Tag: Gaza

  • Sumud Flotilla and Diplomasi Masyarakat Global

    Sumud Flotilla and Diplomasi Masyarakat Global

    Armada Sumud Flotilla telah muncul sebagai salah satu simbol gelombang baru dari “diplomasi masyarakat” di dunia internasional yang buntu saat ini akibat genosida Palestina. Ketika pemerintahan global masih terjebak dalam perebutan kekuasaan yang kaku, masyarakat sipil di seluruh benua telah memilih untuk bertindak langsung. Para aktivis, pekerja kemanusiaan, dan masyarakat melakukan pelayaran menuju Gaza. Mereka tidak hanya untuk mengirimkan bantuan tetapi juga untuk menunjukkan bahwa hati nurani dan kemanusian tidak boleh diam. Perjalanan ini bukan hanya tentang pasokan bantuan, ini adalah pelayaran perdamaian yang dimaksudkan untuk menyadarkan dan mengambil perhatian dunia akan urgensi krisis kemanusiaan.

    Inti dari inisiatif ini terletak pada kelumpuhan diplomatik dunia, yang entah bagaimana terlihat rumit untuk melihat apa yang terjadi di Gaza sebagai krisis kemanusiaan. Di satu sisi, negara-negara Arab dan Muslim terus menyerukan gencatan senjata dan mengakhiri pendudukan oleh Israel, namun suara mereka seringkali terfragmentasi oleh agenda regional dan nasional, yang lebih berfokus pada kalkulasi keamanan. Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat bersikeras dalam negosiasi yang dibentuk oleh kepentingan pribadi strategis, aliansi kendali, dan dominasi mereka, alih-alih pada keprihatinan kemanusiaan yang tulus. Ketidakseimbangan ini telah mengubah diplomasi internasional menjadi ajang kekuasaan, di mana krisis kemanusiaan kembali dikesampingkan oleh krisis etika yang sama di antara para pemimpin dan negara adidaya.

    Dalam situasi seperti itu, kemanusiaan adalah korban yang terbesar. Bagi rakyat Gaza, kehidupan sehari-hari di bawah blokade dan pemboman merupakan bentuk hukuman kolektif yang paling kejam. Narasi mempertahankan Israel tidak dapat membenarkan apa yang terjadi melalui hukuman kolektik seperti perampasan makanan, obat-obatan, air, dan listrik bagi jutaan warga sipil. Hukum internasional jelas: hukuman kolektif dilarang. Yang terjadi saat ini bukanlah pertahanan, melainkan genosida sistematis martabat manusia, yang dilakukan di hadapan komunitas global yang ragu-ragu, sesuatu keganasan yang telah lama lenyap dan kini bangkit kembali dalam peradaban berteknologi tinggi.

    Inilah mengapa diplomasi sosial menjadi sangat krusial. Armada Flotilla tidak diorganisir oleh pemerintah atau negara, melainkan oleh jaringan LSM, koalisi kemanusiaan, aktor sosial, dan relawan yang berkomitmen. Masyarakatlah, bukan negara, yang telah mengangkat tangan untuk mengatakan “cukup.” Melalui inisiatif ini, masyarakat umum membuktikan bahwa tanggung jawab moral untuk perdamaian tidak semata-mata berada di tangan elit politik. Tanggung jawab ini juga merupakan tanggung jawab komunitas nurani yang tidak dapat menyaksikan ketidakadilan terjadi tanpa tindakan nyata.

    Namun, alih-alih menyambut upaya ini, Israel justru menghadang kapal-kapal tersebut, menangkap para aktivis, dan mengkriminalisasi misi mereka. Para peserta dicap sebagai ancaman keamanan atau bahkan terkait dengan terorisme. Reaksi semacam itu menyingkapkan ketidakamanan yang mendalam dari kekuatan Israel yang takut akan solidaritas sekaligus perlawanan global. Jika membawa makanan, obat-obatan, dan kasih sayang disebut terorisme, maka kompas moral peradaban tersebut telah benar-benar kehilangan arah.

    Tanggapan Amerika Serikat juga mengungkap kontradiksi diplomasi modern. Meskipun AS berbicara tentang koridor kemanusiaan dan negosiasi perdamaian, pada saat yang sama AS melindungi Israel dari akuntabilitas atas tindakan militerisasi dan merubah kawanan penduduk menjadi area peperangan. Dengan membingkai armada tersebut sebagai “provokasi” alih-alih seruan kemanusiaan, Israel sekali lagi menolak prinsip-prinsip universal kebaikan dan hak asasi manusia. Diplomasi selektif ini menyoroti kebangkrutan sistem yang masih menggunakan logika dominasi kolonial, sesuatu yang dahulu pernah dilakukan oleh bangsa Eropa.

    Meskipun bantuan kemanusiaan yang dibawa armada tersebut belum mencapai para pengungsi Gaza, niat moral dan pesannya telah bergema ke seluruh dunia. Tekad ratusan aktivis dari puluhan negara telah memicu percakapan global, menarik perhatian pada blokade dan pendudukan. Perjalanan mereka telah berubah menjadi kisah keberanian, solidaritas, dan tuntutan moral. Ini menunjukkan bahwa ketika pemerintah tetap diam dan mencoba melakukan diplomasi yang baik, masyarakat sipil dapat menjadi suara yang paling lantang untuk keadilan.

    Sumud Flotilla telah mencapai tujuannya. Ia telah membangkitkan hati nurani jutaan orang, mendefinisikan ulang arti diplomasi, dan memperkuat seruan global untuk kebebasan dan keadilan. Telah terbukti bahwa diplomasi bukanlah monopoli negara; diplomasi juga merupakan praktik orang-orang yang bertindak dalam solidaritas kemanusiaan satu sama lain. Inilah kekuatan sejati diplomasi masyarakat, sebuah tindakan hati nurani yang menolak untuk dibungkam. Gelombang baru yang muncul di akhir zaman.

    Oleh karena itu, diplomasi masyarakat menawarkan jalan baru ketika diplomasi formal tidak memiliki taring. Ini menunjukkan bahwa di saat-saat kebuntuan politik, orang-orang biasa dapat turun tangan untuk memimpin agenda moral dan kemanusiaan. Sumud Flotilla bukan sekadar simbolis; ia merupakan contoh nyata bagaimana komunitas global dapat mengorganisir aksi transnasional untuk menekan struktur kekuasaan, membentuk kembali opini publik, dan mengembalikan martabat ke dalam wacana hubungan internasional.

    Pelajaran yang lebih luas adalah bahwa kolonialisme, dalam segala bentuknya, harus dihapuskan dari dunia modern, sebagaimana dinyatakan dalam banyak deklarasi dan undang-undang nasional banyak negara. Perjuangan Palestina bukanlah kasus yang terisolasi; melainkan cermin yang mencerminkan perjuangan dekolonisasi dan hak asasi manusia yang belum selesai. Selama pendudukan berlanjut, kredibilitas tata kelola global tetap dipertanyakan. Armada ini mengingatkan kita bahwa struktur kolonial bukanlah peninggalan masa lalu, melainkan realitas masa kini yang menuntut perlawanan kolektif dari komunitas masyarakat seluruh dunia.

  • Islam Menghadapi Pendusta

    Islam Menghadapi Pendusta

    Oleh: Bey Abdullah

    Segala puji bagi Allah yang menciptakan siang dan malam, dan shalawat serta salam kepada nabi penutup Muhammad SAW.

    Begitu pentingnya bahasan ini, menjadi persoalan yang juga pantas dibahas mengikuti isu-isu fardhu ain. Akhlak dalam sebutan lain adab adalah perkara sepele yang sering disebut-sebut oleh orang ramai. Untuk itu perlu rasanya kita mengedepankan bagaimana akhlak dalam Islam seperti yang dicontoh oleh Rasulullah SAW.

    Islam Membenci Kebohongan

    Kebohongan adalah perbuatan yang sangat dibenci dalam Islam. Bohong atau dusta berlawan kata dengan amanah atau dapat dipercaya, sehingga dusta adalah tidak dapat dipercaya. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk selalu berkata jujur dan menjauhi kebohongan. Dalam QS. Al-Ahzab: 70, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” Kebohongan, apalagi yang disertai janji-janji palsu, menjadi akar banyak kerusakan, mulai dari hilangnya kepercayaan, rusaknya hubungan sosial hingga kedzaliman yang merugikan orang lain dengan cara yang haram.

    Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama dalam berkata jujur. Beliau sangat membenci kebohongan dan menjauhkan diri dari para pendusta. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika dipercaya, ia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim). Kebohongan adalah salah satu ciri kemunafikan yang harus dijauhi oleh setiap Muslim.

    Salah satu sifat pendusta adalah kebiasaan melebih-lebihkan sesuatu yang tidak benar. Mereka sering memutarbalikkan fakta untuk membuat cerita mereka terdengar meyakinkan. Allah SWT memperingatkan dalam QS. Al-Hujurat: 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” Ayat ini menunjukkan bahwa kebohongan bisa menciptakan fitnah dan kerusakan jika diterima mentah-mentah.

    Jika kebohongan yang dibawa oleh orang fasik tersebut terwujud, maka setidaknya ada dua hal kerusakan terjadi, yang pertama adalah tersesatnya pemimpin dan pengambil kebijakan, dan yang kedua terdzaliminya orang tanpa sebab-sebab yang benar. Jika sudah terjadi maka pertanggung jawaban adalah kepada yang melakukan kedzaliman yakni pemimpin dan pengambil kebijakan seperti disebut dalam surat Al-Hujurat diatas. Sedangkan yang berbohong pertama kali, dia selayaknya sifat munafik, dia akan keluar dari celah lubang yang lain untuk mencari keselamatan. Akan tetapi di akhirat pertanggung jawaban terberat adalah kepada yang menghembuskan cerita bohong.

    Dalam QS al-Mudatsir ayat 38 “Tiap-tiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. “Tidak masuk syurga orang yang menyebarkan fitnah (mengadu domba).” (HR Bukhari dan Muslim). Seseorang yang menyebarkan fitnah akan jauh dari bau surga, hal ini juga senada dengan hadits yang mengatakan “ Tidak masuk syurga orang yang memutuskan silaturrahim” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini dalam banyak penjelasan ulama adalah bukan sekedar tidak datang atau tegur sapa, tetapi orang-orang yang memutuskan silaturahmi adalah orang-orang yang meletakkan penyebab putusnya silaturahmi, seperti meletakkan batu di tengah jalan yang menghalangi hingga penyebab itu disingkirkan.

    Jauh dari Syafaat Nabi

    Pendusta sering kali menggunakan kebohongan mereka untuk menipu dan menganiaya orang lain. Mereka merugikan orang lain demi kepentingan pribadi. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang curang (menipu), maka ia bukan dari golonganku” (HR. Muslim). Perbuatan menipu tidak hanya mencederai hubungan antarmanusia tetapi juga merusak akhlak individu itu sendiri.

    Di hari kiamat, pendusta akan mendapatkan balasan yang setimpal. Allah SWT berfirman, “Pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. An-Nur: 24). Pendusta akan dipermalukan di hadapan seluruh makhluk atas kebohongan yang mereka ucapkan di dunia. Rasulullah SAW juga memperingatkan, “Kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka, sehingga seseorang yang selalu berbohong dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Pendusta adalah Beban Komunitas

    Pendusta menjadi beban dalam komunitas karena mereka merusak kepercayaan dan harmoni. Kebohongan mereka menciptakan kebingungan, perpecahan, dan ketidakstabilan. Orang-orang mulai ragu untuk mempercayai siapa pun, karena takut menjadi korban kebohongan lagi. Dalam masyarakat yang sehat, kepercayaan adalah pondasi utama, dan pendusta adalah ancaman besar bagi pondasi tersebut.

    Islam menekankan pentingnya mendidik diri untuk selalu berkata jujur sejak dini. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian untuk berkata jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan” (HR. Ahmad). Kebohongan kecil yang dibiarkan akan tumbuh menjadi kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan.

    Dalam sebuah komunitas, kebohongan dapat menghancurkan hubungan antarmanusia. Kehilangan kepercayaan pada seseorang atau kelompok tertentu sering kali sulit dipulihkan. Hal ini membuat pendusta menjadi perusak stabilitas sosial. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk menjadi pembawa kebenaran dan keadilan, sebagaimana dalam QS. Al-Maidah: 8, “Bersikaplah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    Sabar dan Berpegang Teguh Kepada Kebenaran

    Menghadapi pendusta membutuhkan kesabaran dan keteguhan dalam memegang kebenaran, meskipun hal ini sering membuat seseorang terasing. Rasulullah SAW bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR. Muslim). Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar: 10, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Bersabar dalam kebenaran adalah bentuk keimanan yang tinggi.

    Berpegang pada kebenaran meski sulit membawa manfaat besar, baik di dunia maupun akhirat. Dalam QS. Al-Maidah: 8 diatas disebutkan, “Bersikaplah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Orang-orang yang bertahan di jalan kebenaran akan diberi kehormatan dan diberikan balasan yang lebih baik oleh Allah SWT. Allah SWT menjanjikan ganjaran besar bagi mereka yang tetap berpegang teguh pada kebenaran meskipun menghadapi kesulitan. Dalam QS. An-Nisa: 135, Allah berfirman, “Jadilah saksi karena Allah dengan adil, walaupun terhadap dirimu sendiri atau orang tua dan kerabatmu.” Keteguhan ini adalah bukti keimanan dan akan dibalas dengan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT.

    Sedangkan rencana dusta tidak akan mendatangkan apa-apa selain kebaikan kepada mukmin, “mereka membuat tipu daya, tetapi Allah adalah maha pembuat rencana” (QS Ali-Imran 54). Dan Allah akan memberikan kebaikan kepada orang-orang mukmin yang tetap berpegang teguh pada kebenaran, walaupun harus menghadapi segala cobaan dengan dusta dan fitnah. “Sungguh Allah tidak menyalahi janji” (Q.S. Ali Imran: 9).

    Menjauhi Perangai Dusta dan Orang Pendusta

    Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk menjauhi pendusta agar tidak terpengaruh oleh perilaku buruk mereka. Nabi Muhammad SAW memperingatkan, “Seseorang itu berada dalam agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang kalian jadikan teman dekat” (HR. Abu Dawud). Pendusta bisa membawa pengaruh negatif dan merusak iman seseorang.

    Dalam sebuah komunitas, kebohongan dapat menghancurkan hubungan antarmanusia. Kehilangan kepercayaan pada seseorang atau kelompok tertentu sering kali sulit dipulihkan. Hal ini membuat pendusta menjadi perusak stabilitas sosial. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk menjadi pembawa kebenaran dan keadilan, sebagaimana dalam QS. Al-Maidah: 8, “Bersikaplah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

    Sebaliknya, orang-orang yang selalu berkata jujur dan berpegang teguh kepada kebenaran akan mendapatkan tempat istimewa di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga” (HR. Bukhari dan Muslim). Kejujuran adalah fondasi akhlak yang mulia dan menjadi ciri utama seorang Mukmin sejati.

    Wallahu’alam

  • Rekonstruksi Gaza: Memprioritaskan Pendidikan

    Rekonstruksi Gaza: Memprioritaskan Pendidikan

    Oleh: Abdullah A. Afifi

    Dalam roundtable discussion “From Destruction to Reconstruction: Empowering Gaza’s Education” tempo hari yang diselenggarakan oleh IAIS Malaysia (International Institute of Advanced Islamic Studies) mengedepankan bagaimana kita sebagai NGO, Negara dan juga Individu perlu bersiap menjelang dibukanya Gaza sebagai hasil upaya kesepakatan genjatan senjata.

    IAIS sendiri yang merupakan salah satu lembaga think thank dibawah kantor Perdana Menteri Malaysia, sangat memperhatikan isu Gaza secara seksama. Hal ini juga setelah beberapa hari sebelumnya Malaysia mengirimkan pesawat untuk menjemput korban perang yang memerlukan perawatan yang lebih baik.

    Dalam diskusi ini hadir Menteri Pendidikan Malaysia, Chairman IAIS Dr. Mazlee Malik, mantan Presiden Islamic University of Gaza (IUG) Dr. Kamilin Shaat, pimpinan NGO-NGO di Malaysia dan juga agensi-agensi lembaga lainnya seperti MyCare, Rose2rose, Mapim dan sebagainya.

    Sebagai peneliti dan orang Indonesia yang tinggal di Malaysia rasanya kesempatan ini sangat baik dan sayang untuk dilewatkan. Bagaimana para mahasiswa dan warga Palestina yang berada di Malaysia berjibaku berusaha menolong masyarakatnya di Gaza dan Palestina sana.

    Penulis mengatasnamakan Darulfunun Institute menyempatkan hadir walau hanya sebagai penyimak dan belum bisa berkontribusi banyak dalam usaha ini. Merasa kecil saat bagaimana para donatur-donatur ini menyampaikan komitmennya untuk merapatkan diri dalam usaha membangun ulang pendidikan di Gaza dan Palestina. Nominal-nominal yang disebutkan bukanlah nilai-nilai kecil yang insyaallah menjadi pahala jariyah.

    Tidak lupa juga penulis menyempatkan berfoto dan mengambil kesempatan untuk bercengkrama dengan peserta lain yang hadir. Ada banyak peserta dari negara-negara lain yang juga antusias. Melihat hal ini penulis bergumam di dalam hati “patut Sepakbola Palestina bermarkas di Malaysia”, selain mendukung Palestina seperti Indonesia, malaysia menjadi tempat ramainya warga Palestina bermukim, baik sebagai mahasiswa ataupun perantau.

    Untuk isu Palestina ada baiknya kita terus bergandeng tangan, ketepikan ego mengupayakan keadaan yang terus lebih baik. Tahniah IAIS Malaysia mengupayakan seminar seperti ini.

    Kuala Lumpur, 20 Agustus 2024

  • Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    Barat (Amerika dan Eropa) yang seringkali dianggap sebagai standar moral dan etika global, dipertanyakan sikapnya saat ini karena berperan dalam menunda-nunda terwujudnya proses gencatan senjata di wilayah konflik Gaza. Kita sering lupa sebetulnya sikap-sikap negara barat itu adalah berkaitan dengan perannya dalam konteks politik dan militer di kawasan tersebut. Faktor-faktor kepentingan ini lah yang sebetulnya mempengaruhi keputusan dan sikap mereka.

    Dalam diskusi global mengenai politik internasional, konsep moralitas sering kali menjadi titik sentral. Moralitas Barat, yang sering dianggap sebagai standar dalam menilai kebenaran dan keadilan, menghadapi tantangan ketika dihadapkan pada krisis-krisis internasional. Pertanyaan tentang sejauh mana negara-negara Barat benar-benar mengikuti prinsip-prinsip moral yang mereka promosikan menjadi semakin relevan saat ini.

    Moralitas Barat berakar pada tradisi filsafat Yunani, hukum Romawi, dan nilai-nilai Kristen. Selama berabad-abad, konsep ini telah berevolusi, mempengaruhi segala aspek dari politik hingga hak asasi manusia. Namun, sejarah kolonialisme, kapitalisasi tuan tanah dan kebijakan luar negeri yang terkadang kontradiktif menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi penerapan nilai-nilai ini.

    Dalam konteks diplomasi dan kebijakan luar negeri, negara-negara Barat sering kali dihadapkan pada dilema moral. Di satu sisi, mereka mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia, sementara di sisi lain, sering kali menjalin hubungan dengan rezim-rezim yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut demi kepentingan politik dan ekonomi.

    Bagaimana kepentingan geopolitik negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, mempengaruhi sikap dan kebijakan mereka terhadap konflik ini. Hal ini termasuk tentang hubungan diplomatik dan militer Barat dengan Israel, serta dampaknya terhadap Palestina. Hingga sampai saat ini berkali-kali sidang PBB mengenai gencatan senjata selalu dihadang oleh veto amerika serikat dan negara barat lainnya yang keberatan dengan gencatan senjata.

    Peran negara-negara Barat dalam diplomasi internasional, termasuk didalamnya bagaimana mereka menggunakan pengaruhnya di forum-forum internasional seperti PBB sangat dipertanyakan. Apakah sebetulnya PBB digunakan sebagai sarana unutk membangun perdamaian dunia ataukah PBB adalah sarana untuk mendukung kepentingannya terhadap negara lain.

    Ketika terjadi krisis kemanusiaan, seperti konflik bersenjata atau pelanggaran hak asasi manusia seperti yang saat ini terjadi di Gaza, respons negara-negara Barat sering kali diukur sebagai tolok ukur moralitas mereka. Pertanyaan muncul mengenai seberapa cepat dan efektif mereka merespons, serta motivasi di balik intervensi mereka.

    Era kapitalisme dan globalisasi membawa tantangan baru terhadap moralitas Barat. Walaupun dalam sejarah era tuan tanah berhasil direformasi, akan tetapi bentuk kapitalisme itu terus tumbuh dan bermetamorfosa. Pertumbuhan ekonomi dan keuntungan menjadi hal yang prioritas, yang terkadang mengorbankan nilai-nilai seperti keadilan sosial dan lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai-nilai moral masih dipegang teguh.

    Media Barat memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik. Cara mereka melaporkan tentang krisis internasional sering kali mencerminkan dan mempengaruhi pandangan moral masyarakat. Namun, bias dan agenda tertentu dalam pelaporan media seperti di Palestina dapat memutarbalikkan realitas, mempengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu moral dan tidak membangun narasi konstruktif yang membawa perdamaian. Berapa banyak jurnalis yang tewas dari situasi perang yang tidak benar-benar adalah situasi perang. Situasi perang ini lebih nampak seperti di kondisikan atau adalah propaganda yang sangat buruk, karena menghadapai penduduk sipil dan saat ini bahkan disebut sebagai proses genosida pembersihan etnik.

    Negara-negara Barat sering kali terlibat ataupun membiarkan perusahan-perusahaan swastanya terlibat (bahkan terkadang terlibat dalam proyek bantuan keamanan resmi) dalam perdagangan senjata internasional, termasuk ke negara-negara yang terlibat dalam konflik atau pelanggaran hak asasi manusia. Penjualan senjata dan bantuan militer ke Israel oleh negara-negara Barat, sangat mempengaruhi dinamika konflik dan menciptakan eskalasi konflik yang tidak perlu hingga memakan banyak nyawa penduduk sipil. Hal ini menimbulkan kontradiksi antara promosi perdamaian dan keuntungan ekonomi yang diperoleh dari penjualan senjata.

    Walaupun kita dapat melihat bagaimana kompleksitas situasi yang terjadi dilapangan, tetapi rasanya negara-negara barat, juga negara-negara laindidalam PBB dapat merumuskan resolusi yang lebih baik lagi daripada apa yang dirumuskan pada hari ini. Pada akhirnya kit amelihat negera-negara yang patut memegang veto adalah negara-negara yang terbukti konsisten dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian di dunia.