Category: Insight

  • Emansipasi Kartini dan Pendidikan bagi Kaum Marginal

    Emansipasi Kartini dan Pendidikan bagi Kaum Marginal

    Kartini tidak hanya dikenal sebagai pionir emansipasi perempuan di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu sosok yang menghubungkan gagasan pendidikan Barat dengan nilai-nilai keislaman tradisional. Salah satu interaksi penting yang membentuk pandangannya adalah hubungannya dengan KH Sholeh Darat. Melalui dialog dengan Kyai Sholeh, Kartini mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana pendidikan dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman, yang kemudian memperkuat semangatnya dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan untuk kaum marginal, khususnya perempuan.

    Sebuah gambaran umum tentang kemajuan signifikan pendidikan yang telah dicapai oleh Indonesia adalah dalam memberikan akses pendidikan untuk semua gender. Dari program wajib belajar yang mencakup sekolah dasar hingga sekolah menengah, Indonesia telah melihat peningkatan dalam literasi dan akses pendidikan formal. UNESCO mencatat bahwa partisipasi sekolah di Indonesia nyaris mencapai angka universal untuk pendidikan dasar dan menengah.

    Meskipun demikian, di daerah pedesaan dan di kelompok adat, masih sering menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan berkualitas. Kaum perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki, mereka lebih sering mengalami kesulitan yang disebabkan oleh faktor geografis, ekonomi, dan sosial-kultural. Terlebih lagi di daerah rural dan terpencil, jika masyarakat daerah memiliki partisipasi pendidikan yang rendah, apalagi tingkat partisipasi untuk kaum marginal, khususnya perempuan.

    Akan tetapi kesuksesan akses pendidikan tersbeut masih memiliki kendala pada transisi dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi yang menampilkan kesenjangan yang lebih mencolok, khususnya bagi perempuan dari kelompok marginal. Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa terdapat disparitas gender yang signifikan dalam akses ke pendidikan tinggi. Faktor ekonomi, norma sosial yang mendukung patriarki, dan keterbatasan informasi tentang pendidikan tinggi adalah beberapa hambatan utama yang mempengaruhi partisipasi perempuan.

    Banyak perempuan terpaksa menunda atau membatalkan rencana pendidikan tinggi karena alasan ekonomi atau tanggung jawab sosial, seperti pernikahan dini atau harus merawat anggota keluarga. Hal ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk memastikan kesetaraan dalam akses pendidikan tinggi.

    Wawasan Kartini tidak lepas dari pengaruh KH Sholeh Darat, yang dikenal sebagai salah satu tokoh pembaruan Islam di Jawa. Melalui korespondensi dan diskusi, Kartini menyerap banyak pelajaran tentang bagaimana pendidikan Islam dan pemikiran keagamaan bisa berkontribusi terhadap emansipasi sosial, khususnya bagi perempuan. Mbah Sholeh memberikan perspektif yang membantu Kartini menggabungkan idealisme barat dengan nilai-nilai keislaman, memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan harus dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, termasuk perempuan dan seluruh kelompok marginal tanpa terkecuali.

    Untuk mengatasi ketimpangan ini, pemerintah dan berbagai NGO swasta perlu lebih sigap dalam inisiatif untuk memperluas akses dan kualitas pendidikan kaum marginal, termasuk beasiswa khusus dan program pendidikan keuangan ataupun yang menstimulus kemandirian. Kesadaran akan pentingnya pendidikan yang setara juga perlu didorong melalui kampanye dan program pemberdayaan di pedesaan dan daerah terpencil.

    Ide dan semangat emansisipasi Kartini dan juga tokoh penggerak perempuan lainnya masih terus digaungkan setiap tahunnya. Ide-ide tentang kesetaraan akses pendidikan terus menginspirasi perjuangan untuk pendidikan kaum marginal di Indonesia. Pendidikan yang berkualitas yang inklusif, yang menggabungkan nilai-nilai keislaman dan modernitas, adalah kunci untuk mencapai kesetaraan dan pemberdayaan yang adil dan merata. Peringatan Kartini setiap tahun mengingatkan kita terus pada kebutuhan akan pendidikan yang merata dan adil, sebuah impian yang masih terus diupayakan dan menjadi tugas kita semua di Indonesia.

  • Religious Moderation: Countering Islamophobia Through Social Media Revitalization

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    Islamophobia has recently become more prevalent, both in the West and in Muslim nations. Social media contributes to the dissemination of anti-Islamic material. Religious moderation needs to find a way to moderate arising issues in society to avoid extremism, especially Islamophobia. This essay will look at ways to rejuvenate social media in an effort to combat Islamophobia. Using a qualitative methodology and analytical descriptive approaches, the core reasons for Islamophobia’s growth and the ability of social media to combat it are investigated. According to the study’s findings, Islamophobia is mostly caused by a misunderstanding of Islam and Muslim culture. Social media, when utilized wisely, has the ability to serve as a tool for public education about Islam, recovering its image as a religion of peace and salvation. The strategies that can be implemented include being moderate, critical, and responsive to Islamophobic content and educating about the wise use of social media. Active participation from all elements of society is needed to revitalize the role of social media in countering the negative impacts of Islamophobia and creating a better understanding in the middle of the community.

  • Moderasi Beragama: Menangkal Islamophobia Melalui Revitalisasi Media Sosial

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    Islamophobia has recently become more prevalent, both in the West and in Muslim nations. Social media contributes to the dissemination of anti-Islamic material. Religious moderation needs to find a way to moderate arising issues in society to avoid extremism, especially Islamophobia. This essay will look at ways to rejuvenate social media in an effort to combat Islamophobia. Using a qualitative methodology and analytical descriptive approaches, the core reasons for Islamophobia’s growth and the ability of social media to combat it are investigated. According to the study’s findings, Islamophobia is mostly caused by a misunderstanding of Islam and Muslim culture. Social media, when utilized wisely, has the ability to serve as a tool for public education about Islam, recovering its image as a religion of peace and salvation. The strategies that can be implemented include being moderate, critical, and responsive to Islamophobic content and educating about the wise use of social media. Active participation from all elements of society is needed to revitalize the role of social media in countering the negative impacts of Islamophobia and creating a better understanding in the middle of the community.

  • Trade Transformation In The Digital Era: Agency Role, Opportunities And Challenges

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    The evolution of trade dynamics in the digital age has brought forth a landscape filled with both opportunities and challenges. This study delves into the realm of trade transformation within the context of the digital era, employing the theoretical framework presented by Anthony Giddens. Giddens’ concepts surrounding modernity, the structure of society, and the role of agents in shaping modern-day interactions serve as the lens through which this analysis navigates the multifaceted landscape of contemporary trade. This study investigates how digital advancements have reshaped trade mechanisms, revealing a landscape marked by significant opportunities for growth alongside challenges stemming from rapid technological change. Through the description of the opportunities presented by digital technologies, as well as the obstacles they introduce, the study provides insights into the dual nature of trade evolution in the digital era. It emphasizes the need for a nuanced understanding of how digital tools and platforms are integrated into trade activities, and how these integrations affect both the opportunities available for economic expansion and the challenges of adapting to a swiftly transforming commerce ecosystem. By examining the interplay between digital advancements and trade mechanisms, this research sheds light on the intricate balance between opportunities for growth and the challenges posed by rapid technological evolution, offering insights crucial for navigating the complexities of today’s global trade environment.

  • Peningkatan Literasi Membaca Al-Quran Siswa Pemula Melalui Program Tilawah di Pondok Pesantren Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah

    » Journal of Regional Development and Technology Initiatives

    As a center for learning about the Islamic religion, Pondok Pesantren is the best place to read and study the Quran, which is the main source and reference for Muslim behaviour. However, not all beginners who study religious knowledge at Pondok Pesantren have the ability and fluency to read the Quran. The location of this research is at the Pondok Pesantren Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah, Limapuluh Kota Regency. This research is a report on the implementation of increasing Quran reading literacy with a recitation program for early students at the Tsanawiyah or Aliyah formal education level. Research on the implementation of this recitation program uses the DOE method, also using observation, interview and continuous evaluation techniques. Implementation is evaluated repeatedly against the targets achieved by students in each semester. The results of the implementation of this program show that the implementation of the recitation program is considered effective in increasing students’ Quran reading literacy. This is because the application of the recitation program is very appropriate as an effort to speed up the fluency of reading the al-Quran for students who experience delays in reading the Al-Quran. This report is useful for the institution in particular and the development of Al-Quran reading skills for the entire community in general.

  • Improving Quran Reading Literacy for Beginner Students Through the Tilawah Program at Pondok Pesantren Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah

    » Journal of Regional Development and Technology Initiatives

    As a center for learning about the Islamic religion, Pondok Pesantren is the best place to read and study the Quran, which is the main source and reference for Muslim behaviour. However, not all beginners who study religious knowledge at Pondok Pesantren have the ability and fluency to read the Quran. The location of this research is at the Pondok Pesantren Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah, Limapuluh Kota Regency. This research is a report on the implementation of increasing Quran reading literacy with a recitation program for early students at the Tsanawiyah or Aliyah formal education level. Research on the implementation of this recitation program uses the DOE method, also using observation, interview and continuous evaluation techniques. Implementation is evaluated repeatedly against the targets achieved by students in each semester. The results of the implementation of this program show that the implementation of the recitation program is considered effective in increasing students’ Quran reading literacy. This is because the application of the recitation program is very appropriate as an effort to speed up the fluency of reading the al-Quran for students who experience delays in reading the Al-Quran. This report is useful for the institution in particular and the development of Al-Quran reading skills for the entire community in general.

  • Penerapan Sistem Absensi ID Card RFID Terhadap Perhitungan Honorarium, Kedisiplinan Pegawai dan Peningkatan Kualitas di Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah

    » Journal of Regional Development and Technology Initiatives

    This research discusses the implementation of the RFID ID Card attendance system in the context of salary management and teacher and employee discipline at Darulfunun El-Abbasiyah College. The main objective of this research is to identify how the application of RFID ID Card technology in an attendance system can influence salary management and the level of discipline among teachers and employees in an institution or organization. The research method used is a descriptive method with a case study approach, then analyzed qualitatively to describe the impact of implementing the RFID ID Card attendance system on salary management and discipline. The results of this research show that the implementation of the RFID ID Card attendance system has several significant impacts. First, in terms of salary management, this system allows more accurate salary calculations based on real absences, reduces calculation errors, and minimizes the potential for system abuse. Second, regarding discipline, this system tends to increase the discipline of teachers and employees because their attendance is recorded accurately. This can also reduce the tendency to be late or absent from work for no apparent reason. Although implementing an RFID ID Card attendance system provides various benefits, this research also identified several challenges. The main challenges include the need for adequate training for system users, regular maintenance of RFID ID Card technology, and the importance of maintaining the privacy and security of user data. Overall, this research concludes that implementing an RFID ID Card attendance system can have a positive impact on salary management, discipline of employees, and quality improvement. However, successful implementation depends on a good understanding of this technology, adequate training, and appropriate actions to overcome challenges that may arise.

  • Implementation of RFID ID Card Attendance System for Honorarium Calculation, Employee Discipline and Quality Improvement at Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah

    » Journal of Regional Development and Technology Initiatives

    This research discusses the implementation of the RFID ID Card attendance system in the context of salary management and teacher and employee discipline at Darulfunun El-Abbasiyah College. The main objective of this research is to identify how the application of RFID ID Card technology in an attendance system can influence salary management and the level of discipline among teachers and employees in an institution or organization. The research method used is a descriptive method with a case study approach, then analyzed qualitatively to describe the impact of implementing the RFID ID Card attendance system on salary management and discipline. The results of this research show that the implementation of the RFID ID Card attendance system has several significant impacts. First, in terms of salary management, this system allows more accurate salary calculations based on real absences, reduces calculation errors, and minimizes the potential for system abuse. Second, regarding discipline, this system tends to increase the discipline of teachers and employees because their attendance is recorded accurately. This can also reduce the tendency to be late or absent from work for no apparent reason. Although implementing an RFID ID Card attendance system provides various benefits, this research also identified several challenges. The main challenges include the need for adequate training for system users, regular maintenance of RFID ID Card technology, and the importance of maintaining the privacy and security of user data. Overall, this research concludes that implementing an RFID ID Card attendance system can have a positive impact on salary management, discipline of employees, and quality improvement. However, successful implementation depends on a good understanding of this technology, adequate training, and appropriate actions to overcome challenges that may arise.

  • Analisis Kata Serapan Bahasa Arab Dalam Tindak Tutur Masyarakat Melayu Bengkalis

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    This study aims to analyse the absorption of Arabic words in the speech acts of the Malay community in Bengkalis. The research method used is qualitative with a descriptive-analytical approach. Data were collected through interviews, and observations and then analysed using content analysis techniques. The results showed that Arabic absorption words have a significant role in the speech acts of the Bengkalis Malay community. The use of these absorption words reflects the influence of Arabic culture in the daily life and communication of the local community. In addition, Arabic absorption words also enrich the vocabulary and linguistic expressions in the daily language of the Bengkalis Malay community. This research provides an in-depth understanding of the dynamics of the use of Arabic words in the language and culture of the Bengkalis Malay community. The implications of these findings can be an important contribution to the study of linguistics, language anthropology, and cultural studies, as well as provide a foundation for the preservation and development of cultural and linguistic heritage in this region.

  • Mirza Ghalib dan Sir Syed: Proses Kelahiran Seorang Cendekiawan

    Mirza Ghalib dan Sir Syed: Proses Kelahiran Seorang Cendekiawan

    Kisah Sir Syed Ahmad Khan sebagai pakar pendidikan dan aktivis terpatri dalam sejarah melalui keberhasilan Aligarh Muslim University yang terkenal. Baru-baru ini, universitas ini dijuluki sebagai salah satu lembaga pendidikan terbaik di India. Meski begitu, ada kisah menarik di balik pembentukan seorang cendekiawan, intelektual, bahkan aktivis yang jarang terdengar.

    Kita di Indonesia mungkin ngga familiar dengan namanya. Perlu dicatat, beliau satu dari segelintir orang muslim yang punya gelar “Sir” di tahun 1800-an. Tokoh yang dihormati di Kerajaan Inggris sana.

    Pada tahun 1855, setelah menyelesaikan edisi buku Abul Fazal’s Ain-e-Akbari yang diteliti dengan baik, ilmiah, dan diilustrasikan dengan apik; Sir Syed Ahmad Khan yang berusia 38 tahun mendekati tokoh sastra terkenal Delhi, Mirza Ghalib yang sudah berusia 58 tahun. Beliau minta ‘Taqriz’ untuk karyanya yang bertema sastra dan sejarah.

    Mirza Ghalib setuju, tapi yang dia hasilkan adalah puisi Persia pendek yang justru mengkritik Ai’n-e Akbari, dan secara tersirat, budaya Mughal yang megah, berpengetahuan tinggi, dan berpendidikan – dari mana karya itu berasal.

    Paling tidak bisa dikatakan bahwa buku itu -menurut Mirza- cuma memiliki sedikit nilai, bahkan sebagai dokumen antik. Ngga penting ini barang, gitu lah.

    Ghalib seolah menegur Sir Syed Ahmad Khan karena menyia-nyiakan bakat dan waktunya pada hal-hal yang sudah mati. Lebih parahnya, dia memuji setinggi langit “sahibs of England” yang pada saat itu menguasai segala kunci untuk segala kunci di dunia ini. Ingat, Inggris saat itu, yang ngasih beliau gelar, adalah penguasa separo dunia.

    Puisinya tak terduga, tapi muncul pada saat pikiran dan perasaan Sir Syed Ahmad Khan sendiri cenderung berubah. Ghalib tampaknya tahu betul tentang perubahan dunia yang disponsori oleh Eropa/Inggris, terutama di politik India. Meskipun Sir Syed Ahmad mungkin tersinggung dengan teguran Ghalib, dia juga menyadari bahwa pemahaman Ghalib terhadap situasi, meski kurang halus, pada dasarnya akurat.

    Sir Syed Ahmad Khan mungkin juga merasa bahwa dirinya, yang lebih informasi tentang Inggris dan dunia luar, seharusnya sudah melihat perubahan yang tampaknya ada di tikungan.

    Sir Syed Ahmad Khan tidak pernah lagi menulis sepatah kata pun memuji Ai’n-e Akbari, bahkan dia berhenti tertarik pada sejarah dan arkeologi.

    Dua tahun kemudian, tahun 1857, Pemberontakan India Besar mendekati Delhi. Muslim kehilangan kendali atas Delhi, masjid dihancurkan, dan madrasah dihancurkan. Yang paling prestisius di antaranya adalah ‘Madarsa Raheemia’ dan Masjid Akbarabadi.

    Mirza Ghalib menyatakan perasaannya dalam banyak surat duka dan puisi. Namun Sir Syed, terpukul oleh tragedi tersebut, mengambil beberapa batu dari masjid Akbarabadi dan meninggalkan Delhi dengan ambisi memberdayakan Muslim di Subkontinen melalui pendidikan. Ini akan membuat generasi mendatang menjadi ahli dari ‘all a’ins of this world’, kunci-kunci dunia. Pengetahuan!

    Jadi, penyair Urdu terhebat sepanjang masa, Mirza Ghalib, memainkan peran penting sebagai guru bijak yang mengkritik karya Sir Syed sebagai cendekiawan, dan Sir Syed menerima provokasi tersebut dengan positif sebagai murid yang patuh. Ini adalah cara orang-orang besar berperilaku, lalu institusi baru pun terbentuk serta generasi berubah.

    Semoga episode kecil tapi signifikan dari kehidupan dua tokoh besar ini akan menginspirasi kita dan generasi mendatang untuk melakukan pekerjaan positif bagi masyarakat.

  • Women’s Jurisprudence on the Aurat and Muslim Clothing

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    In Islam, understanding the aurat and ethics of Muslim women’s clothing is very important, reflecting compliance with religious teachings, the identity and dignity of a Muslim woman. Aurat, which must be covered from non-mahram views in accordance with the Koran and Sunnah, and Muslim dress, which emphasizes fulfilling the requirements of awrah, is not only a religious requirement but also a way to maintain purity and avoid slander. This awareness helps shape the dignified character and personality of Muslim women, and strengthens their identity in society, enabling them to appear elegant without sacrificing religious values. This understanding also supports the creation of a harmonious social environment that respects diversity. Therefore, understanding the importance of aurat and Muslim dress is not only in worship and religious observance, but also in the formation of social identity and contribution to a mutually respectful society. This shows how Islam moderates religious understanding with respect for oneself and positive social development of society.

  • Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Barat (Amerika dan Eropa) yang seringkali dianggap sebagai standar moral dan etika global, dipertanyakan sikapnya saat ini karena berperan dalam menunda-nunda terwujudnya proses gencatan senjata di wilayah konflik Gaza. Kita sering lupa sebetulnya sikap-sikap negara barat itu adalah berkaitan dengan perannya dalam konteks politik dan militer di kawasan tersebut. Faktor-faktor kepentingan ini lah yang sebetulnya mempengaruhi keputusan dan sikap mereka.

    Dalam diskusi global mengenai politik internasional, konsep moralitas sering kali menjadi titik sentral. Moralitas Barat, yang sering dianggap sebagai standar dalam menilai kebenaran dan keadilan, menghadapi tantangan ketika dihadapkan pada krisis-krisis internasional. Pertanyaan tentang sejauh mana negara-negara Barat benar-benar mengikuti prinsip-prinsip moral yang mereka promosikan menjadi semakin relevan saat ini.

    Moralitas Barat berakar pada tradisi filsafat Yunani, hukum Romawi, dan nilai-nilai Kristen. Selama berabad-abad, konsep ini telah berevolusi, mempengaruhi segala aspek dari politik hingga hak asasi manusia. Namun, sejarah kolonialisme, kapitalisasi tuan tanah dan kebijakan luar negeri yang terkadang kontradiktif menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi penerapan nilai-nilai ini.

    Dalam konteks diplomasi dan kebijakan luar negeri, negara-negara Barat sering kali dihadapkan pada dilema moral. Di satu sisi, mereka mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia, sementara di sisi lain, sering kali menjalin hubungan dengan rezim-rezim yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut demi kepentingan politik dan ekonomi.

    Bagaimana kepentingan geopolitik negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, mempengaruhi sikap dan kebijakan mereka terhadap konflik ini. Hal ini termasuk tentang hubungan diplomatik dan militer Barat dengan Israel, serta dampaknya terhadap Palestina. Hingga sampai saat ini berkali-kali sidang PBB mengenai gencatan senjata selalu dihadang oleh veto amerika serikat dan negara barat lainnya yang keberatan dengan gencatan senjata.

    Peran negara-negara Barat dalam diplomasi internasional, termasuk didalamnya bagaimana mereka menggunakan pengaruhnya di forum-forum internasional seperti PBB sangat dipertanyakan. Apakah sebetulnya PBB digunakan sebagai sarana unutk membangun perdamaian dunia ataukah PBB adalah sarana untuk mendukung kepentingannya terhadap negara lain.

    Ketika terjadi krisis kemanusiaan, seperti konflik bersenjata atau pelanggaran hak asasi manusia seperti yang saat ini terjadi di Gaza, respons negara-negara Barat sering kali diukur sebagai tolok ukur moralitas mereka. Pertanyaan muncul mengenai seberapa cepat dan efektif mereka merespons, serta motivasi di balik intervensi mereka.

    Era kapitalisme dan globalisasi membawa tantangan baru terhadap moralitas Barat. Walaupun dalam sejarah era tuan tanah berhasil direformasi, akan tetapi bentuk kapitalisme itu terus tumbuh dan bermetamorfosa. Pertumbuhan ekonomi dan keuntungan menjadi hal yang prioritas, yang terkadang mengorbankan nilai-nilai seperti keadilan sosial dan lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai-nilai moral masih dipegang teguh.

    Media Barat memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik. Cara mereka melaporkan tentang krisis internasional sering kali mencerminkan dan mempengaruhi pandangan moral masyarakat. Namun, bias dan agenda tertentu dalam pelaporan media seperti di Palestina dapat memutarbalikkan realitas, mempengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu moral dan tidak membangun narasi konstruktif yang membawa perdamaian. Berapa banyak jurnalis yang tewas dari situasi perang yang tidak benar-benar adalah situasi perang. Situasi perang ini lebih nampak seperti di kondisikan atau adalah propaganda yang sangat buruk, karena menghadapai penduduk sipil dan saat ini bahkan disebut sebagai proses genosida pembersihan etnik.

    Negara-negara Barat sering kali terlibat ataupun membiarkan perusahan-perusahaan swastanya terlibat (bahkan terkadang terlibat dalam proyek bantuan keamanan resmi) dalam perdagangan senjata internasional, termasuk ke negara-negara yang terlibat dalam konflik atau pelanggaran hak asasi manusia. Penjualan senjata dan bantuan militer ke Israel oleh negara-negara Barat, sangat mempengaruhi dinamika konflik dan menciptakan eskalasi konflik yang tidak perlu hingga memakan banyak nyawa penduduk sipil. Hal ini menimbulkan kontradiksi antara promosi perdamaian dan keuntungan ekonomi yang diperoleh dari penjualan senjata.

    Walaupun kita dapat melihat bagaimana kompleksitas situasi yang terjadi dilapangan, tetapi rasanya negara-negara barat, juga negara-negara laindidalam PBB dapat merumuskan resolusi yang lebih baik lagi daripada apa yang dirumuskan pada hari ini. Pada akhirnya kit amelihat negera-negara yang patut memegang veto adalah negara-negara yang terbukti konsisten dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian di dunia.