Tag: Israel

  • Bom Israel di Doha Menjadi Babak Baru Ketegangan Timur Tengah

    Bom Israel di Doha Menjadi Babak Baru Ketegangan Timur Tengah

    Serangan Israel di Doha menandai eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam politik Timur Tengah. Selama beberapa dekade, Qatar telah bertindak sebagai mediator kunci dalam konflik regional, seringkali menjadi tuan rumah negosiasi yang rumit yang melibatkan Hamas, Israel, dan para pemangku kepentingan lainnya. Dengan menargetkan kepemimpinan Hamas di ibu kota Qatar, Israel tidak hanya melanggar kedaulatan sebuah negara Teluk, tetapi juga menggoyahkan salah satu dari sedikit platform netral yang tersisa untuk dialog. Serangan itu memberikan kejutan yang hebat ke seluruh dunia Arab, menimbulkan kekhawatiran bahwa diplomasi sedang digantikan oleh militerisme yang tak terkendali dan membabibuta oleh Israel.

    Bagi Israel, klaim langsung atas keberhasilan taktis menyembunyikan kesalahan strategis yang lebih dalam. Meskipun beberapa afiliasi Hamas terbunuh, kepemimpinan inti mereka masih banyak lagi yang selamat, memperkuat narasi daya tahan dari kelompok tersebut. Alih-alih melemahkan Hamas, serangan itu justru dapat memperkuat legitimasinya di kalangan Palestina dan sekutu yang kini memandangnya sebagai korban agresi yang tidak adil. Dinamika ini berisiko memperpanjang konflik alih-alih meredamnya, sekaligus mengikis kredibilitas dan integritas Israel sebagai aktor rasional dalam hubungan internasional.

    Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel, berada dalam posisi yang canggung dan semakin sulit dipertahankan. Washington dilaporkan telah diberitahu sesaat sebelum operasi tersebut, tetapi gagal mencegahnya. Kini, para pemimpin AS harus mendamaikan dukungan jangka panjang mereka terhadap Israel dengan meningkatnya kemarahan di antara negara-negara Arab dan mitra internasional. Pernyataan Presiden Trump yang menyatakan “sangat tidak senang” menyoroti ketegangan ini, tetapi tidak banyak meredakan kecurigaan bahwa Washington membiarkan atau tidak mengendalikan serangan sembrono sekutunya tersebut.

    harga diplomatik yang sangat besar untuk posisi Amerika dan Israel saat ini. Qatar, yang dulunya merupakan jembatan antara Barat dan faksi-faksi Islamis, mungkin akan mundur sepenuhnya dari mediasi, menutup jalur vital untuk negosiasi. Negara-negara seperti Turki, Jerman, dan Uni Eropa secara luas telah mengutuk serangan tersebut, menandakan pergeseran menuju isolasi internasional yang lebih luas bagi Israel. Bagi AS, terkikisnya kepercayaan dengan sekutu-sekutu Teluk dapat mempersulit kemitraan energi, kerja sama militer, dan upaya kontraterorisme di seluruh kawasan.

    Di luar diplomasi, serangan Doha melambangkan preseden yang berbahaya. Jika Israel dapat mengebom ibu kota berdaulat tanpa konsekuensi, kekuatan lain mungkin akan merasa semakin berani mengabaikan hukum internasional. AS, sebagai pembela utama Israel di panggung global, mau tidak mau akan terikat dengan klausul ini, yang berisiko dituduh menerapkan standar ganda dalam konflik global. Hal ini melemahkan otoritas moral Washington di saat ia berusaha mengimbangi rival seperti Tiongkok dan Rusia, yang keduanya ingin memperluas pengaruh mereka di Timur Tengah.

    Di dunia Arab, serangan tersebut telah mengobarkan kemarahan publik dan sentimen anti-Amerika. Protes meletus tidak hanya di Qatar tetapi juga di seluruh kawasan baik Eropa dan Asia, menargetkan pangkalan-pangkalan AS dan simbol-simbol kehadiran Barat. Narasi bahwa AS memungkinkan agresi Israel semakin menguat, memicu radikalisasi, mensponsori terorisme, dan melemahkan suara-suara moderat. Perkembangan ini dapat membahayakan pasukan AS yang ditempatkan di Teluk dan memperumit pengaturan keamanan di masa depan, menciptakan siklus ketidakstabilan yang akan sulit diatasi oleh Washington.

    Pada akhirnya, pengeboman di Doha telah membuka babak baru yang berbahaya dalam ketegangan di Timur Tengah. Israel mungkin telah berusaha melenyapkan musuh-musuhnya, tetapi dengan melakukannya, ia telah membahayakan keamanan jangka panjangnya dan membebani aliansinya. Bagi Amerika Serikat, harga dari dukungan tanpa syarat semakin nyata: isolasi diplomatik, menurunnya kredibilitas, dan meningkatnya permusuhan di kawasan yang tidak mampu ia kendalikan. Alih-alih menjamin perdamaian atau keamanan, serangan tersebut telah menanam benih-benih konflik yang lebih dalam, sebuah pertanda buruk bagi masa depan AS dan Israel di Timur Tengah.

  • Islam Menghadapi Pendusta

    Islam Menghadapi Pendusta

    Oleh: Bey Abdullah

    Segala puji bagi Allah yang menciptakan siang dan malam, dan shalawat serta salam kepada nabi penutup Muhammad SAW.

    Begitu pentingnya bahasan ini, menjadi persoalan yang juga pantas dibahas mengikuti isu-isu fardhu ain. Akhlak dalam sebutan lain adab adalah perkara sepele yang sering disebut-sebut oleh orang ramai. Untuk itu perlu rasanya kita mengedepankan bagaimana akhlak dalam Islam seperti yang dicontoh oleh Rasulullah SAW.

    Islam Membenci Kebohongan

    Kebohongan adalah perbuatan yang sangat dibenci dalam Islam. Bohong atau dusta berlawan kata dengan amanah atau dapat dipercaya, sehingga dusta adalah tidak dapat dipercaya. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk selalu berkata jujur dan menjauhi kebohongan. Dalam QS. Al-Ahzab: 70, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” Kebohongan, apalagi yang disertai janji-janji palsu, menjadi akar banyak kerusakan, mulai dari hilangnya kepercayaan, rusaknya hubungan sosial hingga kedzaliman yang merugikan orang lain dengan cara yang haram.

    Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama dalam berkata jujur. Beliau sangat membenci kebohongan dan menjauhkan diri dari para pendusta. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika dipercaya, ia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim). Kebohongan adalah salah satu ciri kemunafikan yang harus dijauhi oleh setiap Muslim.

    Salah satu sifat pendusta adalah kebiasaan melebih-lebihkan sesuatu yang tidak benar. Mereka sering memutarbalikkan fakta untuk membuat cerita mereka terdengar meyakinkan. Allah SWT memperingatkan dalam QS. Al-Hujurat: 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” Ayat ini menunjukkan bahwa kebohongan bisa menciptakan fitnah dan kerusakan jika diterima mentah-mentah.

    Jika kebohongan yang dibawa oleh orang fasik tersebut terwujud, maka setidaknya ada dua hal kerusakan terjadi, yang pertama adalah tersesatnya pemimpin dan pengambil kebijakan, dan yang kedua terdzaliminya orang tanpa sebab-sebab yang benar. Jika sudah terjadi maka pertanggung jawaban adalah kepada yang melakukan kedzaliman yakni pemimpin dan pengambil kebijakan seperti disebut dalam surat Al-Hujurat diatas. Sedangkan yang berbohong pertama kali, dia selayaknya sifat munafik, dia akan keluar dari celah lubang yang lain untuk mencari keselamatan. Akan tetapi di akhirat pertanggung jawaban terberat adalah kepada yang menghembuskan cerita bohong.

    Dalam QS al-Mudatsir ayat 38 “Tiap-tiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. “Tidak masuk syurga orang yang menyebarkan fitnah (mengadu domba).” (HR Bukhari dan Muslim). Seseorang yang menyebarkan fitnah akan jauh dari bau surga, hal ini juga senada dengan hadits yang mengatakan “ Tidak masuk syurga orang yang memutuskan silaturrahim” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini dalam banyak penjelasan ulama adalah bukan sekedar tidak datang atau tegur sapa, tetapi orang-orang yang memutuskan silaturahmi adalah orang-orang yang meletakkan penyebab putusnya silaturahmi, seperti meletakkan batu di tengah jalan yang menghalangi hingga penyebab itu disingkirkan.

    Jauh dari Syafaat Nabi

    Pendusta sering kali menggunakan kebohongan mereka untuk menipu dan menganiaya orang lain. Mereka merugikan orang lain demi kepentingan pribadi. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang curang (menipu), maka ia bukan dari golonganku” (HR. Muslim). Perbuatan menipu tidak hanya mencederai hubungan antarmanusia tetapi juga merusak akhlak individu itu sendiri.

    Di hari kiamat, pendusta akan mendapatkan balasan yang setimpal. Allah SWT berfirman, “Pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. An-Nur: 24). Pendusta akan dipermalukan di hadapan seluruh makhluk atas kebohongan yang mereka ucapkan di dunia. Rasulullah SAW juga memperingatkan, “Kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka, sehingga seseorang yang selalu berbohong dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Pendusta adalah Beban Komunitas

    Pendusta menjadi beban dalam komunitas karena mereka merusak kepercayaan dan harmoni. Kebohongan mereka menciptakan kebingungan, perpecahan, dan ketidakstabilan. Orang-orang mulai ragu untuk mempercayai siapa pun, karena takut menjadi korban kebohongan lagi. Dalam masyarakat yang sehat, kepercayaan adalah pondasi utama, dan pendusta adalah ancaman besar bagi pondasi tersebut.

    Islam menekankan pentingnya mendidik diri untuk selalu berkata jujur sejak dini. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian untuk berkata jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan” (HR. Ahmad). Kebohongan kecil yang dibiarkan akan tumbuh menjadi kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan.

    Dalam sebuah komunitas, kebohongan dapat menghancurkan hubungan antarmanusia. Kehilangan kepercayaan pada seseorang atau kelompok tertentu sering kali sulit dipulihkan. Hal ini membuat pendusta menjadi perusak stabilitas sosial. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk menjadi pembawa kebenaran dan keadilan, sebagaimana dalam QS. Al-Maidah: 8, “Bersikaplah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    Sabar dan Berpegang Teguh Kepada Kebenaran

    Menghadapi pendusta membutuhkan kesabaran dan keteguhan dalam memegang kebenaran, meskipun hal ini sering membuat seseorang terasing. Rasulullah SAW bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR. Muslim). Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar: 10, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Bersabar dalam kebenaran adalah bentuk keimanan yang tinggi.

    Berpegang pada kebenaran meski sulit membawa manfaat besar, baik di dunia maupun akhirat. Dalam QS. Al-Maidah: 8 diatas disebutkan, “Bersikaplah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Orang-orang yang bertahan di jalan kebenaran akan diberi kehormatan dan diberikan balasan yang lebih baik oleh Allah SWT. Allah SWT menjanjikan ganjaran besar bagi mereka yang tetap berpegang teguh pada kebenaran meskipun menghadapi kesulitan. Dalam QS. An-Nisa: 135, Allah berfirman, “Jadilah saksi karena Allah dengan adil, walaupun terhadap dirimu sendiri atau orang tua dan kerabatmu.” Keteguhan ini adalah bukti keimanan dan akan dibalas dengan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT.

    Sedangkan rencana dusta tidak akan mendatangkan apa-apa selain kebaikan kepada mukmin, “mereka membuat tipu daya, tetapi Allah adalah maha pembuat rencana” (QS Ali-Imran 54). Dan Allah akan memberikan kebaikan kepada orang-orang mukmin yang tetap berpegang teguh pada kebenaran, walaupun harus menghadapi segala cobaan dengan dusta dan fitnah. “Sungguh Allah tidak menyalahi janji” (Q.S. Ali Imran: 9).

    Menjauhi Perangai Dusta dan Orang Pendusta

    Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk menjauhi pendusta agar tidak terpengaruh oleh perilaku buruk mereka. Nabi Muhammad SAW memperingatkan, “Seseorang itu berada dalam agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang kalian jadikan teman dekat” (HR. Abu Dawud). Pendusta bisa membawa pengaruh negatif dan merusak iman seseorang.

    Dalam sebuah komunitas, kebohongan dapat menghancurkan hubungan antarmanusia. Kehilangan kepercayaan pada seseorang atau kelompok tertentu sering kali sulit dipulihkan. Hal ini membuat pendusta menjadi perusak stabilitas sosial. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk menjadi pembawa kebenaran dan keadilan, sebagaimana dalam QS. Al-Maidah: 8, “Bersikaplah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

    Sebaliknya, orang-orang yang selalu berkata jujur dan berpegang teguh kepada kebenaran akan mendapatkan tempat istimewa di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga” (HR. Bukhari dan Muslim). Kejujuran adalah fondasi akhlak yang mulia dan menjadi ciri utama seorang Mukmin sejati.

    Wallahu’alam

  • Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Barat (Amerika dan Eropa) yang seringkali dianggap sebagai standar moral dan etika global, dipertanyakan sikapnya saat ini karena berperan dalam menunda-nunda terwujudnya proses gencatan senjata di wilayah konflik Gaza. Kita sering lupa sebetulnya sikap-sikap negara barat itu adalah berkaitan dengan perannya dalam konteks politik dan militer di kawasan tersebut. Faktor-faktor kepentingan ini lah yang sebetulnya mempengaruhi keputusan dan sikap mereka.

    Dalam diskusi global mengenai politik internasional, konsep moralitas sering kali menjadi titik sentral. Moralitas Barat, yang sering dianggap sebagai standar dalam menilai kebenaran dan keadilan, menghadapi tantangan ketika dihadapkan pada krisis-krisis internasional. Pertanyaan tentang sejauh mana negara-negara Barat benar-benar mengikuti prinsip-prinsip moral yang mereka promosikan menjadi semakin relevan saat ini.

    Moralitas Barat berakar pada tradisi filsafat Yunani, hukum Romawi, dan nilai-nilai Kristen. Selama berabad-abad, konsep ini telah berevolusi, mempengaruhi segala aspek dari politik hingga hak asasi manusia. Namun, sejarah kolonialisme, kapitalisasi tuan tanah dan kebijakan luar negeri yang terkadang kontradiktif menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi penerapan nilai-nilai ini.

    Dalam konteks diplomasi dan kebijakan luar negeri, negara-negara Barat sering kali dihadapkan pada dilema moral. Di satu sisi, mereka mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia, sementara di sisi lain, sering kali menjalin hubungan dengan rezim-rezim yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut demi kepentingan politik dan ekonomi.

    Bagaimana kepentingan geopolitik negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, mempengaruhi sikap dan kebijakan mereka terhadap konflik ini. Hal ini termasuk tentang hubungan diplomatik dan militer Barat dengan Israel, serta dampaknya terhadap Palestina. Hingga sampai saat ini berkali-kali sidang PBB mengenai gencatan senjata selalu dihadang oleh veto amerika serikat dan negara barat lainnya yang keberatan dengan gencatan senjata.

    Peran negara-negara Barat dalam diplomasi internasional, termasuk didalamnya bagaimana mereka menggunakan pengaruhnya di forum-forum internasional seperti PBB sangat dipertanyakan. Apakah sebetulnya PBB digunakan sebagai sarana unutk membangun perdamaian dunia ataukah PBB adalah sarana untuk mendukung kepentingannya terhadap negara lain.

    Ketika terjadi krisis kemanusiaan, seperti konflik bersenjata atau pelanggaran hak asasi manusia seperti yang saat ini terjadi di Gaza, respons negara-negara Barat sering kali diukur sebagai tolok ukur moralitas mereka. Pertanyaan muncul mengenai seberapa cepat dan efektif mereka merespons, serta motivasi di balik intervensi mereka.

    Era kapitalisme dan globalisasi membawa tantangan baru terhadap moralitas Barat. Walaupun dalam sejarah era tuan tanah berhasil direformasi, akan tetapi bentuk kapitalisme itu terus tumbuh dan bermetamorfosa. Pertumbuhan ekonomi dan keuntungan menjadi hal yang prioritas, yang terkadang mengorbankan nilai-nilai seperti keadilan sosial dan lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai-nilai moral masih dipegang teguh.

    Media Barat memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik. Cara mereka melaporkan tentang krisis internasional sering kali mencerminkan dan mempengaruhi pandangan moral masyarakat. Namun, bias dan agenda tertentu dalam pelaporan media seperti di Palestina dapat memutarbalikkan realitas, mempengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu moral dan tidak membangun narasi konstruktif yang membawa perdamaian. Berapa banyak jurnalis yang tewas dari situasi perang yang tidak benar-benar adalah situasi perang. Situasi perang ini lebih nampak seperti di kondisikan atau adalah propaganda yang sangat buruk, karena menghadapai penduduk sipil dan saat ini bahkan disebut sebagai proses genosida pembersihan etnik.

    Negara-negara Barat sering kali terlibat ataupun membiarkan perusahan-perusahaan swastanya terlibat (bahkan terkadang terlibat dalam proyek bantuan keamanan resmi) dalam perdagangan senjata internasional, termasuk ke negara-negara yang terlibat dalam konflik atau pelanggaran hak asasi manusia. Penjualan senjata dan bantuan militer ke Israel oleh negara-negara Barat, sangat mempengaruhi dinamika konflik dan menciptakan eskalasi konflik yang tidak perlu hingga memakan banyak nyawa penduduk sipil. Hal ini menimbulkan kontradiksi antara promosi perdamaian dan keuntungan ekonomi yang diperoleh dari penjualan senjata.

    Walaupun kita dapat melihat bagaimana kompleksitas situasi yang terjadi dilapangan, tetapi rasanya negara-negara barat, juga negara-negara laindidalam PBB dapat merumuskan resolusi yang lebih baik lagi daripada apa yang dirumuskan pada hari ini. Pada akhirnya kit amelihat negera-negara yang patut memegang veto adalah negara-negara yang terbukti konsisten dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian di dunia.

  • Haman, Qorun dan Bangsa Yahudi di Zaman Firaun

    Haman, Qorun dan Bangsa Yahudi di Zaman Firaun

    Bismillahirrahmanirrahim.

    Dalam lembaran sejarah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, terdapat kisah-kisah yang tidak hanya mengandung unsur historis tetapi juga pelajaran moral yang mendalam. Kisah Haman, Qarun, dan Bani Israel pada zaman Firaun menawarkan wawasan yang relevan untuk kehidupan modern kita. Melalui artikel ini, kita akan menggali hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Kisah-kisah ini tidak hanya sekadar cerita masa lalu, namun merupakan bimbingan dan peringatan bagi kita semua.

    Ditengah-tengah genosida yang dilakukan oleh Israel Zionis yang mengatasnamakan Yahudi dan janji Tuhan atas tanah Palestina. Begitu juga disaat kita di Indonesia gencar moderasi, di dunia barat adalah pihak yang membiarkan genosida dan kolonialisasi di abad yang modern ini. Sikap yang akan terus dipertanyakan atas standar moral kebijakan internasionalnya.

    Kembali kepada kisah Haman, Qorun dan bangsa Yahudi. Kita memulai dengan kisah Haman, seorang tokoh yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai tangan kanan setia Firaun, sang tiran. Haman mewakili figur yang berlebihan dengan kekuasaan dan harta, terjebak dalam lingkaran kehendak kekuasaan dan menjauh dari kebenaran. Ia mengikuti perintah bahkan menghasut Firaun tanpa pertimbangan, termasuk dalam memusuhi Nabi Musa AS dan kaum Bani Israil. Isu utama adalah bukan permusuhannya, tetapi bagaimana Haman menganiaya dhuafa, melakukan rodi dan tidak memberikan hak makan, minum bahkan hidup yang sesuai. Ini lah yang membuat nabi Musa terpanggil membela para dhuafa yang mayoritas adalah bangsa Yahudi.

    Haman yang dikenal sebagai pembantu Firaun, merupakan simbol dari kepatuhan buta terhadap kekuasaan. Keterikatan Haman dengan Firaun, yang menunjukkan kesetiaannya yang tidak berprinsip, menggambarkan bagaimana nafsu akan kekuasaan dapat membutakan hati seseorang dari kebenaran. Kisah Haman mengajarkan kita tentang bahaya kehilangan arah moral ketika terlalu tenggelam dalam pengabdian kepada kekuasaan duniawi. Kekayaan dan kenikmatan yang diperoleh dengan cara yang salah dan berlebihan melalui kekuasaan adalah satu bentuk korupsi yang besar.

    Kemudian yang kedua, kita renungkan juga siapa Qarun. Seorang dari kalangan Bani Israil yang memiliki kekayaan melimpah. Namun, kekayaannya itu membuatnya sombong dan lupa diri. Qarun merasa semua yang dimilikinya adalah hasil jerih payahnya sendiri, tanpa mengakui nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah. Apakah kekayaannya itu didapatkan dengan cara yang halal ataukah haram. Kekayaan Qarun dipertanyakan ketika melihat bangsa Yahudi berada dalam keadaan hina dan dhaif. Apakah Qarun mendapatkan kekayaan dari memanfaatkan para dhuafa yang dipekerjakan oleh Haman?

    Yang ketiga adalah mengenai bangsa Yahudi yang hidup di zaman Firaun. Mereka adalah kaum yang tertindas, namun tetap kokoh dalam mempertahankan keimanan dan moralitas mereka meskipun hidup di bawah cengkeraman Firaun. Kisah mereka mengajarkan kepada kita tentang ketahanan iman di tengah tekanan dan kezaliman. Bangsa Yahudi dahulu adalah bangsa yang pengasih, memegang teguh moralitas dan ketakwaan terhadap Allah.

    Ketika membandingkan Haman, Qarun, dan Bani Israel, kita melihat kontras yang jelas antara kebaikan dan kejahatan, antara keangkuhan dan ketawakalan. Di satu sisi ada Haman yang berkuasa dan Qarun yang sukses tetapi menghalalkan segala cara, sedangkan bani Yahudi pada saat itu di sisi Allah diberikan pertolongan melalui nabi Musa karena keteguhan iman mereka dalam menghadapi cobaan sebagai golongan yang inferior ataupun yang diuji dengan kemiskinan dan ketidakberdayaan.

    Kisah Firaun, Haman, dan Qarun juga mengajarkan tentang pentingnya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Musa AS, yang berdiri teguh menghadapi tantangan besar, adalah simbol kepatuhan dan keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran. Melalui kisah ini, kita diajak untuk merenungkan posisi kita: apakah kita berpihak pada kebenaran siapa pun dia yang menjalani hidup dengan sabar dan tawakal kepada Allah, ataukah kita termasuk orang-orang yang terbuai oleh kekuasaan untuk korupsi ataupun harta yang menyombongkan seperti Haman dan Qarun yang pada akhirnya menjadi zalim.

    Di dalam Al-Qur’an surah Al-Qasas ayat 76, Allah berfirman tentang Qarun, yang tidak menggunakan kekayaannya untuk kebaikan dan berkasih sayang kepada kaumnya tetapi malah menyombongkan diri bahkan bertindak zalim. Sebagai umat yang beriman, kita harus belajar menjadi pemberi manfaat dan tidak menjerumuskan orang lain dalam keadaan yang buruk dengan kekayaan yang kita miliki.

    Kisah Firaun, Haman, dan Qarun juga menggambarkan betapa seseorang bisa menjadi buta dan tuli terhadap kebenaran ketika hati mereka dikunci oleh kesombongan dan kedurhakaan. Mereka tidak mengakui kebesaran Allah dan akhirnya Allah memberikan kepada mereka akhir yang buruk. Nabi Musa AS, yang berdiri teguh menghadapi tantangan besar, adalah simbol kepatuhan dan keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran.

    Melaui kisah kisah-kisah ini, marilah kita meminta perlindungan kepada Allah dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh ini. Sifat sombong, angkuh, lupa diri, dan tidak berterima kasih kepada Allah adalah sifat yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kehancuran.

    Kita juga diingatkan untuk selalu berpihak pada keadilan, seperti Bani Israil yang meski tertindas namun tidak meninggalkan kebenaran. Kita harus berani menentang tirani dan kezaliman, serta membela yang lemah dan tertindas.

    Kisah ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Musa AS sebagai utusan Allah kepada Firaun dan kaumnya, tetap teguh menyampaikan risalah meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kita diingatkan untuk tidak menjadi seperti Qarun yang tidak bersyukur dan tidak semena-mena. Syukur bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan hati dan perbuatan. Kita harus menggunakan nikmat Allah, termasuk kekayaan dan kekuasaan, untuk berbuat kebaikan dan membantu mereka yang membutuhkan. Bersyukur berarti mengakui bahwa segala yang kita miliki adalah dari dan milik Allah, dan kita hanya sebagai pengelola sementara.

    Akhir dari kisah Haman dan Qarun adalah peringatan bagi kita semua. Keduanya mengalami kehancuran sebagai konsekuensi dari perbuatan mereka yang jauh dari petunjuk Allah. Haman tenggelam bersama keangkuhan Firaun, dan Qarun ditelan bumi karena kesombongannya. Kisah ini adalah peringatan bahwa akhir yang buruk menanti bagi mereka yang berpaling dari kebenaran dan mengikuti hawa nafsu.

    Melalui kisah Haman, Qarun, dan Bani Israel, kita diajak untuk merefleksikan diri kita sendiri. Di mana posisi kita dalam spektrum iman ini? Apakah kita termasuk mereka yang mudah tergoda oleh kekuasaan dan kekayaan, ataukah kita berusaha tetap teguh dalam iman dan kebenaran? Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a’lam bish-shawab.

  • The Sheikh Jarrah Incident: The Toothless Arab Countries vs Israel

    The Sheikh Jarrah Incident: The Toothless Arab Countries vs Israel

    The South China Morning Post, a respected daily from Hong Kong, on the 17 of May, has picked up the stance of Malaysia, Brunei and Indonesia in rallying the Muslims against the latest Israel atrocities.

    In its comments, the Hong Kong SCMP said that the three countries have taken up the strong sentiments of its populace and the governments where the Arab countries have left.

    This is not the first time such an observation is being made by a foreign observer concerning the movement of the centre of gravity of the Muslim World to the Far East rather than the traditional Middle East.

    With the world’s largest Muslim population of 276 million in 2021, Indonesian coupled with Turkey, Malaysia and Brunei looks stronger and should be the de facto spokesman for the Muslim World.

    The Arab world, with 22 countries and having a humongous 422 million Arab Muslims looks toothless and spineless in dealing with its arch-enemy, Israel, alone country with only 8.77 million people.

    The Israel government, in response, on the 17 of Mei has warned Malaysia on its continuing support of Hamas deemed a terrorist organisation by the US and the western world.

    It should be reminded that a Palestinian lecturer cum engineer was gunned down, residing in Gombak in the suburban of East Kuala Lumpur in April 2018.

    He was alleged to have been killed after the dawn prayers by Mossad, the Israel intelligence.

    In response to the threat, the Inspector General of Police (IGP) of Malaysia said that security will be beefed up and is taking the threat seriously.

    I am sure such a comment about the role of the Arab countries in dealing with murderous Israel will not be the last frank observation in the international analysis of their fellow Arab brethren unto the Palestinians.

    Also posted in: https://perwakilan.co.uk/2021/05/the-sheikh-jarrah-incident-the-toothless-arab-countries-vs-israel