Ramadhan (22): Berharap Heningnya Malam I’tikaf

Bismillahirrahmanirrahim,

Itikaf dalam keheningan malam adalah salah satu bentuk upaya yang dilakukan oleh umat Islam yang bernilai Ibadah, terutama jika hal ini dilakukan pada bulan Ramadan yang mendapat keberkahan pahala berlipat ganda. Itikaf merupakan upaya untuk berdiam diri di Masjid sebagai bentuk ibadah, penghambaan kepada Allah SWT (dengan cara seolah-olah mengasingkan diri ke dalam masjid) untuk meningkatkan keimanan, khusyuk, dan ketakwaan dalam dzikir dan munajat kepada Allah.

Menjalankan itikaf di malam hari dan tetap berkomitmen bekerja di pagi hari adalah hal yang sangat menangtang. Penting untuk merencanakan jadwal yang seimbang. Hal ini penting agar kita dapat memaksimalkan manfaat itikaf dan menjaga keseimbangan kehidupan antara ibadah dan pekerjaan.

Dalam keheningan malam, seseorang bisa merasakan kedamaian dan kekuatan spiritual yang mendalam, sehingga memudahkan untuk merenungi kebesaran Allah dan memperoleh hidayah-Nya. Momentum ini adalah kesempatan berharga di malam-malam kita menanti lailatul qadar, baik di sudut kecil di rumah ataupun di masjid.

Sebelum memulai itikaf, persiapkan diri secara fisik dan mental. Pastikan tubuh kita cukup istirahat dan dalam kondisi yang baik. Sediakan pula perlengkapan ibadah seperti sajadah, Al-Quran, dan buku-buku islami lainnya yang dapat mendukung kegiatan itikaf kita. Tidak lupa persiapkan juga sedikit makanan dan minuman seperti kurma, air putih bahkan kopi.

Setelah melaksanakan shalat Isya dan shalat tarawih, kita dapat memulai itikaf. Pilih tempat yang nyaman dan tenang di dalam masjid, agar dapat berkonsentrasi dan merenung dengan baik. Berdoa kepada Allah untuk diberi kemudahan dalam menjalankan itikaf.

Dalam itikaf, gunakan waktu dengan bijak untuk melaksanakan berbagai amalan seperti membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa. Jangan lupa untuk memohon ampunan atas segala dosa serta memohon perlindungan dari godaan setan yang dapat menggoda kita untuk menyerah, meninggalkan itikaf.

Membaca Al-Quran di malam dan pagi hari adalah cara yang paling efektif menjaga ritme i’tikaf dan juga sewaktu beraktifitas di siang hari. Jangan berlebih-lebihan, istirahat sebentar disaat merasa sudah terlalu lelah. Ritme dan kebiasaan i’tikaf ini insyaallah akan mampu merubah waktu tidur dan istirahat kita, sehingga setelah Ramadhan mudah bagi kita untuk terbangun di malam hari dan bermunajat kepada Allah di sepertiga malam terakhir.

Semoga dengan ketenangan dan kepasrahan diri kita berdzikir dan bermunajat dalam heningnya malam Ramadhan, mampu menjadikan diri kita berkontempelasi dan berintrospeksi betapa kecilnya kita dihadapan Allah SWT. Dan apa yang kita lakukan ini adalah upaya kita untuk mendapat ampunan dan ridha-Nya.

Wallahu’alam