Author: Abdullah A Afifi

  • Madrasah Sankore di Timbuktu, Pusat Intelektual di Afrika Barat

    Madrasah Sankore di Timbuktu, Pusat Intelektual di Afrika Barat

    Madrasah Sankore di Timbuktu merupakan salah satu institusi pendidikan tertua dan paling berpengaruh di dunia Islam. Berlokasi di Mali, Afrika Barat, madrasah ini terletak di tepi selatan gurun Sahara. Sejak didirikan pada abad ke-13, Madrasah Sankore telah menjadi simbol kemajuan ilmiah dan kebudayaan dalam sejarah Islam dan Afrika.

    Timbuktu, tempat Madrasah Sankore berdiri, mendapatkan keuntungan dari lokasinya yang strategis di jalur perdagangan Trans-Sahara. Kota ini merupakan titik temu antara Afrika Utara dan kawasan sub-Sahara, membuatnya menjadi pusat perdagangan yang penting. Barang-barang seperti garam batu, emas, dan tembaga menjadi komoditas utama yang diperdagangkan di jalur ini. Harga garam batu pada saat itu senilai dengan beberapa ratus gram emas.

    Timbuktu

    Demografi Timbuktu sangat beragam, mencerminkan berbagai kelompok etnis dan budaya yang berkontribusi pada kekayaan intelektual kota. Penduduknya termasuk kelompok Songhai, Tuareg, dan Fulani, serta pedagang dan cendekiawan yang berasal dari berbagai belahan dunia. Interaksi antarbudaya ini menciptakan lingkungan yang kaya akan ilmu pengetahuan dan tradisi keagamaan, yang sangat mendukung pertumbuhan pendidikan dan penelitian. Timbuktu menjadi salah satu pusat perdagangan yang dikuasai oleh kerajaan Mali.

    Perdagangan yang berkembang memberikan dasar ekonomi yang kuat bagi Timbuktu, dan pendidikan serta pembuatan naskah menjadi sumber penghasilan tambahan. Ekonomi yang kuat ini memungkinkan terciptanya infrastruktur yang mendukung kegiatan pendidikan dan intelektual, termasuk pembangunan Madrasah Sankore sebagai pusat pembelajaran.

    Madrasah Sankore didirikan dengan dukungan finansial dari penguasa lokal dan pedagang kaya. Menjelang era pemerintahan Mansa Musa, peranannya sebagai pusat ilmu semakin diperkukuh dengan banyaknya ulama datang sebagai pengajar. Institusi ini dirancang sebagai pusat pendidikan tinggi, di mana nilai-nilai pendidikan dan penelitian dihargai. Madrasah ini menjadi tempat bagi cendekiawan untuk berkumpul, belajar, dan mengajar berbagai disiplin ilmu, dari teologi dan hukum hingga astronomi dan matematika.

    Fokus utama pendidikan di Madrasah Sankore adalah mengintegrasikan pengetahuan religius dan sekuler, dengan penekanan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Metodologi pengajaran yang inovatif, termasuk debat dan diskusi, membantu memperkuat standar akademik dan melahirkan generasi pemikir dan cendekiawan Muslim.

    Mansa Musa

    Madrasah Sankore pada awalnya adalah sebuah Masjid, terdapat tiga buah masjid, yakni: Masjid Sankore yang awal telah berdiri sejak abad 12, Masjid Zingereber yang dibangun oleh Mansa Munsa dengan pertolongan Arsitek dari Andalus, Abu Ishaq al-Sahili pada abad 13, dan Masjid Sidi Yahya yang dibangun oleh penguasa keturunan suku Tuareg, Akil Akamalwa.

    Keberadaan Madrasah Sankore di Timbuktu tidak hanya meningkatkan status kota sebagai pusat keagamaan dan intelektual tetapi juga sebagai simbol penting dalam sejarah pendidikan Islam. Keberadaan Madrasah ini menjadikan Timbuktu sekelas dengan kota-kota penting Islam lainnya pada masanya seperti Baghdad, Mekkah, Madinah dan Kaherah dari segi keilmuaan. Institusi ini menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi alat penting untuk mobilitas sosial dan pelestarian budaya.

    Dengan demikian, Madrasah Sankore berperan penting dalam sejarah pendidikan dan ilmu pengetahuan. Warisan dan kontribusinya terhadap dunia Islam dan internasional terus diakui sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah pendidikan global.

    Referensi:

    • Stewart, C. C. (2007). “Islam dan Pendidikan di Afrika Barat: Manuskrip dan Pendidikan Agama di Timbuktu.” Dalam “Islam di Afrika”, diterbitkan oleh Indiana University Press.
    • Hunwick, J. O. (1999). “Timbuktu dan Sankore University: Gudang Ilmu Pengetahuan Islam Pada Zaman Keemasan.” Diterbitkan dalam jurnal African Research & Documentation.
    • Saad, E. N. (1983). “Pendidikan Sosial dan Keagamaan di Timbuktu.” Tesis disajikan untuk Universitas California.
    • Mora, K. (2022, 6 Jun). How Timbuktu Flourished During the Golden Age of Islam. History.
    • Cartwright, M. (2019, 22 Februari). Timbuktu. World History Encyclopedia.
    • Jarus, O. (2013, 22 Januari). Timbuktu: History of Fabled Center of Learning. Live Science.
  • Emansipasi Kartini dan Pendidikan bagi Kaum Marginal

    Emansipasi Kartini dan Pendidikan bagi Kaum Marginal

    Kartini tidak hanya dikenal sebagai pionir emansipasi perempuan di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu sosok yang menghubungkan gagasan pendidikan Barat dengan nilai-nilai keislaman tradisional. Salah satu interaksi penting yang membentuk pandangannya adalah hubungannya dengan KH Sholeh Darat. Melalui dialog dengan Kyai Sholeh, Kartini mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana pendidikan dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman, yang kemudian memperkuat semangatnya dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan untuk kaum marginal, khususnya perempuan.

    Sebuah gambaran umum tentang kemajuan signifikan pendidikan yang telah dicapai oleh Indonesia adalah dalam memberikan akses pendidikan untuk semua gender. Dari program wajib belajar yang mencakup sekolah dasar hingga sekolah menengah, Indonesia telah melihat peningkatan dalam literasi dan akses pendidikan formal. UNESCO mencatat bahwa partisipasi sekolah di Indonesia nyaris mencapai angka universal untuk pendidikan dasar dan menengah.

    Meskipun demikian, di daerah pedesaan dan di kelompok adat, masih sering menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan berkualitas. Kaum perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki, mereka lebih sering mengalami kesulitan yang disebabkan oleh faktor geografis, ekonomi, dan sosial-kultural. Terlebih lagi di daerah rural dan terpencil, jika masyarakat daerah memiliki partisipasi pendidikan yang rendah, apalagi tingkat partisipasi untuk kaum marginal, khususnya perempuan.

    Akan tetapi kesuksesan akses pendidikan tersbeut masih memiliki kendala pada transisi dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi yang menampilkan kesenjangan yang lebih mencolok, khususnya bagi perempuan dari kelompok marginal. Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa terdapat disparitas gender yang signifikan dalam akses ke pendidikan tinggi. Faktor ekonomi, norma sosial yang mendukung patriarki, dan keterbatasan informasi tentang pendidikan tinggi adalah beberapa hambatan utama yang mempengaruhi partisipasi perempuan.

    Banyak perempuan terpaksa menunda atau membatalkan rencana pendidikan tinggi karena alasan ekonomi atau tanggung jawab sosial, seperti pernikahan dini atau harus merawat anggota keluarga. Hal ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk memastikan kesetaraan dalam akses pendidikan tinggi.

    Wawasan Kartini tidak lepas dari pengaruh KH Sholeh Darat, yang dikenal sebagai salah satu tokoh pembaruan Islam di Jawa. Melalui korespondensi dan diskusi, Kartini menyerap banyak pelajaran tentang bagaimana pendidikan Islam dan pemikiran keagamaan bisa berkontribusi terhadap emansipasi sosial, khususnya bagi perempuan. Mbah Sholeh memberikan perspektif yang membantu Kartini menggabungkan idealisme barat dengan nilai-nilai keislaman, memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan harus dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, termasuk perempuan dan seluruh kelompok marginal tanpa terkecuali.

    Untuk mengatasi ketimpangan ini, pemerintah dan berbagai NGO swasta perlu lebih sigap dalam inisiatif untuk memperluas akses dan kualitas pendidikan kaum marginal, termasuk beasiswa khusus dan program pendidikan keuangan ataupun yang menstimulus kemandirian. Kesadaran akan pentingnya pendidikan yang setara juga perlu didorong melalui kampanye dan program pemberdayaan di pedesaan dan daerah terpencil.

    Ide dan semangat emansisipasi Kartini dan juga tokoh penggerak perempuan lainnya masih terus digaungkan setiap tahunnya. Ide-ide tentang kesetaraan akses pendidikan terus menginspirasi perjuangan untuk pendidikan kaum marginal di Indonesia. Pendidikan yang berkualitas yang inklusif, yang menggabungkan nilai-nilai keislaman dan modernitas, adalah kunci untuk mencapai kesetaraan dan pemberdayaan yang adil dan merata. Peringatan Kartini setiap tahun mengingatkan kita terus pada kebutuhan akan pendidikan yang merata dan adil, sebuah impian yang masih terus diupayakan dan menjadi tugas kita semua di Indonesia.

  • Melangkah Yakin Dalam Kemenangan

    Melangkah Yakin Dalam Kemenangan

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Dalam menelusuri perjalanan sirah nabi ada kalanya kita terkesima dengan ujian-ujian berat yang dihadapinya. Misalkan saja cerita tentang tahun kesedihan meninggalnya Abu Thalib, kemudian tidak sampai disitu dilanjutkan dalam beberapa waktu yang berdekatan dengan meninggalnya Khadijah. Kehilangan perlindungan Bani Hasyim yang kemudian nabi meminta perlindungan ke Thaif, yang kemudian justru yang didapatkan pengusiran bahkan dikejar-kejar seperti maling ayam (kira-kira), yang kemudian bersembunyi di kebun kurma. Tapi semua ini tidak menggoyahkannya keyakinannya terhadap kebenaran.

    Meyakini kebenaran tidak lah mudah, dengan segala ujian dan cobaannya. Hal yang paling berat menghadapinya adalah fitnah dan desas desus yang berbisik kemana-mana. Sekiranya hanya satu tantangan berduel tentu akan mudah diselesaikan, tetapi fitnah dan desas desus adalah hal yang sulit untuk dihadapi, sehingga Allah (swt) memberikan hukuman khusus terhadap pelakunya. Desas desus bergerak pengecut dalam kegelapan, satu-satunya cara menghadapinya adalah teguh dalam keyakinan dan kebenaran yang hakiki. Hanya dengan keyakinan seperti itu kemenangan yang hakiki bisa diraih.

    Menjadi pertanyaan, darimanakah datangnya tenaga tanpa henti dan keyakinan untuk dapat seteguh para nabi dan hamba-hamba yang shalih?

    Konsep kemenangan ataupun kegemilangan yang ditawarkan oleh Islam sedikit berbeda dengan apa yang secara umum masyarakat kita pahami. Kemenangan bukanlah berdiri menjadi yang pertama, menjadi tokoh, ataupun memperebutkan sesuatu, ini adalah kemenangan picisan yang hanya dikejar oleh manusia-manusia yang tidak selesai lagi dengan dunianya, seperti juga kanak-kanak yang masih suka riang bermain. Yang disebut kemenangan hakiki adalah kemenangan yang nyata berupa keridhaan Allah (swt) dan surga firdausnya.

    إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا ‎

    لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا

    يَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, (1) supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, (2) dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). (3)”

    (QS Al-Fath : 1-3)

    Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah harus seperti apa dan jalan yang bagaimana yang harus ditempuh untuk memperoleh kemenangan tersebut?

    Kemenangan adalah buah dari keyakinan (keimanan), usaha dan tempaan yang dialami sepanjang perjalanan. Setiap tantangan yang dihadapi, setiap rintangan yang diatasi, adalah suatu tempaan yang membuat jiwa raga menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih matang. Ini adalah proses alami yang harus dilalui oleh siapapun yang ingin mencapai kemenangan dan kesuksesan. Selain itu kemenangan juga diperoleh dari pembelajaran dan pemahaman yang kuat akan kebenaran, yang mana amal yang menghantar kan kita lebih dekat dengan kemenangan hakiki, yang mana amal yang justru menjerumuskan kita dalam kesia-siaan.

    Kemenangan yang dijanjikan Allah kepada para nabi dan orang-orang shalih sebanding dengan lika-liku cobaan yang dihadapinya. Maka, kekuatan utama untuk mendapatkan kemenangan adalah kekuatan keimanan terhadap kebenaran. Kuatnya iman seseorang tercermin dari kerasnya pendirian, kuatnya kemauan, hati yang tabah dan tidak mudah menyerah. Yang kesemua itu diarahkan untuk bersandar pada kebenaran yang hakiki yang diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya, dan tidak mudah digoyahkan oleh ambisi dan hawa nafsu duniawi.

    Untuk dapat berusaha mencapai kemenangan hakiki, diperlukan keimanan dan keyakinan yang tak mudah digoyahkan. Keyakinan ini harus dipastikan berlabuh pada kebenaran dan dan juga berakar pada pemahaman yang mendalam terhadap keilmuan (agama) dan keteraturan alam semesta yang telah diciptakan oleh Tuhan. Itulah mengapa pendidikan dan menuntut ilmu menjadi sangat penting dalam membentuk dasar keyakinan tersebut. Ilmu memberikan kita peta dan arah dalam menjalani hidup; mengajarkan kita cara berpikir, bertindak, dan percaya pada proses yang dilakukan dengan cara yang benar.

    اَللَّهُمَّ فَقِّنَّ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْنَّ التَّأْوِيْلَ

    “Ya Allah, berilah kefahaman kepada kami dalam urusan agama dan ajarkan kami takwil (al-Quran).”

    Kunci untuk menguatkan keyakinan dan keimanan ini ini adalah melalui pendekatan terhadap ilmu dengan sikap yang benar; bukan hanya sekedar mengejar pengetahuan, tapi juga berpegang teguh pada kebenaran yang di yakini dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan ini teori-teori pembelajaran yang diserap oleh akal bisa menjadi sikap dan keyakinan yang kuat. Kuatnya godaan untuk berpaling pada sikap dan meremehkan cobaan hanya akan kembali pada melemahnya keyakinan kita.

    Dalam setiap usaha dan proses, penting untuk selalu mengingat bahwa tidak ada yang instan. Seperti air yang menitik pelan-pelan mampu melubangi batu, begitu juga usaha yang konsisten dan keyakinan yang kuat akan membawa kita kepada kemenangan. Ini adalah proses yang membutuhkan waktu, tenaga, dan dedikasi.

    Selain itu, kemenangan juga membutuhkan visi yang jelas tentang apa yang ingin dicapai. Tanpa visi, usaha yang dilakukan akan menjadi sia-sia karena tidak tentu arah yang ingin dituju. Visi akan kebenaran menjadi bintang pemandu dalam setiap langkah yang diambil, memberi motivasi untuk terus bergerak dan mempersiapkan jalan untuk melangkah kedepan.

    Adapun dalam perjalanan dan proses, tidak jarang akan ada banyak menghadapi kegagalan. Namun, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses dan pembelajaran. Dengan keyakinan yang kuat dan visi yang jelas, manusia harus bangkit dari setiap kegagalan, mengambil pelajaran dari setiap kesalahan, dan melangkah lagi dengan persiapan yang lebih matang. Berprasangka baik terhadap ujian dan cobaan untuk menempa potensi yang ada.

    Maka, penting untuk selalu melakukan refleksi dan mengevaluasi diri. Melalui refleksi ini, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diperlukan, memahami apa-apa yang sudah dilakukan dengan cara yang benar ataupun apa yang dilakukan dengan cara yang salah, dan yang mana diperlukan untuk menjadi perbaikan. Hal ini menentukan langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

    هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ

    “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka…”

    (QS Al-Fath : 4)

    Akhirnya, kemenangan adalah untuk mereka yang yakin akan kebenaran, mereka yang penuh dengan keimanan. Dengan usaha yang konsisten, keyakinan yang kuat, berpegang pada kebenaran hakiki dan pembelajaran dari setiap tempaan, apapun insyaallah bisa dilalui. Semoga Allah berikan kita hidayah menjemput kemenangan dalam jalan yang diridhai-Nya.

    Donasi Dukung Kita
  • Jika Hanya Mengejar Ghanimah

    Jika Hanya Mengejar Ghanimah

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Sejarah, dalam lembarannya yang tak terhitung, sering kali menuliskan kisah-kisah tentang bagaimana keunggulan moral dan integritas mengatasi kekuatan fisik. Salah satu cerita paling ikonik adalah tentang Daud, pemuda yang dengan keberaniannya berhasil mengalahkan Jalut, seorang raksasa yang ambisius dan serakah. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa keberanian dan kepercayaan diri, dikombinasikan dengan tujuan yang benar, dapat mengatasi rintangan terbesar sekalipun.

    Sejarah juga memberi kita pelajaran melalui kisah Musa dan Firaun. Musa, dengan keteguhan hati dan kepercayaan kepada kebenaran, memimpin rakyatnya melintasi tantangan yang tampaknya mustahil. Sementara Firaun, dengan semua kekuasaan dan ambisinya, mengejar hingga akhirnya tenggelam dalam Laut Merah. Kisah ini menggarisbawahi bahwa keangkuhan dan pengejaran buta terhadap kekuasaan sering kali mengarah pada kehancuran diri.

    Dalam konteks yang berbeda, sejarah juga mencatat kekalahan pasukan Muslim dalam Pertempuran Uhud, yang diakibatkan oleh ketertarikan mereka pada harta rampasan perang (ghanimah). Saat kemenangan tampak sudah di tangan, sebagian dari mereka tergoda oleh keuntungan materi dan mulai memperebutkannya. Akibatnya, mereka mengalami kekalahan yang pahit yang menyesakkan, sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana ketamakan (iming-iming terhadap ghanimah) dapat mengaburkan penilaian dan merusak komitmen.

    Kisah-kisah ini, meskipun terjadi dalam berbagai konteks dan zaman, menyampaikan tema yang sama: bahwa kegemilangan diraih dengan berpegang teguh pada prinsip dan nilai yang benar, dan tidak tergoda dengan hasil dari apa yang didapat seperti harta ataupun kuasa. Dalam setiap kasus, tujuan yang difokuskan untuk meraih rampasan (ghanimah), bukan pada kekuatan moral, bukan integritas pada keadilan, bukan pula keyakinan pada kebenaran, ataupun komitmen terhadap nilai-nilai etis, hal itu tidak akan bernilai besar, bahkan justru akan memberikan rasa kalah walaupun secara fisik memiliki kemenangan.

    Jika hidup hanya mengejar ghanimah maka tak ubahnya kita seperti anjing ataupun binatang liar yang mengklaim kawasan ketika kemenangan. Kelebihan manusia adalah dalam hal akal, integritas, mengajak dalam kebaikan dan mampu membedakan haq dan bathil. Kisah-kisah diatas hakikatnya adalah mengajarkan kepada kita bahwa menang dan kalah haruslah memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekedar merebut dan mendapatkan kelebihan akibat dari kemenangan tersebut.

    Di dalam dunia yang sering kali terlihat sebagai arena persaingan menang kalah bahkan tanpa batas, kita mudah untuk terjebak dalam perburuan tanpa henti untuk keuntungan dan keunggulan. Namun, manusia sejatinya dilengkapi dengan tujuan dan prinsip yang lebih tinggi daripada sekedar menjadi pemain yang liar dalam perebutan segala yang terlihat menguntungkan dan dapat diraih.

    Bumi Eropa yang dikenal sebagai negeri syuhada para pejuang Andalusia menyimpan satu cerita bagaimana ghanimah yang banyak memperlambat gerak para pejuang dan kehilangannya mengakibatkan padamnya semangat perjuangan yang tulus. Ghanimah adalah godaaan, dan siapa yang terlena telah memberikan luka dan sifat kerdil pada hatinya. Tidak akan mungkin integritas dan api perjuangan dapat bersemanyam di hati yang kerdil.

    Ketika hidup hanya difokuskan pada mengejar ghanimah, entah itu berupa kekuasaan atau pun harta, kehilangan rasa syukur menjadi konsekuensi yang sangat tidak terhindarkan. Rasa lapar untuk menguasai untuk mendapatkan lebih banyak harta rampasan membutakan kita dari menghargai apa yang sudah didapatkan secara halal dan dengan kerja keras. Bahkan lebih ironinya bahwa ghanimah yang kita incar bukanlah bukti dari apa-apa yang kita coba usahakan dengan kerja keras selama ini.

    Walaupun Islam menghalalkan ghanimah, Islam juga memiliki tuntunan dan peringatan untuk berhati-hati terhadap ghanimah. Sekiranya zakat berjumlah 2,5% untuk harta yang kita usahakan, sedangkan ghanimah dituntut sebanyak 20%, jauh lebih banyak dari zakat. Filosofi ini seperti zakat pertanian sebesar 5% untuk hasil pertanian yang diusahakan dan 10% untuk hasil pertanian yang dibiarkan begitu saja. Hal ini mengingatkan kita harta-harta yang diperoleh hanya dengan goyang-goyang kaki memiliki kewajiban yang dituntut oleh Allah. Karena sekiranya adanya hal tersebut adalah akibat dari apa yang dikehendaki oleh Allah bukan dari apa-apa yang terasa kita usahakan.

    “Dan ketahuilah, bahawa apa sahaja yang kamu dapati sebagai harta rampasan perang, maka sesungguhnya satu perlimanya (dibahagikan) untuk (jalan) Allah, dan untuk RasulNya, dan untuk kerabat (Rasulullah), dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ibnus-sabil (orang musafir Yang keputusan)…”

    (QS Al-Anfal : 41)

    Dalam usaha yang tidak kenal lelah untuk meraih kemakmuran yang melimpah, banyak yang tergelincir jauh dari jalur yang benar jika tidak berhati-hati memperolehnya dalam tuntunan agama. Berapa banyak yang bekerja dan mengabdi, misalnya, yang berakhir dengan penyesalan karena tergiur oleh kemudahan-kemudahan yang seharusnya menjadi larangan? Gaji dan penghargaan atas pengabdian mereka seolah-olah tidak lagi memuaskan, sehingga mereka terdorong untuk mengambil lebih, berkhianat hingga menerima suap atas pekerjaan yang sejatinya merupakan kewajiban mereka. Fenomena akhir zaman ini adalah hal yang saat ini nampak terlihat umum dimana-mana, di contohkan oleh yang tua dan ditiru oleh yang muda. Betapa pongahnya kita dengan harta dan kuasa ghanimah yang melenakan, terlebih lagi didapatkan dengan cara yang salah.

    Dr Isra Ahmadsyah menginspirasi penulis dalam tulisannya dalam harian Aceh yang berjudul “Ketika Amanah Dianggap Ghanimah” menguraikan bagaimana amanah pada saat ini yang melekat kepada abdi negara, pemerintah, swasta dan masyarakat secara umum dianggap sebagaimana ghanimah. Seolah-olah kemenangan dalam mencapai karir, posisi, kontestasi politik dan persaingan telah memberikan kita hak mutlak terhadap posisi dan kuasa tersebut. Menjadikan kita boleh melakukan dan menguasai apa saja dengan cara apa saja, tanpa mempertimbangkan amanah dan ada kewajiban yang ternodai.

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.

    (QS. Al-Anfal : 27)

    Hal ini menunjukkan sebuah ironi yang menyedihkan tentang kondisi etika moral kemanusiaan kita: ketika pencapaian dan akumulasi kekayaan dianggap sebagai ukuran utama tentang kesuksesan. Kita kehilangan pandangan terhadap nilai-nilai yang seharusnya membimbing tindakan kita. Kita menjadi buta terhadap dampak jangka panjang dari tindakan kita, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap masyarakat sekitar. Kita tidak tahu kapan menarik rem tangan untuk mengendalikan diri kita dari godaan kekuasaan dan harta ghanimah.

    Integritas dan idealisme seharusnya menjadi kompas yang mengarahkan kita dalam mengambil setiap keputusan. Sejarah telah menunjukkan bahwa hanya melalui pemeliharaan nilai-nilai ini, individu dan masyarakat dapat mencapai kemajuan yang berkelanjutan dan bermakna menciptakan peradaban yang madani dan penuh hikmah. Masyarakat yang beradab lebih tertata, dan akan mudah berkembang untuk mencapai kemakmuran.

    “Dari agitasi menuju terorganisir, dengan pendidikan”

    (Bung Hatta)

    Kehidupan yang difokuskan pada mengejar ghanimah sering kali mengarah pada hancurnya spiritual dan kehancuran moral yang kasat mata, walaupun secara fisik harfiah kita terlihat bermarwah. Kesenangan dan kekayaan yang disandarkan hanya bermodal ghanimah tidak akan pernah bisa memberikan kepuasan sejati. Alih-alih, hal tersebut hanya menambah berat beban jiwa, menghitamkan hati yang sejatinya tengah dipersiapkan untuk akhir yang baik. Menghilangkan tujuan dan cita-cita yang luhur.

    Untuk meraih dan memperbaiki hal ini, kita harus kembali pada dasar-dasar, mengingat kembali nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh agama untuk membimbing kehidupan kita. Bekal yang paling berharga ditinggalkan orang tua dan guru-guru kita adalah bekal kefahaman dalam agama. Lapar bisa tahan, haus dahaga bisa ditunda, tetapi tidak khianat dalam amanah ataupun menyalahi tuntunan agama. Kesalah yang merupakan satu kesalahan yang sia-sia di dunia dan akhirat. Tidak bersandar pada ghanimah adalah tentang membangun karakter yang kuat dan memiliki nilai-nilai yang luhur.

    Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memilih jalannya sendiri, untuk menentukan apa dan bagaimana jalan hidupnya. Kita mudah untuk melupakan bahwa apa yang kita tinggalkan di dunia ini bukanlah sekedar harta yang kita kumpulkan, tetapi juga jejak yang kita ciptakan melalui tindakan dan keputusan kita. Warisan yang paling berharga adalah teladan integritas dan idealisme yang kita tunjukkan kepada generasi yang akan datang, bukan sebaliknya.

    Akhirnya, jika hidup hanya mengejar ghanimah, kita akan menemukan bahwa pada akhirnya, itu adalah perjalanan yang kosong, tanpa tujuan dan tidak memberikan nilai tambah dari keberadaan kita. Kekayaan sejati terletak dalam hasil usaha dari keringat dalam mencapai dan menjalani kehidupan yang bermakna. Integritas dan idealisme menjadi pemandu kita dalam setiap langkah. Semoga Allah berkenan menjadikan lelah kita menjadi lillah yang bermakna ibadah.

    Donasi Dukung Kita
  • Sekiranya Dunia Perlu Diperebutkan

    Sekiranya Dunia Perlu Diperebutkan

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Kehidupan di dunia ini sejatinya adalah serangkaian ujian dan cobaan yang untuk menguji sejauh mana keyakinan yang kita pegang teguh, amal yang kita lakukan dan upaya pembuktian dari keyakinan tersebut. Hal semua ini juga harus diikuti oleh kemauan kita untuk terus belajar memperbaiki diri mempelajari agama dalam konteks memaknai proses penciptaan dan keyakinan adanya tuhan yang menguasai alam ini. Dalam kaca mata ini, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan satu-satunya jalan yang harus dilalui untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan akhirat yang kekal.

    Berapa banyak raja-raja tumbang tanpa membawa kononnya kemegahan yang dibuatnya, berapa banyak ambisi-ambisi karam karena tidak datang dari kepahaman terhadap ushul yang hanif, dan berapa banyak kedzaliman dimusnahkan karena berlawanan keadilan. Dinasti-dinasti, bangsa-bangsa, dan berbilang kaum dipergantikan bergiliran karena tidak mampu memanggul amanah untuk berbuat benar, mencegah kemungkaran dan berlaku adil.

    Dalam berjuang di dunia, sebaiknya kita memahami bahwa apa yang diperebutkan bukanlah kemewahan ataupun keberhasilan duniawi yang fana, akan tetapi kesempatan untuk melakukan kewajiban ataupun menunaikan amanah yang telah diberikan kepada kita. Masing-masing kita berjalan menurut kadar dan ukurannya. Suami yang menjaga keluarganya, istri yang menjaga harta suaminya, anak yang taat pada orang tuanya. Ada juga di dalam tatanan sosial yang lebih besar seperti pemimpin yang menjaga rakyatnya, pengikut yang taat pada pemimpinnya dan rakyat umum yang taat pada aturan pada negeri yang didiaminya. Kesemua itu dirangkum dalam bingkai ketaatan seorang hamba pada tuhannya. Ketaatan ini adalah upaya untuk mendapatkan ridha tuhan, yang merupakan tujuan yang bahkan lebih utama dari makna kehidupan duniawi yang sementara ini.

    Persaingan dalam kehidupan ini, jika dipandang dari lensa yang benar yang disampaikan oleh nabi dan rasulnya, difokuskan pada bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas ibadah dan amal kita dalam kerangka personal, memperjuangkan kebenaran dan mencegah kemunkaran dalam tatanan sosial yang lebih besar. Bukan tentang siapa yang memiliki lebih banyak, tapi tentang siapa yang bisa memberi lebih banyak, siapa yang bisa berbuat lebih banyak kebaikan dan siapa yang paling taat dalam menjalankan perintah-Nya dalam syariat yang diturunkan. Setiap umat di dunia ini yang mengaku beragama dan bernabi telah diberikan tuntunan syariat sesuai dengan zaman dan keadaannya.

    “… maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah Allah pinjaman dengan pinjaman yang baik.”

    (QS Al-Muzammil : 20)

    Kehidupan dunia ini sering kali dipenuhi dengan godaan dan distraksi yang mengarahkan perhatian kita jauh dari tujuan sejati kita. Terlebih lagi sebagai secara naluri kita sebagai manusia memang menyukai pencapaian dan kegemilangan. Pada umumnya sebagai manusia untuk menjaga kepercayaan diri perlu memotivasi dengan pencapaian-pencapaian yang baik. Namun perlu disadari juga, dengan memahami bahwa setiap detik di dunia adalah kesempatan untuk berinvestasi dalam kehidupan akhirat, kita bisa lebih fokus pada apa yang benar-benar penting untuk kita capai dalam hidup di dunia.

    Persaingan-saingan yang hanya mengedepankan ambisi yang kemudian melanggar syariatnya adalah satu kesia-siaan. Mengambil kekuasaan dan tidak mau bertanggung jawab atas konsekuensinya malah justru mengantarkan kita ke ancaman yang lebih besar yakni kedzaliman dan kecurangan. Harta dan marwah seseorang telah ditegaskan haramnya oleh nabi Muhammad pada haji wada kecuali dengan cara yang halal seperti perjanjian ataupun jual beli.

    “Ujian harta dan kekayaan bagi yang kaya adalah riba, bagi yang mampu adalah berlaku curang dan bagi yang tidak memilikinya adalah mencuri.”

    (Bey Abdullah)

    Amal-amal yang kita buktikan dalam kehidupan dunia ini menjadi saksi atas keyakinan yang kita pegang. Setiap perbuatan baik, tidak peduli seberapa kecil, merupakan langkah menuju pencapaian ridha ilahi dan sukses di kehidupan yang kekal. Dalam upaya untuk mencapai tujuan ini, pemahaman agama memegang peranan yang sangat penting. Pemahaman agama juga harus diikuti oleh keyakinan yang kuat, karena ujian dan cobaan memiliki banyak bentuk dan beragam. Banyak yang paham dan lancar dalam agama tetapi tidak mampu merealisasikannya dalam keseharian, dalam muamalah transaksi halal dan haram seringnya.

    Sekiranya dunia perlu diperebutkan maka perkara yang diperebutkan tersebut harus dapat memberikan faedah yang senilai. Apakah pekerjaan tersebut halal, apakah memberikan nilai tambah dalam ketaatan kita kepada Allah, apakah memberikan manfaat kepada situasi yang dhaif, dan apakah tidak menghalangi kita dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Ketika semua itu terjawab, maka artinya perkara tersebut bukanlah perkara yang akan sia-sia, ataupun menjadi istidraj kepada kita (ujian kesenangan).

    Menuntut ilmu agama adalah fardhu ain bagi setiap manusia, untuk mengetahui siapa tuhannya dan syariat yang dibebankan kepadanya. Ketidakpahaman agama bukanlah menjadi aib, tetapi pengabaiannya akan berakibat fatal pada hidup kita. Seberapa banyak di akhir hidup seseorang terjebak dalam ambisi dan kesenangan dalam dunia. Berapa banyak perkara yang kemudian tidak difikirkan secara matang mendatangkan kedzaliman dan kerugian dalam akhirat kita. Semua ini bisa dihindari dengan pemahaman agama yang hanif.

    Sekiranya dunia ini perlu diperebutkan, maka itu adalah dalam konteks berlomba-lomba dalam kebaikan, memperjuangkan keadilan, dan berusaha keras dalam mencapai ridha Ilahi. Memang kekayaan itu penting tetapi tidaklah penting kecuali yang memberikan manfaat, dan memang kedudukan itu penting tetapi tidak lah penting kecuali yang dapat menciptakan keadilan. Semoga kita diberikan kemudahan menghadapi dunia.

    Donasi Dukung Kita
  • Merambah Jalan Yang Baru

    Merambah Jalan Yang Baru

    Oleh: 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Siapa yang pada akhirnya tidak kenal dengan seseorang yang dikenal dari sikap dan kata-kata yang penuh fitnah dan cacian. Walaupun kedudukan yang dipandang tinggi diantara masyarakat, anak orang besar, memiliki harta yang cukup. Sifatnya yang suka memfitnah, dan melakukan hasutan tidak mencerminkan apa yang sepatutnya keluar dari dirinya itu. Kesemua itu dilakukannya secara diam-diam supaya tidak terciprat muka sendiri. Orang-orang seperti ini membesar dengan egonya dan para ‘alim menyebutkan mereka ini banyak melakukan perkara fasiq (merusak) karena ego dan ambisinya, dibandingkan mendatangkan kebaikan.

    Seseorang ini kemudian diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran didalam surat Al-Masad. Al-Quran menyebut seseorang ini sebagai pembawa kayu bakar, yang memiliki makna secara harfiah dan juga majas. Ya, dialah yang sembunyi tangan adalah bibi dari pada nabi Muhammad saw. Lebih jauh lagi bersama suaminya Abu Lahab yang merupakan paman dari Muhammad, mereka menggugat amanah yang diberikan kepada nabi, dan mengatakan sepatutnya Abu Lahab lah yang lebih berhak untuk mendapatkan amanah tersebut. Abu Lahab ditutupi oleh ambisinya mengklaim dirinya adalah tokoh nasional, yang tertua dari anak-anak Abdul Muthalib, sehingga dialah yang berhak dibandingkan keponakannya Muhammad. Dengan segala upaya mereka melakukan perkara buruk kepada nabi Muhammad saw, dari mulai mengisolasinya dari keluarga besar Abdul Muthalib, bani Hasyim, bahkan bani Quraisy.

    Fitnah dan huru hara yang ditimbulkan dengan menyebarkan hasutan-hasutan kepada nabi. Atas perilaku dan hobinya ini Allah mengabadikannya dalam Al-Quran sehingga yang tua dan muda, generasi ke generasi mengenalnya dan mengambil ibrah dari ambisinya. Hasutan-hasutan ini ibarat api yang sukar dipadamkan, dan yang mengobarkan apinya adalah sang pembawa kayu bakar, yang memfitnah dan menghasut dengan kebohongan demi kebohongan. Sehingga berapa banyak masyarakat dan keluarga besarnya yang terperdaya, fitnah berserakan dan masyarakat kehilangan berita yang dapat dipercaya. Sejarah sirah nabi kita lah yang mengatakan hal itu semua, hingga nabi dikucilkan dengan berbagai cara dan teror hingga puncaknya diungsikan dari masyarakatnya.

    Kita tidak sedang bercerita panjang lebar bagaimana pelaku-pelaku ini mengugat amanah yang diberikan kepada nabi. Karena cerita para nabi pasti selalu penuh dengan cobaan dan penolakan dari masyarakat hingga orang terdekatnya. Hal ini bukan berarti mengabaikan dukungan dari orang-orang terdekat yang juga sebagiannya disebutkan dalam Al-Quran dan Hadits. Tetapi tulisan ini ingin mencoba mengurai bagaimana sikap yang dicontohkan nabi dalam merespon tindakan-tindakan buruk yang dilakukan. Momen ini terjadi disaat yang nabi sedang berjuang dengan amanahnya dalam dakwah awal yang sangat kritis, yakni diawal-awal membangun pondasi awal dakwah Islam. Beginilah perancangan nabi memberikan teladan dalam mengambil solusi merambah jalan yang baru.

    Sebagian sejarahwan tidak mengulas secara detail momentum ini, akan tetapi disinilah awal mula ketokohan itu mulai, yang tidak menamakan bani Abdul Muthalib, bani Hasyim, bani Quraisy, penduduk Arab Mekkah, karena dengan pengucilan itu hanya tertinggal nama Muhammad bin Abdullah. Dengan memegang amanah yang diberikan kepadanya, dengan dibatasinya segala gerak dan gerik oleh orang-orang yang membencinya, menyebabkan momentum baru tersebarnya dakwah Islam kepada orang-orang di luar dari keluarga besar dan kaumnya. Dari hasutan ini kita bisa melihat babak baru dakwah Islam yang kemudian membesar di luar kota Mekkah, yakni di kota Madinah.

    “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

    (QS Al-Insyirah 5-6)

    Narasi ini adalah tentang mental tersebut, merambah jalan yang baru adalah tekad yang terus dilakukan dan yakin bahwa harapan itu akan selalu ada. Ibarat air yang mengalir, apapun halangan dan rintangan, selalu ada jalan untuk keluar dan terus mengalir. Merambah jalan yang baru adalah sebuah narasi yang bertitik tolak dari sebuah eksplorasi makna bahwa mereka yang diberi amanah memiliki tekad yang tidak dapat dibendung. Sekiranya tantangan yang dekat dan sentimentil dapat dihadapi, apalagi yang tidak memiliki makna sentimentil.

    Setiap perjalanan akan menghadapi berbagai halangan dan rintangan. Namun, bukan hambatan itu sendiri yang menentukan nasib dari kita masing-masing, melainkan bagaimana cara merespons dan memanfaatkannya menjadi satu landasan untuk menapak tangga yang lebih tinggi. Di balik setiap kesulitan terdapat kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan berinovasi. Ini adalah prinsip dasar dalam merambah jalan yang baru, setiap satu halangan besar dia membuka satu jalan yang baru. Sehingga semua bergantung pada cara berfikir kita dan mental yang kuat untuk melakukan semua itu.

    “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

    (QS. Ali Imran : 159)

    Memelihara tekad dan menjaga amanah bukanlah tugas yang mudah. Ini membutuhkan komitmen untuk terus bergerak maju, bahkan ketika kondisi tampak tidak mendukung. Namun, inilah esensi dari keberanian: kemampuan untuk berdiri tegak dan melangkah maju dengan keyakinan, terlepas dari ketidakpastian yang ada. Manusia yang diberi amanah meyakini amanah yang diperolehnya adalah sesuatu hal yang berharga dan dipertanggung jawabkan kepada yang memberi amanah dan kepada Allah swt. Sedangkan manusia yang merebut amanah dengan cara yang tidak etis akan bingung kemana hendak dipertanggung jawabkan amanah tersebut, bisa jadi yang diklaim memberikannya pun tidak akan menerima klaimnya kelak di padang mahsyar.

    Salah satu kunci untuk merambah jalan yang baru adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bervisi jauh kedepan. Dunia terus berubah, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut adalah aset yang sangat berharga. Ini berarti membuka diri terhadap ide-ide baru, perubahan rencana yang dinamis, siap untuk mengambil risiko besar yang diperhitungkan dan tetap fokus pada misi amanahnya.

    Tekad kuat dan pemeliharaan amanah juga artinya mampu memberi nilai kontribusi yang terkecil sekalipun dan kolaborasi yang konstruktif. Melalui kerjasama dan saling mendukung, dapat mencapai lebih banyak tujuan. Jalan baru sering kali dibuka melalui sinergi antara berbagai pihak yang berbeda keahlian dan perspektif.

    “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya : Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; walaupun aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.”

    (QS. Al-Kahfi : 60)

    Dalam setiap usaha untuk merambah jalan yang baru, penting untuk menetapkan tujuan yang jelas. Tujuan ini bukan hanya sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai panduan yang membantu kita tetap fokus dan termotivasi mengambil momentum dalam langkah-langkah yang jauh. Amanah dan tujuan adalah bintang penunjuk arah dalam perjalanan yang penuh ketidakpastian.

    Ambil lah inisiatif dan sedikit proaktif dalam menciptakan kesempatan yang datang. Dengan sikap inisiatif, kita menjadi individu yang menggerakkan perubahan, bukan sekedar obyek penonton dalam cerita hidup kita sendiri. Menghadapi ketidakpastian penuh dengan risiko, sehingga akan menumbuhkan kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus mengubah arah. Keputusan untuk berubah tidak selalu menandakan kegagalan, tetapi bisa jadi langkah strategis untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan dicita-citakan.

    Pentingnya ketahanan mental yang kuat tidak bisa diabaikan dalam merambah jalan yang baru. Ketahanan ini memberikan kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi tekanan dan kegagalan. Ini adalah modal besar yang memungkinkan seseorang dapat tetap optimis dan terus bergerak maju.

    Setiap langkah dalam merambah jalan yang baru harus diiringi dengan refleksi diri. Refleksi ini memungkinkan untuk belajar dari pengalaman yang sudah dilalui, mengakui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dan terus meningkatkan diri. Ini adalah proses berkelanjutan yang menghantarkan seorang manusia pada pertumbuhan karakter dan pribadi yang tidak sentimental.

    “Barang siapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan dan belum mampu melaksanakannya maka Allah telah menulisnya sebagai satu kebaikan”

    (HR. Bukhari & Muslim)

    Merambah jalan yang baru adalah tentang mewujudkan harapan dan amanah. Harapan bahwa di balik setiap tantangan terdapat peluang dan jalan baru yang terbentang luas. Amanah dengan tekad yang kuat serta dilakukan dengan cara-cara yang etis dan baik, akan mendatangkan keberkahan dan kemudahan dari yang Maha Kuasa. Semoga Allah berikan kita hidayah dalam jalan yang diberkahinya.

    Donasi Dukung Kita
  • Menghimpun Suluh Yang Padam

    Menghimpun Suluh Yang Padam

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    29 Mei 1453 satu momentum tercipta, Konstantinopel menjadi Istanbul. Dari keyakinan yang kuat ditengah-tengah keraguan, dari keengganan orang-orang sekitar, sekiranya dahulu Mehmed bin Murad cepat berputus asa dan larut dengan kebimbangan yang disebarkan oleh orang-orang disekelilingnya yang larut dengan dunia, maka tidak akan ada gelar Al-Fatih dalam namanya. Kuatnya keyakinannya dipandu oleh luasnya wawasan dan pengetahuan yang ditempanya, telah menjadikannya sosoknya yang disebut dalam hadits “sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang berada dibawahnya adalah sebaik-baik pasukan”.

    “Ikhtiar-iktiar terus menerus adalah upaya untuk memperkecil potensi kemungkinan…”

    (Bey Abdullah)

    Di dunia yang sering kali terasa berat dan penuh tantangan, mudah untuk merasa lelah dan kehilangan arah. Namun, adalah penting untuk diingat bahwa setiap manusia, tidak peduli seberapa susah keadaannya, perlu untuk berkontribusi dalam menjaga semangat melakukan kebaikan. Hanya dengan menjaga semangat ini, kita dapat memastikan bahwa dunia terus memaknai arti dari kebaikan dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi.

    Setiap harinya, kita dihadapkan dengan pilihan untuk melakukan kebaikan atau berpaling dari kesempatan yang diberikan oleh Allah. Dalam momen-momen yang kecil sekalipun, keputusan kita menentukan siapa kita dan apa nilai apa yang kita pegang. Keputusan untuk membantu orang lain, untuk berbicara dengan kelembutan, untuk melakukan dengan cara yang baik, untuk tidak mengambil hak orang lain, untuk membagikan apa yang kita miliki, semuanya adalah ekspresi dari nilai-nilai kebaikan yang kita yakini.

    Dalam masyarakat yang semakin individualistik, mengingatkan diri kita tentang pentingnya kebersamaan dan kepedulian, kebersamaan dan kepedulian dalam melakukan kebaikan bukan justru sebaliknya bersepakat dalam kejahatan. Namun, perlu dicatat, ketika kita memilih untuk berkontribusi pada kebaikan, kita menyalakan kembali suluh yang padam di hati orang lain dan juga diri kita sendiri. Kita mengingatkan satu sama lain bahwa kebaikan masih ada dan penting untuk terus diperjuangkan.

    Melakukan kebaikan adalah satu hal, dan membina, membangun, dan memupuk bibit-bibit pelaku kebaikan adalah hal yang lainnya. Menghimpun suluh yang padam artinya menjaga setiap bibit-bibit kebaikan dan memupuk bibit-bibit tersebut supaya ketika mekar dia akan bermanfaat untuk keadaan yang lebih luas. Adakah Mehmed Al-Fatih tanpa air tangan ayahnya Sultan Murad, Ibunya Huma Hatun, guru-gurunya dan orang-orang disekelilingnya yang yakin padanya.

    Pentingnya menjaga bibit-bibit pelaku kebaikan ini menjadi semakin jelas di saat-saat sulit, ibarat menghimpun suluh yang hampir padam. Ketika dunia dihadapkan pada krisis, bencana alam, atau ketidakadilan sosial, respon kita terhadap kejadian tersebut menunjukkan kekuatan sebenarnya dari kemanusiaan kita. Kita dipanggil untuk bersatu, berbagi beban, dan membantu memulihkan apa yang hilang. Krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza, bukan perang ataupun konflik, telah berkembang menjadi ladang pembantaian yang kesemua orang bingung bagaimana untuk bergerak. Disinilah bibit-bibit ini dibangun untuk menyelesaikan persoalan zamannya dengan cara zamannya.

    “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.”

    Memperjuangkan kebaikan sering kali membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Ada kalanya kesah dan jerih payah harta menjadi sia-sia bahkan menjadi olok-olok. Ada kalanya berbuat baik berarti mengambil posisi yang tidak populer, berbicara melawan ketidakadilan, atau memberikan lebih dari yang kita pikir kita mampu. Namun, ini adalah saat-saat ketika kebaikan menjadi paling berarti. Disinilah lelah menjadi lilah, berhujung pahala bagi orang-orang yang sabar.

    Keindahan dari berbuat baik adalah bahwa itu perbuatan baik itu menciptakan gelombang bawah sadar kebaikan. Satu tindakan kebaikan dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Seperti batu yang dilemparkan ke dalam kolam, efek dari satu tindakan dapat berdampak jauh lebih luas daripada yang bisa kita bayangkan. Disinilah kita paham arti bagaimana kebaikan yang berkah dapat menjadi shadaqah jariyah yang pahalanya berterusan.

    Dalam menjaga semangat berbuat baik, kita juga harus berhati-hati untuk tidak terjebak dalam momentum negatif. Mudah untuk merasa kecewa atau sinis ketika kita melihat kebaikan yang kita lakukan tidak langsung mendapat respons positif. Namun, kebaikan bukanlah tentang hasil yang instan; kebaikan adalah tentang menanam benih yang akan bertumbuh seiring waktu.

    Menghimpun suluh yang padam juga berarti terus bergerak bersama-sama dalam melakukan kebaikan, walaupun berbeda tempat dan waktu, tetapi tetap menjaga kebaikan yang tercerai berai akan ada waktunya untuk bergerak memberikan arti, selama dilakukan dengan cara yang baik dan juga dilakukan dengan penuh kesabaran.

    Karena tindakan kebaikan yang dilakukan dengan cara yang salah, dengan tidak memberikan hak orang lain, dengan berjanji kemudian mengingkari, dengan berkata-kata dusta, dan jika dia memegang amanah dia khianati amanah tersebut. Hal ini tidak lain telah menjadikannya bersifat munafik bahkan cenderung zalim, yang artinya sangat jauh dari upaya melakukan kebaikan, bahkan menjadi pelaku kebaikan.

    “Siapa saja menipu (berbuat curang) maka dia bukan dari golonganku.”

    (HR Muslim)

    Menghimpun suluh yang padam adalah perjalanan yang tidak akan pernah berakhir. Menghimpun suluh yang padam adalah tentang harapan. Harapan bahwa dengan terus berbuat baik, kita dapat mengatasi apapun yang datang menghadang. Harapan bahwa bersama, kita bisa membuat dunia yang lebih baik.

    Peran utama seorang ayah dan ibu dalam mendidik anak-anaknya dengan nilai kebaikan adalah kunci dari upaya menghimpun suluh yang padam. Anak yang beradab akan mudah dididik oleh guru-guru yang terdidik, dan anak yang yang terdidik akan mudah dikordinasikan oleh para pejuang-pejuang kebaikan. Dan hanya kebaikan yang bersandar pada risalah ilahi yang akan membuat kegemilangan itu sekali lagi akan terwujud.

    Menghimpun suluh yang padam bukanlah tugas yang mudah, tetapi adalah tugas yang paling berharga. Berapa banyak mereka yang tidak terkenang nama dalam perjuangan ini, berapa banyak mereka yang wafat tidak terkubur. Sekiranya pamrih dan nama menjadi tujuan, artinya kita telah tertipu oleh yang mereka yang berjuang yang menggunakannya untuk mengumpan dunia.

    Perjuangan ini adalah panggilan untuk semua orang, tanpa kecuali, untuk berkontribusi dalam upaya menjaga dan menyalakan kembali semangat kebaikan di dunia ini. Karena hanya dengan cara itulah kita benar-benar dapat memaknai arti dari memperjuangkan kebaikan. Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang berjuang dalam kebaikan.

    Donasi Dukung Kita
  • Harapan Itu Masih Ada

    Harapan Itu Masih Ada

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Harapan itu masih ada adalah sebuah narasi yang selalu dimulai dari keyakinan bahwa setiap kesuksesan dimulai dari upaya memperbaiki diri, sebuah kontempelasi internal yang berharga. Dalam setiap lembar sejarah yang kita balik, kita akan menemukan bahwa perubahan besar sering kali bermula dari keinginan individu-individu yang gigih untuk menjadi lebih baik. Dari keinginan itu, terciptalah gerakan, tercipta pergerakan, yang kemudian menjadi perubahan yang berdampak besar bagi banyak orang. Dan di titik inilah kita akan terus mengingat bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki potensi yang tak terbatas untuk menciptakan perubahan yang lebih baik.

    Kebangkitan suatu bangsa dan kaum dimulai dari adanya harapan-harapan atas kebaikan. Harapan yang ditanam dalam setiap dada, yang mendorong setiap individu untuk tidak hanya memimpikan keadaan yang lebih baik, tetapi juga bergerak menapak menuju ke sana. Upaya-upaya kecil yang dilakukan setiap hari, oleh setiap individu, menjadi katalis yang pada akhirnya memberikan perubahan besar pada nasib bangsa tersebut.

    Namun, berjalan menuju perubahan sudah pasti bukan lah jalan yang mudah. Ada tantangan dan hambatan yang akan selalu dihadapi. Dalam menghadapi tantangan, yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita dapat mengatasi tantangan, tetapi seberapa konsisten dan istiqamah kita dapat bertahan dalam ujian dan cobaan di jalan kebaikan itu, dan juga tantangan yang tidak kalah beratnya adalah melaluinya dengan cara yang baik dan jujur untuk mengharap ridha Allah. Karena di sinilah, dalam konsistensi dan istiqamah itu, harapan akan terus bernafas dan berkembang.

    Ketika kita berbicara tentang memperbaiki keadaan, kita berbicara tentang sebuah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Proses ini tidak hanya tentang bagaimana mengubah apa yang ada di luar sana, tetapi juga tentang bagaimana mengubah diri kita sendiri. Kita harus bersedia melihat ke dalam, mengenali kekurangan dan kesalahan, dan berkomitmen untuk melakukan yang baik dan juga menjadi lebih baik.

    Perubahan yang berkelanjutan datang dari pemahaman bahwa setiap tindakan kita memiliki dampak. Dengan menerima tanggung jawab ini, kita menjadi lebih sadar tentang pilihan-pilihan yang kita buat setiap hari. Pilihan untuk berbuat baik, untuk menghargai sesama, dan untuk memelihara lingkungan di sekitar kita adalah pilihan yang membentuk masa depan kita bersama.

    Pada titik tertentu, kita mungkin merasa bahwa harapan adalah sesuatu yang sulit untuk dipertahankan. Di saat-saat seperti itu, penting untuk mengingat bahwa sejarah telah menunjukkan kepada kita berkali-kali: kegelapan terdalam sering kali mendahului fajar. Itulah mengapa kita tidak boleh kehilangan harapan, karena itulah yang membawa kita ke depan.

    “Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan kesulitan bersama kemudahan,”

    (HR Tirmidzi)

    Harapan memberi kita kekuatan untuk berdiri kembali setiap kali kita terjatuh. Ini adalah api kecil yang harus tetap dinyalakan, bahkan ketika segala sesuatu tampaknya melawan kita. Kita harus merawat api ini, memeliharanya, karena dari sinilah energi untuk terus bergerak maju berasal.

    Dalam perjalanan memperbaiki diri dan bangsa, kita akan menemukan bahwa kesuksesan bukanlah tujuan akhir dari apa yang kita harapkan. Sebaliknya, kesuksesan adalah serangkaian langkah kecil yang kita perlu tempuh setiap harinya. Kesuksesan adalah sebuah milestone, catatan langkah dari upaya kita menghadapai tantangan. Setiap langkah, tidak peduli seberapa kecil, adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar menuju kebaikan dan keadilan.

    Salah satu pelajaran terbesar dalam proses menjaga harapan ini adalah belajar untuk bersabar. Dalam dunia yang serba cepat ini, kesabaran menjadi semakin langka, namun semakin penting. Kesabaran mengajarkan kita untuk menunggu hasil dari usaha keras kita, untuk memahami bahwa segala sesuatu membutuhkan proses dan menunggu waktu yang tepat.

    Kita juga belajar tentang pentingnya kebersamaan. Dalam perjuangan memperbaiki keadaan, kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita membutuhkan dukungan, bantuan, dan kekuatan dari orang lain. Sahabat-sahabat yang terbaik adalah sahabat yang juga berdiri dalam misi kebaikan. Bersama, kita dapat mencapai lebih banyak daripada apa yang bisa kita lakukan sendiri.

    Pendidikan memainkan peran kunci dalam membangun harapan dan mewujudkan perubahan. Melalui pendidikan, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar bagaimana menjadi kritis, empatik, dan inovatif. Pendidikan membekali kita dengan alat yang kita butuhkan untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Pendidikan memberikan kita solusi untuk menghadapi tantangan dengan cara yang konstruktif, dimana tantangan tersebut adalah anak tangga untuk naik ke atas.

    Selain pendidikan, teknologi juga menjadi faktor penting dalam mewujudkan harapan. Dengan kemajuan teknologi saat ini, kita memiliki lebih banyak alat dan sumber daya untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan lingkungan kita. Teknologi dapat menjadi alat yang ampuh untuk membawa perubahan positif, selama kita menggunakannya dengan bijak. Menguasai teknologi artinya mengetahui cara untuk mewujudkan harapan.

    Harapan juga membutuhkan keberanian untuk berubah. Perubahan sering kali menakutkan karena akan membawa kita keluar dari zona nyaman kita. Namun, tanpa keberanian untuk menghadapi yang tidak diketahui, kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kita dapat pergi atau seberapa banyak yang bisa kita capai.

    Kita perlu juga ingat bahwa memiliki harapan bukan berarti mengabaikan realitas yang keras atau punmenantang. Sebaliknya, memiliki harapan berarti mengakui kesulitan itu, namun tetap memilih untuk melihat adanya setitik kemungkinan dan potensi untuk perbaikan. Ini tentang seni menemukan cahaya, bahkan dalam kegelapan yang paling pekat.

    Ketika kita berbagi harapan kita dengan orang lain, kita tidak hanya memperkuat harapan dalam diri kita sendiri, tetapi juga menyalakannya dalam hati mereka. Harapan dan optimisme yang ditularkan kepada orang lain adalah satu sedekah yang tidak ternilai harganya. Yang tidak jarang satu kata optimisme dari orang lain telah mampu menjadi bahan bakar bagi seseorang menempuh jalan yang jauh.

    Kita juga harus belajar untuk merayakan dan mensyukuri kemenangan ataupun pencapaian yang kecil, karena ini adalah bukti nyata dari kemajuan dan usaha yang kita lakukan. Setiap langkah maju, tidak peduli seberapa kecil, adalah kemenangan dalam perjalanan memperbaiki keadaan dan harus dihargai.

    Pada akhirnya, harapan itu tentang memilih untuk percaya bahwa masa depan dapat lebih baik dari masa lalu. Kontribusi kita diperlukan untuk menciptakan masa depan yang kita harapkan ini. Akhirnya semua ini tentang memilih untuk berinvestasi dalam upaya itu, baik secara pribadi maupun sebagai komunitas.

    “… dan kata-kata yang baik (optimis) membuatku kagum”

    HR Bukhari Muslim

    Harapan itu masih ada, hidup dalam setiap tindakan kebaikan, setiap kata yang menginspirasi, dan setiap hati yang tidak menyerah. Karena selama kita terus berharap dan bertindak berdasarkan harapan tersebut, tidak ada yang benar-benar mustahil.

    Donasi Dukung Kita
  • Sikap Ihsan Kepada Makhluk

    Sikap Ihsan Kepada Makhluk

    Dari hadis Nabi SAW disampaikan;

    عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

    Dari Syadad bin Aus, sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu, jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik, dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang paling baik, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya serta tidak menyiksa kepada sembelihannya.” (Sahih Muslim No: 1955)

    Pengajaran yang bisa diambil:

    1.  Syariat Islam menuntut manusia untuk melakukan perbuatan ihsan (menyempurnakan sesuatu dengan baik) kepada setiap makhluk termasuk hewan.

    2.  Islam mengajarkan tidak bolehnya kita menyiksa atau merusakkan tubuh badan sebagai sasaran dan tujuan kekerasan, kita tidak juga boleh menganiaya orang yang dihukum qishash.

    3.  Jangan karena kita berbeda pandangan atau kumpulan, hal tersebut menjadikan hilangnya sifat ihsan kita terhadap orang lain.

    4.  Termasuklah disebut sebagai ihsan, ketika kita juga berbuat baik terhadap hewan ternak dan mengasihinya. Kita tidak boleh membebaninya diluar kemampuannya serta tidak boleh juga menyiksa ketika menyembelihnya. Termasuk dengan menyepelekan dan merendah-rendahkan binatang saat menyembelihnya. Baik kita dan hewan beribadah dalam peran dan porsinya masing-masing.

    5.  Kewajiban berbuat baik dalam membunuh ataupun mengambil nyawa musuh hendaklah dengan cara mengambil jalan yang paling ringan dan dibenarkan syariat, yakni dalam peperangan ataupun dihukum oleh pengadilan yang berwenang.

    6.  Marilah kita berbuat ihsan dengan melakukan sesuatu urusan dengan menyempurnakan sebaik mungkin, bukan sekadar melepaskan batuk ditangga atau pun menzaliminya.

  • Simpati Saling Mengasihi

    Simpati Saling Mengasihi

    Disampaikan dalam satu hadits:

    عن أبي موسى الأشعري أنه سمع النبي – صلى الله عليه وسلم – يقول : ” لَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَرْحَمُوا ” . قَالُوا : يَا رَسُولُ الله  كُلُّنَا رَحِيم . قال : ” إِنَّهُ لَيسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ صَاحِبَهُ  وَلَكِنَّهَا رَحْمَةَ النَّاسِ رَحْمَةَ الْعَامَّةِ

    Daripada Abi Musa al-Asyari, sesungguhnya aku mendengar Nabi SAW bersabda: Kamu tidak dianggap beriman sehingga kamu saling mengasihi. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, kami semua adalah penyayang. Rasulullah SAW bersabda: Kasih mengasihi yang dimaksudkan bukanlah kasih sayang di antara kalian sahaja bahkan kasih memgasihi kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk. (HR Tobrani No 13671) Status: Hadis Sahih

    Pengajaran

    1.  Sikap simpati, saling mengasihi antara sesama makhluk berkait rapat dengan keimanan makhluk kepada tuhannya, Allah SWT.

    2.  Tuntutan mengasihi bukan hanya kepada sesama Muslim saja, tetapi kepada seluruh manusia dan makhluk lain dengan memberikan hak mereka dengan proporsional, tidak berlebihan dan tidak juga kurang.

    3.  Sifat simpati dan berkasih sayang adalah fitrah yang dianugerahkan oleh Allah kepada semua makhluk yang bernyawa. Sifat ini bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada binatang. Terlebih lagi jika manusia ataupun makhluk ini berjasa budi baik kepada kita.

    4. Allah memberikan pengajaran diantara semua makhluk ada juga yang tidak pandai membalas budi, disebutkan dengan istilah sebagai fasik. Beberapa makhluk yang diketegorikan fasik, adalah makhluk yang tidak mengenal budi baik, seperti ular yang akan senantiasa mematuk siapa saja termasuk yang memberinya makan, binatang berbisa, dsb.

    5. Insting untuk bersimpati dan saling mengasihi selalu ada pada manusia seperti kasih sayangnya kepada orang tua, orang muda, anak-anak, sesama manusia dan binatang. Binatang pun sebagian darinya diberikan rasa bersimpati yang manusia pun dapat melihatnya, seperti kucing, anjing, kuda, binatang peliharaan, dsb.

    6.  Menurut Ibnu Qayyim: Kasih sayang dan simpati adalah sifat memberi manfaat dan kebaikan kepada orang lain dan bersedia bersusah payah mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan kepada orang lain.

    7. Sifat simpati dan kasih sayang adalah sifat yang direfleksikan oleh hati yang selamat – qalbun salim. Jiwa yang senantiasa memberikan manfaat dan mengupayakan perbaikan bagi kehidupan.

    8.  Allah menyayangi orang yang menyayangi sesama makhluk. Rasulullah SAW bersabda:

    إنما ير حم الله من عباده الرحماء

    Allah hanya akan menyayangi hamba yang menyayangi (makhluk-Nya) HR Bukhari dan Muslim

    Wallahu’alam~

    Ust. Abdullah A. Afifi

  • Tiga Golongan Penghuni Surga

    Tiga Golongan Penghuni Surga

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Dalam satu hadits disebutkan:

    عن عياض بن حمار المجاشعي رضي الله عنه عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ

    Dari Iyadh bin Himar al-Mujasyai RA, dari Nabi SAW berkata: “Penghuni surga itu terdiri dari pada tiga golongan; yaitu (1) penguasa yang berlaku adil, gemar bersedekah dan diberi kurnia taufik (Allah), (2) seorang yang penuh kasih sayang dan lemah lembut kepada setiap kerabat dan sesama muslim, dan (3) seorang yang sederhana dan miskin namun menjaga dirinya dari meminta-minta”  (Sahih Muslim No: 5109) Status : Hadis Sahih

    Pengajaran:

    Dari hadits diatas disebutkan diantara golongan yang akan menjadi penghuni Surga ialah:

    1.  Penguasa atau pemimpin yang adil, walaupun berkuasa tapi menunjukkan sikap yang sentiasa pemurah dengan bersedekah dan diberi kurnia taufik oleh Allah dalam menjalankan tanggungjawab.

    2.  Orang yang memiliki sifat kasih sayang dan lemah lembut kepada setiap kerabat dan sesama muslim yang lain.

    3.  Orang yang suci hatinya walaupun miskin namun menjaga dirinya dari menjadi peminta sedekah.

    Dari ketiga golongan diatas, yang manakah yang paling sesuai dengan keadaan kita. Apakah kita adalah seseorang yang sedang berkuasa, ataukah orang yang berlemah lembut ataukah keadaan kita sedang diberikan ujian dengan kemiskinam dan kesederhanaan.

    Kesabaran dan sikap yang kita tunjukkan dalam keadaan kita diatas adalah sikap yang akan menghantar kita dalam keridhaan Allah sehingga Allah memasukkan kita dalam surganya kelak.

    Dalam konteks sebagai warganegara, apakah kita seorang pemimpin ataupun rakyat, berusahalah untuk memiliki sifat adil, kasih sayang dan lemah lembut kepada orang lain serta janganlah menjadi seseorang yang peminta seandainya tidak mampu lagi menjadi peminta-minta.

    Wallahu’alam, semoga bermanfaat.

  • Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Barat (Amerika dan Eropa) yang seringkali dianggap sebagai standar moral dan etika global, dipertanyakan sikapnya saat ini karena berperan dalam menunda-nunda terwujudnya proses gencatan senjata di wilayah konflik Gaza. Kita sering lupa sebetulnya sikap-sikap negara barat itu adalah berkaitan dengan perannya dalam konteks politik dan militer di kawasan tersebut. Faktor-faktor kepentingan ini lah yang sebetulnya mempengaruhi keputusan dan sikap mereka.

    Dalam diskusi global mengenai politik internasional, konsep moralitas sering kali menjadi titik sentral. Moralitas Barat, yang sering dianggap sebagai standar dalam menilai kebenaran dan keadilan, menghadapi tantangan ketika dihadapkan pada krisis-krisis internasional. Pertanyaan tentang sejauh mana negara-negara Barat benar-benar mengikuti prinsip-prinsip moral yang mereka promosikan menjadi semakin relevan saat ini.

    Moralitas Barat berakar pada tradisi filsafat Yunani, hukum Romawi, dan nilai-nilai Kristen. Selama berabad-abad, konsep ini telah berevolusi, mempengaruhi segala aspek dari politik hingga hak asasi manusia. Namun, sejarah kolonialisme, kapitalisasi tuan tanah dan kebijakan luar negeri yang terkadang kontradiktif menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi penerapan nilai-nilai ini.

    Dalam konteks diplomasi dan kebijakan luar negeri, negara-negara Barat sering kali dihadapkan pada dilema moral. Di satu sisi, mereka mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia, sementara di sisi lain, sering kali menjalin hubungan dengan rezim-rezim yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut demi kepentingan politik dan ekonomi.

    Bagaimana kepentingan geopolitik negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, mempengaruhi sikap dan kebijakan mereka terhadap konflik ini. Hal ini termasuk tentang hubungan diplomatik dan militer Barat dengan Israel, serta dampaknya terhadap Palestina. Hingga sampai saat ini berkali-kali sidang PBB mengenai gencatan senjata selalu dihadang oleh veto amerika serikat dan negara barat lainnya yang keberatan dengan gencatan senjata.

    Peran negara-negara Barat dalam diplomasi internasional, termasuk didalamnya bagaimana mereka menggunakan pengaruhnya di forum-forum internasional seperti PBB sangat dipertanyakan. Apakah sebetulnya PBB digunakan sebagai sarana unutk membangun perdamaian dunia ataukah PBB adalah sarana untuk mendukung kepentingannya terhadap negara lain.

    Ketika terjadi krisis kemanusiaan, seperti konflik bersenjata atau pelanggaran hak asasi manusia seperti yang saat ini terjadi di Gaza, respons negara-negara Barat sering kali diukur sebagai tolok ukur moralitas mereka. Pertanyaan muncul mengenai seberapa cepat dan efektif mereka merespons, serta motivasi di balik intervensi mereka.

    Era kapitalisme dan globalisasi membawa tantangan baru terhadap moralitas Barat. Walaupun dalam sejarah era tuan tanah berhasil direformasi, akan tetapi bentuk kapitalisme itu terus tumbuh dan bermetamorfosa. Pertumbuhan ekonomi dan keuntungan menjadi hal yang prioritas, yang terkadang mengorbankan nilai-nilai seperti keadilan sosial dan lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai-nilai moral masih dipegang teguh.

    Media Barat memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik. Cara mereka melaporkan tentang krisis internasional sering kali mencerminkan dan mempengaruhi pandangan moral masyarakat. Namun, bias dan agenda tertentu dalam pelaporan media seperti di Palestina dapat memutarbalikkan realitas, mempengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu moral dan tidak membangun narasi konstruktif yang membawa perdamaian. Berapa banyak jurnalis yang tewas dari situasi perang yang tidak benar-benar adalah situasi perang. Situasi perang ini lebih nampak seperti di kondisikan atau adalah propaganda yang sangat buruk, karena menghadapai penduduk sipil dan saat ini bahkan disebut sebagai proses genosida pembersihan etnik.

    Negara-negara Barat sering kali terlibat ataupun membiarkan perusahan-perusahaan swastanya terlibat (bahkan terkadang terlibat dalam proyek bantuan keamanan resmi) dalam perdagangan senjata internasional, termasuk ke negara-negara yang terlibat dalam konflik atau pelanggaran hak asasi manusia. Penjualan senjata dan bantuan militer ke Israel oleh negara-negara Barat, sangat mempengaruhi dinamika konflik dan menciptakan eskalasi konflik yang tidak perlu hingga memakan banyak nyawa penduduk sipil. Hal ini menimbulkan kontradiksi antara promosi perdamaian dan keuntungan ekonomi yang diperoleh dari penjualan senjata.

    Walaupun kita dapat melihat bagaimana kompleksitas situasi yang terjadi dilapangan, tetapi rasanya negara-negara barat, juga negara-negara laindidalam PBB dapat merumuskan resolusi yang lebih baik lagi daripada apa yang dirumuskan pada hari ini. Pada akhirnya kit amelihat negera-negara yang patut memegang veto adalah negara-negara yang terbukti konsisten dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian di dunia.