Ramadhan (5): Islam dan Dunia Intelektual

Avatar photo

Abdullah A Afifi

⛊Bey Abdullah Tan Jabok Bio Aktifitas: https://arifabdullah.id | Telegram: https://t.me/beyabdullah

Bismillahirrahmanirrahim,

Islam merupakan agama yang dianut oleh lebih dari seperempat penduduk dunia, dan memiliki peran penting dalam sejarah dan perkembangan intelektual peradaban manusia. Sebagai agama yang ditekankan pada pengetahuan dan akal budi, Islam telah menjadi landasan bagi perkembangan dunia intelektual, pembentukan hukum-hukum yang inklusif, terutama pada era keemasan Islam yang berlangsung antara abad ke-8 hingga ke-13 Masehi. Yang kemudian inklusifitas keilmuan ini memberikan satu perubahan besar dalam tatanan global dalam cara pandang melihat hukum, persamaan hak asasi, kesehatan sanitasi, kesetaraan gender dan semua hal yang dapat dikatakan moderat dan memberikan kemajuan di abad modern ini.

Di era zaman keemasan, Islam melahirkan banyak ilmuwan, filusuf, dan penulis yang berkontribusi pada perkembangan berbagai disiplin ilmu, seperti matematika, astronomi, fisika, kimia, kedokteran, dan filsafat. Ilmuwan-ilmuwan Muslim, seperti Al-Khwarizmi, Ibn Sina, Al-Razi, dan Al-Farabi, telah menghasilkan penemuan dan pemikiran yang menginspirasi generasi selanjutnya di seluruh dunia, tidak hanya umat Islam saja.

Pendidikan dalam Islam sangat dihargai, dengan perintah “Iqra” atau “bacalah” sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (QS. Al-Alaq 1)

Hal ini mencerminkan pentingnya pengetahuan dan keinginan untuk belajar dalam ajaran Islam. Al-Qur’an sendiri berisi banyak ayat yang mendorong umat Islam untuk mempelajari alam semesta dan mencari pengetahuan sebagai cara untuk lebih memahami kebesaran Allah SWT.

Seiring dengan penekanan pada ilmu pengetahuan, Islam juga mendukung pengembangan ekosistem intelektual melalui pendirian berbagai institusi pendidikan. Pusat-pusat pendidikan seperti universitas dan perpustakaan dibangun di berbagai tempat, dari Madrasah Nizamiyah, juga Universitas Al-Qarawiyyin di Fes, Maroko, yang diakui sebagai universitas tertua yang masih beroperasi di dunia dan belahan dunia lainnya.

Salah satu kontribusi terbesar Islam dalam dunia intelektual adalah dalam bidang matematika. Ilmuwan Muslim menciptakan konsep angka nol, sistem angka desimal, dan aljabar. Kemajuan ini kemudian membuka jalan bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Eropa dan belahan dunia lainnya, yang pada akhirnya membentuk dasar untuk revolusi ilmiah dan teknologi modern.

Dalam bidang kedokteran, ilmuwan Islam seperti Ibn Sina, juga dikenal sebagai Avicenna, telah menyusun ensiklopedia medis yang sangat berpengaruh, “Al-Qanun fi al-Tibb” atau di barat dikenal dengan nama “The Canon of Medicine”. Karya ini menjadi referensi medis utama di dunia selama berabad-abad dan memberikan dasar bagi pengembangan ilmu kedokteran di Eropa.

Astronomi adalah bidang yang mengalami kemajuan pesat selama era keemasan Islam. Ilmuwan-ilmuwan Muslim pakar-pakar hisab seperti Al-Battani, Al-Farghani dengan Astrolabnya, Al-Sufi, Al-Biruni membuat observasi penting dan pengukuran yang akurat mengenai benda-benda langit, serta mengembangkan model matematika dan teori astronomi yang lebih canggih dan kompleks.

Dalam bidang filsafat, pemikir Islam seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Ghazali telah mempengaruhi perkembangan pemikiran filosofis di dunia. Mereka menggabungkan filsafat Yunani kuno dengan ajaran Islam, membuka jalan bagi pengembangan teologi dan filsafat yang lebih inklusif dan universal. Karya mereka kemudian menjadi inspirasi bagi para pemikir Eropa pada Abad Pertengahan, seperti Thomas Aquinas dan Roger Bacon.

Pada umumnya ilmuwan-ilmuwan Muslim zaman kontemporer adalah seorang polymath, yakni ilmuwan yang memiliki banyak keahlian, atau lebih tepatnya di dalam bahasa saat ini kita akan katakan ilmuwan-ilmuwan ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan keilmuan yang berbagai macam dan bervariasi.

Selama era keemasan Islam, budaya menterjemahkan juga tumbuh subur, di mana banyak karya ilmiah dan sastra dari berbagai peradaban diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Hal ini membantu menjembatani pengetahuan antara dunia Timur dan Barat, memungkinkan pemikiran dan penemuan dari berbagai tradisi untuk berkontribusi pada kemajuan dunia intelektual secara keseluruhan.

Dalam bidang sastra, Islam telah menghasilkan karya-karya besar seperti “Al-Qur’an” dan “Hadits”, yang merupakan sumber hukum dan etika Islam. Selain itu, sastra Arab klasik, seperti “Layla dan Majnun”, “Seribu Satu Malam”, dan puisi Jalaluddin Rumi, telah mempengaruhi pengarang dan penyair di seluruh dunia, menciptakan pengaruh yang abadi dalam dunia sastra.

Meskipun era keemasan Islam seolah nampak telah berakhir, kontribusi dan pengaruh Islam dalam dunia intelektual tetap relevan hingga saat ini. Sampai awal abad 20, masih banyak kontribusi-kontribusi signifikan yang dikembangkan di dunia Islam, seperti pendirian pendidikan tinggi universitas di Turki dan Asia Tengah yang bernama Darulfunun. Yang menjadi perbedaan adalah sebelum 1900 bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Arab ataupun lokasi huruf arab seperti huruf jawi, dan sebagainya. –

Hingga kini banyak universitas dan institusi penelitian di seluruh dunia menawarkan program studi tentang Islam, bahasa Arab, dan sejarah budaya Muslim. Ilmuwan dan peneliti Muslim saat ini juga terus berkontribusi pada berbagai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora diseluruh belahan dunia, baik di negara Muslim ataupun yang menjalani hidup bukan di negara Muslim.

Secara keseluruhan, Islam telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi dunia intelektual dalam berbagai bidang. Dari era keemasan Islam hingga masa kini, pemikir dan ilmuwan Muslim telah membantu membentuk wajah ilmu pengetahuan modern, filsafat, dan sastra. Sebagai agama yang mendorong pencarian pengetahuan, Islam akan terus berperan dalam mempengaruhi dan membentuk perkembangan intelektual umat manusia di masa depan.

Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan satu hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi:

وَالذَّهَبِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ

“Sesungguhnya manusia itu seperti tambang perak dan emas. Mereka yang terbaik pada masa masa jahiliah akan terhormat pula di masa lslam, jika mereka memahami (lslam). [Shahih Muslim 4774]

Demikian yang dapat disampaikan. Wallahu’alam