Tag: Haman

  • Haman, Qorun dan Bangsa Yahudi di Zaman Firaun

    Haman, Qorun dan Bangsa Yahudi di Zaman Firaun

    Bismillahirrahmanirrahim.

    Dalam lembaran sejarah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, terdapat kisah-kisah yang tidak hanya mengandung unsur historis tetapi juga pelajaran moral yang mendalam. Kisah Haman, Qarun, dan Bani Israel pada zaman Firaun menawarkan wawasan yang relevan untuk kehidupan modern kita. Melalui artikel ini, kita akan menggali hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Kisah-kisah ini tidak hanya sekadar cerita masa lalu, namun merupakan bimbingan dan peringatan bagi kita semua.

    Ditengah-tengah genosida yang dilakukan oleh Israel Zionis yang mengatasnamakan Yahudi dan janji Tuhan atas tanah Palestina. Begitu juga disaat kita di Indonesia gencar moderasi, di dunia barat adalah pihak yang membiarkan genosida dan kolonialisasi di abad yang modern ini. Sikap yang akan terus dipertanyakan atas standar moral kebijakan internasionalnya.

    Kembali kepada kisah Haman, Qorun dan bangsa Yahudi. Kita memulai dengan kisah Haman, seorang tokoh yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai tangan kanan setia Firaun, sang tiran. Haman mewakili figur yang berlebihan dengan kekuasaan dan harta, terjebak dalam lingkaran kehendak kekuasaan dan menjauh dari kebenaran. Ia mengikuti perintah bahkan menghasut Firaun tanpa pertimbangan, termasuk dalam memusuhi Nabi Musa AS dan kaum Bani Israil. Isu utama adalah bukan permusuhannya, tetapi bagaimana Haman menganiaya dhuafa, melakukan rodi dan tidak memberikan hak makan, minum bahkan hidup yang sesuai. Ini lah yang membuat nabi Musa terpanggil membela para dhuafa yang mayoritas adalah bangsa Yahudi.

    Haman yang dikenal sebagai pembantu Firaun, merupakan simbol dari kepatuhan buta terhadap kekuasaan. Keterikatan Haman dengan Firaun, yang menunjukkan kesetiaannya yang tidak berprinsip, menggambarkan bagaimana nafsu akan kekuasaan dapat membutakan hati seseorang dari kebenaran. Kisah Haman mengajarkan kita tentang bahaya kehilangan arah moral ketika terlalu tenggelam dalam pengabdian kepada kekuasaan duniawi. Kekayaan dan kenikmatan yang diperoleh dengan cara yang salah dan berlebihan melalui kekuasaan adalah satu bentuk korupsi yang besar.

    Kemudian yang kedua, kita renungkan juga siapa Qarun. Seorang dari kalangan Bani Israil yang memiliki kekayaan melimpah. Namun, kekayaannya itu membuatnya sombong dan lupa diri. Qarun merasa semua yang dimilikinya adalah hasil jerih payahnya sendiri, tanpa mengakui nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah. Apakah kekayaannya itu didapatkan dengan cara yang halal ataukah haram. Kekayaan Qarun dipertanyakan ketika melihat bangsa Yahudi berada dalam keadaan hina dan dhaif. Apakah Qarun mendapatkan kekayaan dari memanfaatkan para dhuafa yang dipekerjakan oleh Haman?

    Yang ketiga adalah mengenai bangsa Yahudi yang hidup di zaman Firaun. Mereka adalah kaum yang tertindas, namun tetap kokoh dalam mempertahankan keimanan dan moralitas mereka meskipun hidup di bawah cengkeraman Firaun. Kisah mereka mengajarkan kepada kita tentang ketahanan iman di tengah tekanan dan kezaliman. Bangsa Yahudi dahulu adalah bangsa yang pengasih, memegang teguh moralitas dan ketakwaan terhadap Allah.

    Ketika membandingkan Haman, Qarun, dan Bani Israel, kita melihat kontras yang jelas antara kebaikan dan kejahatan, antara keangkuhan dan ketawakalan. Di satu sisi ada Haman yang berkuasa dan Qarun yang sukses tetapi menghalalkan segala cara, sedangkan bani Yahudi pada saat itu di sisi Allah diberikan pertolongan melalui nabi Musa karena keteguhan iman mereka dalam menghadapi cobaan sebagai golongan yang inferior ataupun yang diuji dengan kemiskinan dan ketidakberdayaan.

    Kisah Firaun, Haman, dan Qarun juga mengajarkan tentang pentingnya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Musa AS, yang berdiri teguh menghadapi tantangan besar, adalah simbol kepatuhan dan keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran. Melalui kisah ini, kita diajak untuk merenungkan posisi kita: apakah kita berpihak pada kebenaran siapa pun dia yang menjalani hidup dengan sabar dan tawakal kepada Allah, ataukah kita termasuk orang-orang yang terbuai oleh kekuasaan untuk korupsi ataupun harta yang menyombongkan seperti Haman dan Qarun yang pada akhirnya menjadi zalim.

    Di dalam Al-Qur’an surah Al-Qasas ayat 76, Allah berfirman tentang Qarun, yang tidak menggunakan kekayaannya untuk kebaikan dan berkasih sayang kepada kaumnya tetapi malah menyombongkan diri bahkan bertindak zalim. Sebagai umat yang beriman, kita harus belajar menjadi pemberi manfaat dan tidak menjerumuskan orang lain dalam keadaan yang buruk dengan kekayaan yang kita miliki.

    Kisah Firaun, Haman, dan Qarun juga menggambarkan betapa seseorang bisa menjadi buta dan tuli terhadap kebenaran ketika hati mereka dikunci oleh kesombongan dan kedurhakaan. Mereka tidak mengakui kebesaran Allah dan akhirnya Allah memberikan kepada mereka akhir yang buruk. Nabi Musa AS, yang berdiri teguh menghadapi tantangan besar, adalah simbol kepatuhan dan keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran.

    Melaui kisah kisah-kisah ini, marilah kita meminta perlindungan kepada Allah dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh ini. Sifat sombong, angkuh, lupa diri, dan tidak berterima kasih kepada Allah adalah sifat yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kehancuran.

    Kita juga diingatkan untuk selalu berpihak pada keadilan, seperti Bani Israil yang meski tertindas namun tidak meninggalkan kebenaran. Kita harus berani menentang tirani dan kezaliman, serta membela yang lemah dan tertindas.

    Kisah ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Musa AS sebagai utusan Allah kepada Firaun dan kaumnya, tetap teguh menyampaikan risalah meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kita diingatkan untuk tidak menjadi seperti Qarun yang tidak bersyukur dan tidak semena-mena. Syukur bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan hati dan perbuatan. Kita harus menggunakan nikmat Allah, termasuk kekayaan dan kekuasaan, untuk berbuat kebaikan dan membantu mereka yang membutuhkan. Bersyukur berarti mengakui bahwa segala yang kita miliki adalah dari dan milik Allah, dan kita hanya sebagai pengelola sementara.

    Akhir dari kisah Haman dan Qarun adalah peringatan bagi kita semua. Keduanya mengalami kehancuran sebagai konsekuensi dari perbuatan mereka yang jauh dari petunjuk Allah. Haman tenggelam bersama keangkuhan Firaun, dan Qarun ditelan bumi karena kesombongannya. Kisah ini adalah peringatan bahwa akhir yang buruk menanti bagi mereka yang berpaling dari kebenaran dan mengikuti hawa nafsu.

    Melalui kisah Haman, Qarun, dan Bani Israel, kita diajak untuk merefleksikan diri kita sendiri. Di mana posisi kita dalam spektrum iman ini? Apakah kita termasuk mereka yang mudah tergoda oleh kekuasaan dan kekayaan, ataukah kita berusaha tetap teguh dalam iman dan kebenaran? Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a’lam bish-shawab.

  • Koruptor itu bernama Qarun

    Koruptor itu bernama Qarun

    Kerusakan Besar Yang Dicatat dalam Sejarah

    But seek the abode of the Hereafter in that which Allah hath given thee and neglect not thy portion of the world, and be thou kind even as Allah hath been kind to thee, and seek not corruption in the earth; lo! Allah loveth not corrupters, (Al-Qasas 28 : 77)

    Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qasas 28 : 77)

    Dua terjemah ini (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) menjadi penting untuk kita pahami bagaimana istilah korupsi yang diserap dari bahasa Inggris digunakan dalam meterjemahkan atau menafsirkan kata al-fasad di dalam Al-Quran sebagai kerusakan.

    Jika kita bertemu dengan Yahudi mereka akan merepek bercerita mengatakan nasib mereka yang kurang baik di dunia, didzalimi sejak masa Firaun, padahal masa itu mereka termasuk ramai orang beriman dan alim. Mereka tidak sebut kalau dikalangan mereka ada yang berbuat kerusakan dan mendzalimi bangsa mereka sendiri. Salah satu yang namanya diabadikan dalam Al-Quran adalah Qarun.

    Sampai saat ini kita pun melihat bagaimana cerita-cerita sedih menjadi bahasan yang menjadi pokok dari pembicaraan, dan kemudian menjadi legitimasi dalam pembenaran yang mereka lakukan. Kita belum lagi bicara tentang hukum dan normatif atau budaya. Mari kita bicara tentang apa yang diperbuat Qarun sehingga dikatakan berbuat kerusakan yang besar yang menghancurkan kaumnya yakni Yahudi.

    Qarun berkata dia kaya karena ilmunya. Hal ini dibantah oleh Allah dalam Al-Quran dalam rangkaian surat diatas, bahwa sudah banyak kaum yang lebih hebat dibinasakan, dan mereka lebih banyak mengumpulkan harta. Qarun ini juga disebutkan suka pamer kemudian menginspirasi dan memanasi orang lain untuk berbuat sepertinya, bahasa kitanya sekarang belagu, flexing  atau berlagak.

    Al-Quran mencatat kesalahan besar Qarun adalah berbuat kerusakan yang nyata, yang mungkin dari persepsinya bukan betul-betul kerusakan atau hanya sedikit. Bayangkan dari banyak sifat bani Israel yang sering disebut diantaranya suka cari celah keringanan, ada yang Allah sebutkan bahwa ada yang lebih parah dari sifat-sifat itu semua, dan Allah hukum Qarun supaya hal itu “berpandai-pandai” Qarun tidak menjadi pembenaran. Apa yang Qarun lakukan sebenarnya?

    Al-Quran juga mencatat Qarun adalah bagian dari kaum nabi Musa. Ya walaupun Qarun PNS nya firaun, Al-Quran memberikan klarifikasi walau dia PNS Qarun adalah bagian dari bani Israel. Pastinya ada maksud kenapa disebutkan bahwa kaya nya Qarun ini dijadikan isu oleh Allah (tidak wajar). Kita bisa bayangkan bangsanya saat itu tengah miskin dan didzalimi. Kemudian Qarun berkata ya saya kaya karena saya pandai. Apalah kepandaian Qarun ini hingga Al-Quran menuliskan banyak lagi orang yang lebih hebat dari Qarun, dan kenapa kerusakan yang diperbuat Qarun sangat fatal hingga perlu menjadi contoh bagi manusia hingga akhir zaman.

    Qarun dihukum bukan karena nabi Musa berdoa untuk diberi hukuman, ataupun kaumnya berdoa buruk kepadanya. Orang-orang alim dan shalih dari bani Israel justru mengingatkan “jadilah orang beriman, beramal shalih dan sabar”, untuk mengcounter demam jangan ikutin tuh si Qarun, ada cara lain menjadi kaya, yakni bersabar.

    Kira-kira cerita Qarun diatas serupa dengan banyaknya cerita yang datang kepada kita tentang bagaimana menjadi kaya karena “berpandai-pandai” seperti Qarun kemudian sombong selangit. Allah benamkan dia kedalam bumi, walaupun pada saat itu banyak orang bercita-cita mengikut jejak Qarun, walaupun saat itu tidak banyak orang berdoa karena didzalimi olehnya.

    Dan sifat Qarun saat itu hanya kecil menurutnya, yakni berbuat kerusakan (fasad), yang sebagian kita pun melihatnya sebagai “berpandai-pandai” dan hanya berakibat kecil. Dalam bahasa kekinian yang dilakukan oleh Qarun kita kenal dengan istilah korupsi. Al-Quran menyebutkan kerusakan Qarun mengenai harta yang dia miliki, dan memberikan kerusakan yang nyata di dalam masyarakat. Dan kerusakan itu masih kita akan jumpai ketika dibahas dalam kisah nabi Musa berikutnya bagaimana kaumnya seolah-olah tidak bisa diatur dan tidak bisa mengikuti aturan, sedikit kesempatan menghasilkan kerusakan dimana-mana.

    Kisah Qarun adalah gambaran nyata bagaimana kerusakan non-fisik adalah isu serius yang dibahas oleh Allah. Kerusakan yang merusak sendi-sendi keteraturan dalam masyarakat, dan semua itu diakibatkan oleh korupsi. Itulah harta Qarun yang dibenamkan oleh Allah, harta Korupsi yang jumlahnya sangat besar. Semoga kita dijauhkan mencari harta dengan “berpandai-pandai” kemudian sombong ini hasil kerja keras (kerja cerdas) seperti Qarun.

    Wallahu’alam

    Diterbitkan juga di: https://insancendekia.org/khazanah/notes/koruptor-itu-bernama-qarun