Category: Belajar Islam

open basic knowledge

  • Qadha Mengganti Hutang Puasa Ramadhan

    Qadha Mengganti Hutang Puasa Ramadhan

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW, istri dan ahli keluarga beliau, para sahabat-sahabat serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah beliau hingga hari kiamat.

    Puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang baligh, berakal, dan mampu melaksanakannya. Sehingga dengan hukum kewajibannya itu Puasa Ramadhan tidak dapat ditinggalkan (terhutang) tanpa adanya halangan spesifik yang diperbolehkan oleh syariat (syar’iyah) ataupun juga keringanan khusus (rukhsah). Ada kalanya seorang Muslim tidak dapat menyempurnakan puasanya karena alasan tertentu, seperti sakit, bepergian, atau halangan lainnya. Dalam kondisi tersebut, syariat memberikan keringanan untuk menggantinya, bukan meninggalkannya kemudian. Cara menggantinya adalah dengan puasa qadha.

    أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 184).

    Dari ayat diatas kita dapat memahami, hutang puasa berlaku kepada orang yang sakit dan orang yang dalam perjalanan. Sehingga puasa Ramadhan yang ditinggalkan pada kondisi tersebut adalah wajib untuk diganti. Adapun waktu penggantiannya adalah segera setelah mampu untuk melakukannya, adapun batas waktunya, adalah sebaiknya sebelum datangnya puasa Ramadhan yang akan datang. Selain orang yang sakit dan dalam perjalanan qadha puasa juga berlaku untuk perempuan yang mendapat haidh, nifas, mengandung ataupun menyusui (jika khawatir terhadap keselamatan bayi), hal ini disebut oleh Aisyah dan Ibn Abbas:

    “Dari Aisyah: Kami dulu mengalami haidh. Kami diperintahkan untuk mengqodho puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqodho’ shalat.” (HR. Muslim no. 335)

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Ditetapkan bagi wanita yang mengandung dan menyusui berbuka (tidak berpuasa) dan sebagai gantinya memberi makan kepada orang miskin setiap harinya.” (HR. Abu Dawud)

    Begitulah tuntutan ibadah dalam Islam terkait Puasa Ramadhan. Walaupun begitu jika kewajiban mengganti hutang puasa ini tidak dapat dipenuhi karena faktor kesehatan fisik yang permanen, seperti uzur, pikun ataupun telah meninggal, dan diketahui hutang puasa ini oleh ahli warisnya. Maka penggantian hutang puasa bisa dilakukan dengan pembayaran fidyah. Adapun untuk orang yang masih mampu melakukan ganti puasa, maka wajib untuk menggantinya dengan puasa.

    Kelalaian dalam mengganti puasa setelah terlewat puasa Ramadhan berikutnya, dapat dibebankan kewajiban yang lebih berat lagi. Ada beberapa pendapat terkait hal ini sesuai dengan pertimbangan fatwa dari masing-masing wilayah, tetapi secara umum yang pertama adalah bertaubat dan insaf atas kelalaian yang diperbuat. Yang kedua secara umum perbedaan perhitungan pembayaran fidyahnya adalah: 1) membayar fidyah sesuai dengan hari yang ditinggalkan, 2) mengqadha puasa dan membayar fidyah sesuai hari yang tertinggal, dan 3) membayar fidyah sesuai hari yang ditinggalkan dan karena lalai dikalikan dengan jumlah tahun tertinggal sebagai beban atas kelalaiannya. Besaran fidyah secara umum adalah setengah sha’ atau sekitar 1,5 kg bahan makanan pokok, untuk lebih tepatnya sesuai dengan besaran fidyah yang ditetapkan oleh lembaga fatwa wilayah tersebut.

    Bacaan:

    • Faham Agama, Dr H Afifi Fauzi Abbas, MA
    • Ibadah dalam Islam, Dr H Afifi Fauzi Abbas, MA
    • Fiqh as-Sunnah, Sayyid Sabiq
    • Summary of Islamic Jurisprudence – Mulakash al-Fiqh, Dr Salih al-Fawzan
    • Maktabah al-Bakri, Dr. Zulkifli Mohamad al-Bakri

  • Tahun Baru, Akar Budaya dan Sikap Muslim Sepatutnya

    Tahun Baru, Akar Budaya dan Sikap Muslim Sepatutnya

    Oleh Bey Abdullah

    1. Tahun Baru dan Akar Budayanya

    Perayaan tahun baru memiliki akar budaya yang berasal dari tradisi paganisme, yaitu keyakinan kuno masyarakat non-monoteistik di Eropa. Tradisi ini kerap diisi dengan ritual yang berkaitan dengan penyembahan dewa-dewa atau roh tertentu, seperti perayaan Saturnalia dalam agama Romawi. Untuk mengimbangi tersebut, ketika agama-agama Eropa mengadopsi tradisi ini, unsur-unsur pagan tetap bertahan, meskipun dengan nama dan makna ibadah berbeda yang sudah dikristenkan pada awalnya. Perayaan tahun baru kemudian menjadi bagian dari budaya global, lintas budaya, termasuk di negara-negara Muslim.

    2. Eksploitasi Komersial Tahun Baru

    Seiring waktu, perayaan tahun baru berubah menjadi ajang komersial yang sangat menguntungkan bagi industri hiburan, ritel, dan pariwisata. Pesta kembang api, promosi belanja, dan liburan spesial dimanfaatkan untuk mendorong konsumerisme. Sayangnya, banyak dari kita yang ikut terlibat tanpa menyadari bahwa budaya ini jika berlebihan akan memiliki ketidak sesuaian dengan nilai-nilai Islam.

    Islam menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan melarang segala bentuk berlebih-lebihan. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Menghabiskan uang untuk pesta atau hal yang tidak bermanfaat dalam perayaan tahun baru tentu masuk dalam kategori ini.

    3. Perlunya kehati-hatian

    Sebagai Muslim, kita diwajibkan berhati-hati agar tidak terjerumus dalam kesyirikan, amal yang sia-sia baik langsung maupun tidak langsung. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud). Merayakan tahun baru termasuklah dalam area yang abu-abu, menjadi biasa ketika kita tidak memandangnya sebagai momen yang luar biasa. Tidak seperti natal yang memang kita dapat memahami adalah perayaan dari agama lain. Sehingga merayakan tradisi yang memiliki akar pada ritual non-Islami bahkan non-agamis bisa membawa kita jauh dari hal-hal penting yang disampaikan oleh agama, bahkan jika sangat berlebihan hingga memuja-muja tahun baru dapat menjadikan kita mendekati perbuatan syirik tanpa disadari.

    4. Pemaknaan Tahun Baru dalam Islam

    Islam tidak mengenal perayaan tahun baru sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat umum. Dalam Islam ada dua perayaan yang sangat dianjurkan yakni perayaan 2 Ied (Iedul Fitri dan Iedul Adha). Untuk itu kita sebagai Muslim diajarkan untuk memperhatikan amal yang pokok dan memperlakukan setiap momen dalam kehidupan sebagai kesempatan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan cara dan amalan yang tidak jauh dari nilai-nilai Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh…” (QS. Al-‘Asr: 1-3).

    5. Refleksi dan Muhasabah

    Sebagai Muslim, pergantian tahun hanya dicukupkan dengan momentum refleksi ringan dan bermuhasabah. Refleksi yang sesungguhnya patutnya dilakukan setiap saat, terutama di waktu kita shalat. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang selalu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi). Dengan ini karena tidak bisa menghindar dari suasana yang ada maka tahun baru perlu dimaknai sebagai momen untuk memperbaiki diri, bukan untuk berlebih-lebihan apalagi berhura-hura.

    6. Perayaan yang Sederhana dan Biasa

    Jika seseorang merasa perlu menandai pergantian tahun, seperti berada dalam budaya kantor dalam tutup buku aktifitas tahunan, maka cukup disikapi dengan cara yang sederhana. Hindari segala bentuk perayaan yang mengarah kepada pemborosan, melalaikan ibadah atau bahkan menjadikan kita lebih bahagia daripada perayaan-perayaan yang bernilai ibadah dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahannya.” (HR. Baihaqi).

    Dalam perspektif Islam, pergantian tahun tidak berbeda dengan pergantian hari lainnya. Setiap hari adalah peluang untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Menjadikan tahun baru sebagai hari istimewa tanpa dasar syar’i justru bisa menjauhkan kita dari hakikat waktu sebagai amanah.

    7. Menjauhi Tradisi yang Tidak Islami

    Sebagai Muslim, kita harus selektif terhadap tradisi yang diadopsi. Rasulullah SAW bersabda: “Kamu akan mengikuti tradisi umat sebelum kamu sejengkal demi sejengkal…” (HR. Bukhari). Oleh karena itu, penting untuk tidak larut dalam tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pergantian tahun hendaknya menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan menuju kehidupan akhirat. Dengan memahami ini, kita sebagai Muslim dapat lebih fokus pada amal saleh daripada sekadar mengikuti budaya perayaan duniawi.
    Daripada menghabiskan malam pergantian tahun dengan pesta, lebih baik isi dengan doa dan niat untuk memperbaiki diri. Dengan demikian, tahun baru dapat menjadi momen yang lebih bermakna dalam hidup seorang Muslim.

  • Sedekah Yang Menjadi Haram

    Sedekah Yang Menjadi Haram

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Sedekah adalah amalan yang sangat diprioritaskan dalam Islam, sebagai bentuk kepedulian, cinta kasih terhadap sesama dan pembuktian dukungan terhadap nilai-nilai mulia. Sedekah sudah menjadi budaya dan adat, sehingga seringnya semua pemberian diartikan secara umum sebagai sedekah. Kata-kata sedekah sendiri adalah berasal dari kata shidiq yakni benar atau bukti, sehingga kata sedekah adalah suatu bukti terhadap dukungan dan pembuktian dari kata-kata yang diucapkan. Walaupun secara umum seperti itu, sedekah memiliki makna yang khusus jika diniatkan untuk kebaikan-kebaikan yang secara umum diajarkan oleh agama.

    Dengan pemaknaan tersebut sedekah haruslah diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Namun perlu diperhatikan, jika kita tidak berhati-hati, tidak semua bentuk pemberian sedekah dapat diterima sebagai sedekah oleh Allah SWT. Ada hal-hal yang patut kita perhatikan supaya sedekah yang kita lakukan tidak menjadi sesuatu amal yang haram, yaitu sedekah yang dilakukan dengan cara atau dari sumber yang tidak halal.

    Islam mengajarkan bahwasanya niat dan sumber harta sedekah haruslah dari niat yang bersih, bersih bermakna amal yang akan diterima adalah amal yang ikhlas serta dilakukan dengan cara yang benar, biidznillah. Firman Allah dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa amal, termasuk sedekah, harus dilakukan dengan penuh ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT.

     إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

    “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Ma’idah: 27)

    Ayat diatas adalah ayat penutup dari kisah Habil dan Qabil dimana Allah memberikan tanda hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa. Dalam kisah Habil dan Qabil ini kita paham dalam kisah ini untuk menunjukkan kesombongannya dan kelebihannnya Qabil berniat mencelakakan Habil, hingga membunuhnya. Qabil berniat mencelakakan Habil kemudian setelah itu merasa amal yang dilakukan dari apa-apa yang dimiliki oleh Habil akan diterima oleh Allah, disinilah surat Al-Maidah ini menjelaskan, bahwa Allah hanya menerima amalan orang-orang yang bertakwa.

    Salah satu ciri dari sedekah yang pasti haram adalah sedekah yang diberikan dari yang harta haram. Harta haram adalah harta yang diperoleh dengan cara yang tidak halal dan tidak sesuai dengan syariat Islam. Termasuk harta haram adalah seperti hasil mencuri, menipu, korupsi, atau hasil riba. Harta yang juga haram adalah harta yang bukan miliknya kemudian dipaksakan dengan cara yang dzalim tanpa izin pemiliknya, harta seperti ini yang kemudian dipaksakan menjadi sedekah tanpa persetujuan yang memiliki harta maka menjadi sedekah yang haram. Sedekah dari harta seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT, karena Allah itu Maha Suci dan hanya menerima yang suci, seperti dijelaskan dalam potongan surat Al-Maidah kisah tentang Habil dan Qabil. Perandaian seperti ini mungkin nampak sepele, tapi berapa banyak dari fenomena ini terjadi dalam kehidupan bermasyarakat kita. Oleh sebab itu, sedekah yang berasal dari sumber haram meskipun terlihat membantu orang lain, pada dasarnya tidak memiliki nilai di hadapan Allah. Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Muslim)

    Ciri lain dari sedekah yang haram adalah sedekah yang disertai dengan riya atau ingin pamer. Sedekah harus dilakukan dengan rasa ikhlas dan tanpa mengharapkan pujian dari orang lain. Jika seseorang bersedekah hanya agar dianggap dermawan atau dipuji, sedekah tersebut dapat menjadi tidak bernilai karena niatnya telah tercampur dengan keinginan duniawi. Amal yang dilakukan karena riya akan membuat sedekah tersebut sia-sia. Karena amal-amal ibadahnya tidak menjadikannya orang-orang yang meniatkan amalnya untuk ibadah. Allah SWT berfirman:

    ‎‏ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ , الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ, الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ, وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ‎

    “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya” (QS. Al-Ma’un: 4-6).

    Selain itu, ada pemberian yang diharamkan yaitu pemberian yang dilakukan dengan niat buruk, dzalim atau ditujukan untuk merugikan pihak lain seperti fitnah dan mendatangkan keburukan bagi orang lain. Misalnya, sedekah yang diberikan untuk mendukung atau memfasilitasi tindakan kemaksiatan, ataupun memberikan uang kepada seseorang yang akan menggunakannya untuk hal yang melanggar syariat, seperti minuman keras atau judi. Allah SWT melarang kaum muslim untuk dukung-mendukung perbuatan dosa, apapun alasannya. Apakah alasannya ashabiyah, kekerabatan, satu kelompok dan sebagainya. Segala perbuatan dzalim tidak patut dilakukan apalagi dilakukan secara bergotong royong oleh yang mengaku Muslim.

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)

    Contoh lain dari sedekah yang haram adalah sedekah yang diberikan dengan tujuan mengendalikan atau memperalat orang lain. Misalnya, seseorang bersedekah tetapi berharap penerima sedekah tersebut menjadi tunduk atau patuh padanya. Dalam hal ini, sedekah menjadi alat manipulasi, bukan tindakan yang tulus. Islam mengajarkan bahwa bantuan harus diberikan dengan niat ikhlas tanpa mengharapkan imbalan atau balasan yang memberikan kedzaliman kepada penerimanya.

    إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا 

    “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

    Sedekah yang berkaitan dengan riba juga termasuk dalam sedekah yang haram. Harta yang diperoleh dari riba adalah harta yang diharamkan, dan menggunakan harta tersebut untuk bersedekah adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan. Riba termasuk dosa besar dalam Islam, sehingga bersedekah dari hasil riba tidak akan mendapatkan ridha Allah. Oleh karena itu, seorang muslim harus memastikan bahwa sumber harta yang akan disedekahkan bebas dari unsur riba.

    “Sesungguhnya Allah melaknat orang yang memakan riba, yang memberi riba, pencatatnya, dan kedua saksinya.” (HR. Muslim).

    Sedekah juga berkaitan dengan iman dan amanah. Mengapa sedekah berkaitan dengan iman dan amanah? Karena sedekah bukan hanya sekadar amal, tetapi juga bentuk keimanan seorang hamba kepada Allah. Seseorang yang bersedekah dengan cara yang benar berarti telah menunjukkan iman yang kuat, karena ia yakin bahwa Allah mengetahui niat dan amal yang dilakukannya. Sedekah yang benar adalah bukti ketakwaan seorang muslim kepada Allah.

    فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

    “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun : 16)

    Sedekah juga berkaitan dengan amanah, karena dalam bersedekah seseorang diberi tanggung jawab untuk menyampaikan kebaikan tanpa merusaknya. Harta yang diberikan harus berasal dari sumber yang halal dan diberikan dengan niat yang bersih. Seseorang yang tidak amanah dalam bersedekah, misalnya menggunakan harta haram atau disertai dengan niat buruk, pada dasarnya telah mengkhianati amanah yang diberikan Allah.

    “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Sehingga sangatlah penting bagi setiap muslim untuk memahami bahwa sedekah bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menjaga sumber harta yang disedekahkan, niat keikhlasan dan serta tidak menyalahi aturan-aturan syariat. Dengan bersedekah secara benar, seorang muslim tidak hanya membantu sesama tetapi juga memperkuat karakter keimanannya serta hubungannya dengan Allah SWT. Sedekah yang halal dan dilakukan dengan ikhlas akan menjadi amal yang sangat bernilai tinggi di sisi Allah, serta menjadi bukti ketakwaan dan keimanan yang mendalam.

    Wallahu’alam

  • Pemimpin Tak Sepatutnya Mencuri

    Pemimpin Tak Sepatutnya Mencuri

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Pemimpin adalah panutan bagi masyarakat. Kepemimpinan laksana pohon besar yang meneduhi siapa saja yang berada dibawahnya. Akar-akarnya memberikan pondasi kuat nilai-nilai Islami yang menjadi standar dan tolok ukur dari suatu masyarakat. Kepemimpinan adalah amanah, sehingga yang mencarinya akan diuji dengan tenaga dan jerih payah. Sedangkan mereka yang diberi amanah akan selalu diberikan keberkahan dan ketenangan dalam menjalaninya. Kepemimpinan ibarat dua mata pisau yang satu diarahakan kepada kedzaliman dan satu lagi diarahkan kepada penerima amanah, yang sewaktu-waktu khianat dan dzalim akan memberikannya kerugian besar mempertanggung jawabkannya kepada yang maha kuasa.

    Mereka yang memimpin seharusnya dapat menjaga integritas dan bekerja untuk kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Namun, kenyataannya, sering kali kita menyaksikan pemimpin yang malah berperilaku dzalim, korup dan mencuri. Ketika seorang pemimpin mencuri, mereka bukan hanya merugikan rakyat secara ekonomi, tetapi juga menghancurkan kepercayaan dan standar moral masyarakat yang dipimpinnya. Salah satu sektor yang paling terdampak akibat praktik mencuri adalah hancurnya standar etika moral masyarakat, jika semua hal dapat dilakukan untuk mendapatkan kekuasaan maka pemimpin yang seperti ini hanya meletakkan neraka didepan pintu kuburnya. Mencuri yang sistematis seperti korupsi memberikan kerugian yang besar pada pendidikan, yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam membangun masa depan.

    Siapa yang diberi ataupun mengambil kepemimpinannya perlu selalu bertanya-tanya dalam dirinya, bagaimana amanah ini didapat, apakah diterimanya dari pemegang amanah sebelumnya, atau apakah diterimanya dari mandat orang banyak. Ataukah justru amanah yang didapatnya diambil dari manufer politiknya yang tidak jauh dari hal-hal yang tidak etis seperti kudeta, mencuri, ataupun menyuap para pemilih. Amanah yang diambil dengan cara yang tidak betul adalah awal dari hilangnya keberkahan dari Allah swt. Bagaimana mungkin seseorang Muslim mengaku mendapat amanah dan menjalankan kepempimpinan dengan cara mencuri?

    Politik hari ini menguji para pemimpin-pemimpin Muslim terhadap tindakan-tindakan dzalim seperti itu. Politik hari ini menguji para pemimpin-pemimpin Muslim terhadap prinsip-prinsip Islam yang dianutnya. Apakah dia memahami agamanya, atau dia sedang menunggang agamanya untuk kepentingan ambisi pribadinya. Politik yang dzalim sering kali mengorbankan hak-hak dasar orang lain, dan juga hak dasar pendidikan yang dijamin oleh negara.

    Politik yang tidak sehat sering kali menyebabkan alokasi anggaran pendidikan menjadi tidak tepat sasaran. Ketika pemimpin lebih fokus pada kepentingan pribadi atau kelompok daripada kesejahteraan rakyat, pendidikan menjadi sektor yang dikorbankan. Akibatnya, banyak fasilitas sekolah tidak mendapat perhatian, guru tidak menerima hak dan gaji yang layak, sehingga kualitas pendidikan menurun. Korupsi yang merusak pendidikan ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap generasi yang menjadi harapan masa depan bangsa.

    Selain itu, kepentingan politik yang dzalim seringkali menciptakan kebijakan yang tidak berpihak pada dunia pendidikan. Banyak program pendidikan yang seharusnya memberikan manfaat bagi siswa dan guru justru dijadikan alat politik untuk meraih dukungan. Program-program ini sering kali tidak berkelanjutan atau bahkan tidak efektif karena lebih mengutamakan citra politik daripada kemajuan pendidikan itu sendiri. Akibatnya, pendidikan menjadi terjebak dalam siklus politisasi yang merusak.

    Dalam lingkungan yang diwarnai korupsi, nilai-nilai integritas dan kejujuran yang seharusnya ditanamkan melalui pendidikan menjadi terabaikan. Ketika anak-anak dan remaja menyaksikan pemimpin mereka yang mencuri dan dzalim, mereka bisa kehilangan harapan dan memandang rendah pentingnya integritas. Ini dapat berdampak pada pembentukan karakter generasi muda, yang seharusnya diarahkan untuk menjadi pemimpin masa depan yang jujur dan bertanggung jawab. Dan pemimpin yang seperti ini sepatutnya mendidik dirinya sendiri sebelum berbicara untuk mendidik orang lain.

    Politik yang tidak berpihak pada pendidikan juga memperlebar kesenjangan sosial. Ketika anggaran pendidikan dipotong atau diselewengkan, sekolah-sekolah di daerah terpencil atau dengan akses terbatas sering kali menjadi korban utama. Sementara sekolah di perkotaan mungkin masih mendapatkan fasilitas memadai, anak-anak di daerah pedalaman harus berjuang dengan segala keterbatasan. Hal ini menciptakan ketidakadilan dan memperkuat siklus kemiskinan yang sulit untuk diputus.

    Pemimpin juga dapat tidak sengaja berlaku dzalim dengan sering kali menciptakan iklim pendidikan yang tidak sehat, di mana kritik atau aspirasi para pendidik dibungkam. Guru dan tenaga pendidik yang seharusnya memiliki kebebasan untuk mengungkapkan pendapat atau mengajukan inovasi demi perbaikan pendidikan, malah sering kali merasa takut akibat tekanan politik. Ini membatasi perkembangan sistem pendidikan dan menghambat terciptanya suasana belajar yang kreatif dan produktif.

    Dalam beberapa kasus, pendidikan bahkan digunakan sebagai alat propaganda oleh pemimpin yang korup. Institusi-institusi pendidikan dijadikan arena pertarungan politik dan perebutan kekuasaan. Buku-buku pelajaran, kurikulum, atau program pendidikan bahkan bisa juga dimanipulasi untuk menampilkan citra pemimpin tertentu atau mengarahkan pemikiran generasi muda sesuai dengan agenda politik mereka. Ini tidak hanya mencederai objektivitas pendidikan, tetapi juga menanamkan pemahaman yang bias kepada siswa, yang pada akhirnya dapat merusak kesadaran kritis mereka. Pendidikan sepatutnya obyektif, dia berbicara tentang suatu pengetahuan bukan lebih kepada siapa yang membicarakannya.

    Selain itu, pemimpin yang korup dan dzalim sering mengabaikan hak-hak tenaga pendidik. Guru yang menjadi ujung tombak pendidikan sering kali diabaikan, dengan gaji yang rendah atau tidak tepat waktu, serta fasilitas yang kurang memadai. Dengan kondisi yang tidak layak, guru menjadi kurang termotivasi untuk memberikan pengajaran terbaik. Akhirnya, pendidikan menjadi sektor yang lemah, padahal pendidikan adalah fondasi bagi kemajuan bangsa. Apakah pemimpin seperti ini ini layak disebut pemimpin?

    Politik yang mencemari pendidikan juga membuat sulitnya pengembangan dan inovasi dalam sektor ini. Pendidikan seharusnya menjadi tempat untuk berinovasi, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan mengasah kemampuan anak-anak untuk menghadapi masa depan. Namun, dengan kepemimpinan yang tidak berpihak pada pendidikan, perubahan dan inovasi ini menjadi sulit tercapai. Pendidikan akhirnya tertinggal, padahal tuntutan dunia dan persaingan yang semakin kompleks.

    Pemimpin tak sepatutnya mencuri dan dzalim. Pemimpin yang seperti ini tidak patut disebut pemimpin. Pemimpin yang sejati membawa tanggung jawab besar dalam mengarahkan bangsa menuju kemajuan. Ketika politik dan ambisi menghancurkan pendidikan, yang menjadi korban utama adalah generasi muda, yang kehilangan peluang untuk berkembang dan berkontribusi. Jika pendidikan terus dikorbankan untuk kepentingan politik, maka masa depan bangsa berada dalam ancaman. Pemimpin yang khususnya berpolitik harus mampu menjaga nafsunya untuk tidak menjerumuskan dunia pendidikan dalam politik praktis. Kepemimpinan dan perebutan kekuasaan dengan cara yang dzalim hanya mengantarkannya kepada pintu siksa neraka. Pemimpin yang amanah dan mengutamakan kepentingan rakyat akan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama, demi terciptanya bangsa yang berakhlak dan berdaya saing tinggi. Kepada pemimpin seperti itu kita berharap keadilan, dan kepada pemimpin yang dzalim kita berharap Allah memberikannnya keadilan.

    waalahu’alam

  • Pentingnya Memahami Ilmu Secara Terstruktur

    Pentingnya Memahami Ilmu Secara Terstruktur

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Abu Hanifah tinggal di Kufah dikenal dengan otaknya yang cerdas, banyak persoalan yang kemudian ditanyakan kepadanya dan dijawabnya dengan memuaskan si penanya. Suatu hari ada satu persoalan yang sedikit susah, Abu Hanifah pun berkata kepada si penanya coba tanyakan ke fakih yang lebih paham. Kemudian si penanya pun berangsur dan kembali memberitahukan persoalannya sudah diselesaikan.

    Abu Hanifah pun penasaran, seperti apa jawaban dari fakih tersebut. Terkagum dengan jawaban faqih tersebut lalu Abu Hanifah pun mendatanginya dan bertanya orang-orang datang kepadanya tentang persoalan, ada 60 persoalan yang dicatatnya, bolehkan sang fakih memeriksanya.

    Fakih itu adalah Imam Hammad ibn Sulayman seorang shagir tabiin. Konon beliau belajar dari Anas bin Malik. Madrasah tempat beliau mengajar juga dipercaya adalah Madrasah Ali yang dibangun bersama Ibn Masud di Kufah untuk membangun keilmuan.

    Fakih itu pun membaca dan mengatakan hanya 20 jawaban yang boleh diterima, dan dijelaskan lah kekurangan-kekurangan lainnya, salah satunya adalah kekurangannya bersandar pada Hadits. Sejak saat itu Abu Hanifah belajar di madrasah tersebut sebagai murid Imam Hammad dan juga bertemu dengan para tabiin yang lainnya. Dari belajarnya itu beliau mampu menyelesaikan lebih banyak permasalahan berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

    Abu Hanifa adalah contoh bagaimana logika yang kuat semakin diperkuat dengan pondasi yang kuat. Logika berfikir (qiyas) kemudian diakui sebagai salah satu sumber dalam proses pembentukan fikih.

    Seseorang qadi zaman utsmaniyah berkata kekuatan seorang qadi adalah dikekuatan berfikirnya, sehingga untuk memaksimalkan berikan akses kepadanya sumber-sumber referensi.

  • Melangkah Yakin Dalam Kemenangan

    Melangkah Yakin Dalam Kemenangan

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Dalam menelusuri perjalanan sirah nabi ada kalanya kita terkesima dengan ujian-ujian berat yang dihadapinya. Misalkan saja cerita tentang tahun kesedihan meninggalnya Abu Thalib, kemudian tidak sampai disitu dilanjutkan dalam beberapa waktu yang berdekatan dengan meninggalnya Khadijah. Kehilangan perlindungan Bani Hasyim yang kemudian nabi meminta perlindungan ke Thaif, yang kemudian justru yang didapatkan pengusiran bahkan dikejar-kejar seperti maling ayam (kira-kira), yang kemudian bersembunyi di kebun kurma. Tapi semua ini tidak menggoyahkannya keyakinannya terhadap kebenaran.

    Meyakini kebenaran tidak lah mudah, dengan segala ujian dan cobaannya. Hal yang paling berat menghadapinya adalah fitnah dan desas desus yang berbisik kemana-mana. Sekiranya hanya satu tantangan berduel tentu akan mudah diselesaikan, tetapi fitnah dan desas desus adalah hal yang sulit untuk dihadapi, sehingga Allah (swt) memberikan hukuman khusus terhadap pelakunya. Desas desus bergerak pengecut dalam kegelapan, satu-satunya cara menghadapinya adalah teguh dalam keyakinan dan kebenaran yang hakiki. Hanya dengan keyakinan seperti itu kemenangan yang hakiki bisa diraih.

    Menjadi pertanyaan, darimanakah datangnya tenaga tanpa henti dan keyakinan untuk dapat seteguh para nabi dan hamba-hamba yang shalih?

    Konsep kemenangan ataupun kegemilangan yang ditawarkan oleh Islam sedikit berbeda dengan apa yang secara umum masyarakat kita pahami. Kemenangan bukanlah berdiri menjadi yang pertama, menjadi tokoh, ataupun memperebutkan sesuatu, ini adalah kemenangan picisan yang hanya dikejar oleh manusia-manusia yang tidak selesai lagi dengan dunianya, seperti juga kanak-kanak yang masih suka riang bermain. Yang disebut kemenangan hakiki adalah kemenangan yang nyata berupa keridhaan Allah (swt) dan surga firdausnya.

    إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا ‎

    لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا

    يَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, (1) supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, (2) dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). (3)”

    (QS Al-Fath : 1-3)

    Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah harus seperti apa dan jalan yang bagaimana yang harus ditempuh untuk memperoleh kemenangan tersebut?

    Kemenangan adalah buah dari keyakinan (keimanan), usaha dan tempaan yang dialami sepanjang perjalanan. Setiap tantangan yang dihadapi, setiap rintangan yang diatasi, adalah suatu tempaan yang membuat jiwa raga menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih matang. Ini adalah proses alami yang harus dilalui oleh siapapun yang ingin mencapai kemenangan dan kesuksesan. Selain itu kemenangan juga diperoleh dari pembelajaran dan pemahaman yang kuat akan kebenaran, yang mana amal yang menghantar kan kita lebih dekat dengan kemenangan hakiki, yang mana amal yang justru menjerumuskan kita dalam kesia-siaan.

    Kemenangan yang dijanjikan Allah kepada para nabi dan orang-orang shalih sebanding dengan lika-liku cobaan yang dihadapinya. Maka, kekuatan utama untuk mendapatkan kemenangan adalah kekuatan keimanan terhadap kebenaran. Kuatnya iman seseorang tercermin dari kerasnya pendirian, kuatnya kemauan, hati yang tabah dan tidak mudah menyerah. Yang kesemua itu diarahkan untuk bersandar pada kebenaran yang hakiki yang diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya, dan tidak mudah digoyahkan oleh ambisi dan hawa nafsu duniawi.

    Untuk dapat berusaha mencapai kemenangan hakiki, diperlukan keimanan dan keyakinan yang tak mudah digoyahkan. Keyakinan ini harus dipastikan berlabuh pada kebenaran dan dan juga berakar pada pemahaman yang mendalam terhadap keilmuan (agama) dan keteraturan alam semesta yang telah diciptakan oleh Tuhan. Itulah mengapa pendidikan dan menuntut ilmu menjadi sangat penting dalam membentuk dasar keyakinan tersebut. Ilmu memberikan kita peta dan arah dalam menjalani hidup; mengajarkan kita cara berpikir, bertindak, dan percaya pada proses yang dilakukan dengan cara yang benar.

    اَللَّهُمَّ فَقِّنَّ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْنَّ التَّأْوِيْلَ

    “Ya Allah, berilah kefahaman kepada kami dalam urusan agama dan ajarkan kami takwil (al-Quran).”

    Kunci untuk menguatkan keyakinan dan keimanan ini ini adalah melalui pendekatan terhadap ilmu dengan sikap yang benar; bukan hanya sekedar mengejar pengetahuan, tapi juga berpegang teguh pada kebenaran yang di yakini dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan ini teori-teori pembelajaran yang diserap oleh akal bisa menjadi sikap dan keyakinan yang kuat. Kuatnya godaan untuk berpaling pada sikap dan meremehkan cobaan hanya akan kembali pada melemahnya keyakinan kita.

    Dalam setiap usaha dan proses, penting untuk selalu mengingat bahwa tidak ada yang instan. Seperti air yang menitik pelan-pelan mampu melubangi batu, begitu juga usaha yang konsisten dan keyakinan yang kuat akan membawa kita kepada kemenangan. Ini adalah proses yang membutuhkan waktu, tenaga, dan dedikasi.

    Selain itu, kemenangan juga membutuhkan visi yang jelas tentang apa yang ingin dicapai. Tanpa visi, usaha yang dilakukan akan menjadi sia-sia karena tidak tentu arah yang ingin dituju. Visi akan kebenaran menjadi bintang pemandu dalam setiap langkah yang diambil, memberi motivasi untuk terus bergerak dan mempersiapkan jalan untuk melangkah kedepan.

    Adapun dalam perjalanan dan proses, tidak jarang akan ada banyak menghadapi kegagalan. Namun, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses dan pembelajaran. Dengan keyakinan yang kuat dan visi yang jelas, manusia harus bangkit dari setiap kegagalan, mengambil pelajaran dari setiap kesalahan, dan melangkah lagi dengan persiapan yang lebih matang. Berprasangka baik terhadap ujian dan cobaan untuk menempa potensi yang ada.

    Maka, penting untuk selalu melakukan refleksi dan mengevaluasi diri. Melalui refleksi ini, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diperlukan, memahami apa-apa yang sudah dilakukan dengan cara yang benar ataupun apa yang dilakukan dengan cara yang salah, dan yang mana diperlukan untuk menjadi perbaikan. Hal ini menentukan langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

    هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ

    “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka…”

    (QS Al-Fath : 4)

    Akhirnya, kemenangan adalah untuk mereka yang yakin akan kebenaran, mereka yang penuh dengan keimanan. Dengan usaha yang konsisten, keyakinan yang kuat, berpegang pada kebenaran hakiki dan pembelajaran dari setiap tempaan, apapun insyaallah bisa dilalui. Semoga Allah berikan kita hidayah menjemput kemenangan dalam jalan yang diridhai-Nya.

    Donasi Dukung Kita
  • Jika Hanya Mengejar Ghanimah

    Jika Hanya Mengejar Ghanimah

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Sejarah, dalam lembarannya yang tak terhitung, sering kali menuliskan kisah-kisah tentang bagaimana keunggulan moral dan integritas mengatasi kekuatan fisik. Salah satu cerita paling ikonik adalah tentang Daud, pemuda yang dengan keberaniannya berhasil mengalahkan Jalut, seorang raksasa yang ambisius dan serakah. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa keberanian dan kepercayaan diri, dikombinasikan dengan tujuan yang benar, dapat mengatasi rintangan terbesar sekalipun.

    Sejarah juga memberi kita pelajaran melalui kisah Musa dan Firaun. Musa, dengan keteguhan hati dan kepercayaan kepada kebenaran, memimpin rakyatnya melintasi tantangan yang tampaknya mustahil. Sementara Firaun, dengan semua kekuasaan dan ambisinya, mengejar hingga akhirnya tenggelam dalam Laut Merah. Kisah ini menggarisbawahi bahwa keangkuhan dan pengejaran buta terhadap kekuasaan sering kali mengarah pada kehancuran diri.

    Dalam konteks yang berbeda, sejarah juga mencatat kekalahan pasukan Muslim dalam Pertempuran Uhud, yang diakibatkan oleh ketertarikan mereka pada harta rampasan perang (ghanimah). Saat kemenangan tampak sudah di tangan, sebagian dari mereka tergoda oleh keuntungan materi dan mulai memperebutkannya. Akibatnya, mereka mengalami kekalahan yang pahit yang menyesakkan, sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana ketamakan (iming-iming terhadap ghanimah) dapat mengaburkan penilaian dan merusak komitmen.

    Kisah-kisah ini, meskipun terjadi dalam berbagai konteks dan zaman, menyampaikan tema yang sama: bahwa kegemilangan diraih dengan berpegang teguh pada prinsip dan nilai yang benar, dan tidak tergoda dengan hasil dari apa yang didapat seperti harta ataupun kuasa. Dalam setiap kasus, tujuan yang difokuskan untuk meraih rampasan (ghanimah), bukan pada kekuatan moral, bukan integritas pada keadilan, bukan pula keyakinan pada kebenaran, ataupun komitmen terhadap nilai-nilai etis, hal itu tidak akan bernilai besar, bahkan justru akan memberikan rasa kalah walaupun secara fisik memiliki kemenangan.

    Jika hidup hanya mengejar ghanimah maka tak ubahnya kita seperti anjing ataupun binatang liar yang mengklaim kawasan ketika kemenangan. Kelebihan manusia adalah dalam hal akal, integritas, mengajak dalam kebaikan dan mampu membedakan haq dan bathil. Kisah-kisah diatas hakikatnya adalah mengajarkan kepada kita bahwa menang dan kalah haruslah memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekedar merebut dan mendapatkan kelebihan akibat dari kemenangan tersebut.

    Di dalam dunia yang sering kali terlihat sebagai arena persaingan menang kalah bahkan tanpa batas, kita mudah untuk terjebak dalam perburuan tanpa henti untuk keuntungan dan keunggulan. Namun, manusia sejatinya dilengkapi dengan tujuan dan prinsip yang lebih tinggi daripada sekedar menjadi pemain yang liar dalam perebutan segala yang terlihat menguntungkan dan dapat diraih.

    Bumi Eropa yang dikenal sebagai negeri syuhada para pejuang Andalusia menyimpan satu cerita bagaimana ghanimah yang banyak memperlambat gerak para pejuang dan kehilangannya mengakibatkan padamnya semangat perjuangan yang tulus. Ghanimah adalah godaaan, dan siapa yang terlena telah memberikan luka dan sifat kerdil pada hatinya. Tidak akan mungkin integritas dan api perjuangan dapat bersemanyam di hati yang kerdil.

    Ketika hidup hanya difokuskan pada mengejar ghanimah, entah itu berupa kekuasaan atau pun harta, kehilangan rasa syukur menjadi konsekuensi yang sangat tidak terhindarkan. Rasa lapar untuk menguasai untuk mendapatkan lebih banyak harta rampasan membutakan kita dari menghargai apa yang sudah didapatkan secara halal dan dengan kerja keras. Bahkan lebih ironinya bahwa ghanimah yang kita incar bukanlah bukti dari apa-apa yang kita coba usahakan dengan kerja keras selama ini.

    Walaupun Islam menghalalkan ghanimah, Islam juga memiliki tuntunan dan peringatan untuk berhati-hati terhadap ghanimah. Sekiranya zakat berjumlah 2,5% untuk harta yang kita usahakan, sedangkan ghanimah dituntut sebanyak 20%, jauh lebih banyak dari zakat. Filosofi ini seperti zakat pertanian sebesar 5% untuk hasil pertanian yang diusahakan dan 10% untuk hasil pertanian yang dibiarkan begitu saja. Hal ini mengingatkan kita harta-harta yang diperoleh hanya dengan goyang-goyang kaki memiliki kewajiban yang dituntut oleh Allah. Karena sekiranya adanya hal tersebut adalah akibat dari apa yang dikehendaki oleh Allah bukan dari apa-apa yang terasa kita usahakan.

    “Dan ketahuilah, bahawa apa sahaja yang kamu dapati sebagai harta rampasan perang, maka sesungguhnya satu perlimanya (dibahagikan) untuk (jalan) Allah, dan untuk RasulNya, dan untuk kerabat (Rasulullah), dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ibnus-sabil (orang musafir Yang keputusan)…”

    (QS Al-Anfal : 41)

    Dalam usaha yang tidak kenal lelah untuk meraih kemakmuran yang melimpah, banyak yang tergelincir jauh dari jalur yang benar jika tidak berhati-hati memperolehnya dalam tuntunan agama. Berapa banyak yang bekerja dan mengabdi, misalnya, yang berakhir dengan penyesalan karena tergiur oleh kemudahan-kemudahan yang seharusnya menjadi larangan? Gaji dan penghargaan atas pengabdian mereka seolah-olah tidak lagi memuaskan, sehingga mereka terdorong untuk mengambil lebih, berkhianat hingga menerima suap atas pekerjaan yang sejatinya merupakan kewajiban mereka. Fenomena akhir zaman ini adalah hal yang saat ini nampak terlihat umum dimana-mana, di contohkan oleh yang tua dan ditiru oleh yang muda. Betapa pongahnya kita dengan harta dan kuasa ghanimah yang melenakan, terlebih lagi didapatkan dengan cara yang salah.

    Dr Isra Ahmadsyah menginspirasi penulis dalam tulisannya dalam harian Aceh yang berjudul “Ketika Amanah Dianggap Ghanimah” menguraikan bagaimana amanah pada saat ini yang melekat kepada abdi negara, pemerintah, swasta dan masyarakat secara umum dianggap sebagaimana ghanimah. Seolah-olah kemenangan dalam mencapai karir, posisi, kontestasi politik dan persaingan telah memberikan kita hak mutlak terhadap posisi dan kuasa tersebut. Menjadikan kita boleh melakukan dan menguasai apa saja dengan cara apa saja, tanpa mempertimbangkan amanah dan ada kewajiban yang ternodai.

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.

    (QS. Al-Anfal : 27)

    Hal ini menunjukkan sebuah ironi yang menyedihkan tentang kondisi etika moral kemanusiaan kita: ketika pencapaian dan akumulasi kekayaan dianggap sebagai ukuran utama tentang kesuksesan. Kita kehilangan pandangan terhadap nilai-nilai yang seharusnya membimbing tindakan kita. Kita menjadi buta terhadap dampak jangka panjang dari tindakan kita, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap masyarakat sekitar. Kita tidak tahu kapan menarik rem tangan untuk mengendalikan diri kita dari godaan kekuasaan dan harta ghanimah.

    Integritas dan idealisme seharusnya menjadi kompas yang mengarahkan kita dalam mengambil setiap keputusan. Sejarah telah menunjukkan bahwa hanya melalui pemeliharaan nilai-nilai ini, individu dan masyarakat dapat mencapai kemajuan yang berkelanjutan dan bermakna menciptakan peradaban yang madani dan penuh hikmah. Masyarakat yang beradab lebih tertata, dan akan mudah berkembang untuk mencapai kemakmuran.

    “Dari agitasi menuju terorganisir, dengan pendidikan”

    (Bung Hatta)

    Kehidupan yang difokuskan pada mengejar ghanimah sering kali mengarah pada hancurnya spiritual dan kehancuran moral yang kasat mata, walaupun secara fisik harfiah kita terlihat bermarwah. Kesenangan dan kekayaan yang disandarkan hanya bermodal ghanimah tidak akan pernah bisa memberikan kepuasan sejati. Alih-alih, hal tersebut hanya menambah berat beban jiwa, menghitamkan hati yang sejatinya tengah dipersiapkan untuk akhir yang baik. Menghilangkan tujuan dan cita-cita yang luhur.

    Untuk meraih dan memperbaiki hal ini, kita harus kembali pada dasar-dasar, mengingat kembali nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh agama untuk membimbing kehidupan kita. Bekal yang paling berharga ditinggalkan orang tua dan guru-guru kita adalah bekal kefahaman dalam agama. Lapar bisa tahan, haus dahaga bisa ditunda, tetapi tidak khianat dalam amanah ataupun menyalahi tuntunan agama. Kesalah yang merupakan satu kesalahan yang sia-sia di dunia dan akhirat. Tidak bersandar pada ghanimah adalah tentang membangun karakter yang kuat dan memiliki nilai-nilai yang luhur.

    Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memilih jalannya sendiri, untuk menentukan apa dan bagaimana jalan hidupnya. Kita mudah untuk melupakan bahwa apa yang kita tinggalkan di dunia ini bukanlah sekedar harta yang kita kumpulkan, tetapi juga jejak yang kita ciptakan melalui tindakan dan keputusan kita. Warisan yang paling berharga adalah teladan integritas dan idealisme yang kita tunjukkan kepada generasi yang akan datang, bukan sebaliknya.

    Akhirnya, jika hidup hanya mengejar ghanimah, kita akan menemukan bahwa pada akhirnya, itu adalah perjalanan yang kosong, tanpa tujuan dan tidak memberikan nilai tambah dari keberadaan kita. Kekayaan sejati terletak dalam hasil usaha dari keringat dalam mencapai dan menjalani kehidupan yang bermakna. Integritas dan idealisme menjadi pemandu kita dalam setiap langkah. Semoga Allah berkenan menjadikan lelah kita menjadi lillah yang bermakna ibadah.

    Donasi Dukung Kita
  • Sekiranya Dunia Perlu Diperebutkan

    Sekiranya Dunia Perlu Diperebutkan

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Kehidupan di dunia ini sejatinya adalah serangkaian ujian dan cobaan yang untuk menguji sejauh mana keyakinan yang kita pegang teguh, amal yang kita lakukan dan upaya pembuktian dari keyakinan tersebut. Hal semua ini juga harus diikuti oleh kemauan kita untuk terus belajar memperbaiki diri mempelajari agama dalam konteks memaknai proses penciptaan dan keyakinan adanya tuhan yang menguasai alam ini. Dalam kaca mata ini, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan satu-satunya jalan yang harus dilalui untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan akhirat yang kekal.

    Berapa banyak raja-raja tumbang tanpa membawa kononnya kemegahan yang dibuatnya, berapa banyak ambisi-ambisi karam karena tidak datang dari kepahaman terhadap ushul yang hanif, dan berapa banyak kedzaliman dimusnahkan karena berlawanan keadilan. Dinasti-dinasti, bangsa-bangsa, dan berbilang kaum dipergantikan bergiliran karena tidak mampu memanggul amanah untuk berbuat benar, mencegah kemungkaran dan berlaku adil.

    Dalam berjuang di dunia, sebaiknya kita memahami bahwa apa yang diperebutkan bukanlah kemewahan ataupun keberhasilan duniawi yang fana, akan tetapi kesempatan untuk melakukan kewajiban ataupun menunaikan amanah yang telah diberikan kepada kita. Masing-masing kita berjalan menurut kadar dan ukurannya. Suami yang menjaga keluarganya, istri yang menjaga harta suaminya, anak yang taat pada orang tuanya. Ada juga di dalam tatanan sosial yang lebih besar seperti pemimpin yang menjaga rakyatnya, pengikut yang taat pada pemimpinnya dan rakyat umum yang taat pada aturan pada negeri yang didiaminya. Kesemua itu dirangkum dalam bingkai ketaatan seorang hamba pada tuhannya. Ketaatan ini adalah upaya untuk mendapatkan ridha tuhan, yang merupakan tujuan yang bahkan lebih utama dari makna kehidupan duniawi yang sementara ini.

    Persaingan dalam kehidupan ini, jika dipandang dari lensa yang benar yang disampaikan oleh nabi dan rasulnya, difokuskan pada bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas ibadah dan amal kita dalam kerangka personal, memperjuangkan kebenaran dan mencegah kemunkaran dalam tatanan sosial yang lebih besar. Bukan tentang siapa yang memiliki lebih banyak, tapi tentang siapa yang bisa memberi lebih banyak, siapa yang bisa berbuat lebih banyak kebaikan dan siapa yang paling taat dalam menjalankan perintah-Nya dalam syariat yang diturunkan. Setiap umat di dunia ini yang mengaku beragama dan bernabi telah diberikan tuntunan syariat sesuai dengan zaman dan keadaannya.

    “… maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah Allah pinjaman dengan pinjaman yang baik.”

    (QS Al-Muzammil : 20)

    Kehidupan dunia ini sering kali dipenuhi dengan godaan dan distraksi yang mengarahkan perhatian kita jauh dari tujuan sejati kita. Terlebih lagi sebagai secara naluri kita sebagai manusia memang menyukai pencapaian dan kegemilangan. Pada umumnya sebagai manusia untuk menjaga kepercayaan diri perlu memotivasi dengan pencapaian-pencapaian yang baik. Namun perlu disadari juga, dengan memahami bahwa setiap detik di dunia adalah kesempatan untuk berinvestasi dalam kehidupan akhirat, kita bisa lebih fokus pada apa yang benar-benar penting untuk kita capai dalam hidup di dunia.

    Persaingan-saingan yang hanya mengedepankan ambisi yang kemudian melanggar syariatnya adalah satu kesia-siaan. Mengambil kekuasaan dan tidak mau bertanggung jawab atas konsekuensinya malah justru mengantarkan kita ke ancaman yang lebih besar yakni kedzaliman dan kecurangan. Harta dan marwah seseorang telah ditegaskan haramnya oleh nabi Muhammad pada haji wada kecuali dengan cara yang halal seperti perjanjian ataupun jual beli.

    “Ujian harta dan kekayaan bagi yang kaya adalah riba, bagi yang mampu adalah berlaku curang dan bagi yang tidak memilikinya adalah mencuri.”

    (Bey Abdullah)

    Amal-amal yang kita buktikan dalam kehidupan dunia ini menjadi saksi atas keyakinan yang kita pegang. Setiap perbuatan baik, tidak peduli seberapa kecil, merupakan langkah menuju pencapaian ridha ilahi dan sukses di kehidupan yang kekal. Dalam upaya untuk mencapai tujuan ini, pemahaman agama memegang peranan yang sangat penting. Pemahaman agama juga harus diikuti oleh keyakinan yang kuat, karena ujian dan cobaan memiliki banyak bentuk dan beragam. Banyak yang paham dan lancar dalam agama tetapi tidak mampu merealisasikannya dalam keseharian, dalam muamalah transaksi halal dan haram seringnya.

    Sekiranya dunia perlu diperebutkan maka perkara yang diperebutkan tersebut harus dapat memberikan faedah yang senilai. Apakah pekerjaan tersebut halal, apakah memberikan nilai tambah dalam ketaatan kita kepada Allah, apakah memberikan manfaat kepada situasi yang dhaif, dan apakah tidak menghalangi kita dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Ketika semua itu terjawab, maka artinya perkara tersebut bukanlah perkara yang akan sia-sia, ataupun menjadi istidraj kepada kita (ujian kesenangan).

    Menuntut ilmu agama adalah fardhu ain bagi setiap manusia, untuk mengetahui siapa tuhannya dan syariat yang dibebankan kepadanya. Ketidakpahaman agama bukanlah menjadi aib, tetapi pengabaiannya akan berakibat fatal pada hidup kita. Seberapa banyak di akhir hidup seseorang terjebak dalam ambisi dan kesenangan dalam dunia. Berapa banyak perkara yang kemudian tidak difikirkan secara matang mendatangkan kedzaliman dan kerugian dalam akhirat kita. Semua ini bisa dihindari dengan pemahaman agama yang hanif.

    Sekiranya dunia ini perlu diperebutkan, maka itu adalah dalam konteks berlomba-lomba dalam kebaikan, memperjuangkan keadilan, dan berusaha keras dalam mencapai ridha Ilahi. Memang kekayaan itu penting tetapi tidaklah penting kecuali yang memberikan manfaat, dan memang kedudukan itu penting tetapi tidak lah penting kecuali yang dapat menciptakan keadilan. Semoga kita diberikan kemudahan menghadapi dunia.

    Donasi Dukung Kita
  • Merambah Jalan Yang Baru

    Merambah Jalan Yang Baru

    Oleh: 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Siapa yang pada akhirnya tidak kenal dengan seseorang yang dikenal dari sikap dan kata-kata yang penuh fitnah dan cacian. Walaupun kedudukan yang dipandang tinggi diantara masyarakat, anak orang besar, memiliki harta yang cukup. Sifatnya yang suka memfitnah, dan melakukan hasutan tidak mencerminkan apa yang sepatutnya keluar dari dirinya itu. Kesemua itu dilakukannya secara diam-diam supaya tidak terciprat muka sendiri. Orang-orang seperti ini membesar dengan egonya dan para ‘alim menyebutkan mereka ini banyak melakukan perkara fasiq (merusak) karena ego dan ambisinya, dibandingkan mendatangkan kebaikan.

    Seseorang ini kemudian diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran didalam surat Al-Masad. Al-Quran menyebut seseorang ini sebagai pembawa kayu bakar, yang memiliki makna secara harfiah dan juga majas. Ya, dialah yang sembunyi tangan adalah bibi dari pada nabi Muhammad saw. Lebih jauh lagi bersama suaminya Abu Lahab yang merupakan paman dari Muhammad, mereka menggugat amanah yang diberikan kepada nabi, dan mengatakan sepatutnya Abu Lahab lah yang lebih berhak untuk mendapatkan amanah tersebut. Abu Lahab ditutupi oleh ambisinya mengklaim dirinya adalah tokoh nasional, yang tertua dari anak-anak Abdul Muthalib, sehingga dialah yang berhak dibandingkan keponakannya Muhammad. Dengan segala upaya mereka melakukan perkara buruk kepada nabi Muhammad saw, dari mulai mengisolasinya dari keluarga besar Abdul Muthalib, bani Hasyim, bahkan bani Quraisy.

    Fitnah dan huru hara yang ditimbulkan dengan menyebarkan hasutan-hasutan kepada nabi. Atas perilaku dan hobinya ini Allah mengabadikannya dalam Al-Quran sehingga yang tua dan muda, generasi ke generasi mengenalnya dan mengambil ibrah dari ambisinya. Hasutan-hasutan ini ibarat api yang sukar dipadamkan, dan yang mengobarkan apinya adalah sang pembawa kayu bakar, yang memfitnah dan menghasut dengan kebohongan demi kebohongan. Sehingga berapa banyak masyarakat dan keluarga besarnya yang terperdaya, fitnah berserakan dan masyarakat kehilangan berita yang dapat dipercaya. Sejarah sirah nabi kita lah yang mengatakan hal itu semua, hingga nabi dikucilkan dengan berbagai cara dan teror hingga puncaknya diungsikan dari masyarakatnya.

    Kita tidak sedang bercerita panjang lebar bagaimana pelaku-pelaku ini mengugat amanah yang diberikan kepada nabi. Karena cerita para nabi pasti selalu penuh dengan cobaan dan penolakan dari masyarakat hingga orang terdekatnya. Hal ini bukan berarti mengabaikan dukungan dari orang-orang terdekat yang juga sebagiannya disebutkan dalam Al-Quran dan Hadits. Tetapi tulisan ini ingin mencoba mengurai bagaimana sikap yang dicontohkan nabi dalam merespon tindakan-tindakan buruk yang dilakukan. Momen ini terjadi disaat yang nabi sedang berjuang dengan amanahnya dalam dakwah awal yang sangat kritis, yakni diawal-awal membangun pondasi awal dakwah Islam. Beginilah perancangan nabi memberikan teladan dalam mengambil solusi merambah jalan yang baru.

    Sebagian sejarahwan tidak mengulas secara detail momentum ini, akan tetapi disinilah awal mula ketokohan itu mulai, yang tidak menamakan bani Abdul Muthalib, bani Hasyim, bani Quraisy, penduduk Arab Mekkah, karena dengan pengucilan itu hanya tertinggal nama Muhammad bin Abdullah. Dengan memegang amanah yang diberikan kepadanya, dengan dibatasinya segala gerak dan gerik oleh orang-orang yang membencinya, menyebabkan momentum baru tersebarnya dakwah Islam kepada orang-orang di luar dari keluarga besar dan kaumnya. Dari hasutan ini kita bisa melihat babak baru dakwah Islam yang kemudian membesar di luar kota Mekkah, yakni di kota Madinah.

    “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

    (QS Al-Insyirah 5-6)

    Narasi ini adalah tentang mental tersebut, merambah jalan yang baru adalah tekad yang terus dilakukan dan yakin bahwa harapan itu akan selalu ada. Ibarat air yang mengalir, apapun halangan dan rintangan, selalu ada jalan untuk keluar dan terus mengalir. Merambah jalan yang baru adalah sebuah narasi yang bertitik tolak dari sebuah eksplorasi makna bahwa mereka yang diberi amanah memiliki tekad yang tidak dapat dibendung. Sekiranya tantangan yang dekat dan sentimentil dapat dihadapi, apalagi yang tidak memiliki makna sentimentil.

    Setiap perjalanan akan menghadapi berbagai halangan dan rintangan. Namun, bukan hambatan itu sendiri yang menentukan nasib dari kita masing-masing, melainkan bagaimana cara merespons dan memanfaatkannya menjadi satu landasan untuk menapak tangga yang lebih tinggi. Di balik setiap kesulitan terdapat kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan berinovasi. Ini adalah prinsip dasar dalam merambah jalan yang baru, setiap satu halangan besar dia membuka satu jalan yang baru. Sehingga semua bergantung pada cara berfikir kita dan mental yang kuat untuk melakukan semua itu.

    “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

    (QS. Ali Imran : 159)

    Memelihara tekad dan menjaga amanah bukanlah tugas yang mudah. Ini membutuhkan komitmen untuk terus bergerak maju, bahkan ketika kondisi tampak tidak mendukung. Namun, inilah esensi dari keberanian: kemampuan untuk berdiri tegak dan melangkah maju dengan keyakinan, terlepas dari ketidakpastian yang ada. Manusia yang diberi amanah meyakini amanah yang diperolehnya adalah sesuatu hal yang berharga dan dipertanggung jawabkan kepada yang memberi amanah dan kepada Allah swt. Sedangkan manusia yang merebut amanah dengan cara yang tidak etis akan bingung kemana hendak dipertanggung jawabkan amanah tersebut, bisa jadi yang diklaim memberikannya pun tidak akan menerima klaimnya kelak di padang mahsyar.

    Salah satu kunci untuk merambah jalan yang baru adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bervisi jauh kedepan. Dunia terus berubah, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut adalah aset yang sangat berharga. Ini berarti membuka diri terhadap ide-ide baru, perubahan rencana yang dinamis, siap untuk mengambil risiko besar yang diperhitungkan dan tetap fokus pada misi amanahnya.

    Tekad kuat dan pemeliharaan amanah juga artinya mampu memberi nilai kontribusi yang terkecil sekalipun dan kolaborasi yang konstruktif. Melalui kerjasama dan saling mendukung, dapat mencapai lebih banyak tujuan. Jalan baru sering kali dibuka melalui sinergi antara berbagai pihak yang berbeda keahlian dan perspektif.

    “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya : Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; walaupun aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.”

    (QS. Al-Kahfi : 60)

    Dalam setiap usaha untuk merambah jalan yang baru, penting untuk menetapkan tujuan yang jelas. Tujuan ini bukan hanya sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai panduan yang membantu kita tetap fokus dan termotivasi mengambil momentum dalam langkah-langkah yang jauh. Amanah dan tujuan adalah bintang penunjuk arah dalam perjalanan yang penuh ketidakpastian.

    Ambil lah inisiatif dan sedikit proaktif dalam menciptakan kesempatan yang datang. Dengan sikap inisiatif, kita menjadi individu yang menggerakkan perubahan, bukan sekedar obyek penonton dalam cerita hidup kita sendiri. Menghadapi ketidakpastian penuh dengan risiko, sehingga akan menumbuhkan kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus mengubah arah. Keputusan untuk berubah tidak selalu menandakan kegagalan, tetapi bisa jadi langkah strategis untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan dicita-citakan.

    Pentingnya ketahanan mental yang kuat tidak bisa diabaikan dalam merambah jalan yang baru. Ketahanan ini memberikan kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi tekanan dan kegagalan. Ini adalah modal besar yang memungkinkan seseorang dapat tetap optimis dan terus bergerak maju.

    Setiap langkah dalam merambah jalan yang baru harus diiringi dengan refleksi diri. Refleksi ini memungkinkan untuk belajar dari pengalaman yang sudah dilalui, mengakui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dan terus meningkatkan diri. Ini adalah proses berkelanjutan yang menghantarkan seorang manusia pada pertumbuhan karakter dan pribadi yang tidak sentimental.

    “Barang siapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan dan belum mampu melaksanakannya maka Allah telah menulisnya sebagai satu kebaikan”

    (HR. Bukhari & Muslim)

    Merambah jalan yang baru adalah tentang mewujudkan harapan dan amanah. Harapan bahwa di balik setiap tantangan terdapat peluang dan jalan baru yang terbentang luas. Amanah dengan tekad yang kuat serta dilakukan dengan cara-cara yang etis dan baik, akan mendatangkan keberkahan dan kemudahan dari yang Maha Kuasa. Semoga Allah berikan kita hidayah dalam jalan yang diberkahinya.

    Donasi Dukung Kita
  • Menghimpun Suluh Yang Padam

    Menghimpun Suluh Yang Padam

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    29 Mei 1453 satu momentum tercipta, Konstantinopel menjadi Istanbul. Dari keyakinan yang kuat ditengah-tengah keraguan, dari keengganan orang-orang sekitar, sekiranya dahulu Mehmed bin Murad cepat berputus asa dan larut dengan kebimbangan yang disebarkan oleh orang-orang disekelilingnya yang larut dengan dunia, maka tidak akan ada gelar Al-Fatih dalam namanya. Kuatnya keyakinannya dipandu oleh luasnya wawasan dan pengetahuan yang ditempanya, telah menjadikannya sosoknya yang disebut dalam hadits “sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang berada dibawahnya adalah sebaik-baik pasukan”.

    “Ikhtiar-iktiar terus menerus adalah upaya untuk memperkecil potensi kemungkinan…”

    (Bey Abdullah)

    Di dunia yang sering kali terasa berat dan penuh tantangan, mudah untuk merasa lelah dan kehilangan arah. Namun, adalah penting untuk diingat bahwa setiap manusia, tidak peduli seberapa susah keadaannya, perlu untuk berkontribusi dalam menjaga semangat melakukan kebaikan. Hanya dengan menjaga semangat ini, kita dapat memastikan bahwa dunia terus memaknai arti dari kebaikan dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi.

    Setiap harinya, kita dihadapkan dengan pilihan untuk melakukan kebaikan atau berpaling dari kesempatan yang diberikan oleh Allah. Dalam momen-momen yang kecil sekalipun, keputusan kita menentukan siapa kita dan apa nilai apa yang kita pegang. Keputusan untuk membantu orang lain, untuk berbicara dengan kelembutan, untuk melakukan dengan cara yang baik, untuk tidak mengambil hak orang lain, untuk membagikan apa yang kita miliki, semuanya adalah ekspresi dari nilai-nilai kebaikan yang kita yakini.

    Dalam masyarakat yang semakin individualistik, mengingatkan diri kita tentang pentingnya kebersamaan dan kepedulian, kebersamaan dan kepedulian dalam melakukan kebaikan bukan justru sebaliknya bersepakat dalam kejahatan. Namun, perlu dicatat, ketika kita memilih untuk berkontribusi pada kebaikan, kita menyalakan kembali suluh yang padam di hati orang lain dan juga diri kita sendiri. Kita mengingatkan satu sama lain bahwa kebaikan masih ada dan penting untuk terus diperjuangkan.

    Melakukan kebaikan adalah satu hal, dan membina, membangun, dan memupuk bibit-bibit pelaku kebaikan adalah hal yang lainnya. Menghimpun suluh yang padam artinya menjaga setiap bibit-bibit kebaikan dan memupuk bibit-bibit tersebut supaya ketika mekar dia akan bermanfaat untuk keadaan yang lebih luas. Adakah Mehmed Al-Fatih tanpa air tangan ayahnya Sultan Murad, Ibunya Huma Hatun, guru-gurunya dan orang-orang disekelilingnya yang yakin padanya.

    Pentingnya menjaga bibit-bibit pelaku kebaikan ini menjadi semakin jelas di saat-saat sulit, ibarat menghimpun suluh yang hampir padam. Ketika dunia dihadapkan pada krisis, bencana alam, atau ketidakadilan sosial, respon kita terhadap kejadian tersebut menunjukkan kekuatan sebenarnya dari kemanusiaan kita. Kita dipanggil untuk bersatu, berbagi beban, dan membantu memulihkan apa yang hilang. Krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza, bukan perang ataupun konflik, telah berkembang menjadi ladang pembantaian yang kesemua orang bingung bagaimana untuk bergerak. Disinilah bibit-bibit ini dibangun untuk menyelesaikan persoalan zamannya dengan cara zamannya.

    “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.”

    Memperjuangkan kebaikan sering kali membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Ada kalanya kesah dan jerih payah harta menjadi sia-sia bahkan menjadi olok-olok. Ada kalanya berbuat baik berarti mengambil posisi yang tidak populer, berbicara melawan ketidakadilan, atau memberikan lebih dari yang kita pikir kita mampu. Namun, ini adalah saat-saat ketika kebaikan menjadi paling berarti. Disinilah lelah menjadi lilah, berhujung pahala bagi orang-orang yang sabar.

    Keindahan dari berbuat baik adalah bahwa itu perbuatan baik itu menciptakan gelombang bawah sadar kebaikan. Satu tindakan kebaikan dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Seperti batu yang dilemparkan ke dalam kolam, efek dari satu tindakan dapat berdampak jauh lebih luas daripada yang bisa kita bayangkan. Disinilah kita paham arti bagaimana kebaikan yang berkah dapat menjadi shadaqah jariyah yang pahalanya berterusan.

    Dalam menjaga semangat berbuat baik, kita juga harus berhati-hati untuk tidak terjebak dalam momentum negatif. Mudah untuk merasa kecewa atau sinis ketika kita melihat kebaikan yang kita lakukan tidak langsung mendapat respons positif. Namun, kebaikan bukanlah tentang hasil yang instan; kebaikan adalah tentang menanam benih yang akan bertumbuh seiring waktu.

    Menghimpun suluh yang padam juga berarti terus bergerak bersama-sama dalam melakukan kebaikan, walaupun berbeda tempat dan waktu, tetapi tetap menjaga kebaikan yang tercerai berai akan ada waktunya untuk bergerak memberikan arti, selama dilakukan dengan cara yang baik dan juga dilakukan dengan penuh kesabaran.

    Karena tindakan kebaikan yang dilakukan dengan cara yang salah, dengan tidak memberikan hak orang lain, dengan berjanji kemudian mengingkari, dengan berkata-kata dusta, dan jika dia memegang amanah dia khianati amanah tersebut. Hal ini tidak lain telah menjadikannya bersifat munafik bahkan cenderung zalim, yang artinya sangat jauh dari upaya melakukan kebaikan, bahkan menjadi pelaku kebaikan.

    “Siapa saja menipu (berbuat curang) maka dia bukan dari golonganku.”

    (HR Muslim)

    Menghimpun suluh yang padam adalah perjalanan yang tidak akan pernah berakhir. Menghimpun suluh yang padam adalah tentang harapan. Harapan bahwa dengan terus berbuat baik, kita dapat mengatasi apapun yang datang menghadang. Harapan bahwa bersama, kita bisa membuat dunia yang lebih baik.

    Peran utama seorang ayah dan ibu dalam mendidik anak-anaknya dengan nilai kebaikan adalah kunci dari upaya menghimpun suluh yang padam. Anak yang beradab akan mudah dididik oleh guru-guru yang terdidik, dan anak yang yang terdidik akan mudah dikordinasikan oleh para pejuang-pejuang kebaikan. Dan hanya kebaikan yang bersandar pada risalah ilahi yang akan membuat kegemilangan itu sekali lagi akan terwujud.

    Menghimpun suluh yang padam bukanlah tugas yang mudah, tetapi adalah tugas yang paling berharga. Berapa banyak mereka yang tidak terkenang nama dalam perjuangan ini, berapa banyak mereka yang wafat tidak terkubur. Sekiranya pamrih dan nama menjadi tujuan, artinya kita telah tertipu oleh yang mereka yang berjuang yang menggunakannya untuk mengumpan dunia.

    Perjuangan ini adalah panggilan untuk semua orang, tanpa kecuali, untuk berkontribusi dalam upaya menjaga dan menyalakan kembali semangat kebaikan di dunia ini. Karena hanya dengan cara itulah kita benar-benar dapat memaknai arti dari memperjuangkan kebaikan. Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang berjuang dalam kebaikan.

    Donasi Dukung Kita
  • Harapan Itu Masih Ada

    Harapan Itu Masih Ada

    ☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

    Harapan itu masih ada adalah sebuah narasi yang selalu dimulai dari keyakinan bahwa setiap kesuksesan dimulai dari upaya memperbaiki diri, sebuah kontempelasi internal yang berharga. Dalam setiap lembar sejarah yang kita balik, kita akan menemukan bahwa perubahan besar sering kali bermula dari keinginan individu-individu yang gigih untuk menjadi lebih baik. Dari keinginan itu, terciptalah gerakan, tercipta pergerakan, yang kemudian menjadi perubahan yang berdampak besar bagi banyak orang. Dan di titik inilah kita akan terus mengingat bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki potensi yang tak terbatas untuk menciptakan perubahan yang lebih baik.

    Kebangkitan suatu bangsa dan kaum dimulai dari adanya harapan-harapan atas kebaikan. Harapan yang ditanam dalam setiap dada, yang mendorong setiap individu untuk tidak hanya memimpikan keadaan yang lebih baik, tetapi juga bergerak menapak menuju ke sana. Upaya-upaya kecil yang dilakukan setiap hari, oleh setiap individu, menjadi katalis yang pada akhirnya memberikan perubahan besar pada nasib bangsa tersebut.

    Namun, berjalan menuju perubahan sudah pasti bukan lah jalan yang mudah. Ada tantangan dan hambatan yang akan selalu dihadapi. Dalam menghadapi tantangan, yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita dapat mengatasi tantangan, tetapi seberapa konsisten dan istiqamah kita dapat bertahan dalam ujian dan cobaan di jalan kebaikan itu, dan juga tantangan yang tidak kalah beratnya adalah melaluinya dengan cara yang baik dan jujur untuk mengharap ridha Allah. Karena di sinilah, dalam konsistensi dan istiqamah itu, harapan akan terus bernafas dan berkembang.

    Ketika kita berbicara tentang memperbaiki keadaan, kita berbicara tentang sebuah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Proses ini tidak hanya tentang bagaimana mengubah apa yang ada di luar sana, tetapi juga tentang bagaimana mengubah diri kita sendiri. Kita harus bersedia melihat ke dalam, mengenali kekurangan dan kesalahan, dan berkomitmen untuk melakukan yang baik dan juga menjadi lebih baik.

    Perubahan yang berkelanjutan datang dari pemahaman bahwa setiap tindakan kita memiliki dampak. Dengan menerima tanggung jawab ini, kita menjadi lebih sadar tentang pilihan-pilihan yang kita buat setiap hari. Pilihan untuk berbuat baik, untuk menghargai sesama, dan untuk memelihara lingkungan di sekitar kita adalah pilihan yang membentuk masa depan kita bersama.

    Pada titik tertentu, kita mungkin merasa bahwa harapan adalah sesuatu yang sulit untuk dipertahankan. Di saat-saat seperti itu, penting untuk mengingat bahwa sejarah telah menunjukkan kepada kita berkali-kali: kegelapan terdalam sering kali mendahului fajar. Itulah mengapa kita tidak boleh kehilangan harapan, karena itulah yang membawa kita ke depan.

    “Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan kesulitan bersama kemudahan,”

    (HR Tirmidzi)

    Harapan memberi kita kekuatan untuk berdiri kembali setiap kali kita terjatuh. Ini adalah api kecil yang harus tetap dinyalakan, bahkan ketika segala sesuatu tampaknya melawan kita. Kita harus merawat api ini, memeliharanya, karena dari sinilah energi untuk terus bergerak maju berasal.

    Dalam perjalanan memperbaiki diri dan bangsa, kita akan menemukan bahwa kesuksesan bukanlah tujuan akhir dari apa yang kita harapkan. Sebaliknya, kesuksesan adalah serangkaian langkah kecil yang kita perlu tempuh setiap harinya. Kesuksesan adalah sebuah milestone, catatan langkah dari upaya kita menghadapai tantangan. Setiap langkah, tidak peduli seberapa kecil, adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar menuju kebaikan dan keadilan.

    Salah satu pelajaran terbesar dalam proses menjaga harapan ini adalah belajar untuk bersabar. Dalam dunia yang serba cepat ini, kesabaran menjadi semakin langka, namun semakin penting. Kesabaran mengajarkan kita untuk menunggu hasil dari usaha keras kita, untuk memahami bahwa segala sesuatu membutuhkan proses dan menunggu waktu yang tepat.

    Kita juga belajar tentang pentingnya kebersamaan. Dalam perjuangan memperbaiki keadaan, kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita membutuhkan dukungan, bantuan, dan kekuatan dari orang lain. Sahabat-sahabat yang terbaik adalah sahabat yang juga berdiri dalam misi kebaikan. Bersama, kita dapat mencapai lebih banyak daripada apa yang bisa kita lakukan sendiri.

    Pendidikan memainkan peran kunci dalam membangun harapan dan mewujudkan perubahan. Melalui pendidikan, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar bagaimana menjadi kritis, empatik, dan inovatif. Pendidikan membekali kita dengan alat yang kita butuhkan untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Pendidikan memberikan kita solusi untuk menghadapi tantangan dengan cara yang konstruktif, dimana tantangan tersebut adalah anak tangga untuk naik ke atas.

    Selain pendidikan, teknologi juga menjadi faktor penting dalam mewujudkan harapan. Dengan kemajuan teknologi saat ini, kita memiliki lebih banyak alat dan sumber daya untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan lingkungan kita. Teknologi dapat menjadi alat yang ampuh untuk membawa perubahan positif, selama kita menggunakannya dengan bijak. Menguasai teknologi artinya mengetahui cara untuk mewujudkan harapan.

    Harapan juga membutuhkan keberanian untuk berubah. Perubahan sering kali menakutkan karena akan membawa kita keluar dari zona nyaman kita. Namun, tanpa keberanian untuk menghadapi yang tidak diketahui, kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kita dapat pergi atau seberapa banyak yang bisa kita capai.

    Kita perlu juga ingat bahwa memiliki harapan bukan berarti mengabaikan realitas yang keras atau punmenantang. Sebaliknya, memiliki harapan berarti mengakui kesulitan itu, namun tetap memilih untuk melihat adanya setitik kemungkinan dan potensi untuk perbaikan. Ini tentang seni menemukan cahaya, bahkan dalam kegelapan yang paling pekat.

    Ketika kita berbagi harapan kita dengan orang lain, kita tidak hanya memperkuat harapan dalam diri kita sendiri, tetapi juga menyalakannya dalam hati mereka. Harapan dan optimisme yang ditularkan kepada orang lain adalah satu sedekah yang tidak ternilai harganya. Yang tidak jarang satu kata optimisme dari orang lain telah mampu menjadi bahan bakar bagi seseorang menempuh jalan yang jauh.

    Kita juga harus belajar untuk merayakan dan mensyukuri kemenangan ataupun pencapaian yang kecil, karena ini adalah bukti nyata dari kemajuan dan usaha yang kita lakukan. Setiap langkah maju, tidak peduli seberapa kecil, adalah kemenangan dalam perjalanan memperbaiki keadaan dan harus dihargai.

    Pada akhirnya, harapan itu tentang memilih untuk percaya bahwa masa depan dapat lebih baik dari masa lalu. Kontribusi kita diperlukan untuk menciptakan masa depan yang kita harapkan ini. Akhirnya semua ini tentang memilih untuk berinvestasi dalam upaya itu, baik secara pribadi maupun sebagai komunitas.

    “… dan kata-kata yang baik (optimis) membuatku kagum”

    HR Bukhari Muslim

    Harapan itu masih ada, hidup dalam setiap tindakan kebaikan, setiap kata yang menginspirasi, dan setiap hati yang tidak menyerah. Karena selama kita terus berharap dan bertindak berdasarkan harapan tersebut, tidak ada yang benar-benar mustahil.

    Donasi Dukung Kita
  • Kisah Kepahlawanan Tariq Bin Ziyad: Pemimpin Maroko yang Menaklukkan Andalusia

    Kisah Kepahlawanan Tariq Bin Ziyad: Pemimpin Maroko yang Menaklukkan Andalusia

    Pada tahun 711 M, seorang pemimpin Maroko yang gagah berani, Pangeran Tanger: Tariq Ibn Ziyad, menjelma menjadi pahlawan bagi Andalusia (Selatan Spanyol 🇪🇦 dan Selatan Portugal 🇵🇹). Tariq kemudian menjadi raja pertama Andalusia setelah merebut takhta pada tahun tersebut.

    Kisah kepahlawanannya dimulai ketika Tariq memimpin pasukan Moor melintasi Selat Gibraltar 🇬🇮, yang dikenal sebagai Jabal Tarik atau Gunung Tarik. Pada saat itu, selat tersebut menjadi saksi perjalanan epik pasukan Tariq yang memasuki Iberia. Langkahnya yang penuh tekad dan keberanian menginspirasi pasukan untuk menaklukkan Iberia.

    Dalam perjalanannya, Tariq menghadapi Raja Castilian (Spanyol) yang akhirnya digulingkan dari takhtanya. Pergantian kekuasaan ini menciptakan sejarah baru bagi Andalusia yang kemudian diperintah oleh Tariq Ibn Ziyad. Kepemimpinan dan keberanian Tariq membawa keemasan bagi wilayah tersebut, menciptakan periode kejayaan budaya, ilmiah, dan ekonomi.

    Pemerintahan Maroko atas Semenanjung Iberia dimulai pada tahun 711 dan berlangsung hingga tahun 1492. Selama kurun waktu ini, Andalusia menjadi pusat peradaban yang berpengaruh, dengan warisan Moor yang terus terlihat dalam seni, arsitektur, dan ilmu pengetahuan.

    Sebagai penghormatan atas jasanya, nama Gibraltar tetap melekat pada gunung yang dicapainya, mengabadikan kisah kepahlawanan Tariq Bin Ziyad. Hari ini, kita masih dapat merasakan jejak sejarahnya yang mengilhami perjalanan panjang Iberia menuju kejayaannya yang dulu.