Category: Islamic Studies and Civilization

  • Ibnu Battuta dan Samudra Pasai

    Ibnu Battuta dan Samudra Pasai

    Ibnu Battuta di versi wiki dia lahir pada February 25, 1304 & wafat 1368. Sedangkan Az Zarkali mencantumkan 1304-1377 M / 703-779 H.

    Jika bukan karena pertanyaan satu pembaca kemarin yang memberikan pranala bukunya, mungkin tidak tergerak saya melihat-lihat bukunya yang agung berjudul “Ar Rihlah”. Kita mungkin pernah dengar namanya disebut hanya dibuku-buku sejarah sekolah. Buku ini merupakan rangkuman perjalanan Ibnu Battuta keliling dunia. Travelnya selama 27 tahun ini membuat Sultan Maroko takjub, sehingga memohon agar beliau sudi membukukannya. Akhirnya beliau meminta muridnya untuk menulis apa yang beliau diktekan.

    Versi waqfeya dapat 800 halaman dalam 1 jilid, tahqiqnya basic & susah di trace. Versi syamila, dicetak oleh kerajaan Maroko sebanyak 5 jilid dan lengkap dgn daftar pustaka, tapi footnote sayang tidak disalinkan. Awal mulanya karya Ibnu Battuta ini kurang tersebar di dunia. Tapi itu biasa, banyak jagoan yang terkenal baru belakangan.

    Kita keduluan dua abad untuk baca buku ini. Para orientalis abad 19 menemukan kitab ini duluan, diantaranya oleh H.A.R Gibb, seorang orientalis besar. Dan segera setelah itu dicetak besar-besaran dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sambutan dan pujian bule-bule cukup keterlaluan, puluhan paper ilmiah lahir dari menganalisa kitab ini di abad 19-20. Karena sampai zaman Ibnu Battuta, sangat langka ada eksplorer yang merekam kehidupan disegala penjuru dunia. Jawaharlal Nehru, pendiri negara India sampai mengatakan “This is a record of travel which is rare enough today with our many conveniences…. In any event, Ibnu Battuta must be amongst the great travelers of all time”.

    Tapi sampai sekarang belum ada yang berbahasa Indonesia, padahal ini buku mencantumkan bukti paling sahih bahwa negara Indonesia itu memiliki eksistensi, bahwa ada kerajaan Islam pertama Samudera Pasai, bahwa ada kerajaan Majapahit, bahwa negeri kita adalah negeri kaya rempah-rempah. Bahwa semua barang yang Ibnu Battuta pernah lihat di negeri lain, mesti ada di Indonesia, bahwa Indonesia adalah negara laut terkuat di dunia zaman itu.

    Jadi, siapakah Ibnu Battuta?

    Ibnu Battuta adalah petualang muslim Maroko abad 14 M dan tergolong ulama juga. Beliau memulai perjalanannya dari mulai berangkat haji dari Maroko pada usia 21 tahun yang memakan waktu 16 bulan. Sejak itu, dia merantau selama 24 tahun dan tidak kembalik ke Maroko. Total beliau sudah melancong sejauh 120 ribu km dan berkunjung ke 44 negara. Bahkan Marco Polo pun masih kalah jauh, karena total perjalanan Marco tidak ada setengah dari Ibnu Battuta.

    Perjalanannya dimulai pertama kali berkendara dengan keledai, lalu kemudian bergabung dengan karavan jamaah haji. Rute haji zaman itu rawan bandit, dan beliau juga pernah jadi korbannya. Singgah di Mesir, beliau mengambil kuliah hukum Islam, lalu kemudian lanjut ke Mekkah. Beliau pernah bermimpi ada seekor burung besar dan membawanya mengangkasa jauh ke arah timur. Seorang syekh menafsirkan mimpinya bahwa dia akan berjalan melintasi dunia, maka beliau pun tergerak mewujudkan mimpinya.

    Dia mengunjungi negeri-negeri seperti Iraq, persia, negeri-negeri arab, somalia, swahili, lalu juga turki, asia tengah, asia tenggara, sampai china. Dia menempuh bahaya dan menantang maut sepanjang perjalanan, mulai dari ketemu bandit, nyaris tenggelam di kapal yang karam, hampir dipenggal penguasa tiran, dan bahkan lolos dari Black Death. Black Death adalah penyakit pandemik paling mematikan zaman itu, merenggut hampir 200 juta jiwa seantero Arab, Afrika, dan sampai Eropa. Keganasannya belum bisa ditandingi oleh flu burung, AIDS, asian flu dan sepuluh besar penyakit pandemik dunia digabung jadi satu. Kita bisa bayangkan makhluk bernama Ibnu Battuta ini nyawanya mungkin sampai sembilan!

    Selama travelnya tersebut, beliau sering kali singgah cukup lama dan pemerintah setempat senang sekali meminta jasanya dan mengangkatnya berkali-kali sebagai hakim. Beliau menjadi pejabat untuk banyak negara. Sebagai pejabat dan orang paling dibutuhkan dunia, banyak sudah perbekalan dan hadiah yang beliau dapat untuk membiayai hidupnya. Mulai dari tahta, harta, permata, sampai wanita. Itulah cara beliau menghidupi diri dan membiayai perjalanannya.

    Perjalanan terjauhnya adalah sampai China. Battuta menggambarkan Mongol China sebagai “negara paling aman dan terbaik bagi para pelancong” dan memuji keindahan alamnya, tetapi ia juga mengeluhkan keyakinan musyrik yang umumnya dipegang bangsa tersebut.

    Tapi beliau ke China saat pemerintahan Mongol dipegang kaum muslimin. Beliau gambarkan ketika di Kanton bahwa negeri tersebut banyak masjid jami, zawiya, orang saleh, hakim dan ulama, madrasah, dan syiar2 Islam umumnya nampak di negeri islam lainnya. Bertamu kepada Auhidudin As Sanjari, seorang hartawan terkemuka, selama 14 hari. Beliau menyebut bahwa jarak kota itu dari Tembok Yajuj & majuj sejauh 60 hari perjalanan. Beliau tidak berani kesana karena rumornya, setiap orang yang tiba disana akan jadi santapan penduduk. Beliau juga mampir ke kota seperti Hangzhou yang beliau gambarkan “kota terbesar yang pernah saya lihat di muka bumi”.

    Sultan Jawa

    Beliau melawat ke Samudra Pasai tahun 1345, yaitu dalam rangka perjalanan ke China. Karena untuk sampai ke China dari India, mestilah melewati Aceh dulu. Saat itu, kerajaan Samudra Pasai dipimpin raja keduanya, Sultan Malikuzh Zhahir bin Sultan Malikus Saleh. Ibnu Battua menyebut bahwa kerajaan ini bermadzhab syafii, yang rajanya sangat saleh, cinta pada ulama dan rajin mengaji. Raja juga seorang mujahid, seorang yang tawadhu. Beliau berangkat ke mesjid dengan berjalan kaki. Rakyatnya pun sangat taat dan senang jika diajak berjihad. Bayangkan, saat itu negeri kita dikelilingi penyembah berhala, bahkan menurut Marco Polo, ada juga bangsa primitif pemakan manusia. Sultan selalu menang mengalahkan negeri-negeri sekitarnya, sehingga negeri tersebut akan ditariki pajak atau jizyah.

    Oiya, meskipun pulau tersebut sejak dulu disebut dengan nama “Sumatra”, tapi negeri Indonesia sejak dulu disebut orang dengan nama “Negeri Jawa”. Bahkan sampai sebelum kemerdekaan kita berubah nama jadi Indonesia, orang2 muslim diluar sana selalu menyebut kita “Orang Jawa”. Setelah kemerdekaan, makna Jawa jadi menyempit kepada pulau yang berada di tengah2 Indonesia agak kebawah sono. Pada masa itu, Samudra Pasai adalah pelosok terjauh Darul Islam (wilayah berpemerintahan Islam), karena sesuai perkataan sultan Malikuzh zhahir, tidak ada lagi wilayah lain di sebelah timur Samudra Pasai yang diperintah penguasa Muslim.

    Saat pertama kali datang ke istananya, kata Ibnu Bathutah, ia bertemu dengan wakil sultan yang bernama Umdatul Malik, Dengan ramah, ia memberikan salam dan menyalami Ibnu Bathutah, lalu kemudia menulis surat kepada Sang Sultan untuk memberitahukan kedatangan tamu jauhnya tersebut.

    Ibnu Bathutah melanjutkan ceritanya,”Beberapa saat kemudian, pelayan datang sambil membawa kotak pakaian. Wakil sultan mengambilnya dan aku juga ikut mengambilnya. Setelah itu, aku dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan peristirahatan. Biasanya, wakil sultan pergi ke balai istana sesudah shalat subuh dan tidak pulang kecuali setelah isya’ akhir. Begitu juga para menteri dan pembesar kerajaan. Wakil sultan mengambil tiga jenis kain dari kota pakaian tersebut: yang pertama, kain sutra murni; yang kedua kain sutra bercampur katun; dan yang ketiga kain sutra bercampur kapas.Kemudian para pelayan datang membawa makanan. Makanan yang dikeluarkan berupa nasi dengan beraneka ragam lauk. Setelah itu, didatangkan daun sirih sebagai pertanda acara selesai. Kami lalu mengambil daun sirih tersebut dan berdiri. Wakil sultan juga berdiri untuk menghormat kami. Kami lalu keluar dari balai dan menuju kuda tunggangan. Wakil sultan juga mengambil kuda tunggangan. Setelah itu, kami pergi ke sebuah kebun yang diberi pagar kayu. Di tengah-tengah kebun terdapat rumah yang terbuat dari kayu. Di bagian bawah rumah tersebut dihampari tikar.”

    Ia kembali menceritakan,

    “Menurut kebiasaan sultan, tamu yang datang dari jauh harus diterima menghadapnya tiga hari setelah tiba, agar letihnya perjalanan menjadi hilang. A̷k̷u̷ ̷k̷e̷m̷u̷d̷i̷a̷n̷ ̷d̷i̷t̷e̷m̷p̷a̷t̷k̷a̷n̷ ̷d̷i̷ ̷b̷a̷i̷t̷ ̷a̷d̷h̷-̷d̷h̷u̷y̷u̷f̷ ̷(̷w̷i̷s̷m̷a̷ ̷t̷a̷m̷u̷)̷ ̷y̷a̷n̷g̷ ̷t̷e̷r̷l̷e̷t̷a̷k̷ ̷d̷i̷ ̷t̷e̷n̷g̷a̷h̷-̷t̷e̷n̷g̷a̷h̷ ̷t̷a̷m̷a̷n̷ ̷y̷a̷n̷g̷ ̷r̷i̷n̷d̷a̷n̷g̷,̷ ̷d̷e̷n̷g̷a̷n̷ ̷p̷e̷p̷o̷h̷o̷n̷a̷n̷ ̷h̷i̷j̷a̷u̷ ̷d̷a̷n̷ ̷b̷u̷n̷g̷a̷-̷b̷u̷n̷g̷a̷ ̷b̷e̷r̷a̷n̷e̷k̷a̷ ̷r̷u̷p̷a̷.̷ ̷P̷a̷r̷a̷ ̷p̷e̷l̷a̷y̷a̷n̷ ̷d̷i̷ ̷w̷i̷s̷m̷a̷ ̷t̷a̷m̷u̷ ̷i̷t̷u̷ ̷t̷e̷r̷d̷i̷r̷i̷ ̷d̷a̷r̷i̷ ̷a̷n̷a̷k̷-̷a̷n̷a̷k̷ ̷m̷u̷d̷a̷ ̷y̷a̷n̷g̷ ̷p̷e̷r̷a̷m̷a̷h̷.̷ ̷K̷e̷c̷u̷a̷l̷i̷ ̷n̷a̷s̷i̷ ̷d̷a̷n̷ ̷r̷o̷t̷i̷ ̷s̷e̷m̷a̷c̷a̷m̷ ̷m̷a̷r̷t̷a̷b̷a̷k̷ ̷(̷r̷o̷t̷i̷ ̷c̷a̷n̷e̷)̷,̷ ̷a̷k̷u̷ ̷d̷i̷h̷i̷d̷a̷n̷g̷i̷ ̷a̷n̷e̷k̷a̷ ̷b̷u̷a̷h̷-̷b̷u̷a̷h̷a̷n̷,̷ ̷s̷e̷p̷e̷r̷t̷i̷ ̷p̷i̷s̷a̷n̷g̷,̷ ̷a̷p̷e̷l̷,̷ ̷a̷n̷g̷g̷u̷r̷,̷ ̷r̷a̷m̷b̷u̷t̷a̷n̷ ̷d̷a̷n̷ ̷s̷e̷b̷a̷g̷a̷i̷n̷y̷a̷.̷

    Hari keempat, aku masih beristirahat di wisma tamu yang mewah itu. Saat itu, kebetulan hari Jumat. Menteri Luar Negeri Al-Isfahany memberitahuku bahwa aku akan diterima menghadap sultan setelah Shalat Jumat, bertempat di Aula khusus Masjid Jami’ itu. Setelah semua berkumpul, aku memperhatikan, yang mana Sultan Malik Azh-zhahir di antara ribuan Jamaah Masjid Jami’ yang luas itu. S̶e̶m̶u̶a̶ ̶o̶r̶a̶n̶g̶ ̶s̶a̶m̶a̶,̶ ̶b̶e̶r̶p̶a̶k̶a̶i̶a̶n̶ ̶p̶u̶t̶i̶h̶.̶ ̶J̶u̶g̶a̶ ̶t̶i̶d̶a̶k̶ ̶t̶e̶r̶s̶e̶d̶i̶a̶ ̶t̶e̶m̶p̶a̶t̶ ̶k̶h̶u̶s̶u̶s̶ ̶b̶a̶g̶i̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶d̶a̶n̶ ̶t̶i̶d̶a̶k̶ ̶a̶d̶a̶ ̶o̶r̶a̶n̶g̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶d̶i̶b̶e̶r̶i̶ ̶p̶e̶n̶g̶h̶o̶r̶m̶a̶t̶a̶n̶ ̶s̶e̶p̶e̶r̶t̶i̶ ̶l̶a̶y̶a̶k̶n̶y̶a̶ ̶p̶a̶r̶a̶ ̶r̶a̶j̶a̶ ̶d̶i̶ ̶z̶a̶m̶a̶n̶ ̶i̶t̶u̶.̶ ̶“̶A̶p̶a̶k̶a̶h̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶s̶a̶k̶i̶t̶ ̶s̶e̶h̶i̶n̶g̶g̶a̶ ̶t̶i̶d̶a̶k̶ ̶k̶e̶ ̶M̶a̶s̶j̶i̶d̶ ̶?̶”̶ ̶t̶a̶n̶y̶a̶k̶u̶ ̶d̶a̶l̶a̶m̶ ̶h̶a̶t̶i̶.̶

    Selesai shalat Jumat, Al-Isfahany mempersilahkan aku memasuki aula masjid yang luas itu, dan aku diperkenalkan kepada Sultan Malik Azh-Zhahir yang telah terlebih dahulu masuk ke aula dan masih berpakaian putih. Di dalam aula yang berwibawa itu, telah datang terlebih dahulu para menteri, para ulama terkemuka, para pemimpin rakyat, dan para wanita yang memakai jilbab. Aku didudukkan di sebelah kanan sultan. Selesai makan siang bersama, dilanjutkan dengan diskusi yang membahas berbagai masalah dalam negeri dan agama, juga masalah ekonomi, kesejahteraan rakyat, sosial budaya, dan sebagainya. Diskusi yang berlangsung hampir tiga jam itu sangat menarik.

    S̶e̶m̶u̶l̶a̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶h̶a̶d̶i̶r̶ ̶m̶e̶n̶g̶e̶m̶u̶k̶a̶k̶a̶n̶ ̶p̶e̶n̶d̶a̶p̶a̶t̶n̶y̶a̶ ̶m̶a̶s̶i̶n̶g̶-̶m̶a̶s̶i̶n̶g̶,̶ ̶s̶e̶k̶a̶l̶i̶p̶u̶n̶ ̶k̶a̶d̶a̶n̶g̶-̶k̶a̶d̶a̶n̶g̶ ̶m̶e̶n̶g̶e̶r̶i̶t̶i̶k̶ ̶k̶e̶b̶i̶j̶a̶k̶s̶a̶n̶a̶a̶n̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶.̶ ̶S̶e̶m̶u̶a̶ ̶p̶e̶n̶d̶a̶p̶a̶t̶ ̶d̶i̶t̶e̶r̶i̶m̶a̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶d̶e̶n̶g̶a̶n̶ ̶s̶e̶n̶y̶u̶m̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶s̶e̶j̶u̶k̶.̶ Setelah waktu shalat ashar, semua kembali ke ruang masjid dan sama-sama melakukan shalat. Usai shalat ashar, Sultan Malik Azh-Zhahir menghilang ke dalam satu bilik khusus, dan lima belas menit kemudian beliau keluar sudah bukan dengan pakaian putih lagi. Tetapi dengan pakaian kebesaran raja. Dengan menunggang kuda dan diiringi para pengawalnya, sultan pulang ke istana.

    D̶i̶ ̶k̶i̶r̶i̶ ̶d̶a̶n̶ ̶k̶a̶n̶a̶n̶ ̶j̶a̶l̶a̶n̶ ̶r̶a̶k̶y̶a̶t̶ ̶b̶e̶r̶j̶e̶j̶e̶r̶ ̶m̶e̶n̶g̶e̶l̶u̶-̶e̶l̶u̶k̶a̶n̶ ̶S̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶a̶d̶i̶l̶ ̶i̶t̶u̶.̶ ̶A̶k̶u̶ ̶b̶e̶r̶p̶i̶k̶i̶r̶,̶ ̶r̶u̶p̶a̶n̶y̶a̶ ̶w̶a̶k̶t̶u̶ ̶b̶e̶r̶a̶n̶g̶k̶a̶t̶ ̶d̶a̶r̶i̶ ̶i̶s̶t̶a̶n̶a̶ ̶m̶e̶n̶u̶j̶u̶ ̶M̶a̶s̶j̶i̶d̶,̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶h̶a̶n̶y̶a̶l̶a̶h̶ ̶h̶a̶m̶b̶a̶ ̶A̶l̶l̶a̶h̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶b̶i̶a̶s̶a̶ ̶s̶e̶p̶e̶r̶t̶i̶ ̶r̶a̶k̶y̶a̶t̶ ̶l̶a̶i̶n̶n̶y̶a̶,̶ ̶t̶e̶t̶a̶p̶i̶ ̶w̶a̶k̶t̶u̶ ̶p̶u̶l̶a̶n̶g̶ ̶k̶e̶ ̶i̶s̶t̶a̶n̶a̶ ̶b̶a̶r̶u̶l̶a̶h̶ ̶b̶e̶l̶i̶a̶u̶ ̶t̶a̶m̶p̶i̶l̶ ̶s̶e̶b̶a̶g̶a̶i̶ ̶S̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶d̶a̶r̶i̶ ̶k̶e̶r̶a̶j̶a̶a̶n̶ ̶S̶a̶m̶u̶d̶e̶r̶a̶ ̶P̶a̶s̶a̶i̶.̶ ̶A̶k̶u̶ ̶m̶e̶n̶d̶a̶p̶a̶t̶i̶ ̶b̶a̶h̶w̶a̶ ̶k̶e̶r̶a̶j̶a̶a̶n̶ ̶S̶a̶m̶u̶d̶e̶r̶a̶ ̶P̶a̶s̶a̶i̶ ̶a̶d̶a̶l̶a̶h̶ ̶k̶e̶r̶a̶j̶a̶a̶n̶ ̶I̶s̶l̶a̶m̶ ̶p̶e̶r̶t̶a̶m̶a̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶b̶e̶r̶d̶i̶r̶i̶ ̶d̶i̶ ̶t̶a̶n̶a̶h̶ ̶M̶e̶l̶a̶y̶u̶.̶ ̶T̶e̶r̶n̶y̶a̶t̶a̶,̶ ̶k̶e̶r̶a̶j̶a̶a̶n̶ ̶S̶a̶m̶u̶d̶e̶r̶a̶ ̶P̶a̶s̶a̶i̶ ̶t̶e̶l̶a̶h̶ ̶m̶e̶m̶p̶u̶n̶y̶a̶i̶ ̶t̶a̶m̶a̶d̶d̶u̶n̶ ̶(̶p̶e̶r̶a̶d̶a̶b̶a̶n̶)̶ ̶d̶a̶n̶ ̶h̶u̶b̶u̶n̶g̶a̶n̶ ̶l̶u̶a̶r̶ ̶n̶e̶g̶e̶r̶i̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶b̶a̶i̶k̶.̶Di sini aku tinggal selama 15 hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Cina.”

    Pandangan saya, inilah keterangan paling jelas tentang awal Islam di nusantara. Karena dikatakan Sultan bahwa tidak ada negeri dibelakang Samudra Pasai yang memeluk agama Islam. Maka segala klaim2 yg bilang Islam masuk Indonesia sejak zaman sahabat nabi SAW atau zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, jelas keliru.

    !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    NB: Saya terpaksa mengedit tulisan ini dan menggaris-garis sejumlah kalimat sebagaimana diatas. Sebagian besarnya tulisan diatas yang bagian kutipan Ibnu Battutah, saya salin dari terjemah yang ada di internet (ini kesalahan saya). Saya salin buta karena bagian-bagian tersebut tidak ketemu di kitab aslinya, dan bagian tersebut terasa bagus dibenak saya. Setelah saya cross check betul-betul di dua versi kitab aslinya, ternyata bagian tersebut sebetulnya tidak ada, alias ini buatan penerjemah Indonesia AKA al kautsar yang tidak amanah dalam menerjemahkan buku ini. Penerjemah melakukan terjemah dengan merubah2 isi, menghilangkan sebagian kalimat, paragraf, bahkan lompat satu sampai dua halaman. Menakjubkan!
    !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  • Kepentingan Pendidikan Agama Buat Anak

    Kepentingan Pendidikan Agama Buat Anak

    Kajian yang dijalankan oleh Harvard University mendapati bahawa anak-anak yang dibesarkan dengan didikan agama akan membesar dengan lebih sihat dan mempunyai kehidupan yang lebih baik ketika dewasa.

    Kajian yang dikendalikan oleh Harvard School of Public Health ini dijalankan ke atas 5000 responden berusia di antara 8 hingga 14 tahun. 18% daripada mereka menikmati kadar kegembiraan yang lebih tinggi berbanding mereka yang tidak menerima pendidikan agama sejak dari kecil.

    Sekalipun kesedaran tentang agama dilihat menurun di Amerika, 51% daripada mereka masih menganggap agama sebagai sesuatu yang sangat penting. Perkembangan di Amerika sangat membimbangkan apabila Pew Research Centre mengeluarkan data bahawa 36% daripada anak-anak yang lahir sekitar tahun 1990 hingga 1996 tidak mengikat diri mereka dengan sebarang agama.

    Atas dasar itu Rasulullah menekankan tentang kepentingan membesarkan anak dengan agama. Mereka yang dibimbang dengan iman akan mempunyai hidup yang lebih terpandu dan sejahtera seperti yang dinyatakan oleh kajian di Harvard tersebut. Anehnya kita cuba pula mengurangkan pendidikan agama kerana bimbang anak-anak akan lebih menjadi lebai sedangkan kajian mengesahkan dapatan yang lebih positif.

    Rasulullah ﷺ sangat menekankan pendidikan asas agama bagi anak-anak Muslim. Al-Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan bahawa seawal kelahiran anak kecil itu lagi kita telah dianjurkan untuk membisikkan azan ditelinga mereka. Lafaz-lafaz tauhid yang menerobos ke telinga mereka menggambarkan betapa penerapan nilai aqidah perlu diterapkan sejak anak kecil itu lahir ke dunia lagi. (Ibn al-Qayyim, Tuhfah al-Maudud)

    Al-Imam al-Bayhaqi merekodkan bagaimana Rasulullah ﷺ berpesan kepada Ibn Abbas dan Ibn Amru (riwayat Ibn al-Sunni), bahawa perkataan pertama yang seharusnya diajarkan kepada anak kecilmu adalah kalimah tauhid. Sabda Nabi ﷺ kepada Ibn Abbas:

    افتحوا على صبيانكم أول كلمة لا إله إلا الله ولقنوهم عند الموت لا إله إلا الله

    “Ajarkanlah atau jadikanlah perkataan pertama pertama anak kecilmu perkataan Lailahaillah. Dan ajarilah mereka saat kematian mereka juga perkataan Lailahaillah. (al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman)

    Sunnah Rasulullah ﷺ ini juga dapat kita fahami melalui perilaku sahabat. Jundub al-Bajilli turut menceritakan bagaimana ketika mereka muda remaja, Rasulullah akan menekankan tentang perkara aqidah dahulu sebelum pengajian Quran (Shuab al-Iman). Begitu juga dengan Ummu Sulaym yang mengajarkan Saidina Anas tentang lafaz tauhid sebelum perkara yang lain (al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubala).

    Penekanan ini tidak lain tidak bukan adalah untuk menerapkan keutuhan aqidah sejak mereka kecil. Pendidikan agama seawal usia ini adalah bagi membentuk etika serta peribadi anak kecil ini.

    Janganlah kerana kehendak politik kita mengurangkan pula pendidikan agama anak-anak kita disekolah. Ia tidak lain hanya akan merugikan kita dalam pembentukan jiwa Muslim dalam anak-anak kita.

    Semoga Allah membimbing kita.

  • Oman Al-Makmur Lamprit

    Oman Al-Makmur Lamprit

    Masa kecil saya di Banda Aceh penuh kenangan. Ketika keluarga pindah, dari Montasik ke kota itu, saya baru berumur dua tahun. Entah darimana datangnya ingatan itu; mobil yang mengangkut berbagai barang berjalan beriringinan. Saya teringat mobil pick up besar, berwarna kuning, berjalan paling di depan. Diikuti mobil lain.

    Di Banda Aceh, rumah kami, yang secara admistrasi, termasuk bagian dari gampong Lamprit – belakangan jadi bagian dari Beurawe, seperti berada di tengah sawah. Bahkan dapat terlihat dari jalan protokol, bila saya pergi ke kota bersama almarhum Bapak. Tentu pemandangan itu sekarang tidak lagi dijumpai. Kini wilayah pemukiman menjadi sangat padat. Rumah kami, dan beberapa rumah tetangga di masa awal, seperti terjepit di antara bangunan rumah megah lainnya.

    Awal mula, daerah yang kami bermukim belumlah ramai, sehingga aktivitas ibadah, seperti sembahyang Jumat atau taraweh, harus ke masjid Ibnu Sina RSUDZA. Mesjidnya kecil. Berada di ujung rumah sakit itu, dekat kamar mayat. Saya dan teman-tema, kala itu, menjadikan mesjid itu sebagai salah satu area permainan. Kadang-kadang, sambil menunggu shalat, entah itu zuhur atau menjelang magrib, kami mengekspolarasi bagian-bagian dari rumah sakit tersebut. Termasuk kamar mayat. Tentu tidak lupa, selalu saja ada sisipan cerita horror, yang bersumber dari kamar mayat itu.

    Yang paling khas dari masjid Ibnu Sina itu adalah imamnya. Kami memanggil beliau pak Haji, karena hampir sepanjang waktu dia memakai pakaian Arab. Rumahnya di Kuta Alam. Kompleks tentara. Dia pensiunan Angkatan Darat. Setiap pagi menjelang Subuh, dari rumahnya, dia ke mesjid Ibnu Sina dengan mengendarai sepeda ontel. Dan hanya dia, bukan yang lain – termasuk kepala RSUDZA, yang boleh melewati lorong utama dalam bangunan rumah sakit dengan sepedanya itu. Tidak ada yang melarang. Mungkin tidak ada yang berani

    Di masjid Ibnu Sina, dia bertugas memastikan pelaksanaan shalat jamaah berjalan dengan lancar. Saya tidak tahu, kapan awal mula, pak Haji menjadi pengelola masjid itu. Sejak pertama kali saya ke masjid Ibnu Sina, suaranya sudah menjadi khas di masjid itu.

    Pak Haji tidak hanya menjadi imam, tapi juga muazzin. Dia punya shalawat yang khas. Biasanya dibaca sebelum azan Zuhur dan Ashar. Bukan shalawat tarhim yang pernah populer di Banda Aceh tempo itu. Setiap selesai shalawat, dia mengumumkan, bahwa waktu shalat akan masuk beberapa saat lagi. Terkadang pengumuman disisipkan dengan informasi, kalau keran air tidak hidup, jadi para jamaah diminta untuk berwudhu di rumah. Bila dia menjadi imam, sebelum sembahyang dia mengingatkan agar jamaah merapatkan shaf. Karena masjid itu punya karpet hijau dengan garis shaf coklat, pengumumannya-pun khas sekali, “harap rapatkan shaf, luruskan tumit dengan garis coklat.” Belakangan, lantai masjid Ibnu Sina diperbaharui. Lantainya dipasang keramik, namun garis shafnya bukan lagi coklat, melainkan merah. Sehingga, pengumumannya-pun berubah, “harap rapatkan shaf, luruskan tumit dengan garis merah.” Saya teringat, apabila dia menjadi imam, irama yang dibawanya tidak berubah. Tidak ada variasi. Terutama ketika membawakan dua surah, Ad-Dhuha dan At Tiin. Ketika terjadi pembangunan RUDZA yang baru, masjid Ibnu Sina tidak lagi digunakan. Ada masjid baru, yang lebih dekat dengan jalan protokol. Nama masjidnya-pun kini sudah berganti, bukan lagi Ibnu Sina, melainkan Raudhatul Jannah.

    Tidak jauh dari masjid Ibnu Sina, di samping jalan T. Nyak Arief – yang kini berganti nama menjadi jalan Tgk. Daud Beureuh – berdiri sebuah masjid megah. Namanya mesjid Al Makmur, Lamprit. saya dan teman-teman lain, pindah ke masjid itu, untuk sembahyang Jumat dan taraweh di bulan puasa.

    Masjid itu besar. Ukurannya hanya kalah dari masjid Raya Baiturrahman. Lantainya keramik. Sangat mewah. Kubahnya tidak seperti masjid kebanyakan. Melainkan seperti payung yang jelang kembang.

    Ketika saya mulai aktif sebagai remaja masjid di masjid Al Makmur, ada satu cerita – yang menjadi kebanggaan warga gampong Lamprit, tentang bagaimana masjid yang mereka bangun, diputuskan sebagai mesjid Kota Banda Aceh, sehingga menjad masjid Agung Al-Makmur, kota Banda Aceh.

    Ceritanya, Kota Banda Aceh belum memiliki mesjid resmi. Lalu muncul dua nominasi. Masjid Al Makmur di Lamprit dan Baitul Musyahadah di Geuceu. Mesjid yang disebut kedua juga unik. Kubahnya juga bukan seperti lazimnya masjid-masjid khas timur tengah, tetapi seperti Kupiah Meukutob. Lalu letaknya juga di pusat keramaian, Jalan. Teuku Umar, Setui.

    Selain itu, wilayah di dua masjid itu juga menjadi tempat bermukim kelas menengah dan elit politik Aceh kala itu. Daerah Geuceu misalnya, petinggi politik dan pemerintahan Aceh kala itu banyak mendiami daerah tersebut. Lamprit tidak kalah. Kompleks perumahan yang didirikan oleh Gubernur Hasjmy, bersamaan dengan pendirian Darussalam, juga didiami oleh para kelas menengah baru Aceh, yang tumbuh pasca DI/TII. Bahkan di beberapa ruas jalan di Lamprit, ada rumah yang dimiliki oleh para veteran Darul Islam, baik dari faksi ulama maupun zuama – meminjam frasa dari Nazaruddin Sjamsuddin.

    Di Lamprit itu pula, sekolah dari TK sampai SMA didirikan. Saya bersekolah di sana ini sampai tingkat menengah pertama. Dapat dikatakan, Lamprit wilayah sangat modern, begitu juga masyarakatnya, sehingga masjidnya-pun dikelola dengan modern pula. Mulai dari keuangannya, kegiatan mesjidnya, arah pembangunannya, dan tentu saja pola keberagamaannya.

    Sejak awal keberadaannya, masjid Agung al Makmur menjalankan keberagamaan khas masyarakat perkotaan. Para ilmuwan sosial sering menyebutnya, aliran modernis – sebagai pembeda dengan kelompok tradisi. Tokoh utama yang menyangga hal tersebut adalah Ust. Ahmad Abdullah. Para pemuda lamprit lebih akbrab memanggilnya pak Imam.

    Ust. Ahmad Abdullah merupakan alumnus Sumatera Thawalib. Dia termasuk generasi Aceh di awal abad ke-20 yang menempuh pendidikan Islam modern. Sebagai alumnus Thawalib, Ust. Ahmad Abdullah membawa spirit pembaharuan Islam. Baginya, Islam yang lurus itu haruslah optimis dengan ilmu pengetahuan, kebudayaaan dan keberagamaan yang murni; bersih dari unsur-unsur khurafat, tahayul dan bid’ah. Dan spirit itu yang mewarnai sekali kreatifitas masyarakat gampong Lamprit. Ketika saya masih kecil, di masjid Agung Al Makmur, sering sekali mengadakan perlombaan untuk memperingati hari besar agama Islam. Gampong menjadi ramai. Masjid bergairah. Lampu warna-warni di mana-mana.

    Ust. Ahmad Abdullah selalu menekankan betapa pentingnya pengetahuan. Satu waktu dari atas mimbar, ketika memberi kuliah tujuh menit (kultum), dia berpesan, agar kultum yang selama ini menjadi tradisi mesjid Agung Al makmur tidak boleh hilang. Harus terus dilanjutkan. Kultum memang menjadi wadah untuk menyampaikan pesan agama secara ringkas dan efektif. Belakangan saya baru mafhum, bahwa kultum adalah tradisi dari kaum modernis.

    Satu waktu saya ke mesjid Al Azhar Jakarta, tempat dimana kaum modernis Masyumi di Indonesia berkumpul dan bergerak, untuk shalat Magrib. Selesai shalat, kultum disampaikan oleh penceramah. Ketika melihat itu, saya teringat apa yang dipraktikan selama bertahun-tahun di masjid Agung Al Makmur, dibawah arahan Ust. Ahmad Abdullah.

    Ketika gempa dan tsunami, mesjid Agung Al Makmur itu rusak berat. Saat itu, ust. Ahmad sudah berpulang, dua tahun sebelumnya. Saya jadi teringat cerita dari pak Rahman Kaoy, dosen di IAIN Ar Raniry, mubalig kondang serta pengurus masjid itu sejak awal mula dididirikan. Dia mendapat kabar dari salah satu warga, kalau masjid Agung Al Makmur roboh. Dengan bergegas, pak Rahman datang, melihat masjid yang bersama-sama dibangunnya dengan waga Lamprit luluh lantak oleh gempa. Dengan hati yang masygul, dia berdoa. Doa yang penuh harap, agar Tuhan mengganti kembali masjid itu. Bahkan dengan yang lebih baik lagi.

    Doanya didengar dan dikabulkan.

    Datanglah Sultan Oman Qubus, membuat ulang masjid itu, dengan bentuk yang berbeda sama sekali dengan mesjid lama. Akan tetapi pembangunan dilakukan menggantikan masjid warga Lamprit yang rusak karena gempa dan tsunami itu.

    Doa pak Rahman tidak saja didengar dengan berdirinya masjid dengan megah. Bahkan lebih dari itu. Masjid Al Makmur kini lebih makmur. Penataan lebih rapi. Dan ada satu yang tidak berubah dari masjid itu, spirit modernisme Islam, yang ada sejak zaman Ust, Ahmad Abdullah tidak hilang. Bahkan lebih artikulatif dengan hadirnya ahli Islam baik dari Darussalam atau para lulusan Timur Tengah.

    Namun belakangan, sikap konsistensi dari masjid Agung Al Makmur mulai mendapat sorotan. Bermula dari keributan di Aceh mengenai ketegangan “Aswaja” dengan Wahabi,” lalu merembet kemana-mana. Masjid Agung Al Makmur – sejak mula berdiri adalah masjid gampong Lamprit yang diberi status sebagai masjid Kota Banda aceh – tidak luput dari sorotan. Penekanan semakin kuat setelah peta politik berubah setelah Pilkada 2017 di Banda Aceh. Dalil yang digunakan, “semestinya, sebagai masjid Kota Banda Aceh, tidak memberi tempat kepada pengajian, yang bukan merupakan arus besar dari pemahaman Islam masyarakat Aceh.”

    Suasana menjadi tegang. Kasak kusuk pun terjadi. Sampai satu waktu, atas kesadaran bersama, warga Lamprit seluruhnya mengadakan rapat. Lalu lahir satu kesimpulan penting, yaitu mengembalikan status masjid Agung kepada pemerintah Kota, dan menjadikan masjid Al Makmur, kembali seperti sedia kala, sebagai masjid gampong Lamprit. Kini namanya masjid Oman Al Makmur Bandar baru. Bukan lagi masjid Agung al Makmur Kota Banda Aceh.

    Masjid Oman atau Al Makmur tetap seperti semula. Jamaah berbondong-bondong. Pengajian tetap semarak. Masjid bersih.Pendidikan dan ekonomi umat tetap berjalan.

    Dalam diam, saya membayangkan wajah ust. Ahmad Abdullah dan orang-orang tua gampong Lamprit yang telah berpulang, bahwa apa yang diperjuangkan sejak dahulu, tetap hidup dengan khidmat.

    Publikasi pertama kali di: https://www.popularitas.com/berita/oman/?fbclid=IwAR1cDZpB15dCU9p3XmeU2cM4AkwB4d29goiPjFYpF2AqMX_6zYLPnAZsweQ

  • Haji Agus Salim: Tokoh Pergerakan Islam, Diplomat dan Pahlawan Kemerdekaan Nasional

    Haji Agus Salim: Tokoh Pergerakan Islam, Diplomat dan Pahlawan Kemerdekaan Nasional

    Saat mengunjungi Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata Jakarta dan ziarah ke makam Haji Agus Salim (1884 – 1954), saya merenung betapa sebagai anak bangsa kita patut bangga dan bersyukur negeri ini pernah melahirkan seorang tokoh pergerakan, pemimpin, negarawan, ulama, intelektual, diplomat dan sastrawan yang dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata orang Indonesia. Haji Agus Salim seorang tokoh nasional yang disegani dunia, nama besarnya tersimpan di hati sanubari rakyat Indonesia, yang menurut Prof. Dr. Hamka hanya sekali dalam 100 tahun dimunculkan Tuhan ke dunia ini.

    Perjalanan hidup Haji Agus Salim sejak muda tidak terpisah dari denyut nadi perjuangan bangsa. Sepanjang hayatnya, ia mencurahkan pemikiran dan berjuang untuk kemajuan umat Islam dan kemuliaan martabat bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Presiden RI Pertama Soekarno menyebut Haji Agus Salim, “The Grand Old Man” dan “Ulama Intelek”.

    Putra Koto Gadang

    Haji Agus Salim dilahirkan di Koto Gadang pada 8 Oktober 1884. Ayahnya Sutan Muhammad Salim seorang Jaksa Pengadilan Negeri. Koto Gadang sebuah nagari (desa) di Kabupaten Agam, dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi Sumatera Barat. Di zaman penjajahan, orang Koto Gadang sudah lebih maju daripada penduduk nagari-nagari (desa) lain di Minangkabau. Masyarakat Koto Gadang dikenal sebagai masyarakat terpelajar. Semenjak awal kemerdekaan banyak orang Koto Gadang menjadi dokter, pegawai negeri (ambtenaar), pemimpin masyarakat, pejabat pemerintah, tokoh politik, diplomat dan tentara.

    Setamat dari ELS (Europese Lagere School) di Koto Gadang, Agus Salim melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School) di Jakarta dan lulus dengan predikat terbaik. Ia bercita-cita menjadi dokter, namun keuangan orangtuanya tidak memungkinkan untuk melanjutkan sekolah kedokteran.

    Dalam kurun waktu 1906 sampai 1911 Haji Agus Salim bekerja sebagai penterjemah pada Konsulat di Jeddah. Selama tinggal di Arab Saudi ia memanfaatkan kesempatan untuk belajar bahasa Arab dan mendalami agama Islam kepada pamannya Syeikh Ahmad Khatib, ulama besar Minangkabau yang mengajar di Arab Saudi dan menjadi Imam Masjidil Haram. Sepulang dari Arab Saudi, sebelum memasuki gelanggang perjuangan lebih luas, ia mendirikan sekolah HIS (Hollandsch-Inlandsche School) swasta di Koto Gadang.

    Tokoh Pergerakan Islam

    Haji Agus Salim merupakan genre awal dalam hirarki pucuk kepemimpinan umat Islam Indonesia dan tokoh senior di lingkaran pergerakan Islam masa pra-kemerdekaan. Di era Kebangkitan Nasional, Haji Agus Salim merupakan tokoh terkemuka Sarekat Islam (SI) di samping H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis.

    Sejak 1915 Haji Agus Salim menjadi Pengurus Besar Centraal Sarekat Islam.Sekitar tahun 1927 ia menghadiri Muktamar Alam Islami di Mekkah. Setelah acara muktamar selesai, Raja Abdul Aziz Bin Saud secara khusus mengundang Haji Agus Salim untuk bersilaturahim di istana raja.

    Tahun 1921 sampai 1924 Haji Agus Salim menjadi Anggota Volksraad, Dewan Rakyat di zaman kolonial, sebagai wakil Sarekat Islam. Jauh sebelum Sumpah Pemuda,  bahasa Melayu/Indonesia telah digunakan dalam sidang Volksraadoleh Haji Agus Salim, meski ditegur oleh Ketua Volksraad yang memintanya berpidato dalam bahasa Belanda. Ia mengundurkan diri karena keberadaan sebagai anggota Volksraad tidak membawa manfaat yang diharapkan bagi kepentingan rakyat Indonesia.

    Pada 1921 berlangsung Kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres dipimpin oleh Haji Agus Salim dan H.O.S. Tjokroaminoto. Dalam kongres itu dibahas upaya mengurangi perselisihan tentang soal-soal furu’ dan khilafiyah serta mencari jalan bagaimana mewujudkan persatuan aliran dan kerjasama di antara kaum muslim di tanah air. Dalam Kongres Al-Islam II di Garut, Haji Agus Salim menguraikan fungsi agama dan ilmu pengetahuan, hubungan Islam dengan sosialisme dan kecaman terhadap kapitalisme.

    Pada kesempatan lain Haji Agus Salim menegaskan pentingnya persatuan Islam dan menyerukan pentingnya fungsi Majelis Ulama. Kepentingan mendirikan Majelis Ulama terus dikemukakannya dalam Kongres Sarekat Islam di Pekalongan tahun 1927. Pembentukan Majelis Ulama akhirnya terwujud dalam Kongres Sarekat Islam di Yogyakarta, Januari 1928.

    Dalam Kongres Al-Islam Luar Biasa di Surabaya tahun 1924 yang dihadiri lebih kurang 1.000 orang dari kalangan Sarekat Islam, Muhammadiyah dan kumpulan organisasi lainnya membicarakan apakah umat Islam Indonesia akan menyertai gerakan khilafat, Haji Agus Salim mengemukakan, “Nasionalisme berdasar Islam ialah memajukan negeri dan bangsa berdasarkan cita-cita Islam.” Dalam kegiatan politik pasca kemerdekaan Haji Agus Salim ikut mereorganisasi Masyumi, namun tidak sempat melihat Masyumi mengikuti Pemilihan Umum Pertama tahun 1955. Sejarah mencatat Haji Agus Salim kemudian mengambil posisi sebagai orang non-partai.

    Ia seorang ulama intelek yang berpikir progresif dalam kerangka menangkap esensi ajaran Islam yang membawa spirit kemajuan. Di depan Kongres Jong Islamieten Bond (JIB) tahun 1927 Haji Agus Salim mengkritisi pemisahan laki-laki dan perempuan di dalam rapat umum. Kebiasaan demikian menurutnya adalah kebiasaan bangsa Arab, bukan berasal dari perintah Islam. Bahkan mungkin juga berasal dari kepercayaan agama lain yang memandang posisi wanita lebih rendah daripada laki-laki. Islam sebaliknya memelopori emansipasi wanita. Sesuai surat An-Nur ayat 30 tidak ada keharusan orang perempuan dipisahkan, apalagi menutup muka.

    Dalam artikel khutbah jumat berjudul Persatuan Islam di surat kabar Dunia Islam tanggal 23 Maret 1923 Haji Agus Salim menandaskan, “Kehidupan di dunia itu ialah kehidupan pergaulan. Dan pergaulan itu berdiri atas hak-hak dan kewajiban-kewajiban beberapa pihak, yang satu kepada yang lain, dan berhubungan pula antara yang satu dengan yang lain. Oleh sebab itu agama Islam tidak boleh menjadi pakaian atau urusan orang masing-masing sendiri atau atas dirinya sendiri. Perintah-perintah Islam untuk keperluan kesentosaan hidup segala manusia dan untuk menyelamatkan perjalanan orang Islam dari dunia ke akhiratnya, wajiblah umat Islam menjadi satu persaudaraan yang rapat. Yang sama menjunjung perintah Islam. Yang sama mengusahakan dan melakukan suruhan-suruhan Islam. Firman Allah memerintahkan umat Islam sekaliannya berpegang pada tali Allah bersama-sama. Dan melarang umat Islam bercerai-berai.”

    Persaudaraan yang teguh dan kuat – menurut Haji Agus Salim – bukan teguh dan kuat namanya saja, atau teguh dan kuat rohaninya saja, melainkan teguh dan kuat badannya dan tenaganya, kekuasaannya, dan pengaruhnya dalam pergaulan manusia segala bangsa di alam dunia ini pun juga. Teguh dan kuat sebagaimana telah disaksikan dunia dalam masa hidupnya Nabi kita, Muhammad Saw.

    Haji Agus Salim kerap mengisi siaran radio, berkhutbah, serta memberi ceramah ilmiah tentang Islam, filsafat dan ilmu pengetahuan secara menakjubkan yang menggambarkan lautan ilmunya yang luas. Pada 30 November 1952 ia menyampaikan uraian hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Peringatan Maulid Nabi di Istana Negara Jakarta, dihadiri para pejabat negara dan  korps diplomatik dari negara-negara sahabat. “Kembalilah mempelajari dan mengamalkan isi Al-Quran!” pesan Haji Agus Salim.

    Dalam kesempatan lain ia menyatakan, “Di mana letaknya kehebatan Islam?” Pertanyaan yang dijawab sendiri oleh beliau, “Islam tidak terletak pada isi yang terkandung di dalam kitab Al-Quran, akan tetapi dalam pelaksanaannya.”

    Pejuang dan negarawan seperti Mohammad Natsir, Mohamad Roem, Kasman Singodimedjo, Prawoto Mangkusasmito, Jusuf Wibisono dan lain-lain adalah murid intelektual dan kader-kader yang dibimbing Haji Agus Salim, terutama melalui organisasi Jong Islamieten Bond (JIB). Haji Agus Salim adalah penasihat JIB.

    Prof. Dr. Hamka mengakui banyak mendapat bimbingan dan berhutang budi kepada Haji Agus Salim. Sekitar tahun 1927 Hamka berjumpa Haji Agus Salim di Mekkah. Beliau memberi pandangan kepada Hamka yang ketika itu ingin bermukim di Mekkah. Haji Agus Salim berkata, “Apa guna engkau mukim di Mekkah ini, padahal engkau masih muda. Kita datang kemari hanya untuk beribadat, bukan untuk menuntut ilmu. Masanya telah lepas bagi orang Indonesia yang hendak belajar Islam akan bermukim di Mekkah. Bertambah lama engkau mukim di Mekkah ini nanti bertambah payah engkau menyesuaikan dirimu jika engkau pulang kelak ke tanah air! Di tanah air kitalah engkau coba mencari ilmu dan membina dirimu, sehingga menjadi ‘orang’, tidak hanya menjadi seorang ‘lebay’.”

    Menarik disimak penuturan Mohammad Natsir dalam Pesan Perjuangan Seorang Bapak. Suatu kali bersama Prawoto Mangkusasmito, mereka membawa suatu persoalan kepada Haji Agus Salim. Setelah mengemukakan pendapatnya panjang lebar, tapi tidak menjawab pertanyaan Natsir. Akhirnya ditanyakan bagaimana pemecahan persoalan itu. Justru pertanyaan yang akhir tak dijawab. “Rupanya kami disuruh berfikir sendiri, beliau memberi tahu cara analisisnya, tapi kami sendiri yang harus mengambil keputusan. Cara inilah yang mendorong kami untuk maju. Dengan cara itu tumbuh keberanian dan kedewasaan yang pada akhirnya lahir corak kepemimpinan baru.” kenang Pak Natsir.

    Sebagai ulama yang melampaui zamannya, Haji Agus Salim produktif menulis. Ia mengisi kolom Mimbar Jum’at berisi artikel khutbah jumat dalam bahasa Indonesia, meski hal itu masih di luar kelaziman. Di zaman itu sebagian kalangan muslim di Nusantara menganggap khutbah jumat harus seluruhnya menggunakan bahasa Arab.

    Haji Agus Salim banyak menghasilkan karya tulis dalam bahasa Melayu/Indonesia dan bahasa asing, antara lain: Tasauf Dalam Agama Islam(1916), Persatuan Islam (1923), Wajib Bergerak (1923), De Behoefte aan Godsdienst (1925), Perempuan Dalam Islam (1925), De Sluiering en Afzondering der Vrouw (1926), Islam dan Bahagia Tidak Terpisah (1928), Hukum Yang Lima(1928), Adat Kontra Islam (1934), Hari Raya Idul Fitri (1934), Cerita Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw (1935), Godsdienst (1935), Rahasia Puasa Menurut Imam Al-Ghazali (1936), Gods Laatste Boodschap de Universele Godsdients (1937), Riwayat Kedatangan Islam Di Indonesia (1941), Keterangan Filsafat Tentang Tauhid, Takdir dan Tawakal (1953), Ketuhanan Yang Maha Esa (1953), Muhammad Sebelum dan Sesudah Hijrah (1958) dan lain-lain.

    Pengetahuannya tidak hanya mendalamn di bidang agama dan politik, melainkan juga sastra dan filsafat. Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif menjulukinya Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia. “Salim boleh dikatakan telah mewariskan segala-galanya yaitu berupa kejujuran, intelektualisme Islam, percaya kepada diri sendiri, kecakapan mengurus negara, kesetiaan kepada prinsip perjuangan, kesederhanaan dan rasa tanggung jawab yang cukup tinggi terhadap nasib bangsa dan negara.” tulis Ahmad Syafii Maarif dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim.

    Beberapa Anekdote Haji Agus Salim

    Haji Agus Salim memiliki kecerdasan komunikasi dan kecakapan “bersilat lidah” (berdiplomasi) yang mengagumkan. Dalam satu perdebatan dengan seorang Belanda, ia  ditantang, “Salim,  apakah engkau kira bahwa engkau ini seorang yang paling pintar di dunia ini?  Haji Agus Salim menjawab, “Itu sama sekali tidak. Banyak orang yang lebih pintar dari saya, cuma belum lagi bertemu dengan seorang di antara mereka.” Karena menguasai banyak bahasa asing, ia mahir berpidato menggunakan beberapa bahasa sekaligus jika audiens-nya dari berbagai bangsa. Haji Agus Salim menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Turki, dan beberapa bahasa yang lain.

    Suatu hari Haji Agus Salim menemui temannya di kantor pemerintah Hindia Belanda. Temannya menyesalkan, coba kalau kau bekerja menjadi pegawai Belanda, nasibmu takkan seperti ini. Tak berapa lama, datang tuan Cobee, adviseur Belanda. Begitu dilihatnya ada tamu yakni Haji Agus Salim, orang Belanda itu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Sesudah itu dia pun pergi. Teman yang bekerja di kantor Belanda itu malah tidak disalami. Kata Haji Agus Salim kepada temannya itu, “Coba kalau saya bekerja dengan Belanda, tentu seperti kau. Meski saya tidak bekerja dengan si Belanda itu, mereka hormat kepada saya.”

    Dalam sebuah rapat umum di zaman kolonial, waktu Haji Agus Salim naik podium, tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “mbek… mbek….” menyindir Haji Agus Salim yang berjenggot. Ia tidak kehilangan akal dan spontan berucap, “Saya tidak mengira, disini banyak juga kambing-kambing yang hadir.” Orang yang mengembek dengan maksud mengolok-olok Haji Agus Salim malu sendiri dan disuruh keluar.

    Haji Agus Salim memiliki rasa humor tinggi, tapi humor yang bermutu. Dalam jamuan makan di luar negeri bersama orang-orang Barat, hanya Haji Agus Salim yang makan pakai tangan. Seorang bule berkata, “Tidakkah Tuan jijik makan pakai tangan?” Haji Agus Salim menjawab enteng, “Saya tahu tangan saya ini lebih bersih daripada sendok dan garpu yang Tuan pakai. Tangan saya tidak pernah dipakai orang lain.”

    Suatu kali Haji Agus Salim minta dibuatkan peci yang dirajut oleh istrinya. Peci itu ditunggu sampai jadi hingga menunda keberangkatan untuk suatu keperluan karena ingin memakai peci rajutan itu. Waktu pulang sore harinya peci itu tidak kelihatan lagi di kepalanya. Ternyata telah dihadiahkannya kepada seorang kawan yang sangat mengagumi peci itu. Peci baru siap yang amat disukainya hingga mau menunggu sampai selesai membikinnya. Kata Haji Agus Salim, memberi sesuatu barang yang amat kita sayangi kepada orang lain, itu baru namanya pemberian.

    Dalam kisah hidup keluarga Haji Agus Salim, meski hidup sederhana dan tempat tinggal berpindah-pindah karena mengontrak, namun selalu diliputi kegembiraan, rasa syukur dan qanaah (merasa cukup dengan nikmat yang ada). Perabot rumah Haji Agus Salim selalu diubah-ubah letaknya untuk penyegaran suasana supaya tidak membosankan. Keluarga Haji Agus Salim melahirkan anak-anak yang sehat jasmani dan mental-ruhani. Anak-anak memanggil ayahnya “Paatje” dan ibunya “Maatje”. Dalam Keterangan Filsafat Tentang Tauhid, Takdir dan Tawakal, ia mengatakan, “Jika maksud tercapai, Allah yang punya karunia. Jika tidak tercapai, Allah yang punya kuasa. Ia yang Rahman dan Rahim.”

    Sebagaimana diungkapkan dalam kenangan anak-anaknya ketika tidak punya lauk-pauk untuk dimasak karena uang belanja sedang menipis, Haji Agus Salim ikut memasak nasi goreng untuk dinikmati seisi rumah dengan penuh keceriaan. Ketika hujan lebat atap rumah bocor, ember-ember ditaruh di tempat yang kebocoran, anak-anak diajak membuat perahu kertas lalu mereka asyik bermain perahu. Mereka tak perlu tahu orangtuanya sedang tak punya uang buat memperkaiki atap rumah. Kebahagiaan dan keceriaan terukir dalam jiwa anak-anak Haji Agus Salim seumur hidup mereka.

    Dengan pandangan hidup yang terbentuk dengan landasan tauhid dan tawakal, Haji Agus Salim selalu yakin pada takdir bahwa di saat bagaimana pun sulitnya, pertolongan Allah pasti datang. Salah satu sifat mengagumkan dari Haji Agus Salim seperti dikenang murid-muridnya adalah tidak tampak kesuraman di saat miskin dan tidak kelihatan kesombongan dan lupa daratan setelah hidup mapan di hari tuanya.

    Di zaman kolonial, orang yang tidak pandai berbahasa Belanda diangap rendah dan merasa rendah diri. Haji Agus Salim berbicara dalam bahasa Belanda dengan anak-anaknya semenjak kecil.

    Haji Agus Salim dibantu istrinya mendidik sendiri anak-anaknya di rumah (homeschooling) tanpa sekolah formal, kecuali anak yang bungsu masuk sekolah setelah Indonesia merdeka. Ketika baru menikah, Haji Agus Salim berpesan kepada istrinya Zainatun Nahar binti Almatsier yang sama berasal dari Koto Gadang agar banyak membaca, sebab setelah mempunyai anak kemungkinan tidak akan disekolahkan, tapi kelak akan dididik sendiri.

    Di mata Haji Agus Salim, sistem pendidikan kolonial memberi pengaruh kurang baik terhadap Bumiputera, apalagi di tengah upaya menjadi bangsa yang ingin menjadi tuan di negeri sendiri. Haji Agus Salim dan istrinya menanamkan kepada anak-anaknya kemauan untuk mencari sendiri pengetahuan lebih lanjut melalui membaca buku dan bergaul dengan orang-orang pandai.

    Suatu ketika ada orang bertanya kepada Haji Agus Salim, “Bagaimanakah mungkin anak-anak Tuan bisa demikian lancarnya berbahasa Inggris kalau dia tak pernah bersekolah? Haji Agus Salim menanggapi, “Pernahkah Tuan mendengar dimanakah kuda belajar meringkik? Kuda yang tua meringkik dan anak-anaknya meringkik pula. Demikian pula saya meringkik dalam bahasa Inggris, maka anak-anak saya meringkik pula dalam bahasa Inggris.”

    Pahlawan Kemerdekaan Nasional

    “Kita sebagai bangsa merasa berbahagia mempunyai orang seperti Haji Agus Salim. Karena tidak banyak orang seperti beliau. Tipe manusia yang geniaal.Beliau tidak hanya sebagai perintis, akan tetapi juga sebagai pelaksana dari kemerdekaan kita. Kalau kita gambarkan almarhum mempunyai tiga sifat yang istimewa, yaitu tajam, tangkas dan cerdas.” Demikian Wakil Presiden RI Pertama Mohammad Hatta dalam mengenang setahun wafatnya Haji Agus Salim di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta tahun 1955.

    Menurut Bung Hatta, sebagaimana dikutip Solichin Salam dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim, patut dikenang rasa setia kawan yang besar pada diri Haji Agus Salim. “Kalau dapat ia ingin menolong semua orang yang melarat hidupnya. Perasaan itulah barangkali yang menimbulkan paham sosialisme dalam dadanya, yang diperkuat pula oleh ajaran Islam.” kata Bung Hatta.

    Haji Agus Salim rela hidup sangat sederhana senasib dengan rakyat Indonesia yang diperjuangkannya. Seandainya ia mau menjadi pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda pasti dapat menikmati hidup berkecukupan secara materi dan status sosial. Para pemimpin yang idealis pada umumnya rela menempuh jalan hidup menderita demi menjaga kemurnian cita-cita dan kesetiaan dengan prinsip-prinsip perjuangan. Sebuah kata mutiara yang menggambarkan keadaan di masa itu dalam bahasa Belanda yaitu, “leiden is lijden”, memimpin adalah menderita.

    Kata-kata hikmah Haji Agus Salim “Hinakan harta jangan hinakan diri.” dan “Jangan dipuji suatu hari sebelum datang magribnya.” memiliki makna yang mendalam jika direnungkan. Dalam sebuah tulisannya di surat kabar Haji Agus Salim menegaskan, “Dalam negeri kita janganlah kita yang menumpang”. Kalimat ini, menurut Buya Hamka, adalah bekal yang menjadi pegangan seluruh insan Indonesia yang mesti tahu ke mana arah mereka akan bergerak.

    Dalam artikel surat kabar Neratja, 25 September 1917, berjudul Kemajuan Diperoleh Dengan Usaha”, Haji Agus Salim membangkitkan semangat bangsa Indonesia agar percaya pada kekuatan diri sendiri, jangan terlalu mengharapkan belas kasihan bangsa penjajah, karena bangsa yang menjajah itu tidaklah akan sudi mengajar dan mendidik kita dengan sesungguhnya, karena mereka takut akan dilawan dengan kepandaian yang kita dapat dari mereka.

    Haji Agus Salim salah satu pelopor pers nasional antara lain sebagai pemimpin surat kabar Hindia Baru dan Neratja. Dalam artikel-artikelnya ia melancarkan kritik tajam atau sindiran halus terhadap pemerintah kolonial. Di Harian Fadjar Asia, 29 November 1927, ia menyindir sikap pemerintah kolonial, “Kekuasaan polisi mesti terang-terang batasnya dan polisi tukang tangkap janganlah merangkap pula jabatan tukang mencari keterangan.”

    Sebagai pejuang kemerdekaan Haji Agus Salim memiliki andil besar dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka. Ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha  Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Haji Agus Salim salah satu founding fathers negara dan ikut mensahkan Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang merupakan konsensus tentang dasar negara Republik Indonesia.

    Pada awal kemerdekaan Haji Agus Salim menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (1945 – 1946). Beberapa kali duduk dalam kabinet sebagai Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II (1946) dan Kabinet Sjahrir III (1947), Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin (1947), dan Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta  (1948 – 1949).

    Setelah tahun 1949 sampai wafat Haji Agus Salim menjadi Penasihat Utama pada Kementerian Luar Negeri RI.

    Haji Agus Salim mengetuai misi diplomatik RI dalam mengupayakan dukungan negara-negara Arab terhadap kemerdekaan Indonesia. Ia pantas dikenang sebagai “diplomat pertama Indonesia” seperti ditulis Solichin Salam dalam buku Hadji Agus Salim Pahlawan Nasional. Haji Agus Salim merupakan perintis hubungan diplomatik Indonesia dengan beberapa negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, Siria, dan Libanon. Mesir negara pertama yang mengakui de jure kemerdekaan Indonesia. Peran lainnya, menjadi anggota delegasi Indonesia ke Inter Asian Relations Conference di New Delhi, India. Pada 3 Juni 1953 mewakili Pemerintah RI bersama Sri Paku Alam menghadiri Penobatan Ratu Elizabenth II di London. Haji Agus Salim merupakan salah satu anggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 30 Desember 1949.

    Dalam pengantar buku Hadji Agus Salim Pahlawan Nasional karya Solichin Salam, Mohammad Hatta mengisahkan bagaimana tanggapan Haji Agus Salim atas kemarahan pihak Belanda sehubungan pengakuan negara-negara Arab atas kemerdekaan RI. Berikut pernyataan Haji Agus Salim, “Kalau Tuan-tuan menganggap usaha kami mendapatkan pengakuan de jure negara-negara Arab atas Republik Indonesia bertentangan dengan Perjanjian Linggarjati, apakah aksi militer yang Tuan lancarkan terhadap kami sesuai dengan Perjanjian Linggarjati? Pengakuan de jure kami peroleh akibat daripada aksi militer Tuan.  Kalau Tuan-tuan melancarkan sekali lagi aksi militer terhadap kami, kami akan mencapai pengakuan de jure dari seluruh dunia.”

    Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya dengan gigih memperjuangkan Republik Indonesia di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  Dalam masa perang kemerdekaan dan agresi militer Belanda, Haji Agus Salim diasingkan oleh Pemerintah Belanda ke Brastagi, Sumatera Utara, dan selanjutnya dipindahkan ke Prapat. Haji Agus Salim dan Bung Karno dipindahkan ke Pulau Bangka dikumpulkan dengan Bung Hatta dan kawan-kawan.

    Mengenai cinta tanah air, Haji Agus Salim sebagai seorang pemimpin tampa pamrih, sebagaimana diutarakan keponakannya Prof. Dr. Emil Salim dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim, bertolak dari niat “lillahi ta’aala”. Cinta bangsa dan tanah air berkembang karena “lillahi ta’aala”. Karena Allah inilah yang menjadi niat utama. Pemantapan niat dalam hati sanubari pejuang dirasa perlu karena perjuangan kemerdekaan tidaklah mudah dan banyak godaan yang menyesatkan mereka yang berjuang. Lagi pula,  menurut Haji Agus Salim, tidak ada keuntungan duniawi yang bisa diraih dalam perjuangan kemerdekaan. Dengan kata lain, cinta tanah air tidak hanya terbatas pada usaha membebaskan tanah air dari belenggu penjajah, tidak lagi terbatas pada kecintaan yang dikobarkan oleh nyiur hijau melambai atau kilauan emas dan padi menguning, tetapi beliau menarik ke tingkat lebih tinggi. Kita mencintai tanah air karena ini adalah anugerah Allah. Dalam rangka beribadah kepada-Nya, demikian kata Haji Agus Salim.

    Menjelang Tutup Usia

    Sebagai intelektual kelas dunia sekitar awal 1953 Haji Agus Salim diundang sebagai guru besar tamu pada semester musim semi untuk memberikan kuliah tentang agama Islam di Cornell University di Ithaca Amerika Serikat. Di samping itu ia diminta memberi ceramah tentang Pergerakan dan Cita-Cita Islam Indonesia di Princeton University Amerika Serikat. Rekaman kuliah Haji Agus Salim di Cornell University diterjemahkan oleh J. Taufik Salim, putra kedua Haji Agus Salim dan diterbitkan menjadi buku Pesan-Pesan Islam dalam edisi bahasa Indonesia.

    George McT Kahin menyebut Kuliah Islam Haji Agus Salim di Amerika Serikat tahun 1953 banyak menimbulkan minat di kalangan kaum mahasiswa. Karena sebelumnya belum pernah ada guru besar muslim yang memimpin program dimaksud di kampus terkemuka di negara Barat.

    Pada tahun 1952 Haji Agus Salim dan Ibu Zainatun Nahar memperingati ulang tahun perkawinan ke-40. Menurut beliau, perkawinan berbahagia 40 tahun bukanlah atas teori beliau, melainkan dengan izin dan keridhaan Allah. Kalau Tuhan menghendaki bisa saja kami bercerai berpisah dalam waktu yang kami sendiri tidak merencanakannya terlebih dahulu. Maka Tuhanlah yang memelihara perkawinan kami ini, sampai berlangsung 40 tahun, dan tetap dengan kepercayaan kepada Allah juga kami akan teruskan perkawinan ini. Haji Agus Salim memasang pada dinding rumahnya kaligrafi ayat Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 29 yang terjemahannya “Alangkah baiknya jika engkau masuk ke dalam surgamu engkau katakan Masya Allah, tidak ada kekuatan kecuali pada Allah.”  Menurut beliau, surga dimaksud dalam ayat itu ialah rumah tangga yang berbahagia.

    Panitia Peringatan Hadji A. Salim Genap Berusia 70 Tahun tanggal 8 Oktober 1954, dari kawan-kawan, pencinta, pengikut dan murid-muridnya memprakarsai penerbitan khusus sebagai penghormatan dan penghargaan yaitu buku Djedjak Langkah Hadji A. Salim: Pilihan Karangan, Utjapan dan Pendapat Beliau Dari Dulu Sampai Sekarang.

    Haji Agus Salim diminta oleh pimpinan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) Yogyakarta (kini UIN Sunan Kalijaga) untuk memberi kuliah tentang dakwah Islam. Ia menyambut baik undangan mengajar sebagai guru besar di PTAIN dan kemudian mengajukan permohonan berhenti sebagai Penasihat Utama Kementerian Luar Negeri agar bisa lebih fokus mengajar. Akan tetapi Menteri Luar Negeri Prof. Mr. Soenarjo tidak mengizinkan Haji Agus Salim berhenti dari jabatan Penasihat Kementerian Luar Negeri, meski beliau akan bertugas mengajar di PTAIN Yogyakarta. Di saat usianya menjelang 70 tahun dan sekembali dari memberi kuliah di Amerika Serikat, Haji Agus Salim bermaksud menulis semua pemikiran yang pernah disampaikannya dalam sebuah buku dan menyelesaikan karangan mengenai Tafsir Al-Qur’an. Rupanya Allah berkehendak lain sebelum rencana tersebut terwujud.

    Haji Agus Salim berpulang ke rahmatullah tanggal 4 November 1954 setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Jenazahnya dimakamkan dengan upacara kenegaraan esok harinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, diantar oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta dan disaksikan oleh puluhan ribu rakyat. Haji Agus Salim tutup usia satu bulan setelah memperingati ulang tahun ke-70. Ia merupakan “orang pertama” yang dimakamkan di TMP Kalibata.

    Negara memberikan penghargaan atas jasa-jasa Haji Agus Salim sebagai pemimpin bangsa yang besar peranannya dalam perjuangan merebut, menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Presiden Soekarno pada 27 Desember 1961 menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada almarhum Haji Agus Salim. Selain itu pemerintah meresmikan nama Jalan H. Agus Salim di daerah Menteng – Jakarta Pusat, tepatnya di jalan rumah tempat tinggal Haji Agus Salim, yang sebelumnya bernama Jalan Gereja Theresia.

    Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1992 memberikan penghargaan tertinggi Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia Utama kepada almarhum Haji Agus Salim sebagai tokoh perancang Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

    Setengah abad dari usia Haji Agus Salim yang 70 tahun dihabiskan dalam tugas dan bakti bagi kepentingan bangsa dan tanah air sebagai ibadah kepada Allah. Salah seorang cucunya yaitu Ibu Maryam dalam wawancara majalah Intisari No 137, Desember 1974 menuturkan, “Opa tidak meninggalkan warisan berupa harta. Namun beliau meninggalkan warisan yang lebih berharga, yaitu nama baiknya sebagai orang yang pandai dan jujur.”

    Semoga Allah SWT memberi tempat yang penuh kemuliaan kepada arwah almarhum Haji Agus Salim dalam kehidupan di alam akhirat yang kekal.

    Daftar Pustaka

    Latief, M. Sanusi, dkk, Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, Penerbitan Pertama (Padang: Islamic Centre Sumatera Barat, 1981).

    Masyafa, Haidar, Cahaya Dari Koto Gadang: Novel Biografi Haji Agus Salim(Yogyakarta:  Spirit & Grow, 2015).

    Panitia Buku Peringatan, Seratus Tahun Haji Agus Salim (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996).

    Panitia Peringatan Hadji A.Salim Genap Berusia 70 Tahun, Djedjak Langkah Hadji A. Salim: Pilihan Karangan, Utjapan dan Pendapat Beliau Dari Dulu Sampai Sekarang (Djakarta: Tintamas, 1954).

    Pratiknya, A.W. penyunting, M. NatsirPesan Perjuangan Seorang Bapak – Percakapan Antar Generasi (Jakarta – Yogyakarta:  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Laboratorium Dakwah, 1989).

    Roem, Mohamad, “Memimpin Adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim” dalam Taufik Abdullah, Aswab Mahasin, Daniel Dhakidae, Manusia Dalam Kemelut Sejarah (Jakarta: LP3ES,  1978).

    Salam, Solichin, Hadji Agus Salim Hidup dan Perdjuangannja (Djakarta: Djajamurni, 1961).

    Salam, Solichin,  Hadji Agus Salim Pahlawan Nasional (Djakarta: Djajamurni, 1964).

    Salim, Hadji Agus, Pesan-Pesan Islam – Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University Amerika Serikat, Penerjemah J. Taufik Salim (Bandung: Mizan, 2011).

    Tempo, Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2013).

  • Jenazah Morsi Pun Mereka Takut

    Jenazah Morsi Pun Mereka Takut

    Begitulah lumrah pejuang Islam, sehingga jenazah mereka digeruni golongan zalim. Menurut akbar, Morsi dikebumikan pada waktu subuh, tiada ahli keluarga yang hadir melainkan isteri dan dua orang anak. Jenazah tidak dipulangkan untuk dibedah siasat. Media tidak dibenarkan hadir. Tiada liputan media di ruang utama akhbar, kematiannya didiamkan. Tiada orang awam dibenarkan hadir. Begitu mereka takut dengan jenazah Morsi yang sudah tidak bernyawa. Allah mengangkat nilai pengorbanannya sehingga tubuh yang tidak bernyawa ini begitu digeruni.

    Inilah nilai sebuah perjuangan dalam menentang kezaliman. Allah membebaskan Morsi dari penjara dunia dan menjemput beliau ke sisiNya. Kekurangan yang berlaku ke atas Morsi mengingatkan kita kisah syahid Saidina Mus’ab bin Umair, jenazah yang mengingatkan kaum Muslimin tentang erti sebuah kehidupan.

    Ketika lalu dihadapan jenazah Mus’ab yang syahid di medan Uhud, Rasululullah kelihatan sangat sebak. Baginda terkenangkan perjuangan Mus’ab yang menjadikan dirinya semuanya untuk Islam. Baginda lalu membacakan ayat:

    مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ

    “Di antara orang-orang yang beriman itu, ada yang bersikap benar menunaikan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah (untuk berjuang membela Islam); maka di antara mereka ada yang telah selesai menjalankan janjinya itu (lalu gugur syahid), dan di antaranya ada yang menunggu giliran…”

    Morsi telah bersikap benar dengan janji Allah dalam usaha mempertahankan Islam dengan ruang dan kefahaman yang ada pada beliau. Allah membeli jiwa-jiwa orang beriman dengan ganjaran yang tiada tolok bandingan. Apa yang telah kita lakukan dalam memartabatkan agama Allah ini?

    Semoga Allah membimbing kita.

  • Tanggung Jawab Moral Kaum Intelektual

    Tanggung Jawab Moral Kaum Intelektual

    Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari peran kaum intelektual. Intelektual atau kadang disebut cendekiawan dalam Al Quran diungkap dengan kata “ulul albab”. Mohammad Natsir mengatakan, makna ulul albab yakni orang yang mempunyai daya pikir, daya tanggap yang peka, daya banding yang tajam, daya analisa yang tepat, serta daya cipta yang orisinil.

    Di masa lampau ketika sebagian besar rakyat Indonesia masih berselimut kebodohan dan keterbelakangan, sejarah mencatat peran kaum terpelajar dan intelektual yang membukakan mata rakyat Indonesia tentang hak hidup sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat di negeri sendiri. Dalam kacamata sosiologis, peran kaum intelektual dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia sejak zaman kolonial dapat dikelompokkan dalam dua kategori, Pertama, intelektual yang kiprah dan pemikirannya berpijak pada cita-cita keagamaan, terutama intelektual muslim, dan Kedua, intelektual yang netral agama. Mereka semua punya peran dan kontribusi dalam perjuangan dan pembangunan bangsa.

    Pembangunan bangsa dan negara di segala bidang memerlukan peran dan tanggungjawab kaum intelektual. Bangsa ini, dari generasi ke generasi, seharusnya membangun budaya yang menghargai peran kaum intelektual yang mencintai negara dengan amal perbuatan serta membuktikan kepedulian terhadap nasib bangsa. Seorang intelektual sejati dalam kondisi apa pun tetap konsisten mengamalkan ilmunya dan bekerja “demi bangsa”, bukan sekadar “mengatas-namakan bangsa”, dan bukan pula menjadi “intelektual tukang” yang bekerja sesuai pesanan. Seorang intelektual sejati takkan mengkhianati ilmunya walau dibayar berapa pun, apalagi mengkhianati bangsa dan negaranya.

    Kemajuan bangsa dalam kehidupan politik dan demokrasi memerlukan referensi intelektual dan panduan moral. Tanpa itu politik hanya akan menjadi rangkaian proses untuk mengejar dan mempertahankan kekuasaan belaka. Bahkan politik bisa menjadi industri yang menguntungkan buat kaum kapitalis. Politisi tanpa wawasan intelekual akan membuat dunia politik kering dari visi kenegarawanan.
    Bangsa Indonesia saat ini– kata Bambang Sulistomo – putra pahlawan nasional Bung Tomo, bukan mengalami “trisakti” seperti dicetuskan Bung Karno, tapi “trisakit”, yaitu sakit di bidang mental ideologi, sakit di bidang ketergantungan hutang ekonomi, dan sakit di bidang etika dan moral bernegara.

    Dalam kaitan itu ada baiknya direnungkan pidato bapak bangsa Dr. Mohammad Hatta pada Hari Alumni I Universitas Indonesia tanggal 11 Juni 1957 berjudul Tanggung Jawab Moril Kaum Inteligensia, sebagai berikut: “Pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Kurang kecerdasan dapat diisi, kurang karakter sukar memenuhinya, seperti ternyata dengan berbagai bukti di dalam sejarah. Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia yang berkarakter tidak diperoleh dengan begitu saja. Saya ingin melihat kaum inteligensia Indonesia menunjukkan tanggungjawab morilnya terhadap usaha-usaha pembangunan negara dan masyarakat kita, dengan berpedoman kepada cinta akan kebenaran, yang menjadi sifat bagi orang berilmu.”

    Dalam perspektif Islam, sebuah ayat dalam Al Quran menjelaskan, “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barangsiapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebajikan yang banyak, dan tak ada yang dapat menerima pelajaran ini kecuali orang-orang yang berakal.” (QS Al Baqarah [2]: 269).

    Sudah menjadi keniscayaan bahwa kedudukan yang lebih tinggi membawa tanggungjawab lebih besar. Setiap kelebihan ilmu, harta, atau kekuasaan adalah amanah dan ujian, apakah seseorang menggunakannya sebagai sarana untuk taat kepada Tuhan dan berbuat baik kepada sesama manusia, atau sebaliknya. Semua itu pasti akan ditanya di Hari Akhir. Oleh karena itu dalam ucapan tahniah dan selamat kepada keluarga, saudara, sahabat atau sejawat yang menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi selalu kita menghaturkan doa semoga ilmunya bermanfaat.

  • Darun Nadwah, Mereka Yang Berburu Dunia

    Darun Nadwah, Mereka Yang Berburu Dunia

    Tempat ini menjadi saksi sejarah, saksi ketika berbagai lapisan kaum Quraisy berkumpul disitu.

    Mereka merencanakan serta mendiskusikan upaya untuk membungkam kebenaran. Kebenaran yang lahir dari iringan wahyu, yang menawarkan solusi berbagai masalah yang sedang dihadapi umat.

    Perlu tindakan cepat dari pemuka Quraisy, sebelum cahaya kebenaran itu mewabah menyinari orang-orang yang ada sekitarnya. Itulah tema pembicaraan mereka di Darun Nadwah.

    Rencana awal pembawa Risalah kebenaran itu harus dihabiskan secepatnya. Dan ini gagal total.

    Langkah selanjutnya gelontorkan dana besar sebagai umpan, buat sayembara… Barangsiapa yang mendapatkan Muhammad hidup atau mati, ini hadiahnya…

    Ada yang tergiur? Jelas ada…

    Pemburu dunia dan materi cepat dan sigap beraksi. Memburu sasarannya, pasang strategi demi meraup iming-iming harta. Diantaranya adalah Suroqah bin Malik…

    Apakah Suroqah berhasil? Ternyata yang dia lakukan hanyalah sebagai langkah awal untuk menjemput hidayah. Pertemuan dengan Rasulullah membuatnya tak berdaya dengan ambisi awalnya yang ingin menghabisi Rasulullah…

    Tidak berhasil, tapi malah Rasulullah memberikan janji yang jauh lebih menggiurkan lagi, yaitu asesoris kebesaran kaisar Persia. Terkesan tidak masuk akal, tapi itu sebuah janji benar yang ditunaikan dan didapati oleh Suroqah dizaman Umar bin Khattab nantinya…

    Sahabat… Sejarah akan mengulang perannya, Darun Nadwah masa kini masih tetap ada, wadah berkumpulnya para pemburu dunia.

    Merencanakan, memodali, mengeksekusi ambisi mereka… Menghabisi lawan dengan berbagai sarana dan media. Apakah mereka berhasil? Tentu akan gagal…

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menyempurnakan Cahayanya, Yakinlah… Cepat atau lambat hanya perjalanan waktu….

  • Refleksi Ceramah Dakwah Menjadi Kontraproduktif

    Refleksi Ceramah Dakwah Menjadi Kontraproduktif

    *refleksi ceramah dakwah kontraproduktif karena mendapat penolakan dari masyarakat, pengamatan beberapa peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi

    Kami dibesarkan di kalangan Muhammadiyah dan mendapat pertentangan di kawasan, dahulu Muhammadiyah tidak sebesar sekarang. Walaupun begitu yang bisa menjadi alasan kuat adalah kami tinggal disana, sehingga waktu juga yang membuktikan konsistensi dan mengobati luka yang ada.

    Begitu sulitnya berdakwah lintas batasan, bahkan setelah lama merantau pun kembali berdakwah di daerah asal juga tidak semudah yang dikira.

    Bahasa menjadi kendala, budaya menjadi halangan, satu dua hujjah tentang keadaan tidak akan merubah situasi, jika Allah yang memberikan hidayah, kemudian ikhtiar adalah bagian kita.

    Bukan artinya kita diam, artinya dalam berdakwah dan ikhtiar kita perlu strategi dan pendekatan.

    Mengatakan “saya” dikatakan arogan, menggunakan “adeen” dikatakan kasar, menggunakan “ambo” dikatakan gaya, menggunakan “ana” kearab-araban, begitulah yang diributkan bukan konten dari permasalahan, tapi berputar-putar di tepi kemudian kusut.

    Salah satu yang terpenting dahulu ketika diberi kesempatan dalam training future leaders, mereka muda-muda sekali. Adalah jika berkarir sebagai pemimpin maka penting untuk memiliki kompetensi, dan lebih dari itu adalah memiliki segmented market, kaum atau masyarakat yang jelas. Siapa orangnya, bagaimana kondisinya, dsb.

    Akan kurang produktif ketika kita berbicara wacana tetapi kita bukan eksekutor, akan kontra produktif ketika kita melempar ide tetapi mendapat penolakan dari cara.

    Walaupun legitimasi memberikan otorisasi, yang dalam hal tentu patut diberlakukan, seperti saya di undang, saya memiliki hak sebagai pemimpin, saya ditunjuk, dsb. Tetapi ianya bukan satu-satunya jalan yang terus dipakai, karena ada emosi dan sentimen yang akan berlaku.

    Cara yang terbaik dan efektif adalah menyampaikan kebenaran, kebaikan, perbaikan itu sendiri, dengan agen/orang/anggota masyarakat itu sendiri.

    Doing good from the start.

    Satu kisah sahabat dari Ghifar yang masuk Islam di awal kenabian, seorang revolusioner, ketika ditanya apa yang berikutnya perlu dia lakukan, kata nabi kembali kaummu.

    Kemudian dia berkata saya tidak akan kembali sampai saya menyampaikan kebenaran di hadapan penduduk Mekkah, kemudian dia pergi ke depan Ka’bah dan berteriak, dan berakhir dipukuli oleh orang-orang. Begitu juga yang dialami oleh sahabat Omar.

    Nabi sudah menyampaikan strategi dan rencana, tetapi maksud hati memang sudah dilawan, maka hadapi akibatnya.

    Begitu juga pelajaran dari nabi, rasul, tokoh dakwah dahulu, umum dari mereka adalah anggota dari kaum yang mereka dakwahi. Ataupun jika tidak, anak-anak didik mereka yang akhirnya berdakwah untuk kaum tersebut.

    Belum lagi faktor umur, penampilan, anak siapa, kaum apa dan sebagainya. Ibnu Khaldun menguraikan lebih panjang lebar dan terperinci mengenai hal ini.

    Belajar dari banyaknya upaya dakwah kita yang berkonflik, ada rasanya kita insaf dan mempertimbangkan faktor-faktor yang kami sebut diatas, . Fokus kepada masyarakat yang memang kita memiliki kuasa pengaruh didalamnya. Apalagi dengan kondisi kita yang memberikan gap ruang dengan keadaan masyarakat, baik pendidikan, ataupun ekonomi.

    Jika hidayah adalah milik Allah, maka ikhtiar bangkit adalah milik manusia. Semoga kita dilindungi dari kesalahpahaman dan konflik diantara sesama muslim.

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).

    Wallahualam

  • Nilai Perjuangan Dalam Puasa Ramadhan

    Nilai Perjuangan Dalam Puasa Ramadhan

    Khutbah Jum’at, 5 Ramadhan 1440 H./10 Mei 2019 M.

    Allah swt berfirman di dalam Al-Qur`an, surat Yunus, ayat 108-109 :

    قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ

    وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

    Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu. Barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tersesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap diri kalian. Dan ikutilah apa-apa yang diwahyukan kepada kalian, serta bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dan Dia (Allah) adalah Hakim yang sebaik-baiknya.”.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Hari ini kita berada di hari ke-5 dari ibadah puasa Ramadhan tahun 1440 H. Pada siang hari selama kira-kira 30 hari di bulan Ramadhan ini, kaum muslimin berjuang untuk menjalankan kewajiban berpuasa dengan meninggalkan makanan dan minuman, juga hal-hal lainnya yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Sedangkan pada malam hari-malam harinya, kaum muslimin berlomba-lomba untuk mengisinya dengan ibadah shalat tarawih dan witir, juga bertilawah dan bertadarus Al-Quran. Semua ibadah tersebut dilakukan oleh kaum muslimin dengan tujuan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt, beristighfar (memohon ampunan) dari segala dosa, mengharapkan rahmat dan berkah dalam kehidupan dunia, serta memohon keselamatan di kehidupan akhirat kelak.

    Begitu padat dan bervariasi ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin selama bulan Ramadhan ini. Namun demikian, ibadah-ibadah yang berdimensi ruhiyah dan ukhrawi tersebut jangan sampai menjadikan kaum muslimin melupakan dan mengabaikan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat duniawi dan sosial kemasyarakatan. Sebab, ibadah puasa, khususnya di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, sebenarnya justru menjadi sumber energi dan kekuatan spiritual yang besar bagi kaum muslimin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, juga untuk meraih kesuksesan-kesuksesan.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Dalam kitab “Al-Fiqhu al-Islamiy wa Adillatuhu” (Fiqih Islam dan Dalil-dalinya), jilid ke-3, bab ‘Puasa’, Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhayliy menulis sebagai berikut :

    Telah terjadi banyak peristiwa besar di bulan Ramadhan yang menjadi titik tolak bagi perubahan-perubahan yang sangat menentukan jalannya sejarah umat Islam. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Islam benar-benar menyikapi dan memperlakukan semua hal dengan perhatian yang serius, dan bahwa motto dari ibadah puasa adalah kekuatan, jihad, dan kerja! Bukan lemah, melarikan diri, dan bermalas-malasan.

    Maka setiap muslim, meskipun ia sedang menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, ia harus tetap memiliki semangat yang tinggi dalam merespon kenyataan-kenyataan hidup serta beradaptasi dengan berbagai macam kondisi yang dihadapinya.

    Oleh karena itu, kewajiban dalam menjalankan ibadah puasa tidak boleh menjadikan seorang muslim mengabaikan kewajiban-kewajiban hidupnya, ataupun melemahkan semangatnya untuk membangun dunia.

    Tidak dibenarkan seorang muslim mengatakan : ‘Puasa itu menghambat produktifitas serta menjadi faktor penyebab kemunduran individu dan masyarakat’! Karena, jargon Islam itu adalah ‘jihad’ (perjuangan), dan bahwa agama Islam serta syariatnya itu mudah, tidak sulit untuk dilaksanakan, serta membawa banyak manfaat dan maslahat bagi umat manusia.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan sepanjang sejarah umat Islam merupakan bukti kuat bahwa keberhasilan dan kemenangan itu sangat ditentukan oleh faktor kesucian jiwa dari kepentingan-kepentingan materi dan duniawi, dan bahwa hari-hari di bulan Ramadhan itu membawa berkah serta menjadi wasilah bagi tercapainya kebaikan, kemenangan, dan anugerah Allah swt, dengan syarat bila qalbu umat Islam selalu tertuju kepada Allah swt Dzat Yang Maha Memiliki dan Mengatur alam semesta dan seisinya!

    Allah swt berfirman dalam Al-Qur`an, surat Alu ‘Imran (3), ayat 126 :

    وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

    Dan tidak ada suatu kemenangan (yang terjadi) melainkan berasal dari sisi Allah

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Ada banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi di bulan Ramadhan, yang menjadi bukti betapa ibadah puasa di bulan Ramadhan seperti ini, jika dilaksanakan dengan pemahaman dan kesadaran yang benar, adalah ibadah yang mampu memberikan kekuatan jasmani dan ruhani bagi umat Islam.

    Diantara peristiwa-peristiwa tersebut adalah perjuangan umat Islam dalam menghadapi kekuatan musuh-musuhnya dalam peperangan atau pertempuran yang akhirnya dimenangkan oleh umat Islam, meskipun mereka melakukannya pada bulan Ramadhan :

    1. Perang Badar Kubrâ, yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 17 Ramadhan, tahun ke-2 Hijriyyah, dimana pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah saw berhasil mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy, meskipun jumlah pasukan mereka jauh lebih banyak.

    2. Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 20 Ramadhan, tahun ke-8 Hijriyah, dimana pasukan umat Islam yang juga dipimpin oleh Rasulullah saw berhasil menaklukkan dan menguasa kota Makah tanpa pertumpahan darah.

    3. Perang Tabûk, yang terjadi di bulan Ramadhan, tahun ke-9 Hijriyyah, dimana pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan Romawi.

    4. Masuknya tentara Islam yang dipimpin oleh shahabat Ali r.a. ke negeri Yaman, yang terjadi di bulan Ramadhan, tahun ke-10 Hijriyyah.

    5. Fathu Al-Andalus (Pembebasan Andalusia (Spanyol)) oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad, yang terjadi pada tanggal 28 Ramadhan, tahun 92 Hijriyah.

    6. Perang Al-Zallâqah (wilayah yang terletak di suatu di lembah di dekat negara Portugal saat ini), yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 25 Ramadhan, tahun 479 Hijriyyah, yang dimenangi oleh pasukan Islam dari Andalusia/Spanyol yang dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin atas pasukan Perancis yang terdiri dari 80 ribu tentara yang dipimpin oleh Alfonso VI, raja Castilla (Spanyol).

    7. Perang ‘Ayn Jalut, yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 25 Ramadhan, tahun 658 Hijriyyah, dimana pasukan Islam yang dipimpin oleh Sultan Qutuz memenangi pertempuran melawan pasukan Mongol, dan berhasil menyatukan Mesir dan negeri-negeri Syam kedalam Daulah Islamiyah.

    8. Proklamasi kemerdekaan RI terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 (bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 9 Ramadhan, tahun 1364 Hijriyyah), yang mengakhiri penjajahan bangsa-bangsa Eropa (Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, dll.) atas wilayah negeri kita Nusantara selama 350 tahun.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Data dan catatan-catatan sejarah tentang kemenangan dan keberhasilan umat Islam di atas menunjukkan 2 hal penting :

    1. Betapa bulan Ramadhan mengandung begitu banyak berkah bagi perjuangan umat Islam dalam rangka mensyiarkan dan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini.

    2. Bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan mampu menyuntikkan energi kekuatan jasmaniah dan ruhiyah kepada umat Islam sehingga berhasil meraih banyak kemenangan yang gemilang di pentas sejarah peradaban umat manusia .

    Semoga pemaparan khutbah Jum’at ini dapat mengingatkan kita semua untuk bisa menyerap energi positif dari ibadah puasa yang kita lakukan di bulan suci Ramadhan ini, yaitu energi perjuangan, agar kita tetap bisa melakukan hal-hal yang positif dan produktif untuk keluarga kita, dan masyarakat kita, semata-mata untuk mengharapkan pahala dan ridha dari Allah swt. Ǎmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.

  • Tidak ada kekerasan dalam Islam tanpa Jurisdiksi

    Tidak ada kekerasan dalam Islam tanpa Jurisdiksi

    لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

    [Al-Baqarah 2:256]
    Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

    Seorang kawan Jamaican preacher (pendakwah) pernah mengajukan persoalan serupa ketika dalam perantauan saya di Inggris, yang menjadikan saya perlu memberikan penjelasan yang bisa dipahami oleh kawan tersebut, saya sampaikan kembali semoga berguna bagi kawan-kawan yang lain.

    Kekerasan yang dimaksud memang di sah kan sebagai pendekatan syariat dalam Agama, jika kita melihat Taurat (Old Testament), terdapat syariat yang keras berbuat dosa makan bertaubat dengan menghukumi diri dengan bunuh diri (harakiri), menambah jumlah rakaat dalam shalat yang banyak, menambah jumlah ibadah, dsb.

    Untuk kita yang suka membaca sejarah Musa maka akan menemukan hal ini, baik dalam Old Testament maupun kisah-kisah lain yang diangkat kembali dalam Al-Quran, yang sebagian besar ayat yang di klaim oleh para orientalis (peneliti non muslim) sebagai hujjah kekerasan dalam Islam. Yang ayat ini pada umumnya bercerita tentang kisah Bani Israel pada masa sebelumnya, seperti ayat qisas, seperti ayat telinga untuk telinga, mata untuk mata, tangan untuk tangan.

    مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

    [Al Maidah 5:32]
    Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.

    إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلَافٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

    [Al Maidah 3:33]
    Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar.

    حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ جَنَاحٍ، عَنْ أَبِي الْجَهْمِ الْجُوزَجَانِيِّ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ ‏”‏

    [Sunan Ibn Majah 2717 – Hasan]
    Jika dunia ini dihancurkan, hal ini akan kurang signifikan dihadapan Allah SWT dari pada pembunuhan orang beriman yang tidak sesuai hukum.

    Menariknya ketika risalah Nabi Isa turun, pendekatan syariah hukum ini jauh bertolak belakang, pendekatan lunak pun diperkenalkan, tidak salah jika orang-orang yang membaca Injil (New Testament) memahami pendekatan kasih sayang dalam risalahnya, walaupun dalam segi ibadah masih dalam kuantitas yang cukup besar.

    Kemudian apa menariknya pada Islam? ini pertanyaan berikutnya yang ditanyakan kawan saya. Saya sampaikan yang dikukuhkan dalam Islam adalah Wasathiyah, yakni salah satunya dapat dipahami pendekatan baik keras (seperti kaum Nabi Musa) maupun lunak (seperti kaum Nabi Isa) hanya bisa dijustifikasi dalam bentuk pelembagaan keadilan, semua pendekatan tsb hanya bisa disahkan dalam yurisdiksi, keputusan ketua, pemimpin, sidang hakim, jumhur dan musyawarah.

    وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

    [Al Baqarah 2:143]
    Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.

    Mengakui kekerasan dalam Islam sama seperti kita mengakui kekerasan dalam pendidikan, dalam pengasuhan anak, dalam keseharian. Dimana dalam realita selalu ada oknum dan individu tapi tidak pernah diakui secara formal dan dituangkan secara hukum legal, setidaknya begitu saya melihat peradaban bangsa di eropa, dan bagaimana cahaya Islam mewarnai cara berfikir tokoh-tokoh terdidik mereka berabad-abad jauhnya.

    Mereka memaki, mereka menghardik anak-anak juga tidak jauh lebih baik daripada kita disini, tetapi mereka tidak pernah mengakui kekerasan dalam pendidikan mereka, setidaknya dalam konsep legal dan akademik mereka.

    Pun begitu hendaknya kita sebagai Muslim, maupun sebagai entitas lainnya.

    Mengakui keerasan itu seperti mundur beribu langkah ke dalam zaman batu yang belum menerima risalah, seperti narasi Kartini “Habis gelap terbitlah terang”, maka apa yang jelas terlihat dalam terang sulit disampaikan jika obor selalu dibiarkan padam dalam kegelapan.

    قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُم مِّنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

    [Al An’am 6:151]
    Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لاَدَّعَى نَاسٌ دِمَاءَ رِجَالٍ وَأَمْوَالَهُمْ وَلَكِنَّ الْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ‏”‏ ‏.

    [Shahih Muslim No. 1711]
    “Jika semua orang diberi hak (hanya) dengan dakwaan (klaim) mereka (semata), niscaya (akan) banyak orang yang mendakwakan (mengklaim) harta orang lain dan darah-darah mereka. Namun, bukti wajib didatangkan oleh pendakwa (pengklaim), dan sumpah harus diucapkan oleh orang yang mengingkari (tidak mengaku)”.

    Begitulah aturan ditegakkan dalam Islam, kekerasan hanya dapat dilakukan dengan yuridiksi, pembenaran, dimana pembenaran ini didapatkan dengan cara mencari keadilan, dan keadilan ini hanya dapat ditegakkan oleh orang-orang yang diberi hak amanah hakim, dan juga pemimpin, karena orang-orang yang diberi amanah ini mengambil tanggung jawab memberikan keadilan dari Allah, sehingga Allah yang akan meminta pertanggung jawabannya.

    Wallahu’alam

    Abdullah Arifianto
    Peneliti di The IDRiS Institute