Kemkes rilis Fitur Baru di Satu Data Vaksin: Stok Vaksin

Tan Abdullah A Afifi

Peneliti IDRIS. Mahasiswa di Graduate School of Business GSB-UKM Malaysia dan BMAS Ushulluddin International Open University (IOU). Fokus: Teknologi, Peradaban Islam, Kebijakan dan Ekonomi Islam, Ekonomi Regional.

Luar biasa, perjuangan front liner ini memang luar biasa. Memang tidak semua sempurna, tapi kita bisa lihat bahwa pandemi ini membuat percepatan dalam pengelolaan layanan kesehatan.

Apa sih yang kita bisa lihat dari satu data vaksin ini.

Langkah cepat vaksinasi di Jakarta ini memang patut diberikan jempol, walau setelah lebih 70% daerah lain jadi merasa kurang diperhatikan. Dan jawaban ini sebetulnya diberikan di fitur satu data vaksin. Banyak daerah tidak sigap dan siap. Mungkin jatah vaksin sekarang ini dianggap sama dengan antrian vaksin / imunisasi biasa, targetnya semua di vaksin, seharusnya semua cepat tervaksin.

Akhirnya dengan mulai beraksinya varian delta setelah Iedul Adha, semua daerah kewalahan, dikejar cepat stok vaksin tidak ada, saat stok vaksin ada, kita tidak siap.

Vaksinasi memang belum merata, Jakarta sebagai episentrum ekonomi dan juga kawasan Industri prioritas di utamakan, supaya variabel-variabel ekonomi bisa terus berjalan positif. Sebab itu indikator ekonomi membaik, walaupun ekonomi di masyarakat emput-emputan.

Pesantren di pulau Jawa khususnya Jawa Timur yang pada awalnya banyak anti vaksin berhasil diyakinkan, bahkan tidak main-main sebulan lalu Kemenag sampai menjaga 8jt kedatangan vaksin di airport, dan setelah itu memang tancap gas.

Daerah lain bagaimana, masih alon-alon kata orang jawa, masyarakat yang kurang partisipatif dan mungkin medan yang sulit. Terlihat masih ada area data yang hitam, artinya belum atau tidak ada stok vaksin disana.

Mengaca pada Jakarta yang bahkan saat ini sudah lebih 100% vaksinasi pertama bahkan masih terus berjalan untuk siswa dan ibu hamil. Apa sih yang bisa dilakukan oleh daerah lain untuk mendapat tambahan stok vaksin dan mempercepat bangkit dari masalah pandemi, karena seperti yang kita tahu sebagian propinsi di Indonesia memiliki penerbangan dan perbatasan dengan dunia internasional.

Jikapun Indonesia bisa dihapus dari travel warning, bisa jadi propinsi diluar pulau Jawa dan Bali masih akan lambat lagi untuk pulih.

Satu data ini mungkin salah satu mekanisme yang dijadikan ukuran dan birokrasi.

Sehingga cara paling efektif rasanya: suntik siapa saja asalkan stok vaksin bisa cepat habis.

Libatkan semua dari dinas kesehatan, pendidikan, sekolah, hingga swasta. Semakin cepat habis, semakin cepat stok baru didatangkan. Dan semakin baik indikator pemulihan dan birokrasi yang menyertainya.

Abaikan saja yang memang sengaja tidak tertib, mungkin memang dari awal begitu refleksi hidupnya, apa yang mau diharapkan.

Justru ceruk-ceruk yang pasti seperti sekolah, pos pelayanan umum, pasar adalah tempat berkumpul massa setiap hari dan setiap saat. Mulai di tempat yang pasti, karena menunggu masyarakat datang pastinya akan sulit. Seperti Jakarta sekarang menunggu di stasiun MRT, Kereta Api, Airport dan kabarnya akan di Terminal Bis.

Jika Kota Kabupaten di luar pulau Jawa ada yang bisa tembus ribuan perminggu, pastinya daerah lain juga bisa, tentunya selain faktor medan alam yang susah.

Cepat dan tertib cuma itu kuncinya. Siapa paling bontot, artinya memang ya begitu adanya.