Tag: 40 Ibrah Pendidikan

  • Ibrah Pendidikan (2): Yang Lebih Berat Dari Berperang

    Ibrah Pendidikan (2): Yang Lebih Berat Dari Berperang

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ، أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حَدَّثَتْهُ أَنَّهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ ‏ “‏ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدُّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلاَلٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ، فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ، فَسَلَّمَ عَلَىَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمِ الأَخْشَبَيْنِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ‏”‏‏.‏

    Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab berkata telah bercerita kepadaku ‘Urwah bahwa ‘Aisyah (ra), istri Nabi (saw) bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi: “Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?”. Beliau menjawab: “Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa yang paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa ‘Aqabah (Thaif), saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal agar membantuku namun dia tidak mau memenuhi keinginanku hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata; “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu”. Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata; “Wahai Muhammad”. Maka dia berkata; “apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (Sahih Al-Bukhari 3231)

    # IBRAH

    Hadits diatas mengabarkan kepada kita bahwa Rasulullah (saw) menyampaikan kepada Aisyah (ra) bahwa dakwah mengajak kepada kebenaran (ke Thaif) lebih berat dari perang (Uhud). Beliau harus menempuh jarak yang tidak dekat, kemudian setelah berjumpa ajakan beliau ditolak, Mubarakfuri menceritakan dalam sirah nabi (raheeq al-makhtoum) bagaimana beliau diusir (dikejar-kejar) juga dilempari batu, hingga beliau berlari dan baru berhenti setelah jauh dan tidak terlihat.

    Mendidik bukan sekedar menyampaikan informasi, tetapi juga lebih beratnya adalah memberitahu mana yang baik dan benar, dan juga mengajak yang dididik untuk senantiasa berbuat baik dan benar. Mendidik dengan mengajak kepada kebaikan dan kebenaran adalah inti dari dakwah, sehingga mendidik adalah bentuk dari dakwah itu sendiri. Dalam surat Al-Hajj ayat 67 Allah (swt) menyebutkan “dan serulah (mereka kepada Tuhan-Mu), sungguh engkau (Muhammad) berada di jalan yang lurus.”

    Bagaimana niat mendidik rasulullah untuk menunjukkan kebaikan dan kebenaran tidak padam, walaupun kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan yang beliau hadapi, bahkan luar biasanya beliau tetap optimis berharap kedepannya situasi akan lebih baik untuk mereka.

    Dalam hadits ini juga diinformasikan bagaimana Allah (swt) memberi pertolongan kepada orang-orang yang senantiasa berdakwah. Tantangan berat bahkan menunjukkan penganiayaan berat yang dilakukan penduduk Thaif terhadap nabi adalah sangat luar biasa, sampai-sampai malaikat Jibril marah dan meminta izin untuk memberikan hukuman. Kita tahu bagaimana dalam sejarah kaum-kaum terdahulu dijatuhkan hukuman oleh malaikat (dengan izin Allah) karena pengingkaran dan penganiayaan yang luar biasa, ya kaum terdahulu yang dijatuhkan hukuman musibah menjadi habis tidak bersisa, bahkan kita yang hidup saat ini kesulitan mencari jejak mereka.

    Hadits ini juga menggambarkan bagaimana konsistennya nabi dalam urusan dakwah, urusan yang paling berat yang menjadi amanah kepada seorang hamba. Sehingga solusi atas kesulitan-kesulitan dan juga jalan buntu yang dihadapi dalam mendidik, nabi contohkan dengan berdoa dan mengadu kepada Allah, meminta jalan keluar.

    Nabi (saw) juga mencontohkan tidak perlu ada dendam dalam berdakwah ataupun mendidik. Pendidik perlu fokus terhadap misi mendidik, bahkan dianjurkan untuk menyampaikannya dengan cara yang baik. Cara yang akan sangat berbeda dalam profesi yang lain seperti penegak hukum dan ketertiban. Baju yang berbeda, tentu akan diperlukan cara yang berbeda.

    Di penghujung kisah Thaif ini, disebutkan dalam surat Al-Ahqaf tentang adanya sekelompok jin antusias untuk mendengar dakwah nabi (saw) dan menerima Islam kemudian berdakwah kepada kaumnya.a

    Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (Al-Ahqaf 46 : 29-30)

    Ini memberikan gambaran kepada kita, dalam mendidik kebaikan dan kebenaran, seandainya ada satu kelompok yang menolak, insyaallah akan selalu ada kelompok lain yang menerimanya. Yang terpenting adalah menjaga niat dan juga fokus tujuan dakwah adalah menyampaikan kebaikan dan kebenaran, dengan niat lillahitaala.

    Referensi

    Azmi, Ahmad Sanusi. 40 Hadis Tentang Dakwah dan Tarbiah. Ulum Hadith Research Center, 2020.
    https://sunnah.com/bukhari:3231
    https://www.hadits.id/hadits/bukhari/2992

  • Ibrah Pendidikan (1): Peranan Kecil Sangat Berharga

    Ibrah Pendidikan (1): Peranan Kecil Sangat Berharga

    وَحَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، وَأَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ – وَاللَّفْظُ لأَبِي كَامِلٍ – قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، – وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي، هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً، سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي ‏”‏ ‏.‏ قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ ‏”‏ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ ‏”‏ ‏.‏ فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ ‏”‏ إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ ‏”‏ ‏.‏

    Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya seorang wanita berkulit hitam (atau remaja kulit hitam) sering terlihat membersihkan masjid. Suatu hari Rasulullah SAW tidak melihat dia dan bertanya kepada orang-orang sekitar. mereka memberitahunya bahwa wanita (remaja) itu telah meninggal. Beliau berkata kenapa mereka tidak memberi tahunya, seolah-olah mereka menganggap keberadaan wanita (remaja) ini adalah hal yang sepele. Rasulullah SAW kemudian berkata: “tunjukkan aku kuburnya!”. Lalu mereka mengantarkannya dan menshalati kuburnya, kemudian berkata: “sesungguhnya kubur-kubur ini penuh kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah azza wa jalla (maha agung dan maha tinggi) menerangi kubur ini untuk penghuninya karena doaku atas mereka. (Sahih Muslim 956)

    # IBRAH

    Hadits ini adalah hadits yang sangat jelas bagaimana rasulullah tidak menyepelekan keberadaan orang dan pekerjaan kecil. Sebegitu detailnya rasulullah atas kerja, sehingga peran kecil wanita ini tidak terlewatkan, bahkan beliau mendoakannya setelah meninggal.

    Hadits ini sangat bagus untuk diambil hikmahnya bahwa seringkali dalam mendidik kita meminta anak didik kita untuk menjadi hebat terlebih mengambil kerja bagian yang hebat-hebat saja. Sehingga seringkali kerja yang kecil luput dalam pandangan bahkan menjadi tidak penting, dan bagaimana Rasulullah menilai kerja yang kecil ini juga sama bermanfaat bagi kerja baik yang lebih besar. Artinya kerja kecil juga harus terkordinasi, sehingga memberikan manfaat yang juga besar.

    Dalam hadits ini Rasulullah sangat memperhatikan siapa saja disekelilingnya yang berperan melakukan perbuatan baik dan bermanfaat. Begitu juga dalam institusi pendidikan, semua pihak patut mengambil peranan, berkordinasi dan patut dihargai atas kebaikan dan peranannya, walaupun kecil. Ini juga sebagai ibrah untuk kita bahwa dalam kerja kebaikan, peran semua anggota tim perlu diperhatikan dan dipastikan memberikan kontribusi dalam pencapaiannya. Didalam institusi pendidikan terlebih lagi, etika untuk menghargai harus disampaikan, supaya hal ini menjadi karakter yang terbentuk pada siswa dimasa belajarnya.

    Sebagian masyarakat menganggap sepele kerja-kerja kecil seperti ini. Dan Rasulullah SAW mencontohkan tidak patut kita menyepelekan orang lain karena latar belakang ekonomi ataupun penampilannya. Kontribusi nyata yang diberikan wanita ini berkesan tanpa melihat siapa dia, status, pangkat, dan juga penilaian fisik lainnya.

    Setiap pemimpin juga perlu ambil perhatian terhadap anggota-anggota timnya. Dan Rasulullah SAW mencontohkan setiap peran kecil dari pekerjaan besar perlu diperhatikan dan dihargai. Bagaimana diakhir hadits Rasulullah sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas usaha kebaikan wanita ini menjadi saksi atas peran yang dianggap kecil wanita ini yang membantu kerja baik beliau.

    Menurut al-Imam Ibn Hajar, wanita ini adalah Ummu Mihjan, atau Mihjanah, seorang wanita kulit hitam yang berkhidmat membersihkan masjid (Ibn Hajar, al-Isabah). Menurut riwayat al-Nasa’i pula, wanita ini disifatkan sebagai seorang yang miskin. a Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk bertanya kabar tentang orang lain. Bahkan menurut riwayat Al-Hakim, Rasulullah sering bertanya khabar penduduk Anshar. b

    Referensi:

    Azmi, Ahmad Sanusi. 40 Hadis Tentang Dakwah dan Tarbiah. Ulum Hadith Research Center, 2020.
    https://sunnah.com/muslim:956