Tag: Ramadhan

  • Ramadhan (4): Tantangan Pemuda Muslim

    Ramadhan (4): Tantangan Pemuda Muslim

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Pemuda merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran sangat penting dalam membangun peradaban Islam. Dalam era globalisasi saat ini, pemuda dihadapkan pada berbagai tantangan dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim. Oleh karena itu, penting bagi pemuda untuk senantiasa memperkuat iman dan aqidah, serta mengembangkan karakter yang Islami.

    Kunci utama dalam menghadapi tantangan peradaban Islam adalah menjaga akidah yang lurus dan kuat. Pemuda harus senantiasa menggali ilmu agama dan memahami ajaran-ajaran Islam dengan benar dari sumber yang shahih, sehingga mereka mampu menghadapi berbagai pengaruh buruk yang dapat merusak dan membelokkan aqidah.

    Pemuda perlu memperluas wawasan dan menambah pengetahuan mereka tentang dunia yang selaras dengan nilai-nilai agama. Keterampilan dan keahlian yang dimiliki akan menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan global, serta menjadi sarana dakwah dan pembelaan terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan di dalam Islam.

    Karakter yang Islami harus selalu ditanamkan dalam diri pemuda, seperti kejujuran, keikhlasan, kesabaran, dan kerja keras.

    مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا

    “Barangsiapa berbuat curang, ia tidak termasuk golongan kami.” [At-Tirmidzi No. 1236]

    Karakter jujur dan kerja keras merupakan bekal yang penting dalam menghadapi berbagai tantangan dan menjadi teladan bagi generasi muda lainnya.

    Pemuda juga perlu menjaga pergaulan yang baik dan selektif dalam memilih teman. Dalam pergaulan, mereka harus memilih kawan-kawan yang shalih yang juga akan turut menjaga mereka, menjaga etika dan adab, serta menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama. Pergaulan yang baik akan membantu pemuda dalam memperkuat iman dan menjaga aqidah.

    Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pemuda saat ini adalah dampak negatif dari teknologi informasi dan komunikasi. Mereka harus bijak dalam menggunakan media sosial dan internet, serta menghindari hal-hal yang dapat merusak moral dan aqidah.

    Kepemimpinan yang baik dan memiliki tanggung jawab sosial merupakan kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pemuda. Sebagai generasi penerus, mereka harus mampu menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat.

    Pemuda harus senantiasa menjaga kesehatan fisik dan mental mereka, karena keduanya merupakan amanah dari Allah. Mereka harus menjaga pola hidup sehat, berolahraga secara teratur, dan menjauhi hal-hal yang merugikan kesehatan. Karena suatu saat kesehatan dan kekuatan tubuhnya juga akan diperlukan dalam kerja-kerja pengabdian di masyarakat.

    Membangun peradaban Islam tidak hanya melibatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memerlukan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama (habluminnanas). Pemuda harus aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, serta menunjukkan sikap toleransi dan persaudaraan.

    Pendidikan merupakan kunci penting dalam menghadapi tantangan peradaban Islam. Pemuda harus rajin dan tekun dalam menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia, untuk membekali diri mereka dalam menghadapi berbagai tantangan dan menjadi agen perubahan yang positif bagi masyarakat.

    Karatau madang dihulu babuah bagno balun, merantau belajar bujang dahulu, dirumah baguno balun.

    Seorang sahabat Nabi Jundub bin Abdullah ia berkata; “Ketika kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pada saat itu kami merupakan sosok pemuda-pemuda yang kuat. Kami belajar iman sebelum mempelajari Al Qur`an, kemudian kami mempelajari Al Qur`an, maka dengan begitu bertambahlah keimanan kami” (Sunan Ibnu Majah 60).

    Pemuda juga perlu mengembangkan jiwa kewirausahaan dan menciptakan lapangan kerja bagi sesama. Dalam hal ini, mereka harus mampu menggali potensi yang dimiliki dan mengoptimalkan sumber daya yang ada, serta menghasilkan produk dan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat dan umat Islam.

    Kepada pemuda asa dan harap disandarkan, banyak persimpangan harus ditempuh. Al-Quran dan As-Sunnah harus senantiasa dijadikan pegangan, jangan lupa untuk berkawan dengan orang-orang shalih supaya terus membuat kita terjaga dengan identitas kita sebagai Pemuda muslim.

    Terakhir, penting untuk selalu bersyukur dan berdoa kepada Allah SWT, memohon petunjuk dan kekuatan dalam menghadapi tantangan peradaban Islam. Dengan keimanan yang kuat, konsistensi, semangat yang tinggi, dan dukungan dari keluarga, masyarakat, serta pemerintah, pemuda dapat menjadi generasi yang tangguh dan berperan aktif dalam membangun peradaban Islam yang gemilang.

    Wallahu’alam

  • Ramadhan (3): Waktu Ramadhan Yang Terbatas

    Ramadhan (3): Waktu Ramadhan Yang Terbatas

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Banyak dari kita melewati Ramadhan seperti waktu-waktu yang umum, kecuali dalam hal kesibukan persiapan berpuasa, bangun awal dan tidur mungkin lambat karena shalat tarawih. Membangunkan diri, anak-anak dan anggota keluarga lainnya diawal shubuh, tentu bukanlah hal yang mudah.

    Disisi lain kita juga dapat melihat bahwa sebetulnya dalam puasa, kita telah melakukan penghematan, mengurangi anggaran dan jadwal makan dari tiga kali (3x) sehari menjadi 2x (sahur dan berbuka). Dalam Ramadhan juga kita sepatutnya telah mengurangi ekspetasi kita terhadap dunia. Tapi terkadang justru hal yang terjadi adalah sebaliknya. Kita terlena untuk memanfaatkan bulan Ramadhan, kita semakin padat beraktifitas sehingga terlupa dengan peluang-peluang yang Allah buka selama bulan Ramadhan, untuk mencebur larut dalam amal ibadah yang khusyuk.

    Puasa Ramadhan seperti namanya adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Dilakukan selama satu bulan penuh dengan 29 atau 30 hari di bulan Ramadhan. Dimulai dari terbit shubuh hingga terbenamnya matahari. Tantangan yang berat ini menariknya Allah katakan sudah menjadi syariat bagi kaum-kaum sebelumnya. Sehingga jadi umat muslim bukanlah yang pertama mendapat syariat kewajiban berpuasa. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat 183 surat Al-Baqarah:

    يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

    Puasa tidak diwajibkan setahun penuh, seluruh bulan dan hari dalam sepanjang tahun. Puasa Ramadhan berada dalam waktu yang terbatas dan telah ditentukan dalam setahun hanya pada satu bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan ayat selanjutnya pada Al-Baqarah 184 yang berbunyi:

    أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ

    (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (yang telah ditentukan, hari-hari yang dibatasi pada waktu tertentu saja)

    Inilah yang perlu menjadi ibrah dalam semangat kita beribadah di bulan Ramadhan. Kebaikan-kebaikan, pahala-pahala yang kita cari di dalam puasa Ramadhan adalah waktu yang terbatas saja, yang tidak tersedia selalu, sehingga mudah disia-siakan.

    Keuatamaan-keutamaan Ramadhan sepatutnya telah mampu membuat kita betul-betul mempertimbangkan ulang prioritas aktifitas kita. Sehingga sungguh sayang rasanya jika kita menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan, dalam waktu yang berpeluang datangnya rahmat dan berkah yang melimpah di dalam waktu yang tertntu yang terbatas. Sungguh sayang jika kita melewati Ramadhan ini dengan kesia-siaan, menyepelekan dan tidak mendapat faidah yang banyak dari kesadaran dari usaha yang kita lakukan. Sunggu kita betul-betul menjadi orang yang merugi. seperti yang disampaikan dalam hadits:

    “Merugi orang yang mereka mendapatkan Ramadhan, dan dia keluar dari Ramadhan dalam keadaan tidak mendapatkan apapun dari ampunan Allah Subhanahu Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)

    Jika momentum Ramadhan sudah terlewat, maka kita perlu menunggu Ramadhan berikutnya pada tahun yang berikutnya. pada tahun yang berbeda dan hari yang masih lagi panjang untuk ditunggu. Patutkah kita tidak menyesal? Sungguh ini dapat menjadi perhatian bagi kita semua.

    Beberapa tips bisa dilakukan untuk mempersiapkan ramadhan agar tidak menjadi sia-sia:

    1. Bergembira dengan datangnya Ramadhan
      Kegembiraan akan datangnya Ramadhan adalah salah satu tanda syukur atas karunia dan rahmat Allah SWT kita masih diberikan kesempatan untuk menjumpai Ramadhan. Kegembiraan ini juga menjadi pintu atas kebaikan dan berkah yang kita harap Allah akan berikan kepada kita dalam mempersiapkan bulan Ramadhan. Jangan jadikan kita kedalam sebagian orang yang tidak senang dengan datangnya Ramadhan, apalagi jika membandingkannya dengan masalah dunia yang tidak didapatkannya selama bulan Ramadhan: baik penjualan yang lesu, pendapatan yang berkurang, atau waktu yang hilang melakukan aktifitas sehari-hari. Semoga kita diberikan Allah hati yang lunak untuk menyambut kegembiraan Ramadhan.
    2. Mempersiapkan strategi menjalani Ramadhan
      Dengan banyaknya aktifitas dan kewajiban kita, tentu perlu kita membuat strategi dalam menjalankan Ramadhan. Hal ini supaya kita dapat fokus meraih pahala dari ibadah-ibadah yang telah diutamakan untuk mengisi bulan Ramadhan, seperti: puasa, tadabbur al-quran, melengkapi yang fardhu dengan yang sunnah, qiyamul lail pada 10 hari terakhir. Jangan sampai kita menghabiskan waktu berputar-putar yang tidak mendatangkan kita kemaslahatan Ramadhan dan terlebih lagi juga merusakkan amanah kewajiban kita. Karena Ramadhan adalah peluang yang diberikan oleh Allah, tidak serta merta menghilangkan kewajiban kita terhadap urusan kita di dunia lainnya. Sehingga strategi yang baik adalah bagaimana kita mengangsur menyelesaikan urusan yang banyak sebelum datangnya bulan Ramadhan, dan juga bagaimana kita bisa menyelesaikan bulan ramadhan tanpa mengabaikan kewajiban kita yang lain.
    3. Mempersiapkan strategi ibadah dan amal
      Untuk menyelesaikan Ramadhan tentu perlu juga kita mempersiapkan bagaimana kita bersahur dan berbuka dengan sederhana dan tidak menghabiskan terlalu banyak tenaga, bagaimana kita dapat menyelesaikan bacaan al-quran kita, apakah kita dapat menyelesaikan 1 juz satu hari untuk mendapatkan 30 juz di akhir Ramadhan. Apakah kita bisa berjamaah selama bulan Ramadhan, setidaknya dengan keluarga kita. Apakah kita merencanakan untuk memberi makan dan minum unutk orang yang berbuka, ataupun bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, dan banyak lagi lainnya.
    4. Meminta pertolongan kepada Allah
      Setelah semua ikhtiar itu sudah kita lakukan, maka terakhir dan yang utama adalah meminta pertolongan Allah untuk memberkahi kita dengan Ramadhan yang berkah, yang lancar, yang membuat kita menjadi orang-orang yang tawadhu, dan menjauhi kita dari sifat hasad, dengki dan riya, yang menjadikan fokus kita terganggu.

    Demikianlah uraian tentang betapa terbatasnya waktu Ramadhan yang kita miliki. Perlu rasanya kita rencanakan seperti waktu-waktu kita yang penting lainnya, supaya waktu Ramadhan yang terbast ini tidak terbuang sia-sia. Dan semoga Ramadhan menghantarkan kita menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah dan tidak menyepelekan seruan Allah. Hidup kita yang sementara, waktu kita yang terbatas, semoga tidak sia-sia dan semoga Allah memberkati kita semuanya, khususnya Ramadhan ini.

    Wallahu’alam.

  • Ramadan (2): Memaknai Hakikat Dari Ibadah Puasa

    Ramadan (2): Memaknai Hakikat Dari Ibadah Puasa

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Puasa merupakan ibadah yang sangat penting dalam agama Islam. Puasa ini merupakan bagian dari rukun Islam dan wajib bagi setiap orang yang telah mencapai usia baligh (dewasa) serta memiliki kemampuan untuk melakukannya. Namun, tidak semua orang memahami hakikat sebenarnya dari ibadah puasa. Sehingga kebanyakan puasa akhirnya dilalui hanya dengan menahan dahaga, lapar dan haus saja. Pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai hakikat dari ibadah puasa.

    Hakikat sebenarnya dari ibadah puasa adalah untuk meningkatkan kualitas ketakwaan seseorang mukmin kepada Allah SWT. Allah memilah dan memilih himbauan untuk berpuasa yang diberikan kepada orang-orang yang betul-betul yakin beriman. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

    يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

    Dalam ayat ini, Allah SWT menyebutkan bahwa ibadah puasa bertujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, yaitu dengan meningkatkan ketakwaan.

    Tujuan dari ibadah puasa adalah untuk membersihkan hati dan jiwa seseorang dari berbagai dosa dan kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari Muslim)

    Dalam sebuah hadits juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

    Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka” (HR. Ahmad)

    Tujuan lain dari ibadah puasa adalah juga untuk melatih kekuatan fisik dan mental seseorang dalam menghadapi berbagai cobaan, tantangan dan ujian kehidupan. Latihan kesabaran dan keteguhan hati seseorang mukimin agar dapat berjiwa lapang dan kokoh dalam menjalani kehidupan. Dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6, Allah SWT berfirman:

    فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

    “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

    Ayat ini menunjukkan bahwa kesulitan dan ujian yang dihadapi seseorang mukmin akan membuka jalan kemudahan di masa depan, jikanya ia mampu bersabar dan berhusnudzan terhadap kondisi yang dialaminya.

    Selain seorang mukmin harus bermental kokoh, ianya juga harus mampu mengontrol inderanya dalam merespon situasi, khususnya mulut. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

    “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk ketika berpuasa, maka Allah SWT tidak membutuhkan ia untuk meninggalkan makanan dan minuman.” (HR Bukhari)

    Selain itu, ibadah puasa juga bertujuan untuk melatih mukmin untuk senantiasa beramal shalih, khususnya memberi makan orang yang berpuasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda dari Zaid bin Khalid:

    مَن فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِن أَجْرِ الصَّائِمِ شَيئًا

    “Barangsiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sendiri.” (HR Ahmad, al-Tarmizi dan al-Baihaqi)

    Sebagai kesimpulan hakikat ibadah puasa adalah bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan seluruh rangkaian dan ganjaran bahwa ibadah puasa adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang syariat-Nya sehingga kita dapat betul-betul memaknai ketakwaan kita kepada Allah SWT.

    Demikianlah, beberapa tujuan sebenarnya dari ibadah puasa yang dapat kita pahami dari dalil-dalil dan referensi yang ada. Semoga dengan memahami tujuan sebenarnya dari ibadah puasa, kita dapat menjalankannya dengan lebih khusyu, tawadhu dan memperoleh berbagai manfaat yang dijanjikan oleh Allah SWT. Mari kita tingkatkan kualitas ibadah kita dalam bulan Ramadan ini dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Wallahu a’lam bi shawab.

  • Ramadan (1): Mengenal Bulan Ramadhan dan Fungsi Ibadah Puasa

    Ramadan (1): Mengenal Bulan Ramadhan dan Fungsi Ibadah Puasa

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi seluruh umat Muslim di dunia. Bulan ini dianggap sebagai bulan yang penuh rahmah dan berkah dari Allah SWT. Bulan Ramadhan selalu ditunggu-tunggu oleh umat Muslim karena di dalamnya terdapat banyak kesempatan untuk melakukan amalan-amalan yang sangat mulia, yang salah satunya adalah puasa. Puasa Ramadhan adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap umat Muslim yang sudah memenuhi syarat-syarat dan rukun tertentu.

    Puasa secara umum memiliki banyak fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi kehidupan umat Muslim. Di antaranya adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, mengembangkan rasa tawadhu, membersihkan jiwa dan raga dari dosa dan kesalahan terhadap Allah SWT, juga mempererat hubungan antara sesama manusia, serta meningkatkan kepedulian terhadap orang yang membutuhkan.

    Dalil tentang wajibnya ibadah puasa bagi orang-orang mukmin bisa kita temukan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi:

    يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

    Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa ibadah puasa wajib dilakukan oleh setiap orang yang mengaku beriman, dengan tujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya. Ini adalah panggilan khusus dimana Allah tahu, hanya orang-orang beriman yang akan serius dalam menjawab anjuran puasa tersebut.

    Selain itu, dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah menyampaikan Rasulullah SAW pernah bersabda:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

    Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT, sehingga Allah pun memberikan ganjaran bahwa puasa Ramadhan dapat menghapus dosa-dosa yang telah berlalu. Sungguh merugi rasanya jika kita tidak dapat menangkap pesan ini.

    Fungsi lain dari ibadah puasa juga adalah sebagai media untuk membersihkan jiwa dan raga dari hasad (tazkiyatun nafs), dengki dan suudzan (berburuk sangka). Ketika berpuasa, orang-orang beriman bukan hanya diharuskan untuk menahan diri dari makan, minum, tetapi juga menahan diri dari perilaku yang dapat merusak kebaikan hati dan pikiran, juga menahan diri dari perilaku yang dapat menyakiti hati orang lain. Dengan menahan diri dari hal-hal tersebut, diharapkan kita dapat lebih fokus untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki perilaku, dan tidak membuang-buang waktu dari hal yang toxic dan kontraproduktif.

    Puasa juga berfungsi sebagai media untuk meningkatkan kepedulian terhadap orang yang membutuhkan dan berbuat baik kepada sesama manusia dan juga alam sekitar. Ketika berpuasa, kita diharuskan untuk lebih banyak memberikan sedekah dan membantu mereka-mereka yang dhaif (kesulitan). Dengan demikian, puasa dapat membantu kita dapat lebih peduli dan peka terhadap para dhuafa dan isu-isu sosial di sekitar kita.

    Selain itu, ibadah puasa juga dapat membantu kita untuk meningkatkan kesehatan tubuh dan jiwa. Hal ini terjadi karena saat berpuasa, tubuh diharuskan untuk menahan diri dari makan dan minum selama beberapa jam (intermitten fasting). Dalam waktu tersebut, tubuh akan mulai menggunakan cadangan lemak dan gula dalam tubuh sebagai sumber energi. Hal ini dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh dan membakar kalori yang ada dalam tubuh.

    Penting diingat bahwa dalam berpuasa, kita dianjurkan untuk tetap menjaga pola makan yang sehat dan seimbang saat berbuka dan sahur. Hal ini agar tubuh tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Jangan pernah jadikan puasa sebagai alasan menurunnya performa dan produktifitas. Justru sebaliknya banyak penelitian menunjukkan fisik berada dalam kondisi optimum disaat berpuasa, dan banyak momen-momen penting dalam sejarah justru dapat diwujudkan ketika berpuasa di bulan Ramadhan.

    Selain itu, ibadah puasa juga dapat membantu meningkatkan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Ketika berpuasa, umat Muslim diharuskan untuk menahan diri dari makan dan minum meskipun merasa lapar dan haus. Hal ini dapat membantu umat Muslim untuk mengendalikan nafsu, emosi dan membantu mereka untuk lebih mengontrol diri, sabar dan ikhlas dalam menghadapi tantangan hidup.

    Dalam rangka menjalankan ibadah puasa dengan baik, kita diharuskan untuk memahami syarat dan rukun puasa serta melaksanakannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Selain itu, kita juga diharapkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh serta menjaga sikap dan perilaku yang baik selama menjalankan ibadah puasa.

    Dalam menjalankan ibadah puasa, kita diharuskan untuk berpuasa dengan penuh keikhlasan dan taqwa, sehingga puasa yang dilakukan dapat diterima oleh Allah SWT , yang tidak hanya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita sendiri, juga mampu memberikan nilai manfaat kepada orang lain.

    Semoga kita semua dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik dan penuh kesadaran serta mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah SWT. Semoga Allah mudahkan kita semua menjalani Ramadhan kali ini, diberikan ketenangan hati, ketawadhuan serta kesempatan untuk mendapatkan hikmah dari pintu-pintu hidayah yang Allah buka lebar selama bulan ramadhan.

  • Sudah siapkah menghadapi Ramadhan?

    Sudah siapkah menghadapi Ramadhan?

    Marhaban Ramadhan…

    Ramadhan adalah bulan ibadah dan bulan rahmah, dimana amal dilipat gandakan dan dosa dilebur dalam mujahadah (kesungguhan beramal).

    Ramadhan BUKAN bulan raun-raun. Walaupun terdapat kemudahan bagi para musafir, kehilangan satu hari ramadhan tidak berarti dengan ketidakpastian kita akan berjumpa ramadhan di tahun berikutnya.

    Salah satu waktu mustajab berdoa adalah:
    1. Sepanjang hari bulan ramadhan – orang yang berpuasa hingga berbuka
    2. Waktu sahur / sepertiga malam
    3. Waktu ashar menjelang magrib
    4. Waktu berbuka puasa

    Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

    Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al-Bazaar. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ Al-Ahadits, 9: 224)

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

    Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758).

    Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

    يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

    “(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah ‘Ashar.” (HR. Abu Daud, no. 1048; An-Nasa’i, no. 1390. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

    Disaat berbuka puasa,

    ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

    Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

    Mari kita bangkitkan tawadhu, kencangkan ikat pinggang, semoga kita dapat memanfaatkan bulan ramadhan dengan bijak.

  • Rindu Heningnya Ramadhan

    Rindu Heningnya Ramadhan

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

    Penggalan surat Al-Baqarah ayat 183 ini selalu menjadi pembuka tausiyah para penceramah dalam menyambut bulan Ramadhan, mengingatkan orang-orang mukmin atas kewajiban untuk berpuasa. Para jamaah pun segera memulai persiapan dalam menyambut Ramadhan, seolah-olah sudah sama paham bahwa kita sedang bertemu bulan yang dimuliakan, bulan yang memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan.

    Ditengah-tengah kesibukan mempersiapkan segala keperluan fisik, kita juga perlu mempersiapkan hati dan jiwa kita untuk bertawadhu dan mengeraskan tekad untuk memperbanyak amalan dan ibadah.

    Dengan ramainya umat muslim yang ada diseluruh dunia, tentunya ada banyak budaya-budaya yang menghiasi dalam menghidupkan ramadhan. Kita merasakan kegembiraan akan datangnya bulan yang dimuliakan ini. Walaupun begitu, sekiranya hilang khidmat dan khusuk kita dalam menjalankan ibadah ramadhan, hal ini tentu sangat disayangkan karena bertolak belakang dengan apa yang kita niatkan untuk dicapai pada akhir Ramadhan yakni meningkatkan ketakwaan, ketundukan kita kepada Allah SWT.

    Puasa bukanlah ibadah yang baru saja diperkenalkan oleh nabi Muhammad, karena dalam ayat yang diatas Allah telah memberikan penjelasan bahwa puasa (yang pastinya penuh tantangan dan mengharapkan keseriusan ini) juga diperintahkan kepada manusia-manusia sebelumnya, kepada umat-umat pengikut para rasul dan para nabi sebelumnya, kepada semua manusia yang mendapatkan risalah ketuhanan tidak memandang warna kulit, asal, dan latar belakang.

    Sebab itu amalan puasa ini juga telah menghasilkan banyak insan-insan hebat yang sukses dalam puasanya, dan berhasil meningkatkan ketaatannya kepada Allah. Juga amalan puasa dan bulan ramadhan ini khususnya juga telah menjadi saksi jutaan manusia yang gagal merasakan khidmatnya ramadhan, dan hanya mengeluarkan jerih payahnya saja untuk lapar dan haus, sebagaimana peringatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW:

    “Banyak manusia yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya itu, melainkan lapar dan dahaga.” (HR Ibnu Majah)

    Jika kita membaca ataupun mengkaji agama-agama besar didunia, yang pada umumnya adalah agama samawi, dan pada juga dikenal sebagai Abrahamic Religions, agama monotheis, kesemuanya memiliki risalah berpuasa yang memiliki durasi kurang lebih 1 bulan lamanya. Inilah bukti bahwa apa yang Allah nyatakan bahwa ini diwajibkan kepada umat sebelumnya adalah satu pernyataan yang jelas dan benar, dan menjadi pengingat bagi kita yang hidup sekarang.

    Dalam menghidupkan ramadhan adakalanya kita terlebih dalam bersikap dan merayakan, sehingga muncul fenomena-fenomena berlebih-lebihan yang tidak sering bertolak belakang dengan apa yang kita usahakan dalam mencapai kesyahduan dalam beribadah. Kita memasak ataupun berbelanja makanan berbuka yang lebih dari cukup, kita menyiapkan pakaian-pakaian baru lebih dari kemampuan kita, dan sebagainya.

    Di negara Eropa Barat, ataupun Asia Timur yang Islam adalah menjadi agama yang asing, muslim dari berbagai macam asal bangsa yang minoritas merayakan Ramadhan dengan sedikit keterbatasan. Dari keterbatasan ini kita melihat bahwa pokok-pokok agama Islam (ushuluddin) yang walaupun berasal dari berbagai budaya adalah sama dan tidak jauh berbeda. Dan pokok-pokok ini yang memberikan kita kekhusyuan dalam berramadhan, pokok-pokok agama yang belum lagi terlalu banyak dihias dengan budaya-budaya yang sebagiannya baik dan sebagiannya justru menjauhkan kita dari kekhusyuan.

    Ramadhan adalah bulannya ibadah dan amal, dimana Allah memberikan pahala yang berlipat dan mengkhususkan untuk memberikan ganjaran puasa olehNya sendiri. Sekiranya tidak lebih penting dari urusan nyawa dan agama, ada baiknya urusan lain kita tunda sebisanya setelah lewat bulan Ramadhan, supaya kita dapat mencurahkan perhatian dan jerih payah kita untuk mengusahakan amal ibadah dalam rangka mendapatkan pahala yang meningkatkan ketaqwaan kita.

    Banyak urusan dunia yang sekiranya masuk bulan puasa, juga menjadikan kita terasa untuk semakin terdesak untuk melakukannya, dimulai dari makanan, penampilan, perniagaan, dan memang begitu adanya. Manusia dengan segala kelebihannya juga memiliki perkara yang akan menjerumuskannya sendiri, yakni hawa nafsu keinginannya yang tidak terkendali. Hal ini yang menjadikan puasa adalah satu usaha yang sangat besar tantangannya, tetapi manis hasilnya yakni berupa meningkatnya ketaataan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

    Untuk ramadhan ini, mari kita coba heningkan ramadhan kita, mengintrospeksi diri kita, melakukan amal-amal shalih yang kita adalah pelaku utamanya, yang tangan kita adalah alat yang utama digunakan. Menata kegiatan kita dalam hati yang tawadhu, dari menjelang sahur hingga tertidur kembali, dengan mengintensifkan amalan-amalan ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Mari kita usahakan ramadhan ini dengan amal-amal shalih, dan menghindari berlebih-lebihan yang tidak membantu kita menyempurnakan ibadah, serta menjauhi segala kemaksiatan yang menjadikan kita jauh dari kebenaran. Kita juga berharap semoga Allah memberi kemudahan dan kesabaran untuk kita menjalani semua ini. Pada akhirnya kita juga berharap Allah masukkan kita dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.

    Selamat Berpuasa. Taqabalallahu minna wa minkum.

    Kuala Lumpur, 2 April 2022.

  • Fikih Corona: Mukmin menyikapi Covid19

    Fikih Corona: Mukmin menyikapi Covid19

    KABAR Ramadan 14
    7 Mei 2020

    Sikap Mukmin menyikapi Covid19

    Dr H Ismail Novel MAg

    Link: http://darulfunun.id/radio
    Info: http://bit.ly/kabarDF

    Comment, like dan share
    _____________________________
    FB: Darulfunun El-Abbasiyah
    IG: darulfunun.id
    Tw: suraugadang
    –www
    Yayasan: darulfunun.or.id
    Perguruan: perguruandarulfunun.id
    Institut: darulfunun.id
    Aamil: aamil.id
    –ZIS & Wakaf

  • Mengenal Universitas Al-Azhar Mesir

    Mengenal Universitas Al-Azhar Mesir

    KABAR Ramadan 13
    6 Mei 2020

    Mengenal Universitas Al-Azhar dan cara masuknya

    Debi Noferantes

    Link: http://darulfunun.id/radio
    Info: http://bit.ly/kabarDF

    Comment, like dan share
    _____________________________
    FB: Darulfunun El-Abbasiyah
    IG: darulfunun.id
    Tw: suraugadang
    –www
    Yayasan: darulfunun.or.id
    Perguruan: perguruandarulfunun.id
    Institut: darulfunun.id
    Aamil: aamil.id
    –ZIS & Wakaf

  • Prioritas Amal dalam Islam

    Prioritas Amal dalam Islam

    KABAR Ramadan 12
    5 Mei 2020

    Prioritas Amal dalam Islam

    Dr H Arman Husni Lc MA

    Link: http://darulfunun.id/radio
    Info: http://bit.ly/kabarDF

    Comment, like dan share
    _____________________________
    FB: Darulfunun El-Abbasiyah
    IG: darulfunun.id
    Tw: suraugadang
    –www
    Yayasan: darulfunun.or.id
    Perguruan: perguruandarulfunun.id
    Institut: darulfunun.id
    Aamil: aamil.id
    –ZIS & Wakaf

  • Memperkokoh Dua Asas dalam ber-Islam

    Memperkokoh Dua Asas dalam ber-Islam

    KABAR Ramadan 11
    4 Mei 2020

    Memperkokoh Dua Asas dalam ber-Islam

    H Irwandi Nashir

    Link: http://darulfunun.id/radio
    Info: http://bit.ly/kabarDF

    Comment, like dan share
    _____________________________
    FB: Darulfunun El-Abbasiyah
    IG: darulfunun.id
    Tw: suraugadang
    –www
    Yayasan: darulfunun.or.id
    Perguruan: perguruandarulfunun.id
    Institut: darulfunun.id
    Aamil: aamil.id
    –ZIS & Wakaf

  • Istiqamah Kunci Keberhasilan

    Istiqamah Kunci Keberhasilan

    KABAR Ramadan 8
    1 Mei 2020

    Istiqamah Kunci Keberhasilan

    Buya Dr H Afifi Fauzi Abbas MA

    Link: http://darulfunun.id/radio
    Info: http://bit.ly/kabarDF

    Comment, like dan share
    _____________________________
    FB: Darulfunun El-Abbasiyah
    IG: darulfunun.id
    Tw: suraugadang
    –www
    Yayasan: darulfunun.or.id
    Perguruan: perguruandarulfunun.id
    Institut: darulfunun.id
    Aamil: aamil.id
    –ZIS & Wakaf

  • Ramadhan di Ardil Kinanah

    Ramadhan di Ardil Kinanah

    KABAR Ramadan 7
    30 April 2020

    Ramadhan di Ardil Kinanah

    Debi Noferantes

    Link: http://darulfunun.id/radio
    Info: http://bit.ly/kabarDF

    Comment, like dan share
    _____________________________
    FB: Darulfunun El-Abbasiyah
    IG: darulfunun.id
    Tw: suraugadang
    –www
    Yayasan: darulfunun.or.id
    Perguruan: perguruandarulfunun.id
    Institut: darulfunun.id
    Aamil: aamil.id
    –ZIS & Wakaf