku, etika, pengetahuan, dan keterampilan. Selain itu, kita harus berani untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam rangka mengimplementasikan perubahan yang diinginkan. Dengan begitu, langkah- perbaikan kita dapat menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitar kita untuk melakukan hal yang sama.

    Selain sebagai individu, kita juga perlu berperan aktif dalam masyarakat untuk mendorong islah. Kita dapat berpartisipasi dalam organisasi kemasyarakatan, komunitas, atau kelompok yang berfokus pada upaya islah dalam berbagai bidang. Dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan perubahan yang lebih signifikan dan menciptakan dampak yang lebih luas dalam masyarakat.

    Dalam konteks kehidupan sosial, islah menjadi prinsip yang sangat penting untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Melalui upaya islah, individu dan kelompok diharapkan dapat saling menghargai, menjaga persatuan, dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi kehidupan bersama. Ishlah juga menjadi sarana untuk mengurangi kesenjangan sosial dan mengupayakan pemerataan kesempatan bagi setiap anggota masyarakat.

    Pendidikan adalah salah satu kunci dalam mengupayakan islah (perbaikan). Islah dalam pendidikan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengasah kemampuan dan kecerdasan guna menjadi pribadi yang lebih baik, berkarakter dan memiliki nilai guna (value beneficial). Pendidikan adalah akses untuk mengasah dan menciptakan potensi, memberikan nilai tambah dalam setiap aktifitas yang dilakukan, khususnya aktifititas yang produktif.

    Ishlah dalam pendidikan mencakup upaya untuk meningkatkan kualitas dan akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat. Dalam konteks ini, Islah diaplikasikan melalui perbaikan kurikulum, metode pengajaran, dan fasilitas pendidikan. Ishlah dalam pendidikan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengasah kemampuan dan kecerdasan guna menjadi pribadi yang lebih baik dan berkarakter.

    Sebagai orang tua, guru, atau anggota masyarakat, kita perlu mendukung sistem pendidikan yang berkualitas dan memastikan bahwa anak-anak dan generasi muda mendapatkan akses pendidikan yang layak. Semua usaha perbaikan ini tentu tidak mudah, akan memakan banyak tenaga, banyak fikiran, dan juga banyak biaya, inilah yang harus kita hadapi secara bersama-sama, baik melalui kontribusi aktif maupun sumbangan pikiran untuk mendukung pihak-pihak yang secara riil mengupayakan perbaikan ini.

    Ishlah dalam bidang ekonomi berarti upaya untuk menciptakan sistem ekonomi yang adil dan inklusif bagi seluruh anggota masyarakat. Hal ini mencakup perbaikan kebijakan fiskal, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan pengurangan ketimpangan ekonomi antara kelompok masyarakat. Ishlah dalam bidang ekonomi juga termasuk memberikan akses pemodalan, sehingga dapat bertemu antara pemilik tenaga (pekerja) dan pemilik modal (pengusaha) untuk membangun sektor produksi. Ishlah dalam ekonomi juga menjadi inspirasi bagi para pengusaha dan pekerja untuk menjalankan usaha dan pekerjaan secara etis dan bertanggung jawab.

    Akhirnya, Islah sebagai upaya menginspirasi peradaban mengajarkan kita pentingnya menjaga keseimbangan dan kontinuitas perbaikan baik kemajuan materi secara fisik dan nilai-nilai moral yang semakin sesuai dengan etika Islamiyah. Dalam mengupayakan perbaikan di berbagai aspek kehidupan, kita harus tetap menjunjung visi jauh kedepan demi kemaslahatan umat manusia, fiiddunya wal akhirat (dunia dan akhirat). Dengan demikian, perbaikan-perbaikan yang kita lakukan kita dapat menginpirasikan dan menciptakan peradaban yang sejahtera, adil, dan harmonis bagi seluruh umat manusia.

    Wallahu’alam

  • Sumatera Barat Perlu Membangun Industri Manufaktur

    Sumatera Barat Perlu Membangun Industri Manufaktur

    Pembangunan manufaktur di Sumatera Barat merupakan langkah strategis yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah ini. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan infrastruktur di Indonesia telah menjadi fokus utama pemerintah. Namun, pembangunan infrastruktur saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan industri manufaktur di Sumatera Barat sangat perlu dilakukan guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi.

    Pada umumnya Sumatera Barat dan daerah-daerah di Indonesia tertopang oleh distribusi APBD dalam APBN. Untuk menjadi daerah yang berkembang hal ini tidak cukup, harus ada pertumbuhan dan pergerakan ekonomi secara signifikan. DI negara berkembang dan stabil pada umumnya bersandar pada industri-industri manufaktur yang padat karya dan juga memiliki nilai keberlanjutan (sustainability).

    Pembangunan sustainable manufaktur di Sumatera Barat akan menciptakan bukan hanya lapangan kerja juga ekses teknologi yang bisa membantu peningkatan kualitas literasi dan teknologi di tengah-tengah masyarakat. Penyediaan lapangan kerja akan membantu mengurangi tingkat pengangguran di wilayah tersebut dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, industri manufaktur juga dapat meningkatkan keterampilan pekerja lokal melalui pelatihan dan pengembangan.

    Industri Manufaktur di Sumatera Barat akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan regional. Dengan adanya industri manufaktur, nilai tambah produk lokal akan meningkat, sehingga meningkatkan daya saing produk dalam pasar domestik dan internasional. Hal ini akan berdampak positif pada peningkatan pendapatan daerah dan penyerapan tenaga kerja lokal.

    Pengembangan industri manufaktur di Sumatera Barat akan membantu mengurangi ketergantungan wilayah ini terhadap impor barang manufaktur yang umumnya datang dari daerah-daerah industri, juga barang-barang impor dari pulau di sebelah. Dengan adanya manufaktur lokal, masyarakat akan lebih mudah mengakses produk berkualitas tinggi dengan harga yang lebih terjangkau. Hal ini akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.

    Setidaknya ada beberapa tahapan pengembangan yang dapat diterapkan:

    1. Melakukan kajian terhadap sumber material, sumber daya manusia dan lokasi strategis.
    2. Kebijakan dan strategi pengembangan yang terintegrasi
    3. Meningkatkan invesitasi dalam penelitian dan inovasi
    4. Pengembangan industri pendukung
    5. Pengembangan sumber daya manusia
    6. Pengembangan ekosistem kewirausahaan sebagai feeder
    7. Penerapan green teknologi
    8. Promosi dan membangun marketing chain

    Langkah pertama dalam pengembangan industri manufaktur di Sumatera Barat adalah melakukan kajian terhadap potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah ini. Hal ini penting untuk menentukan sektor manufaktur yang paling sesuai dengan keunggulan komparatif dan kompetitif wilayah tersebut.

    Langkah kedua adalah menyusun kebijakan dan strategi pengembangan industri manufaktur yang komprehensif dan terintegrasi. Kebijakan ini harus mencakup berbagai aspek seperti insentif fiskal, kebijakan investasi, infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia.

    Langkah ketiga adalah meningkatkan investasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D) di bidang industri manufaktur. Hal ini penting untuk mendorong inovasi dan peningkatan produktivitas, sehingga produk manufaktur Sumatera Barat dapat bersaing di pasar global.

    Langkah keempat adalah membangun kolaborasi antara pemerintah, industri, dan institusi akademik untuk mengembangkan klaster industri manufaktur di Sumatera Barat. Pembentukan klaster industri akan memfasilitasi jejaring dan sinergi antara perusahaan manufaktur dengan pemasok, peneliti, dan institusi pendidikan, sehingga mendorong inovasi dan efisiensi dalam proses produksi dan pengembangan produk.

    Langkah kelima adalah pengembangan infrastruktur pendukung industri manufaktur, seperti jaringan transportasi, energi, dan komunikasi yang memadai. Pembangunan infrastruktur yang baik akan memudahkan akses dan distribusi produk manufaktur Sumatera Barat, baik di pasar domestik maupun internasional.

    Langkah keenam adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program pelatihan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri manufaktur. Pendidikan vokasi dan teknik harus ditingkatkan agar lulusan dapat memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri dan mampu bersaing di pasar tenaga kerja.

    Langkah ketujuh adalah mendorong adanya ekosistem inovasi dan kewirausahaan di sektor manufaktur. Pemerintah perlu menyediakan dukungan seperti akses ke modal, mentorship, dan fasilitas penelitian untuk membantu pengusaha lokal dalam mengembangkan produk manufaktur yang inovatif dan berdaya saing.

    Langkah kedelapan adalah penerapan teknologi ramah lingkungan dalam industri manufaktur. Penggunaan teknologi hijau akan membantu mengurangi dampak negatif industri manufaktur terhadap lingkungan dan menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Selain itu, perusahaan yang menerapkan teknologi ramah lingkungan akan memiliki citra yang baik di mata konsumen dan pasar.

    Langkah kesembilan adalah menggencarkan promosi produk manufaktur Sumatera Barat di pasar domestik dan internasional. Pemerintah, asosiasi industri, dan pengusaha harus bekerja sama dalam mengembangkan strategi pemasaran yang efektif untuk meningkatkan penjualan produk manufaktur Sumatera Barat dan menarik investasi asing.

    Kesimpulannya, pembangunan industri manufaktur di Sumatera Barat memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik. Dengan langkah-langkah pengembangan yang tepat dan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi, manufaktur di Sumatera Barat dapat menjadi motor penggerak ekonomi wilayah yang inklusif dan berkelanjutan.