Author: Zico Pratama Putra

  • Kisah Kepahlawanan Tariq Bin Ziyad: Pemimpin Maroko yang Menaklukkan Andalusia

    Kisah Kepahlawanan Tariq Bin Ziyad: Pemimpin Maroko yang Menaklukkan Andalusia

    Pada tahun 711 M, seorang pemimpin Maroko yang gagah berani, Pangeran Tanger: Tariq Ibn Ziyad, menjelma menjadi pahlawan bagi Andalusia (Selatan Spanyol 🇪🇦 dan Selatan Portugal 🇵🇹). Tariq kemudian menjadi raja pertama Andalusia setelah merebut takhta pada tahun tersebut.

    Kisah kepahlawanannya dimulai ketika Tariq memimpin pasukan Moor melintasi Selat Gibraltar 🇬🇮, yang dikenal sebagai Jabal Tarik atau Gunung Tarik. Pada saat itu, selat tersebut menjadi saksi perjalanan epik pasukan Tariq yang memasuki Iberia. Langkahnya yang penuh tekad dan keberanian menginspirasi pasukan untuk menaklukkan Iberia.

    Dalam perjalanannya, Tariq menghadapi Raja Castilian (Spanyol) yang akhirnya digulingkan dari takhtanya. Pergantian kekuasaan ini menciptakan sejarah baru bagi Andalusia yang kemudian diperintah oleh Tariq Ibn Ziyad. Kepemimpinan dan keberanian Tariq membawa keemasan bagi wilayah tersebut, menciptakan periode kejayaan budaya, ilmiah, dan ekonomi.

    Pemerintahan Maroko atas Semenanjung Iberia dimulai pada tahun 711 dan berlangsung hingga tahun 1492. Selama kurun waktu ini, Andalusia menjadi pusat peradaban yang berpengaruh, dengan warisan Moor yang terus terlihat dalam seni, arsitektur, dan ilmu pengetahuan.

    Sebagai penghormatan atas jasanya, nama Gibraltar tetap melekat pada gunung yang dicapainya, mengabadikan kisah kepahlawanan Tariq Bin Ziyad. Hari ini, kita masih dapat merasakan jejak sejarahnya yang mengilhami perjalanan panjang Iberia menuju kejayaannya yang dulu.

  • Wanita Pendiri Kampus Tertua di Dunia

    Wanita Pendiri Kampus Tertua di Dunia

    Kenalkan, Fatima bint Muhammad Al-Fihriya Al-Qurashiya, seorang pionir hebat yang mendirikan universitas pertama di dunia, Universitas Al-Qarawiyyin di Fes, Maroko pada tahun 859 Masehi.

    Fatima bint Muhammad Al-Fihriya lahir di Kairouan, Tunisia, dan setelah pindah ke Fes bersama keluarganya, dia memiliki visi besar untuk membangun pusat pembelajaran yang memajukan ilmu pengetahuan dan kebijakan.

    Bersama dengan saudara laki-lakinya, Fatima membangun masjid dan menambahkan fasilitas pendidikan. Al-Qarawiyyin menjadi tempat di mana ilmu pengetahuan, humaniora, agama, dan bahkan musik dikembangkan.

    Hingga hari ini, Al-Qarawiyyin tetap menjadi salah satu universitas tertua yang masih beroperasi di dunia.

    Kita punya juga wanita hebat. Namanya Sheikhah Rahmah Al Yunusiyah dari Sumatra Barat. Beliau pendiri madrasah khusus wanita pertama di Nusantara, diawal 1900-an.

    Apa yang bisa kita ambil dari kisah luar biasa Fatima? Bahwa semangat dan tekad kita dapat membawa perubahan besar!

    Mari kita terus menginspirasi satu sama lain untuk mengejar impian dan memberikan kontribusi positif bagi dunia.

  • Mirza Ghalib dan Sir Syed: Proses Kelahiran Seorang Cendekiawan

    Mirza Ghalib dan Sir Syed: Proses Kelahiran Seorang Cendekiawan

    Kisah Sir Syed Ahmad Khan sebagai pakar pendidikan dan aktivis terpatri dalam sejarah melalui keberhasilan Aligarh Muslim University yang terkenal. Baru-baru ini, universitas ini dijuluki sebagai salah satu lembaga pendidikan terbaik di India. Meski begitu, ada kisah menarik di balik pembentukan seorang cendekiawan, intelektual, bahkan aktivis yang jarang terdengar.

    Kita di Indonesia mungkin ngga familiar dengan namanya. Perlu dicatat, beliau satu dari segelintir orang muslim yang punya gelar “Sir” di tahun 1800-an. Tokoh yang dihormati di Kerajaan Inggris sana.

    Pada tahun 1855, setelah menyelesaikan edisi buku Abul Fazal’s Ain-e-Akbari yang diteliti dengan baik, ilmiah, dan diilustrasikan dengan apik; Sir Syed Ahmad Khan yang berusia 38 tahun mendekati tokoh sastra terkenal Delhi, Mirza Ghalib yang sudah berusia 58 tahun. Beliau minta ‘Taqriz’ untuk karyanya yang bertema sastra dan sejarah.

    Mirza Ghalib setuju, tapi yang dia hasilkan adalah puisi Persia pendek yang justru mengkritik Ai’n-e Akbari, dan secara tersirat, budaya Mughal yang megah, berpengetahuan tinggi, dan berpendidikan – dari mana karya itu berasal.

    Paling tidak bisa dikatakan bahwa buku itu -menurut Mirza- cuma memiliki sedikit nilai, bahkan sebagai dokumen antik. Ngga penting ini barang, gitu lah.

    Ghalib seolah menegur Sir Syed Ahmad Khan karena menyia-nyiakan bakat dan waktunya pada hal-hal yang sudah mati. Lebih parahnya, dia memuji setinggi langit “sahibs of England” yang pada saat itu menguasai segala kunci untuk segala kunci di dunia ini. Ingat, Inggris saat itu, yang ngasih beliau gelar, adalah penguasa separo dunia.

    Puisinya tak terduga, tapi muncul pada saat pikiran dan perasaan Sir Syed Ahmad Khan sendiri cenderung berubah. Ghalib tampaknya tahu betul tentang perubahan dunia yang disponsori oleh Eropa/Inggris, terutama di politik India. Meskipun Sir Syed Ahmad mungkin tersinggung dengan teguran Ghalib, dia juga menyadari bahwa pemahaman Ghalib terhadap situasi, meski kurang halus, pada dasarnya akurat.

    Sir Syed Ahmad Khan mungkin juga merasa bahwa dirinya, yang lebih informasi tentang Inggris dan dunia luar, seharusnya sudah melihat perubahan yang tampaknya ada di tikungan.

    Sir Syed Ahmad Khan tidak pernah lagi menulis sepatah kata pun memuji Ai’n-e Akbari, bahkan dia berhenti tertarik pada sejarah dan arkeologi.

    Dua tahun kemudian, tahun 1857, Pemberontakan India Besar mendekati Delhi. Muslim kehilangan kendali atas Delhi, masjid dihancurkan, dan madrasah dihancurkan. Yang paling prestisius di antaranya adalah ‘Madarsa Raheemia’ dan Masjid Akbarabadi.

    Mirza Ghalib menyatakan perasaannya dalam banyak surat duka dan puisi. Namun Sir Syed, terpukul oleh tragedi tersebut, mengambil beberapa batu dari masjid Akbarabadi dan meninggalkan Delhi dengan ambisi memberdayakan Muslim di Subkontinen melalui pendidikan. Ini akan membuat generasi mendatang menjadi ahli dari ‘all a’ins of this world’, kunci-kunci dunia. Pengetahuan!

    Jadi, penyair Urdu terhebat sepanjang masa, Mirza Ghalib, memainkan peran penting sebagai guru bijak yang mengkritik karya Sir Syed sebagai cendekiawan, dan Sir Syed menerima provokasi tersebut dengan positif sebagai murid yang patuh. Ini adalah cara orang-orang besar berperilaku, lalu institusi baru pun terbentuk serta generasi berubah.

    Semoga episode kecil tapi signifikan dari kehidupan dua tokoh besar ini akan menginspirasi kita dan generasi mendatang untuk melakukan pekerjaan positif bagi masyarakat.

  • Inferiority Complex dan Islam Nusantara

    Inferiority Complex dan Islam Nusantara

    Cerita hari ini rada sedih. Saya ditugaskan untuk jaga satu stand Indonesia di dekat icon utama kota london, yaitu London Bridge. Para pemilik stand pameran minta ada penjaga dari mahasiswa Indonesia untuk membantu komunikasi dengan pengunjung. Ketika sampai disana, pemilik stand, yang namanya berbau Sunda, disana tampangnya terlihat tidak begitu senang begitu saya datang. Satu kawannya, seorang cewek, bertanya, “Mas ikhwan ya?”. Hah, emangnya kenapa pikir saya.

    Lalu tidak berapa lama, satu mahasiswi yang akan berganti shift dengan saya mengajak bicara. “Mas, bapak itu maunya standnya dijaga perempuan”. OK lah, mungkin saya bisa ajak tukeran dengan kawan lain. Pas sudah cari2, eh ternyata ga ada yg bisa diajak tukeran. Balik lah saya ke pemilik Stand dan sampaikan bahwa tidak ada pengganti penjaga wanita. Dengan “cold blood” dia bilang, “Ya udah saya sendiri aja, Mas”.

    Saya perhatikan gerak-geriknya, lho koq rada melambai!!! Paham lah saya alasan sebetulnya dibalik penolakannya. Orang macam gini biasanya baru pontang-panting cari makhluk berjenggot pas menjelang sakaratul maut, sekalian minta disolatin jenazah. Kita ga usah heran.

    Lebih menyedihkankan lagi, buat transport ke lokasi acara saja secara normal sehari ini bisa habis 10 pound (silakan kalikan dengan rupiah). Koq iya membatalkan sepihak dengan alasan yang dibuat2.

    Istri saya nasibnya lebih baik, meskipun nampaknya juga kurang diterima lantaran berjilbab dan bergamis lebar. Pemilik stand kain batik tempat dia berjaga kurang ramah melihat penampilannya.

    Tapi satu yang ajib ya ikhwan, wanita2 bule lebih banyak menghampiri istri saya dan tanpa canggung bertanya panjang lebar tentang batik selama berjam2 ketimbang nyamperin penjaga2 dari kalangan mahasiswa yang seksi-seksi. Subhanallah. Saya heran, tapi tidak terlalu heran.

    Orang-orang asli Inggris sangat ramah, jauh lebih welcome dari orang Indonesia sendiri terhadap muslim berjilbab, bercadar, berjenggot, dan bergamis. Itu pengalaman saya membandingkan hidup di Indo, Jerman, dan Inggris. Kampus saya sendiri berusaha menghindari jadwal kuliah sampai bentrok sama salat jumat, demi menghormati kaum muslimin. Kampus menerbitkan angket pertanyaan tentang waktu2 apakah Anda ingin kuliah tidak ada karena alasan relijius.

    Minggu lalu pihak kampus meminta saya mengajar satu hari kuliah animasi 3D untuk bulan Juni ini khusus untuk mahasiswa PhD. Mereka bertanya, menu makanan apa yang saya inginkan setelah saya ngajar agar bisa disiapkan kampus. Saya jawab bulan Juni saya puasa Ramadhan, jadi tidak perlu menyiapkan menu buat saya. Diluar dugaan, staff kampus tersebut membalas bahwa dia tahun lalu ikutan puasa Ramadhan juga, padahal beliau non muslim.

    Acara yang diselenggarakan kementrian KUKM ini kalo mau jujur, sangat membuat kita malu. Tidak satu pun acara2 begini berani menampilkan identitas kita sebagai negara muslim terbesar. Saya datang ke KBRI Jerman, selalu isinya arca-arca dan patung Bali. Sampai-sampai seorang bule muallaf Jerman ketika saya temani untuk mengurus visa Indonesia di Berlin bertanya dengan heran, “Zico, negaramu ini betulan negara muslim???”. Saya jawab, Ya.

    “Kenapa ada patung-patung dewa ini di embassy kamu?” sahutnya.

    Saya terdiam tidak bisa jawab. Pertanyaannya sangat menohok. KBRI yang seharusnya jadi simbol yang menggambarkan wajah utama negeri Indonesia dan penduduknya, jadi diwakili oleh gambaran tanah secuil yang orang namai pulau Bali. Dan patung2 itu bukanlah representasi penduduk Indonesia. Dan bule ini bertanya tepat di simbol tersebut.

    Silakan survey, berapakah banyak penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan arca Bali dibanding penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan Quran? Apakah arca Bali ini mewakili gambaran mayoritas Indonesia?

    Saya injakkan kaki di KBRI London, yah mirip-mirip juga nasibnya dengan KBRI Berlin. Meski saya tahu sebagian karyawan KBRI disana sudah menjalankan ibadah haji.

    Inferiority complex.

    Rasa malu dengan indentitas. Urusan identitas begini, saya lebih salut sama manusia yang asalnya dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Jumlah mereka bejibun di London. Mereka sukses taklukkan London. Orang-orang kaya penguasa ritel di London adalah mereka. Bahkan mereka pilih sendiri Gubernur mereka untuk London, Sadiq Khan!!!

    Sukses mereka bukan dengan menanggalkan identitas mereka. Bukan.
    Mohon maaf bangsaku.

    Mereka ini puluhan tahun seliweran di London dengan mengenakan peci, gamis, dan wanitanya sebagian malah bercadar. Ga malu mereka dengan identitas. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia Imam mesjid, karena air mukanya nampak seperti orang saleh dan berjenggot lebat. Ternyata dia seorang polisi, lengkap dengan pistol dan lencananya. Sejumlah petugas pemerintah di London ini ngga canggung sehari-hari bekerja dengan memakai peci. Mulai dari petugas kereta api, bis, pengatur lalin, dll.

    Daerah Barking tempat saya tinggal beberapa minggu lalu lebih ganas. Cuman jarak radius 1 kilo dari rumah terdapat lima mesjid ke segala arah penjurunya. Restoran-restoran ayam “KFC” India dan dan toko2 daging halal bertebaran. Mereka tidak canggung pasang tulisan ayat Quran selebar plang Tokonya. Kadang gede2 ditulis kalimat syahadat persis didepan pintu kaca restoran. Toko daging halal dekat rumah saya unik lagi, Murattal disetel sangat nyaring di toko tersebut. Anda pernah lihat pemandangan tersebut di pasar-pasar Indonesia?

    Buat salat jumat di mesjid terdekat rumah saya, saya harus tiba sejam sebelum khutbah dimulai jika ingin kebagian tempat solat didalam mesjid. Kalo tidak, pasti saya salat dihalaman mesjid, padahal mesjidnya tiga tingkat. Kalo apes, saya terpaksa ikut jumatan kloter kedua sejam kemudian.

    Sembari memperhatikan tingkah bangsa kita di pameran ini, tiba-tiba saya disampiri seorang security. “Are you an Indonesian?”.. “Are you an Imaam here”. “No, I am just visitor”.

    Hah, justru, sang sekuriti dengan jenggotnya dan jambangnya yang lebat itu jauh lebih pas sebagai imam dari pada saya. “Where are you come from”, tanyaku. “I was born here, but my parents came from Bangladesh”. Saya katakan dalam bahasa Bangladesh “Vallo Achi (Apa kabarmu?)”.

    Kaget si Bangladesh ini dengan sapaan saya dalam bahasa ibunya. Ini emang kunci untuk mencairkan hati orang Bangladesh. Tapi saya pun ga kalah kaget. Seorang yang lahir di negara Inggris, tapi ga kagok sama krisis identitas.

    “Saya malu dengan Bangladesh. Disana mesjid banyak dan azan terdengar dimana-dimana, tetapi mesjid sepi. Di Inggris, azan tidak terdengar, tapi salat jamaah di mesjid selalu penuh”.

    “Sialan!!!” pikir gw dalam hati. Itu mah Indonesia banget.

    “Muslim Indonesia jauh lebih baik dari Muslim Bangladesh”, ujarnya penuh semangat. Tetes air segede kepala turun dikepala saya, persis kayak Nobita diceramahin Suneo.

    Puas lihat gonjrang-gonjreng, tari-tari, dansa-dansi, dan segala aksi ala Guruh Soekarno Putra di pameran Indo, seorang turis mendekati saya, “Are you Indonesian?”. “Yes”, I said.

    “Apakah acara seperti ini rutin diadakan setiap bulan?”, tanyanya. Setelah menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya, “Where are you come from”. Dijawab, “Saudi!”.

    Oh great, mari kita buka kunci hati orang ini. “Ah, takallamta bi lughatil arabiyah (Jadi kamu berbicara dengan bahasa Arab)”.
    “Naam”.
    “Fushah (Fasih dalam Bahasa Arab Asli)?”, tanyaku.

    “Aiwah”, katanya.

    Benar saja dia terlihat senang ada orang Indo bicara dalam bahasa dia. Celakanya dia mulai menyangka bahasa Arab saya level native. Lalu dia bicara dengan cepat dan bertanya macam2. Untung dia pakai bahasa Arab asli. Umumnya kawan-kawan kami dulu orang-orang Arab Maroko dan Aljazair bicara dengan bahasa arab dialek darijah atau dialek alien lain.

    “Apa rencanamu jika selesai kuliah disini nanti?”, katanya

    Saya balas, “Orang-orang Indonesia butuh orang seperti kami sebagai pengajar dalam bidang komputer dan sains”. Dalam hati gw mikir nasibnya Dr. Warsito, Ricky Elson, dan jenius2 lain yang harus kick ass dari Indonesia, ato tidak kudu ngajar di mana aje ada kampus yang metromini lewat didepannya. Tapi udah telat rasanya kalau mau coba eksis di jalur artis.

    “Nak, apakah kamu sudah mendakwahi orang-orang disini?”, katanya. Wah, pertanyaan berat ini. Saya jawab sebisanya terkait kegiatan kaum muslimin Indonesia di London.

    Orang seperti kamu harusnya ngajar di Saudi. Allah akan memuliakanmu. Negara kami akan sangat memuliakanmu. Saya berdoa semoga kuliahmu dan istrimu segera selesai dan bisa bermanfaat bagi bangsamu. Tidak lama beliau pun pamit.

    Lalu menjelang maghrib, tibalah waktunya pulang. Security Bangladesh itu menghampiri, “Brother, will see you again tomorrow?”.

    “I will, Insha Allah”. Dan beliau pun nampak senang.

    Saya habiskan sisa hari berdua istri melihat-lihat London Bridge yang indah ini dengan lampunya yang warni-warni. Malamnya bahkan jembatan ini nampak jauh lebih indah.

    Ternyata, tidak perlu krisis identitas untuk dihormati orang. Bahkan waktu kita malu dengan identitas bangsa, itulah nampak mental asli kita sebagai negara bekas jajahan.

  • Ibnu Battuta dan Samudra Pasai

    Ibnu Battuta dan Samudra Pasai

    Ibnu Battuta di versi wiki dia lahir pada February 25, 1304 & wafat 1368. Sedangkan Az Zarkali mencantumkan 1304-1377 M / 703-779 H.

    Jika bukan karena pertanyaan satu pembaca kemarin yang memberikan pranala bukunya, mungkin tidak tergerak saya melihat-lihat bukunya yang agung berjudul “Ar Rihlah”. Kita mungkin pernah dengar namanya disebut hanya dibuku-buku sejarah sekolah. Buku ini merupakan rangkuman perjalanan Ibnu Battuta keliling dunia. Travelnya selama 27 tahun ini membuat Sultan Maroko takjub, sehingga memohon agar beliau sudi membukukannya. Akhirnya beliau meminta muridnya untuk menulis apa yang beliau diktekan.

    Versi waqfeya dapat 800 halaman dalam 1 jilid, tahqiqnya basic & susah di trace. Versi syamila, dicetak oleh kerajaan Maroko sebanyak 5 jilid dan lengkap dgn daftar pustaka, tapi footnote sayang tidak disalinkan. Awal mulanya karya Ibnu Battuta ini kurang tersebar di dunia. Tapi itu biasa, banyak jagoan yang terkenal baru belakangan.

    Kita keduluan dua abad untuk baca buku ini. Para orientalis abad 19 menemukan kitab ini duluan, diantaranya oleh H.A.R Gibb, seorang orientalis besar. Dan segera setelah itu dicetak besar-besaran dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sambutan dan pujian bule-bule cukup keterlaluan, puluhan paper ilmiah lahir dari menganalisa kitab ini di abad 19-20. Karena sampai zaman Ibnu Battuta, sangat langka ada eksplorer yang merekam kehidupan disegala penjuru dunia. Jawaharlal Nehru, pendiri negara India sampai mengatakan “This is a record of travel which is rare enough today with our many conveniences…. In any event, Ibnu Battuta must be amongst the great travelers of all time”.

    Tapi sampai sekarang belum ada yang berbahasa Indonesia, padahal ini buku mencantumkan bukti paling sahih bahwa negara Indonesia itu memiliki eksistensi, bahwa ada kerajaan Islam pertama Samudera Pasai, bahwa ada kerajaan Majapahit, bahwa negeri kita adalah negeri kaya rempah-rempah. Bahwa semua barang yang Ibnu Battuta pernah lihat di negeri lain, mesti ada di Indonesia, bahwa Indonesia adalah negara laut terkuat di dunia zaman itu.

    Jadi, siapakah Ibnu Battuta?

    Ibnu Battuta adalah petualang muslim Maroko abad 14 M dan tergolong ulama juga. Beliau memulai perjalanannya dari mulai berangkat haji dari Maroko pada usia 21 tahun yang memakan waktu 16 bulan. Sejak itu, dia merantau selama 24 tahun dan tidak kembalik ke Maroko. Total beliau sudah melancong sejauh 120 ribu km dan berkunjung ke 44 negara. Bahkan Marco Polo pun masih kalah jauh, karena total perjalanan Marco tidak ada setengah dari Ibnu Battuta.

    Perjalanannya dimulai pertama kali berkendara dengan keledai, lalu kemudian bergabung dengan karavan jamaah haji. Rute haji zaman itu rawan bandit, dan beliau juga pernah jadi korbannya. Singgah di Mesir, beliau mengambil kuliah hukum Islam, lalu kemudian lanjut ke Mekkah. Beliau pernah bermimpi ada seekor burung besar dan membawanya mengangkasa jauh ke arah timur. Seorang syekh menafsirkan mimpinya bahwa dia akan berjalan melintasi dunia, maka beliau pun tergerak mewujudkan mimpinya.

    Dia mengunjungi negeri-negeri seperti Iraq, persia, negeri-negeri arab, somalia, swahili, lalu juga turki, asia tengah, asia tenggara, sampai china. Dia menempuh bahaya dan menantang maut sepanjang perjalanan, mulai dari ketemu bandit, nyaris tenggelam di kapal yang karam, hampir dipenggal penguasa tiran, dan bahkan lolos dari Black Death. Black Death adalah penyakit pandemik paling mematikan zaman itu, merenggut hampir 200 juta jiwa seantero Arab, Afrika, dan sampai Eropa. Keganasannya belum bisa ditandingi oleh flu burung, AIDS, asian flu dan sepuluh besar penyakit pandemik dunia digabung jadi satu. Kita bisa bayangkan makhluk bernama Ibnu Battuta ini nyawanya mungkin sampai sembilan!

    Selama travelnya tersebut, beliau sering kali singgah cukup lama dan pemerintah setempat senang sekali meminta jasanya dan mengangkatnya berkali-kali sebagai hakim. Beliau menjadi pejabat untuk banyak negara. Sebagai pejabat dan orang paling dibutuhkan dunia, banyak sudah perbekalan dan hadiah yang beliau dapat untuk membiayai hidupnya. Mulai dari tahta, harta, permata, sampai wanita. Itulah cara beliau menghidupi diri dan membiayai perjalanannya.

    Perjalanan terjauhnya adalah sampai China. Battuta menggambarkan Mongol China sebagai “negara paling aman dan terbaik bagi para pelancong” dan memuji keindahan alamnya, tetapi ia juga mengeluhkan keyakinan musyrik yang umumnya dipegang bangsa tersebut.

    Tapi beliau ke China saat pemerintahan Mongol dipegang kaum muslimin. Beliau gambarkan ketika di Kanton bahwa negeri tersebut banyak masjid jami, zawiya, orang saleh, hakim dan ulama, madrasah, dan syiar2 Islam umumnya nampak di negeri islam lainnya. Bertamu kepada Auhidudin As Sanjari, seorang hartawan terkemuka, selama 14 hari. Beliau menyebut bahwa jarak kota itu dari Tembok Yajuj & majuj sejauh 60 hari perjalanan. Beliau tidak berani kesana karena rumornya, setiap orang yang tiba disana akan jadi santapan penduduk. Beliau juga mampir ke kota seperti Hangzhou yang beliau gambarkan “kota terbesar yang pernah saya lihat di muka bumi”.

    Sultan Jawa

    Beliau melawat ke Samudra Pasai tahun 1345, yaitu dalam rangka perjalanan ke China. Karena untuk sampai ke China dari India, mestilah melewati Aceh dulu. Saat itu, kerajaan Samudra Pasai dipimpin raja keduanya, Sultan Malikuzh Zhahir bin Sultan Malikus Saleh. Ibnu Battua menyebut bahwa kerajaan ini bermadzhab syafii, yang rajanya sangat saleh, cinta pada ulama dan rajin mengaji. Raja juga seorang mujahid, seorang yang tawadhu. Beliau berangkat ke mesjid dengan berjalan kaki. Rakyatnya pun sangat taat dan senang jika diajak berjihad. Bayangkan, saat itu negeri kita dikelilingi penyembah berhala, bahkan menurut Marco Polo, ada juga bangsa primitif pemakan manusia. Sultan selalu menang mengalahkan negeri-negeri sekitarnya, sehingga negeri tersebut akan ditariki pajak atau jizyah.

    Oiya, meskipun pulau tersebut sejak dulu disebut dengan nama “Sumatra”, tapi negeri Indonesia sejak dulu disebut orang dengan nama “Negeri Jawa”. Bahkan sampai sebelum kemerdekaan kita berubah nama jadi Indonesia, orang2 muslim diluar sana selalu menyebut kita “Orang Jawa”. Setelah kemerdekaan, makna Jawa jadi menyempit kepada pulau yang berada di tengah2 Indonesia agak kebawah sono. Pada masa itu, Samudra Pasai adalah pelosok terjauh Darul Islam (wilayah berpemerintahan Islam), karena sesuai perkataan sultan Malikuzh zhahir, tidak ada lagi wilayah lain di sebelah timur Samudra Pasai yang diperintah penguasa Muslim.

    Saat pertama kali datang ke istananya, kata Ibnu Bathutah, ia bertemu dengan wakil sultan yang bernama Umdatul Malik, Dengan ramah, ia memberikan salam dan menyalami Ibnu Bathutah, lalu kemudia menulis surat kepada Sang Sultan untuk memberitahukan kedatangan tamu jauhnya tersebut.

    Ibnu Bathutah melanjutkan ceritanya,”Beberapa saat kemudian, pelayan datang sambil membawa kotak pakaian. Wakil sultan mengambilnya dan aku juga ikut mengambilnya. Setelah itu, aku dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan peristirahatan. Biasanya, wakil sultan pergi ke balai istana sesudah shalat subuh dan tidak pulang kecuali setelah isya’ akhir. Begitu juga para menteri dan pembesar kerajaan. Wakil sultan mengambil tiga jenis kain dari kota pakaian tersebut: yang pertama, kain sutra murni; yang kedua kain sutra bercampur katun; dan yang ketiga kain sutra bercampur kapas.Kemudian para pelayan datang membawa makanan. Makanan yang dikeluarkan berupa nasi dengan beraneka ragam lauk. Setelah itu, didatangkan daun sirih sebagai pertanda acara selesai. Kami lalu mengambil daun sirih tersebut dan berdiri. Wakil sultan juga berdiri untuk menghormat kami. Kami lalu keluar dari balai dan menuju kuda tunggangan. Wakil sultan juga mengambil kuda tunggangan. Setelah itu, kami pergi ke sebuah kebun yang diberi pagar kayu. Di tengah-tengah kebun terdapat rumah yang terbuat dari kayu. Di bagian bawah rumah tersebut dihampari tikar.”

    Ia kembali menceritakan,

    “Menurut kebiasaan sultan, tamu yang datang dari jauh harus diterima menghadapnya tiga hari setelah tiba, agar letihnya perjalanan menjadi hilang. A̷k̷u̷ ̷k̷e̷m̷u̷d̷i̷a̷n̷ ̷d̷i̷t̷e̷m̷p̷a̷t̷k̷a̷n̷ ̷d̷i̷ ̷b̷a̷i̷t̷ ̷a̷d̷h̷-̷d̷h̷u̷y̷u̷f̷ ̷(̷w̷i̷s̷m̷a̷ ̷t̷a̷m̷u̷)̷ ̷y̷a̷n̷g̷ ̷t̷e̷r̷l̷e̷t̷a̷k̷ ̷d̷i̷ ̷t̷e̷n̷g̷a̷h̷-̷t̷e̷n̷g̷a̷h̷ ̷t̷a̷m̷a̷n̷ ̷y̷a̷n̷g̷ ̷r̷i̷n̷d̷a̷n̷g̷,̷ ̷d̷e̷n̷g̷a̷n̷ ̷p̷e̷p̷o̷h̷o̷n̷a̷n̷ ̷h̷i̷j̷a̷u̷ ̷d̷a̷n̷ ̷b̷u̷n̷g̷a̷-̷b̷u̷n̷g̷a̷ ̷b̷e̷r̷a̷n̷e̷k̷a̷ ̷r̷u̷p̷a̷.̷ ̷P̷a̷r̷a̷ ̷p̷e̷l̷a̷y̷a̷n̷ ̷d̷i̷ ̷w̷i̷s̷m̷a̷ ̷t̷a̷m̷u̷ ̷i̷t̷u̷ ̷t̷e̷r̷d̷i̷r̷i̷ ̷d̷a̷r̷i̷ ̷a̷n̷a̷k̷-̷a̷n̷a̷k̷ ̷m̷u̷d̷a̷ ̷y̷a̷n̷g̷ ̷p̷e̷r̷a̷m̷a̷h̷.̷ ̷K̷e̷c̷u̷a̷l̷i̷ ̷n̷a̷s̷i̷ ̷d̷a̷n̷ ̷r̷o̷t̷i̷ ̷s̷e̷m̷a̷c̷a̷m̷ ̷m̷a̷r̷t̷a̷b̷a̷k̷ ̷(̷r̷o̷t̷i̷ ̷c̷a̷n̷e̷)̷,̷ ̷a̷k̷u̷ ̷d̷i̷h̷i̷d̷a̷n̷g̷i̷ ̷a̷n̷e̷k̷a̷ ̷b̷u̷a̷h̷-̷b̷u̷a̷h̷a̷n̷,̷ ̷s̷e̷p̷e̷r̷t̷i̷ ̷p̷i̷s̷a̷n̷g̷,̷ ̷a̷p̷e̷l̷,̷ ̷a̷n̷g̷g̷u̷r̷,̷ ̷r̷a̷m̷b̷u̷t̷a̷n̷ ̷d̷a̷n̷ ̷s̷e̷b̷a̷g̷a̷i̷n̷y̷a̷.̷

    Hari keempat, aku masih beristirahat di wisma tamu yang mewah itu. Saat itu, kebetulan hari Jumat. Menteri Luar Negeri Al-Isfahany memberitahuku bahwa aku akan diterima menghadap sultan setelah Shalat Jumat, bertempat di Aula khusus Masjid Jami’ itu. Setelah semua berkumpul, aku memperhatikan, yang mana Sultan Malik Azh-zhahir di antara ribuan Jamaah Masjid Jami’ yang luas itu. S̶e̶m̶u̶a̶ ̶o̶r̶a̶n̶g̶ ̶s̶a̶m̶a̶,̶ ̶b̶e̶r̶p̶a̶k̶a̶i̶a̶n̶ ̶p̶u̶t̶i̶h̶.̶ ̶J̶u̶g̶a̶ ̶t̶i̶d̶a̶k̶ ̶t̶e̶r̶s̶e̶d̶i̶a̶ ̶t̶e̶m̶p̶a̶t̶ ̶k̶h̶u̶s̶u̶s̶ ̶b̶a̶g̶i̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶d̶a̶n̶ ̶t̶i̶d̶a̶k̶ ̶a̶d̶a̶ ̶o̶r̶a̶n̶g̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶d̶i̶b̶e̶r̶i̶ ̶p̶e̶n̶g̶h̶o̶r̶m̶a̶t̶a̶n̶ ̶s̶e̶p̶e̶r̶t̶i̶ ̶l̶a̶y̶a̶k̶n̶y̶a̶ ̶p̶a̶r̶a̶ ̶r̶a̶j̶a̶ ̶d̶i̶ ̶z̶a̶m̶a̶n̶ ̶i̶t̶u̶.̶ ̶“̶A̶p̶a̶k̶a̶h̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶s̶a̶k̶i̶t̶ ̶s̶e̶h̶i̶n̶g̶g̶a̶ ̶t̶i̶d̶a̶k̶ ̶k̶e̶ ̶M̶a̶s̶j̶i̶d̶ ̶?̶”̶ ̶t̶a̶n̶y̶a̶k̶u̶ ̶d̶a̶l̶a̶m̶ ̶h̶a̶t̶i̶.̶

    Selesai shalat Jumat, Al-Isfahany mempersilahkan aku memasuki aula masjid yang luas itu, dan aku diperkenalkan kepada Sultan Malik Azh-Zhahir yang telah terlebih dahulu masuk ke aula dan masih berpakaian putih. Di dalam aula yang berwibawa itu, telah datang terlebih dahulu para menteri, para ulama terkemuka, para pemimpin rakyat, dan para wanita yang memakai jilbab. Aku didudukkan di sebelah kanan sultan. Selesai makan siang bersama, dilanjutkan dengan diskusi yang membahas berbagai masalah dalam negeri dan agama, juga masalah ekonomi, kesejahteraan rakyat, sosial budaya, dan sebagainya. Diskusi yang berlangsung hampir tiga jam itu sangat menarik.

    S̶e̶m̶u̶l̶a̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶h̶a̶d̶i̶r̶ ̶m̶e̶n̶g̶e̶m̶u̶k̶a̶k̶a̶n̶ ̶p̶e̶n̶d̶a̶p̶a̶t̶n̶y̶a̶ ̶m̶a̶s̶i̶n̶g̶-̶m̶a̶s̶i̶n̶g̶,̶ ̶s̶e̶k̶a̶l̶i̶p̶u̶n̶ ̶k̶a̶d̶a̶n̶g̶-̶k̶a̶d̶a̶n̶g̶ ̶m̶e̶n̶g̶e̶r̶i̶t̶i̶k̶ ̶k̶e̶b̶i̶j̶a̶k̶s̶a̶n̶a̶a̶n̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶.̶ ̶S̶e̶m̶u̶a̶ ̶p̶e̶n̶d̶a̶p̶a̶t̶ ̶d̶i̶t̶e̶r̶i̶m̶a̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶d̶e̶n̶g̶a̶n̶ ̶s̶e̶n̶y̶u̶m̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶s̶e̶j̶u̶k̶.̶ Setelah waktu shalat ashar, semua kembali ke ruang masjid dan sama-sama melakukan shalat. Usai shalat ashar, Sultan Malik Azh-Zhahir menghilang ke dalam satu bilik khusus, dan lima belas menit kemudian beliau keluar sudah bukan dengan pakaian putih lagi. Tetapi dengan pakaian kebesaran raja. Dengan menunggang kuda dan diiringi para pengawalnya, sultan pulang ke istana.

    D̶i̶ ̶k̶i̶r̶i̶ ̶d̶a̶n̶ ̶k̶a̶n̶a̶n̶ ̶j̶a̶l̶a̶n̶ ̶r̶a̶k̶y̶a̶t̶ ̶b̶e̶r̶j̶e̶j̶e̶r̶ ̶m̶e̶n̶g̶e̶l̶u̶-̶e̶l̶u̶k̶a̶n̶ ̶S̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶a̶d̶i̶l̶ ̶i̶t̶u̶.̶ ̶A̶k̶u̶ ̶b̶e̶r̶p̶i̶k̶i̶r̶,̶ ̶r̶u̶p̶a̶n̶y̶a̶ ̶w̶a̶k̶t̶u̶ ̶b̶e̶r̶a̶n̶g̶k̶a̶t̶ ̶d̶a̶r̶i̶ ̶i̶s̶t̶a̶n̶a̶ ̶m̶e̶n̶u̶j̶u̶ ̶M̶a̶s̶j̶i̶d̶,̶ ̶s̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶h̶a̶n̶y̶a̶l̶a̶h̶ ̶h̶a̶m̶b̶a̶ ̶A̶l̶l̶a̶h̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶b̶i̶a̶s̶a̶ ̶s̶e̶p̶e̶r̶t̶i̶ ̶r̶a̶k̶y̶a̶t̶ ̶l̶a̶i̶n̶n̶y̶a̶,̶ ̶t̶e̶t̶a̶p̶i̶ ̶w̶a̶k̶t̶u̶ ̶p̶u̶l̶a̶n̶g̶ ̶k̶e̶ ̶i̶s̶t̶a̶n̶a̶ ̶b̶a̶r̶u̶l̶a̶h̶ ̶b̶e̶l̶i̶a̶u̶ ̶t̶a̶m̶p̶i̶l̶ ̶s̶e̶b̶a̶g̶a̶i̶ ̶S̶u̶l̶t̶a̶n̶ ̶d̶a̶r̶i̶ ̶k̶e̶r̶a̶j̶a̶a̶n̶ ̶S̶a̶m̶u̶d̶e̶r̶a̶ ̶P̶a̶s̶a̶i̶.̶ ̶A̶k̶u̶ ̶m̶e̶n̶d̶a̶p̶a̶t̶i̶ ̶b̶a̶h̶w̶a̶ ̶k̶e̶r̶a̶j̶a̶a̶n̶ ̶S̶a̶m̶u̶d̶e̶r̶a̶ ̶P̶a̶s̶a̶i̶ ̶a̶d̶a̶l̶a̶h̶ ̶k̶e̶r̶a̶j̶a̶a̶n̶ ̶I̶s̶l̶a̶m̶ ̶p̶e̶r̶t̶a̶m̶a̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶b̶e̶r̶d̶i̶r̶i̶ ̶d̶i̶ ̶t̶a̶n̶a̶h̶ ̶M̶e̶l̶a̶y̶u̶.̶ ̶T̶e̶r̶n̶y̶a̶t̶a̶,̶ ̶k̶e̶r̶a̶j̶a̶a̶n̶ ̶S̶a̶m̶u̶d̶e̶r̶a̶ ̶P̶a̶s̶a̶i̶ ̶t̶e̶l̶a̶h̶ ̶m̶e̶m̶p̶u̶n̶y̶a̶i̶ ̶t̶a̶m̶a̶d̶d̶u̶n̶ ̶(̶p̶e̶r̶a̶d̶a̶b̶a̶n̶)̶ ̶d̶a̶n̶ ̶h̶u̶b̶u̶n̶g̶a̶n̶ ̶l̶u̶a̶r̶ ̶n̶e̶g̶e̶r̶i̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶b̶a̶i̶k̶.̶Di sini aku tinggal selama 15 hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Cina.”

    Pandangan saya, inilah keterangan paling jelas tentang awal Islam di nusantara. Karena dikatakan Sultan bahwa tidak ada negeri dibelakang Samudra Pasai yang memeluk agama Islam. Maka segala klaim2 yg bilang Islam masuk Indonesia sejak zaman sahabat nabi SAW atau zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, jelas keliru.

    !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    NB: Saya terpaksa mengedit tulisan ini dan menggaris-garis sejumlah kalimat sebagaimana diatas. Sebagian besarnya tulisan diatas yang bagian kutipan Ibnu Battutah, saya salin dari terjemah yang ada di internet (ini kesalahan saya). Saya salin buta karena bagian-bagian tersebut tidak ketemu di kitab aslinya, dan bagian tersebut terasa bagus dibenak saya. Setelah saya cross check betul-betul di dua versi kitab aslinya, ternyata bagian tersebut sebetulnya tidak ada, alias ini buatan penerjemah Indonesia AKA al kautsar yang tidak amanah dalam menerjemahkan buku ini. Penerjemah melakukan terjemah dengan merubah2 isi, menghilangkan sebagian kalimat, paragraf, bahkan lompat satu sampai dua halaman. Menakjubkan!
    !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!