Blog

  • Nasihat Dr. Ali Jum’ah dalam Isu Perdebatan

    Nasihat Dr. Ali Jum’ah dalam Isu Perdebatan

    1. Amat menarik sekali pesanan yang diungkapkan oleh Sheikh Dr. Ali Jum’ah berhubung sikap perdebatan tanpa ilmu. Beliau memetik hadis Nabi yang bersabda:

    مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

    “Barangsiapa mencari ilmu untuk menyaingi para ulama atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau memalingkan wajah manusia kepada dirinya (untuk menarik perhatian manusia), maka Allah memasukkannya ke dalam neraka.” (HR al-Tirmizi)

    1. Ketika mengulas hadis ini, Sheikh Ali Jum’ah menegaskan:

    يعني هو لا يريد العلم من أجل منفعة البشرية، وعمارة الأرض، وتصحيح عبادة الله، هو يريد أن يقال عنه إنه عالم حتى يشاغب مع العلماء، حتى إذا جلس في المجالس يُلتفت إليه

    “Iaitu dia bukan bertujuan mencari ilmu untuk manfaat manusia, bukan untuk memakmurkan dunia, membetulkan pengabdian kepada Allah. Tetapi dia mencari ilmu supaya orang menyatakan dia itu alim sehingga dia boleh berdebat dengan ulama, atau sekiranya dia duduk dalam satu majlis, manusia akan memaling melihat dirinya (cuba mencari perhatian manusia).

    1. Malah pada bahagian penutup penulisan beliau itu, Dr. Ali Jum’ah memetik hadis Nabi yang bersabda:

    وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِىَ لَهُ فِى وَسَطِهَا

    “Barangsiapa yang meninggalkan perbalahan sekalipun dia berada di pihak yang benar, maka Allah akan membina baginya mahligai di Tengah (syurga)… (HR al-Tirmizi)

    1. Nasihat Dr. Ali Jum’ah ini sangat penting dalam situasi kita hari ini. Beliau menegaskan ada golongan yang suka berdebat bukan kerana kebenaran tetapi semata-mata hanya inginkan perbalahan sahaja. Kata beliau:

    يريدوا المخاصمة، والجدال، والمنازعة، ولا يريدون أن يصلوا إلى الحق الذي هو عند الله

    “Mereka hanya inginkan pergaduhan, perdebatan dan pertikaian dan bukannya ingin mencari kebenaran yang berada di sisi Allah.

    1. Oleh yang demikian, sama-samalah kita bermuhasabah dalam perkara yang diperselisihkan. Jangan merasakan diri megah, sewenangnya menuduh orang lain salah dalam perkara yang khilaf dan tidak membawa perbalahan yang meleret-leret.

    Semoga Allah membimbing kita.

  • Simpati Saling Mengasihi

    Simpati Saling Mengasihi

    Disampaikan dalam satu hadits:

    عن أبي موسى الأشعري أنه سمع النبي – صلى الله عليه وسلم – يقول : ” لَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَرْحَمُوا ” . قَالُوا : يَا رَسُولُ الله  كُلُّنَا رَحِيم . قال : ” إِنَّهُ لَيسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ صَاحِبَهُ  وَلَكِنَّهَا رَحْمَةَ النَّاسِ رَحْمَةَ الْعَامَّةِ

    Daripada Abi Musa al-Asyari, sesungguhnya aku mendengar Nabi SAW bersabda: Kamu tidak dianggap beriman sehingga kamu saling mengasihi. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, kami semua adalah penyayang. Rasulullah SAW bersabda: Kasih mengasihi yang dimaksudkan bukanlah kasih sayang di antara kalian sahaja bahkan kasih memgasihi kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk. (HR Tobrani No 13671) Status: Hadis Sahih

    Pengajaran

    1.  Sikap simpati, saling mengasihi antara sesama makhluk berkait rapat dengan keimanan makhluk kepada tuhannya, Allah SWT.

    2.  Tuntutan mengasihi bukan hanya kepada sesama Muslim saja, tetapi kepada seluruh manusia dan makhluk lain dengan memberikan hak mereka dengan proporsional, tidak berlebihan dan tidak juga kurang.

    3.  Sifat simpati dan berkasih sayang adalah fitrah yang dianugerahkan oleh Allah kepada semua makhluk yang bernyawa. Sifat ini bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada binatang. Terlebih lagi jika manusia ataupun makhluk ini berjasa budi baik kepada kita.

    4. Allah memberikan pengajaran diantara semua makhluk ada juga yang tidak pandai membalas budi, disebutkan dengan istilah sebagai fasik. Beberapa makhluk yang diketegorikan fasik, adalah makhluk yang tidak mengenal budi baik, seperti ular yang akan senantiasa mematuk siapa saja termasuk yang memberinya makan, binatang berbisa, dsb.

    5. Insting untuk bersimpati dan saling mengasihi selalu ada pada manusia seperti kasih sayangnya kepada orang tua, orang muda, anak-anak, sesama manusia dan binatang. Binatang pun sebagian darinya diberikan rasa bersimpati yang manusia pun dapat melihatnya, seperti kucing, anjing, kuda, binatang peliharaan, dsb.

    6.  Menurut Ibnu Qayyim: Kasih sayang dan simpati adalah sifat memberi manfaat dan kebaikan kepada orang lain dan bersedia bersusah payah mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan kepada orang lain.

    7. Sifat simpati dan kasih sayang adalah sifat yang direfleksikan oleh hati yang selamat – qalbun salim. Jiwa yang senantiasa memberikan manfaat dan mengupayakan perbaikan bagi kehidupan.

    8.  Allah menyayangi orang yang menyayangi sesama makhluk. Rasulullah SAW bersabda:

    إنما ير حم الله من عباده الرحماء

    Allah hanya akan menyayangi hamba yang menyayangi (makhluk-Nya) HR Bukhari dan Muslim

    Wallahu’alam~

    Ust. Abdullah A. Afifi

  • Women’s Jurisprudence on the Aurat and Muslim Clothing

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    In Islam, understanding the aurat and ethics of Muslim women’s clothing is very important, reflecting compliance with religious teachings, the identity and dignity of a Muslim woman. Aurat, which must be covered from non-mahram views in accordance with the Koran and Sunnah, and Muslim dress, which emphasizes fulfilling the requirements of awrah, is not only a religious requirement but also a way to maintain purity and avoid slander. This awareness helps shape the dignified character and personality of Muslim women, and strengthens their identity in society, enabling them to appear elegant without sacrificing religious values. This understanding also supports the creation of a harmonious social environment that respects diversity. Therefore, understanding the importance of aurat and Muslim dress is not only in worship and religious observance, but also in the formation of social identity and contribution to a mutually respectful society. This shows how Islam moderates religious understanding with respect for oneself and positive social development of society.

  • Fikih Perempuan Tentang Aurat dan Busana Muslimah

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    In Islam, understanding the aurat and ethics of Muslim women’s clothing is very important, reflecting compliance with religious teachings, the identity and dignity of a Muslim woman. Aurat, which must be covered from non-mahram views in accordance with the Koran and Sunnah, and Muslim dress, which emphasizes fulfilling the requirements of awrah, is not only a religious requirement but also a way to maintain purity and avoid slander. This awareness helps shape the dignified character and personality of Muslim women, and strengthens their identity in society, enabling them to appear elegant without sacrificing religious values. This understanding also supports the creation of a harmonious social environment that respects diversity. Therefore, understanding the importance of aurat and Muslim dress is not only in worship and religious observance, but also in the formation of social identity and contribution to a mutually respectful society. This shows how Islam moderates religious understanding with respect for oneself and positive social development of society.

  • Tiga Golongan Penghuni Surga

    Tiga Golongan Penghuni Surga

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Dalam satu hadits disebutkan:

    عن عياض بن حمار المجاشعي رضي الله عنه عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ

    Dari Iyadh bin Himar al-Mujasyai RA, dari Nabi SAW berkata: “Penghuni surga itu terdiri dari pada tiga golongan; yaitu (1) penguasa yang berlaku adil, gemar bersedekah dan diberi kurnia taufik (Allah), (2) seorang yang penuh kasih sayang dan lemah lembut kepada setiap kerabat dan sesama muslim, dan (3) seorang yang sederhana dan miskin namun menjaga dirinya dari meminta-minta”  (Sahih Muslim No: 5109) Status : Hadis Sahih

    Pengajaran:

    Dari hadits diatas disebutkan diantara golongan yang akan menjadi penghuni Surga ialah:

    1.  Penguasa atau pemimpin yang adil, walaupun berkuasa tapi menunjukkan sikap yang sentiasa pemurah dengan bersedekah dan diberi kurnia taufik oleh Allah dalam menjalankan tanggungjawab.

    2.  Orang yang memiliki sifat kasih sayang dan lemah lembut kepada setiap kerabat dan sesama muslim yang lain.

    3.  Orang yang suci hatinya walaupun miskin namun menjaga dirinya dari menjadi peminta sedekah.

    Dari ketiga golongan diatas, yang manakah yang paling sesuai dengan keadaan kita. Apakah kita adalah seseorang yang sedang berkuasa, ataukah orang yang berlemah lembut ataukah keadaan kita sedang diberikan ujian dengan kemiskinam dan kesederhanaan.

    Kesabaran dan sikap yang kita tunjukkan dalam keadaan kita diatas adalah sikap yang akan menghantar kita dalam keridhaan Allah sehingga Allah memasukkan kita dalam surganya kelak.

    Dalam konteks sebagai warganegara, apakah kita seorang pemimpin ataupun rakyat, berusahalah untuk memiliki sifat adil, kasih sayang dan lemah lembut kepada orang lain serta janganlah menjadi seseorang yang peminta seandainya tidak mampu lagi menjadi peminta-minta.

    Wallahu’alam, semoga bermanfaat.

  • Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Barat (Amerika dan Eropa) yang seringkali dianggap sebagai standar moral dan etika global, dipertanyakan sikapnya saat ini karena berperan dalam menunda-nunda terwujudnya proses gencatan senjata di wilayah konflik Gaza. Kita sering lupa sebetulnya sikap-sikap negara barat itu adalah berkaitan dengan perannya dalam konteks politik dan militer di kawasan tersebut. Faktor-faktor kepentingan ini lah yang sebetulnya mempengaruhi keputusan dan sikap mereka.

    Dalam diskusi global mengenai politik internasional, konsep moralitas sering kali menjadi titik sentral. Moralitas Barat, yang sering dianggap sebagai standar dalam menilai kebenaran dan keadilan, menghadapi tantangan ketika dihadapkan pada krisis-krisis internasional. Pertanyaan tentang sejauh mana negara-negara Barat benar-benar mengikuti prinsip-prinsip moral yang mereka promosikan menjadi semakin relevan saat ini.

    Moralitas Barat berakar pada tradisi filsafat Yunani, hukum Romawi, dan nilai-nilai Kristen. Selama berabad-abad, konsep ini telah berevolusi, mempengaruhi segala aspek dari politik hingga hak asasi manusia. Namun, sejarah kolonialisme, kapitalisasi tuan tanah dan kebijakan luar negeri yang terkadang kontradiktif menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi penerapan nilai-nilai ini.

    Dalam konteks diplomasi dan kebijakan luar negeri, negara-negara Barat sering kali dihadapkan pada dilema moral. Di satu sisi, mereka mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia, sementara di sisi lain, sering kali menjalin hubungan dengan rezim-rezim yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut demi kepentingan politik dan ekonomi.

    Bagaimana kepentingan geopolitik negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, mempengaruhi sikap dan kebijakan mereka terhadap konflik ini. Hal ini termasuk tentang hubungan diplomatik dan militer Barat dengan Israel, serta dampaknya terhadap Palestina. Hingga sampai saat ini berkali-kali sidang PBB mengenai gencatan senjata selalu dihadang oleh veto amerika serikat dan negara barat lainnya yang keberatan dengan gencatan senjata.

    Peran negara-negara Barat dalam diplomasi internasional, termasuk didalamnya bagaimana mereka menggunakan pengaruhnya di forum-forum internasional seperti PBB sangat dipertanyakan. Apakah sebetulnya PBB digunakan sebagai sarana unutk membangun perdamaian dunia ataukah PBB adalah sarana untuk mendukung kepentingannya terhadap negara lain.

    Ketika terjadi krisis kemanusiaan, seperti konflik bersenjata atau pelanggaran hak asasi manusia seperti yang saat ini terjadi di Gaza, respons negara-negara Barat sering kali diukur sebagai tolok ukur moralitas mereka. Pertanyaan muncul mengenai seberapa cepat dan efektif mereka merespons, serta motivasi di balik intervensi mereka.

    Era kapitalisme dan globalisasi membawa tantangan baru terhadap moralitas Barat. Walaupun dalam sejarah era tuan tanah berhasil direformasi, akan tetapi bentuk kapitalisme itu terus tumbuh dan bermetamorfosa. Pertumbuhan ekonomi dan keuntungan menjadi hal yang prioritas, yang terkadang mengorbankan nilai-nilai seperti keadilan sosial dan lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai-nilai moral masih dipegang teguh.

    Media Barat memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik. Cara mereka melaporkan tentang krisis internasional sering kali mencerminkan dan mempengaruhi pandangan moral masyarakat. Namun, bias dan agenda tertentu dalam pelaporan media seperti di Palestina dapat memutarbalikkan realitas, mempengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu moral dan tidak membangun narasi konstruktif yang membawa perdamaian. Berapa banyak jurnalis yang tewas dari situasi perang yang tidak benar-benar adalah situasi perang. Situasi perang ini lebih nampak seperti di kondisikan atau adalah propaganda yang sangat buruk, karena menghadapai penduduk sipil dan saat ini bahkan disebut sebagai proses genosida pembersihan etnik.

    Negara-negara Barat sering kali terlibat ataupun membiarkan perusahan-perusahaan swastanya terlibat (bahkan terkadang terlibat dalam proyek bantuan keamanan resmi) dalam perdagangan senjata internasional, termasuk ke negara-negara yang terlibat dalam konflik atau pelanggaran hak asasi manusia. Penjualan senjata dan bantuan militer ke Israel oleh negara-negara Barat, sangat mempengaruhi dinamika konflik dan menciptakan eskalasi konflik yang tidak perlu hingga memakan banyak nyawa penduduk sipil. Hal ini menimbulkan kontradiksi antara promosi perdamaian dan keuntungan ekonomi yang diperoleh dari penjualan senjata.

    Walaupun kita dapat melihat bagaimana kompleksitas situasi yang terjadi dilapangan, tetapi rasanya negara-negara barat, juga negara-negara laindidalam PBB dapat merumuskan resolusi yang lebih baik lagi daripada apa yang dirumuskan pada hari ini. Pada akhirnya kit amelihat negera-negara yang patut memegang veto adalah negara-negara yang terbukti konsisten dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian di dunia.

  • Perancangan Sistem Informasi Siswa Berbasis Website di Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah

    » Journal of Regional Development and Technology Initiatives

    The process of managing student data which is still manual makes the governance of educational institutions less than optimal. Often invalid input data and unsynchronized data are caused by the unavailability of a good system for managing it. This makes management unable to create transparency in internal processes, so it will take a lot of time and energy. This article is a technical report on the implementation of the website-based student information system design process. This implementation was carried out at Darulfunun El-Abbasiyah College from January 2019 to July 2023. This implementation process involved many stages of development and improved versions. This system is also tested directly in management and receives input to be improved and then tested again. The development of the student information system helps supervision, avoiding misuse and inaccuracy of information. This student information system also reduces misunderstandings with parents, guardians, religious ministries and education offices due to data that is inaccurate or cannot be presented within a certain time. 

  • Design of a Website-Based Student Information System at Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah

    » Journal of Regional Development and Technology Initiatives

    The process of managing student data which is still manual makes the governance of educational institutions less than optimal. Often invalid input data and unsynchronized data are caused by the unavailability of a good system for managing it. This makes management unable to create transparency in internal processes, so it will take a lot of time and energy. This article is a technical report on the implementation of the website-based student information system design process. This implementation was carried out at Darulfunun El-Abbasiyah College from January 2019 to July 2023. This implementation process involved many stages of development and improved versions. This system is also tested directly in management and receives input to be improved and then tested again. The development of the student information system helps supervision, avoiding misuse and inaccuracy of information. This student information system also reduces misunderstandings with parents, guardians, religious ministries and education offices due to data that is inaccurate or cannot be presented within a certain time. 

  • Menelusuri Hadhanah: Pemeriksaan Mendalam atas Kasus Hak Asuh Anak di Pengadilan Agama

    » Perwakilan: Journal of Good Governance, Diplomacy, Customary Institutionalization and Social Networks

    This paper reviews the practice of in-depth examination of child custody cases in the Religious Courts, focusing on the concept of Hadhanah. Hadhanah is an important principle in determining child custody decisions, where the best interests of the child take centre stage. The study identifies the examination process, including the involvement of the child in decision-making, as well as the role of experts and Witnesses in providing a detailed picture. Hadhanah inquiries highlight the complexity of resolving child custody struggles in the context of Islamic law. This research aims to find out what factors make Judges conduct on-site examinations related to child dispute cases. The method used is field research with a qualitative approach. Data was obtained using empirical approach and documentation. This research is expected to provide an in-depth understanding of the hadhanah deskente, and can serve as a guideline for educators, researchers, and stakeholders. The conclusion emphasises the importance of a holistic and sensitive approach to children’s needs in the religious justice system.

  • Popularity Factors of Dr. H. Fahrudin Faiz, S.Ag., M.Ag.’s Study Among Generation Z

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    This research investigates the factors that contribute to the appeal of Dr. Fahrudin Faiz’s religious studies among Generation Z. In an era where the delivery method and popularity significantly influence religious outreach (Dakwah), this study aims to understand the dynamics of engaging young audiences. A qualitative field research method, comprising observation, interviews, and documentation, is utilized to gather data. The study seeks to offer comprehensive insights into Generation Z’s motivations and preferences concerning religious teachings. The findings are anticipated to assist educators, researchers, and stakeholders in developing improved communication strategies for imparting religious values in today’s digital world. This research not only highlights the intersection of religion and modern communication channels but also addresses the specific needs and interests of younger generations in religious education.

  • Faktor Kepopuleran Kajian Dr. H. Fahrudin Faiz, S.Ag., M.Ag. di Kalangan Generasi Z

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    This research investigates the factors that contribute to the appeal of Dr. Fahrudin Faiz’s religious studies among Generation Z. In an era where the delivery method and popularity significantly influence religious outreach (Dakwah), this study aims to understand the dynamics of engaging young audiences. A qualitative field research method, comprising observation, interviews, and documentation, is utilized to gather data. The study seeks to offer comprehensive insights into Generation Z’s motivations and preferences concerning religious teachings. The findings are anticipated to assist educators, researchers, and stakeholders in developing improved communication strategies for imparting religious values in today’s digital world. This research not only highlights the intersection of religion and modern communication channels but also addresses the specific needs and interests of younger generations in religious education.

  • Tradisi Albarzanji: Menguak Peran Penting Ritual Keagamaan dalam Pembentukan Maharah Istima’ pada Anak-anak Desa Teluk Papal, Kecamatan Bantan

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    This article discusses the important role of the Albarzanji tradition in developing istima’ (listening skills) in the children of Teluk Papal Village, Bantan Subdistrict, which emphasizes the values of local wisdom on the island of Bengkalis. In this research, three data collection techniques were used: observation, questionnaires, and documentation. The data analysis used in this study includes Miles and Huberman’s Model, which involves data reduction, data processing, and data evaluation/review. The research findings indicate that the Albarzanji activities carried out in Dusun I, Teluk Papal Village, have the potential to enhance istima’ skills, as evidenced by the proficiency of the Teluk Papal Village community in listening to the Albarzanji book, understanding its meaning, and using everyday Arabic vocabulary mentioned in the Albarzanji book.