Tag: Muhasabah Diri

  • Muhasabah Diri (83): Hutang, Mudah Diawal dan Berat Diakhir.

    Muhasabah Diri (83): Hutang, Mudah Diawal dan Berat Diakhir.

    Salah satu yang sering dikhawatirkan seseorang adalah ujian. Padahal ujian itu untuk mengetahui kapabilitas diri. Ada ujian yang tidak berjadwal, yaitu ujian kehidupan. Butuh persiapan diri untuk menghadapi ujian tanpa aba-aba terlebih dahulu. Bersiaplah karena nikmat tidak selamanya kekal.

    Macam-macam model ujian yang kita lalui. Ujian berupa kesusahan juga sering kita hadapi. Untuk keluar dari kesusahan dan kekurangan materi diantara jalan keluar yang ditempuh adalah dengan berutang. Mudah memang berutang tapi melunasinya banyak kendala. Ada yang senang berutang kadang-kadang tidak dilunasi. Betapa banyak hubungan pertemanan rusak gara-gara utang. Islam sudah mengatur adab-adab berutang. Bahkan ayat yang terpanjang dalam Al-Qur’an berkenaan dengan utang. Allah SWT berfirman:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْـًٔاۗ فَاِنْ كَانَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِالْعَدْلِۗ وَاسْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَالِكُمْۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّامْرَاَتٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَۤاءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰىهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰىهُمَا الْاُخْرٰىۗ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَۤاءُ اِذَا مَا دُعُوْا ۗ وَلَا تَسْـَٔمُوْٓا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰٓى اَجَلِهٖۗ ذٰلِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَاَدْنٰىٓ اَلَّا تَرْتَابُوْٓا اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَلَّا تَكْتُبُوْهَاۗ وَاَشْهِدُوْٓا اِذَا تَبَايَعْتُمْ ۖ وَلَا يُضَاۤرَّ كَاتِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ ەۗ وَاِنْ تَفْعَلُوْا فَاِنَّهٗ فُسُوْقٌۢ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah : 283)

    Hadits-hadits tentang utang juga banyak, diantaranya sabda nabi:

    أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

    “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

    Berutang memang salah satu solusi disaat terdesak, tapi tetap kita ukur kemampuan terlebih dahulu untuk melunasinya. Mengembalikan utang amatlah berat, apalagi disaat beban hidup semakin menjerat. Maka wajar saja salah satu yang berhak dibantu dengan dengan dana zakat adalah orang yang berutang/ gharimin.

    Semoga bagi kita yang berutang diberi kemudahan oleh Allah untuk melunasinya…

  • Muhasabah Diri (82): Agar Semuanya Dapat Merasakan

    Muhasabah Diri (82): Agar Semuanya Dapat Merasakan

    Keadilan adalah kata yang diimpikan oleh mereka yang dizalimi. Kata itu juga menunjukkan tingginya derajat dan mencerminkan tanggung jawab pelakunya. Bahkan salah satu karakter pemimpin yang didambakan adalah pemimpin yang adil.

    Dalam hadits Rasulullah Saw:

    عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن رسول الله عليه السلام قال: سبعةٌ يُظِلُّهم اللهُ في ظلِّه يومَ لا ظلَّ إلَّا ظلُّه: إمامٌ عادلٌ وشابٌّ نشَأ في عبادةِ اللهِ تعالى ورجلٌ ذكَر اللهَ خاليًا ففاضت عيناه ورجلٌ ـ كان ـ قلبُه معلَّقٌ في المسجدِ ورجُلانِ تحابَّا في اللهِ: اجتمَعا عليه وتفرَّقا ورجلٌ دعتْه امرأةٌ ذاتُ منصبٍ وجمالٍ إلى نفسِها فقال: إنِّي أخافُ اللهَ ورجلٌ تصدَّق بصدقةٍ فأخفاها حتَّى لا تعلَمَ شِمالُه ما تُنفِقُ يمينُه

    Abu Hurairah mengatakan Rasulullah SAW bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan Allah lindungi pada hari kiamat, di hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya. Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam peribadatan kepada Allah ‘azza wajalla, seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dalam keheningan kemudian meneteskan air mata, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang mencintai karena Allah ‘azza wajalla. Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita cantik untuk berzina lalu ia berkata sesungguhnya aku takut kepada Allah ‘azza wajalla’, dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya.” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Hibban).

    Pemimpin yang adil, disamping mengayomi rakyatnya juga memiliki ketegasan. Prinsip inilah yang menonjol pada sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq. Apa yang terjadi disaat Rasulullah Saw meninggal dunia?. Ada yang murtad dan enggan bayar zakat. Pemahaman yang salah seperti itulah yang diluruskan Abu Bakar.

    والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة

    Artinya: “Demi Allah, aku akan memerangi siapa saja yang memisahkan kewajiban shalat dan zakat…”.

    Kewajiban yang melengkapi satu sama lainnya yang terkumpul dalam rukun Islam yang lima. Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga mempunyai 8 ashnaf atau kelompok-kelompok yang dikategorikan sebagai mustahiq yang berhak menerima zakat. Nasib memang tidaklah sama, ada kaya, ada miskin. Setiap permasalahan ummat ada solusinya dalam Islam. Kekayaan yang dimiliki oleh seseorang, disitu juga ada hak orang lain. Konsep berbagi ini diatur dalam syariat. Syariat yang memanusiawikan manusia, memperdekat hubungan antar manusia agar tidak terjadi jurang pemisah antara orang-orang yang berpunya dengan yang membutuhkan. Disisi Allah hanya ketaqwaanlah yang jadi ukuran.

    Sahabat…

    Begitulah aturan syariat, agar semua dapat merasakan, dapat berbagi. Sehingga kesulitan yang dihadapi tetap ada solusinya…

    Selamat beraktifitas…

  • Muhasabah Diri (81): Riba Itu Ribet, Ngeriba Nget

    Muhasabah Diri (81): Riba Itu Ribet, Ngeriba Nget

    Menjadi baik adalah keinginan banyak orang. Banyak cara untuk menjadi baik. Memulai langkah dengan kebaikan, akan menghasilkan kebaikan berikutnya. Begitu juga sebaliknya, sebuah kejahatan akan melahirkan kejahatan berikutnya.

    Menjadi mapan juga keinginan banyak orang. Dengan kemapanan berbagai kesulitan bisa diatasi. Tapi tidak semua yang mapan bahagia dengan kondisinya, karena kebahagiaan ukurannya bukan kemapanan. Banyak cara yang ditempuh untuk memapankan hidup. Cara-cara logis ataupun yang negatif. Cara-cara yang baik tentulah kita diperintahkan itu mengamalkannya, tapi cara-cara negatif harus dihindari. Termasuk disitu berinteraksi dengan riba. Hari ini jerat-jerat riba ada dimana-mana. Jebakannyapun halus, wajar Rasulullah Saw sudah mewanti-wanti umatnya agar hati-hati dengan riba.

    Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

    “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim)

    Pernahkah kita menyaksikan orang terlilit hutang riba, jeratan rentenir?. Keleluasaan sesaat berujung kesusahan berlipat. Tidak sedikit diantara mereka menempuh jalan keputusasaan, bunuh diri.

    Pintu-pintu riba harus ditutup riba amatlah banyak. Rasulullah Saw menggambarkan tentang ini. Peringatan buat kita semua.

    الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا؛ أَيْسَرُهَا مِثلُ أَن يَنْكِحَ الرَّجُل أُمَّه، وَإنّ أَربَى الرِّبَا عِرضُ الرَّجُل الـمُسْلِم

    iba itu ada 73 pintu, yang paling ringan, seperti orang yang berzina dengan ibunya. Dan riba yang paling riba adalah kehormatan seorang muslim. (HR. Hakim)

    Tingkat yang paling rendah saja seperti itu…

    Mengerikan kan, yang paling tinggi adalah seseorang merusak kehormatan pribadi muslim… Semoga ada ikhtiar kita untuk menghindari agar tidak terjebak dalam riba…

  • Muhasabah Diri (80): Ada Yang Mesti Dirubah

    Muhasabah Diri (80): Ada Yang Mesti Dirubah

    Seorang pembelajar akan banyak menyerap ilmu dari apa yang dia amati. Guliran waktu baginya adalah pelajaran. Yang terjadi pada masa lalu amatlah berharga baginya. Dia akan menata langkahnya untuk menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Setiap kejadian ada hikmahnya. Kegagalan baginya adalah cemeti untuk berubah.

    Beda masa, beda juga kekhasannya. Sarana dan media mengalami perkembangan pesat. Tidak mengikutinya, berarti bersiaplah untuk kalah bersaing. Sekarang kita hidup diera kaget-kagetan. Banyak perubahan yang perlu disikapi. Dalam bermuamalah juga begitu, banyak hal yang berubah. Dulu jual beli dengan barteran, sekarang duitan bahkan orderan secara online. Ya…banyak perubahan. Cara manual mulai tergusur. Begitu juga produk jualan juga banyak perubahan dalam penampilan. Barang yang sama tapi dengan kemasan berbeda akan mempengaruhi minat beli konsumen. Solusinya, harus siap berubah… Kreasi baru, branding baru semangat baru di era baru yang menantang.

    Sahabat…

    Perubahan adalah sunnatullah, pasti terjadi. Perlu kegigihan untuk berubah dan melakukan perubahan. Memang sulit, apalagi yang sudah mendarah daging amatlah rumit. Tapi apakah mungkin untuk bertahan dan dipertahankan?. Orisinalitas memang penting, tapi bukan berarti ketinggalan zaman. Disitu ada ciri khas yang mesti dipertahankan. Jangan sampai rendang rasa gudeg, atau durian rasa singkong…🤔. Apa jadinya?. Artinya perubahan tanpa mengorbankan jati diri.

    Pasca hijrah Rasulullah Saw ke Madinah, beliau menyaksikan ada keanehan yang dilakukan penduduk setempat dalam perkawinan buatan untuk korma yang mereka tanam. Dengan mengibas-ngibas pohon korma. Aneh… pikir beliau, dan para sahabat pun memahami hal itu dengan makna ketidak setujuan beliau dengan cara tersebut. Akhirnya perilaku yang jadi kebiasaan tersebut mereka tinggalkan. Apa yang terjadi?. Korma berbuah tapi tidak bernas, alias lisut 🤭. Disaat mereka sampaikan hasil dari apa yang mereka dapati Rasulullah Saw menyampaikan pesan berharga.

    أنتم أعلم بأمور دنياكم

    Artinya: “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian” ( HR. Muslim )

    Memang banyak hal yang mesti berubah. Dalam perubahan didapati berbagai macam hikmah.

    Semoga kita senantiasa selalu menjadi pribadi pembelajar…

  • Muhasabah Diri (79): Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya

    Muhasabah Diri (79): Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya

    Alhamdulillah, itulah yang sering kita ucapkan disaat rezeki datang menghampiri. Rezeki yang didapati dari jerih keringat sendiri jauh lebih baik daripada menadahkan tangan minta diberi. Untuk itu karunia Allah yang bertebaran di muka bumi memang harus dicari. Untuk menjemput rezeki banyak cara yang baik untuk ditempuh. Dengan tidak menyusahkan orang lain, mempererat persaudaraan, bersilaturahim akan membuka pintu-pintu keberkahan.

    Sahabat…

    Banyak kiat untuk menyenangkan orang lain. Sudah selayaknya pertemanan diperbaiki, permusuhan dijauhi. Berbagi maslahat untuk umat, agar kehidupan bertebaran rahmat. Begitulah cara Rasulullah Saw menebarkan kebaikan di masyarakat.

    Miris memang, melihat kondisi kita dalam keseharian. Keinginan menjemput rezeki dan kiatnya kadangkala tidak sesuai. Ambisi lebih dominan daripada kesantunan. Ada yang melabrak batas kewajaran. Begitulah kita, ada yang perlu dibenahi. Lihatlah disaat ada diantara kita menjemput rezeki dengan berjualan sambil mengumpat pembeli.

    Ada yang berdagang di pinggir jalan bahkan sebagian fasilitas umum dimanfaatkan demi keinginan mendapatkan kesempatan besar, sampai-sampai sekedar untuk parkir kendaraan calon pembeli saja tidak didapati. Bisa jadi yang muncul bukanlah simpati pembeli, tapi malah alergi dan antipati. Disaat lain ada yang menjemput rezeki dengan mencari pelanggan penumpang. Angkot, ojek dan semirip seperti itu, tapi realitas yang didapati kadang-kadang parkir dan berhenti sembarangan, bahkan melanggar jatah fasilitas orang ramai…

    Ambisi pribadi mengalahkan ruang bersama. Perlu menempatkan sesuatu pada posisinya… Masih banyak contoh lainnya, silakan dikaji dan diperbaiki. Ada yang hilang dari kita yang perlu ditumbuhkan agar muncul dan membudaya nilai karakter yang baik.

    Fenomena mengharap untung dengan menghalangi orang lain hanya akan mempersempit pintu-pintu rezeki. Karena memang manusia secara fitrah menginginkan kenyamanan bukan kekacauan, ketenangan bukan keonaran.

  • Muhasabah Diri (78): Rezeki Yang Tak Terjamah

    Muhasabah Diri (78): Rezeki Yang Tak Terjamah

    Banyak hal yang perlu kita renungi. Ada ayat-ayat qauliah, yaitu Al-Qur’an Al-Karim yang mesti kita tadabburi. Ada juga ayat-ayat kauniah sebagai tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta yang mesti kita tafakuri. Dengan keduanya kita mengenal Allah SWT.

    Dia beri kita akal, dengannya kita berpikir. Dia beri kita jasad dengannya kita beraktivitas. Diperkuat kita dengan dimensi ruhani, agar kita memiliki keseimbangan dalam mengarungi ujian duniawi.

    Begitulah manusia, makhluk unik yang diistimewakan dengan petunjuk wahyu dan model sebagai petunjuk yaitu Rasulullah SAW. Itu semua merupakan bekal yang amat berharga.

    Allah SWT menyediakan buat kita bumi sebagai medan amal. Disitulah kita jalani takdir penciptaan kita sebagai manusia, dan disitu juga kita berikhtiar melaksanakan pengabdian pada Yang Maha Kuasa. Ada saatnya kita merenung, betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

    Wajar ada ungkapan dalam Al-Qur’an manusia diciptakan sebagai khalifah di permukaan bumi ini. Masih banyak nikmat Allah yang belum kita syukuri. Lihatlah disekitar kita alam terbuka lebar, betapa banyak disitu rezeki yang tersembunyi buat manusia.

    Sahabat…

    Kadangkala kita hanya banyak berkeluh kesah, padahal ada potensi yang dilebihkan Allah buat manusia, mengelola jatah rezeki manusia di alam semesta sesuai aturannya.

    Saatnya kita berbenah, potensi bumi yang melimpah, tanah yang terbentang luas yang tak terkelola. Banyak lahan yang ditinggal tak terjamah, seakan hanya lahan mubazir buat manusia. Dan banyak lagi…

    Mari kita jemput Rahmat Allah dengan mensyukuri nikmat-Nya…