Ramadhan (15): Menjaga Ghirah Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim,

Minggu ini kita sudah menjalani minggu kedua di bulan Ramadhan, menjadi satu pencapaian yang baik jika kita mampu menghasilkan sesuatu capaian yang signifikan. Menjaga ghirah Ramadhan adalah suatu upaya yang sangat penting. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, di mana umat Islam berlomba-lomba untuk meningkatkan amal ibadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan memperbaiki diri secara keseluruhan. Sangatlah penting untuk memastikan bahwa kita bisa meraih pahala maksimal dari bulan suci ini.

Ramadhan adalah bulan puasa, bulan penghematan bagi diri kita dan juga orang-orang sekeliling kita, bulan menahan diri dari hal-hal yang berlebihan. Jika betul kita menahan lapar dan haus tentu akan ada penghematan. Penghematan ini mencakup pengurangan konsumsi makanan, minuman, dan kebutuhan dunia lainnya. Patut kita bertanya kepada diri kita apakah dari hari-hari Ramadhan yang kita lalui hal ini sudah nampak hasilnya? ataukah justru yang terjadi adalah sebaliknya, pengeluaran pribadi kita semakin membengkak, semakin habis untuk makan. Sungguh ironi di bulan Puasa makan justru kita tidak dapat menahan diri untuk berhemat dalam pemakanan. Jika berhemat makan saja kita gagal bagaimana kita dapat lebih fokus pada ibadah dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Mari kita sama-sama mengintrospeksi diri dalam menjaga ghirah Ramadhan.

Al-Quran yang sudah terbaca selama Ramadhan merupakan salah satu ibadah yang utama di bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan Al-Quran, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan adalah yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Dengan membaca Al-Quran, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga memahami petunjuk hidup yang Allah berikan kepada kita. Oleh karena itu, menjaga ghirah Ramadhan juga berarti memastikan bahwa kita konsisten dalam membaca Al-Quran selama bulan suci ini. Pencapaian kita dalam membaca dan mentadabburi Al-Quran adalah pencapaian Ramadhan kita. Mengupayakan setiap harinya membaca Al-Quran artinya mengupayakan setiap harinya kita mendapat hidayah, ide dan gagasan tentang kebaikan.

Amal ibadah yang sudah dilakukan selama Ramadhan menunjukkan betapa pentingnya ghirah Ramadhan terjaga. Selain puasa, kita juga dianjurkan untuk melaksanakan shalat tarawih, qiyamul lail, dan ibadah sunnah lainnya yang bisa mendekatkan kita kepada Allah SWT. Kedekatan ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri kita untuk kemudian melakukan hal-hal yang benar, dan mencegah hal-hal yang salah.

Jika harus boros, maka selama bulan Ramadhan ini kita dilatih untuk boros dalam bersedekah. Sedekah yang sudah tersalurkan adalah pembuktian nyata terhadap nilai-nilai yang kita pegang dalam berislam. Menjaga ghirah Ramadhan berarti menjaga semangat untuk terus beramal kebaikan, bersedekah dan membantu orang yang membutuhkan, sehingga amal kita bisa bersaksi atas keyakinan kita sehingga mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Menjaga ghirah Ramadhan adalah dengan terus mengingatkan diri tentang tujuan utama berpuasa, yaitu untuk mencapai taqwa. Taqwa adalah kesadaran dan ketakwaan kepada Allah SWT yang tercermin dari perbuatan dan perilaku kita sehari-hari. Dengan semakin tumbuhnya kesadaran, kita akan semakin dekat dalam mencapai taqwa tersebut.

Kemudian terakhir, menjaga ghirah Ramadhan merupakan suatu proses yang harus terus diusahakan sepanjang bulan suci ini. Kita harus selalu melakukan introspeksi dan evaluasi dari apa-apa yang sudah kita lakukan. Kita perbaiki upaya kita dengan cara yang lebih baik dan tujuan yang lebih fokus. Kita juga harus saling mengingatkan, saling mendoakan, dan saling mendukung dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Semoga dengan menjaga ghirah Ramadhan, kita dapat meraih pahala yang berlimpah dan kelak diterima di sisi Allah SWT sebagai hamba-Nya yang bertaqwa.

Wallahu’alam