Category: Belajar Islam

open basic knowledge

  • Ramadhan (7): Tantangan Global Pendidikan Islam

    Ramadhan (7): Tantangan Global Pendidikan Islam

    Bismillahirrahmanirahim,

    Pendidikan Islam menghadapi berbagai tantangan global yang mempengaruhi perkembangannya secara signifikan. Dalam era globalisasi ini, tuntutan untuk bersaing dalam berbagai aspek kehidupan semakin meningkat. Pendidikan Islam, sebagai salah satu sistem pendidikan yang ada, juga harus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dan memastikan penguatan serta peningkatan kualitas pendidikannya untuk tetap kompetitif.

    Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh pendidikan Islam adalah teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang kian berkembang pesat. Kemajuan TIK telah mengubah cara orang berkomunikasi, mengakses informasi, dan belajar. Pendidikan Islam harus mampu mengadopsi dan memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar-mengajar, serta menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif. Salah satu yang sedang diusahakan oleh beberapa institusi pendidikan Islam adalah memberikan akses pendidikan inklusif dengan memanfaatkan TIK, baik dengan cara pembelajaran jarak jauh ataupun daring seperti International Open University (IOU) skala global ataupun seperti Universitas Siber Muhammadiyah dalam skala lokal.

    Pendidikan Islam juga harus mampu menghadapi tantangan ekstremisme dan radikalisme yang dapat mengancam pemahaman umat Islam yang moderat dan toleran. Para pendidik dan institusi pendidikan Islam harus menyampaikan ajaran yang sejalan dengan prinsip-prinsip toleransi dan kesatuan, serta mendorong dialog antaragama dan antarbudaya untuk memperkuat kerukunan dan perdamaian dunia. Pendidikan Islam harus bisa meningkatkan mutu ajar yang berkualitas, sehingga dengan ini isu-isu moderat berkemajuan yang konstruktif akan dapat dipahami oleh peserta didik.

    Tantangan global lain yang dihadapi oleh pendidikan Islam adalah perubahan iklim dan lingkungan. Pendidikan Islam perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip konservasi lingkungan dan keberlanjutan dalam kurikulumnya. Dalam konteks ini, pendidik dan peserta didik perlu diberdayakan untuk menjadi agen perubahan yang positif dalam melindungi lingkungan dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Beberapa kearifan lokal ‘urf dalam melakukan konservasi seperti Ikan larangan, dan juga tidak kalah penting adalah upaya ijtimak kontemporer mengenai lingkungan, untuk langkah awal beberapa lembaga majlis fatwa seperti Muhammadiyah sudah menginiasi Fikih Lingkungan, dan kita harapkan ada hasil yang lebih komprehensif dalam beberapa waktu kedepan.

    Kurikulum pendidikan Islam harus disesuaikan dengan kebutuhan global yang terus berubah. Pendidik perlu meninjau dan memperbarui materi pembelajaran untuk memastikan relevansi dan kesesuaian dengan kebutuhan zaman. Selain itu, pendidikan Islam juga harus fokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Tren-tren baru seperti HOTS (high order thinking skills) dan STEAM (science, technology, engineering, art and math) jangan sampai dianggap sebagai pendekatan yang berlebihan ataupun kita skeptis yang tidak relevan dengan Pendidikan Islam.

    Pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan aksesibilitas dan inklusi bagi semua lapisan masyarakat. Pendidik dan institusi pendidikan harus mengupayakan penyediaan pendidikan yang inklusif, sehingga tidak ada yang terpinggirkan atau tertinggal dalam menerima pendidikan berkualitas. Pendidikan Islam juga harus mampu merangkul keberagaman budaya dan menjembatani perbedaan.

    Pendidikan Islam juga harus memperhatikan isu kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan dalam pendidikan. Hal ini adalah salah satu nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Islam, disaat peradaban lain tidak mengambil pusing tentang posisi perempuan. Pendidik perlu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengakomodasi kebutuhan dan aspirasi baik laki-laki maupun perempuan, serta menghapus diskriminasi yang mungkin ada dalam sistem pendidikan. Pendidikan Islam harus memberikan peluang yang sama kepada semua peserta didik, terlepas dari jenis kelamin, untuk mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat. Jangan sampai pula akibat dari resistensi kejumudan dari kita pendidik, justru terjadi persepsi kontraproduktif tentang Islam yang tidak pro dengan pemberdayaan perempuan. Hal ini yang harus kita luruskan.

    Pendidikan Islam perlu menghadapi tantangan globalisasi yang mempengaruhi identitas budaya dan nilai-nilai tradisional. Pendidik dan institusi pendidikan Islam harus mencari cara untuk mengintegrasikan nilai-nilai luhur dalam pendidikan, sekaligus mempromosikan nilai-nilai universal yang mendorong kerjasama dan saling pengertian di antara berbagai budaya dan tradisi.

    Salah satu tantangan global dalam pendidikan Islam adalah meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia. Pendidik dan tenaga kependidikan perlu diberikan pelatihan dan pengembangan profesional yang memadai, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan baru dan memberikan pendidikan yang berkualitas. Selain itu, peningkatan kualitas fasilitas pendidikan dan infrastruktur juga sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan kondusif.

    Pendidikan Islam juga dihadapkan pada tantangan meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan dalam bidang pendidikan. Institusi pendidikan Islam harus mendorong penelitian dan pengembangan yang relevan, inovatif, dan bermutu, serta meningkatkan kolaborasi antara peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan. Penelitian dan pengembangan yang kuat akan membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan global. Pengembangan literasi adalah tujuan utama dari pendidikan, dan literasi yang baik akan membangun peradaban sosial masyarakat yang juga insyaallah baik.

    Pendidikan Islam harus menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa pendidikan yang diberikan relevan dan bermakna bagi kehidupan peserta didik dan masyarakat. Dalam bahasa sederhana adalah pendidikan harus bermanfaat baik dalam jangka pendek dan jangka panjang, yang berkaitan dengan urusan dunia dan juga urusan akhirat. Pendidikan Islam harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan untuk berhasil dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung. Untuk mencapai hal ini, pendidik dan institusi pendidikan Islam perlu bekerja sama, berkolaborasi, berinovasi, hingga merevitalisasi dalam menghadapi tantangan global yang ada dalam memajukan pendidikan Islam.

    Salah satu upaya untuk merevitalisasi pendidikan adalah dengan menggabungkan teknologi dalam proses belajar-mengajar. Pendidik dan institusi pendidikan Islam harus memanfaatkan teknologi digital dan inovasi pembelajaran, seperti e-learning, pembelajaran berbasis proyek, dan pendekatan blended learning. Penggunaan teknologi ini akan membantu meningkatkan keterlibatan dan motivasi peserta didik, serta mempermudah proses pembelajaran yang lebih efisien dan efektif.

    Untuk merevitalisasi pendidikan Islam, pendidik dan institusi pendidikan harus berkomitmen untuk mengembangkan kurikulum yang relevan, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Kurikulum yang dihasilkan harus mencakup pendidikan adab, karakter, nilai-nilai luhur, dan keterampilan abad ke-21 yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global. Hal ini akan memastikan bahwa lulusan pendidikan Islam memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bersaing dalam dunia yang semakin kompleks.

    Penguatan peran orang tua dan masyarakat dalam pendidikan Islam juga merupakan upaya penting dalam merevitalisasi sistem ini. Orang tua dan masyarakat harus diberdayakan untuk berpartisipasi aktif dalam proses pendidikan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi. Keterlibatan mereka akan memastikan bahwa pendidikan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan kondusif bagi peserta didik.

    Merevitalisasi pendidikan Islam juga memerlukan peningkatan kualitas dan profesionalisme pendidik. Pendidik harus diberikan peluang untuk mengembangkan kompetensi mereka melalui pelatihan, sertifikasi, dan program pengembangan profesional yang berkelanjutan. Pendidik yang berkualitas dan profesional akan mampu menyampaikan materi pembelajaran dengan lebih efektif, menciptakan lingkungan belajar yang positif, dan menginspirasi peserta didik untuk mencapai potensi mereka yang terbaik.

    Pada akhirnya upaya merevitalisasi pendidikan Islam harus mencakup peningkatan kerjasama dan kolaborasi antara institusi pendidikan Islam, pemerintah, sektor swasta, dan organisasi internasional. Kolaborasi ini akan memungkinkan pertukaran pengetahuan, sumber daya, dan praktik terbaik yang dapat membantu meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan Islam. Selain itu, kerjasama ini juga akan mempromosikan pengakuan dan penghargaan terhadap pendidikan Islam sebagai kontributor penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, toleran, dan sejahtera.

    Dalam rangka merevitalisasi pendidikan Islam, upaya-upaya yang telah disebutkan di atas harus diintegrasikan secara komprehensif dan berkesinambungan. Dengan demikian, pendidikan Islam akan mampu menghadapi tantangan global yang ada dan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Pendidikan Islam yang relevan dan berkualitas akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan masyarakat dan dunia yang lebih baik.

    Wallahu’alam.

  • Ramadhan (6): Bersabar dalam Berusaha yang Halal

    Ramadhan (6): Bersabar dalam Berusaha yang Halal

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Dalam kehidupan di dunia ini, setiap individu manusia pasti menghadapi berbagai tantangan dan ujian. Salah satu aspek yang paling sering diuji adalah kesabaran dalam mencari rezeki yang halal. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155:

     وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

    “Dan sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

    Ayat ini mengajarkan kita bahwa akan ada ketakutan, kelaparan, kekurangan sehingga kita harus memiliki kesabaran dalam mencari rezeki yang halal dan tidak terburu-buru dalam menggapai hasilnya.

    Dalam mencari rezeki yang halal, setiap kita harus bekerja keras dan menjalani proses yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Sebagai umat Islam, kita harus menjauhi rezeki yang haram dan mencari yang halal dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

    يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

    Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mu’minun 23:51)

    Sabar dalam mencari rezeki yang halal juga mencakup kesabaran dalam menghadapi rintangan dan hambatan yang mungkin dijumpai. Hal ini penting karena ujian dan cobaan yang kita hadapi merupakan cara Allah untuk menguji keimanan dan ketakwaan kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga kesabaran dan terus berusaha mencari rezeki yang halal, sekalipun terkadang prosesnya memerlukan waktu yang lama.

    Kesabaran dalam mencari rezeki yang halal bukan berarti kita hanya menunggu tanpa usaha. Justru kita dituntut untuk terus berikhtiar, bekerja keras, dan berdoa. Dengan bekerja keras, kita akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan usaha kita.

    Selain bekerja keras, kita juga perlu meminta petunjuk dari Allah SWT agar diberi kemudahan dalam mencari rezeki yang halal. Jangan lupa untuk selalu bersyukur atas rezeki yang telah diberikan, baik itu sedikit maupun banyak. Dengan bersyukur, hati kita akan selalu merasa cukup dan tidak mudah tergoda oleh rezeki yang haram.

    Dalam menjalani proses mencari rezeki yang halal, penting bagi kita untuk tidak mudah iri hati terhadap orang lain yang mungkin mendapatkan rezeki dengan cara yang tidak benar. Ingatlah bahwa rezeki yang halal dan berkah adalah yang paling utama, meskipun mungkin tidak sebesar rezeki orang lain.

    Kita juga harus mengingat bahwa rezeki adalah anugerah dari Allah SWT yang telah ditetapkan bagi setiap makhluk-Nya. Oleh karena itu, kita tidak perlu merasa cemas atau khawatir akan kekurangan rezeki. Sebaliknya, kita harus fokus pada upaya ikhtiar kita untuk mencari rezeki yang halal dan menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Islam.

    Hadis daripada Sa’id bin ‘Umair al-Ansari:

    سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

    Ditanya kepada Rasulullah SAW, apakah pekerjaan yang paling baik? Jawab Baginda: Amalan seorang lelaki dengan tangannya dan setiap jualan yang baik. (HR Ahmad 17265)

    Dalam mencari rezeki yang halal, kita perlu menjaga etika dan akhlak dalam bekerja. Jangan melakukan tindakan yang merugikan orang lain atau merusak kepercayaan yang telah diberikan. Sebagai umat Islam, kita harus menjunjung tinggi kejujuran, integritas, dan keadilan dalam setiap aspek pekerjaan kita.

    Salah satu cara untuk bersabar dalam mencari rezeki yang halal adalah dengan senantiasa mengingatkan diri akan tujuan akhir kita, yaitu untuk meraih ridha Allah SWT. Jangan biarkan keinginan duniawi mengaburkan pandangan kita terhadap tujuan yang lebih mulia. Ingatlah bahwa rezeki yang halal akan membawa keberkahan dan kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.

    Ketika kita telah berusaha keras dan bersabar dalam mencari rezeki yang halal, jangan lupa untuk menyisihkan sebagian dari rezeki tersebut untuk membantu sesama. Dalam Islam, sedekah dan zakat adalah bentuk penghormatan kita terhadap hak orang lain atas rezeki yang kita peroleh. Hal ini juga merupakan cara untuk membersihkan harta dan mendapatkan keberberkahan dari Allah SWT.

    Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberinya kecukupan. Dan siapa yang bersikap iffah (menjaga kehormatan harga diri), maka Allah akan memuliakannya. Dan barangsiapa yang berusaha untuk selalu sabar, maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih baik dan lapang daripada kesabaran.” (At-Tirmidzi 1947)

    Konsisten berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT dalam setiap langkah pencarian rezeki yang halal. Kita harus menyadari bahwa segala hasil yang kita peroleh berasal dari izin Allah, dan tanpa ridha-Nya, kita tidak akan mampu mencapai keberhasilan. Oleh karena itu, berdoa dan tawakkal adalah bagian penting dalam menjalani proses pencarian rezeki yang halal.

    Sebagai penutup kita perlu memahami bahwa kesabaran adalah salah satu kunci keberhasilan dalam mencari rezeki yang halal. Dengan bersabar, kita akan lebih mampu menghadapi tantangan dan ujian yang muncul di sepanjang perjalanan. Kesabaran juga akan membantu kita untuk terus berikhtiar dan menjaga keimanan kita dalam mencari ridha Allah SWT.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

    Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima. (HR Ibn Majah 925)

    Semoga kita semua selalu diberi kesabaran dan kekuatan dalam mencari rezeki yang halal dan barokah.

    Wallahu’alam.

  • Ramadhan (5): Islam dan Dunia Intelektual

    Ramadhan (5): Islam dan Dunia Intelektual

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Islam merupakan agama yang dianut oleh lebih dari seperempat penduduk dunia, dan memiliki peran penting dalam sejarah dan perkembangan intelektual peradaban manusia. Sebagai agama yang ditekankan pada pengetahuan dan akal budi, Islam telah menjadi landasan bagi perkembangan dunia intelektual, pembentukan hukum-hukum yang inklusif, terutama pada era keemasan Islam yang berlangsung antara abad ke-8 hingga ke-13 Masehi. Yang kemudian inklusifitas keilmuan ini memberikan satu perubahan besar dalam tatanan global dalam cara pandang melihat hukum, persamaan hak asasi, kesehatan sanitasi, kesetaraan gender dan semua hal yang dapat dikatakan moderat dan memberikan kemajuan di abad modern ini.

    Di era zaman keemasan, Islam melahirkan banyak ilmuwan, filusuf, dan penulis yang berkontribusi pada perkembangan berbagai disiplin ilmu, seperti matematika, astronomi, fisika, kimia, kedokteran, dan filsafat. Ilmuwan-ilmuwan Muslim, seperti Al-Khwarizmi, Ibn Sina, Al-Razi, dan Al-Farabi, telah menghasilkan penemuan dan pemikiran yang menginspirasi generasi selanjutnya di seluruh dunia, tidak hanya umat Islam saja.

    Pendidikan dalam Islam sangat dihargai, dengan perintah “Iqra” atau “bacalah” sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.

    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (QS. Al-Alaq 1)

    Hal ini mencerminkan pentingnya pengetahuan dan keinginan untuk belajar dalam ajaran Islam. Al-Qur’an sendiri berisi banyak ayat yang mendorong umat Islam untuk mempelajari alam semesta dan mencari pengetahuan sebagai cara untuk lebih memahami kebesaran Allah SWT.

    Seiring dengan penekanan pada ilmu pengetahuan, Islam juga mendukung pengembangan ekosistem intelektual melalui pendirian berbagai institusi pendidikan. Pusat-pusat pendidikan seperti universitas dan perpustakaan dibangun di berbagai tempat, dari Madrasah Nizamiyah, juga Universitas Al-Qarawiyyin di Fes, Maroko, yang diakui sebagai universitas tertua yang masih beroperasi di dunia dan belahan dunia lainnya.

    Salah satu kontribusi terbesar Islam dalam dunia intelektual adalah dalam bidang matematika. Ilmuwan Muslim menciptakan konsep angka nol, sistem angka desimal, dan aljabar. Kemajuan ini kemudian membuka jalan bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Eropa dan belahan dunia lainnya, yang pada akhirnya membentuk dasar untuk revolusi ilmiah dan teknologi modern.

    Dalam bidang kedokteran, ilmuwan Islam seperti Ibn Sina, juga dikenal sebagai Avicenna, telah menyusun ensiklopedia medis yang sangat berpengaruh, “Al-Qanun fi al-Tibb” atau di barat dikenal dengan nama “The Canon of Medicine”. Karya ini menjadi referensi medis utama di dunia selama berabad-abad dan memberikan dasar bagi pengembangan ilmu kedokteran di Eropa.

    Astronomi adalah bidang yang mengalami kemajuan pesat selama era keemasan Islam. Ilmuwan-ilmuwan Muslim pakar-pakar hisab seperti Al-Battani, Al-Farghani dengan Astrolabnya, Al-Sufi, Al-Biruni membuat observasi penting dan pengukuran yang akurat mengenai benda-benda langit, serta mengembangkan model matematika dan teori astronomi yang lebih canggih dan kompleks.

    Dalam bidang filsafat, pemikir Islam seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Ghazali telah mempengaruhi perkembangan pemikiran filosofis di dunia. Mereka menggabungkan filsafat Yunani kuno dengan ajaran Islam, membuka jalan bagi pengembangan teologi dan filsafat yang lebih inklusif dan universal. Karya mereka kemudian menjadi inspirasi bagi para pemikir Eropa pada Abad Pertengahan, seperti Thomas Aquinas dan Roger Bacon.

    Pada umumnya ilmuwan-ilmuwan Muslim zaman kontemporer adalah seorang polymath, yakni ilmuwan yang memiliki banyak keahlian, atau lebih tepatnya di dalam bahasa saat ini kita akan katakan ilmuwan-ilmuwan ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan keilmuan yang berbagai macam dan bervariasi.

    Selama era keemasan Islam, budaya menterjemahkan juga tumbuh subur, di mana banyak karya ilmiah dan sastra dari berbagai peradaban diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Hal ini membantu menjembatani pengetahuan antara dunia Timur dan Barat, memungkinkan pemikiran dan penemuan dari berbagai tradisi untuk berkontribusi pada kemajuan dunia intelektual secara keseluruhan.

    Dalam bidang sastra, Islam telah menghasilkan karya-karya besar seperti “Al-Qur’an” dan “Hadits”, yang merupakan sumber hukum dan etika Islam. Selain itu, sastra Arab klasik, seperti “Layla dan Majnun”, “Seribu Satu Malam”, dan puisi Jalaluddin Rumi, telah mempengaruhi pengarang dan penyair di seluruh dunia, menciptakan pengaruh yang abadi dalam dunia sastra.

    Meskipun era keemasan Islam seolah nampak telah berakhir, kontribusi dan pengaruh Islam dalam dunia intelektual tetap relevan hingga saat ini. Sampai awal abad 20, masih banyak kontribusi-kontribusi signifikan yang dikembangkan di dunia Islam, seperti pendirian pendidikan tinggi universitas di Turki dan Asia Tengah yang bernama Darulfunun. Yang menjadi perbedaan adalah sebelum 1900 bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Arab ataupun lokasi huruf arab seperti huruf jawi, dan sebagainya. –

    Hingga kini banyak universitas dan institusi penelitian di seluruh dunia menawarkan program studi tentang Islam, bahasa Arab, dan sejarah budaya Muslim. Ilmuwan dan peneliti Muslim saat ini juga terus berkontribusi pada berbagai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora diseluruh belahan dunia, baik di negara Muslim ataupun yang menjalani hidup bukan di negara Muslim.

    Secara keseluruhan, Islam telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi dunia intelektual dalam berbagai bidang. Dari era keemasan Islam hingga masa kini, pemikir dan ilmuwan Muslim telah membantu membentuk wajah ilmu pengetahuan modern, filsafat, dan sastra. Sebagai agama yang mendorong pencarian pengetahuan, Islam akan terus berperan dalam mempengaruhi dan membentuk perkembangan intelektual umat manusia di masa depan.

    Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan satu hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi:

    وَالذَّهَبِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ

    “Sesungguhnya manusia itu seperti tambang perak dan emas. Mereka yang terbaik pada masa masa jahiliah akan terhormat pula di masa lslam, jika mereka memahami (lslam). [Shahih Muslim 4774]

    Demikian yang dapat disampaikan. Wallahu’alam

  • Ramadhan (4): Tantangan Pemuda Muslim

    Ramadhan (4): Tantangan Pemuda Muslim

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Pemuda merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran sangat penting dalam membangun peradaban Islam. Dalam era globalisasi saat ini, pemuda dihadapkan pada berbagai tantangan dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim. Oleh karena itu, penting bagi pemuda untuk senantiasa memperkuat iman dan aqidah, serta mengembangkan karakter yang Islami.

    Kunci utama dalam menghadapi tantangan peradaban Islam adalah menjaga akidah yang lurus dan kuat. Pemuda harus senantiasa menggali ilmu agama dan memahami ajaran-ajaran Islam dengan benar dari sumber yang shahih, sehingga mereka mampu menghadapi berbagai pengaruh buruk yang dapat merusak dan membelokkan aqidah.

    Pemuda perlu memperluas wawasan dan menambah pengetahuan mereka tentang dunia yang selaras dengan nilai-nilai agama. Keterampilan dan keahlian yang dimiliki akan menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan global, serta menjadi sarana dakwah dan pembelaan terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan di dalam Islam.

    Karakter yang Islami harus selalu ditanamkan dalam diri pemuda, seperti kejujuran, keikhlasan, kesabaran, dan kerja keras.

    مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا

    “Barangsiapa berbuat curang, ia tidak termasuk golongan kami.” [At-Tirmidzi No. 1236]

    Karakter jujur dan kerja keras merupakan bekal yang penting dalam menghadapi berbagai tantangan dan menjadi teladan bagi generasi muda lainnya.

    Pemuda juga perlu menjaga pergaulan yang baik dan selektif dalam memilih teman. Dalam pergaulan, mereka harus memilih kawan-kawan yang shalih yang juga akan turut menjaga mereka, menjaga etika dan adab, serta menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama. Pergaulan yang baik akan membantu pemuda dalam memperkuat iman dan menjaga aqidah.

    Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pemuda saat ini adalah dampak negatif dari teknologi informasi dan komunikasi. Mereka harus bijak dalam menggunakan media sosial dan internet, serta menghindari hal-hal yang dapat merusak moral dan aqidah.

    Kepemimpinan yang baik dan memiliki tanggung jawab sosial merupakan kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pemuda. Sebagai generasi penerus, mereka harus mampu menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat.

    Pemuda harus senantiasa menjaga kesehatan fisik dan mental mereka, karena keduanya merupakan amanah dari Allah. Mereka harus menjaga pola hidup sehat, berolahraga secara teratur, dan menjauhi hal-hal yang merugikan kesehatan. Karena suatu saat kesehatan dan kekuatan tubuhnya juga akan diperlukan dalam kerja-kerja pengabdian di masyarakat.

    Membangun peradaban Islam tidak hanya melibatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memerlukan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama (habluminnanas). Pemuda harus aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, serta menunjukkan sikap toleransi dan persaudaraan.

    Pendidikan merupakan kunci penting dalam menghadapi tantangan peradaban Islam. Pemuda harus rajin dan tekun dalam menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia, untuk membekali diri mereka dalam menghadapi berbagai tantangan dan menjadi agen perubahan yang positif bagi masyarakat.

    Karatau madang dihulu babuah bagno balun, merantau belajar bujang dahulu, dirumah baguno balun.

    Seorang sahabat Nabi Jundub bin Abdullah ia berkata; “Ketika kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pada saat itu kami merupakan sosok pemuda-pemuda yang kuat. Kami belajar iman sebelum mempelajari Al Qur`an, kemudian kami mempelajari Al Qur`an, maka dengan begitu bertambahlah keimanan kami” (Sunan Ibnu Majah 60).

    Pemuda juga perlu mengembangkan jiwa kewirausahaan dan menciptakan lapangan kerja bagi sesama. Dalam hal ini, mereka harus mampu menggali potensi yang dimiliki dan mengoptimalkan sumber daya yang ada, serta menghasilkan produk dan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat dan umat Islam.

    Kepada pemuda asa dan harap disandarkan, banyak persimpangan harus ditempuh. Al-Quran dan As-Sunnah harus senantiasa dijadikan pegangan, jangan lupa untuk berkawan dengan orang-orang shalih supaya terus membuat kita terjaga dengan identitas kita sebagai Pemuda muslim.

    Terakhir, penting untuk selalu bersyukur dan berdoa kepada Allah SWT, memohon petunjuk dan kekuatan dalam menghadapi tantangan peradaban Islam. Dengan keimanan yang kuat, konsistensi, semangat yang tinggi, dan dukungan dari keluarga, masyarakat, serta pemerintah, pemuda dapat menjadi generasi yang tangguh dan berperan aktif dalam membangun peradaban Islam yang gemilang.

    Wallahu’alam

  • Ramadhan (3): Waktu Ramadhan Yang Terbatas

    Ramadhan (3): Waktu Ramadhan Yang Terbatas

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Banyak dari kita melewati Ramadhan seperti waktu-waktu yang umum, kecuali dalam hal kesibukan persiapan berpuasa, bangun awal dan tidur mungkin lambat karena shalat tarawih. Membangunkan diri, anak-anak dan anggota keluarga lainnya diawal shubuh, tentu bukanlah hal yang mudah.

    Disisi lain kita juga dapat melihat bahwa sebetulnya dalam puasa, kita telah melakukan penghematan, mengurangi anggaran dan jadwal makan dari tiga kali (3x) sehari menjadi 2x (sahur dan berbuka). Dalam Ramadhan juga kita sepatutnya telah mengurangi ekspetasi kita terhadap dunia. Tapi terkadang justru hal yang terjadi adalah sebaliknya. Kita terlena untuk memanfaatkan bulan Ramadhan, kita semakin padat beraktifitas sehingga terlupa dengan peluang-peluang yang Allah buka selama bulan Ramadhan, untuk mencebur larut dalam amal ibadah yang khusyuk.

    Puasa Ramadhan seperti namanya adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Dilakukan selama satu bulan penuh dengan 29 atau 30 hari di bulan Ramadhan. Dimulai dari terbit shubuh hingga terbenamnya matahari. Tantangan yang berat ini menariknya Allah katakan sudah menjadi syariat bagi kaum-kaum sebelumnya. Sehingga jadi umat muslim bukanlah yang pertama mendapat syariat kewajiban berpuasa. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat 183 surat Al-Baqarah:

    يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

    Puasa tidak diwajibkan setahun penuh, seluruh bulan dan hari dalam sepanjang tahun. Puasa Ramadhan berada dalam waktu yang terbatas dan telah ditentukan dalam setahun hanya pada satu bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan ayat selanjutnya pada Al-Baqarah 184 yang berbunyi:

    أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ

    (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (yang telah ditentukan, hari-hari yang dibatasi pada waktu tertentu saja)

    Inilah yang perlu menjadi ibrah dalam semangat kita beribadah di bulan Ramadhan. Kebaikan-kebaikan, pahala-pahala yang kita cari di dalam puasa Ramadhan adalah waktu yang terbatas saja, yang tidak tersedia selalu, sehingga mudah disia-siakan.

    Keuatamaan-keutamaan Ramadhan sepatutnya telah mampu membuat kita betul-betul mempertimbangkan ulang prioritas aktifitas kita. Sehingga sungguh sayang rasanya jika kita menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan, dalam waktu yang berpeluang datangnya rahmat dan berkah yang melimpah di dalam waktu yang tertntu yang terbatas. Sungguh sayang jika kita melewati Ramadhan ini dengan kesia-siaan, menyepelekan dan tidak mendapat faidah yang banyak dari kesadaran dari usaha yang kita lakukan. Sunggu kita betul-betul menjadi orang yang merugi. seperti yang disampaikan dalam hadits:

    “Merugi orang yang mereka mendapatkan Ramadhan, dan dia keluar dari Ramadhan dalam keadaan tidak mendapatkan apapun dari ampunan Allah Subhanahu Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)

    Jika momentum Ramadhan sudah terlewat, maka kita perlu menunggu Ramadhan berikutnya pada tahun yang berikutnya. pada tahun yang berbeda dan hari yang masih lagi panjang untuk ditunggu. Patutkah kita tidak menyesal? Sungguh ini dapat menjadi perhatian bagi kita semua.

    Beberapa tips bisa dilakukan untuk mempersiapkan ramadhan agar tidak menjadi sia-sia:

    1. Bergembira dengan datangnya Ramadhan
      Kegembiraan akan datangnya Ramadhan adalah salah satu tanda syukur atas karunia dan rahmat Allah SWT kita masih diberikan kesempatan untuk menjumpai Ramadhan. Kegembiraan ini juga menjadi pintu atas kebaikan dan berkah yang kita harap Allah akan berikan kepada kita dalam mempersiapkan bulan Ramadhan. Jangan jadikan kita kedalam sebagian orang yang tidak senang dengan datangnya Ramadhan, apalagi jika membandingkannya dengan masalah dunia yang tidak didapatkannya selama bulan Ramadhan: baik penjualan yang lesu, pendapatan yang berkurang, atau waktu yang hilang melakukan aktifitas sehari-hari. Semoga kita diberikan Allah hati yang lunak untuk menyambut kegembiraan Ramadhan.
    2. Mempersiapkan strategi menjalani Ramadhan
      Dengan banyaknya aktifitas dan kewajiban kita, tentu perlu kita membuat strategi dalam menjalankan Ramadhan. Hal ini supaya kita dapat fokus meraih pahala dari ibadah-ibadah yang telah diutamakan untuk mengisi bulan Ramadhan, seperti: puasa, tadabbur al-quran, melengkapi yang fardhu dengan yang sunnah, qiyamul lail pada 10 hari terakhir. Jangan sampai kita menghabiskan waktu berputar-putar yang tidak mendatangkan kita kemaslahatan Ramadhan dan terlebih lagi juga merusakkan amanah kewajiban kita. Karena Ramadhan adalah peluang yang diberikan oleh Allah, tidak serta merta menghilangkan kewajiban kita terhadap urusan kita di dunia lainnya. Sehingga strategi yang baik adalah bagaimana kita mengangsur menyelesaikan urusan yang banyak sebelum datangnya bulan Ramadhan, dan juga bagaimana kita bisa menyelesaikan bulan ramadhan tanpa mengabaikan kewajiban kita yang lain.
    3. Mempersiapkan strategi ibadah dan amal
      Untuk menyelesaikan Ramadhan tentu perlu juga kita mempersiapkan bagaimana kita bersahur dan berbuka dengan sederhana dan tidak menghabiskan terlalu banyak tenaga, bagaimana kita dapat menyelesaikan bacaan al-quran kita, apakah kita dapat menyelesaikan 1 juz satu hari untuk mendapatkan 30 juz di akhir Ramadhan. Apakah kita bisa berjamaah selama bulan Ramadhan, setidaknya dengan keluarga kita. Apakah kita merencanakan untuk memberi makan dan minum unutk orang yang berbuka, ataupun bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, dan banyak lagi lainnya.
    4. Meminta pertolongan kepada Allah
      Setelah semua ikhtiar itu sudah kita lakukan, maka terakhir dan yang utama adalah meminta pertolongan Allah untuk memberkahi kita dengan Ramadhan yang berkah, yang lancar, yang membuat kita menjadi orang-orang yang tawadhu, dan menjauhi kita dari sifat hasad, dengki dan riya, yang menjadikan fokus kita terganggu.

    Demikianlah uraian tentang betapa terbatasnya waktu Ramadhan yang kita miliki. Perlu rasanya kita rencanakan seperti waktu-waktu kita yang penting lainnya, supaya waktu Ramadhan yang terbast ini tidak terbuang sia-sia. Dan semoga Ramadhan menghantarkan kita menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah dan tidak menyepelekan seruan Allah. Hidup kita yang sementara, waktu kita yang terbatas, semoga tidak sia-sia dan semoga Allah memberkati kita semuanya, khususnya Ramadhan ini.

    Wallahu’alam.

  • Ramadan (2): Memaknai Hakikat Dari Ibadah Puasa

    Ramadan (2): Memaknai Hakikat Dari Ibadah Puasa

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Puasa merupakan ibadah yang sangat penting dalam agama Islam. Puasa ini merupakan bagian dari rukun Islam dan wajib bagi setiap orang yang telah mencapai usia baligh (dewasa) serta memiliki kemampuan untuk melakukannya. Namun, tidak semua orang memahami hakikat sebenarnya dari ibadah puasa. Sehingga kebanyakan puasa akhirnya dilalui hanya dengan menahan dahaga, lapar dan haus saja. Pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai hakikat dari ibadah puasa.

    Hakikat sebenarnya dari ibadah puasa adalah untuk meningkatkan kualitas ketakwaan seseorang mukmin kepada Allah SWT. Allah memilah dan memilih himbauan untuk berpuasa yang diberikan kepada orang-orang yang betul-betul yakin beriman. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

    يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

    Dalam ayat ini, Allah SWT menyebutkan bahwa ibadah puasa bertujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, yaitu dengan meningkatkan ketakwaan.

    Tujuan dari ibadah puasa adalah untuk membersihkan hati dan jiwa seseorang dari berbagai dosa dan kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari Muslim)

    Dalam sebuah hadits juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

    Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka” (HR. Ahmad)

    Tujuan lain dari ibadah puasa adalah juga untuk melatih kekuatan fisik dan mental seseorang dalam menghadapi berbagai cobaan, tantangan dan ujian kehidupan. Latihan kesabaran dan keteguhan hati seseorang mukimin agar dapat berjiwa lapang dan kokoh dalam menjalani kehidupan. Dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6, Allah SWT berfirman:

    فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

    “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

    Ayat ini menunjukkan bahwa kesulitan dan ujian yang dihadapi seseorang mukmin akan membuka jalan kemudahan di masa depan, jikanya ia mampu bersabar dan berhusnudzan terhadap kondisi yang dialaminya.

    Selain seorang mukmin harus bermental kokoh, ianya juga harus mampu mengontrol inderanya dalam merespon situasi, khususnya mulut. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

    “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk ketika berpuasa, maka Allah SWT tidak membutuhkan ia untuk meninggalkan makanan dan minuman.” (HR Bukhari)

    Selain itu, ibadah puasa juga bertujuan untuk melatih mukmin untuk senantiasa beramal shalih, khususnya memberi makan orang yang berpuasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda dari Zaid bin Khalid:

    مَن فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِن أَجْرِ الصَّائِمِ شَيئًا

    “Barangsiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sendiri.” (HR Ahmad, al-Tarmizi dan al-Baihaqi)

    Sebagai kesimpulan hakikat ibadah puasa adalah bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan seluruh rangkaian dan ganjaran bahwa ibadah puasa adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang syariat-Nya sehingga kita dapat betul-betul memaknai ketakwaan kita kepada Allah SWT.

    Demikianlah, beberapa tujuan sebenarnya dari ibadah puasa yang dapat kita pahami dari dalil-dalil dan referensi yang ada. Semoga dengan memahami tujuan sebenarnya dari ibadah puasa, kita dapat menjalankannya dengan lebih khusyu, tawadhu dan memperoleh berbagai manfaat yang dijanjikan oleh Allah SWT. Mari kita tingkatkan kualitas ibadah kita dalam bulan Ramadan ini dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Wallahu a’lam bi shawab.

  • Ramadan (1): Mengenal Bulan Ramadhan dan Fungsi Ibadah Puasa

    Ramadan (1): Mengenal Bulan Ramadhan dan Fungsi Ibadah Puasa

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi seluruh umat Muslim di dunia. Bulan ini dianggap sebagai bulan yang penuh rahmah dan berkah dari Allah SWT. Bulan Ramadhan selalu ditunggu-tunggu oleh umat Muslim karena di dalamnya terdapat banyak kesempatan untuk melakukan amalan-amalan yang sangat mulia, yang salah satunya adalah puasa. Puasa Ramadhan adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap umat Muslim yang sudah memenuhi syarat-syarat dan rukun tertentu.

    Puasa secara umum memiliki banyak fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi kehidupan umat Muslim. Di antaranya adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, mengembangkan rasa tawadhu, membersihkan jiwa dan raga dari dosa dan kesalahan terhadap Allah SWT, juga mempererat hubungan antara sesama manusia, serta meningkatkan kepedulian terhadap orang yang membutuhkan.

    Dalil tentang wajibnya ibadah puasa bagi orang-orang mukmin bisa kita temukan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi:

    يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

    Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa ibadah puasa wajib dilakukan oleh setiap orang yang mengaku beriman, dengan tujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya. Ini adalah panggilan khusus dimana Allah tahu, hanya orang-orang beriman yang akan serius dalam menjawab anjuran puasa tersebut.

    Selain itu, dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah menyampaikan Rasulullah SAW pernah bersabda:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

    Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT, sehingga Allah pun memberikan ganjaran bahwa puasa Ramadhan dapat menghapus dosa-dosa yang telah berlalu. Sungguh merugi rasanya jika kita tidak dapat menangkap pesan ini.

    Fungsi lain dari ibadah puasa juga adalah sebagai media untuk membersihkan jiwa dan raga dari hasad (tazkiyatun nafs), dengki dan suudzan (berburuk sangka). Ketika berpuasa, orang-orang beriman bukan hanya diharuskan untuk menahan diri dari makan, minum, tetapi juga menahan diri dari perilaku yang dapat merusak kebaikan hati dan pikiran, juga menahan diri dari perilaku yang dapat menyakiti hati orang lain. Dengan menahan diri dari hal-hal tersebut, diharapkan kita dapat lebih fokus untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki perilaku, dan tidak membuang-buang waktu dari hal yang toxic dan kontraproduktif.

    Puasa juga berfungsi sebagai media untuk meningkatkan kepedulian terhadap orang yang membutuhkan dan berbuat baik kepada sesama manusia dan juga alam sekitar. Ketika berpuasa, kita diharuskan untuk lebih banyak memberikan sedekah dan membantu mereka-mereka yang dhaif (kesulitan). Dengan demikian, puasa dapat membantu kita dapat lebih peduli dan peka terhadap para dhuafa dan isu-isu sosial di sekitar kita.

    Selain itu, ibadah puasa juga dapat membantu kita untuk meningkatkan kesehatan tubuh dan jiwa. Hal ini terjadi karena saat berpuasa, tubuh diharuskan untuk menahan diri dari makan dan minum selama beberapa jam (intermitten fasting). Dalam waktu tersebut, tubuh akan mulai menggunakan cadangan lemak dan gula dalam tubuh sebagai sumber energi. Hal ini dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh dan membakar kalori yang ada dalam tubuh.

    Penting diingat bahwa dalam berpuasa, kita dianjurkan untuk tetap menjaga pola makan yang sehat dan seimbang saat berbuka dan sahur. Hal ini agar tubuh tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Jangan pernah jadikan puasa sebagai alasan menurunnya performa dan produktifitas. Justru sebaliknya banyak penelitian menunjukkan fisik berada dalam kondisi optimum disaat berpuasa, dan banyak momen-momen penting dalam sejarah justru dapat diwujudkan ketika berpuasa di bulan Ramadhan.

    Selain itu, ibadah puasa juga dapat membantu meningkatkan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Ketika berpuasa, umat Muslim diharuskan untuk menahan diri dari makan dan minum meskipun merasa lapar dan haus. Hal ini dapat membantu umat Muslim untuk mengendalikan nafsu, emosi dan membantu mereka untuk lebih mengontrol diri, sabar dan ikhlas dalam menghadapi tantangan hidup.

    Dalam rangka menjalankan ibadah puasa dengan baik, kita diharuskan untuk memahami syarat dan rukun puasa serta melaksanakannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Selain itu, kita juga diharapkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh serta menjaga sikap dan perilaku yang baik selama menjalankan ibadah puasa.

    Dalam menjalankan ibadah puasa, kita diharuskan untuk berpuasa dengan penuh keikhlasan dan taqwa, sehingga puasa yang dilakukan dapat diterima oleh Allah SWT , yang tidak hanya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita sendiri, juga mampu memberikan nilai manfaat kepada orang lain.

    Semoga kita semua dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik dan penuh kesadaran serta mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah SWT. Semoga Allah mudahkan kita semua menjalani Ramadhan kali ini, diberikan ketenangan hati, ketawadhuan serta kesempatan untuk mendapatkan hikmah dari pintu-pintu hidayah yang Allah buka lebar selama bulan ramadhan.

  • Sudah siapkah menghadapi Ramadhan?

    Sudah siapkah menghadapi Ramadhan?

    Marhaban Ramadhan…

    Ramadhan adalah bulan ibadah dan bulan rahmah, dimana amal dilipat gandakan dan dosa dilebur dalam mujahadah (kesungguhan beramal).

    Ramadhan BUKAN bulan raun-raun. Walaupun terdapat kemudahan bagi para musafir, kehilangan satu hari ramadhan tidak berarti dengan ketidakpastian kita akan berjumpa ramadhan di tahun berikutnya.

    Salah satu waktu mustajab berdoa adalah:
    1. Sepanjang hari bulan ramadhan – orang yang berpuasa hingga berbuka
    2. Waktu sahur / sepertiga malam
    3. Waktu ashar menjelang magrib
    4. Waktu berbuka puasa

    Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

    Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al-Bazaar. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ Al-Ahadits, 9: 224)

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

    Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758).

    Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

    يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

    “(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah ‘Ashar.” (HR. Abu Daud, no. 1048; An-Nasa’i, no. 1390. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

    Disaat berbuka puasa,

    ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

    Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

    Mari kita bangkitkan tawadhu, kencangkan ikat pinggang, semoga kita dapat memanfaatkan bulan ramadhan dengan bijak.

  • Rindu Heningnya Ramadhan

    Rindu Heningnya Ramadhan

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

    Penggalan surat Al-Baqarah ayat 183 ini selalu menjadi pembuka tausiyah para penceramah dalam menyambut bulan Ramadhan, mengingatkan orang-orang mukmin atas kewajiban untuk berpuasa. Para jamaah pun segera memulai persiapan dalam menyambut Ramadhan, seolah-olah sudah sama paham bahwa kita sedang bertemu bulan yang dimuliakan, bulan yang memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan.

    Ditengah-tengah kesibukan mempersiapkan segala keperluan fisik, kita juga perlu mempersiapkan hati dan jiwa kita untuk bertawadhu dan mengeraskan tekad untuk memperbanyak amalan dan ibadah.

    Dengan ramainya umat muslim yang ada diseluruh dunia, tentunya ada banyak budaya-budaya yang menghiasi dalam menghidupkan ramadhan. Kita merasakan kegembiraan akan datangnya bulan yang dimuliakan ini. Walaupun begitu, sekiranya hilang khidmat dan khusuk kita dalam menjalankan ibadah ramadhan, hal ini tentu sangat disayangkan karena bertolak belakang dengan apa yang kita niatkan untuk dicapai pada akhir Ramadhan yakni meningkatkan ketakwaan, ketundukan kita kepada Allah SWT.

    Puasa bukanlah ibadah yang baru saja diperkenalkan oleh nabi Muhammad, karena dalam ayat yang diatas Allah telah memberikan penjelasan bahwa puasa (yang pastinya penuh tantangan dan mengharapkan keseriusan ini) juga diperintahkan kepada manusia-manusia sebelumnya, kepada umat-umat pengikut para rasul dan para nabi sebelumnya, kepada semua manusia yang mendapatkan risalah ketuhanan tidak memandang warna kulit, asal, dan latar belakang.

    Sebab itu amalan puasa ini juga telah menghasilkan banyak insan-insan hebat yang sukses dalam puasanya, dan berhasil meningkatkan ketaatannya kepada Allah. Juga amalan puasa dan bulan ramadhan ini khususnya juga telah menjadi saksi jutaan manusia yang gagal merasakan khidmatnya ramadhan, dan hanya mengeluarkan jerih payahnya saja untuk lapar dan haus, sebagaimana peringatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW:

    “Banyak manusia yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya itu, melainkan lapar dan dahaga.” (HR Ibnu Majah)

    Jika kita membaca ataupun mengkaji agama-agama besar didunia, yang pada umumnya adalah agama samawi, dan pada juga dikenal sebagai Abrahamic Religions, agama monotheis, kesemuanya memiliki risalah berpuasa yang memiliki durasi kurang lebih 1 bulan lamanya. Inilah bukti bahwa apa yang Allah nyatakan bahwa ini diwajibkan kepada umat sebelumnya adalah satu pernyataan yang jelas dan benar, dan menjadi pengingat bagi kita yang hidup sekarang.

    Dalam menghidupkan ramadhan adakalanya kita terlebih dalam bersikap dan merayakan, sehingga muncul fenomena-fenomena berlebih-lebihan yang tidak sering bertolak belakang dengan apa yang kita usahakan dalam mencapai kesyahduan dalam beribadah. Kita memasak ataupun berbelanja makanan berbuka yang lebih dari cukup, kita menyiapkan pakaian-pakaian baru lebih dari kemampuan kita, dan sebagainya.

    Di negara Eropa Barat, ataupun Asia Timur yang Islam adalah menjadi agama yang asing, muslim dari berbagai macam asal bangsa yang minoritas merayakan Ramadhan dengan sedikit keterbatasan. Dari keterbatasan ini kita melihat bahwa pokok-pokok agama Islam (ushuluddin) yang walaupun berasal dari berbagai budaya adalah sama dan tidak jauh berbeda. Dan pokok-pokok ini yang memberikan kita kekhusyuan dalam berramadhan, pokok-pokok agama yang belum lagi terlalu banyak dihias dengan budaya-budaya yang sebagiannya baik dan sebagiannya justru menjauhkan kita dari kekhusyuan.

    Ramadhan adalah bulannya ibadah dan amal, dimana Allah memberikan pahala yang berlipat dan mengkhususkan untuk memberikan ganjaran puasa olehNya sendiri. Sekiranya tidak lebih penting dari urusan nyawa dan agama, ada baiknya urusan lain kita tunda sebisanya setelah lewat bulan Ramadhan, supaya kita dapat mencurahkan perhatian dan jerih payah kita untuk mengusahakan amal ibadah dalam rangka mendapatkan pahala yang meningkatkan ketaqwaan kita.

    Banyak urusan dunia yang sekiranya masuk bulan puasa, juga menjadikan kita terasa untuk semakin terdesak untuk melakukannya, dimulai dari makanan, penampilan, perniagaan, dan memang begitu adanya. Manusia dengan segala kelebihannya juga memiliki perkara yang akan menjerumuskannya sendiri, yakni hawa nafsu keinginannya yang tidak terkendali. Hal ini yang menjadikan puasa adalah satu usaha yang sangat besar tantangannya, tetapi manis hasilnya yakni berupa meningkatnya ketaataan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

    Untuk ramadhan ini, mari kita coba heningkan ramadhan kita, mengintrospeksi diri kita, melakukan amal-amal shalih yang kita adalah pelaku utamanya, yang tangan kita adalah alat yang utama digunakan. Menata kegiatan kita dalam hati yang tawadhu, dari menjelang sahur hingga tertidur kembali, dengan mengintensifkan amalan-amalan ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Mari kita usahakan ramadhan ini dengan amal-amal shalih, dan menghindari berlebih-lebihan yang tidak membantu kita menyempurnakan ibadah, serta menjauhi segala kemaksiatan yang menjadikan kita jauh dari kebenaran. Kita juga berharap semoga Allah memberi kemudahan dan kesabaran untuk kita menjalani semua ini. Pada akhirnya kita juga berharap Allah masukkan kita dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.

    Selamat Berpuasa. Taqabalallahu minna wa minkum.

    Kuala Lumpur, 2 April 2022.

  • Sedekah dan Pembuktian Komitmen

    Sedekah dan Pembuktian Komitmen

    Sedekah berasal dari bahasa arab shadaqah yang arti secara kontekstual adalah pemberian1 yang ikhlas. Jika dicermati kata shadaqah sendiri juga dikenal dalam bahasa ibrani Tzedaka2. yang artinya seperti yang dapat kita pahami, bahwa ritual sedekah sudah dikenal oleh semua umat, bukan tidak mungkin sedekah adalah tuntunan yang diamalkan oleh para nabi sejak dahulu.

    Kata sedekah dalam bahasa arab berakar kata dari kata sidiq, yang jika menjadi kata sifat bermaksud adalah pembenaran atau pembuktian atau pemenuhan komitmen. Jika kita melihat dari perspektif tiga komponen agama yang dijelaskan dalam hadits jibril3, yakni ihsan, islam dan iman. Maka perbuatan sedekah adalah termasuk ihsan, dimana memperjelas atau membuktikan komitmen keimanan kita.

    Pada prakteknya sedekah pada umumnya berupa pemberian uang, walaupun begitu sedekah secara luas dapat dilakukan dengan berbagai cara yang dapat diaktualisasikan secara fisik.

    Jika memahami konsep sedekah ini, kita justru semakin yakin bahwa keyakinan harus dibuktikan dengan perbuatan yang menunjukkan komitmen. Seperti ungkapan cinta dan sayang tentu juga harus diikuti dengan pembuktiaan, begitu juga ungkapan loyalitas tentu juga harus diikuti dengan komitmen yang menunjukkan hal tersebut.

    Ironisnya banyak manusia yang menyatakan perhatian dan loyalitasnya, tetapi zonk alias kosong dalam pembuktian komitmennya. Manusia-manusia ini tentu menjadi bahan pertanyaan bahkan bahan guyonan, bagaimana menyatakan komitmen tapi omdo doank. Jika begitu mudahnya menyatakan komitmen bahkan tidak mau kalah, ingin terdepan dan menjabat, tapi tidak nampak pembuktian komitmennya.

    Apakah ada komitmen lain, seperti ego pribadi dan nafsu jabatan? Tentu kita tidak berharap sejauh itu. Komitmen yang benar juga memerlukan pembuktikan, sehingga hal-hal ikhlas yang diberikan kepada komitmen tersebut menjadi pembenar bahwa betul orang tersebut memiliki komitmen untuk hal tersebut.

    Jangankan keluar uang, keluar tenaga dan perhatian saja tidak nampak, jadi bagaimana bisa dikatakan komitmennya terhadap hal tersebut dapat dibenarkan. Pembiaran terhadap pernyataan komitmen dan pembenaran ini harus dihindari, lebih baik kita mengoreksi komitmen kita daripada akhirnya menciptakan kayakinan didalam hati yang tidak selaras dengan perbuatan untuk membuktikan komitmen.

    Hal-hal ini lah yang perlahan-lahan mendidik kita memiliki sifat munafik, yang jika sudah dominan sifat ini dalam diri seseorang dia akan menimbulkan fasad, kerusakan disekitarnya. Jika komitmen yang benar diikuti dengan pembuktian komitment tersebut, kita berdoa jika sifat seperti ini yang kita hadirkan dalam keyakinan kita kepada Allah, tentu di hari hisab nanti kita berharap pembuktian amal-amal komitmen kita betul-betul menjadi saksi, pembenar (shadaqa) dari komitmen kita kepada Allah.

    wallahu’alam


    1 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sedekah
    2 https://en.wikipedia.org/wiki/Tzedakah
    3 hadits jibril tentang islam, iman dan ihsan, https://darulfunun.or.id/kitab/s/hadits-arbain-nawawi/arbain-nawawi-2/

  • Ikhtiar dan Takdir: Kebaikan Pada Level Puncaknya

    Ikhtiar dan Takdir: Kebaikan Pada Level Puncaknya

    Kita sering bertanya tentang takdir dan ikhtiar. Rasanya kejadian seorang balita berusia 5 tahun terjatuh didalam sebuah lubang sedalam 32 meter di Maroko, dan bagaimana orang-orang merespon adalah penjelasan bagaimana kita dapat memahami takdir, ikhtiar.

    Sebelumnya kita pahami dahulu bahwa agama memiliki 3 komponen, Al-Iman, Al-Ihsan, Al-Islam. Dengan memahami 3 komponen ini insyaallah lebih mudah memahami antara kenapa kita perlu ikhtiar sebagai bagian dari Ihsan (kebaikan), dan menerima takdir sebagai bagian dari Iman, dan mencari cara menyelesaikan ikhtiar dengan waktu terbatas dengan pengetahuan dan kemampuan yang kita tanpa menabrak aturan-aturan yang menjadikan kita selamat (Islam).

    Opsi umum pertama, adalah qadarullah, Allah membuat aturan ikhtiar akan mendatangkan hasil.

    Akan tetapi ada banyak kemungkinan lain, dimana ada banyak variabel-variabel hukum alam yang Allah tentukan yang kita tidak tahu, pandang sederhana tapi menentukan ataupun salah kalkulasi.

    Opsi kedua diantara banyak kemungkinan itu adalah ikhtiar tidak berjalan sesuai perkiraan, mungkin karena Allah telah merencanakan hal lain yang terbaik lainnya.

    Dalam keadaan seorang anak yang terjatuh dalam sumur 32 meter, dan proses evakuasi dimana tim reaksi cepat mencoba mengebor (mereka menyebutnya, memindahkan gunung). Ikhtiar mereka berhasil, akan tetapi anak itu meninggal sebentar setelah diselamatkan.

    Selain tim reaksi cepat, fenomena bagaimana seorang anak-anak yang juga lebih tua sedikit datang menawarkan diri untuk masuk ke dalam lubang, dan berkata, “aku sudah mendapat izin orang tuaku untuk menolong Ryan”.

    Disinilah ikhtiar dengan berbagai kemungkinan itu tetap harus diupayakan, mereka menyebutnya kemanusiaan dalam level tertingginya, walau mengetahui mereka tidak  akan mendapatkan hasil yang sesuai (humanity at its best). wallahu’alam.


    إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

    ‎Update: official Moroccan news has confirmed that little Ryan has passed on to the mercy of Allah. He gives and He takes, and our time to return has been destined. May Allah grant the family patience and comfort and make him intercession for them on the day of decision.

    Earlier:
    As Morocco moves a mountain to save a five-year-old boy who fell into a deep well, we are praying in the few seconds remaining that he will be brought out alive. This is humanity at its best – the whole world watching and praying! #SaveRayan

  • Selagi Muda (1): Kuatkan Integritas Perkaya Pengalaman

    Selagi Muda (1): Kuatkan Integritas Perkaya Pengalaman

    Diantara kelebihan dari karakter pemuda adalah idealisme, melihat sesuatu secara ideal. Namun dibalik itu juga terdapat kelemahan dari sisi kontekstual atau pengalaman, sehingga kesempatan untuk mengetes idealisme adalah pengalaman yang sangat berharga. Bertolak belakang dengan pemuda, untuk karakter yang mereka yang cukup berumur adalah pengalaman, sehingga hilangnya kesempatan untuk memiliki idealisme dalam masa muda akan terlihat bagaimana terlalu kontekstualnya di masa muda, atau dengan bahasa sederhana mengikuti kemana angin bertiup.

    Idealisme yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran harus terus diasah dan menjadi satu karakter integritas yang memang nampak dari seseorang. Nabi SAW memberikan satu nasihat yang sangat baik tentang pemuda yang berintegritas:

    يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

    Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah [HR. Ahmad].

    * shobwah adalah kecenderungan untuk berniat/berlaku buruk

    Dalam satu kondisi lain, sahabat yang pada saat itu diamanahi menjadi Khalifah, Abu Bakar RA, menilai pemuda juga dari idealisme kejujuran. Bagaimana integritas menjadi penilai tinggi setelah memiliki kemampuan yang terkualifikasi untuk urusan tertentu.

    قَالَ أَبُو بَكْرٍ –وَعِنْدَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ- لِزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ : إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لاَنَتَّهِمُكَ، وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ

    Abu Bakr RA mengatakan kepada Zaid bin Tsabit saat itu Umar bin Khatthab RAu anhu berada diantara mereka, “Sesungguhnya kamu laki-laki yang masih muda, cerdas dan kami tidak menuduhmu (berbuat dusta), kamu dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah, maka sekarang telitilah al-Qur’an itu dan kumpulkanlah ia (Al-Quran itu) [HR. Bukhari].

    Bagaimana seorang pemuda diberi amanah besar untuk mengumpulkan Al-Quran yang pada saat itu masih tercerai berai dalam catatan banyak sahabat, dalam bentuk catatan yang bervariasi. Dan ditangan Zaid bin Tsabit ini lah Al-Quran dalam bentuk mushaf terkumpul dan disahihkan oleh para sahabat.

    Pemuda juga harus mengambil peran pada saat diberikan kesempatan, karena pada saat itu karakter dan tekad dibina, dan bagaimana alasan-alasan untuk dikalahkan oleh kuatnya tekad dan tanggung jawab yang terbina. Ibnu Mas’ud bercerita bagaimana beliau bersama para sahabat-sahabat yang masih muda umurnya diajak untuk menguatkan tekad dalam jihad yang riil, berhadapan dengan kematian selagi menjaga niat lillahi taala, satu pengalaman besar yang kemudian mengantarkan para sahabat-sahabat muda ini menjadi pondasi Islam dimasa kemudian.

    عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا نَغْزُوْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَابٌ

    Dari Ibnu Mas’ud RA berkata, “Kami ikut berperang bersama Rasulullah padahal saat itu kami masih muda [HR. Ahmad]

    Dari uraian diatas dapat diambil ibrah, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita jadikan pelajaran:

    1. Idealisme adalah hal yang paling berharga dimiliki oleh pemuda,
    2. Integritas adalah satu karakter unggul yang menjadi pembeda. Integritas dapat dibina dari konsistensi terhadap idealisme yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran.
    3. Masa muda adalah masa tepat yang belajar bersama-sama berpartisipasi dalam upaya melakukan kebaikan dan kebenaran dalam kegiatan-kegiatan yang bernilai positif dan menginpirasi. Sekiranya disaat muda sudah terbina pondasi yang kuat, tentunya kita berharap dimasa yang akan datang ada lebih banyak kebaikan yang datang dan terbangun dari hal-hal tersebut, biidznillah.

    Semoga bermanfaat.