Author: Redaksi

  • Waqf as a Tool for Climate Change Mitigation in Northern Nigeria

    » AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies

    As the world grapples with the escalating impacts of climate change, innovative financing mechanisms to support mitigation efforts have become increasingly urgent. This study investigates the potential role of waqf an Islamic endowment system in addressing climate change challenges in Northern Nigeria, a region that faces a number of environmental and climate challenges particularly in terms of environmental degradation and climatic variability. The research utilizes a mixed-methods approach, combining qualitative interviews with key stakeholders, including waqf administrators, community leaders, and environmental activists, alongside quantitative analysis of existing waqf funds and projects related to climate adaptation. Findings reveal that waqf funds can be effectively leveraged to support various climate change mitigation initiatives, such as afforestation, water conservation, and renewable energy projects. The study highlights several successful case studies where waqf-supported activities have enhanced local resilience and contributed to sustainable resource management. Furthermore, it identifies significant barriers to the implementation of environmentally focused waqf initiatives, including lack of awareness, inadequate regulatory frameworks, and limited community engagement. The paper proposes actionable recommendations to optimize the role of waqf in climate change mitigation, including enhancing legal structures to support environmental waqf, fostering collaboration between waqf institutions and environmental NGOs, and implementing educational campaigns to raise awareness about the importance of sustainable practices within waqf management. Ultimately, this study advocates for a paradigm shift in the perception of waqf from a purely charitable endeavor to a comprehensive instrument for sustainability and climate resilience, thereby contributing to the broader discourse on integrating indigenous financial mechanisms into global climate change strategies.

  • Mudirah Pertama Perguruan Darulfunun: Ummi Hajjah Mona Eliza

    Mudirah Pertama Perguruan Darulfunun: Ummi Hajjah Mona Eliza

    Ummi Hajjah Mona Eliza adalah sosok perempuan inspiratif yang menjadi mudirah pertama Perguruan Darulfunun, sebuah lembaga pendidikan yang didirikan dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Beliau tidak hanya dikenal sebagai pendidik yang berdedikasi, tetapi juga sebagai istri dari Buya Afifi Fauzi Abbas dan ibu dari Tan Abdullah Afifi, dua tokoh yang juga memiliki pengaruh dalam dunia pendidikan dan keagamaan.

    Latar Belakang dan Pendidikan

    Ummi Hajjah Mona Eliza lahir di sebuah keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan keagamaan. Ayah beliau adalah yang sedikit yang sempat menempuh pendidikan di University of Texas, Amerika. Keluarga beliau berasal dari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh. Pendidikan formalnya ditempuh di beberapa lembaga pendidikan Islam ternama, PGA Payakumbuh, UIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Muhammadiyah Jakarta di mana beliau tidak hanya belajar ilmu agama tetapi juga berbagai disiplin ilmu lainnya yang menunjang perannya sebagai pendidik. Beliau pernah berkiprah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pelaksana administrasi dan juga dosen pengajar, kemudian berpindah ke UIN Bukittinggi menyusul Buya Afifi Fauzi Abbas yang terlebih dahulu kembali pulang untuk mengurus Darulfunun.

    Latar belakang pendidikan dan organisasi:

    • PGA Payakumbuh (skrg MAN 2 Payakumbuh)
    • BA, SAg – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
    • MA – Universitas Muhammadiyah Jakarta
    • IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
    • ASA (Awak Samo Awak) Ciputat dan sekitarnya
    • Muhammadiyah – Aisyiyah
    • PCM Aisyiyah Kota Payakumbuh

    Peran sebagai Istri dan Ibu

    Sebagai istri dari Buya Afifi Fauzi Abbas, Ummi Hajjah Mona Eliza berperan aktif dalam mendukung suaminya dalam berbagai aktivitas keagamaan dan pendidikan. Buya Afifi Fauzi Abbas adalah seorang ulama yang dihormati dan dikenal luas atas kontribusinya dalam menyebarkan ajaran Islam yang moderat dan inklusif baik dalam organisasi Muhammadiyah ataupun secara umum di masyarakat. Dalam peran ini, Ummi Hajjah Mona Eliza sering kali menjadi partner diskusi dan pendukung utama, membantu mewujudkan berbagai inisiatif pendidikan dan sosial yang digagas oleh suaminya. Ummi Hajjah Mona Eliza juga terlibat dalam pergerakan Aisyiyah baik di Jakarta ataupun Payakumbuh.

    Sebagai orang tua, beliau juga berperan penting dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya untuk menjadi individu yang berakhlak mulia dan berilmu. Anak-anaknya sendiri telah mengikuti jejak orang tuanya dengan menjadi seorang pendidik, tokoh dan berperan aktif berkontribusi pada masyarakat luas. Ummi Hajjah Mona Eliza adalah yang menguatkan tekad Buya Afifi Fauzi Abbas untuk menyelesaikan janjinya kepada ayahnya Buya Fauzi Abbas untuk pulang dan membangun kembali Darulfunun.

    Kepemimpinan di Perguruan Darulfunun

    Sebagai mudirah pertama Perguruan Darulfunun (2018-2023), Ummi Hajjah Mona Eliza menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan lembaga pendidikan ini. Bahkan tidak jarang fitnah dan tantangan diberikan oleh orang-orang yang hasad dengan kiprah beliau. Beliau adalah pimpinan perguruan Islam satu-satunya yang merupakan perempuan, sehingga tantangan bukan hanya dari internal tetapi juga dari eksternal dan budaya. Akan tetapi dengan visi yang jelas dan semangat yang tinggi, beliau berhasil membawa Perguruan Darulfunun, khususnya setelah meninggal Buya Afifi Fauzi Abbas, menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang diperhitungkan. Kepemimpinannya yang tegas namun bijaksana membuat Perguruan Darulfunun dikenal sebagai lembaga yang tidak hanya mengutamakan aspek akademis tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak para siswa.

    Jumlah siswa Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah mencapai 520 siswa, menjadi jumlah siswa terbanyak selama 20 tahun terakhir perguruan ini didirikan. Beliau memprakasai kelas Fikih Perempuan, Surau Camp dan juga program Tahfiz. Dalam masa beliau, pembinaan siswa dilakukan secara intensif seperti perlakuan seorang ibu kepada anak-anaknya sendiri. Beliau turun tangan sendiri memastikan siswa didik mendapatkan makanan yang bergizi untuk aktifitasnya, beliau juga yang memastikan perbaikan-perbaikan infrastruktur tetap berjalan untuk memberikan kenyamanan pada siswa didik. Beliau bahkan tidak sungkan pada bulan ramadhan menjemput dan mengantarkan siswa untuk berpartisipasi memberikan tausiyah ramadhan di masjid-masjid dan musholla di Kota Payakumbuh. Untuk keperluan itu beliau memaksakan diri untuk belajar mengemudikan mobil setelah meninggalnya Buya Afifi Fauzi Abbas.

    Inovasi dan Kontribusi

    Ummi Hajjah Mona Eliza dikenal sebagai inovator dan disiplin dalam bidang pendidikan. Beliau memperkenalkan berbagai perbaikan-perbaikan administratif dan metode pengajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan, serta selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Perguruan Darulfunun. Beliau juga yang menanamkan pentingnya KSM (kompetisi sains madrasah), dan perlu diadakan kelas Matrik untuk mendukung hal tersebut. Beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, memberikan bimbingan kepada masyarakat luas, khususnya dalam hal pendidikan anak dan peran perempuan dalam Islam.

    Dalam perbaikan yang dilakukan Perguruan Darulfunun dapat mencapai hasil yang terbaik dalam 20 tahun terakhir. Diantaranya:

    1. Jumlah siswa 520 siswa
    2. Lolos KSM hingga tingkat provinsi untuk mata pelajaran umum
    3. Kelulusan 78% PTN (perguruan tinggi nasional)
    4. Pionir Wisuda Tahfiz Al-Quran di Payakumbuh dan Limapuluh Kota
    5. Target 1-2 Juz dalam satu tahun
    6. Daurah Surau Camp
    7. Kurikulum Surau
    8. Pelatihan IT untuk siswa yang akan tamat belajar
    9. dsb

    Selain itu beliau juga termasuk yang menggagas perbaikan-perbaikan infrastruktur pelayanan siswa, diantaranya:

    1. Dapur atau Kantin Perguruan dari sebelumnya siswa makan menggunakan sistem katering luar, memberikan pengurangan biaya makan hingga 50%
    2. Pengadaan tempat tidur dan fasilitas siswa di asrama dari sebelumnya siswa tidur dengan membawa kasur dan peralatan masing-masing.
    3. Merenovasi toilet umum dan untuk guru, untuk meningkatkan kebersihan dan sanitasi sekolah

    Fitnah dan Cobaan

    Sebagai mudirah, pimpinan perempuan pertama di Perguruan bersejarah di Indonesia. Ummi Hajjah Mona Eliza tidak tidak luput dari berbagai cobaan dan fitnah. Sebagai seorang atasan di lembaga pendidikan Islam yang terkemuka, beliau sering kali dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah. Berbagai fitnah dan isu negatif pernah diarahkan kepadanya, baik dari pihak internal maupun eksternal, terlebih setelah meninggalnya Buya Afifi Fauzi Abbas. Namun, Ummi Hajjah Mona Eliza selalu mampu menghadapi semua itu dengan ketabahan dan kebijaksanaan demi amanah yang selalu disebut-sebutnya.

    Ketika menghadapi cobaan, Ummi Hajjah Mona Eliza selalu mengedepankan sikap sabar dan tawakkal kepada Allah. Beliau meyakini bahwa setiap ujian yang datang adalah bagian dari rencana Allah untuk menguji kesabaran dan keimanannya. Dalam menghadapi cobaan, beliau selalu mengingatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya untuk tetap tegar dan tidak mudah menyerah.

    Fitnah sering kali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seseorang yang berada di posisi publik. Ummi Hajjah Mona Eliza menghadapi berbagai fitnah dengan cara yang sangat bijaksana. Beliau selalu berusaha untuk menunjukkan integritas dan kejujuran dalam setiap tindakannya. Fitnah muncul dari orang-orang yang hasad dengan keberhasilan beliau, dan juga internal yang sering didisiplinkan oleh beliau.

    Dalam menghadapi fitnah, beliau juga selalu memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil berdasarkan prinsip keadilan dan kebenaran. Dengan menunjukkan transparansi dan akuntabilitas dalam kepemimpinannya, beliau berhasil meredam berbagai isu negatif yang pernah menyerangnya. Integritas dan konsistensi inilah yang membuat banyak orang tidak mampu menghadapi beliau.

    Dari berbagai cobaan dan fitnah yang dihadapinya, Ummi Hajjah Mona Eliza selalu mengambil hikmah dan pelajaran berharga. Beliau selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana. Cobaan dan fitnah tidak membuatnya lemah, tetapi justru semakin mengokohkan tekadnya untuk terus berjuang dan memberikan yang terbaik.

    Beliau juga mengajarkan kepada murid-murid dan orang-orang di sekitarnya untuk selalu bersikap sabar dan tidak mudah putus asa. Dalam setiap ceramah dan bimbingannya, beliau sering kali menekankan pentingnya menjaga keimanan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

    Kontroversi

    Untuk menghalang-halangi kiprah beliau, fitnah dan hasutan dilakukan oleh pihak internal dan eksternal. Hingga akhirnya pihak-pihak tersebut mencoba memberhentikan beliau dengan melakukan kudeta kepada anak beliau yang merupakan Ketua Yayasan yang diamanahkan oleh Buya Afifi Fauzi Abbas.

    Dengan meninggalnya Buya Afifi Fauzi Abbas, pihak-pihak yang hasad ini semakin kuat memberikan tekanan kepada beliau. Hingga pada akhirnya untuk memberhentikan beliau, pihak-pihak ini perlu melakukan kudeta terhadap Yayasan dan mengganti ketua yayasan bukan dari keturunan Syekh Abbas Abdullah. Dalam aksi ini juga pihak-pihak tersebut menjanjikan mengganti uang terpakai yang tidak sedikit yang dipergunakan untuk menalangi gaji guru, yang pada akhirnya hutang tersebut tidak dibayarkan.

    Warisan dan Pengaruh

    Warisan yang ditinggalkan oleh Ummi Hajjah Mona Eliza tidak hanya terlihat dari perkembangan Perguruan Darulfunun, tetapi juga dari banyaknya murid dan pengikut yang terinspirasi oleh ajaran dan teladannya. Beliau telah membuktikan bahwa dengan dedikasi dan kerja keras, seorang perempuan harus dapat memberikan kontribusi yang besar dalam dunia pendidikan dan agama.

    Kesuksesan Ummi Hajjah Mona Eliza sebagai mudirah pertama Perguruan Darulfunun menjadi contoh nyata bahwa peran perempuan dalam Islam sangatlah penting dan tidak boleh diremehkan. Beliau telah membuka jalan bagi banyak perempuan lain untuk berkiprah dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

    Dengan segala prestasi dan dedikasinya, Ummi Hajjah Mona Eliza akan selalu dikenang sebagai seorang pendidik, pemimpin, dan teladan bagi generasi-generasi berikutnya. Keberhasilannya dalam memimpin Perguruan Darulfunun walaupum sebentar, telah memberikan warna yang berharga dalam perkembangan Perguruan di 20 tahun terakhir, terutama sebagai peran perempuan dalam kelembagaan pondok pesantren.

  • Siapa Pembuat Logo Darulfunun El-Abbasiyah

    Siapa Pembuat Logo Darulfunun El-Abbasiyah

    Sketsa logo yang disempurnakan tahun 2002 oleh Tan Abdullah Afifi

    Melati: berwana Ungu; Pena berwana Hitam; Kitab berwarna Putih; Pita DFA berwarna Emas dan Menapak ke Bumi berwarna Hijau

    Dikarenakan pada awalnya Madrasah Tsanawiyah Darulfunun El-Abbasiyah tidak memiliki logo, Maka Buya Dr Afifi Fauzi Abbas meminta Dr Kol. Hikmat Israr yang waktu itu masih sering berkunjung di Ciputat untuk membuatkan logo. Dari sketsa logo tersebut kemudian diberikan kepada Tan Abdullah Afifi untuk didesain ulang dan disempurnakan.

    Hingga tahun 2020 dengan pertimbangan kekinian, logo tersebut kembali diminta untuk ditranformasikan menjadi logo yang kekinian. Sebab satu dan lain hal pada tahun 2023 Tan Abdullah Afifi tidak mengizinkan logo yang baru dipakai di Padang Japang tanpa meminta izin beliau terlebih dahulu.

  • Tidak Amanah, Sekretaris Majlis Syuro Partai Masyumi Abbas Thaha diminta Melunasi Hutang

    Tidak Amanah, Sekretaris Majlis Syuro Partai Masyumi Abbas Thaha diminta Melunasi Hutang

    Konflik internal yang terjadi sejak meninggalnya Buya Haji Afifi Fauzi Abbas masih belum lagi selesai di Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah. Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah menaungi Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah pun kini terancam pailit.

    Pinjaman lunak yang kemudian berubah menjadi hutang piutang terjadi akibat pemecatan sepihak bendahara Yayasan istri kepada Buya Haji Afifi Fauzi Abbas yang bernama Ummi Hajjah Mona Eliza oleh pihak Dewan Pembina Yayasan.

    Hutang ini kini berjumlah tidak sedikit dan telah mengambil masa tertunggak tiga tahun sejak meninggalnya Buya Afifi Fauzi Abbas. Dewan Pembina yang memberhentikan beliau adalah Abbas Thaha yang merupakan sekretaris Majlis Syuro Partai Masyumi, Mazman Mazni dan Adiaputra yang merupakan pensiunan.

    Pimpinan Perguruan Darulfunun Funun El-Abbasiyah Abdullah Afifi yang merupakan cicit langsung dari Syekh Abbas Abdullah dihubungi terpisah di kediaman beliau di Bangi-Malaysia mengungkapkan aksi semacam ini menunda-nunda hutang sambil memanfaatkan situasi bukan merupakan cerminan seorang muslim yang baik.

    Sebagai seorang politisi Muslim seharusnya Abbas Thaha memberikan contoh yang baik. Jika perkara seperti ini saja tidak amanah, apalagi jika diharapkan mengurus urusan bangsa dan negara ini.

    Hutang yang berlarut-larut kini telah berjumlah tidak sedikit hampir 1,5 Milyar dan terus bertambah dikarenakan operasional yang masih terus dibantu oleh dana talangan pribadi ummi.

    Menyikapi hal ini Pimpinan Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah tentu hanya bisa pasrah, jika memang sikap tersebut tidak berubah tentu kita tidak bisa berharap apa-apa, sebagian kita memang diberikan cobaan dari sikap dan integritasnya.

    Walaupun begitu beliau juga mengingatkan salah satu perkara yang tidak bisa dibawa mati adalah hutang, Rasul bahkan menyampaikan orang yang mati dalam keadaan berhutang akan sia-sia didoakan karena Allah tidak menerima amalannya.

  • Bantuan & Pengalihan Operasional

    https://darulfunun.id/wp-content/uploads/2022/08/202208-170-Pengalihan-Operasional.pdf

    Tags: Bantuan & Pengalihan Operasional Darulfunun

  • Press Rilis: Hari Loyalitas (Ayyaumis Syahadah)

    Bismillahirrahmanirrahim
    PRESS RILIS
    No. 169a / YDFA / VIII / 2022
    tentang:
    Hari Persaksian Loyalitas (Ayyamus Syahadah)


    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Menimbang kepanikan dan situasi yang tidak kondusif yang terjadi di Perguruan Darulfunun yang
    menyebabkan guru dan pegawai hilang konsentrasi bekerja dan mengajar:

    1. Saya Abdullah Arifianto bin Afifi bin Fauzi bin Abbas bin Abdullah tidak akan melayani dan
      menanggapi upaya provokasi / perebutan kuasa / kudeta dari ibu Atifah binti Nasaruddin bin Thaha,
      dkk.

    1. Menjadikan tanggal 27 Agustus sebagai hari loyalitas (ayyamus syahadah), diperingati setiap tahun,
      supaya dimasa yang akan datang kita dapat membedakan sikap yang bersungguh-sungguh (berjihad) dan yang mana sikap mempermainkan urusan amanah di Darulfunun.
      Demikian disampaikan dengan harapan operasional perguruan dan kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan sebagaimana mestinya.
  • Ketua PDM Limapuluh Kota, Dr Afifi Fauzi Abbas Tutup Usia

    Ketua PDM Limapuluh Kota, Dr Afifi Fauzi Abbas Tutup Usia

    SinergiNews  Kab. Limapuluh Kota, 30/09/2021. Innalillahi wa inna ilaihirraji’un. Kabar duka tengah menyelimuti Keluarga Besar Muhammadiyah Provinsi Sumatera Barat. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Limapuluh Kota sekaligus juga Pimpinan Yayasan Wakaf Darul Funun El-Abbasiyah, Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, M.Ag. telah tutup usia pada Kamis (30/09/2021) pukul 04:30 WIB pagi.

    Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Sumatera Barat, Dr. Sofwan Karim El-Husain mengatakan rasa kehilangan tokoh Muhammadiyah dan belasungkawa atas meninggalnya almarhum.

    “Kami atas nama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Keluarga Besar Muhammadiyah se-Sumatera Barat mengucapkan duka yang mendalam. Kami mendo’akan semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya,” kata Sofwan Karim el-Husain saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.

    Sofwan Karim mengungkapkan, Buya Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, M.Ag. yang lahir 6 September 1956 adalah seorang ahli Fiqih, Syariah, Siyasah, Perbandingan Mazhab, Ekonomi Islam, dan Ilmu Falak di Indonesia. Beliau juga adalah Pimpinan Yayasan Wakaf Darulfunun El-Abbasiyah, Ketua Senat IAIN Bukittinggi, Ketua Muhammadiyah Lima Puluh Kota.“Beliau murni tokoh Muhammadiyah dengan menelusuri latarbelakang pendidikan dan kiprah organisasi, tak diragukan lagi sepenuhnya mengabdikan hidup untuk perkembangan dan kemajuan dakwah Muhammadiyah di Sumatera Barat,” ucap Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat tersebut.

    Almarhum mengajar di IAIN Bukittinggi dan pernah mengajar selama 30 tahun di UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka (UHAMKA) Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sekolah Tinggi dan Manajemen PPM.

    REKAM JEJAK

    Semasa hidup, almarhum pernah dipercaya sebagai Ketua Jurusan Jinayah Siyasah, Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Wakil Dekan Administrasi Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Direktur Percetakan Dikdasmen Muhammadiyah.

    Selain itu, beliau juga menjabat Pimpinan Yayasan Wakaf Darulfunun, Direktur Darulfunun Institute dan pengajar Ushuluddin di kelas Surau Darulfunun dan Kuliyyatul Muallimin. Beliau akhir-akhir ini terlibat sebagai Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluh Kota, anggota Majlis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah dan Ketua Senat IAIN Bukittinggi.

    Almarhum juga pernah terlibat sebagai anggota Divisi Fatwa Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, anggota Bendahara Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Direktur Penerbit dan Percetakan Dikdasmen PP Muhammadiyah, anggota MUI, anggota LPOM MUI, peserta sidang Itsbat MUI dan anggota ICMI.

    Selain organisasi dakwah, almarhum juga aktif dalam organisasi pergerakan dan sosial masyarakat, dengan menjadi Pembina Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ciputat, Tokoh Masyarakat ASA (Perantau Sumatera) di Ciputat, Tokoh Masyarakat di Desa Pisangan, Ciputat, dan Wakil Ketua Yayasan Bhakti VII Koto Talago.***

    Sumber: https://sinerginews.id/ketua-pdm-limapuluh-kota-dr-afifi-fauzi-abbas-tutup-usia/

  • Bupati Kampung Tan Malaka Usulkan Syekh Abbas Abdullah jadi Pahlawan Nasional

    Bupati Kampung Tan Malaka Usulkan Syekh Abbas Abdullah jadi Pahlawan Nasional

    Padang – Bupati Kabupaten Liko (Lima Puluh Kota) Safaruddin Dt. Bandaro Rajo mengusulkan ulama besar Minangkabau Sjech Haji Abbas Abdullah menjadi Pahlawan Nasional.

    “Sangat pantas beliau menjadi Pahlawan Nasional. Ulama besar dan tokoh yang ikut berjuang melawan Belanda,” kata Bupati Kabupaten Liko (Lima Puluh Kota) itu. Bahkan Ir Soekarno yang kemudian menjadi Presiden pertama Republik Indonesia engaja berkunjung ke Padangjopang, Guguk Liko, ” kata Bupati yang dikenal low profile dan dekat dengan kalangan masyarakat bawah ini.

    “Gelar pahlawan nasional diberikan kepada warga negara Indonesia yang telah gugur atau meninggal dunia dalam membela bangsa dan negara melawan penjajahan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, ” kata tokoh Golkar Sumbar ini.

    Safaruddin Bupati dari tanah kelahiran Pahlawan Kemerdekaan Nasional Tan Malaka merasa bangga ulama besar pejuang dan konseptor Indonesia lahir dari Kabupaten Liko.

    Catatan : gelar pahlawan ini diberikan oleh Presiden kepada seseorang yang gugur melawan penjajahan melalui Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Tim tersebut dibentuk dan ditetapkan oleh kementerian yang terkait.

    Berikut ini syarat dan prosedur pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Kriteria gelar pahlawan ditetapkan melalui UU No. 20 tahun 2009 tentang tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan Pasal 26, untuk memperoleh Gelar:

    Syarat umum mendapat gelar Pahlawan Nasional

    WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI;
    Memiliki integritas moral dan keteladanan;
    Berjasa terhadap bangsa dan Negara;
    Berkelakuan baik; Setia dan tidak menghianati bangsa dan Negara; dan
    Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun
    Syarat khusus mendapat gelar Pahlawan Nasional

    Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa;
    Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan; Melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya;
    Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara;
    Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa;
    Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau melakukan perjuangan yang menpunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
    Berikut adalah prosedur pengusulan gelar pahlawan yang dikutip melalui Indonesia.go.id:

    Masyarakat mengajukan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan kepada Bupati/Walikota setempat. Bupati/Walikota mengajukan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan kepada Gubernur, melalui instansi Sosial Provinsi setempat.
    Instansi Sosial Provinsi menyerahkan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan tersebut kepada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) untuk diadakan penelitian dan pengkajian (melalui Proses seminar, Diskusi maupun Sarasehan).
    Usulan Calon Pahlawan Nasional yang menurut pertimbangan TP2GD dinilai memenuhi kriteria, kemudian diajukan kepada Gubernur yang akan merekomendasikan kepada Menteri Sosial RI.
    Menteri Sosial RI Cq. Direktorat Jenderal Pemberdayaan sosial dan Penanggulangan Kemiskinan/Direktorat kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial mengadakan verifikasi kelengkapan administrasi.
    Usulan calon Pahlawan Nasional yang telah memenuhi persyaratan administrasi kemudian diusulkan kepada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) untuk dilakukan penelitian, pengkajian dan pembahasan.
    Usulan Calon Pahlawan Nasional yang menurut pertimbangan TP2GP dinilai memenuhi kriteria, kemudian oleh Menteri Sosial RI diajukan kepada Presiden RI melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan guna mendapatkan persetujuan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional sekaligus Tanda Kehormatan lainnya.
    Usulan Calon Pahlawan Nasional yang tidak memenuhi persyaratan dapat diusulkan kembali 1 (satu) kali dan dapat diusulkan kembali minimal 2 (dua) tahun kemudian terhitung mulai tanggal penolakan, sedangkan usulan Calon-Pahlawan Nasional yang ditunda dapat diusulkan kembali dengan melengkapi persyaratan yang diminta dan diajukan kembali kepada Menteri.
    Upacara penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional dilaksanakan oleh Presiden RI menjelang Peringatan Hari Pahlawan pada tanggal 10 November

    Dikunjungi Soekarno

    Bupati mengatakan jauh sebelum ditemui Sukarno, Syekh Abbas Abdullah dan kakaknya Syekh Mustafa sudah dikenal luas oleh masyarakat, terutama di Ranah Minang. Keduanya berasal dari Jorong Padang Japang, Nagari VII Koto Talago, Guguk, Limapuluh Kota.

    Bersama sejumlah ulama lain, dua tokoh tersebut menjadi bagian dari gerakan pembaharuan pemikiran dan pengajaran Islam di Minangkabau sejak awal abad ke-20. Keduanya juga aktif berorganisasi dan ikut dalam perjuangan kemerdekaan.

    “Syekh Abbas Abdullah dan Syekh Mustafa Abdullah adalah putra dari Syekh Abdullah, salah satu ulama besar pada masanya. Laman resmi Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah menyebutkan, Syekh Abdullah adalah anak dari Tuanku Nan Banyak Dt Perpatih Nan Sabatang. Tokoh ini adalah wakil Tuanku nan Bonjol untuk urusan pengadilan dan hakim pada masa Padri,” kata Bupati.

    Syekh Abdullah memiliki enam anak dari tiga istri. Yang tertua adalah Syekh Muhammad Shalih. Anak kedua dan ketiga adalah Mustafa dan Abbas dari Ibu bernama Seko asal Padang Japang. Tiga anak berikutnya dari isteri yang lain, yakni Syekh Muhammad Said, Sa’adah dan Sa’adud.

    Syekh Abdullah sudah membuka pengajian di Surau Gadang Padang Japang sejak 1854, setelah Perang Padri usai. Karena itu pula, anak-anaknya sudah mengikuti pendidikan agama sejak kecil, termasuk Muhammad Shalih, Mustafa dan Abbas.

    Sejumlah literatur, termasuk tulisan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam Buku “Ayahku” menyebutkan, Syekh Abbas lahir pada tahun 1883. Belum ditemukan literatur yang menulis tahun persis kelahiran kakaknya Syekh Mustafa dan kakak tertuanya Syekh Muhammad Shalih.

    Muslim Syam dalam profil Syekh Abbas di buku “Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat” (1981) menulis, Abbas muda juga pernah belajar di Surau Pandam Gadang, Suliki.

    “Salah seorang gurunya pernah mengatakan kepadanya, bahwa bila ia ingin memperoleh pendidikan yang tinggi, ia harus belajar ke luar negeri,” tulis Muslim Syam.

    Di tanah air yang sedang terjajah, hanya anak orang-orang kaya dan bangsawan yang menjadi kaki tangan kaum penjajah yang dapat menikmati pendidikan tinggi. Pesan itu sangat berkesan bagi Abbas Abdullah muda.

    Pada usia 13 tahun, ia mendengar pamannya akan berangkat naik haji ke Mekkah. Abbas kemudian meminta agar diajak ke Mekkah. Awalnya, sang paman tak mengizinkan karena beratnya perjalanan menuju tanah suci. Dari Limapuluh Kota, saat itu harus berjalan kaki ke Riau, sebelum naik kapal menuju Semenanjung Malaka dan terus ke Mekkah.

    Tekad dan keinginan Abbas muda yang kuat, membuat pamannya mengalah. Sehingga mereka akhirnya berangkat ke Mekkah dan menunaikan ibadah haji. Ibadah haji selesai, Abbas berkeras meminta izin pamannya untuk tinggal di Mekkah untuk memperdalam pelajaran agama Islam.

    Di Mekkah, ia kemudian belajar ke sejumlah ulama asal Minangkabau yang terlebih dahulu sudah belajar di Mekkah. Kitab-kitab agama ia pelajari pada Syekh Latif Syukur dan Syekh Djamil Djambek. Haji Abbas Abdullah juga belajar pada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Mazhab Syafii yang menjadi guru puluhan ulama asal kampung halamannya.

    Muslim Syam menulis, setelah belajar selama 8 tahun, tepatnya pada usia 21 tahun, Syekh Abbas Abdullah pulang ke kampung halaman. “Barang bawaannya yang terpenting ketika itu adalah sejumlah buku besar yang sulit diperoleh di tanah air.”

    Pada 1903, Syekh Abdullah wafat. Pengajaran di Surau Gadang, ia amanahkan pada anak pertama dan keduanya, Syekh Muhammad Shalih Abdullah yang dikenal dengan nama Syekh Madinah dan Syekh Mustafa Abdullah. Sebelumnya, Syekh Madinah juga sudah mengelola sebuah surau di Pariaman. Syekh Abbas membantu kedua kakaknya mengajar di surau gadang itu.

    Setelah Syekh Abbas pulang, giliran Syekh Mustafa yang berangkat naik haji. Ia juga bertemu dan belajar pada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

    Pada 1912, Syekh Muhammad Shalih meninggal dunia, sehingga tanggung jawab pengelolaan surau dipercayakan kepada Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas. Saat itulah, Syekh Abbas dan Syekh Mustafa mulai menerapkan ide pembaruan dalam sistem pengajaran di Surau Gadang.

    Ia kemudian menemui beberapa ulama murid Syekh Ahmad Khatib lainnya. Antara lain, ia menemui Syekh Abdul Karim Amrullah yang saat itu mengajar di Surau Jembatan Besi Padang Panjang, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Thaib Umar Sungayang.

    “Mereka telah mendapat kata sepakat untuk mengadakan kerja sama dalam pembaruan pengajaran agama,” tulis Muslim Syam.

    Buku “Ensiklopedi Minangkabau” (2005) yang disusun Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau menyebutkan, para ulama tersebut mengganti sistem halaqah dalam pengajaran agama di surau masing-masing dengan dengan klasikal. Semua sepakat belajar di kelas, dengan menggunakan meja, bangku dan papan tulis.

    “Pada 1918, madrasah-madrasah tersebut menyatu dan bernaung di bawah organisasi Sumatera Thawalib,” tulis buku Ensiklopedi Minangkabau.

    Perubahan ke sistem madrasah, juga disertai penyusunan kurikulum dan jadwal pelajaran. “Buku-buku yang dipakai pun mengalami perubahan. Madrasah di Padang Japang dibagi kepada dua tingkatan, yaitu tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, masing-masing untuk 4 tahun,” tulis Muslim Syam.

    Sebagian masyarakat menyambut baik perubahan itu. Hal tersebut dibuktikan dengan makin banyaknya murid yang berdatangan kepada para ulama. TV juga yang mengkritik, karena menganggap menyerupai sistem Belanda yang tak beragama Islam. Menjawab itu dan menyiarkan pembaruan, masing-masing madrasah kemudian juga menerbitkan majalah. Yaitu, Al-Imam di Padang Japang, Al-Munir di Padang Panjang, Al-Bayan di Parabek dan Al-Basyir di Sungayang.

    Seiring polemik dan perbedaan paham antara ulama, Syekh Abbas merasa perlu menambah ilmu. Ia kembali berangkat ke Mekkah pada 1921. Namun, usai menunaikan ibadah haji, ia meneruskan perjalanan ke Mesir, belajar beberapa tahun pada ulama-ulama Al-Azhar. Syekh Abbas kemudian melanjutkan perjalanan ke Palestina, Libanon dan Syria untu melihat sistem pengajaran Islam di negara-negara tersebut.SIMAK JUGA :  Viral di Medsos, Sejumlah Cewek Ancam DPR : Ingat Aku Gak ?

    Sekembali dari luar negeri, Syekh Abbas melakukan perbaikan pada kurikulum dan peralatan pengajaran di Sumatera Thawalib Padang Japang. Upaya yang dilakukan adalah menambah pelajaran umum dan keterampilan ke dalam kurikulum.

    Berkat pambaruan pendidikan yang dilakukan Syekh Abbas, Sumatera Thawalib Padang Japang makin ramai didatangi murid. Bukan saja dari Ranah Minang, tetapi juga dari berbagai daerah di Nusantara. Di antara murid-muridnya yang kemudian juga jadi ulama adalah Zainuddin Labay el-Yunusy, Zainuddin Hamidy dan Nasharuddin Thaha.

    Pada 1930, organisasi Sumatera Thawalib dilebur menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) sehingga seluruh madrasah Sumatera Thawalib berada di bawah departemen pendidikan Permi. Hal ini tak disetujui Syekh Abbas. Sehingga, Sumatera Thawalib Padang Japang berubah Darul Funun Abbasiyah.

    Maraknya madrasah di Ranah Minang pada masa itu, telah meningkatkan jumlah kaum terpelajar. Pada gilirannya, ini membuat sikap anti-pemerintah kolonial makin bersemi. Penguasa Hindia Belanda gerah dengan situasi ini. Pada 1934, mereka menggeledah sejumlah madrasah, termasuk Darul Funun. Peristiwa ini membuat Darul Funun yang terus dikelola Syekh Abbas bersama Syekh Mustafa sempat terhenti sementara.

    “Beliau dua bersaudara adalah orang-orang keras hati, berjiwa revolusioner, tidak ragu-ragu memesan dan mengajarkan kitab-kitab Abduh dan Rasyid Ridha dan kitab-kitab yang lain memberi kebebasan fikiran dari Darul Funun-nya,” tulis HAMKA.

    Di awal zaman Jepang, aktivis perjuangan kemerdekaan Ir. Sukarno datang ke Padang Japang untuk menemui kedua Syekh. Sukarno sudah ada di Padang sejak awal Maret 1942 sebelum Jepang masuk. Ia ditinggalkan Belanda begitu saja dalam perjalanan dari Bengkulu menuju Padang. Sukarno kemudian menetap selama beberapa bulan di Sumatra Barat. Selain di Padang, ia juga antara lain mengunjungi Bukittinggi dan Padang Japang, sebelum kembali ke Jakarta pada awal Juli 1942.

    Wartawan Senior Fachrul Rasyid HF dalam Buku “Refleksi Sejarah Minangkabau: dari Pagaruyung Sampai Semenanjuang” (2008) menulis, kunjungan Sukarno ke Padang Japang terjadi pada Juni 1942. Semula, menurutnya, tak ada yang tahu apa yang dibincangkan Sukarno dengan Syekh Abbas dalam pertemuan tertutup.

    “Tiga hari kemudian, Syekh Abbas mengungkapkan pertemuannya dengan Bung Karno di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid Al-Abbasyiah. Kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” tulisnya.

    Syekh Abbas, menurut Fachrul, menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan. Selain itu, ia juga mengingatkan agar Bung Karno pandai-pandai menjaga martabatnya.

    Tak lupa, pada kesempatan itu, Syekh Abbas juga menghadiahi peci yang lebih tinggi untuk Sukarno, mengganti peci lamanya yang agak pendek. “Sebelum pulang, Sukarno diapit Syekh Abbas dan Syekh Mustafa dijepret juru kamera Said Son.”

    Kelak dalam pidatonya di sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 1 Juni 1945, “Peri Ketuhanan” menjadi salah satu dari lima sila yang diusulkan Sukarno jadi dasar negara.

    Di zaman Jepang juga, Syekh Abbas bersama sejumlah ulama lintas mazhab bersama-sama bergabung dengan Majelis Islam Tinggi (MIT). Ia ikut menyarankan agar anak muda pada masa itu bergabung dengan Gyugun, agar bisa mendapat pelatihan militer yang kelak bisa digunakan untuk memerangi penjajah.

    Usai merdeka, saat masih dalam perang kemerdekaan, berbagai barisan ikut bergerilya memerangi Belanda. “Atas kesepatan para ulama, Syekh Abbas pernah diangkat menjadi ‘Imam Jihad’ untuk daerah Minangkabau,” tulis Muslim Syam.

    Dalam revolusi bersenjata 1945, menurut HAMKA, kedua beliau telah meng-gerakkan murid-muridnya supaya turut berjihad fi sabilillah. “Syekh Abbas diangkat menjadi ‘Imam Jihad’ oleh Majelis Tinggi Islam.”

    Thanthawi Mustafa, salah satu anak Syekh Mustafa gugur dalam pengepungan Belanda di Situjuah, dalam masa PDRI itu. Saat Syekh Mustafa dikabari anaknya gugur, wajahnya tak berubah. “Yang terlebih dahulu beliau tanyakan dari manakah tembusan peluru, adakah dari muka atau dari punggung? Kalau dari muka, yakinlah beliau bahwa puteranya mati syahid,” tulis HAMKA.

    Kedua ulama ini terus berperan saat agresi militer II, ketika Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) digerakkan dari Sumatra Barat. Pada Juli 1949, ketika M. Natsir dan Dr. J. Leimena diutus Bung Hatta menemui Ketua PDRI Sjafruddin Prawiranegara, salah satu pertemuan sempat digelar di salah satu ruang madrasah Darul Funun.

    “Setelah terjadi persetujuan ‘Roem-Royen’ dan terjadi penghentian tembak menembak di Sumatera, di Padang Japang, di surau beliau itulah berkumpul kembali para pemimpin PDRI,” tulis HAMKA.

    Padang Japang kemudian menjadi catatan akhir PDRI, karena setelah itu Mr. Sjafruddin Prawiranegara bertolak ke Yogyakarta, menyerahkan kembali pemerintahan kepada Sukarno dan Hatta.

    Syekh Mustafa Abdullah Padang Japang berpulang pada 1954. Disusul tiga tahun kemudian oleh Syekh Abbas Abdullah pada Senin 17 Juni 1957 di usia 74 tahun. Darul Funun yang didirikan dan diasuh sejak awal oleh kedua ulama bersaudara ini, masih berjalan hingga kini.

    HAMKA menulis, Syekh Abbas, Syeh Mustafa dan ulama-ulama sahabat ayahnya (Syekh Dr. Abdul Karim Amrullah) konsekuen pada pendirian dan tidak mengenal menyerah. “Tetapi kalau kita berjumpa mereka, kita hanya akan melihat orang-orang tua c diri seakan-akan tidak berisi apa-apa, padahal penuh dengan iman dan keteguhan hati.”

    Ketuhanan Yang Maha Esa

    Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang
    Sila ketuhanan dari Sukarno dianggap saran dari seorang ulama dari Padang Japang, Sumatra Barat.
    Oleh: Jose Hendra | 01 Jun 2016

    Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang
    Sukarno diapit pendiri Perguruan Darul Funun el Abbasiyah, dua bersaudara yakni Syekh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah.
    PIDATO Sukarno pada 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dikukuhkan jadi hari lahir Pancasila. Dia mengajukan lima prinsip sebagai dasar negara Indonesia: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan.

    Konsep Ketuhanan yang ditempatkan pada prinsip kelima oleh Bung Karno akhirnya menjadi sila pertama dengan modifikasi menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rumusan Panitia Sembilan.

    Menurut Charles Simabura, dosen ilmu tata negara Universitas Andalas, dalam sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945, semua anggota memberi usul. Hampir semua menawarkan konsep Ketuhanan. Menurutnya, konsep Ketuhanan yang diusulkan terutama dari golongan agama lebih kongkret lagi yakni Ketuhanan dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya.

    Advertising

    Advertising
    Lalu dari mana ide Ketuhanan yang ditawarkan Bung Karno?

    Konsep tersebut bulir dari buah pergaulan Bung Karno dengan para ulama. Sejak muda dia tumbuh dalam lingkungan Sarekat Islam. Saat masa-masa pembuangan, Bung Karno terus berkorespondensi dengan ulama. Misalnya, dengan pendiri Persatuan Islam (Persis) Ahmad Hassan saat dibuang ke Ende. Hingga akhirnya, pada 1942, kata Ketuhanan terpatri dalam benaknya ketika kelak Indonesia merdeka dan membentuk dasar negara adalah sebuah keharusan.

    Adalah Syekh Abbas Abdullah yang memberi wejangan kepada Bung Karno. Kala itu, Bung Karno berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syekh Abbas.

    “Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan benar-benar tercapai. Dalam hal ini Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981.

    Syekh Abbas, yang dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

    Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syekh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian. “Di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syekh Abbas mengatakan kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang dia dapat dari keluarga Syekh Abbas dan masyarakat setempat. “Persisnya, Syekh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan.”

    Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatra Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah.

    Kebesaran kedua syekh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Bukti mesranya hubungan Bung Karno dengan dua ulama tersebut berjejak dalam selembar dokumentasi foto yang diambil Said Son.

    Syekh Abbas dan Syekh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekah, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Syekh Abbas juga kawan dekat Syekh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lainnya, Syekh Abbas mendirikan nama madrasah yang sama yakni Madrasah Sumatra Thawalib.

    Tahun 1930, Syekh Abbas mengubah Sumatra Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syekh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatra Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.

    Sementara sekolah tetap menjadi basis menggapai dan mengisi kemerdekaan.

    “Wajar Sukarno menemui Syekh Abbas karena dia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatra Barat.

    Dikatakannya, perjumpaan Sukarno dengan Syekh Abbas hanya sebentar. Datang sekitar jam satu siang lalu balik sekitar sorenya. Bung Karno sendiri berada di Padang ketika era transisi dari Belanda ke Jepang. Dia berada di Sumatra Barat selama lima bulan, dari Februari 1942 hingga Juli 1942. (Ben Tanur dari berbagai sumber)

    Sumber: https://www.harianindonesia.id/berita-utama/bupati-kampung-tan-malaka-usulkan-sjech-abbas-abdullah-jadi-pahlawan-nasional.html

  • Buya Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, Sang Organisatoris Muhammadiyah Telah Wafat

    Buya Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, Sang Organisatoris Muhammadiyah Telah Wafat

    JERNIHNEWS.COM-Innalillahi Wainnaillahi Raajiuun. Luhak Limopuluah kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Buya Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, Kamis (30/09/2021) pukul 04.30 WIB dipanggil Sang Khalik.

    Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Limapuluh Kota itu meninggal di kediamannya di Lingkungan Tarok, Kelurahan Tigo Koto Diateh, Kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh pada usia 65 tahun.

    Tentu tidak saja Muhammadiyah yang merasa kehilangan. Tapi juga Pondok Pesantren Darul Funun Padang Japang. Sebab beliau adalah pimpinan di pondok pesantren lintas zaman yang sudah banyak melahirkan para buya tersebut.

    Institut Agama Negeri Islam (IAIN) Bukittinggi juga tak kalah merasa kehilangan. Karena, Buya Dr. H. Afifi Fauzi Abbas juga diamanahkan sebagai Ketua Senat IAIN Bukittinggi yang sedang dalam proses menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi.

    Jagat media sosial diramaikan oleh kabar kepergian ayah dari tiga anak (2 putra dan 1 putri) itu. Ribuan orang mengucapkan rasa duka mendalam atas kepergian buya menghadap Sang Maha Pencipta. Ratusan pelayat juga mendatangi rumah duka di lingkungan Tarok.

    Belasan papan bunga dari berbagai pihak berjejer di depan pagar rumah duka. Di antaranya dari Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt. Bandaro Rajo, IAIN Bukittinggi, Persatuan Ponpes Limapuluh Kota, DPD PAN Kabupaten Limapuluh Kota dan lainnya. Banyak yang melepas Sang Buya dari rumah duka menuju pemakaman di kampungnya Padang Japang, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota.

    Buya Dr. H. Afif Fauzi Abbas meninggalkan seorang istri Dra. Hj. Mona Aliza, MA dan tiga orang anak, Evan Azami, Abdullah Afifi, dan Rosa Adelina. Ketiga anaknya berada di luar negeri, Malaysia, Qatar dan negara Arab lainnya. “Ketiga anak beliau berada di luar negeri, Malaysia, Qatar dan Mesir,” sebut Das salah seorang warga lingkungan Tarok kepada jernihnews.com.

    Hidupkan Kembali Ranting-ranting Muhammadiyah

    Tokoh Muda Muhammadiyah Luak Limopuluah, Ustadz H. Irwandi Nashir memiliki kesan luar biasa atas almarhum Buya Dr. Afifi Fauzi Abbas. Sang Buya menurut Irwandi yang juga dosen IAIN Bukittinggi, sangat totalitas dalam berdakwah dan juga menghidupkan kembali ranting-ranting Muhammadiyah di wilayah Kabupaten Limapuluh Kota.

    “Sejak beliau hijrah dari Jakarta beliau benar-benar total mengaktifkan organisasi Muhammadiyah di Kabupaten Limapuluh Kota hingga sampai ke ranting-ranting. Kita tahu bahwa ujung tombak organisasi Muhammadiyah berada pada ranting-ranting tersebut,” sebut Ust. H. Irwandi Nashir.

    Bahkan menurut Irwandi, dalam upaya menghidupkan ranting-ranting yang mati suri Buya Dr. Afifi membuat program pemberdayaan ekonomi peminjaman induk ayam bergilir bagi para pengurus atau aktifis ranting. Program itu sangat penting dan strategis bagi menopang perekonomian pengurus, aktifis dan kader Muhammadiyah di ranting yang telah mengorbankan waktu dan pikirannya di dalam mengelola organisasi dan dakwah.

    “Program peminjaman induk ayam bergulir itu alhamdulillah sukses. Bahkan ada yang bisa menguliahkan anaknya dari hasil ternak ayam tersebut. Begitulah totalitas beliau mengaktifkan dan membesarkan Muhammadiyah di Kabupaten Limapuluh Kota. Beliau sangat perhatian kepada masyarakat dan aktifis Muhammadiyah, termasuk soal perekonomiannya,” kata Ust. Irwandi.

    Ust. Irwandi juga mengungkap semestinya, pada Kamis (30/09/2021) dilaksanakan perpisahan Keluarga Besar IAIN Bukittinggi dengan Buya Dr. Afifi Fauzi Abbas, sehubungan sang Buya memasuki usia purna tugas sebagai PNS/ASN di IAIN Bukittinggi. Berbagai persiapan telah ditunaikan.

    “Pak Afifi wafat di usia 65 tahun. Sebenarnya hari ini Kamis (30 September 2021) adalah hari pelepasan beliau secara resmi purnabhakti sebagi PNS di IAIN Bukittinggi. Undangan sudah disebar. Namun Allah Ta’ala memanggil beliau pas di hari H,” kata Irwandi kepada jernihnews.com.

    Hijrah dari Jakarta

    Buya Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, M.Ag yang lahir 6 September 1956 di Padang Japang, VII Koto Talago, Guguak, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, lama berada di Jakarta. Dia kuliah sarjana muda hingga S1, S2 dan S3 di IAIN/ UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

    Buya Afifi adalah ahli fiqih, syariah, siyasah, perbandingan mazhab, ekonomi islam, dan ilmu falak. Dia merupakan anak dari Buya H. Fauzi Abbas (ayah) dan Hj. Yuhaena (ibu). Kakeknya, Syekh Abbas Abdullah. Kakeknya merupakan ulama pembaharu pendidikan Islam dan pengorganisasian dakwah.

    Riwayat pendidikan Dr. H. Afifi Fauzi Abbas; SDN di Padang Japang, MTs Surau Darul Funun di Padang Japang, MA Surau Darul Funun di Padang Japang Sarjana Muda Syariah (BA) di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sarjana Syariah (Drs) di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Magister Syariah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Doktor Syariah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Buya Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, M.Ag mengajar di IAIN Bukittinggi dan pernah mengajar selama 30 tahun di UIN Syarif Hidayatullah, UHAMKA Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sekolah Tinggi dan Manajemen PPM.

    Dia pernah dipercaya sebagai Ketua Jurusan Jinayah Siyasah, Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Wakil Dekan Administrasi Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Direktur Percetakan Dikdasmen Muhammadiyah.

    Selain itu juga adalah Pimpinan Yayasan Wakaf Darulfunun, Direktur Darulfunun Institute dan pengajar Ushuluddin di kelas Surau Darulfunun dan Kuliyyatul Muallimin. Berbagai jabatan pernah diamanahkan kepada beliau di lingkungan Muhammadiyah. Yakni; Ketua PDM Muhammadiyah Limapuluhkota, anggota Majlis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah, anggota Divisi Fatwa Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Bendahara Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Direktur Penerbit dan Percetakan Dikdasmen PP Muhammadiyah, Pembina Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ciputat dan banyak lainnya. (erz)

    Sumber: https://www.jernihnews.com/berita/2256/buya-dr-h-afifi-fauzi-abbas-sang-organisatoris-muhammadiyah-wafat.html

  • Zainuddin Labay Al-Yunusiyyah: Muslih Hebat Dari Minangkabau

    Zainuddin Labay Al-Yunusiyyah: Muslih Hebat Dari Minangkabau

    Authors: 

    Izziah Suryani, Mat Resad @ Arshad

    Abstract:

    Zainuddin Labay al-Yunusiyyah merupakan seorang daripada ulama islah Minangkabau yang memainkan peranan besar dalam islah pemikiran dan reformasi pendidikan Islam. Walaupun beliau mempunyai latar belakang pendidikan yang tidak teratur dan hanya belajar dalam wilayah Minangkabau, namun beliau merupakan seorang tokoh ulama yang begitu progresif dan mampu menyamai tokoh-tokoh islah terkemuka yang lain. Sumbangan terbesar beliau yang memberi impak besar kepada umat Islam Minangkabau ialah pembaharuan pendidikan Islam berorientasikan moden. Model institusi pendidikan Islam moden yang diperkenalkan oleh Zainuddin Labay al-Yunusiyyah menjadi contoh kepada penubuhan institusi pendidikan Islam yang lain. Justeru, kajian ini meneliti gerakan islah di Minangkabau dan biografi Zainuddin Labay al-Yunusiyyah. Selain itu, objektif kajian ini juga menganalisis peranan beliau terhadap pemurnian pemikiran dan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Kajian ini merupakan kajian yang berbentuk kualitatif menggunakan analisis kandungan sebagai reka bentuk kajian dengan menggunakan metode kajian sejarah. Hasil kajian mendapati Zainuddin Labay al-Yunusiyyah merupakan seorang daripada ulama islah abad ke-20. Walaupun beliau tidak mendapat pendidikan yang sistematik dan hanya belajar di Minangkabau sahaja, beliau mampu muncul sebagai tokoh pembaharu dan islah yang memberi impak besar kepada gerakan islah di Minangkabau terutamanya reformasi pendidikan Islam dan juga islah pemikiran Islam di Minangkabau. Pembaharuan pendidikan Islam yang dilakukan oleh Zainuddin Labay al-Yunusiyyah menjadi asas dan model kepada pembaharuan pendidikan Islam di seluruh Minangkabau dan juga Indonesia.

    Keywords:

    ulama islah, islah pemikiran Islam, reformasi pendidikan Islam, Zanuddin Labay al-Yunusiyyah, Minangkabau

    Jurnal:
    Jurnal Islam dan Masyarakat Kontemporari