Blog

  • Muhasabah Diri (78): Rezeki Yang Tak Terjamah

    Muhasabah Diri (78): Rezeki Yang Tak Terjamah

    Banyak hal yang perlu kita renungi. Ada ayat-ayat qauliah, yaitu Al-Qur’an Al-Karim yang mesti kita tadabburi. Ada juga ayat-ayat kauniah sebagai tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta yang mesti kita tafakuri. Dengan keduanya kita mengenal Allah SWT.

    Dia beri kita akal, dengannya kita berpikir. Dia beri kita jasad dengannya kita beraktivitas. Diperkuat kita dengan dimensi ruhani, agar kita memiliki keseimbangan dalam mengarungi ujian duniawi.

    Begitulah manusia, makhluk unik yang diistimewakan dengan petunjuk wahyu dan model sebagai petunjuk yaitu Rasulullah SAW. Itu semua merupakan bekal yang amat berharga.

    Allah SWT menyediakan buat kita bumi sebagai medan amal. Disitulah kita jalani takdir penciptaan kita sebagai manusia, dan disitu juga kita berikhtiar melaksanakan pengabdian pada Yang Maha Kuasa. Ada saatnya kita merenung, betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

    Wajar ada ungkapan dalam Al-Qur’an manusia diciptakan sebagai khalifah di permukaan bumi ini. Masih banyak nikmat Allah yang belum kita syukuri. Lihatlah disekitar kita alam terbuka lebar, betapa banyak disitu rezeki yang tersembunyi buat manusia.

    Sahabat…

    Kadangkala kita hanya banyak berkeluh kesah, padahal ada potensi yang dilebihkan Allah buat manusia, mengelola jatah rezeki manusia di alam semesta sesuai aturannya.

    Saatnya kita berbenah, potensi bumi yang melimpah, tanah yang terbentang luas yang tak terkelola. Banyak lahan yang ditinggal tak terjamah, seakan hanya lahan mubazir buat manusia. Dan banyak lagi…

    Mari kita jemput Rahmat Allah dengan mensyukuri nikmat-Nya…

  • Ibrah Pendidikan (1): Peranan Kecil Sangat Berharga

    Ibrah Pendidikan (1): Peranan Kecil Sangat Berharga

    وَحَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، وَأَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ – وَاللَّفْظُ لأَبِي كَامِلٍ – قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، – وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي، هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً، سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي ‏”‏ ‏.‏ قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ ‏”‏ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ ‏”‏ ‏.‏ فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ ‏”‏ إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ ‏”‏ ‏.‏

    Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya seorang wanita berkulit hitam (atau remaja kulit hitam) sering terlihat membersihkan masjid. Suatu hari Rasulullah SAW tidak melihat dia dan bertanya kepada orang-orang sekitar. mereka memberitahunya bahwa wanita (remaja) itu telah meninggal. Beliau berkata kenapa mereka tidak memberi tahunya, seolah-olah mereka menganggap keberadaan wanita (remaja) ini adalah hal yang sepele. Rasulullah SAW kemudian berkata: “tunjukkan aku kuburnya!”. Lalu mereka mengantarkannya dan menshalati kuburnya, kemudian berkata: “sesungguhnya kubur-kubur ini penuh kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah azza wa jalla (maha agung dan maha tinggi) menerangi kubur ini untuk penghuninya karena doaku atas mereka. (Sahih Muslim 956)

    # IBRAH

    Hadits ini adalah hadits yang sangat jelas bagaimana rasulullah tidak menyepelekan keberadaan orang dan pekerjaan kecil. Sebegitu detailnya rasulullah atas kerja, sehingga peran kecil wanita ini tidak terlewatkan, bahkan beliau mendoakannya setelah meninggal.

    Hadits ini sangat bagus untuk diambil hikmahnya bahwa seringkali dalam mendidik kita meminta anak didik kita untuk menjadi hebat terlebih mengambil kerja bagian yang hebat-hebat saja. Sehingga seringkali kerja yang kecil luput dalam pandangan bahkan menjadi tidak penting, dan bagaimana Rasulullah menilai kerja yang kecil ini juga sama bermanfaat bagi kerja baik yang lebih besar. Artinya kerja kecil juga harus terkordinasi, sehingga memberikan manfaat yang juga besar.

    Dalam hadits ini Rasulullah sangat memperhatikan siapa saja disekelilingnya yang berperan melakukan perbuatan baik dan bermanfaat. Begitu juga dalam institusi pendidikan, semua pihak patut mengambil peranan, berkordinasi dan patut dihargai atas kebaikan dan peranannya, walaupun kecil. Ini juga sebagai ibrah untuk kita bahwa dalam kerja kebaikan, peran semua anggota tim perlu diperhatikan dan dipastikan memberikan kontribusi dalam pencapaiannya. Didalam institusi pendidikan terlebih lagi, etika untuk menghargai harus disampaikan, supaya hal ini menjadi karakter yang terbentuk pada siswa dimasa belajarnya.

    Sebagian masyarakat menganggap sepele kerja-kerja kecil seperti ini. Dan Rasulullah SAW mencontohkan tidak patut kita menyepelekan orang lain karena latar belakang ekonomi ataupun penampilannya. Kontribusi nyata yang diberikan wanita ini berkesan tanpa melihat siapa dia, status, pangkat, dan juga penilaian fisik lainnya.

    Setiap pemimpin juga perlu ambil perhatian terhadap anggota-anggota timnya. Dan Rasulullah SAW mencontohkan setiap peran kecil dari pekerjaan besar perlu diperhatikan dan dihargai. Bagaimana diakhir hadits Rasulullah sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas usaha kebaikan wanita ini menjadi saksi atas peran yang dianggap kecil wanita ini yang membantu kerja baik beliau.

    Menurut al-Imam Ibn Hajar, wanita ini adalah Ummu Mihjan, atau Mihjanah, seorang wanita kulit hitam yang berkhidmat membersihkan masjid (Ibn Hajar, al-Isabah). Menurut riwayat al-Nasa’i pula, wanita ini disifatkan sebagai seorang yang miskin. a Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk bertanya kabar tentang orang lain. Bahkan menurut riwayat Al-Hakim, Rasulullah sering bertanya khabar penduduk Anshar. b

    Referensi:

    Azmi, Ahmad Sanusi. 40 Hadis Tentang Dakwah dan Tarbiah. Ulum Hadith Research Center, 2020.
    https://sunnah.com/muslim:956

  • Syekh Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah, Panas Dingin Politik

    Syekh Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah, Panas Dingin Politik

    Usut punya usut, Persatuan Muslim Indonesia (Permi) era 1930-an yang telah berhaluan politik tak hanya ingin menempatkan Sumatera Thawalib dalam payungnya, tetapi seluruh sekolah agama. Terkenanglah kita untaian kalimat Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969), “Biarlah perguruan ini tetap terasing selama-lamanya dari partai politik dan tinggalkan ia menjadi urusan dan tanggung jawab orang banyak, yang macam-macam aliran politiknya.”

    Kita telah paham jika Diniyyah School Puteri tak ada hubungan organisatoris dengan Sumatera Thawalib. Konon, Rahmah El-Yunusiyyah yang mengetahui gelagat rapat di Bukittinggi memilih keluar ruangan. Putri bungsu Rafi’ah (1872-1948) tak ambil pusing, apalagi perguruannya sedari awal telah dirintis dengan kekuatan sendiri.

    Lain soal jika ucapan itu dikeluarkan oleh seorang penyokong Sumatera Thawalib. Menarik mencermati uraian Tim Peneliti FIBA IAIN Padang (2009) terkait jejak Syekh Abbas Abdullah (1883-1957). Ucapan ulama asal Padang Japang ini senada dengan Rahmah El-Yunusiyyah. Beliau berucap, “Kalau sekolah sudah memasuki dunia politik, maka sekolah itu akan hancur. Boleh berpolitik tapi jangan di sekolah.” Abbas Abdullah serta-merta mengubah nama perguruannya menjadi Darul Funun.

    Dalam buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021) dituliskan, “Rahmah tak melarang murid-muridnya berpolitik, namun setelah mereka tamat. Dengan bekal keislaman dan kekuatan iman, politik yang dijalankan akan menghadirkan maslahat.”

    Abbas Abdullah memang belum sampai panas dingin seperti Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul (1879-1945). Pengaruh politik di Sumatera Thawalib Padang Panjang terjadi sedari lama. Bahkan, saking sukanya berpolitik, ada beberapa guru dan muridnya mengusung komunis. Dilibaslah mereka oleh Haji Rasul yang memang tipikal keras. Urusan murid berpolitik ini serba runyam. “Tentang ini beliau tidak hati-hati, sebagaimana hati-hatinya Zainuddin Labay El-Yunusy, yang seketika perasaan itu telah merata dalam kalangan murid-murid, dia hanya berdiam diri,” tutur Buya Hamka (1967: 132).

    Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah tentu merasakan sendiri gejolak komunis mencapai puncaknya sepeninggal Zainuddin Labay (1890-1924) pada 1926-1927. Seusai itu, gairah berpolitik tak sirna. Persatuan Sumatera Thawalib didirikan pada 1928 yang kemudian diubah nama menjadi Persatuan Muslim Indonesia dengan singkatan PMI sampai akhirnya disingkat Permi. Intinya tetaplah sebagai wahana menyalurkan hasrat politik.

    Diniyyah School Puteri terkena getah, apalagi Sumatera Thawalib Padang Japang. Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah mulailah demam. Kendati melarang murid-muridnya berpolitik, mereka tetap saja kecolongan. Ketika murid Diniyyah School Puteri berpolitik dan konon lalai salat berjamaah sebenarnya bukan melulu kesalahan Rasuna Said (1910-1965). Saat tindakan Belanda mulai keras, bukankah tiga guru dibekuk ketika Politieke Inlichtingen Dients (PID) menggeledah Diniyyah School Puteri?

    Nasib apes dialami Abbas Abdullah. Perguruan Darul Funun digeledah dan dibekukan sementara waktu. Burhanuddin Daya (1990: 133) menerangkan Perguruan Darul Funun berikhtiar bangkit kembali setelah 1936, namun murid-muridnya sangat kurang dan sewaktu zaman pendudukan Jepang terpaksa ditutup lagi.

    Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah dalam sejarahnya pernah panas dingin dengan politik. Namun, sejarah mencatat pula, mereka paling konsisten “berpolitik” menentang penjajahan dan teguh memegang prinsip dalam revolusi kemerdekaan.

    Tanpa menyebut sosok tokoh Permi, sejarah telah mencatat ada yang membelot ketika negeri ini berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan. Wallahu a’lam.(Hendra Sugiantoro, penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia, 2021).

    Diterbitkan di: Suhanews (31/08 2021)
    https://suhanews.co.id/syekh-abbas-abdullah-dan-rahmah-el-yunusiyyah-panas

  • Zainuddin Labay Al-Yunusiyyah: Muslih Hebat Dari Minangkabau

    Zainuddin Labay Al-Yunusiyyah: Muslih Hebat Dari Minangkabau

    Authors: 

    Izziah Suryani, Mat Resad @ Arshad

    Abstract:

    Zainuddin Labay al-Yunusiyyah merupakan seorang daripada ulama islah Minangkabau yang memainkan peranan besar dalam islah pemikiran dan reformasi pendidikan Islam. Walaupun beliau mempunyai latar belakang pendidikan yang tidak teratur dan hanya belajar dalam wilayah Minangkabau, namun beliau merupakan seorang tokoh ulama yang begitu progresif dan mampu menyamai tokoh-tokoh islah terkemuka yang lain. Sumbangan terbesar beliau yang memberi impak besar kepada umat Islam Minangkabau ialah pembaharuan pendidikan Islam berorientasikan moden. Model institusi pendidikan Islam moden yang diperkenalkan oleh Zainuddin Labay al-Yunusiyyah menjadi contoh kepada penubuhan institusi pendidikan Islam yang lain. Justeru, kajian ini meneliti gerakan islah di Minangkabau dan biografi Zainuddin Labay al-Yunusiyyah. Selain itu, objektif kajian ini juga menganalisis peranan beliau terhadap pemurnian pemikiran dan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Kajian ini merupakan kajian yang berbentuk kualitatif menggunakan analisis kandungan sebagai reka bentuk kajian dengan menggunakan metode kajian sejarah. Hasil kajian mendapati Zainuddin Labay al-Yunusiyyah merupakan seorang daripada ulama islah abad ke-20. Walaupun beliau tidak mendapat pendidikan yang sistematik dan hanya belajar di Minangkabau sahaja, beliau mampu muncul sebagai tokoh pembaharu dan islah yang memberi impak besar kepada gerakan islah di Minangkabau terutamanya reformasi pendidikan Islam dan juga islah pemikiran Islam di Minangkabau. Pembaharuan pendidikan Islam yang dilakukan oleh Zainuddin Labay al-Yunusiyyah menjadi asas dan model kepada pembaharuan pendidikan Islam di seluruh Minangkabau dan juga Indonesia.

    Keywords:

    ulama islah, islah pemikiran Islam, reformasi pendidikan Islam, Zanuddin Labay al-Yunusiyyah, Minangkabau

    Jurnal:
    Jurnal Islam dan Masyarakat Kontemporari

  • Syekh Abbas Abdullah, Pejuang Kemerdekaan

    Syekh Abbas Abdullah, Pejuang Kemerdekaan

    Akibat gempuran Jepang, Belanda ingin membawa Sukarno yang tengah diasingkan di Bengkulu menuju Australia. Jalan satu-satunya yang memungkinkan adalah menaiki kapal di Teluk Bayur. Namun, beruntunglah Sukarno, sebab Padang telah dikuasai Jepang. Sedetik saja Belanda berhasil meloloskan Sukarno, anak Sukemi Sosrodihardjo dan Idayu Nyoman Rai Sarimben itu boleh jadi raib dari peta sejarah Indonesia.

    Titik balik sejarah Sukarno bisa dikatakan bermula di Padang. Sejak diasingkan ke Ende dan Bengkulu selama hampir delapan tahun, pesonanya hanya dalam kesunyian. Beruntung pula bagi Sukarno ketika Jepang menukarkannya dengan Madjid Usman (1907-1955). Tokoh Minangkabau ini sedang diasingkan di Garut, Pulau Jawa. Bagi Jepang, pertukaran ini sangat penting, sebab Sukarno memiliki daya retorika yang akan dimanfaatkan sebagai propagandis kepentingan Jepang di Jawa (Salmyah Madjid&Hasril Chaniago, (Ed.)., 2017: 151-154).

    Dalam catatan Audrey Kahin (2005: 137-141), Sukarno selama di Padang sejak Maret sampai Mei 1942 memainkan banyak peran. Namun, sejarawan Asia Tenggara dari Cornell University itu tak mengabadikan “jalan-jalan” Sukarno di tanah Minangkabau. Sukarno melakukan silaturahmi di Perguruan Darul Funun di Padang Japang.

    Hasril Chaniago dalam Indonesian Lawyer Club (ILC) TV One (8/9/2020) menyebutkan bahwa Sukarno datang terlambat dua jam dari waktu yang disepakati. Syekh Abbas Abdullah (1883-1957) menghubungkan soal waktu dengan janji. Sukarno dinasihati kalau ingin menjadi pemimpin harus menepati janji. Abbas Abdullah seolah-olah juga mengetahui kalau Sukarno “rambang mato” setelah melihat gigi suami Inggit Ganarsih itu. Selain itu, ulama besar dan pimpinan Darul Funun itu memberikan “peci tinggi” kepada Sukarno agar terlihat gagah.

    Muslim Syam dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981: 172) mengetengahkan riwayat Abbas Abdullah. Diterangkan bahwa Sukarno dalam perbincangan itu juga menyinggung soal landasan jika Indonesia merdeka dan menjadi sebuah negara. Abbas Abdullah menekankan dasar negara harus berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Dalam pidatonya di hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, Sukarno menyebut ketuhanan pada poin terakhir atau dasar yang kelima. Menurut penulis, Abbas Abdullah kemungkinan marah besar terhadap Sukarno ketika komunis merasuki pemerintahan. Ternyata Sukarno tak menepati janji memegang teguh dasar ketuhanan.

    Lahir pada 1883, Abbas Abdullah termasuk ulama disegani di Minangkabau yang menghembuskan udara pembaruan bersama Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945), Muhammad Djamil Djambek (1860-1947), Ibrahim Musa (1882-1963), dan ulama lainnya.

    Dalam riwayatnya, ketika usia 13 tahun, ia pergi ke Mekah bersama pamannya dan tak mau pulang. Betah di Mekah selama tujuh tahun, ia mempelajari banyak hal termasuk berguru ke Syekh Ahmad Khatib (1860-1916).

    Setahun sebelum pulang, Syekh Abdullah (1830-1903) yang mendirikan Surau Gadang pada 1854 meninggal dunia. Abbas Abdullah pun turut membantu mengajar di surau yang didirikan ayahnya itu. Perlahan tapi pasti, ia melakukan modernisasi terhadap sistem pendidikan.

    Abbas Abdullah termasuk pimpinan dalam surat kabar al-Munir yang mulai terbit pada 1911. Ia pun bersatu padu mengibarkan bendera Sumatera Thawalib. Bahkan, pada 1920, Sumatera Thawalib Padang Japang menerbitkan surat kabar al-Imam. Setahun kemudian, Abbas Abdullah menuju lagi ke Mekah. Seusai haji, ia memperdalam ilmu ke Mesir dan ikut mendirikan Jam’iyyah Jawiyyah bersama Fathurrahman Kafrawi (Muslim Syam, 1981: 169; Burhanuddin Daya, 1990: 132). Fathurrahman Kafrawi (1901-1969) pernah menjabat Menteri Agama pada 1946 sampai 1947.

    Buya Hamka (1967: 242) menceritakan, “Pada tahun 1921 beliau kembali ke Mekah, terus ke Mesir dan menambah pengalamannya belajar di al-Azhar sampai tahun 1924. Pada tahun itu dengan melalui Palestina, Libanon, dan Syria beliau pulang ke tanah air dan meneruskan usahanya mengajar.”

    Diketahui pula bahwa Abbas Abdullah sempat ke Swiss dan bertemu Mahmud Yunus (1899-1982). Dalam catatan Muslim Syam (1981: 170), sebelum kembali ke Minangkabau, Abbas Abdullah singgah terlebih dahulu di Pulau Jawa untuk mengunjungi ulama-ulama dan pesantrennya. Ia berjumpa pula dengan Haji Agus Salim (1884-1954) dan beberapa pemimpin terkemuka.

    Ringkas cerita, dalam perkembangannnya, Sumatera Thawalib terinfiltrasi politik praktis dan aliran. Sekitar 1930-an, sebagaimana Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969) yang menolak usulan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) agar lembaga pendidikannya bernaung di bawahnya, Abbas Abdullah melakukan sikap serupa. Saat itulah Abbas Abdullah mengubah perguruannya dengan nama Darul Funun. Penamaan ini menarik, sebab cenderung beraroma Turki.

    Menurut penulis, Abbas Abdullah termasuk tokoh yang dikuntit Belanda. Ketika Darul Funun digeledah Belanda sekitar 1934, bukan sekadar soal adanya “buku-buku radikal” dan prasangka politik praktis, tetapi juga menghentikan gerak Abbas Abdullah. Kita ingat aksi penolakan Ordonansi Guru (1928) dan Ordonansi Sekolah Liar (1932) di Minangkabau yang membuat Belanda mati kutu. Dalam berbagai keterangan, seusai penggeledahan, Darul Funun diblokir Belanda alias dilarang beroperasi.

    Nasib Abbas Abdullah tak seperti Haji Rasul yang ditangkap dan diasingkan Belanda. Semasa pendudukan Jepang, Abbas Abdullah adalah salah satu ulama yang terpaksa berfatwa Perang Asia Timur Raya adalah perang sabil. Tentu, fatwa ini dengan niat menghancurkan Jepang di Minangkabau.

    Ketika pembentukan Giyugun, Abbas Abdullah menyuruh murid-muridnya turut berlatih dalam badan pertahanan bentukan Jepang itu. Bahkan, anaknya Azhari Abbas termasuk angkatan pertama. Kelak, barisan Giyugun ini berperan besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

    Bukan main jika sejarah menarasikan peristiwa ini. Sebagaimana kita ketahui, Abbas Abdullah terlibat dalam Majelis Islam Tinggi (MIT) yang berpusat di Bukittinggi. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, MIT membentuk barisan Sabilillah. Ada empat resimen Sabilillah berkedudukan di Padang Panjang, Solok, Pesisir Selatan, dan Payakumbuh. Abbas Abdullah ditunjuk sebagai imam jihad. Fatwa yang dikeluarkan, berjuang mengusir musuh adalah fardhu ‘ain, bukan fardhu kifayah. Siapa yang mati, syahid dunia akhirat (Hendra Sugiantoro, 2021: 131-132).

    Resimen adalah pasukan yang terdiri dari beberapa batalion, sedangkan batalion bisa terdiri dari 300 sampai 1.000 pasukan. Itu di bawah komando Abbas Abdullah yang saat itu sudah berusia 62 tahun!

    Kiprah Abbas Abdullah dalam perjuangan kemerdekaan tak dimungkiri. Bahkan, ketika masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), perguruannya sempat sebagai markas Mr. Teuku Mohammad Hasan. Dalam struktur kabinet PDRI yang diumumkan Mr. Syafruddin Prawiranegara (1911-1989) per 22 Desember 1948, posisi Teuku Mohammad Hasan selaku Wakil Ketua merangkap Menteri Dalam Negeri, Pendidikan&Kebudayaan, dan Agama.

    Seusai kesepakatan Roem-Royen 1949, Syafruddin Prawiranegara yang beretika kekuasaan mengembalikan mandat kepada Sukarno. Di Perguruan Darul Funun, Mohammad Natsir dan Johannes Leimena menjemput pimpinan PDRI untuk pulang ke Yogyakarta.

    Abbas Abdullah meninggal dunia pada 17 Juni 1957. Sekitar delapan tahun kemudian, kekuasaan Sukarno runtuh, salah satunya akibat tak menepati janji mendasari negara dengan ketuhanan sebagaimana diamanatkan Abbas Abdullah. Wallahu a’lam. (Hendra Sugiantoro, 23-24 Agustus 2021).

    Sumber Acuan:

    • Ahmad Husein dkk. dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I di Minangkabau/Riau 1945-1950 (1978, 1992).
    • Andre Fernando dan Etmi Hardi dalam “Syekh Abbas Abdullah Padang Japang: Tokoh Pejuang Pada Masa PDRI 1948-1949”, Gelanggang Sejarah, 2019, Vol. 1(1), hlm. 74-89.
    • Audrey Kahin dalam buku Dari Pemberontakan ke Integrasi, Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 (2005, 2008).
    • Burhanuddin Daya dalam buku Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib (1990).
    • Departemen Penerangan dalam buku Republik Indonesia Provinsi Sumatera Tengah (1954).
    • Hamka dalam buku Ajahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera (1967).
    • Hendra Sugiantoro dalam buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021).
    • M.D. Mansoer dkk dalam buku Sejarah Minangkabau (1970).
    • Mestika Zed dalam buku Somewhere in the Jungle Pemerintahan Darurat Republik Indonesia: Sebuah Mata Rantai Sejarah yang Terlupakan (1997).
    • Edward (Ed.) dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981).
    • Salmyah Madjid dan Hasril Chaniago (Ed.) dalam buku Memoar Siti Aminah Madjid Usman-Hiroko Osada: Kisah Hidup dan Perjuangan Seorang Putri Bangsawan Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia (2017).

    Diterbitkan pertama kali di: https://matapadi.co/syekh-abbas-abdullah-pejuang-kemerdekaan (25 Agustus 2021)

  • Kemkes rilis Fitur Baru di Satu Data Vaksin: Stok Vaksin

    Kemkes rilis Fitur Baru di Satu Data Vaksin: Stok Vaksin

    Luar biasa, perjuangan front liner ini memang luar biasa. Memang tidak semua sempurna, tapi kita bisa lihat bahwa pandemi ini membuat percepatan dalam pengelolaan layanan kesehatan.

    Apa sih yang kita bisa lihat dari satu data vaksin ini.

    Langkah cepat vaksinasi di Jakarta ini memang patut diberikan jempol, walau setelah lebih 70% daerah lain jadi merasa kurang diperhatikan. Dan jawaban ini sebetulnya diberikan di fitur satu data vaksin. Banyak daerah tidak sigap dan siap. Mungkin jatah vaksin sekarang ini dianggap sama dengan antrian vaksin / imunisasi biasa, targetnya semua di vaksin, seharusnya semua cepat tervaksin.

    Akhirnya dengan mulai beraksinya varian delta setelah Iedul Adha, semua daerah kewalahan, dikejar cepat stok vaksin tidak ada, saat stok vaksin ada, kita tidak siap.

    Vaksinasi memang belum merata, Jakarta sebagai episentrum ekonomi dan juga kawasan Industri prioritas di utamakan, supaya variabel-variabel ekonomi bisa terus berjalan positif. Sebab itu indikator ekonomi membaik, walaupun ekonomi di masyarakat emput-emputan.

    Pesantren di pulau Jawa khususnya Jawa Timur yang pada awalnya banyak anti vaksin berhasil diyakinkan, bahkan tidak main-main sebulan lalu Kemenag sampai menjaga 8jt kedatangan vaksin di airport, dan setelah itu memang tancap gas.

    Daerah lain bagaimana, masih alon-alon kata orang jawa, masyarakat yang kurang partisipatif dan mungkin medan yang sulit. Terlihat masih ada area data yang hitam, artinya belum atau tidak ada stok vaksin disana.

    Mengaca pada Jakarta yang bahkan saat ini sudah lebih 100% vaksinasi pertama bahkan masih terus berjalan untuk siswa dan ibu hamil. Apa sih yang bisa dilakukan oleh daerah lain untuk mendapat tambahan stok vaksin dan mempercepat bangkit dari masalah pandemi, karena seperti yang kita tahu sebagian propinsi di Indonesia memiliki penerbangan dan perbatasan dengan dunia internasional.

    Jikapun Indonesia bisa dihapus dari travel warning, bisa jadi propinsi diluar pulau Jawa dan Bali masih akan lambat lagi untuk pulih.

    Satu data ini mungkin salah satu mekanisme yang dijadikan ukuran dan birokrasi.

    Sehingga cara paling efektif rasanya: suntik siapa saja asalkan stok vaksin bisa cepat habis.

    Libatkan semua dari dinas kesehatan, pendidikan, sekolah, hingga swasta. Semakin cepat habis, semakin cepat stok baru didatangkan. Dan semakin baik indikator pemulihan dan birokrasi yang menyertainya.

    Abaikan saja yang memang sengaja tidak tertib, mungkin memang dari awal begitu refleksi hidupnya, apa yang mau diharapkan.

    Justru ceruk-ceruk yang pasti seperti sekolah, pos pelayanan umum, pasar adalah tempat berkumpul massa setiap hari dan setiap saat. Mulai di tempat yang pasti, karena menunggu masyarakat datang pastinya akan sulit. Seperti Jakarta sekarang menunggu di stasiun MRT, Kereta Api, Airport dan kabarnya akan di Terminal Bis.

    Jika Kota Kabupaten di luar pulau Jawa ada yang bisa tembus ribuan perminggu, pastinya daerah lain juga bisa, tentunya selain faktor medan alam yang susah.

    Cepat dan tertib cuma itu kuncinya. Siapa paling bontot, artinya memang ya begitu adanya.

  • Bedah Buku: Rahmah El Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia

    Bedah Buku: Rahmah El Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia

    Nama Rahmah El Yunusiyyah menjadi perbincangan dan dijadikan alternatif sebagai penggerak pendidikan perempuan. Kiprahnya dalam mengembangkan institusi pendidikan Diniyah Putri Padang Panjang memberikan kontribusi besar sebagai loncatan pendidikan perempuan di Nusantara.

    Penulis Hendra Sugiantoro mengurai peran Rahmah El Yunusiyyah dalam arus sejarah Indonesia. Saksikan bincang santai, bedah buku tersebut disini.


    Bedah Buku: Rahmah El Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia
    (Penulis: Hendra Sugiantoro)

    Kamis, 12 Agustus 2021
    https://www.youtube.com/watch?v=zcLLV_dBxCM

  • Wajah Ego

    Wajah Ego

    Ego diartikan dalam kamus sebagai persona, bisa juga kesadaran akan diri sendiri, ada juga yang mengartikan sebagai persepsi akal pikiran terhadap siapa kita, atau lebih menarik lagi disebut adalah sebagai jembatan persepsi antara diri seseorang dengan realita dunia.

    Pada saat pandemi dan kesulitan seperti ini kita sebetulnya melihat karakter masing-masing dari kita. Kita melihat dimana ego menempatkan kita pada realita yang kita hadapi sekarang, apakah muncul empati dan rasa berkontribusi atau justru sebaliknya.

    Mana yang sibuk dengan urusan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, mana yang sibuk berpartisipasi urusan orang banyak dan mana yang sibuk dengan urusan pribadi dan ego nya.

    Lihat para politisi, disaat pandemi ada yang meminta menjadi komisaris dan pembina, bukannya meringankan urusan justru menambah ribet situasi. Lihat juga pada yang bermental lemah, ada pandemi tidak tahan ada duit mengalir, padahal sepeser pun sudah ada alokasi bantuan yang terkunci.

    Sebetulnya disini kita dapat melihat, klaim-klaim simpati diuji dengan kondisi yang amal yang riil. Hari ini menjadi saksi siapa sebetulnya kita, apakah kita termasuk orang yang melakukan perbaikan atau kita termasuk perusak yang suka berbuat onar dan fasad.

    Toh pada akhirnya kita semua juga akan mati. Semoga kita yang sehat dijaga dari marabahaya, semoga kita yang sakit diberi kesembuhan, semoga diakhir zaman usia kita ini kita diberikan akhir yang baik, husnul khatimah.

  • Dalam Pengosongan Lahir Pencerahan

    Dalam Pengosongan Lahir Pencerahan

    Keputusan seseorang untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan dipengaruhi oleh ‘meta-kognisi’ yang ada di dalam dirinya.

    Artinya, suatu sikap yang dipilih oleh seseorang itu tidak muncul begitu saja secara spontan, tetapi sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan cara pandang yang selama ini dipelajari dan dianutnya, yang semuanya itu kemudian mengkristal sebagai ‘meta-kognisi’ dalam diri atau ‘ego’-nya.

    Diantara manusia ada yang ego-nya dibimbing oleh ‘al-bashîrah’ (penglihatan tajam yang tidak hanya mampu melihat fenomena-fenomena yang kasat mata, tetapi juga mampu menangkap pesan-pesan di baliknya), dan manusia yang ego-nya dikendalikan oleh ‘al-nafs al-ammârah bi al-sû’ (jiwa yang selalu memerintahkan perbuatan-perbuatan buruk).

    Diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:

    اَللَّهُمَّ أَلْهِمْنِيْ رُشْدِيْ وَأَعِذْنِيْ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ”

    Ya Allah, ilhamkan kepadaku pikiran terbimbing yang ada dalam diriku, dan lindungi aku dari kejahatan nafsu/ego-ku!”

    Ada adagium di kalangan para pelaku tasawuf :

    فِي التَّخَلِّيْ التَّجَلِّيْ”

    Dalam pengosongan diri lahirlah pencerahan”

    Maksudnya, manakala manusia telah mampu membersihkan dirinya dari berbagai macam dorongan hawa nafsu yang destruktif, maka ia akan diberi kemampuan untuk menangkap cahaya nilai-nilai kebenaran. Dan sebaliknya, manusia yang secara sadar mengotori dirinya dengan berbagai macam perbuatan dosa dan kedzaliman kepada manusia lainnya maka ia akan terhalang dari memperoleh hidayah kebenaran.

    Wallâhu a’lamu bi al-shawâb.

  • Literature Qur’an in Indonesia: Tafsir Al-Qur’an H. Zainuddin Hamidy And Fachruddin HS (Has Analysis Of The Philological Approach)

    Literature Qur’an in Indonesia: Tafsir Al-Qur’an H. Zainuddin Hamidy And Fachruddin HS (Has Analysis Of The Philological Approach)

    Authors: Sayyida, Kusmana, Eva Nugraha, Hamka Hasan, Yudi Setiadi, Rahman Ahdori

    Abstract:

    The interpretation of the Al-Quran and its literature throughout Indonesia in
    the 20th century experienced significant development and progress very rapidly since it was started by Mahmud Yunus in the 1940s. The tafsir writer wrote the interpretation for the advancement of Muslims in Indonesia. at least there are interpretations written in Indonesian that are used for reading material for the people of this country. Because many Indonesian Muslims do not deepen and understand the al-Qur’an which is originally Arabic. After the interpretation of Mahmud Yunus’ work, then Ahmad Hasan
    interpreted the Qur’an with his interpretation of Al-Furqan, namely in 1940. Then, H. Zainuddin Hamidy and H. Fachruddin HS wrote their tafsir works with a better arrangement. There are many interesting sides to this interpretation. In a paper on this interpretation work, the speaker will discuss one of the commentators in Indonesia, the more popular one by the name of Haji Zainuddin Hamidy and his friend Fachruddin HS.

    Some Notes:

    1. The syaikh that mention as scholars or teacher of Fachruddin HS and Zainuddin Hamidy is Syaikh Abbas Abdullah, the article wrote Syaikh Abdullah Abbas.
    2. Al-Iman Magazine should be Al-Imam.

    Jurnal:
    ICIIS 2020

    https://darulfunun.id/wp-content/uploads/2021/07/eai.20-10-2020.2305183.pdf
  • Jenayah Rasuah (Korupsi) menurut Adat Perpatih

    Jenayah Rasuah (Korupsi) menurut Adat Perpatih

    Ada perkataan dari bahasa Melayu lama seerti rasuah.

    Kata rasuah itu dari bahasa Arab.

    Akan tetapi untuk orang Melayu, ada kalimat lain.

    Kata ini bolehlah dianggap arkaik dan sudah lama tidak kedengaran.

    Kekol. Itulah kalimat rasuah dalam bahasa Melayu.

    Saya berpendapat penguatkuasa dan aktivis anti rasuah seperti SPRM perlu mengenal serba sedikit latar belakang kekol dan orang Melayu.

    Kekol ini bermaksud sogokan atau suapan.

    Ini kerana hubungan pembesar Melayu dahulu-kala dan aksi kekol atau rasuah ini memang terbiasa lali.

    Ambil sahaja Bendahara Seri Maharaja ketika zaman Kesultanan Melayu Melaka dahulu, beliau tidak rasa sedikit pun bersalah menerima wang pemberian Raja Mendeliar, salah seorang tokoh korporat waktu itu.

    Apa kata perdana menteri tatkala itu?

    Ini yang dipetik dari ‘Sejarah Melayu’:

    “Maka bendahara pun keluar. Maka emas yang sepuluh kati itupun dipersembahkan pada bendahara. Maka kata Nina Sura Dewana pada Bendahara, ‘Tuanku, emas ini persembahan saya akan pembeli-pembeli sirih pinang Tuanku’. Maka kata Bendahara, ‘Baiklah, tuan hamba memberi hamba, hamba ambil’.”

    Perhatikan bagaimana selamba bendahara menyambut kekol atau sogokan.

    Perihal kekol atau pemberian untuk diri sendiri ini memang terbiasa dalam budaya bangsawan Melayu.

    Apatah lagi raja-raja zaman dahulu kaki berniaga, demikian juga para kerabat, dan pembesar istananya.

    Dalam Sejarah Melayu, disebut-sebut yang kekol ini boleh menyebabkan negara terdedah kepada musuh:

    “Ada seorang anak baginda perempuan, terlalu baik parasnya maka dipinang oleh Raja Kuci, maka tiada diberi oleh Pau Kubah. Maka diserangnya oleh Raja Kuci, maka peranglah orang Kuci dengan orang Cempa terlalu ramai, tiada beralah. Maka pada suatu hari Raja Kuci menyuruh pada penghulu bendahari Cempa membawanya muafakat diberi emas dan harta terlalu banyak. Maka penghulu bendahari Cempa pun kabullah, serta telah dinihari maka dibukakannya pintu kota oleh penghulu bendahari Cempa. Maka segala orang Kuci pun masuklah ke dalam kota Bal, maka beramuklah dengan orang Cempa. Maka kota Bal pun alahlah.”

    Ternyata kekol ini diberi nama baru “muafakat emas”.

    Mungkin ini juga bentuknya “scheme of things” di zaman dahulu kala.

    Kadang kekol ini diberi pula nama “belanja” yang menjadi isyarat bahawa rasuah ini boleh sahaja dilekat dengan istilah positif, padahal ia nista.

    Hal ini misalnya terlihat dalam Tuhfat al Nafis:

    “Maka Raden Jaga pun berkerahlah menyuruh orang orangnya sedia menahan langgar orang-orang Sebukit itu dan Dayak pun dikumpulkannya beribu-ribu serta mengeluarkan beberapa belanja-belanja kepada Dayak itu, siang malam dengan berjaga hingga susahlah di dalam negeri Pinang Sekayuk itu.”

    Di dalam Ada Perpatih, rasuah atau kekol ini merupakan salah satu jenayah berat.

    Di dalam Adat Perpatih terdapat lapan kategori jenayah besar; iaitu tikam bunuh, upas racun, samun sakar, siar bakar, maling curi, umbuak umbai, sumbang salah dan dahaga dahagi.

    Oleh sebab rasuah ini lali dalam kalangan pembesar, orang Minang telah mengambil langkah ke depan untuk membanterasnya.

    Kekol dalam kalangan orang Minang diberi nama “umbuak umbai”.

    “Umbuak” ialah kekol atau rasuah demi faedah diri sendiri iaitu dengan memujuk orang tertentu untuk membuat atau tidak membuat sesuatu dengan cara memberi hadiah, menjanjikan wang atau barang, atau menggunakan pengaruh.

    “Umbai” pula ialah untuk faedah diri sendiri dengan mengugut orang dengan kekerasan supaya melakukan sesuatu.

    Kesalahan “umbuak umbai” ini juga kadang dirujuk sebagai “kicuah kicang”.

    “Kicuah” ialah perbuatan menipu sehingga menyebabkan kerugian orang lain, manakala “kicang” ialah perbuatan pemalsuan yang merugikan pihak lain.

    Kesalahan kekol atau rasuah ini digazet dalam Adat Perpatih kerana kisahnya pemilihan Angku Kapalo di Sitalang yang mana untuk menang dalam pemilihan, Datuak Maruhun Basa menggadaikan harta pusakanya berupa sawah dengan niat menyogok atau mengekol lawan yang akan naik menjadi Angku Kapalo, agar dia yang terpilih.

    Dalam tradisi Adat Perpatih cara untuk membuktikan pesalah rasuah itu ialah pertama, dengan syak wasangka seorang penyiasat (katakan hari ini penyiasat SPRM), dan keduanya dengan bukti.

    Akan tetapi syak terhadap kekol atau rasuah, atau umbuak umbai dalam Adat Perpatih ini bukan sebarangan.

    Ini kerana ia ada petuanya.

    Dua petua yang mungkin boleh digunapakai hari ini ialah pertama; “tersindang jejak menurun, tertukik jejak mendaki”.

    Perbilangan di atas bermakna; “tanda-tanda di bukit dapat dicamkan kalau ada orang menuruni bukit itu atau menaikinya.”

    Dalam konteks ini ia bermaksud, seseorang itu boleh disyaki melakukan kekol atau “umbuak umbai” memandangkan cara hidupnya (katakan seorang pembesar) yang mendadak bertukar, umpama seseorang yang tiba-tiba kelihatan mewah.

    Kedua, petua untuk perhatian agensi penguatkuasaan rasuah kita ialah dengan maklumat risikan.

    Dalam hal ini perbilangan Adat Perpatih menyebut begini; “berbau bak ambacang; atau, terniang-niang bak kokok ayam; atau, dibawa angin”.

    Dalam hal ini ia bermakna kita (rakyat) berhak memeriksa seseorang pembesar berdasarkan desas-desus dan khabar-khabar angin.

    Orang Minang amat berhati-hati dengan kekol ini kerana sudah terbiasa dengan perbilangan yang memerhatikan tindak-tanduk mereka sebagai ketua atau penggawa.

    Selain itu orang Minang membuktikan seseorang pembesar itu menerima kekol dengan mencari bukti sedia ada.

    Perbilangan untuk menyerkap pembesar melakukan jenayah kekol atau rasuah ini antara lain ialah, “terkikik terkadik tertanda terbeti.”

    Ia bermaksud “terkikik terkadik” atau tertangkap basah, ketika sedang melakukan kekol.

    “Tertanda” pula ialah bukti atau tanda seperti adanya “terbeti” seperti habuan, sogokan atau kekol berupa wang, harta, kerbau dan sebagainya.

    Kebiasaannya pembesar yang disyaki, dan tertangkap basah akan disoalsiasat.

    Dalam budaya Minang ada perbilangan lain yang digunapakai iaitu “bertimbang ciak dak menjawab”.

    Ia bermaksud, “seseorang pembesar akan menyerlahkan kesalahannya dengan memberi jawapan yang dusta kepada soalan-soalan penyiasat”.

    Atau dalam erti kata lain memberikan dalih-dalih dan alasan yang bukan-bukan tatkala diinterogasi.

    Saya kira maklumat ini tentu berguna untuk kita hari ini sebagai satu bentuk pendidikan masyarakat.

    Apakah hukuman dalam Adat Perpatih untuk mereka yang menerima rasuah?

    Oleh kerana kekol atau rasuah adalah di bawah Undang-Undang Lapan, biasanya pesalah rasuah dikenakan hukuman berat seperti diusir, dan diboikot dari masyarakat.

    Inilah yang kita, orang Melayu di zaman moden harus lakukan.

    Pesalah kekol atau rasuah dalam kalangan pembesar diaibkan bukan diangkat sebagai pemimpin, apatah lagi dipuja.

    Original article: https://www.msn.com/en-my/news/national/jenayah-rasuah-menurut-adat-perpatih/ar-AALyJEJ?ocid=msedgntp&fbclid=IwAR0wXsk9C22q1ACwp20pavs1jY2uBrcdqlKe0z5etPh9dqgphyVoEivsCds

  • Softlaunch Baraqa.id

    Softlaunch Baraqa.id

    Minggu, 13 Juni 2021
    19.00-20.00 WIB
    Website: https://bit.ly/baraqaTV