Tag: puasa

  • Rindu Heningnya Ramadhan

    Rindu Heningnya Ramadhan

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

    Penggalan surat Al-Baqarah ayat 183 ini selalu menjadi pembuka tausiyah para penceramah dalam menyambut bulan Ramadhan, mengingatkan orang-orang mukmin atas kewajiban untuk berpuasa. Para jamaah pun segera memulai persiapan dalam menyambut Ramadhan, seolah-olah sudah sama paham bahwa kita sedang bertemu bulan yang dimuliakan, bulan yang memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan.

    Ditengah-tengah kesibukan mempersiapkan segala keperluan fisik, kita juga perlu mempersiapkan hati dan jiwa kita untuk bertawadhu dan mengeraskan tekad untuk memperbanyak amalan dan ibadah.

    Dengan ramainya umat muslim yang ada diseluruh dunia, tentunya ada banyak budaya-budaya yang menghiasi dalam menghidupkan ramadhan. Kita merasakan kegembiraan akan datangnya bulan yang dimuliakan ini. Walaupun begitu, sekiranya hilang khidmat dan khusuk kita dalam menjalankan ibadah ramadhan, hal ini tentu sangat disayangkan karena bertolak belakang dengan apa yang kita niatkan untuk dicapai pada akhir Ramadhan yakni meningkatkan ketakwaan, ketundukan kita kepada Allah SWT.

    Puasa bukanlah ibadah yang baru saja diperkenalkan oleh nabi Muhammad, karena dalam ayat yang diatas Allah telah memberikan penjelasan bahwa puasa (yang pastinya penuh tantangan dan mengharapkan keseriusan ini) juga diperintahkan kepada manusia-manusia sebelumnya, kepada umat-umat pengikut para rasul dan para nabi sebelumnya, kepada semua manusia yang mendapatkan risalah ketuhanan tidak memandang warna kulit, asal, dan latar belakang.

    Sebab itu amalan puasa ini juga telah menghasilkan banyak insan-insan hebat yang sukses dalam puasanya, dan berhasil meningkatkan ketaatannya kepada Allah. Juga amalan puasa dan bulan ramadhan ini khususnya juga telah menjadi saksi jutaan manusia yang gagal merasakan khidmatnya ramadhan, dan hanya mengeluarkan jerih payahnya saja untuk lapar dan haus, sebagaimana peringatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW:

    “Banyak manusia yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya itu, melainkan lapar dan dahaga.” (HR Ibnu Majah)

    Jika kita membaca ataupun mengkaji agama-agama besar didunia, yang pada umumnya adalah agama samawi, dan pada juga dikenal sebagai Abrahamic Religions, agama monotheis, kesemuanya memiliki risalah berpuasa yang memiliki durasi kurang lebih 1 bulan lamanya. Inilah bukti bahwa apa yang Allah nyatakan bahwa ini diwajibkan kepada umat sebelumnya adalah satu pernyataan yang jelas dan benar, dan menjadi pengingat bagi kita yang hidup sekarang.

    Dalam menghidupkan ramadhan adakalanya kita terlebih dalam bersikap dan merayakan, sehingga muncul fenomena-fenomena berlebih-lebihan yang tidak sering bertolak belakang dengan apa yang kita usahakan dalam mencapai kesyahduan dalam beribadah. Kita memasak ataupun berbelanja makanan berbuka yang lebih dari cukup, kita menyiapkan pakaian-pakaian baru lebih dari kemampuan kita, dan sebagainya.

    Di negara Eropa Barat, ataupun Asia Timur yang Islam adalah menjadi agama yang asing, muslim dari berbagai macam asal bangsa yang minoritas merayakan Ramadhan dengan sedikit keterbatasan. Dari keterbatasan ini kita melihat bahwa pokok-pokok agama Islam (ushuluddin) yang walaupun berasal dari berbagai budaya adalah sama dan tidak jauh berbeda. Dan pokok-pokok ini yang memberikan kita kekhusyuan dalam berramadhan, pokok-pokok agama yang belum lagi terlalu banyak dihias dengan budaya-budaya yang sebagiannya baik dan sebagiannya justru menjauhkan kita dari kekhusyuan.

    Ramadhan adalah bulannya ibadah dan amal, dimana Allah memberikan pahala yang berlipat dan mengkhususkan untuk memberikan ganjaran puasa olehNya sendiri. Sekiranya tidak lebih penting dari urusan nyawa dan agama, ada baiknya urusan lain kita tunda sebisanya setelah lewat bulan Ramadhan, supaya kita dapat mencurahkan perhatian dan jerih payah kita untuk mengusahakan amal ibadah dalam rangka mendapatkan pahala yang meningkatkan ketaqwaan kita.

    Banyak urusan dunia yang sekiranya masuk bulan puasa, juga menjadikan kita terasa untuk semakin terdesak untuk melakukannya, dimulai dari makanan, penampilan, perniagaan, dan memang begitu adanya. Manusia dengan segala kelebihannya juga memiliki perkara yang akan menjerumuskannya sendiri, yakni hawa nafsu keinginannya yang tidak terkendali. Hal ini yang menjadikan puasa adalah satu usaha yang sangat besar tantangannya, tetapi manis hasilnya yakni berupa meningkatnya ketaataan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

    Untuk ramadhan ini, mari kita coba heningkan ramadhan kita, mengintrospeksi diri kita, melakukan amal-amal shalih yang kita adalah pelaku utamanya, yang tangan kita adalah alat yang utama digunakan. Menata kegiatan kita dalam hati yang tawadhu, dari menjelang sahur hingga tertidur kembali, dengan mengintensifkan amalan-amalan ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Mari kita usahakan ramadhan ini dengan amal-amal shalih, dan menghindari berlebih-lebihan yang tidak membantu kita menyempurnakan ibadah, serta menjauhi segala kemaksiatan yang menjadikan kita jauh dari kebenaran. Kita juga berharap semoga Allah memberi kemudahan dan kesabaran untuk kita menjalani semua ini. Pada akhirnya kita juga berharap Allah masukkan kita dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.

    Selamat Berpuasa. Taqabalallahu minna wa minkum.

    Kuala Lumpur, 2 April 2022.

  • Nilai Perjuangan Dalam Puasa Ramadhan

    Nilai Perjuangan Dalam Puasa Ramadhan

    Khutbah Jum’at, 5 Ramadhan 1440 H./10 Mei 2019 M.

    Allah swt berfirman di dalam Al-Qur`an, surat Yunus, ayat 108-109 :

    قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ

    وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

    Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu. Barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tersesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap diri kalian. Dan ikutilah apa-apa yang diwahyukan kepada kalian, serta bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dan Dia (Allah) adalah Hakim yang sebaik-baiknya.”.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Hari ini kita berada di hari ke-5 dari ibadah puasa Ramadhan tahun 1440 H. Pada siang hari selama kira-kira 30 hari di bulan Ramadhan ini, kaum muslimin berjuang untuk menjalankan kewajiban berpuasa dengan meninggalkan makanan dan minuman, juga hal-hal lainnya yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Sedangkan pada malam hari-malam harinya, kaum muslimin berlomba-lomba untuk mengisinya dengan ibadah shalat tarawih dan witir, juga bertilawah dan bertadarus Al-Quran. Semua ibadah tersebut dilakukan oleh kaum muslimin dengan tujuan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt, beristighfar (memohon ampunan) dari segala dosa, mengharapkan rahmat dan berkah dalam kehidupan dunia, serta memohon keselamatan di kehidupan akhirat kelak.

    Begitu padat dan bervariasi ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin selama bulan Ramadhan ini. Namun demikian, ibadah-ibadah yang berdimensi ruhiyah dan ukhrawi tersebut jangan sampai menjadikan kaum muslimin melupakan dan mengabaikan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat duniawi dan sosial kemasyarakatan. Sebab, ibadah puasa, khususnya di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, sebenarnya justru menjadi sumber energi dan kekuatan spiritual yang besar bagi kaum muslimin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, juga untuk meraih kesuksesan-kesuksesan.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Dalam kitab “Al-Fiqhu al-Islamiy wa Adillatuhu” (Fiqih Islam dan Dalil-dalinya), jilid ke-3, bab ‘Puasa’, Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhayliy menulis sebagai berikut :

    Telah terjadi banyak peristiwa besar di bulan Ramadhan yang menjadi titik tolak bagi perubahan-perubahan yang sangat menentukan jalannya sejarah umat Islam. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Islam benar-benar menyikapi dan memperlakukan semua hal dengan perhatian yang serius, dan bahwa motto dari ibadah puasa adalah kekuatan, jihad, dan kerja! Bukan lemah, melarikan diri, dan bermalas-malasan.

    Maka setiap muslim, meskipun ia sedang menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, ia harus tetap memiliki semangat yang tinggi dalam merespon kenyataan-kenyataan hidup serta beradaptasi dengan berbagai macam kondisi yang dihadapinya.

    Oleh karena itu, kewajiban dalam menjalankan ibadah puasa tidak boleh menjadikan seorang muslim mengabaikan kewajiban-kewajiban hidupnya, ataupun melemahkan semangatnya untuk membangun dunia.

    Tidak dibenarkan seorang muslim mengatakan : ‘Puasa itu menghambat produktifitas serta menjadi faktor penyebab kemunduran individu dan masyarakat’! Karena, jargon Islam itu adalah ‘jihad’ (perjuangan), dan bahwa agama Islam serta syariatnya itu mudah, tidak sulit untuk dilaksanakan, serta membawa banyak manfaat dan maslahat bagi umat manusia.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan sepanjang sejarah umat Islam merupakan bukti kuat bahwa keberhasilan dan kemenangan itu sangat ditentukan oleh faktor kesucian jiwa dari kepentingan-kepentingan materi dan duniawi, dan bahwa hari-hari di bulan Ramadhan itu membawa berkah serta menjadi wasilah bagi tercapainya kebaikan, kemenangan, dan anugerah Allah swt, dengan syarat bila qalbu umat Islam selalu tertuju kepada Allah swt Dzat Yang Maha Memiliki dan Mengatur alam semesta dan seisinya!

    Allah swt berfirman dalam Al-Qur`an, surat Alu ‘Imran (3), ayat 126 :

    وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

    Dan tidak ada suatu kemenangan (yang terjadi) melainkan berasal dari sisi Allah

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Ada banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi di bulan Ramadhan, yang menjadi bukti betapa ibadah puasa di bulan Ramadhan seperti ini, jika dilaksanakan dengan pemahaman dan kesadaran yang benar, adalah ibadah yang mampu memberikan kekuatan jasmani dan ruhani bagi umat Islam.

    Diantara peristiwa-peristiwa tersebut adalah perjuangan umat Islam dalam menghadapi kekuatan musuh-musuhnya dalam peperangan atau pertempuran yang akhirnya dimenangkan oleh umat Islam, meskipun mereka melakukannya pada bulan Ramadhan :

    1. Perang Badar Kubrâ, yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 17 Ramadhan, tahun ke-2 Hijriyyah, dimana pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah saw berhasil mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy, meskipun jumlah pasukan mereka jauh lebih banyak.

    2. Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 20 Ramadhan, tahun ke-8 Hijriyah, dimana pasukan umat Islam yang juga dipimpin oleh Rasulullah saw berhasil menaklukkan dan menguasa kota Makah tanpa pertumpahan darah.

    3. Perang Tabûk, yang terjadi di bulan Ramadhan, tahun ke-9 Hijriyyah, dimana pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan Romawi.

    4. Masuknya tentara Islam yang dipimpin oleh shahabat Ali r.a. ke negeri Yaman, yang terjadi di bulan Ramadhan, tahun ke-10 Hijriyyah.

    5. Fathu Al-Andalus (Pembebasan Andalusia (Spanyol)) oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad, yang terjadi pada tanggal 28 Ramadhan, tahun 92 Hijriyah.

    6. Perang Al-Zallâqah (wilayah yang terletak di suatu di lembah di dekat negara Portugal saat ini), yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 25 Ramadhan, tahun 479 Hijriyyah, yang dimenangi oleh pasukan Islam dari Andalusia/Spanyol yang dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin atas pasukan Perancis yang terdiri dari 80 ribu tentara yang dipimpin oleh Alfonso VI, raja Castilla (Spanyol).

    7. Perang ‘Ayn Jalut, yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 25 Ramadhan, tahun 658 Hijriyyah, dimana pasukan Islam yang dipimpin oleh Sultan Qutuz memenangi pertempuran melawan pasukan Mongol, dan berhasil menyatukan Mesir dan negeri-negeri Syam kedalam Daulah Islamiyah.

    8. Proklamasi kemerdekaan RI terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 (bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 9 Ramadhan, tahun 1364 Hijriyyah), yang mengakhiri penjajahan bangsa-bangsa Eropa (Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, dll.) atas wilayah negeri kita Nusantara selama 350 tahun.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Data dan catatan-catatan sejarah tentang kemenangan dan keberhasilan umat Islam di atas menunjukkan 2 hal penting :

    1. Betapa bulan Ramadhan mengandung begitu banyak berkah bagi perjuangan umat Islam dalam rangka mensyiarkan dan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini.

    2. Bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan mampu menyuntikkan energi kekuatan jasmaniah dan ruhiyah kepada umat Islam sehingga berhasil meraih banyak kemenangan yang gemilang di pentas sejarah peradaban umat manusia .

    Semoga pemaparan khutbah Jum’at ini dapat mengingatkan kita semua untuk bisa menyerap energi positif dari ibadah puasa yang kita lakukan di bulan suci Ramadhan ini, yaitu energi perjuangan, agar kita tetap bisa melakukan hal-hal yang positif dan produktif untuk keluarga kita, dan masyarakat kita, semata-mata untuk mengharapkan pahala dan ridha dari Allah swt. Ǎmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.

  • Pengantar Puasa

    Pengantar Puasa

    Ayat-ayat tentang puasa terdapat dalam beberapa surat dan ayat yaitu:

    1. surat al-Baqarah ayat 183-187 dan 196,
    2. surat al-Nisa’/4 : 92,
    3. surat al-Maidah/5 : 89 dan 95
    4. surat Maryam/19 : 26,
    5. surat al-Ahzab ayat 35, dan
    6. surat al-Mujadilah : 3 dan 4.

    1. Surat Al-Baqarah/2 : 183-187 dan 196

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    [183]
    Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,


    أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ


    [2:184]
    (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.


    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    [2:185]
    Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    [2:186]
    Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

    أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

    [2:187]
    Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Te-tapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.

    وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    [2:196]
    Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Tetapi jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib ber-fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barangsiapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (musim) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari). Demikian itu, bagi orang yang keluarganya tidak ada (tinggal) di sekitar Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.

    2. Surat Al-Nisa’/4 : 92

    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَن قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَن يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

    [4:92]
    Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barangsiapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga si terbunuh) membebaskan pembayaran. Jika dia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang beriman, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Dan jika dia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa tidak mendapatkan (hamba sahaya), maka hendaklah dia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tobat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

    3. Surat al-Maidah/5 : 89 dan 95

    لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    [5:89]
    Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barangsiapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَن قَتَلَهُ مِنكُم مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انتِقَامٍ

    [5:95]
    Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh hewan buruan, ketika kamu sedang ihram (haji atau umrah). Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa ke Ka‘bah, atau kafarat (membayar tebusan dengan) memberi makan kepada orang-orang miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa.