Dalam Pengosongan Lahir Pencerahan

Muhammad Bahrul Ulum

Guru Bahasa Arab MAN Insan Cendekia Serpong

Keputusan seseorang untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan dipengaruhi oleh ‘meta-kognisi’ yang ada di dalam dirinya.

Artinya, suatu sikap yang dipilih oleh seseorang itu tidak muncul begitu saja secara spontan, tetapi sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan cara pandang yang selama ini dipelajari dan dianutnya, yang semuanya itu kemudian mengkristal sebagai ‘meta-kognisi’ dalam diri atau ‘ego’-nya.

Diantara manusia ada yang ego-nya dibimbing oleh ‘al-bashîrah’ (penglihatan tajam yang tidak hanya mampu melihat fenomena-fenomena yang kasat mata, tetapi juga mampu menangkap pesan-pesan di baliknya), dan manusia yang ego-nya dikendalikan oleh ‘al-nafs al-ammârah bi al-sû’ (jiwa yang selalu memerintahkan perbuatan-perbuatan buruk).

Diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:

اَللَّهُمَّ أَلْهِمْنِيْ رُشْدِيْ وَأَعِذْنِيْ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ”

Ya Allah, ilhamkan kepadaku pikiran terbimbing yang ada dalam diriku, dan lindungi aku dari kejahatan nafsu/ego-ku!”

Ada adagium di kalangan para pelaku tasawuf :

فِي التَّخَلِّيْ التَّجَلِّيْ”

Dalam pengosongan diri lahirlah pencerahan”

Maksudnya, manakala manusia telah mampu membersihkan dirinya dari berbagai macam dorongan hawa nafsu yang destruktif, maka ia akan diberi kemampuan untuk menangkap cahaya nilai-nilai kebenaran. Dan sebaliknya, manusia yang secara sadar mengotori dirinya dengan berbagai macam perbuatan dosa dan kedzaliman kepada manusia lainnya maka ia akan terhalang dari memperoleh hidayah kebenaran.

Wallâhu a’lamu bi al-shawâb.