Author: Abdullah A Afifi

  • Ibrah Pendidikan (2): Yang Lebih Berat Dari Berperang

    Ibrah Pendidikan (2): Yang Lebih Berat Dari Berperang

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ، أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حَدَّثَتْهُ أَنَّهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ ‏ “‏ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدُّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلاَلٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ، فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ، فَسَلَّمَ عَلَىَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمِ الأَخْشَبَيْنِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ‏”‏‏.‏

    Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab berkata telah bercerita kepadaku ‘Urwah bahwa ‘Aisyah (ra), istri Nabi (saw) bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi: “Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?”. Beliau menjawab: “Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa yang paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa ‘Aqabah (Thaif), saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal agar membantuku namun dia tidak mau memenuhi keinginanku hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata; “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu”. Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata; “Wahai Muhammad”. Maka dia berkata; “apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (Sahih Al-Bukhari 3231)

    # IBRAH

    Hadits diatas mengabarkan kepada kita bahwa Rasulullah (saw) menyampaikan kepada Aisyah (ra) bahwa dakwah mengajak kepada kebenaran (ke Thaif) lebih berat dari perang (Uhud). Beliau harus menempuh jarak yang tidak dekat, kemudian setelah berjumpa ajakan beliau ditolak, Mubarakfuri menceritakan dalam sirah nabi (raheeq al-makhtoum) bagaimana beliau diusir (dikejar-kejar) juga dilempari batu, hingga beliau berlari dan baru berhenti setelah jauh dan tidak terlihat.

    Mendidik bukan sekedar menyampaikan informasi, tetapi juga lebih beratnya adalah memberitahu mana yang baik dan benar, dan juga mengajak yang dididik untuk senantiasa berbuat baik dan benar. Mendidik dengan mengajak kepada kebaikan dan kebenaran adalah inti dari dakwah, sehingga mendidik adalah bentuk dari dakwah itu sendiri. Dalam surat Al-Hajj ayat 67 Allah (swt) menyebutkan “dan serulah (mereka kepada Tuhan-Mu), sungguh engkau (Muhammad) berada di jalan yang lurus.”

    Bagaimana niat mendidik rasulullah untuk menunjukkan kebaikan dan kebenaran tidak padam, walaupun kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan yang beliau hadapi, bahkan luar biasanya beliau tetap optimis berharap kedepannya situasi akan lebih baik untuk mereka.

    Dalam hadits ini juga diinformasikan bagaimana Allah (swt) memberi pertolongan kepada orang-orang yang senantiasa berdakwah. Tantangan berat bahkan menunjukkan penganiayaan berat yang dilakukan penduduk Thaif terhadap nabi adalah sangat luar biasa, sampai-sampai malaikat Jibril marah dan meminta izin untuk memberikan hukuman. Kita tahu bagaimana dalam sejarah kaum-kaum terdahulu dijatuhkan hukuman oleh malaikat (dengan izin Allah) karena pengingkaran dan penganiayaan yang luar biasa, ya kaum terdahulu yang dijatuhkan hukuman musibah menjadi habis tidak bersisa, bahkan kita yang hidup saat ini kesulitan mencari jejak mereka.

    Hadits ini juga menggambarkan bagaimana konsistennya nabi dalam urusan dakwah, urusan yang paling berat yang menjadi amanah kepada seorang hamba. Sehingga solusi atas kesulitan-kesulitan dan juga jalan buntu yang dihadapi dalam mendidik, nabi contohkan dengan berdoa dan mengadu kepada Allah, meminta jalan keluar.

    Nabi (saw) juga mencontohkan tidak perlu ada dendam dalam berdakwah ataupun mendidik. Pendidik perlu fokus terhadap misi mendidik, bahkan dianjurkan untuk menyampaikannya dengan cara yang baik. Cara yang akan sangat berbeda dalam profesi yang lain seperti penegak hukum dan ketertiban. Baju yang berbeda, tentu akan diperlukan cara yang berbeda.

    Di penghujung kisah Thaif ini, disebutkan dalam surat Al-Ahqaf tentang adanya sekelompok jin antusias untuk mendengar dakwah nabi (saw) dan menerima Islam kemudian berdakwah kepada kaumnya.a

    Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (Al-Ahqaf 46 : 29-30)

    Ini memberikan gambaran kepada kita, dalam mendidik kebaikan dan kebenaran, seandainya ada satu kelompok yang menolak, insyaallah akan selalu ada kelompok lain yang menerimanya. Yang terpenting adalah menjaga niat dan juga fokus tujuan dakwah adalah menyampaikan kebaikan dan kebenaran, dengan niat lillahitaala.

    Referensi

    Azmi, Ahmad Sanusi. 40 Hadis Tentang Dakwah dan Tarbiah. Ulum Hadith Research Center, 2020.
    https://sunnah.com/bukhari:3231
    https://www.hadits.id/hadits/bukhari/2992

  • Ibrah Pendidikan (1): Peranan Kecil Sangat Berharga

    Ibrah Pendidikan (1): Peranan Kecil Sangat Berharga

    وَحَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، وَأَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ – وَاللَّفْظُ لأَبِي كَامِلٍ – قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، – وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي، هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً، سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي ‏”‏ ‏.‏ قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ ‏”‏ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ ‏”‏ ‏.‏ فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ ‏”‏ إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ ‏”‏ ‏.‏

    Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya seorang wanita berkulit hitam (atau remaja kulit hitam) sering terlihat membersihkan masjid. Suatu hari Rasulullah SAW tidak melihat dia dan bertanya kepada orang-orang sekitar. mereka memberitahunya bahwa wanita (remaja) itu telah meninggal. Beliau berkata kenapa mereka tidak memberi tahunya, seolah-olah mereka menganggap keberadaan wanita (remaja) ini adalah hal yang sepele. Rasulullah SAW kemudian berkata: “tunjukkan aku kuburnya!”. Lalu mereka mengantarkannya dan menshalati kuburnya, kemudian berkata: “sesungguhnya kubur-kubur ini penuh kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah azza wa jalla (maha agung dan maha tinggi) menerangi kubur ini untuk penghuninya karena doaku atas mereka. (Sahih Muslim 956)

    # IBRAH

    Hadits ini adalah hadits yang sangat jelas bagaimana rasulullah tidak menyepelekan keberadaan orang dan pekerjaan kecil. Sebegitu detailnya rasulullah atas kerja, sehingga peran kecil wanita ini tidak terlewatkan, bahkan beliau mendoakannya setelah meninggal.

    Hadits ini sangat bagus untuk diambil hikmahnya bahwa seringkali dalam mendidik kita meminta anak didik kita untuk menjadi hebat terlebih mengambil kerja bagian yang hebat-hebat saja. Sehingga seringkali kerja yang kecil luput dalam pandangan bahkan menjadi tidak penting, dan bagaimana Rasulullah menilai kerja yang kecil ini juga sama bermanfaat bagi kerja baik yang lebih besar. Artinya kerja kecil juga harus terkordinasi, sehingga memberikan manfaat yang juga besar.

    Dalam hadits ini Rasulullah sangat memperhatikan siapa saja disekelilingnya yang berperan melakukan perbuatan baik dan bermanfaat. Begitu juga dalam institusi pendidikan, semua pihak patut mengambil peranan, berkordinasi dan patut dihargai atas kebaikan dan peranannya, walaupun kecil. Ini juga sebagai ibrah untuk kita bahwa dalam kerja kebaikan, peran semua anggota tim perlu diperhatikan dan dipastikan memberikan kontribusi dalam pencapaiannya. Didalam institusi pendidikan terlebih lagi, etika untuk menghargai harus disampaikan, supaya hal ini menjadi karakter yang terbentuk pada siswa dimasa belajarnya.

    Sebagian masyarakat menganggap sepele kerja-kerja kecil seperti ini. Dan Rasulullah SAW mencontohkan tidak patut kita menyepelekan orang lain karena latar belakang ekonomi ataupun penampilannya. Kontribusi nyata yang diberikan wanita ini berkesan tanpa melihat siapa dia, status, pangkat, dan juga penilaian fisik lainnya.

    Setiap pemimpin juga perlu ambil perhatian terhadap anggota-anggota timnya. Dan Rasulullah SAW mencontohkan setiap peran kecil dari pekerjaan besar perlu diperhatikan dan dihargai. Bagaimana diakhir hadits Rasulullah sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas usaha kebaikan wanita ini menjadi saksi atas peran yang dianggap kecil wanita ini yang membantu kerja baik beliau.

    Menurut al-Imam Ibn Hajar, wanita ini adalah Ummu Mihjan, atau Mihjanah, seorang wanita kulit hitam yang berkhidmat membersihkan masjid (Ibn Hajar, al-Isabah). Menurut riwayat al-Nasa’i pula, wanita ini disifatkan sebagai seorang yang miskin. a Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk bertanya kabar tentang orang lain. Bahkan menurut riwayat Al-Hakim, Rasulullah sering bertanya khabar penduduk Anshar. b

    Referensi:

    Azmi, Ahmad Sanusi. 40 Hadis Tentang Dakwah dan Tarbiah. Ulum Hadith Research Center, 2020.
    https://sunnah.com/muslim:956

  • Kemkes rilis Fitur Baru di Satu Data Vaksin: Stok Vaksin

    Kemkes rilis Fitur Baru di Satu Data Vaksin: Stok Vaksin

    Luar biasa, perjuangan front liner ini memang luar biasa. Memang tidak semua sempurna, tapi kita bisa lihat bahwa pandemi ini membuat percepatan dalam pengelolaan layanan kesehatan.

    Apa sih yang kita bisa lihat dari satu data vaksin ini.

    Langkah cepat vaksinasi di Jakarta ini memang patut diberikan jempol, walau setelah lebih 70% daerah lain jadi merasa kurang diperhatikan. Dan jawaban ini sebetulnya diberikan di fitur satu data vaksin. Banyak daerah tidak sigap dan siap. Mungkin jatah vaksin sekarang ini dianggap sama dengan antrian vaksin / imunisasi biasa, targetnya semua di vaksin, seharusnya semua cepat tervaksin.

    Akhirnya dengan mulai beraksinya varian delta setelah Iedul Adha, semua daerah kewalahan, dikejar cepat stok vaksin tidak ada, saat stok vaksin ada, kita tidak siap.

    Vaksinasi memang belum merata, Jakarta sebagai episentrum ekonomi dan juga kawasan Industri prioritas di utamakan, supaya variabel-variabel ekonomi bisa terus berjalan positif. Sebab itu indikator ekonomi membaik, walaupun ekonomi di masyarakat emput-emputan.

    Pesantren di pulau Jawa khususnya Jawa Timur yang pada awalnya banyak anti vaksin berhasil diyakinkan, bahkan tidak main-main sebulan lalu Kemenag sampai menjaga 8jt kedatangan vaksin di airport, dan setelah itu memang tancap gas.

    Daerah lain bagaimana, masih alon-alon kata orang jawa, masyarakat yang kurang partisipatif dan mungkin medan yang sulit. Terlihat masih ada area data yang hitam, artinya belum atau tidak ada stok vaksin disana.

    Mengaca pada Jakarta yang bahkan saat ini sudah lebih 100% vaksinasi pertama bahkan masih terus berjalan untuk siswa dan ibu hamil. Apa sih yang bisa dilakukan oleh daerah lain untuk mendapat tambahan stok vaksin dan mempercepat bangkit dari masalah pandemi, karena seperti yang kita tahu sebagian propinsi di Indonesia memiliki penerbangan dan perbatasan dengan dunia internasional.

    Jikapun Indonesia bisa dihapus dari travel warning, bisa jadi propinsi diluar pulau Jawa dan Bali masih akan lambat lagi untuk pulih.

    Satu data ini mungkin salah satu mekanisme yang dijadikan ukuran dan birokrasi.

    Sehingga cara paling efektif rasanya: suntik siapa saja asalkan stok vaksin bisa cepat habis.

    Libatkan semua dari dinas kesehatan, pendidikan, sekolah, hingga swasta. Semakin cepat habis, semakin cepat stok baru didatangkan. Dan semakin baik indikator pemulihan dan birokrasi yang menyertainya.

    Abaikan saja yang memang sengaja tidak tertib, mungkin memang dari awal begitu refleksi hidupnya, apa yang mau diharapkan.

    Justru ceruk-ceruk yang pasti seperti sekolah, pos pelayanan umum, pasar adalah tempat berkumpul massa setiap hari dan setiap saat. Mulai di tempat yang pasti, karena menunggu masyarakat datang pastinya akan sulit. Seperti Jakarta sekarang menunggu di stasiun MRT, Kereta Api, Airport dan kabarnya akan di Terminal Bis.

    Jika Kota Kabupaten di luar pulau Jawa ada yang bisa tembus ribuan perminggu, pastinya daerah lain juga bisa, tentunya selain faktor medan alam yang susah.

    Cepat dan tertib cuma itu kuncinya. Siapa paling bontot, artinya memang ya begitu adanya.

  • Wajah Ego

    Wajah Ego

    Ego diartikan dalam kamus sebagai persona, bisa juga kesadaran akan diri sendiri, ada juga yang mengartikan sebagai persepsi akal pikiran terhadap siapa kita, atau lebih menarik lagi disebut adalah sebagai jembatan persepsi antara diri seseorang dengan realita dunia.

    Pada saat pandemi dan kesulitan seperti ini kita sebetulnya melihat karakter masing-masing dari kita. Kita melihat dimana ego menempatkan kita pada realita yang kita hadapi sekarang, apakah muncul empati dan rasa berkontribusi atau justru sebaliknya.

    Mana yang sibuk dengan urusan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, mana yang sibuk berpartisipasi urusan orang banyak dan mana yang sibuk dengan urusan pribadi dan ego nya.

    Lihat para politisi, disaat pandemi ada yang meminta menjadi komisaris dan pembina, bukannya meringankan urusan justru menambah ribet situasi. Lihat juga pada yang bermental lemah, ada pandemi tidak tahan ada duit mengalir, padahal sepeser pun sudah ada alokasi bantuan yang terkunci.

    Sebetulnya disini kita dapat melihat, klaim-klaim simpati diuji dengan kondisi yang amal yang riil. Hari ini menjadi saksi siapa sebetulnya kita, apakah kita termasuk orang yang melakukan perbaikan atau kita termasuk perusak yang suka berbuat onar dan fasad.

    Toh pada akhirnya kita semua juga akan mati. Semoga kita yang sehat dijaga dari marabahaya, semoga kita yang sakit diberi kesembuhan, semoga diakhir zaman usia kita ini kita diberikan akhir yang baik, husnul khatimah.

  • Koruptor itu bernama Qarun

    Koruptor itu bernama Qarun

    Kerusakan Besar Yang Dicatat dalam Sejarah

    But seek the abode of the Hereafter in that which Allah hath given thee and neglect not thy portion of the world, and be thou kind even as Allah hath been kind to thee, and seek not corruption in the earth; lo! Allah loveth not corrupters, (Al-Qasas 28 : 77)

    Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qasas 28 : 77)

    Dua terjemah ini (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) menjadi penting untuk kita pahami bagaimana istilah korupsi yang diserap dari bahasa Inggris digunakan dalam meterjemahkan atau menafsirkan kata al-fasad di dalam Al-Quran sebagai kerusakan.

    Jika kita bertemu dengan Yahudi mereka akan merepek bercerita mengatakan nasib mereka yang kurang baik di dunia, didzalimi sejak masa Firaun, padahal masa itu mereka termasuk ramai orang beriman dan alim. Mereka tidak sebut kalau dikalangan mereka ada yang berbuat kerusakan dan mendzalimi bangsa mereka sendiri. Salah satu yang namanya diabadikan dalam Al-Quran adalah Qarun.

    Sampai saat ini kita pun melihat bagaimana cerita-cerita sedih menjadi bahasan yang menjadi pokok dari pembicaraan, dan kemudian menjadi legitimasi dalam pembenaran yang mereka lakukan. Kita belum lagi bicara tentang hukum dan normatif atau budaya. Mari kita bicara tentang apa yang diperbuat Qarun sehingga dikatakan berbuat kerusakan yang besar yang menghancurkan kaumnya yakni Yahudi.

    Qarun berkata dia kaya karena ilmunya. Hal ini dibantah oleh Allah dalam Al-Quran dalam rangkaian surat diatas, bahwa sudah banyak kaum yang lebih hebat dibinasakan, dan mereka lebih banyak mengumpulkan harta. Qarun ini juga disebutkan suka pamer kemudian menginspirasi dan memanasi orang lain untuk berbuat sepertinya, bahasa kitanya sekarang belagu, flexing  atau berlagak.

    Al-Quran mencatat kesalahan besar Qarun adalah berbuat kerusakan yang nyata, yang mungkin dari persepsinya bukan betul-betul kerusakan atau hanya sedikit. Bayangkan dari banyak sifat bani Israel yang sering disebut diantaranya suka cari celah keringanan, ada yang Allah sebutkan bahwa ada yang lebih parah dari sifat-sifat itu semua, dan Allah hukum Qarun supaya hal itu “berpandai-pandai” Qarun tidak menjadi pembenaran. Apa yang Qarun lakukan sebenarnya?

    Al-Quran juga mencatat Qarun adalah bagian dari kaum nabi Musa. Ya walaupun Qarun PNS nya firaun, Al-Quran memberikan klarifikasi walau dia PNS Qarun adalah bagian dari bani Israel. Pastinya ada maksud kenapa disebutkan bahwa kaya nya Qarun ini dijadikan isu oleh Allah (tidak wajar). Kita bisa bayangkan bangsanya saat itu tengah miskin dan didzalimi. Kemudian Qarun berkata ya saya kaya karena saya pandai. Apalah kepandaian Qarun ini hingga Al-Quran menuliskan banyak lagi orang yang lebih hebat dari Qarun, dan kenapa kerusakan yang diperbuat Qarun sangat fatal hingga perlu menjadi contoh bagi manusia hingga akhir zaman.

    Qarun dihukum bukan karena nabi Musa berdoa untuk diberi hukuman, ataupun kaumnya berdoa buruk kepadanya. Orang-orang alim dan shalih dari bani Israel justru mengingatkan “jadilah orang beriman, beramal shalih dan sabar”, untuk mengcounter demam jangan ikutin tuh si Qarun, ada cara lain menjadi kaya, yakni bersabar.

    Kira-kira cerita Qarun diatas serupa dengan banyaknya cerita yang datang kepada kita tentang bagaimana menjadi kaya karena “berpandai-pandai” seperti Qarun kemudian sombong selangit. Allah benamkan dia kedalam bumi, walaupun pada saat itu banyak orang bercita-cita mengikut jejak Qarun, walaupun saat itu tidak banyak orang berdoa karena didzalimi olehnya.

    Dan sifat Qarun saat itu hanya kecil menurutnya, yakni berbuat kerusakan (fasad), yang sebagian kita pun melihatnya sebagai “berpandai-pandai” dan hanya berakibat kecil. Dalam bahasa kekinian yang dilakukan oleh Qarun kita kenal dengan istilah korupsi. Al-Quran menyebutkan kerusakan Qarun mengenai harta yang dia miliki, dan memberikan kerusakan yang nyata di dalam masyarakat. Dan kerusakan itu masih kita akan jumpai ketika dibahas dalam kisah nabi Musa berikutnya bagaimana kaumnya seolah-olah tidak bisa diatur dan tidak bisa mengikuti aturan, sedikit kesempatan menghasilkan kerusakan dimana-mana.

    Kisah Qarun adalah gambaran nyata bagaimana kerusakan non-fisik adalah isu serius yang dibahas oleh Allah. Kerusakan yang merusak sendi-sendi keteraturan dalam masyarakat, dan semua itu diakibatkan oleh korupsi. Itulah harta Qarun yang dibenamkan oleh Allah, harta Korupsi yang jumlahnya sangat besar. Semoga kita dijauhkan mencari harta dengan “berpandai-pandai” kemudian sombong ini hasil kerja keras (kerja cerdas) seperti Qarun.

    Wallahu’alam

    Diterbitkan juga di: https://insancendekia.org/khazanah/notes/koruptor-itu-bernama-qarun

  • Refleksi Moderasi Kaum Muda

    Refleksi Moderasi Kaum Muda

    Foto: Lembaga Hikmah – Hamka. Cetakan ke-4 (1966).

    Salah satu masalah besar kita sebagai pembelajar adalah memframing karya dan pendapat orang lain dengan narasi sendiri. Jika sudah terjadi seperti itu, lebih tepat framing ataupun narasi tersebut diakui sebagai buah tangannya, dan pikiran orang yang disebutnya adalah referensi. Hal ini lebih membantu dalam membangun apa yang disebut oleh akademisi kontribusi pada keilmuan.

    Seperti contohnya tulisan ini berharap dapat menstimulus dan dicarikan bahasanya dalam bahasa yang lebih intelek oleh kawan-kawan akademisi yang membaca disini. Mengemasnya dalam framework yang lebih solid dan akhirnya secara kolektif partisipatif memberikan kontribusi secara estafet pada peradaban. Tentu tidak semudah itu, tapi patut diharap dan dicoba.

    Salah satu ibrah dalam belajar dengan membaca adalah dengan mencoba menyelami cara berfikir, metodologi, narasi dan tujuan yang ingin disampaikan penulis. Bahasa dan alat apalagi tren kontekstual menjadi hambatan tersendiri, yang akhirnya sengaja atau tidak disengaja, maksud yang ingin disampaikan terdistorsi.

    Mungkin cara seperti ini dapat disebut “high orders thinking skill”.

    Menariknya disinilah peran berikutnya para pembelajar, bukan untuk meluruskan, tetapi melanjutkan membangun bangunan dari pondasi-pondasi yang sudah dimulai sebelumnya.

    Menarik dalam buku Hamka adalah cara bahasa dan alur yang disampaikan, pendekatan naratif orang pertama dan kedua, ataupun seperti salinan khutbah menjadikan buku ini seolah hidup berkomunikasi dengan pembaca.

    Walaupun pernah dikatakan wahabi dan tundingan khas identik dengan persekusi (bullying) karena berbeda, banyak karya Hamka sebetulnya hemat dalil, salah satu corak khas pemikiran kaum muda. Corak lain yang menonjol adalah persoalan moderasi, baik antara sains dan agama, akal dan dalil, aqli dan naqli, hujjah dan konteks, juga persoalan membangun harapan untuk masa depan.

    Taufik Abdullah menyebutkan Hamka sebagai generasi kedua pergerakan kaum muda. Tapi lebih tepatnya Hamka adalah generasi ketiga, karena beliau diajar oleh generasi kedua bukan oleh Ayahnya sendiri.

    Generasi pertama kaum muda, masih meninggalkan khazanah luar biasa yang menjadi pondasi muslim moderat di Indonesia. Diantara mereka sekawan adalah KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, Haji Abdul Karim Amrullah, Syekh Abbas Abdullah, A. Hasan, dan banyak lagi. Belum lagi mereka yang ada dibelahan Nusantara lain, seperti Singapura dan Malaysia.

    Karya moderasi mereka menjadikan mereka dikatakan sebagai pembaharu oleh murid-muridnya, dan tidak jarang eksklusifitas menjadikan murid-murid ini secara emosional tidak sengaja membanding-bandingkan. Mereka meninggalkan murid-murid yang juga mampu menjaga corak moderasi ini di zaman berikutnya. Ada Muhammadiyah, ada NU, ada Gontor, ada Diniyah School sebagai generasi kedua, dan banyak lainnya.

    Sehingga pantas saat ini, kita merasa kehilangan ahli-ahli moderasi ini. Ditengah kegalauan dan framing konflik beragama saat ini, dimasa kita kehilangan keberpihakan atas kultur keagamaan, apakah berharap pada murid-murid mereka yang mungkin sudah mencapai generasi kelima untuk memulai kembali dan mencoba inklusif sedikit berlebihan? Mereka harus muncul dan dimunculkan sekarang untuk meneruskan perjuangan bukan justru menjadi antitesis guru-gurunya.

    diterbitkan di: https://insancendekia.org/khazanah/notes/refleksi-moderasi-kaum-muda

  • Refleksi 100 tahun Pembaharuan Kaum Muda: Membangun Muslim Moderat di Indonesia 1920-2020

    Refleksi 100 tahun Pembaharuan Kaum Muda: Membangun Muslim Moderat di Indonesia 1920-2020

    Author:
    Abdullah A Afifi

    Abstract:
    Pembaharuan Kaum Muda sejak 1920 yang berfokus pada moderasi keilmuan dan juga lintas sektor telah memberikan satu khazanah pembangunan pemikiran Muslim Indonesia yang Moderat. Kaum Muda yang identik dengan gagasan-gagasan progresifnya telah menjadi tulang punggung revolusi Indonesia juga pembangunan fundamental sumber daya manusia yang unggul. Kaum muda ini diwakili oleh tokoh-tokoh dari Sumatera Thawalib, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan banyak lainnya. Kodifikasi perguruan-perguruan progresif ini menjadi cikal bakal Madrasah modern di Indonesia.

    Conference:
    Lokakarya MDGN: Masukan Untuk RPJMD (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Pendidikan Sumatera Barat 2021-2026

  • Understanding True Religion as Ethical Knowledge

    Understanding True Religion as Ethical Knowledge

    Author:
    Abdullah A Afifi

    Abstract:
    Hatred, extremism, terrorism and islamophobia become challenges for religion nowadays. The weight of this issue burdens the understanding of society about religion. Either to be a secular atheist or alienated religious extremist are not an appropriate solution. Alternatively, an approach needed to define religion as the source of ethical knowledge and facilitated the construction of new tolerance that not exclude the religion from people’s affair. This paper discusses the true religion and how they construct ethical knowledge used for the development of civilization.

    Jurnal:
    AL-IMAM Vol 2 (2021)
    5 Februari 2021

  • Genetik Wakaf

    Genetik Wakaf

    * penulis adalah peneliti Wakaf di Graduate School of Business, Universiti Kebangsaan Malaysia. dan pengurus Wakaf Darulfunun 1854.

    Timur Kuran, seorang akademisi keturunan Turki di Amerika menyebutkan dalam makalahnya bahwa ada dua warisan peradaban Islam yang sangat menentukan (crucial) terhadap perkembangan ekonomi di dunia. Keduanya adalah wakaf dan qard’ (perjanjian muamalah). Secara bahasa Wakaf berarti berhenti, menahan atau diam. Di dalam syar’i kurang lebih wakaf dapat dipahami sebagai melepaskan kepemilikan harta benda (dikembalikan kepada Allah) dan dipergunakan untuk kebaikan dan hal bermanfaat sesuai dengan ikrar akad.

    Qard sendiri dibahas dalam Al-Quranul Karim, yang secara umum dipahami berkaitan tentang Qard Al-Hasan. Qardh Hasan berarti pinjaman yang baik disisi Allah, dalam hal ini adalah secara umum kebaikan yang dilakukan dengan niat mengharap ridha Allah. Dalam praktiknya Qard Hasan ini berbentuk pinjaman lunak tanpa pembagian keuntungan. Pada perkembangannya qard ini berkembang menjadi pinjaman atau penyertaan modal dengan bersandar pada saling percaya diantara kelompok. Qard yang berkembangkan tentunya disandarkan pada fikih perjanjian diantara dua orang harus dituliskan dalam kertas dan dihadirkan dengan dua orang saksi. Sesuatu yang asing bagi dunia Eropa pada saat itu.

    Praktik ini pun berkembang pola kerjasama meminjamkan modal dan berserikat pun berkembang, banyak kelompok-kelompok dagang di Eropa berkembang bermodal kepada surat perjanjian. Surat perjanjian ini pun berkembang sebagai surat hutang dikenal dengan istilah letter of credit, yang diambil dari istilah credo atau qard. Hingga ini perkembangan perjanjian muamalah ekonomi sudah sedemikian kompleks bermodalkan surat berharga tersebut. Hal revolusioner yang merubah dunia menjadi beradap. Walaupun beberapa catatan juga perlu diperhatikan mengingat banyaknya penipuan (frauds) dengan memanfaatkan kepercayaan.

    Warisan yang penting bagi dunia lainnya adalah konsep wakaf. Seiring dengan dimulainya deklarasi wakaf secara publik oleh Nabi Muhammad SAW terhadap tanah Khaibar milik Umar bin Khattab RA, hingga kini konsep-konsep wakaf terus bergulir dengan berbagai variasi dan khilaf berdasarkan konteks waktu dan lokasi.

    Pada umumnya banyak kerajaan dan dinasti Islam membatasi kepemilikan wakaf dan penguasaan wilayah diluar kepemilikan harta secara pribadi, konsep yang saat ini nampak tidak berkembang. Saat ini kepemilikan dan penguasaan wilayah adalah satu hal yang terikat satu sama lain, dan tidak ada konsep alternatif tentang masalah kepemilikan dan penguasaan. Hal yang secara umum diberlakukan di Kerajaan dan dunia Barat. Konsep primordial yang dahulu belum beradab yang mengenal istilah perbudakan dan kasta. Kerajaan di Eropa memiliki dan menguasai wilayah secara bersamaan, konsep yang akhirnya diadopsi oleh negara didunia terhadap batas-batas negara.

    Didalam UUD 1945 disebutkan bahwa negara menguasai bumi, air dan kekayaan alam, kata-kata “menguasai” sangat mewakili bahwa negara adalah konsep Qard yang kompleks yang disebutkan kembali oleh Muhammadiyah dalam istilah Darul Ahdi wa Syahadah, negara yang disepakati ada yang warganya berjanji untuk mengadakannya. Konsep negara menguasai bukan memiliki juga ditekankan oleh Undang-Undang sebagai indikasi pengakuan terhadap adanya dasar kepemilikan Individu, Kelompok, Adat dan sebagainya. Pernyataan UUD ini juga mengindikasikan bahwa negara mengedepankan bukti empiris/riil/kolektif yang ada baik sebelum negara ini wujud ataupun ketika negara sudah wujud setelah 1945, sebagai bukti asas (utama) kepemilikan. Frase menguasai adalah Negara dapat membicarakan jika diperlukan untuk kepentingan orang banyak dengan cara yang baik tanpa mengurangi hak pemilik tersebut.

    Konsep negara yang disebut oleh akademisi sebagai negara modern yang belum wujud hingga abad 19 adalah satu konsep yang diilhami oleh konsep-konsep peradaban sebelumnya yang membatasi kepemilikan dan penguasaan ini. Perkembangan konsep negara ini yang mengilhami konsep negara demokrasi ataupun sosialis, yang pada dasarnya adalah merebut hak penguasaan dan kepemilikan dari monarki kepada orang banyak.

    Konsep wakaf sendiri juga mengilhami adanya konsep endowment dan trust di dunia Barat. Endowment adalah satu konsep bentuk pengelolaan aset untuk kepentingan publik, sedang trust adalah konsep pengelolaan kapital untuk kepentingan publik. Baik endowment maupun trust dalam praktiknya tidak jauh berbeda, dan mendapat keringan berupa keringanan tidak membayar pajak.

    Jika secara konsep wakaf adalah memberhentikan kepemilikan, tentu menjadi timpang jika tiada kepemilikan. Sebab itu didalam Islam konsep wakaf adalah memberhentikan kepemilikan individu dan mengembalikannya kepada Allah dijelaskan secara praktis dan syariah oleh fuqaha dengan mewajibkan pemberhentian kepemilikan ini harus menunjukkan ataupun menyerahkannya dalam ikrar akad wakaf kepada seseorang ataupun lembaga yang disebut nadzir (pemegang amanah) sesuai dengan ikrar akad wakaf ini dengan niat mengharap ridha Allah.

    Genetik wakaf yang sudah berkembang ini sudah terintegrasi dalam ajaran Islam, beserta kekayaan-kekayaan alternatif model khilafiyah yang bisa diadaptasi sesuai dengan problematikanya. Walaupun secara syariah wakaf ini bukan merupakan rukun dalam berislam. Pengelolaan harta umat secara kolektif harus disandarkan kepada konsep wakaf, dan ini dengan adanya negara sebetulnya sudah terselesaikan. Lembaga besar yang menaungi kepentingan itu adalah negara. Cerita-cerita dahulu tentang bagaimana gedung dihibahkan, jalan dihibahkan, tanah dihibahkan atau ditukar guling menjadi aset negara adalah genetik wakaf yang sudah mendarah daging dengan sejarah Indonsia. Inilah genetik wakaf di dalam cara berislam kita di Nusantara, dan ini yang harus terus dikembangkan kedepannya.

    Didalam masyarakat genetik wakaf ini juga berkembang didalam banyak bentuk salah satunya adalah di perihal tanah ulayat dan tanah adat. Kaum Muda Sumatera Thawalib, Syekh Abbas Abdullah, Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Ibrahim Musa juga pernah menyuarakan pembaharuan dalam memahami konsep tanah adat ini supaya sejalan dengan pemahaman kita berislam dan juga yang terpenting adalah meletakkan pada kondisi optimalnya untuk memberi kebaikan. Periode setelahnya HAMKA juga mengulang kembali bagaimana memperlakukan harta adat sebagai harta wakaf, yang disayangkan sampai sekarang kita belum melihat ada perubahan pemahaman secara signifikan.

    Dimasa kini kritik internal dan kerisauan Kaum Muda itu terbukti. Kritik ini perlu kita lanjutkan dimasa kini. Berapa banyak disetiap generasi kita yang menyaksikan harta adat telah terbagi-bagi berdasarkan perut (garis ibu). Berapa banyak harta wakaf yang masih teronggok dan dari segi kuantitas bisa dikonversi menjadi harta produktif? Ini harus menjadi perhatian ninik mamak sekalian, terlebih mereka yang ‘alim.

    Konsep Wakaf adalah konsep terdepan dan paling maju yang mengatur tentang penguasaan dan kepemilikan yang bisa dimanfaatkan untuk orang banyak. Hal ini juga seiring peradaban manusia yang terus berkembang hingga mencapai kematangan dan keidealan yang memberi manfaat yang optimal. Pengoptimalan wakaf dapat digunakan untuk keperluan-keperluan publik seperti, pendidikan dan juga kesehatan.

    Adalah keharusan bagi para penggiat pembaharuan untuk mengidentifikasi genetik wakaf yang ada, kemudian membangun pengelolaan yang berkemajuan dan mengoptimalkannya sesuai dengan ikrar akad keperluannya untuk kemaslahatan orang banyak.

    Dipublikasikan juga di: https://insancendekia.org/khazanah/notes/genetik-wakaf

  • Menggerakkan Petani – Rural Development & Agricultural Sustainability on Circular Economic with TDR IMDI

    Menggerakkan Petani – Rural Development & Agricultural Sustainability on Circular Economic with TDR IMDI

    Penulis:
    Abdullah A Afifi

    Abstract

    This presentation is about the method used for rural economic development based on Technology-driven Resources (TDR) and Industrial Maturity Development Index (IMDI).

    Event:
    IAIC Smart Farming Community – 24 Oktober 2020

  • Menghadapi New Normal – Indonesia Resesi

    Menghadapi New Normal – Indonesia Resesi

    Situasi yang sudah di prediksi oleh banyak ahli, akhirnya secara formal di umumkan oleh pemerintah.

    Perlu dipahami dimasa resesi ini semua mencoba bertahan hidup, walaupun begitu dengan banyak pertimbangan, semua mencoba bertahan untuk tidak terpuruk terlalu jauh.

    Pada umumnya akan ada PHK secara massal menyusul penutupan bisnis dan usaha.

    Berikut beberapa saran dan prediksi dilakukan oleh bisnis dalam kondisi new normal

    1. untuk beberapa institusi yang dinamis, akan mencoba adaptasi dengan strategi-strategi, dari memutar-mutar target dan KPI hingga melakukan effisiensi pengeluaran.
    2. untuk sebagian institusi yang kesulitan beradaptasi akan langsung menghadapi pemotongan karyawan, khususnya jika merasa hal tersebut tidak lagi memberikan keuntungan secara langsung, visi dan misi akan dikesamping untuk bertahan.
    3. bubar total, untuk institusi yang mengandalkan pemodalan menggunakan pendanaan pihak ketiga, maka momen saat ini akan sangat sulit, kecuali dapat dilakukan peninjauan ulang perjanjian, karena pada umumnya perjanjian investasi yang tidak dilakukan dengan bagi hasil, baik mudharabah ataupun musyarakah tidak mengakomodir dinamisasi kondisi lingkungan bisnis.

    Beberapa tips yang dapat disarankan untuk bertahan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing kurang lebihnya:

    1. rapikan streamlined bisnis, potong semua aktivitas dan pengeluaran yang melebar tidak sesuai core dari bisnis, lakukan dengan tegas dan cepat.
    2. pertahankan SDM yang mampu memahami kondisi institusi dan bagaimana perannya dapat membantu
    3. jaga kondisi maturity dari bisnis, jika mundur jangan mundur terlalu jauh, supaya bisa mengambil ancang-ancang untuk bangkit setelah krisis berakhir.
    4. yang suka ditinggalkan oleh bisnis khususnya SME adalah membuat simulasi dan proyeksi, maka baik juga mengindetifikasi variabel bisnis kemudian melakukan simulasi secara simultan setiap waktunya.
    5. setelah cukup berikhtiar, kemudian berdoa, semoga Allah berikan jalan keluar.. Doa pemimpin untuk rakyatnya, seperti doa pemimpin institusi untuk pegawainya adalah salah satu doa mustajab selain doa orang yang teraniaya.

    semoga bermanfaat…

    Referensi:

  • Periode Perkembangan Darulfunun El-Abbasiyah 1854-2020

    Periode Perkembangan Darulfunun El-Abbasiyah 1854-2020

    Penulis:
    Abdullah A Afifi, Afifi Fauzi Abbas

    Abstrak

    Perjalanan jauh Darulfunun dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam di Indonesia hampir memasuki dua abad. Dari awal pengembangannya Darulfunun melewati berbagai macam keadaan dalam mengembangkan pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat. Perhatian Darulfunun dalam mengembangan pendidikan Islam di Indonesia telah teruji dalam perjalanan panjang dan inovasi yang dibagi dengan pengembangan pendidikan Islam modern di Indonesia pada hari ini. Darulfunun merintis konsep pendidikan yang memoderasi pendidikan sains dan agama sebagai satu keilmuan yang terintegrasi. Selain itu Darulfunun mereformasi pendidikan halaqah menjadi pendidikan dengan sistem kelas yang memiliki kurikulum. Dalam perkembangannya corak pemikiran dan metode yang dikembangkan Darulfunun telah memberikan khazanah bagi pengembangan pendidikan dan pemikiran Islam di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan periode-periode pengembangan Darulfunun dengan ciri khas dari setiap periodenya. Setiap periode dijelaskan dengan mengangkat peristiwa-peristiwa yang menjadi tahapan penting dan berbeda dari periode lainnya. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan inovasi dan pengembangan yang dilakukan di Darulfunun sebagian besarnya adalah upaya untuk menyesuaikan dengan tantangan zaman dan berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah sosial masyarakat.

    Abstract

    Darulfunun’s long journey in the world of education, especially in Islamic education in Indonesia nearly entered two centuries. From it starts, Darulfunun already persevered through varieties of circumstances in serving education for benefiting the society. Darulfunun concern in developing Islamic education already tested in their long journey and innovations that they share with Indonesia modern Islamic education today. Darulfunun established the moderated education concept that combines sciences and religion as one integrated knowledge. In addition, Darulfunun reformed the non-curriculum halaqah education into the classroom education curriculum. In its transformation, the thought and methods promoted by Darulfunun are genuinely become a treasure for education society and Islamic thought in Indonesia. This article aims to outline the development periods of Darulfunun with the specific characteristics of each period. Each period is explored by the important events and changes that make it different from other periods. From the observations, it can be presumed that innovation and development carried out by Darulfunun is a significant effort to adjust to the global challenges and participate in solving problems in society.

    Jurnal:
    AL-IMAM Vol 1 (2020)
    21 Juli 2020