Category: Energy and Technology Innovation

  • Mikrohidro, Energi Mandiri yang Dapat Dibangun Swadaya

    Mikrohidro, Energi Mandiri yang Dapat Dibangun Swadaya

    Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman geografis dan sumber daya alam yang melimpah, atau yang saat ini kita dapat sebut dengan potensi sustainability (keberlanjutan) yang tinggi. Sehingga dengan itu Indonesia juga memiliki potensi besar dalam mengembangkan energi terbaharukan, khususnya pembangkit listrik mikro hidro yang bersumber tenaga dari kinetik air yang kita bahas kali ini.

    Di tengah tantangan pemenuhan kebutuhan energi, energi mikrohidro menawarkan alternatif yang ramah lingkungan, terjangkau, dan dapat dibangun secara swadaya oleh masyarakat di daerah terpencil, tanpa ketergantungan pada jaringan listrik utama. Mikrohidro memiliki desain yang sederhana dan efisien, menjadikannya pilihan ideal untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh sistem kelistrikan utama.

    Mikrohidro merupakan teknologi pembangkit listrik yang sangat ramah lingkungan dan juga sangat sederhana. Dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, mikrohidro memiliki jejak karbon yang sangat rendah. Tidak diperlukan pembangunan bendungan besar yang dapat merusak ekosistem, dan dampak terhadap lingkungan sekitar sangat minim. Dengan memanfaatkan aliran air secara langsung, mikrohidro dapat menghasilkan energi tanpa merusak alam.

    Mikrohidro dapat menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan memitigasi perubahan iklim. Menggunakan sumber energi terbarukan seperti air untuk menghasilkan listrik berkontribusi pada pencapaian target pengurangan emisi dan peningkatan kualitas lingkungan hidup.

    Sistem mikrohidro memanfaatkan aliran air dari sungai atau saluran irigasi untuk menggerakkan turbin kecil yang menghasilkan energi listrik. Salah satu keuntungan utama dari pembangkit ini adalah bahwa tidak diperlukan pembangunan bendungan besar yang memakan biaya tinggi dan dapat merusak ekosistem. Sebaliknya, mikrohidro hanya memanfaatkan aliran air yang ada, menjadikannya sistem yang lebih ramah lingkungan. Untuk skala swadaya atau rintisan ini, efisiensi dalam transformasi energi kita dapat abaikan diawal.

    Selain itu, mikrohidro juga memiliki biaya pembangunan dan pemeliharaan yang relatif rendah, sehingga memungkinkan pembangunan infrastruktur pembangkit listrik oleh masyarakat secara mandiri. Desain sistem yang modular juga memungkinkan kapasitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan listrik setempat, hal ini akan memberikan fleksibilitas dalam mengaplikasikannya.

    Salah satu keunggulan utama dari mikrohidro adalah kemampuannya untuk menyediakan energi listrik secara mandiri di daerah-daerah terpencil. Dengan memanfaatkan potensi aliran air yang ada di sekitar sungai ataupun air terjun, masyarakat dapat membangun sistem mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari tanpa harus bergantung pada sumber energi dari jaringan utama PLN. Ini membuka peluang bagi desa-desa yang selama ini terisolasi dari jaringan listrik untuk memperoleh akses listrik yang murah dan berkelanjutan. Bahkan jaringan off-grid (tidak terhubung ini jaringan utama PLN) juga dapat dimanfaatkan di area-area perkebunan ataupun industri agraria yang jauh dari akses.

    Untuk pembangunan, masyarakat lokal khususnya siswa sekolah menengah dapat dilibatkan, juga dalam pemeliharaan sistem mikrohidro, hal ini memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan praktis dalam teknologi energi terbarukan. Melalui inisiatif swadaya ini, pembangkit listrik mikrohidro dapat membantu mendorong kemandirian energi di tingkat komunitas, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan menyediakan sumber energi yang terjangkau dan ramah lingkungan.

    Mikrohidro di Vietnam. Sumber gambar Wikipedia

    Selain sebagai sumber energi, mikrohidro juga dapat berfungsi sebagai media pembelajaran yang efektif tentang energi terbarukan dan konservasi energi. Dengan memahami cara kerja mikrohidro, masyarakat dan siswa sekolah dapat belajar langsung tentang teknologi energi yang ramah lingkungan dan cara-cara efisien dalam memanfaatkan sumber daya alam. Hal ini juga memberikan kesempatan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya konservasi energi secara mandiri, yang dapat bermanfaat bagi komunitas.

    Sekolah-sekolah di sekitar lokasi mikrohidro dapat memanfaatkan instalasi ini sebagai sarana pembelajaran praktis dalam pelajaran fisika, teknik, dan lingkungan hidup. Pembelajaran berbasis langsung ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsep-konsep energi terbarukan, serta memotivasi siswa untuk mengembangkan inovasi energi alternatif di masa depan.

    Provinsi Sumatera adalah salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk pengembangan mikrohidro, terutama di daerah yang memiliki banyak aliran sungai. Di Sumatera Barat, sebagai contoh, terdapat banyak sungai kecil yang mengalir deras dan dapat dimanfaatkan untuk pembangkit mikrohidro. Prinsip pembangkitan energi air ini cukup sederhana, yakni cukup dengan mempertimbangkan ketinggian sumber air dan juga debit air. Jika debit air cukup besar, ketinggian air tidak perlu besar, begitu juga sebaliknya. Prinsip ini dirasa cukup untuk pembangkitan mikrohidro yang berskala kecil.

    Wilayah Sumatera Barat, dengan topografi pegunungannya yang berbukit, memiliki banyak lokasi yang sangat cocok untuk pengembangan mikrohidro. Pembangunan pembangkit listrik mikrohidro di wilayah ini tidak hanya dapat menyediakan listrik bagi masyarakat, tetapi juga memberikan peluang bagi pengembangan ekonomi lokal melalui penyediaan energi yang terjangkau.

    Selain di Sumatera, daerah di Indonesia lain yang memiliki kontur perbukitan juga memiliki potensi besar untuk pengembangan mikrohidro. Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara, terdapat banyak sungai yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik mikrohidro. Pembangunan mikrohidro di Sulawesi, Papua, bahkan Kalimantan juga dapat menjadi solusi dalam memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau oleh jaringan listrik utama karena medan yang berat dan terisolir. Selain itu, hal ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mendukung upaya pelestarian lingkungan dengan mengalihkan penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

    Pembangunan mikrohidro dapat meningkatkan kemandirian energi di daerah-daerah terpencil yang selama ini belum memiliki akses listrik yang memadai. Dengan membangun pembangkit listrik mikrohidro secara swadaya, masyarakat dapat memperoleh sumber energi yang lebih terjangkau, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan kualitas hidup melalui akses listrik yang lebih baik.

    Dengan pengembangan mikrohidro, wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi dari jaringan listrik utama dapat memperoleh akses energi yang lebih stabil dan andal. Selain itu, masyarakat juga dapat mengembangkan usaha-usaha berbasis energi terbarukan, seperti industri kecil yang membutuhkan listrik untuk pengolahan produk lokal, yang dapat meningkatkan perekonomian daerah.

    Sumber: Research Gate, Bilal Abdullah Nasir

    Review

    Mikrohidro adalah solusi energi yang berpotensi besar untuk diterapkan di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau oleh jaringan listrik utama. Dengan desain yang sederhana dan biaya yang relatif rendah, mikrohidro memungkinkan pembangunan pembangkit listrik secara swadaya oleh masyarakat lokal. Selain memberikan manfaat dalam pemenuhan energi, mikrohidro juga dapat berfungsi sebagai media pembelajaran yang efektif tentang energi terbarukan dan konservasi energi.

    Dengan potensi besar yang dimiliki oleh berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Sumatera Barat, mikrohidro dapat menjadi pilar dalam mencapai kemandirian energi di tingkat komunitas, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, dan mendukung pembangunan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

    *Penulis pernah melakukan penelitian potensi Mikrohidro di Air Terjun Sialang, Gunung Sago, Situjuh Batur, Kabupaten Lima Puluh Kota.

  • Teknologi Hidrogen, Satu Harapan Untuk Energi Bersih

    Teknologi Hidrogen, Satu Harapan Untuk Energi Bersih

    Energi bersih atau energi hijau adalah energi yang dihasilkan dengan cara yang ramah lingkungan, tidak menghasilkan polusi, dan dapat diperbaharui. Beberapa contoh energi bersih adalah tenaga surya, angin, biomassa, dan energi hidro. Energi ini saat ini dianggap sangat penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang merusak lingkungan. Pengalihan menuju energi bersih bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi udara, yang menjadi penyebab utama pemanasan global dan kerusakan ekosistem.

    Namun, meskipun energi bersih menawarkan banyak keuntungan, tantangan dalam implementasinya masih cukup besar. Salah satu isu utama adalah ketidakstabilan pasokan energi dari beberapa sumber seperti tenaga angin dan matahari, yang bergantung pada kondisi alam. Selain itu, meskipun energi bersih mengurangi emisi CO2, beberapa teknologi seperti panel surya dan turbin angin tetap memerlukan energi dalam proses produksinya, yang bisa menyumbang sedikit polusi. Oleh karena itu, penting untuk terus mengevaluasi dampak lingkungan dari seluruh siklus hidup teknologi energi bersih, mulai dari produksi hingga ekses pembuangannya.

    Teknologi hidrogen telah muncul sebagai salah satu solusi menjanjikan dalam transisi ke energi bersih. Hidrogen, sebagai sumber energi, adalah unsur yang paling melimpah di alam semesta dan ketika digunakan sebagai bahan bakar, teknologi mampu menghasilkan air (H2O) sebagai satu-satunya produk sampingan, yang menjadikannya sangat ramah lingkungan. Dalam konteks energi, hidrogen digunakan dalam sel bahan bakar, yang mengubah energi kimia hidrogen menjadi energi listrik, dengan emisi nol. Selain itu, hidrogen dapat digunakan sebagai penyimpan energi, yang sangat berguna untuk menyeimbangkan fluktuasi produksi energi terbarukan, seperti angin dan matahari.

    Penelitian mengenai teknologi hidrogen hari demi hari semakin berkembang pesat. Saat ini, para ilmuwan fokus pada pengembangan proses elektrolisis air yang lebih efisien, yang menggunakan listrik untuk memisahkan hidrogen dari air. Teknologi ini masih memerlukan banyak energi, sehingga tantangan yang terbesar adalah memproduksi hidrogen dengan cara yang benar-benar bersih dan ekonomis. Beberapa perusahaan dan negara telah menginvestasikan banyak sumber daya dalam penelitian hidrogen, yang menggunakan energi terbarukan untuk proses elektrolisis, sehingga dapat mengurangi jejak karbon dari produksi hidrogen itu sendiri.

    Di tengah tren kendaraan listrik (EV), teknologi hidrogen justru menunjukkan potensi besar. Kendaraan listrik berbasis baterai yang telah mendapatkan perhatian luas sebagai solusi ramah lingkungan untuk transportasi, kemudian harapan besar juga diletakkan kepada kendaraan berbasis hidrogen yang menawarkan beberapa keunggulan. Salah satu kelebihan utama kendaraan hidrogen adalah waktu pengisian bahan bakar yang lebih cepat dibandingkan dengan pengisian daya baterai kendaraan listrik, yang kita lihat saat ini menjadi perhatian serius para pengguna EV. Selain itu, kendaraan hidrogen juga dapat menempuh jarak lebih jauh dengan sekali pengisian bahan bakar, menjadikannya pilihan yang menarik untuk aplikasi transportasi jarak jauh, seperti truk dan bus.

    Perkembangan teknologi hidrogen juga tidak lepas dari tantangan, salah satunya adalah infrastruktur pengisian bahan bakar yang masih terbatas. Saat ini, stasiun pengisian hidrogen belum tersebar luas, terutama dibandingkan dengan infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan listrik. Untuk itu, diperlukan investasi besar dalam pengembangan jaringan distribusi hidrogen yang lebih luas, baik untuk kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

    Meskipun begitu, perlu disadari bahwa potensi pemanfaatan teknologi hidrogen sangatlah besar. Hidrogen dapat dimanfaatkan untuk sektor industri, seperti pembangkit listrik dan pemanasan. Beberapa negara telah memulai proyek besar untuk menggantikan gas alam dengan hidrogen dalam proses industri mereka. Selain itu, hidrogen dapat digunakan dalam penyimpanan energi bersih yang lebih efisien, memberikan solusi terhadap tantangan penyimpanan energi terbarukan yang masih menjadi kendala (carbon capture and storege).

    Dalam sektor otomotif, teknologi hidrogen menunjukkan potensi besar untuk menggantikan kendaraan berbasis bahan bakar fosil. Selain emisi nol, kendaraan berbasis hidrogen dapat memberikan pengalaman berkendara yang serupa dengan kendaraan konvensional, dengan kemampuan pengisian bahan bakar yang cepat dan jarak tempuh yang lebih jauh. Beberapa produsen mobil, seperti Toyota, Hyundai, dan Honda, telah meluncurkan kendaraan hidrogen yang siap digunakan di pasar, meskipun pasar ini masih relatif kecil dibandingkan dengan kendaraan listrik berbasis baterai. Silakan lihat video yang dibagikan oleh Kedutaan Besar Jepang di Indonesia berikut ini:

    Secara keseluruhan teknologi hidrogen memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber energi bersih di masa yang akan datang, baik untuk otomotif maupun untuk kebutuhan energi lainnya. Meskipun masih banyak tantangan yang harus diatasi, terutama dalam hal efisiensi produksi dan pengembangan infrastruktur, investasi dalam penelitian dan pengembangan hidrogen hijau terus membuka jalan menuju terwujudnya energi bersih yang berkelanjutan dan efisien.

  • Influence of Metal Dopant (Cu, Co, Sm, Sn) on Ni/ScSZ Thin Film Anode in Solid Oxide Fuel Cell

    Influence of Metal Dopant (Cu, Co, Sm, Sn) on Ni/ScSZ Thin Film Anode in Solid Oxide Fuel Cell

    Solid oxide fuel cells (SOFCs) are highly efficient electrochemical conversion devices that generates electrical energy through electrochemical reaction of gaseous fuel. Doping on the SOFC anode catalyst has the potential to increase the performance and tolerance of SOFC towards hydrocarbon fuel. An understanding of the doping effect of different type of catalyst on the SOFC anode is essential due to the differences in the characteristics of the catalysts and the impact on the existing anode catalyst microstructure with the dopant addition. This study is aimed to identify the effect of metal catalysts doping on the microstructure and electrochemical performance of Ni/ScSZ thin composite anodes on the SOFC electrolyte supported cell with surface infiltration method. The impact on the anode catalyst’s microstructure, distribution of element and elemental analysis was carried out using SEM-EDX and XRD analysis. The electrochemical performance of the cells were evaluated by the maximum power density and open-circuit-voltage (OCV) from the current-voltage (iV) measurement in hydrogen and in biogas. The results of this study found that the presence of dopant introduction of 5wt% dopant/Ni can be detected by EDX, but not with lower concentration. For Sn, Sm and Cu doped cells, the XRD analysis detected Ni3Sn, Ni2Sm and Cu0.81Ni0.19 alloy formed, respectively. Doping by 0.5 wt% of Sn/Ni and 5wt% of Sm/Ni  improved the electrochemical performance in hydrogen by three-fold and two-fold (184mW/cm2 and 100mW/cm2, respectively) compared to 49 mW/cm2 in the undoped cell. Addition of Cu showed the best tolerance with biogas operation. Co addition on the other hand posed a negative impact and the microstructure of the anode become overly dense. This work observed different impact dopant by various dopant on the cell’s porosity which influenced the electrochemical reaction. As the result with biogas deviates from previous investigation with anode supported cell, it can be concluded that for electrolyte supported cell with thin anode which have limited catalytic area as the reforming reaction reaction compete with the triple phase boundary area for  electrochemical reaction.

  • Industrial Maturity Development Index: An Approach from Technology-driven Resources

    Industrial Maturity Development Index: An Approach from Technology-driven Resources

    Authors:
    Abdullah A Afifi, Nor Anisa Arifin, G Kiswanto

    Abstract:
    The need for measurement to identify the development stage of industries is crucial to compete and leverage on the industrial business environment. Most of the development processes in Indonesia is influenced and supported by regulatory practices by the authority, and many development plans were based on capital investment rather than stage by stage development which based on industrial ground capabilities. On the other side, the sustainability of industries can be tracked from the competitiveness of its processes, technical methods, and machines. This will lead to better efficiency of its processes which will affect the cost of the products or services and also improve the industrial performance. This paper tries to: (1) use a perspective where the industrial historical momentum can be seen as a benchmark of development stages and give alternatives to focus on technology-driven resources, (2) adopt simple measurement calculations that can be used for comparing one of the industries to another, and also can be used as a bench-marking stage of a group of industries, (3) explain how product specification was related to technical capabilities and how it can be used as competitiveness measurement.

    January 2020

    Conference: International Colloquium on Research Innovation & Social Entreprenurship (Ic-RISE) 2019

    At: UKM Graduate School of Business

  • Robot adalah Teman

    Robot adalah Teman

    “Ah, jadi kamu bisa membuat robot-robot seperti di Transformer? Lalu, kapan robot akan mengambil alih dunia dari manusia?” tanya si petugas imigrasi di Heathrow saat mengetahui bahwa aku adalah mahasiswa robotika.

    Aku hanya tertawa sebagai jawaban. Rupa-rupanya, science fiction, yang justru menjadi inspirasi awal ilmu robotika dan bahkan yang pertama kali memuculkan istilah robot, telah ikut serta membangun persepsi bahwa robot adalah entitas jahat yang kelak suatu hari nanti akan mengancam eksistensi manusia.

    Pertanyaan itu pun mengingatkanku pada sebuah adegan dalam serial A Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin. Di buku ketiga, A Storm of Sword, dikisahkan bagaimana Jon Snow bersama rombongan wildlings berusaha menembus The Wall, tembok tinggi yang selama ini melindungi Seven Kingdoms. Saat itu, Jon Snow teringat bagaimana Lord Eddard Stark berpesan kepadanya, “A wall is only as strong as the men who defend it.

    Benarkah robot akan mengambil alih dunia dari manusia? Aku tidak tahu. Yang kutahu, seperti kata-kata Lord Eddard tadi, “A robot is only as good as the men who create it.” Bahwa robot bisa digunakan untuk berbagai tujuan yang tidak baik, memang tidak salah. Tapi, tujuan-tujuan baik yang bisa dicapai dengan robot juga tak terhitung banyaknya. Bahkan, dua topik yang paling hangat dibicarakan saat aku berkesempatan menghadiri International Conference on Robotics and Automation di Swedia bulan Mei lalu, adalah Surgical Robotsdan Safe Human-Robot Interaction.

    Bagiku sederhana saja, meniru kata-kata Captain Tsubasa: robot, sekarang dan seterusnya, adalah teman. Dan sebagai teman, tak ada yang perlu ditakutkan darinya. Kamu bisa menggandeng tangannya, memeluknya, dan menyayanginya. Bahkan, diajak berdansa pun ia tak akan (bisa) menolak!

    Jadi bisa nggak sih robot mempunyai kesadaran dan kehendak bebas untuk melakukan apa pun yang ia mau? Mungkin nggak ya robot memberontak melawan manusia dan menguasai dunia? Haruskah kita takut pada ancaman robot masa depan? Di video ini, Jago Robotika akan mengenalkan tentang perkembangan kecerdasan buatan dan robotika, mulai dari Turing Test, konsep kesadaran, hingga 3 Hukum Robotika Asimov, untuk mengupas kemungkinan robot menguasai dunia.

    Sebenarnya Manusia lah yang perlu ditakuti, karena mereka lah, bukan yang lain, sumber kejahatan yang sesungguhnya.

  • Algoritma Machine Learning di Balik Gambar Black Hole Pertama

    Algoritma Machine Learning di Balik Gambar Black Hole Pertama

    April 2019 silam, dunia dihebohkan dengan dirilisnya gambar black hole untuk pertama kalinyaBlack hole, yang keberadaannya diprediksi oleh Albert Einstein melalui teori relativitas umumnya, adalah objek bermassa sangat besar sampai-sampai tak ada benda di sekitarnya yang bisa lolos dari tarikan gravitasinya, termasuk cahaya sekalipun. Meskipun keberadaan black hole di alam semesta bisa dideteksi melalui interaksi gravitasinya dengan objek langit lain, belum ada satu orang pun yang berhasil mengambil gambar black holeGambar black hole di film Interstellar, misalnya, tidak didapat dari pengamatan asli, tetapi semata-mata desain visual berdasarkan perkiraan para fisikawan tentang bentuk black hole. Semua berubah saat tim ilmuwan dari Event Horizon Telescope (EHT) berhasil mendapatkan gambar nyata black hole tahun ini.

    Sebentar, kalau cahaya tak bisa lolos dari tarikan gravitasi black hole, lalu bagaimana kita bisa menangkap gambarnya? Ternyata, kalau kita arahkan teleskop yang menangkap gelombang radio ke arah black hole, secara teori kita bisa menangkap “gambar” cincin cahaya. Cincin cahaya di sekitar black hole ini dihasilkan oleh plasma (semacam gas yang sangat panas) yang berada tepat di event horizon, yaitu titik batas di mana benda yang lebih dekat lagi ke black hole tidak bisa kita amati sama sekali karena cahaya pun tak bisa lolos dari gravitasi black hole. Nah, plasma yang tepat berada di event horizon ini lah yang akan terlihat sebagai cincin cahaya oleh kita. Kalau begitu, mengapa begitu sulit untuk mendapatkan gambar black hole? Tinggal kita pakai teleskop gelombang radio saja, kan? Masalahnya, karena jarak black hole yang sangat jauh dari kita, ukuran cincin cahaya ini diperkirakan sangat kecil. Untuk mendapatkan gambarnya, kita membutuhkan teleskop sebesar bumi! Mustahil!

    Untungnya, ilmuwan-ilmuwan yang tergabung dalam EHT mempunyai ide cemerlang. Bukannya berusaha membuat teleskop sebesar bumi, mereka justru menggunakan banyak teleskop gelombang radio yang tersebar di seluruh bumi untuk mendapatkan bagian-bagian kecil dari gambar black hole yang diinginkan. Masalahnya, jumlah teleskop yang ada terlalu sedikit untuk mendapatkan gambar black hole yang utuh. Lalu, bagaimana caranya mendapatkan gambar black hole utuh dari serpihan-serpihan gambar ini? Di sini lah teknologi computer vision dan machine learning berperan.

    Orang yang berperan merekonstruksi gambar black hole adalah Katie Bouman, yang kala itu masih menjadi mahasiswi doktoral di jurusan Teknik Elektro dan Ilmu Komputer, MIT. Bagaimana sih cara kerja algoritmnya kok bisa menebak gambar utuh black hole hanya dari serpihan-serpihan gambar saja? Jika kita punya serpihan-serpihan gambar (seperti puzzle yang belum komplit), kita bisa menebak gambar utuhnya karena kita mempunya ide/ekspektasi kira-kira seperti apa bentuk gambar utuhnya. Misalnya, puzzle mainan anak-anak, kemungkinan gambar utuhnya berupa kartun lucu tentu lebih besar daripada kalau gambar utuhnya berupa lukisan abstrak. Nah, algoritma Katie bekerja seperti itu, yaitu me-ranking gambar utuh yang paling mungkin merepresentasikan black hole dari jutaan kemungkinan gambar yang ada.

    Loh, tapi kan kita nggak tahu gambar black hole seperti apa? Dari mana kita bisa menyimpulkan gambar mana yang paling mungkin merepresentasikan black hole? Di sinilah machine learning berperan. Sebagaimana diberitakan MIT News, Katie menggunakan banyak sekali gambar objek-objek real, baik objek astronomi seperti planet, bintang, komet, maupun objek sehari-hari seperti orang atau bangunan, dan mendesain algoritma machine learning untuk mempelajari kemiripan fitur (feature extraction) dari gambar-gambar tersebut. Informasi ini dipakai untuk memilih perkiraan gambar black hole mana yang paling mirip dengan objek-objek lain di alam semesta.

    “Jadi, gambar black hole pertama akan dihasilkan dengan merajut gambar-gambar yang kita lihat sehari-hari, seperti orang, bangunan, pohon, kucing, dan anjing,” tuturnya sebagaimana dilansir TED.com.

    Ternyata, machine learning tidak hanya berguna di dunia artificial intelligence dan robotika saja ya, tapi juga bisa dipakai untuk berbagai aplikasi lainnya, termasuk menangkap gambar black hole pertama.